Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label 14 Manusia yang Disucikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 14 Manusia yang Disucikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

Transformasi Masyarakat di Bawah Pemerintahan Imam Mahdi

 



Kepercayaan akan kedatangan Imam Mahdi merupakan bagian penting dari eskatologi Islam, khususnya di kalangan Syiah. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa seorang lelaki dari keturunan Nabi Muhammad, bergelar Al-Mahdi, akan muncul di akhir zaman. Imam Mahdi diyakini akan hadir untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di saat dunia dilanda tirani dan kezaliman. Dalam keyakinan Syiah, Imam Mahdi adalah putra Imam Hassan Al-Askari, Imam ke-12, yang telah lahir namun hidup dalam keghaiban di bawah penjagaan Allah. Kedatangannya diyakini bukan sekadar reformasi politik, melainkan penanda dimulainya era penegakan keadilan, peningkatan pengetahuan, dan perbaikan moral secara universal.

Hakikat Keadilan dalam Pemerintahan Mahdi

Prinsip yang paling mendasar dalam pemerintahan Imam Mahdi adalah keadilan. Keadilan dianggap sebagai prinsip fundamental bagi keberlangsungan masyarakat dan kesejahteraan warganya. Implementasi keadilan di bawah Imam Mahdi bersifat komprehensif sehingga akan menciptakan tatanan sosial baru, di mana peluang kejahatan nyaris tidak ada. Keadilan ini juga menjamin keamanan bagi individu yang rentan; seseorang dapat bepergian dari satu daerah ke daerah lain tanpa takut dihalangi, dirampok, atau diganggu. Norma-norma keadilan ini membentuk fondasi masyarakat yang damai dan aman.

Era Keberkahan dan Kemakmuran

Melampaui penegakan keadilan sosial, pemerintahan Imam Mahdi juga akan menandai Era Keberkahan dan Kemakmuran yang melimpah—suatu kondisi yang belum pernah disaksikan oleh peradaban manusia. Masyarakat akan merasakan hujan dengan kualitas dan manfaat istimewa. Hasil panen dalam sehari dapat begitu melimpah hingga mampu memenuhi kebutuhan bertahun-tahun. Transformasi alam ini menghasilkan tumbuhan hijau yang melimpah di tanah, pegunungan, hingga gurun. Keberkahan ekonomi yang luar biasa ini bahkan membuat orang-orang berharap mereka yang telah meninggal dapat hidup kembali, hanya untuk menyaksikan dan merasakan karunia tersebut.

Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi

Selain kemakmuran materi, pemerintahan ini juga dicirikan oleh Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi. Menurut riwayat yang dinukilkan oleh Imam Sadiq, pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini masih sangat terbatas. Ketika Imam Mahdi muncul, beliau akan menyebarkan dan memperluas pengetahuan berkali lipat. Peningkatan ilmu pengetahuan ini tidak hanya menambah wawasan, namun juga melahirkan kemajuan teknologi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Sebuah tradisi menyebutkan bahwa manusia nantinya dapat bepergian dari timur ke barat dunia hanya dalam satu jam. Hal ini mengindikasikan kemajuan teknologi dan transportasi yang luar biasa di era tersebut.

Kemajuan Peradaban Islam dan Perubahan Sosial

Di bawah pemerintahan Imam Mahdi, peradaban Islam akan mencapai tingkat kemajuan tertinggi. Era itu akan ditandai oleh ekspansi keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan. Keyakinan dan spiritualitas masyarakat akan diperkuat dan direformasi secara total. Kesejahteraan rohani dan jasmani akan tercapai secara simultan, menjadikan masyarakat hidup dalam keharmonisan yang sejati.

Transformasi yang terjadi bukan sekadar modifikasi fisik atau teknologis, melainkan juga revolusi dalam dimensi spiritual masyarakat. Keadilan dan pengetahuan akan menjadi sarana untuk memperkuat kebajikan moral seperti kasih sayang, kejujuran, dan kerendahan hati. Komunitas tidak lagi melihat agama hanya sebagai urusan pribadi, namun menjadi fondasi kehidupan bersama. Ritual ibadah, amal, dan etika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, menumbuhkan hubungan antarmanusia yang erat dan saling menghormati. Pembaharuan spiritual ini akan membawa masyarakat menuju kondisi iman yang lebih tinggi dan lebih murni.

Kemakmuran Ekonomi dan Perdamaian Global

Sistem ekonomi yang diterapkan Imam Mahdi akan menghapus praktik eksploitasi dan menempatkan kesetaraan serta kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Tidak akan ada lagi kemiskinan, karena keberkahan Allah memastikan kebutuhan setiap individu terpenuhi dengan mudah. Masalah ekonomi seperti pengangguran, inflasi, dan ketimpangan akan lenyap berkat hasil pertanian yang melimpah dan inovasi teknologi yang luar biasa. Tatanan ekonomi ideal ini bukan hanya hasil kebijakan manusia tetapi juga manifestasi langsung dari rahmat Allah yang mengalir melalui sistem pemerintahan yang adil.

Keadilan yang ditegakkan di setiap aspek kehidupan, baik personal maupun universal, akan mengeliminasi sumber-sumber konflik. Tidak ada lagi perang untuk perebutan wilayah, sumber daya, atau supremasi ideologi, karena pemerintahan Imam Mahdi menjamin distribusi dan penghormatan yang adil bagi semua. Era ini menjadi masa perdamaian universal; pertikaian diplomasi diselesaikan dengan hukum yang adil, dan ketegangan sosial akan lenyap berkat kemakmuran dan reformasi moral yang menyeluruh. Keamanan dan ketentraman akan menjadi standar baru kehidupan manusia.

Kesimpulan

Pemerintahan Imam Mahdi digambarkan sebagai era ketika intervensi ilahi dan potensi manusia bersatu, menghadirkan masa depan yang dipenuhi keadilan, pengetahuan, dan kebajikan. Dari berkah alam yang melimpah dan ledakan pengetahuan hingga reformasi moral, seluruh aspek kehidupan masyarakat akan berubah secara mendasar. Paradigma ini menjadi puncak ajaran Islam mengenai keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan pemenuhan spiritual yang hakiki.

Di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, masyarakat dunia akan mengalami transformasi yang fundamental dan mendalam. Masa ini akan menjadi masa di mana keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan tersebar luas di seluruh penjuru bumi. Segenap manusia akan merasakan manfaat dari kehadiran pemimpin yang adil ini; dunia yang sebelumnya diliputi tirani dan kezaliman akan bertransformasi menjadi masyarakat yang harmonis, makmur, dan damai. (Edwin Harahap)

Sumber:

Jumat, 12 September 2025

Rasulullah Saw yang Kami Imani




Selamat atas hari kelahiranmu, wahai Sang Penerang Alam Semesta.

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan terimalah dengan sepenuhnya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Selamat atasmu, wahai utusan pembawa rahmat.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani bukan sekadar Rasulullah Muhammad SAW historis yang hidup 14 abad silam, melainkan juga Rasulullah Muhammad SAW eksistensial yang telah ada sebelum kelahirannya.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang menjadi causa (sebab) kedua terciptanya alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang merupakan tajalli (manifestasi pertama) dari Allah SWT di alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang memiliki sisi divinitas (rabbani) sekaligus sisi humanitas (insani). Beliau imanen (sangat dekat dengan kita) sekaligus transenden (melampaui batas manusia biasa).

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang menjadi konektor (wasilah) bagi kami kepada Allah SWT. Oleh karena itu, shalat tanpa menyebut nama Rasulullah Muhammad SAW dianggap tidak sah dan bukanlah shalat yang sempurna.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang suci (ma’shum) sejak lahir. Bukan Muhammad yang dianggap tidak suci sehingga harus dibelah dadanya oleh malaikat, dikeluarkan hatinya, lalu disucikan dengan air Zamzam.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang di hadapannya Malaikat Jibril duduk bersimpuh laksana seorang hamba sahaya di depan tuannya. Bukan Muhammad yang tidak mengenal Malaikat Jibril saat wahyu pertama turun, sehingga harus berkonsultasi dengan seorang pendeta Nasrani bernama Waraqah bin Naufal.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang ketika akan wafat, Malaikat Izrail harus terlebih dahulu meminta izin kepadanya untuk masuk ke rumahnya.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah Sang Insan Kamil (manusia sempurna), Uswatun Hasanah (sebaik-baik teladan), dan pembawa rahmat bagi seluruh alam. Bukan Muhammad yang bermuka masam dan memalingkan wajah dari seorang mukmin yang buta.

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏ
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏ
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏ ูˆَุนَุฌِّู„ْ ูَุฑَุฌَู‡ُู…ْ 

Rabu, 03 September 2025

Peristiwa Langit dan Keajaiban Saat Kelahiran Nabi Muhammad Saw




Imam Ja'far al-Shadiq as bercerita bahwa saat Nabi Saw lahir:
"Setan dilarang naik ke langit manapun, bahkan lapisan pertama sekalipun. Bila mencoba, ia dilempari meteor dari langit sebagai upaya untuk menghalangnya. Di bumi, para Quraisy menyaksikan bintang-bintang berpindah dari tempatnya dan langit membentang cahaya yang luar biasa."

Ibunda Nabi Saw, Sayyidah Aminah, menggambarkan, saat beliau lahir:
"Nabi meletakkan tangan di bumi dan mengangkat kepala ke langit. Dari dirinya muncul cahaya yang menerangi sekelilingnya. Dalam cahaya itu terdengar suara: "Engkau telah melahirkan manusia terbaik… Namakan ia Muhammad…"
 Al-Kafi, al-Kulaini, jilid 1, hlm. 446.
 Al-Ihtijaj, ath-Thabarsi, jilid 1, hlm. 43.

Terdapat juga riwayat yang menggambarkan keajaiban visual disaat kelahiran Nabi Saw:

Kholid bin Ma’dan meriwayatkan, Nabi Saw pernah bersabda:
“(Aku adalah hasil) doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira Isa. Ibuku bermimpi saat mengandungku seperti keluar cahaya darinya yang menyinari istana Bushra di Syam.”
Imam Hakim menyatakan hadits ini shahih, Ibn Katsir menyebut sanadnya jayyid (bagus), dan Al-Busiri menilai hasan.
 Al-Hakim, al-Mustadrak, jilid 2, hlm. 604.
 Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 2, hlm. 265.
 Al-Busiri, Zawaid Ibn Majah, jilid 1, hlm. 84.

Irbad bin Sariyah juga menyampaikan bahwa:
"Ibu Rasulullah melihat cahaya keluar saat beliau lahir yang menerangi istana-istananya di Syam."
Imam ad-Dzahabi menilai sanadnya hasan, dan beberapa ulama modern seperti Syaikh Arnauth menilai cukup naik menjadi shahih lighairih karena disokong oleh riwayat lain sejenis.
 Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, hadis no. 17182.
 Ath-Thabrani, al-Mu‘jam al-Kabir, jilid 22, hlm. 287.
 Al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah, jilid 1, hlm. 112.

Sumber:

Kamis, 21 Agustus 2025

Wafatnya Cahaya Semesta




Jelang hari-hari wafatnya, karena khawatir orang-orang munafik akan memanfaatkan peristiwa ini dan memanipulasi masyarakat, Nabi SAW mengumpulkan seluruh anggota masyarakat. Dalam ceramahnya, beliau memperingatkan mereka tentang hasutan menentangnya, menganjurkan agar berpegang teguh pada Itrah (keluarga beliau) serta mematuhi dengan suara bulat tanpa membangkang atau melakukan penelikungan.

Dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, yang dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan), Nabi memberikan sinyal-sinyal perpisahan melalui khotbah dan serangkaian pernyataan yang amat memilukan. Para sejarawan tidak hanya menyebut nama tempat upacara perpisahan yang terletak antara Mekah dan Madinah, yakni Ghadir Khumm, tetapi juga merincikan jumlah peserta yang hadir saat itu, yang diperkirakan mencapai puluhan ribu umat. Di tempat itu, Nabi menyampaikan pesan penting tentang kepemimpinan dan kesetiaan kepada Ahlul Bait, menegaskan pentingnya menjaga amanah agama.

Sesampainya di Madinah, Nabi yang mulai terlihat kurang sehat masih harus memikirkan umat dan negara yang telah dibangunnya. Sepak terjang dan provokasi negeri jiran di sebelah selatan, yang dipimpin oleh Kaisar Heraclius dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), membuatnya harus mengabaikan rasa sakit dan penat. Lelaki yang bernama Ahmad di langit ini memberikan instruksi kepada setiap lelaki yang sehat jasmani agar bersiaga untuk perang di bawah komando Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang dipercaya untuk memimpin ekspedisi melawan ancaman Romawi.

Dengan langkah lemah, Nabi keluar dari rumah sembari mengenakan selimut dan berseru agar semua orang keluar dari Madinah. Kekaisaran Romawi telah mengerahkan brigade pasukan kavaleri untuk melakukan pembersihan terhadap warga yang memeluk Islam dalam wilayah kekuasaannya, termasuk gubernur Syam, Farwah bin Amr al-Jazami, yang telah memeluk Islam. Namun, seruan parau Nabi teragung itu bak gayung tak bersambut. Pasukan yang sudah bergerak meninggalkan Madinah tiba-tiba bubar. Isu tentang ‘kematian Nabi’ menjadi alasan aksi ‘mogok’ itu. Bahkan sang komandan, Usamah bin Zaid, yang masih muda, juga ikut pulang ke Madinah.

Saat terbujur di atas ranjang, beliau meminta secarik kertas dan setangkai pena untuk menuliskan konfirmasi akhir atas pesan-pesan yang telah berulang disampaikannya, terutama di Haji Wada’. Namun, bising dan desak-desakan pengunjung yang membesuk di rumah kecil itu membuat suaranya seakan tertelan dan napasnya tersengal. Di tengah kelemahannya, sebuah mimpi mengejutkannya. Ia melihat Al-Qur’an yang ada di kedua tangannya terbang membumbung tinggi ke langit. Fatimah, putri tercintanya, melihat dirinya terbang di belakangnya. Al-Qur’an itu pun menyeru: “Terbang mendekatlah padaku. Terbanglah ke langit.” Fatimah menoleh ke belakang dan melihat bumi bercahaya terang benderang, disambar petir dan kilat.

Dengan wajah tegang, Fatimah mendatangi Nabi di biliknya, berkata, “Ayah, aku telah melihat Al-Qur’an terlepas dari tanganku.” Dengan suara lemah seakan berbisik, Nabi menjawab, “Fatimah, setiap kali aku menyeru, niscaya dijawablah seruanku itu. Dan sungguh Jibril telah membacakan Al-Qur’an kepadaku dua kali dalam tahun ini.” Meledaklah tangis Fatimah.

Duka kepergian ayahnya telah meremas jiwanya dan menggoyahkan tubuhnya hingga roboh dalam pelukannya. Nabi berusaha tersenyum untuk menghibur, “Janganlah bersedih. Bahagialah. Engkaulah Ahlul Bait pertamaku yang akan segera menyusulku.” Seketika wajah Fatimah merona. Ia mengusap air matanya dan memeluk tubuh ayahnya dengan penuh cinta.

Waktu bergulir cepat seiring racun yang merasuk keras ke setiap sel tubuh Nabi. Muhammad rebah, menyimak kidung malaikat Rahmat yang menghibur di biliknya yang muram. Dengan suara parau, beliau memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. “Selamat datang untuk kalian semua, mudah-mudahan kalian dibelas kasihi oleh Allah. Aku berwasiat supaya kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat kepada-Nya, karena sungguh sudah dekat perpisahan di antara kita, telah dekat pula waktunya kembali kepada Allah Ta’ala yang menempati surga-Nya. Bila tiba ajalku, kuminta Ali yang memandikanku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih.” “Ketika memandikanku, letakkanlah aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang kuburku nanti. Setelah itu, kalian keluar sejenak meninggalkan aku. Pertama kali yang mensalati aku adalah Allah SWT, lalu malaikat Jibril, Israfil, Mikail, Izrail beserta pembantu-pembantunya, kemudian dilanjutkan oleh para malaikat semua. Sehabis itu, kalian masuklah dengan berkelompok-kelompok, dan lakukanlah salat untukku.”

Dan “Cahaya Kedua” itu pun mengangkasa, diiringi armada malaikat utama menemui Kekasihnya di altar suci. Ruh Muhammad melesat melintasi langit-langit, meninggalkan jasadnya di pangkuan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Ali berdiri di hadapan Rasulullah SAW, berucap, “Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi. Kami bersaksi bahwa apa yang diturunkan kepadamu, telah kau sampaikan, kau nasehati umatmu, dan kau berjuang di jalan Tuhan hingga Tuhan memuliakan agamanya dan menyempurnakan risalah-Nya. Tuhanku, jadikanlah kami salah satu dari mereka yang mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadanya.” Khalayak mengikuti doanya dari belakang.

Angin berdesir, meniupkan kidung kesedihan yang menyusup ke kisi-kisi jiwa Ali dan para pendukungnya, di tengah hiruk-pikuk “pesta dagang sapi” dalam sidang darurat di ujung Madinah, di pendapa Saqifah, tempat sebagian orang berkumpul untuk menentukan arah baru tanpa menghormati wasiat Nabi.

Duka Sayyidah Fatimah AS kian bertambah seiring wafatnya Rasulullah SAW. Selama tujuh hari, ia menahan luka batin yang mendalam. Pada hari kedelapan, ia memperlihatkan duka citanya. Masyarakat turut menangis, para wanita mengelilinginya saat ia mengeluh dan memekik, “Oh… Ayahku! Wa Muhammadda!” Air matanya terus mengalir saat langkah gontainya diayunkan menuju pusara ayahnya. Di sanalah ia roboh. Az-Zahra memeluk makam Rasul SAW, memekik dengan suara parau, “Oh… Ayahku! Kau tinggalkan puterimu sebatang kara. Punggungku seolah patah dan hidupku berakhir.”

