Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Tokoh-Tokoh Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh-Tokoh Syiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Agustus 2025

Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia




Imam Ruhullah al-Musawi al-Khomeini (1902–1989) bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran, tetapi juga sebagai arif billah, ahli hikmah dan wali yang tinggi maqam spiritualnya.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam. Namun di balik wajah politik Imam Khomeini, terdapat sisi ruhani yang jauh lebih dalam.

Beliau adalah murid dari para wali besar seperti Ayatullah Shahabadi dan Sayyid Ali Qadhi Tabataba’i, dan dikenal ahli dalam irfan teoritis maupun praktis.

Banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa Imam Khomeini memiliki karomah kewalian, sesuatu yang diakui dalam spiritualitas Syi’ah dan Sunni sebagai ciri orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam teologi Syi’ah, kewalian bukan hanya milik para Imam Ma’shum, tetapi juga dimungkinkan turun kepada para ulama yang meniti jalan suci, zuhud, dan mengenal Allah secara hakiki.

Karomah (karฤmah) adalah bentuk manifestasi kehendak Ilahi yang ditampakkan melalui hamba pilihan, bukan hasil latihan sihir atau ilmu batin biasa.

Ciri utama wali menurut Syi’ah:
* Zuhud dan wara’ dalam hidup
* Mengenal Allah secara ma’rifah
* Taat sempurna kepada syariat
* Menghindari popularitas dan kesombongan
* Tidak menampakkan karomah sebagai pertunjukan

Imam Khomeini Sebagai Arifbillah dan Wali

Sebelum dikenal sebagai pemimpin revolusi, Imam Khomeini adalah pengajar irfan (di Islam Suni mungkin disebut tasawuf) di Hawzah Qom.

Beliau memiliki banyak karya yang luar biasa, karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia diantaranya seperti:

* Adabus Salat (Etika Shalat)
* Sirruแนฃ-แนขalฤt (Rahasia Shalat)
* Sharแธฅ Du’a al-Sahar (Syarah dua Sahur). dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini membuktikan bahwa beliau memiliki kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa. Dalam Adabus Salat, beliau menulis bahwa hakikat salat adalah mi’raj ruhani, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan kelezatannya.

Kesaksian Karomah Imam Khomeini

Melihat Hal Gaib. Ayatullah Amuli menceritakan bahwa suatu malam di Najaf, Khomeini sedang bermunajat. Setelah itu, beliau menyampaikan peristiwa tentang seorang yang wafat hari itu, padahal belum ada kabar resmi. Keesokan harinya berita wafat itu terbukti benar.

Khusyuknya Salat dan Mi’raj Ruhani. Imam Khomeini biasa mengerjakan salat malam dengan tangisan dan kegelisahan ruhani. Para pengawal pribadi menyatakan bahwa mereka merasa "getaran spiritual" saat berada di dekat kamar salat malam beliau.

Doa yang Mustajab. Banyak orang, termasuk keluarga dan murid-murid, melaporkan bahwa doa Imam Khomeini sering dikabulkan. Ada yang sembuh dari penyakit, ada yang berhasil mendapatkan solusi kehidupan, setelah didoakan oleh beliau, meskipun tidak diminta secara langsung.

Keteguhan Hati yang Ajaib. Saat menghadapi ancaman Syah Iran, Imam Khomeini tetap tenang dan yakin. Keteguhan ruhani ini diakui oleh kawan dan lawan sebagai "karamah tsabat" bentuk karomah berupa keteguhan iman yang tidak tergoyahkan, bahkan oleh maut.

Kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran).

Tidak mencintai dunia, tidak meninggalkan warisan harta benda mewah.

Menolak pengultusan, beliau selalu mengarahkan perhatian umat kepada Allah, Rasul dan Ahlulbaitnya, bukan pada dirinya. Tidak pernah menampakkan karomah, beliau bahkan menyembunyikan sisi irfannya dari publik selama revolusi berlangsung.

Ayatullah Bahjat menyebut Imam Khomeini sebagai “rahmat yang diturunkan” kepada umat Islam. Ayatullah Misbah Yazdi menilai Imam Khomeini lebih tinggi maqamnya dalam irfan daripada banyak guru beliau. Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan bahwa revolusi Khomeini tidak bisa dijelaskan secara politik semata, tapi sebagai buah dari kedekatan ruhani dengan Allah.

Buya Hamka berkisah tentang Imam Khomeini terutama setelah Revolusi Islam Iran 1979. Buya Hamka saat itu menjabat ketua MUI, Menemui Imam Khomeini di Iran, setelah pulang beliau menyebutkan kekaguman beliau:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980);

“Saya hormati beliau, karena beliau memiliki keteguhan yang jarang dimiliki oleh ulama lain. Beliau melawan Syah Iran tanpa gentar. Itu menunjukkan kekuatan iman dan keyakinan.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980).

“Saya melihat kemenangan Revolusi Iran sebagai pertanda bahwa Islam belum mati. Semangat umat Islam kembali hidup karena perjuangan Imam Khomeini.”
Wawancara Buya Hamka yang dimuat dalam harian Pelita dan disitir dalam buku “Hamka: Sebuah Biografi” oleh Irfan Hamka, Republika, 2013.

“Walau beliau Syi’ah, perjuangannya adalah perjuangan Islam.”
“Meskipun beliau dari mazhab Syi’ah, saya melihat api perjuangan beliau membakar semangat umat Islam sedunia. Kemenangan itu adalah kemenangan umat Islam, bukan milik satu golongan saja.”
(Sumber: Panji Masyarakat, 1980).

“Imam Khomeini hidup sederhana, tidak silau kekuasaan.”
“Lihatlah bagaimana Imam Khomeini hidup. Beliau tidak tertarik pada kemewahan atau harta. Ia tetap sederhana, walau menjadi pemimpin negara.”
(Disampaikan Buya Hamka dalam pengajian MUI awal 1980-an (dikutip oleh murid-murid Buya Hamka dan dimuat ulang dalam buku “Ulama dan Revolusi Iran” karya DR. Muhsin Labib, 2008).

Roger Garaudy (Filsuf Prancis, mantan Marxis yang masuk Islam):
"Imam Khomeini telah mengembalikan makna politik dalam Islam yang telah lama dirusak oleh kompromi-kompromi kekuasaan. Ia seorang tokoh revolusioner spiritual."
Sumber: Roger Garaudy, L’Islam habite notre avenir (Islam Mendiami Masa Depan Kita), 1981.

Itulah kekaguman dari beberapa ulama dan para pemikir kepada sosok Imam Khumaeni qs. Meskipun tidak bisa kutip kekaguman pemikir lainnya pada sosok fenomenal ini.

Dalam Islam, kedudukan ulama sangat tinggi. Al Qur'an menyebutkan:

ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฎْุดَู‰ ูฑู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ูฑู„ْุนُู„َู…َٰุٓคُุง۟ ۗ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28).

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya).

Namun, tidak semua orang yang bergelar "ustadz" atau "kyai" dapat menyandang fungsi pewaris Nabi.

Fungsi ini menuntut keilmuan mendalam, kesalehan pribadi, keberanian sosial, dan independensi politik, keberanian bertindak dan bersikap, membela Mustadhafiin, pantang hina. (Jika tidak berlebihan kita sebut Miniatur atau kloningan para Nabi).

Iran, sebagai negara dengan sistem unik dalam mencetak keulamaan melalui seleksi ketat, tahapan panjang, proses yang matang, telah berhasil membangun ekosistem mencetak ulama dengan kualitas dan kriteria ini.

Diera modern kita bisa melihat sosok-sosok ulama seperti ini pada ulama-ulama Syi'ah Iran, seperti Ruhullah Imam Khomeini qs., Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan masih banyak lagi, mereka contoh konkrit hari ini yang tidak pernah takut kepada Asu Zionis panjajah, mereka hanya takut kepada Allah SWT. Berani melawan, tidak takut mati. Sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengingat hadits Nabi di atas bahwa ulama itu Pewaris Para Nabi, apa yang diwarisi dari Nabi? Tentu saja bukan ibadah solatnya semata atau ilmunya semata, tetapi kesolehannya, akhlaknya termasuk didalamnya: Keberanian melawan kezaliman, ketabahan, kesabaran, kezuhudan, kewaraan, membela yang tertindas dst.

Adapun Ucapan Buya Hamka:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980). Sangat Tepat sekali karena Imam Khomeini sosok yang selaras dan sesuai dengan kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Kita patut bertanya dan mendefinisikan ulang gelar ulama yang gampang disematkan oleh sekelompok orang kepada orang yang cuma memimpin majlis ilmu dengan gelar "ulama Sunnah", kira-kira pelabelan seperti ini sesuai kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi tidak?

Apakah imam solat Masjidil haram yang tidak peduli dengan keadaan Palestina, diam dengan kezaliman Zionis ASU pada Gaza karena takut dengan tekanan penguasa tanah haram itu masuk dalam kategori ulama?

Mari kita berpikir ulang tentang ulama jangan sembrono dan sembarangan menyematkan gelar ulama, apalagi hanya karena fanatik buta tanpa didasari logika. Fanatik boleh tapi ditempatkan sesuai dengan kriteria dan tempatnya.


Minggu, 29 Juni 2025

Mengapa Para Pemimpin Perlawanan Dunia Hampir Semua Seorang “Sayyid”?

 



- Mereka bukan sekadar pemimpin politik atau komandan militer.

- Mereka adalah Sayyid — keturunan Rasulullah ๏ทบ — yang memikul darah, amanah, dan semangat suci Ahlul Bait. Dari Yaman hingga Lebanon, dari Irak hingga Iran — para pemimpin perlawanan adalah pribadi-pribadi yang membawa warisan kepahlawanan Karbala.

- Mereka berdiri di garis depan, bukan untuk kuasa, tapi untuk membela kaum tertindas, melawan penjajah, dan menolak kehinaan.

- Mereka tidak akan membiarkan dunia Islam sujud di bawah telapak kaki Zionis dan penjajah global.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah janji sejarah. Bahwa dari keturunan Nabi akan bangkit para pelindung kehormatan umat — Sayyid yang menolak tunduk kecuali kepada Allah.

--- ##### ---

Jumat, 02 Agustus 2024

Ayatullah Khamenei: Rezim Zionis Buka Peluang Hukuman Berat Untuk Dirinya


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei dan Ismail Haniyeh


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, terkait teror Kepala Biro Politik Hamas mengatakan, Rezim Zionis sudah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (31/7/2024) mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin berani dan pejuang umat Islam, serta poros perlawanan, dan bangsa Palestina.

Rahbar menegaskan, "Rezim Zionis penjahat dan teroris, dengan aksi ini telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri, dan kami menganggap menuntut balas atas darah Ismail Haniyeh, yang gugur di dalam wilayah Republik Islam Iran, sebagai kewajiban kami."

Isi pesan Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

Bismillahirahmanirahim
Innalillahi wa inna ilahi rajiun

Rakyat mulia Iran

Pemimpin berani dan pejuang unggul Palestina, Tuan Ismail Haniyeh, kembali ke sisi Allah SWT, dan poros agung perlawanan berduka. Rezim Zionis penjahat dan teroris, menewaskan tamu mulia kami di rumah kami sendiri, dan membuat kami berduka, tapi Rezim Zionis telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya.

