"Nabi itu lebih
utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri".
Ayat ini turun untuk
mempertegas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as.
Dalam suatu riwayat,
Al-Barra' bin' Azib berkata: “Kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu
perjalanan, lalu kami sampai di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Nizcaya Nabi
menyeru: “Mari shalat berjema'ah!”. Dalam keadaan panas yang melelahkan Nabi melakukan shalat Zhuhur di bawah dua pohon. Lalu
Nabi memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Tidakkah
kamu tahu bahwa aku lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri?”
Para sahabat menjawab: “Betul (engkau lebih utama bagi orang-orang mukmin dari
pada diri mereka sendiri)”. Selanjutnya Nabi SAW bersabda: "Tidakkah kamu
tahu bahwa sesungguhnya aku lebih utama bagi setiap orang yang beriman dari
pada diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: “Benar”. Maka Nabi SAW
memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah
pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah
orang yang memusuhinya”. Lalu Umar bin
Khattab mengucapkan selamat kepada
Ali bin Abi Thalib: “Selamat atasmu, wahai putra Abu Thalib, engkau
telah menjadi pemimpin setiap mukmin dan mukminah.
Dalam
hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan An-Nasa'i, dari
Buraidah, ia berkata: “Saat aku bersama Ali pergi ke Yaman untuk berperang, aku
melihat ia marah. Ketika aku bertemu dengan Rasululah SAW, aku ceritakan semua
peristiwa itu dengan nada sengaja ingin merendahkannya. Aku melihat wajah
Rasulullah SAW berubah dan berkata: "Wahai Buraidah, bukankah aku lebih utama bagi orang-orang mukmin
dari diri mereka sendiri?” Aku menjawab: “Benar, ya Rasulullah (engkau
lebih utama bagi mukminin dari pada diri
mereka sendiri)”. Lalu Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa menjadikan
aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya."
Riwayat ini dan riwayat-riwayat lainyang semakna dengannya dapat Anda
baca di dalam:
1. Musnad Ahmad, juz 4, hal. 281, 368 dan 372.
2. Shahih Ibnu Majah, bab Fadha`il Ashhab
Rasulillah, hal. 13.
3. Khasha`ishun Nasa`i, hal. 25.
4. Ad-Durrul Mantsur, karya As-Suyuthi, juz 6,
hal. 566.
5. Kanzul 'Ummal, karya Al-Muttaqi Al-Hindi, juz
6, hal. 390, 397, dan 399.
6. Musykilul Atsar, karya Ath-Thahawi, juz 2,
hal. 307.
7. Al-Manaqib, karya Ibnu Al-Maghazili
Asy-Syafi'i, hal. 18.
8. Usdul Ghabah, karya Ibnu Atsir, juz 2, hal.
307.
9. Al-Ishabah, karya Ibnu Hajar Al-'Asqalani,
juz 4, hal. 16.
10. Ash-Shawa'iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal.
25.
11. Ar-Riyadhun Nadhirah, karya Ath-Thabari, juz 2,
hal. 169.
12. Tafsir Majma'ul Bayan, karya Ath-Thabarsi, juz
21, hal. 104.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar