- Home
- Ahlul Bait
- 14 Manusia yang Disucikan
- Rasulullah Muhammad Saw
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Fatimah az-Zahra binti Rasulullah
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- 12 Imam Suci Ahlul Bait
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- Imamah dan Ahlul Bait
- Perayaan Ahlul Bait
- Sahabat Ahlul Bait
- Sejarah Syiah
- Syiah Menurut Syiah
- Tokoh-Tokoh Syiah
- Wilayatuh Faqih
- 14 Manusia yang Disucikan
- Imam Mahdi
- Asbabun Nuzul
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Al-Ahzab: 23 Menunggu Janji Allah
- Al-Waqi’ah: 10-11 Terdahulu Beriman
- Al-Hadid: 19 Shiddiqqin
- Al-Baqarah: 207 Korban Yang Pertama
- Al-Baqarah: 274 Berinfak Sembunyi2
- Az-Zumar: 33 Yang Membenarkan
- Al-Anfal: 75 Hubungan Kerabat
- Al-Ahzab: 25 Penyelamat Peperangan
- Maryam: 96 Beriman dan Amal Shalih
- Hud: 17 Saksi Dari Allah Swt
- At-Tahrim: 4 Mukmin Yang Shalih
- At-Taubah: 1 Putus Hubungan Musyrikin
- Al-Mujadalah: 12 Berbicara Khusus
- Al-Haqqah: 11-12 Telinga Yg Mendengar
- At-Taubah: 19 Keimanan
- Ali dan Syiahnya
- Ali, Fatimah, Hasan, Husain
- Ali dan Lainnya
- Tentang Ahlul Bait
- Al-Ahzab: 33 Pensucian Ahlul Bait
- Asy-Syura: 23 Mencintai Ahlul Bait
- Ali Imran: 103 Pegang Teguh Ahlul Bait
- An-Nahl: 43 Merujuk Kpd Ahlul Bait
- At-Takatsur: 8 Kepemimpinan Ahlul Bait
- An-Nisa: 54 Manusia yang Dihasudi
- An-Nur: 36-37 Rumah yang Dimuliakan
- An-Nur: 35 Cahaya Allah
- Ash-Shaffat: 130 Keluarga Yasin
- Fathir: 32 Pewaris Al-Kitab
- Asy-Syura: 23 Orang Yang Berbuat Kebaikan
- Peristiwa Ghadirkum
- Jalan Lurus dan Kebenaran
- Ulil Amri, Imamah dan Wilayah
- An-Nisa: 59 Menaati Ulil Amri
- Az-Zukhruf: 45 Kepemimpinan Rasul-Ali
- Al-Baqarah: 124 Ayat Imamah
- Asy-Syu’ara': 214 Ayat Indzar
- Al-Ma`idah: 55-56 Ayat Wilayah
- Al-Ahzab: 6 Ayat Wilayah
- Ash-Shaffat: 24 Ditanyai Tntng Wilayah
- Al-Ma`arij: 1-3 Meragukan Wilayah Ali
- Thaha: 25 Memohon Seorang Wazir
- Al-Ahzab: 72 Penyerahan Amanat
- Al-A`raf: 172 Kesaksian Anak Cucu Adam
- Thaha: 82 Ayat Pengampunan
- Shalawat Untuk Nabi dan Keluarganya
- Keturunan Rasulullah Saw
- Thuba (Tempat Kembali yang Baik)
- Kaum Munafikin Benci Ali
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Islam
- Nasional
- Iran
- Internasional
- Ragam
- Kontak
Selasa, 05 Agustus 2025
Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia
Minggu, 29 Juni 2025
Mengapa Para Pemimpin Perlawanan Dunia Hampir Semua Seorang “Sayyid”?
Jumat, 02 Agustus 2024
Ayatullah Khamenei: Rezim Zionis Buka Peluang Hukuman Berat Untuk Dirinya
Jumat, 07 Juni 2024
Pemikiran Perlawanan Imam Khomeini Dari Iran Hingga Dunia
Salah seorang pengajar di universitas
Iran, menyebut benih perlawanan yang ditanam Imam Khomeini, di masanya, kini
telah tumbuh menjadi sebuah pohon besar berakar kuat. Hujatulislam
Mohammad Javad Faqih, pengajar Hauzah Ilmiah dan universitas Iran, terkait
perlawanan dalam pemikiran Imam Khomeini mengatakan, pemikiran perlawanan Imam
Khomeini, sebelum Revolusi Islam, sudah terbentuk sejak masa remaja beliau, dan
sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka
dunia.
Di bawah ini sebagian paparan Imam Khomeini, dalam wawancara dengan kantor berita Mehr News:
Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, bertumpu pada sejumlah prinsip dasar. Prinsip pertama adalah Tauhid yang berarti kebangkitan untuk Tuhan, dan tidak takut selain kepada Tuhan.
Prinsip kedua dalam pemikiran perlawanan Imam Khomeini, dikhususkan pada sunatullah, Al Quran, dan Islam. Al Quran lebih menekankan anti-penjajahan dari anti-kafir. Anti-penjajahan adalah kewajiban yang diberikan Al Quran kepada setiap Muslim, terutama ulama.
Prinsip ketiga perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah akal. Orang-orang berakal tidak akan pernah tunduk pada kekuatan-kekuatan sementara di dunia, dan selalu menemukan jalan untuk melawan. Orang-orang berakal akan menemukan titik kelemahan penjajah, dan memukulnya tepat di titik itu.
Prinsip keempat perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah pengalaman sejarah. Kemenangan-kemenangan yang berhasil diraih dalam sejarah adalah berkat perlawanan. Sebagaimana disampaikan Ayatullah Ali Khamenei, ini artinya bahwa:
"Ketika kita melakukan perlawanan, maka kita akan maju, sebaliknya ketika kita menyerah, maka kita akan terpukul, dan mundur."
Prinsip kelima perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah fitrah. Fitrah yang suci, memuji manusia yang anti-penindasan, dan mengagungkan orang yang membela kaum tertindas.
Logika perlawanan yang dimulai dari Iran, membangkitkan nurani seluruh bangsa merdeka dunia dengan menggunakan bahasa fitrah yang salah satu contohnya adalah dukungan mahasiswa dunia terhadap rakyat Gaza, dan kebangkitan bangsa-bangsa non-Muslim.
Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, kembali ke sebuah masa ketika beliau menjawab buku berjudul "Rahasia Seribu Tahun" yang ditulis untuk menyerang Islam, dengan menulis buku tandingan berjudul "Mengungkap Rahasia-Rahasia".
Pendiri Republik Islam Iran, dengan menulis buku ini mengajak umat Islam, dunia untuk melakukan perlawanan. Imam Khomeini, di masa sebelum Revolusi Islam Iran, dalam pidato-pidatonya selalu berbicara kepada para ulama dan masyarakat Muslim, untuk bangkit melawan penindasan, dan mengusir para penjajah, dan boneka-bonekanya.
Imam Khomeini, selama Revolusi Islam Iran, Perang Pertahanan Suci (agresi militer Rezim Saddam Hussein Irak, selama delapan tahun ke Iran), dan dalam pesan haji tahunannya, menyampaikan seruan ini secara terbuka dan tegas.
Beliau menaruh harapan pada rakyat dan ulama negara-negara kawasan Asia Barat. Imam Khomeini, menasihati para penguasa afiliasi Barat, untuk bangkit melawan penjajah, penjarah agama, dan kehormatan bangsa.
Imam Khomeini, juga menasihati Shah Iran, untuk keluar dari cengkeraman Amerika Serikat dan Israel, tapi Shah Pahlevi, memilih tergantung pada Inggris dan AS.
Baik saat belajar Irfan dan filsafat kepada Ayatullah Mohammad Ali Shahabadi, maupun di hari-hari ketika pergi ke Dewan Nasional, dan memuji keberanian Syahid Modarres, atau di awal Abad ke-20, ketika mengajak umat Islam Iran, dan dunia untuk melawan penindasan kekuatan asing serta sekutunya di buku Kasyf Al Asrar (Mengungkap Rahasia-Rahasia), dan di awal kebangkitan tahun 1963, Imam Khomeini secara terbuka menyerang bukan hanya Shah Pahlevi, tapi juga AS dan Israel.
Imam Khomeini, mengambil sikap tegas terhadap AS dan Israel, kala itu. Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, di saat banyak orang masih sembunyi-sembunyi, dan berbicara sesuatu bercabang, Imam Khomeini, terang-terangan mengambil sikap tegas melawan Shah Pahlevi, AS dan Israel.
Pemikiran perlawanan Imam Khomeini sebelum Revolusi Islam Iran, sudah terbentuk sejak masa remaja, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia. Pemikiran perlawanan Imam Khomeini, meski ditentang keras oleh kubu imperialis global, gerakan penjajahan bersejarah, dan pemerintahan-pemerintahan boneka di kawasan Asia Barat, namun tetap membuka jalannya di kawasan dan dunia.
Imam Khomeini adalah putra seorang syahid. Ayah beliau yang merupakan ulama kota Khomein, gugur dalam perjuangan melawan penindasan Shah Iran kala itu. Imam Khomeini mengatakan, saat masih kanak-kanak, ia bersama ayahnya turut serta dalam perlawanan bersenjata terhadap penguasa zalim lokal.
Hari ini pemikiran perlawanan Imam Khomeini telah berubah menjadi sebuah organisasi kuat, dan ancaman serius bagi AS dan Israel. Melampaui perbatasan regional, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, telah tumbuh di AS dan Eropa, dan hal ini diungkap dalam surat terbaru Ayatullah Khamenei, untuk para mahasiswa AS pro-Palestina.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, Ayatullah Khamenei, menilai gerakan mahasiswa di negara-negara Eropa, dalam mendukung Palestina, sebagai bagian dari perlawanan.
Masa depan perlawanan cerah karena pemikiran ini selain sejalan dengan sunatullah yang menjanjikan bantuan Ilahi, dan kemenangan, juga memiliki logika jelas serta terang benderang. Logika yang sesuai dengan fitrah umat manusia, dan dunia menyadari logika terang ini.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perlawanan, lebih murah daripada biaya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan biaya kehinaan.
Nurani seluruh umat manusia yang sadar membenci penindasan, dan kejahatan. Dalam pemikiran perlawanan, orang-orang yang melawan penindasan akan mendapat pujian.
Perlawanan di negara-negara Barat, yang berada di bawah hegemoni raksasa media Zionis, sudah mulai muncul, dan menyebabkan bangkitnya nurani melawan penindasan Barat, dan membuat takut para penindas. Puncak pemikiran perlawanan adalah kemunculan Juru Selamat yang telah dijanjikan Tuhan, di dalam kitab-kitab sucinya yaitu Imam Mahdi. (HS)
Sumber: Parstoday Indonesia
Selasa, 04 Juni 2024
Imam Khamenei: Mustahil Bangsa Iran Menyerah Pada AS
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, dalam pertemuan
dengan para buruh dan pekerja Iran, menyebut tujuan hakiki sanksi dan tekanan
Amerika Serikat, serta Barat, adalah supaya rakyat dan pemerintah Iran,
menyerah dan patuh total.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (24/4/2024) mengatakan,
bangsa besar dan berakar Iran, serta Republik Islam, tidak akan pernah
menyerah, dan tunduk di hadapan arogansi serta penindasan, dan dengan mengubah
sanksi menjadi kesempatan bagi kemajuan, dan kejayaan, Iran, akan menyambut
masa depan yang gemilang.
Pemimpin Revolusi Islam mengatakan:
"Mereka menginginkan agar kekayaan, harga
diri, dan kebijakan Iran, sebagaimana beberapa negara, berada di tangan AS,
tapi negara Islami, martabat Islami, dan bangsa besar serta berakar Iran,
mustahil untuk menyerah pada intimidasi mereka."
Di bagian lain paparannya, Rahbar, mengatakan, berbicara soal
permasalahan ekonomi tanpa memperhatikan sanksi yang disebut AS dan Eropa,
sebagai sanksi yang luar biasa, adalah tidak mungkin:
"Negara-negara Barat, mengutarakan
kebohongan-kebohongan soal senjata nuklir, hak asasi manusia, dan dukungan atas
terorisme, sebagai tujuan dari penerapan sanksi terhadap Iran."
Ayatullah Khamenei, kemudian menyinggung kontradiksi, dan
alasan-alasan yang dibuat-buat oleh negara-negara Barat, salah satu contohnya
adalah Gaza:
"Menurut mereka, rakyat Gaza, yang sedang
dibombardir adalah teroris, tapi tidak menganggap pemerintah bengis, fiktif dan
tak punya belas kasihan Zionis, yang dalam waktu enam bulan membunuh hampir
40.000 orang termasuk sekian ribu anak-anak, bukan teroris."