Syahid Haniyeh, selama bertahun-tahun telah mempertaruhkan nyawa berharganya di jalan perjuangan mulia, dan siap untuk gugur, dan menyerahkan putra-putra serta familinya di jalan ini.

Ia tidak pernah takut untuk gugur di jalan Tuhan, dan di jalan menyelamatkan hamba-hamba-Nya, tapi kami dalam peristiwa pahit dan sulit yang terjadi di wilayah Republik Islam Iran, menganggap menuntut balas atas darah beliau, sebagai kewajiban kami.

Saya mengucapkan belasungkawa kepada umat Islam, poros perlawanan, kepada bangsa berani dan terhormat Palestina, terutama keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan atas gugurnya Syahid Haniyeh, dan salah satu pengawalnya. Saya memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kedudukan tinggi kepada mereka.

Sayid Ali Khamenei

31 Juli 2024 (25 Muharam 1446 Hijriah)

Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, sebelumnya mengumumkan, Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas, dan salah satu pengawalnya gugur dalam sebuah serangan ke kediamannya di Tehran, Rabu (31/7) pukul 2 dinihari. (HS).

Sumber: Parstoday Indonesia

Jumat, 07 Juni 2024

Pemikiran Perlawanan Imam Khomeini Dari Iran Hingga Dunia



 

Salah seorang pengajar di universitas Iran, menyebut benih perlawanan yang ditanam Imam Khomeini, di masanya, kini telah tumbuh menjadi sebuah pohon besar berakar kuat. Hujatulislam Mohammad Javad Faqih, pengajar Hauzah Ilmiah dan universitas Iran, terkait perlawanan dalam pemikiran Imam Khomeini mengatakan, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, sebelum Revolusi Islam, sudah terbentuk sejak masa remaja beliau, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia.

Di bawah ini sebagian paparan Imam Khomeini, dalam wawancara dengan kantor berita Mehr News:

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, bertumpu pada sejumlah prinsip dasar. Prinsip pertama adalah Tauhid yang berarti kebangkitan untuk Tuhan, dan tidak takut selain kepada Tuhan.

Prinsip kedua dalam pemikiran perlawanan Imam Khomeini, dikhususkan pada sunatullah, Al Quran, dan Islam. Al Quran lebih menekankan anti-penjajahan dari anti-kafir. Anti-penjajahan adalah kewajiban yang diberikan Al Quran kepada setiap Muslim, terutama ulama.

Imam Khomeini sedang berceramah

Prinsip ketiga perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah akal. Orang-orang berakal tidak akan pernah tunduk pada kekuatan-kekuatan sementara di dunia, dan selalu menemukan jalan untuk melawan. Orang-orang berakal akan menemukan titik kelemahan penjajah, dan memukulnya tepat di titik itu.

Prinsip keempat perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah pengalaman sejarah. Kemenangan-kemenangan yang berhasil diraih dalam sejarah adalah berkat perlawanan. Sebagaimana disampaikan Ayatullah Ali Khamenei, ini artinya bahwa:

"Ketika kita melakukan perlawanan, maka kita akan maju, sebaliknya ketika kita menyerah, maka kita akan terpukul, dan mundur."

Prinsip kelima perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah fitrah. Fitrah yang suci, memuji manusia yang anti-penindasan, dan mengagungkan orang yang membela kaum tertindas.

Logika perlawanan yang dimulai dari Iran, membangkitkan nurani seluruh bangsa merdeka dunia dengan menggunakan bahasa fitrah yang salah satu contohnya adalah dukungan mahasiswa dunia terhadap rakyat Gaza, dan kebangkitan bangsa-bangsa non-Muslim.

Syahid Abu Mahdi Al Muhandis, Sayid Hassan Nasrullah, dan Syahid Qassem Soleimani

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, kembali ke sebuah masa ketika beliau menjawab buku berjudul "Rahasia Seribu Tahun" yang ditulis untuk menyerang Islam, dengan menulis buku tandingan berjudul "Mengungkap Rahasia-Rahasia".