Tak lama kemudian, ia bergegas pulang ke rumahnya seraya menangis. Sesampainya di rumah, ia memeluk Hasan dan Husain, membayangkan derita yang akan dihadapi kedua putranya sepeninggal ayahanda mereka. Dalam kesedihan yang mendalam, Fatimah merasakan beban berat kehilangan dan tanggung jawab menjaga warisan ayahnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS. Ali Imran (3): 144]

Sumber:

Jumat, 19 Juli 2024

Mencintai Ali Sama Dengan Mencintai Rasulullah, Membenci Ali Sama Dengan Membenci Rasulullah



 

Imam Ath-Thabrani mengutip sebuah penuturan dari salah seorang isteri Nabi Saw, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah, yang berkata:

"Aku bersaksi telah mendengar Rasulullah Shallallรขhu'alaihi wa รขlihi wa salam bersabda:

ู…ู† ุฃุญุจ ุนู„ูŠุง ูู‚ุฏ ุฃุญุจู†ูŠ ูˆู…ู† ุฃุญุจู†ูŠ ูู‚ุฏ ุฃุญุจ ุงู„ู„ู‡. ูˆู…ู† ุฃุจุบุถ ุนู„ูŠุง ูู‚ุฏ ุฃุจุนุถู†ูŠ ูˆู…ู† ุฃุจุบุถู†ูŠ ูู‚ุฏ ุฃุจุบุถ ุงู„ู„ู‡

"Barang siapa yang mencintai Ali, maka sungguh dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku sungguh dia telah mencintai Allah. Dan barang siapa membenci Ali, maka sungguh dia telah membenciku, dan barang siapa membenciku sungguh dia telah membenci Allah". (Mu'jam al-Kabir, jilid 10, hlm. 110-111)

Jika kewajiban Shalat sebagai tiang agama itu berkiblat di Ka'bah, Bukankah pantas manusia yang terlahir di dalam Ka'bah sebagai kiblat dalam agama? Dialah Ali bin Abi Thalib as, Pewaris pedang Zulfikar sebagai tanda pemimpin, dan penjaga sulbi Nabi Saw (Fatimah az-Zahra) sebagai tanda pelindung. Tidakkah kalian mengambil pelajaran?

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad. Wa ajjil Faradjahum.

Rabu, 17 Juli 2024

Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah



Menjadi "insan ilahiyah" tidak butuh pengakuan, tidak butuh deklarasi dan gembar-gembor di hadapan khalayak ramai. Karakter manusia ilahiyah, pengikut kebenaran sudah terpateri dalam dada dan sanubari seseorang tanpa harus teriak-teriak mencari pengakuan.

Begitupun sebaliknya, untuk menjadi manusia durjana, musuh kebenaran, pengikut Iblis, sangat gampang bagaikan membalikkan telapak tangan.

Lihatlah kenyataan yang terang benderang dalam peristiwa "Tragedi Asyura" yang menimpa Imam Husein as dan keluarga suci Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau as.

Lihatlah, manusia-manusia iblis pembantai keluarga suci Nabi Saw itu, pada mulanya banyak yang penganut muslim shaleh, mereka ikut berperang bersama pasukan Imam Ali bin Abi Thalib as, ayah Imam Husein as dalam membela kebenaran, dan sangat mengenal sekali siapa itu Imam Husein as.

Lihatlah, para manusia iblis musuh Allah, musuh kebenaran pembantai keluarga ilahiyah, keluarga suci kenabian itu, pada awalnya adalah banyak dari "Syiah" Imam Husein as, yang mengundang beliau as untuk datang ke Kufah. Akan tetapi karena godaan duniawi atau pun ancaman pedang penguasa dzalim, mereka berbalik menghunuskan pedang- pedang mereka kepada Imam Husein as.

Pada 10 Muharam itu, Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, membolak-balikkan hati manusia bagaikan membalik telapak tangan, dari manusia penganut muslim shaleh menjadi manusia durjana musuh Allah yang terpuruk ke dasar jurang kehinaan.

"Malam Deklarasi Manusia Husainiyah, sebagai Manusia Pengikut Kebenaran, pengikut Kenabian"

Sementara itu, di pihak Imam Husein as, para sahabat dan pengikut Imam Husein as justru menggambarkan representasi kelompok karakter "manusia ilahiah" yang memegang komitmen kuat terhadap nilai kemanusiaan, ketaatan, kesetiaan, persahabatan, pengabdian dan kecintaan kepada pemimpin, keyakinan kepada kebenaran, semua itu ditunjukkan secara gamblang oleh para sahabat dan pengikut Imam Husein as.

Kita lihat, di malam Asyura, malam ke 10 Muharam, dalam kegelapan malam yang mencekam, setelah sebelumnya terdengar alunan kalam ilahi, Imam Husein as untuk terakhir kali mengumpulkan seluruh sahabat dan pengikutnya.

Dalam kegelapan malam itu, Imam Husein as berkata kepada para pengikutnya:

"Wahai para pengikut setiaku, besok adalah hari terakhir kita bisa berkumpul, besok kematian akan menjemput kita semua". Yang mereka cari adalah diriku, kematianku, mereka tidak memburu kalian".

"Aku ridha jika kalian meninggalkan aku malam ini, telah kulepaskan bai'at kalian agar bisa pergi dariku dalam kegelapan malam ini. Bawalah sanak saudara kalian dan kembalilah ke keluarga kalian, aku ridha".

Apa jawaban mereka, para pengikut Imam Husein as? Mereka semua menolak untuk meninggalkan Imam mereka.

"Bagamana aku akan menjumpai datukmu Rasulullah kelak jika aku meninggalkanmu, ya Imam? Mau ditaruh dimana mukaku di hadapan Rasulullah ya Imam? Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, ya Imam".

"Seandainya besok aku mati dicincang pedang dan dihidupkan kembali sampai 70 kali, aku tetap akan bersamamu, ya Imam".

Mereka tetap teguh memilih berjalan bersama Imam Husein as menjemput syahada, mereka memilih menjadi manusia pembela kebenaran, pembela kenabian, mereka memilih menjadi kelompok kanan seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an. Sedangkan musuh-musuh mereka adalah golongan kiri.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa umat manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kanan dan kiri.

"Golongan kanan" berisi manusia-manusia mulia, pengikut kebenaran. Sedangkan "golongan kiri" berisi manusia-manusia pengikut kebatilan, golongan manusia pengingkar ayat-ayat Allah Swt.
Allah SWT berfirman:

ูَุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ ۙ ู…َุงۤ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ

"Fa ash-haabul-maimanati maaa ash-haabul-maimanah"

"yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu." (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat

ูˆَุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ ۙ ู…َุงۤ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ

"wa ash-haabul-masy`amati maaa ash-haabul-masy`amah"

"dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu," (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 9).