Imam Khamenei, mengingatkan pidatonya beberapa tahun lalu
terkait masalah nuklir, dan meminta AS, menentukan sejauh mana Iran, harus
mundur sehingga ia puas:
"Mereka sampai kapan pun tidak bersedia
menentukan batas ini, karena pada akhirnya ingin menutup total industri nuklir
Iran, seperti negara-negara Afrika utara, secara perlahan dengan langkah
bertahap. Padahal di berbagai bidang seperti kesehatan, kedokteran, dan bidang
lainnya, dibutuhkan hasil-hasil aktivitas nuklir."
Menurut Pemimpin Revolusi Islam Iran, sanksi-sanksi telah
memukul perekonomian negara, dan menciptakan banyak masalah ekonomi:
"Sanksi-sanksi inilah yang telah
menciptakan tumbuh dan mekarnya potensi-potensi, serta memunculkan
kapasitas-kapasitas dalam negeri Iran."
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menilai upaya menjadikan
permusuhan musuh-musuh menjadi kesempatan merupakan karakteristik sebuah bangsa
yang hidup.
Beliau menyebut kemajuan-kemajuan di bidang persenjataan sebagai
salah satu contoh dari upaya mengubah sanksi-sanksi menjadi kesempatan:
"Kemajuan yang menunjukkan dirinya di
suatu tempat, telah membuat musuh tercengang, bagaimana mungkin Iran Islami,
mampu memproduksi sejumlah senjata canggih padahal ia disanksi."
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menuturkan:
"Insyaallah, senjata-senjata yang lebih
besar, lebih baik, dan lebih canggih akan diproduksi, tapi kemajuan tidak hanya
terbatas pada senjata, di bidang-bidang lain seperti kesehatan, kedokteran, dan
beberapa bidang industri, teknologi, Iran menjadi bagian dari negara unggul
dunia. Selain itu, di beberapa bagian masih terbelakang, namun berkat tekad dan
kerja keras, kita juga akan mengalami kemajuan."
Imam Khamenei, menganggap sanksi-sanksi semakin kehilangan
dampaknya, dan menuturkan:
"Baru-baru ini di salah satu laporan
sumber internasional disinggung tentang peningkatan Produk Domestik Bruto, PDB,
Iran, ini artinya upaya semakin besar, dan semakin baik dilakukan, tidak
berharap pada bantuan asing, sanksi-sanksi tidak berhasil melumpuhkan Iran, dan
semangat ini harus diperkuat."
Pemimpin Revolusi Islam, dalam pertemuan ini juga menyinggung
demonstrasi-demonstrasi mendukung rakyat Palestina, dan berkibarnya bendera
Palestina, seta Hizbullah, di jalan-jalan Eropa dan AS, dan menilai tuduhan
mendukung terorisme oleh Republik Islam Iran, karena mendukung rakyat tertindas
Gaza, telah membuat para penuduhnya terhina:
"Saat ini bukan rakyat Iran, saja, tapi
seluruh bangsa dunia mendukung Palestina."
Imam Khamenei, menyimpulkan:
"Bagi bangsa Iran, jelas, dan terang
bahwa alasan permusuhan kubu arogan terhadap mereka bukanlah
kebohongan-kebohongan yang mereka katakan, tapi fakta bahwa Iran yang merdeka
tidak akan pernah mau tunduk pada intimidasi mereka, dan tidak bersedia
mengekor kebijakan-kebijakan gagal, terbelakang, kalah, dan melawan nilai-nilai
Ilahi, serta fitrah kemanusiaan, mereka. Kebijakan-kebijakan yang diakui
sendiri sebagian analis Barat, sedang menumpas kredilitas AS, yang berusia 200
tahun."
Rahbar menegaskan bahwa harapan supaya rakyat Iran, yang
berpengalaman dan memiliki akar sejarah, mematuhi kebijakan-kebijakan
gagal mereka, adalah sia-sia:
"Bangsa Iran, berdiri dan kuat, dan
memang kita harus menunjukkan perlawanan dalam amal, pekerjaan, penelitian, dan
persatuan nasional, dalam hal ini dengan syarat menjauhi kemalasan, dari tengah
kesulitan dan masalah-masalah yang dibuat musuh, kita menciptakan kesempatan
dan solusi lebih besar untuk kemajuan, sehingga bangsa Iran, berkat
bantuan Ilahi, akan mencapai masa depan gemilang."