Pendiri Republik Islam Iran, dengan menulis buku ini mengajak umat Islam, dunia untuk melakukan perlawanan. Imam Khomeini, di masa sebelum Revolusi Islam Iran, dalam pidato-pidatonya selalu berbicara kepada para ulama dan masyarakat Muslim, untuk bangkit melawan penindasan, dan mengusir para penjajah, dan boneka-bonekanya.

Imam Khomeini, selama Revolusi Islam Iran, Perang Pertahanan Suci (agresi militer Rezim Saddam Hussein Irak, selama delapan tahun ke Iran), dan dalam pesan haji tahunannya, menyampaikan seruan ini secara terbuka dan tegas.

Beliau menaruh harapan pada rakyat dan ulama negara-negara kawasan Asia Barat. Imam Khomeini, menasihati para penguasa afiliasi Barat, untuk bangkit melawan penjajah, penjarah agama, dan kehormatan bangsa.

Imam Khomeini, juga menasihati Shah Iran, untuk keluar dari cengkeraman Amerika Serikat dan Israel, tapi Shah Pahlevi, memilih tergantung pada Inggris dan AS.

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dan Ayatullah Khamenei

Baik saat belajar Irfan dan filsafat kepada Ayatullah Mohammad Ali Shahabadi, maupun di hari-hari ketika pergi ke Dewan Nasional, dan memuji keberanian Syahid Modarres, atau di awal Abad ke-20, ketika mengajak umat Islam Iran, dan dunia untuk melawan penindasan kekuatan asing serta sekutunya di buku Kasyf Al Asrar (Mengungkap Rahasia-Rahasia), dan di awal kebangkitan tahun 1963, Imam Khomeini secara terbuka menyerang bukan hanya Shah Pahlevi, tapi juga AS dan Israel.

Imam Khomeini, mengambil sikap tegas terhadap AS dan Israel, kala itu. Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, di saat banyak orang masih sembunyi-sembunyi, dan berbicara sesuatu bercabang, Imam Khomeini, terang-terangan mengambil sikap tegas melawan Shah Pahlevi, AS dan Israel.

Pemikiran perlawanan Imam Khomeini sebelum Revolusi Islam Iran, sudah terbentuk sejak masa remaja, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia. Pemikiran perlawanan Imam Khomeini, meski ditentang keras oleh kubu imperialis global, gerakan penjajahan bersejarah, dan pemerintahan-pemerintahan boneka di kawasan Asia Barat, namun tetap membuka jalannya di kawasan dan dunia.

Imam Khomeini adalah putra seorang syahid. Ayah beliau yang merupakan ulama kota Khomein, gugur dalam perjuangan melawan penindasan Shah Iran kala itu. Imam Khomeini mengatakan, saat masih kanak-kanak, ia bersama ayahnya turut serta dalam perlawanan bersenjata terhadap penguasa zalim lokal.

Hari ini pemikiran perlawanan Imam Khomeini telah berubah menjadi sebuah organisasi kuat, dan ancaman serius bagi AS dan Israel. Melampaui perbatasan regional, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, telah tumbuh di AS dan Eropa, dan hal ini diungkap dalam surat terbaru Ayatullah Khamenei, untuk para mahasiswa AS pro-Palestina.

Bendera Iran dan Palestina, dikibarkan di depan Gedung Putih

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, Ayatullah Khamenei, menilai gerakan mahasiswa di negara-negara Eropa, dalam mendukung Palestina, sebagai bagian dari perlawanan.

Masa depan perlawanan cerah karena pemikiran ini selain sejalan dengan sunatullah yang menjanjikan bantuan Ilahi, dan kemenangan, juga memiliki logika jelas serta terang benderang. Logika yang sesuai dengan fitrah umat manusia, dan dunia menyadari logika terang ini.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perlawanan, lebih murah daripada biaya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan biaya kehinaan.