ุงُูˆู„ٰุٓฆِูƒَ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ

"ulaaa`ika ash-haabul-maimanah"

"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (QS. Al-Balad 90: Ayat 18).

ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูƒَูَุฑُูˆْุง ุจِุงٰูŠٰุชِู†َุง ู‡ُู…ْ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ

"wallaziina kafaruu bi`aayaatinaa hum ash-haabul-masy`amah"

"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri."

ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู†َุงุฑٌ ู…ُّุคْุตَุฏَุฉٌ

'alaihim naarum mu`shodah"

"Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat." (QS. Al-Balad 90: Ayat 19-20).

Semoga mencerahkan.

Paris Van Java 160724.

Minggu, 02 Juni 2024

Periode Kehidupan Imam Mahdi (2)

 



Peran Imam Mahdi as Dimasa Keghaiban Bagi Umat Manusia

Selama lebih dari 200 tahun, para Imam Ahlul Bait as telah menyampaikan sebagian besar kebutuhan umat sepanjang masa keghaiban panjang tentang pengetahuan ilmu al-Quran dan sunnah kakek mereka Rasulullah Saw.

Begitu pula kebutuhan-kebutuhan yang dapat mewakili Islam secara keseluruhan sebagai agama yang suci, agama yang kokoh yang Allah perintahkan agar kita mengikutinya dan beramal sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya.

Islam sebagai tali pegangan yang kuat yang sekaligus sebagai aplikasi terhadap berpegangan kepada dua peninggalan Nabi Saw yang menjamin keselamatan dari kesesatan dan mati jahiliyah.

Peninggalan-peninggalan warisan para Imam as menjelaskan kaidah-kaidah serta landasan dasar interpretasi hukum Islam dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara umum yang diambil dari riwayat-riwayat untuk mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah Saw dan para Imam Ahlul Bait as.

Nabi Saw dan para Imam as memerintahkan para sahabat mereka untuk menjaga dan mencatatnya agar dapat dijadikan sumber, selain Al-Quran, untuk mengetahui seluruh hukum Islam yang dibutuhkan oleh umat, sampai masa kemunculan Imam Mahdi as.

Salah satu hasil penting yang diperoleh adalah dapat tercatatnya riwayat-riwayat mereka dari sahabat para Imam yang dikenal dengan "USHUL ARBA' MIAH". Kitab ini telah dikumpulkan pada masa sebelum Imam Mahdi as. Di dalam kitab tersebut termuat sejumlah besar riwayat dan nash-nash dari Nabi Muhammad Saw. (Man'u Tadwin al-Hadits, Asbabuhu wa Wanataiju, Sayid Ali Syahrestani hlm. 465-467 sub bab mengenai sejarah pencatatan hadis Nabawi menurut Ahlul Bait as).

Selama masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menyempurnakan segala sesuatu yang dibutuhkan umat pada masa keghaiban panjang nantinya, baik berupa pengetahuan-pengetahuan ataupun segala sesuatu yang dapat membantu pergerakan dan konsistensi umat di jalan lurus serta mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menjaga umat untuk tetap melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan.

Itulah tujuan umum dalam kehidupan beliau pada keghaiban panjang sebagaimana yang tercermin dalam risalah-risalah yang beliau keluarkan pada masa tersebut.

Penetapan Metode Perwakilan Dalam Masa Keghaiban Pendek

Pada masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menetapkan sejumlah orang dari sahabat yang setia dan terpercaya sebagai wakil beliau yang bergerak sesuai dengan izin dan perintah beliau. Para wakil itu menjadi penghubung Imam dengan pengikut beliau.

Kakek beliau, Imam Ali al-Hadi as telah mempersiapkan perwakilan ini untuk Imam Mahdi as. Begitu juga para Imam sebelumnya yaitu Imam Muhammad al-Jawad as dan diikuti oleh Imam Hasan Asykari as yang telah membentuk sistem perwakilan sebagai persiapan untuk keghaiban keturunan mereka.

Mereka menyatakan kepercayaan mereka pada sebagian sahabat mereka atau menyebut langsung para wakil mereka.

Imam Hasan Asykari as menyebutkan mengenai Utsman bin Said Amri, sebagai wakil beliau. Utsman ini juga sebelumnya adalah wakil dari ayahnya, Imam Ali al-Hadi as.

Kemudian Imam Hasan Asykari as juga menyatakan bahwa Utsman bin Said Amri adalah seorang wakil setelahnya bagi putra beliau, Imam Mahdi as.

Imam Hasan Asykari as berkata, "Abu Amr ini adalah orang yang dapat dipercaya, jujur, kepercayaan imam terdahulu, dan orang kepercayaanku semasa aku hidup dan setelah aku meninggal. Apa yang dia sampaikan pada kalian adalah ucapan dariku dan segala yang dia perintahkan pada kalian, sesungguhnya adalah perintah dariku". (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 215).

Syekh Shaduq menyebutkan dua belas orang para wakil Imam Mahdi as selama masa keghaiban pendek. Sayid Muhammad Sadr menambahkan enam orang lainnya berdasarkan bukti yang disebutkan dari sumber sejarah dan kitab-kitab ar-Rijal. (Tarikh Ghaybat ash-Shughra hlm.  609-628).

Imam Mahdi as bertanggung jawab langsung atas penetapan mereka dan mengeluarkan penjelasan dan tanda tangan mengenai hal ini. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 172-257).

Dalam masa keghaiban pendek ini, karena ketidakhadiran Imam Mahdi as, sistem perwakilan berbeda dengan sistem perwakilan pada masa sebelumya, dimana Imam hadir pada pertemuan dengan kaum mukmin, sehingga tidak dibutuhkan seorang wakil atau utusan tertentu yang mewakili beliau.

Pada masa keghaiban pendek, ketidakhadiran Imam menuntut adanya penentuan wakil agar dapat menjadi sentral rujukan orang-orang mukmin pada khususnya dan mereka yang sebelumnya telah terbiasa dengan wakil imam yang hanya satu orang.