Dalam pertemuan ini, Rahbar, berterimakasih secara tulus atas
kerja keras, dan tekad masyarakat pekerja Iran, dan menyebut ciuman Nabi
Muhammad SAW, atas tangan kasar seorang buruh merupakan penghargaan tertinggi
atas kerja dan pekerja:
"Islam, sangat menaruh penghormatan
substansial pada kerja dan amal, dan berdasarkan ajaran Al Quran, dan hadis,
kerja keras seseorang untuk mendapatkan rezeki yang halal layaknya ibadah,
termasuk amal saleh."
Ayatullah Khamenei, menganggap perhatian publik terhadap
"pandangan Islam atas kerja dan pekerja" adalah sebuah urgensi
penting, dan membuka peluang kemajuan negara:
"Dunia materi bagi pekerja bukan hanya
sebatas sarana memperoleh kekayaan, tapi karena Islam, menganggap kerja
memiliki nilai instrisik, maka menganggap pekerja memiliki nilai substansial,
sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah SWT, menyukai orang-orang
yang menjalankan pekerjaannya dengan benar, konsisten dan kokoh." (HS)
Sumber:
Parstoday Indonesia
Senin, 03 Juni 2024
Imam Khomeini: Kita Harus Memperhatikan Masyarakat Miskin
Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat
kelas bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah. Menurut Imam, Islam telah
mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin.
Bertepatan dengan peringatan wafatnya Imam Khomeini, dalam
artikel singkat ini kita telah mencermati pentingnya keadilan dan perhatian
terhadap kaum miskin dalam pemikiran Imam Khomeini.
Artikel ini merupakan abstrak dari tulisan salah satu peneliti
terkenal Iran bernama Emad Afrogh (1336-1402 HS) terkait topik yang sama.
Ungkapan dan perkataan Imam Khomeini menunjukkan bahwa
pandangannya tentang keadilan adalah pandangan Imam Ali as, pengganti Nabi
Muhammad Saw dan Imam Pertama Syiah.
Pandangan Imam Ali as merupakan gabungan antara egalitarianisme
dan meritokrasi. Imam menghargai orisinalitas bagi masyarakat, tapi di sisi
lain, beliau percaya bahwa upaya seseorang tidak boleh dinisbatkan kepada orang
lain.
Jika kita membandingkan pandangan Imam Khomeini ra dengan sistem
kapitalis dan komunis, maka dapat dipastikan Imam Khomeini menolak sistem
kapitalis dan menentang kebijakan sosialis karena dua alasan.
Pertama, hal ini telah berubah menjadi kapitalisme negara, dan
kedua, hal ini bertentangan dengan hak milik pribadi. Penentangan Imam Khomeini
terhadap sistem kapitalis bukan karena konsep kepemilikan pribadi, melainkan
karena orisinalitas kapital yang mendominasi segalanya.
Pandangan Imam Khomeini ra terhadap kaum terpinggirkan bukan
sekedar pandangan politik atau ekonomi saja, melainkan pandangan yang lebih
mendasar. Pandangan religius. Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan
hak-hak masyarakat bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah.
Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus
memperhatikan orang miskin. Pembangunan harus diperuntukkan bagi masyarakat
yang kurang beruntung. Menurut Imam Khomeini ra, hal itu dimulai dari
orang-orang yang kekurangan.
Imam Khomeini ra mengatakan bahwa berbagai golongan tidak boleh
menindas golongan bawah, hak-hak masyarakat miskin dan yang membutuhkan harus
diberikan.
Dari sudut pandang Imam Khomeini, negara di Republik Islam harus
mengajukan tuntutan hukum dan menentang penindasan terhadap kelompok yang
dirugikan.
Imam Khomeini ra mengatakan bahwa menghilangkan kemiskinan
adalah adat kami. Dari sudut pandang Imam, jika seseorang benar-benar ingin
melawan penindasan Amerika, ia harus melakukan pengentasan kemiskinan.(sl)
Sumber: Parstoday Indonesia
Sabtu, 04 Mei 2024
Imam Khomeini, Imam Perubahan
Imam Khomeini
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam menyampaikan pidato memperingati haul Imam Khomeini menyebut pendiri Republik Islam Iran ini sebagai "Inspirator, pendorong dan pelaku perubahan". Oleh karena itu, Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai "Imam perubahan".