Nurani seluruh umat manusia yang sadar membenci penindasan, dan kejahatan. Dalam pemikiran perlawanan, orang-orang yang melawan penindasan akan mendapat pujian.

Perlawanan di negara-negara Barat, yang berada di bawah hegemoni raksasa media Zionis, sudah mulai muncul, dan menyebabkan bangkitnya nurani melawan penindasan Barat, dan membuat takut para penindas. Puncak pemikiran perlawanan adalah kemunculan Juru Selamat yang telah dijanjikan Tuhan, di dalam kitab-kitab sucinya yaitu Imam Mahdi. (HS)

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Selasa, 04 Juni 2024

Imam Khamenei: Mustahil Bangsa Iran Menyerah Pada AS

 

Ayatullah Khamenei bertemu pekerja Iran

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, dalam pertemuan dengan para buruh dan pekerja Iran, menyebut tujuan hakiki sanksi dan tekanan Amerika Serikat, serta Barat, adalah supaya rakyat dan pemerintah Iran, menyerah dan patuh total.

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (24/4/2024) mengatakan, bangsa besar dan berakar Iran, serta Republik Islam, tidak akan pernah menyerah, dan tunduk di hadapan arogansi serta penindasan, dan dengan mengubah sanksi menjadi kesempatan bagi kemajuan, dan kejayaan, Iran, akan menyambut masa depan yang gemilang.

 

Pemimpin Revolusi Islam mengatakan:

 

"Mereka menginginkan agar kekayaan, harga diri, dan kebijakan Iran, sebagaimana beberapa negara, berada di tangan AS, tapi negara Islami, martabat Islami, dan bangsa besar serta berakar Iran, mustahil untuk menyerah pada intimidasi mereka."


 

 

Di bagian lain paparannya, Rahbar, mengatakan, berbicara soal permasalahan ekonomi tanpa memperhatikan sanksi yang disebut AS dan Eropa, sebagai sanksi yang luar biasa, adalah tidak mungkin:

 

"Negara-negara Barat, mengutarakan kebohongan-kebohongan soal senjata nuklir, hak asasi manusia, dan dukungan atas terorisme, sebagai tujuan dari penerapan sanksi terhadap Iran."

 

Ayatullah Khamenei, kemudian menyinggung kontradiksi, dan alasan-alasan yang dibuat-buat oleh negara-negara Barat, salah satu contohnya adalah Gaza:

 

"Menurut mereka, rakyat Gaza, yang sedang dibombardir adalah teroris, tapi tidak menganggap pemerintah bengis, fiktif dan tak punya belas kasihan Zionis, yang dalam waktu enam bulan membunuh hampir 40.000 orang termasuk sekian ribu anak-anak, bukan teroris."

 

Imam Khamenei, mengingatkan pidatonya beberapa tahun lalu terkait masalah nuklir, dan meminta AS, menentukan sejauh mana Iran, harus mundur sehingga ia puas:

 

"Mereka sampai kapan pun tidak bersedia menentukan batas ini, karena pada akhirnya ingin menutup total industri nuklir Iran, seperti negara-negara Afrika utara, secara perlahan dengan langkah bertahap. Padahal di berbagai bidang seperti kesehatan, kedokteran, dan bidang lainnya, dibutuhkan hasil-hasil aktivitas nuklir."


 

Menurut Pemimpin Revolusi Islam Iran, sanksi-sanksi telah memukul perekonomian negara, dan menciptakan banyak masalah ekonomi:

 

"Sanksi-sanksi inilah yang telah menciptakan tumbuh dan mekarnya potensi-potensi, serta memunculkan kapasitas-kapasitas dalam negeri Iran."

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menilai upaya menjadikan permusuhan musuh-musuh menjadi kesempatan merupakan karakteristik sebuah bangsa yang hidup.