Penentuan seorang wakil Imam ditentukan langsung oleh Imam dan disampaikan langsung oleh Imam, sebagaimana posisi wakil Imam pertama atau melalui wakil sebelumnya untuk menentukan wakil selanjutnya.

Para pembesar utama Syiah dan 4 sahabat utama yang menjadi wakil Imam Mahdi as, yang pertama adalah: 


1.    Utsman bin Said Amri (Umari) al-Asadi, yang sebelumnya menjadi wakil dari dua Imam sebelumnya yaitu Imam Ali al-Hadi as dan Imam Hasan al-Asykari as.

 

2.    Wakil Imam Mahdi as yang kedua adalah putra Utsman bin Said yaitu Muhammad Amr bin Utsman al-Asadi, wafat tahun 305 H.


3.  Wakil Imam yang ketiga adalah Al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.


4.   Dan wakil terakhir Imam yang keempat adalah Ali bin Muhammad al-Samari, wafat 328/329 H.

Imam Mahdi as, bertanggung jawab mengawasi langsung atas para wakil ini dalam melaksanakan tugas-tugasnya melayani kaum mukmin, mewakili Imam, dalam segala hal yang berkaitan dengan keyakinan ataupun lainnya berdasakan pengetahuan yang berasal langsung dari Imam.

Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah, menukil sebuah hadis yang meriwayatkan ketika wakil Imam yang ketiga, Husain bin Ruh menjawab pertanyaan seorang mukmin berkaitan dengan akidah, yaitu berkaitan dengan kesyahidan Imam Husain as.

Riwayat tersebut dinukil dari perawi Muhammad bin Ibrahim yang hadir dalam sebuah majelis pada saat wakil Imam ketiga Husain bin Ruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaum mukmin.

Muhammad bin Ibrahim bin Ishak berkata, "Aku kembali menjumpai Syekh Abu Qasim Husain bin Ruh keesokan harinya dan aku berkata pada diriku sendiri, "Apakah dia menyebutkan sesuatu pada kami kemarin dari dirinya sendiri?"

"Dia menegurku dan berkata, "Wahai Muhammad bin Ibrahim, jika diakhirkan dari langit dan burung-burung mematukiku atau angin yang kencang menerpaku, hal itu lebih aku sukai dibandingkan dengan aku berbicara agama berdasarkan pendapatku dan dari diriku sendiri".

"Sesungguhnya sesuatu yang aku sampaikan bersumber dari sumber yang asli dan aku mendengarnya dari al-Hujjah (al-Mahdi), semoga shalawat dan salam Allah tercurah padanya." (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 198-199).

Kondisi politik yang terjadi saat itu mengharuskan keghaiban Imam, dan tidak memungkinkan para wakil Imam untuk berbuat secara terang-terangan. Dengan demikian, syarat pertama untuk menjadi seorang utusan tertentu haruslah seseorang yang memiliki tingkatan puncak dalam kesetiaan, kejujuran, mampu menyembunyikan dan merahasiakan tempat keberadaan imam sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan terpilihnya Husain bin Ruh sebagai wakil Imam yang ketiga meskipun ada orang yang lebih pintar darinya diantara para sahabat. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 240).

Imam Mahdi as menetapkan sistem perwakilan atau utusan khusus dalam masa keghaiban pendek, sebagai persiapan dan pembukaan agar orang-orang mukmin merujuk pada wakil umum Imam di masa keghaiban panjang. Hal ini telah ditetapkan dalam nash-nash syariat yang menentukan sifat-sifat umum bagi wakil umum Imam.

Imam juga memerintahkan umat untuk merujuk pada wakil umum beliau pada masa keghaiban panjang. Pengalaman empat wakil Imam yang khusus yang ditentukan oleh Imam di masa keghaiban pendek sebagai petunjuk kepada umat tentang legalitas merujuk kepada wakil beliau di masa keghaiban beliau. Dan sebagai contoh kepada umat bagaimana kualitas orang yang mengklaim sebagai wakil Imam pada masa keghaiban panjang sesuai dengan nash-nash syariat Islam sebagai persyaratan sebagai wakil Imam.

Para penguasa Bani Abbasiyah terus berupaya mencari Imam Mahdi as dalam masa keghaiban pendek ini. Dengan adanya berita-berita tentang keberadaan para wakil Imam ini, mereka pun mulai menyelidiki keberadaan mereka. Untuk itu Imam Mahdi as berperan aktif menjaga sistem perwakilan ini agar dapat berfungsi peran beliau dimasa keghaian pendek.

Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kafi, dari Husain bin Hasan Alawi yang berkata, "Seorang laki-laki dari Nadama Ruz Hasani dan orang terakhir yang bersamanya berkata kepadanya, "Dia adalah orang yang mengumpulkan harta-harta dan dia memiliki para wakil dan mereka menyebutkan seluruh nama para wakil ke seluruh penjuru".

Sampailah hal itu kepada Ubaidillah bin Sulaiman, seorang menteri. Ia berusaha menangkap mereka semua. Khalifah berkata, "Carilah di mana laki-laki itu".

"Ini adalah masalah yang berat", ujar Ubaidillah bin Sulaiman. "Kita akan menangkap para wakilnya".

Khalifah berkata, "Tidak, akan tetapi, ada diantara mereka sekelompok orang yang tidak mengenal harta sama sekali. Siapa yang diantara mereka memegang sesuatu, maka diberikan kepadanya".

"Kemudian Imam as memerintahkan seluruh wakil untuk tidak mengambil sesuatu apapun dari setiap orang, menolaknya dan berpura-pura bodoh".

Seorang laki-laki yang tidak dikenal berusaha menipu Muhammad bin Ahmad dan berkata, "Aku memiliki sejumlah harta dan aku ingin memberikannya pada Imam".

"Muhammad bin Ahmad berkata kepadanya, "Anda salah, saya tidak mengetahui apapun tentang hal ini".

Lelaki itu terus mendesak secara halus, namun Muhammad tetap pura-pura tidak tahu.

Penguasa terus mengirim mata-mata, namun para wakil Imam menolak apapun yang disodorkan kepada mereka". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Dari riwayat di atas dapat diketahui mengenai sejarah Imam Mahdi as pada masa keghaiban pendek, bahwa beliau tidak hanya berusaha mencegah gangguan penguasa Bani Abbas kepada para wakilnya, tetapi juga terhadap orang-orang mukmin.