Perubahan yang dikibarkan Imam Khomeini tidak hanya berpengaruh
di Iran saja, tapi juga berdampak di tingkat global terutama dunia Islam.
Ayatullah Khamenei hari Rabu (3/6/2020) mengatakan,"Untuk
menjaga keberlanjutan revolusi, kita harus belajar karakteristik perangkat
lunak dan operasionalismenya dari Imam Khomeini. Kita harus seriusi
pendekatan perubahan dan percepatan menuju "perbaikan dan melompat ke
depan" di semua bidang, terutama di lini-lini yang tidak aktif,
maupun tertinggal,".
Imam Khomeini adalah seorang tokoh pejuang yang menyadari
masalah yang menimpa Iran dan dunia Islam. Oleh karena itu, jalan yang
diambil oleh Imam Khomeini dalam perang melawan imperialisme serta rezim korup
dan menindas, sebagai jalan yang berkelanjutan dan permanen.
Ayatullah Khamenei menilai pemikiran Imam Khomeini melampaui
zamannya. Beliau mengatakan bahwa Imam Khomeini jauh hari telah
membuktikan bahwa kekuatan adidaya seperti AS rentan dan bisa dipatahkan.
"Ketika itu, tidak ada yang berpikir bisa melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Amerika Serikat, tetapi Imam Khomeini membuktikannya, bahkan presiden Amerika sendiri mengakui telah dipermalukan oleh beliau," ujar Rahbar.
Sebelum Uni Soviet bubar, Imam Khomeini dalam berbagai statemennya telah menyinggung keruntungan blok timur ini, sebuah pandangan yang jarang terlontar dari para analis internasional sekalipun. Dari sudut pandang ini, ide-ide politik Imam Khomeini menunjukkan perubahan besar di tingkat global. Lebih dari itu, Imam Khomeini telah menyuarakan perubahan besar tatanan global, dan peran Islam di dalamnya, seiring terbentuknya Republik Islam di Iran.
Perubahan yang diusung Imam Khomeini berpijak pada nilai-nilai universal seperti keadilan, kebebasan dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, tuntutan terhadap penegakkan keadilan dan kebebasan tidak hanya disuarakan Republik Islam saja, tapi juga di tempat lain, termasuk yang terjadi di AS saat ini.
Ayatullah Khamenei menyebut peristiwa terkini di Amerika Serikat sebagai kemunculan realitas yang selama ini disembunyikan, dan wajah asli pemerintah Amerika dipermalukan di dunia oleh perilaku mereka sendiri.
Ayatullah Khamenei dalam pidato peringatan haul Imam Khomeini hari Rabu (3/6/2020) mengatakan bahwa aksi seorang polisi Amerika Serikat menekan leher seorang pria kulit hitam dengan lututnya hingga meninggal dunia, yang disaksikan oleh para polisi AS lainnya, bukan peristiwa baru.
"Kejahatan ini mencerminkan sepak terjang dan sifat pemerintah AS yang telah melakukan hal yang sama terhadap banyak negara dunia, seperti: Afghanistan, Irak, Suriah, dan sebelumnya Vietnam," ujar Rahbar.
Ayatullah Khamenei menyebut slogan orang Amerika hari ini, "Kami tidak bisa bernafas," sebagai suara hati semua negara yang tertindas. Ironisnya, pemerintah AS tidak meminta maaf atas perlakuan tidak tahu malu terhadap warganya sendiri yang jelas menunjukkan kejahatan, dan kemudian mereka mengatakan hak asasi manusia, seorang-olah orang kulit hitam yang terbunuh bukan manusia dan dia tidak memiliki haknya.
Selama ini AS selalu bersembunyi di balik topeng hak asasi manusia dan demokrasi yang diklaim dilanggar negara lain, tapi lupa negaranya sendiri sebagai biang keladi berbagai pelanggaran tersebut. Pada peringatan haul Imam Khomeini ke-31, realitas yang tersembunyi itu kian hari semakin tersingkap. Tepat kiranya, jika Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai Imam perubahan yang bergerak melampaui zamannya.(PH)
Sumber: Parstoday
