Hal ini merupakan sebuah sunnah dari sejarah ayah-ayah mereka. Mereka berusaha melindungi orang-orang mukmin dan mencegah setiap gangguan sebatas yang mampu mereka lakukan.

Salah satu contoh perlindungan yang dilakukan oleh para Imam adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dalam al-Kafi yang disampaikan oleh Kulaini, "Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad yang berkata, "Dikeluarkan pelarangan untuk berziarah ke makam orang-orang Quraisy dan gua Hira".

Setelah beberapa bulan, Menteri Baqithai memanggil pembantu nya dan berkata, "Temui Bani Purat dan Barsiyin, katakan kepada mereka, "Jangan menziarahi makam orang-orang Quraisy, Khalifah telah memerintahkan untuk melenyapkan setiap orang yang berziarah atau memenjarakan nya". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Tujuan lainnya yang dilakukan oleh Imam untuk direalisasikan pada masa keghaiban pendek adalah menyingkap segala penyimpangan yang terjadi di kalangan umat Syiah diantaranya, tulisan paman Imam Mahdi as yaitu Ja'far bin Ali dan adanya wakil-wakil gadungan. Sejarah membuktikan keberhasilan Imam menyelesaikan masalah tersebut ditandai dengan berpaling nya para pengikut Imam Mahdi as dari hal tersebut dengan cepat sebelum berakhirnya masa keghaiban pendek.■


Senin, 27 Mei 2024

Periode Kehidupan Imam Mahdi (1)

 


Periode pertama, kehidupan Imam Mahdi as sejak kelahiran beliau tahun 255 H sampai dengan 260 H, berada dalam naungan ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Asykari as sampai wafatnya.

 

Periode kedua, sejak kewafatan ayahanda beliau Imam Hasan Asykari as tahun 260 H, hingga berakhirnya masa keghaiban pendek tahun 329 H, yang berlangsung selama 70 tahun.

 

Periode ketiga, adalah masa keghaiban panjang, yang dimulai sejak berakhirnya keghaiban pendek, setelah meninggalnya wakil beliau yang keempat. Periode ini berlangsung sampai kemunculan beliau yang akan membangun kondisi politik dan sosial yang baru.

 

Periode keempat, adalah periode kehidupan beliau mulai kemunculan beliau setelah berakhirnya keghaiban panjang dan ini adalah janji pemerintahan mahdawiyah yang mendunia, sebagaimana dikhabarkan dalam nash-nash al-Quran dan sunnah.

 

PERIODE PERTAMA

 

Imam Mahdi Dalam Naungan Ayahandanya

 

Sebelum kelahiran Imam Mahdi afs, ayahanda beliau, Imam Ahlul Bait ke-11, Imam Hasan Asykari as sengaja menyembunyikan kelahiran puteranya dari masyarakat umum, karena kondisi sulit yang dihadapi akibat upaya penguasa Bani Abbasiyah yang berusaha untuk membunuh Imam Mahdi afs.

 

Berulangkali Imam as mengingatkan orang-orang terdekat dari kalangan keluarga dan pengikut setianya untuk merahasiakan hal itu. Seperti contoh saat Imam as memberitahukan Ahmad bin Ishaq, beliau berkata:

 

"Seorang bayi telah lahir dari keluarga kami, hal ini hendaknya menjadi rahasia bagi dirimu dan tersembunyi bagi seluruh manusia". (Kamal 'addin hlm. 431).

 

Akan tetapi, dalam tekanan dan kondisi mencekam dari incaran mata-mata Bani Abbasiyah, Imam as harus juga memeritahukan dan mengabarkan kelahiran putranya, Al-Mahdi agar tidak terjadi keraguan akan kelahiran dan keberadaannya serta imamah Al-Mahdi kelak di masa mendatang.

 

Dengan demikian dibutuhkan saksi-saksi untuk hal ini, sehingga mereka mengetahui dan dapat menukil kesaksian mereka di masa mendatang, tercatat dalam sejarah untuk generasi berikutnya.

 

Mulailah Imam Hasan Asykari as memberitahukan sejumlah orang dari sahabat-sahabat setianya mengenai masalah tersebut. (Kamal 'uddin hal 431, Kitab Ma'adin al-Hikmah fi Makatib al-Aimmah karya Muhammad bin Faidh Kasyani jilid 2 hlm. 375).

 

Imam Hasan Asykari as memberitahukan kelahiran itu setelah tiga hari. (Kamal'uddin hlm. 431). Beliau as menyampaikan kepada 40 orang sahabat khususnya dan membiarkan mereka mengabarkannya setelah berlalu beberapa tahun dan Imam Mahdi as saat itu masih kecil.

 

Imam Hasan as memberitahukan mereka bahwa anak kecil itu adalah "Imam" setelah beliau as. (Al-Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 21, Itsbat al-Hadat, Hurr Amili hlm. 415, Yanabi 'al- Mawaddah, Hafizh Sulaiman al-Hanafi hlm. 460).

 

Begitu juga ketika menyampaikannya secara pribadi pada sebagian sahabatnya dan sewaktu-waktu beliau memperlihatkan kepada mereka ‘karamah’ Imam Mahdi as sehingga membuat mereka yakin akan keberadaan beliau as. (Kitab Al-Ghaybah tentang Hadist-Hadist yang menyebutkan orang-orang yang menyaksikan Imam Mahdi as di masa ayahandanya).

 

Imam Hasan Asykari as, dalam melaksanakan tugasnya sebagai imam, juga tetap menjaga agar bayi ini tetap selamat dari incaran penguasa.

 

Tugas lain Imam as juga adalah mempersiapkan keghaiban putranya al-Mahdi as dan membiasakan orang-orang Mukmin berinteraksi secara tidak langsung dengan Imam yang ghaib.

 

Untuk itu, Imam as memberitahukan mereka mengenai keghaiban Al-Mahdi as dan memerintahkan mereka untuk merujuk kepada wakil-wakil Imam Mahdi as untuk umum, yaitu Usman bin Said.

 

Pernyataan Imam Hasan as kepada sekelompok sahabatnya tentang Imam Mahdi as yang masih kecil:

 

"Inilah imam kalian setelahku dan dia adalah khalifahku atas kalian. Taatilah dia dan janganlah kalian bercerai-berai sepeninggalku, maka kalian celaka dalam agama kalian".

 

"Ketahuilah bahwa kalian kelak tidak akan melihatnya setelah hari ini hingga sempurna umurnya. Terimalah dari Usman, apa yang disampaikannya, turuti perintahnya, terimalah ucapannya, karena dia adalah "wakil imam" kalian, dan seluruh urusan kembali kepadanya". (Al-Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 217).

 

Untuk membiasakan orang-orang mukmin dalam menghadapi masa keghaiban Imam Mahdi as, Imam Hasan as mulai menggunakan metode di balik tirai dalam berinteraksi dengan pengikutnya, baik yang khusus ataupun umum.

 

Hal demikian juga sudah dilakukan oleh ayah-ayah beliau sebelumnya sebagai mukadimah menghadapi keghaiban Imam Zaman Al-Mahdi as, sehingga para pengikut mereka sudah menjadi terbiasa dalam menghadapi kondisi tersebut dan mereka tidak mengingkari keghaiban. (Itsbat al-Wasyi'ah karya Mas'udi hlm. 262).

 

Dari tindakan-tindakan tersebut, lalu terbentuk satu sistem perwakilan dari Imam dan penguatan terhadap kitab-kitab hadist yang dikumpulkan sahabat Imam dari periwayatan- periwayatan mereka dari para Imam dan dari Rasulullah Saw, dan agar orang-orang mukmin merujuk pada kitab-kitab hadist tersebut dan periwayatan-periwayatan itu di masa keghaiban. (Rujuk Rijal al-Kasyi hlm. 481 dan 451, Rijal Abu Dawud hlm. 272-273, Wasail asy-Syiah jilid 17 hlm. 72, Falah as-Sail karya Sayid Ibnu Tawus hlm. 183).

 

Sistem perwakilan yang diterapkan oleh Imam as ini menjadi dasar munculnya sistem "marja'iyah" pada masa keghaiban Imam Mahdi afs sebagaimana yang berlaku di masa kini.

 

Kehadiran Imam Mahdi as Saat Ayahnya Wafat

 

Hadist dari Syekh Shaduq dalam Ikmaluddin dan Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah bahwa Imam Mahdi afs hadir pada saat ayahnya wafat.

 

Syekh Shaduq meriwayatkan dari Muhammad bin Husain bin Ibad, dia berkata:

 

"Abu Muhammad Hasan bin Ali (Imam Hasan Asykari as) meninggal pada hari Jum’at saat shalat subuh. Pada malam harinya, ia banyak menulis surat yang ditujukan ke Madinah".

 

"Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awwal pada tanggal 8 tahun 260 H. Ketika itu ia tidak dihadiri kecuali oleh Shaqail Jariah dan Uqaid Khadim serta seorang yang mengenal Allah Swt selain kedua orang tersebut …" (Ikmaluddin hlm. 474).

 

Syekh Thusi menukil riwayat yang lebih rinci, beliau berkata:

 

"Ismail bin Ali berkata, "Aku menjumpai Abu Muhammad Hasan bin Ali as saat sakit yang menyebabkan kematiannya. Aku berada di sisinya saat ia berkata pada pembantunya Uqaid (dia pembantu berkulit hitam yang telah membantu ayahnya, Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as) dan ia adalah orang yang merawat Imam Hasan as".

 

Imam Hasan as berkata, "Wahai Uqaid, tuangkan untukku air". Maka diambilkan baginya air. Kemudian Saqail Jariah berada di belakangnya dengan membawa tempat air di tangannya.

 

Tempat air itu diminumkan kepada Imam as sementara tangannya gemetar sampai-sampai tempat air itu menyentuh gigi beliau. Kemudian dia letakkan, Imam berkata kepada Uqaid, "Masuklah ke dalam rumah, kau akan melihat seorang anak kecil yang sedang bersujud dan bawalah dia kepadaku".

 

Abu Sahl berkata, "Uqaid berujar, "Aku masuk mencari dan aku lihat anak kecil yang sedang bersujud mengangkat jemarinya ke langit, dan aku mengucapkan salam kepadanya". Ketika selesai shalat, aku berkata, "Sesungguhnya tuanku menyuruhmu untuk keluar menjumpainya".

 

Kemudian ibu Saqail datang dan membawanya kepada ayahnya, Imam Hasan as.

 

Abu Sahl berkata, "Ketika anak kecil tersebut berada di hadapannya, mengucapkan salam. Kulit anak tersebut berwarna cerah, rambutnya agak keriting dan giginya agak renggang".

 

"Ketika Imam Hasan as melihatnya, ia menangis dan berkata:

 

"Wahai pemimpin Ahlul Baitnya, tuangkan kepadaku air, sesungguhnya aku hendak pergi menuju Tuhanku".

 

"Kemudian anak itu mengambil tempat air yang tertutup dengan kedua tangannya. Lalu menggerakkan bibirnya dan menuangkannya".

 

"Ketika Imam Hasan as meminumnya, lalu berkata, "Persiapkanlah aku untuk shalat". Kemudian anak kecil itu mengambil sebuah handuk di dalam kamarnya lalu mewudhukannya satu demi satu, mengusap kepalanya, dan kedua kakinya".

 

Abu Muhammad Hasan Asykari as berkata kepadanya, "Berilah khabar gembira wahai anakku, engkau adalah "Shahib az-Zaman", engkau adalah Al-Mahdi, engkau adalah "hujjah Allah" di atas muka bumi ini, engkau adalah anakku dan washiku, engkau terlahir dariku dan kau adalah Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib".

 

"Rasulullah menjadikanmu sebagai putranya dan kau adalah Imam terakhir dari para Imam yang suci, Rasulullah Saw telah membawa berita gembira mengenaimu, beliau yang memberi namamu dan menjulukimu seperti itu".

 

"Ayahku telah berjanji kepadaku dari ayah-ayahnya yang suci, salawat dan salam Allah tertuju pada Ahlul Bait, sesungguhnya Tuhanku Maha Terpuji dan Maha Mulia". Kemudian Imam Hasan Asykari as pun meninggal, salam sejahtera bagi mereka seluruhnya". (Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hlm. 165).