 

Beliau menyebut kemajuan-kemajuan di bidang persenjataan sebagai salah satu contoh dari upaya mengubah sanksi-sanksi menjadi kesempatan:

 

"Kemajuan yang menunjukkan dirinya di suatu tempat, telah membuat musuh tercengang, bagaimana mungkin Iran Islami, mampu memproduksi sejumlah senjata canggih padahal ia disanksi."

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menuturkan:

 

"Insyaallah, senjata-senjata yang lebih besar, lebih baik, dan lebih canggih akan diproduksi, tapi kemajuan tidak hanya terbatas pada senjata, di bidang-bidang lain seperti kesehatan, kedokteran, dan beberapa bidang industri, teknologi, Iran menjadi bagian dari negara unggul dunia. Selain itu, di beberapa bagian masih terbelakang, namun berkat tekad dan kerja keras, kita juga akan mengalami kemajuan."

 

 

Imam Khamenei, menganggap sanksi-sanksi semakin kehilangan dampaknya, dan menuturkan:

 

"Baru-baru ini di salah satu laporan sumber internasional disinggung tentang peningkatan Produk Domestik Bruto, PDB, Iran, ini artinya upaya semakin besar, dan semakin baik dilakukan, tidak berharap pada bantuan asing, sanksi-sanksi tidak berhasil melumpuhkan Iran, dan semangat ini harus diperkuat."

 

Pemimpin Revolusi Islam, dalam pertemuan ini juga menyinggung demonstrasi-demonstrasi mendukung rakyat Palestina, dan berkibarnya bendera Palestina, seta Hizbullah, di jalan-jalan Eropa dan AS, dan menilai tuduhan mendukung terorisme oleh Republik Islam Iran, karena mendukung rakyat tertindas Gaza, telah membuat para penuduhnya terhina:

 

"Saat ini bukan rakyat Iran, saja, tapi seluruh bangsa dunia mendukung Palestina."

 

Imam Khamenei, menyimpulkan:

 

"Bagi bangsa Iran, jelas, dan terang bahwa alasan permusuhan kubu arogan terhadap mereka bukanlah kebohongan-kebohongan yang mereka katakan, tapi fakta bahwa Iran yang merdeka tidak akan pernah mau tunduk pada intimidasi mereka, dan tidak bersedia mengekor kebijakan-kebijakan gagal, terbelakang, kalah, dan melawan nilai-nilai Ilahi, serta fitrah kemanusiaan, mereka. Kebijakan-kebijakan yang diakui sendiri sebagian analis Barat, sedang menumpas kredilitas AS, yang berusia 200 tahun."

 

Rahbar menegaskan bahwa harapan supaya rakyat Iran, yang berpengalaman dan memiliki akar sejarah, mematuhi kebijakan-kebijakan gagal mereka, adalah sia-sia:

 

"Bangsa Iran, berdiri dan kuat, dan memang kita harus menunjukkan perlawanan dalam amal, pekerjaan, penelitian, dan persatuan nasional, dalam hal ini dengan syarat menjauhi kemalasan, dari tengah kesulitan dan masalah-masalah yang dibuat musuh, kita menciptakan kesempatan dan solusi lebih besar untuk kemajuan, sehingga bangsa Iran, berkat bantuan Ilahi, akan mencapai masa depan gemilang."

 

 

Dalam pertemuan ini, Rahbar, berterimakasih secara tulus atas kerja keras, dan tekad masyarakat pekerja Iran, dan menyebut ciuman Nabi Muhammad SAW, atas tangan kasar seorang buruh merupakan penghargaan tertinggi atas kerja dan pekerja:

 

"Islam, sangat menaruh penghormatan substansial pada kerja dan amal, dan berdasarkan ajaran Al Quran, dan hadis, kerja keras seseorang untuk mendapatkan rezeki yang halal layaknya ibadah, termasuk amal saleh."

 

Ayatullah Khamenei, menganggap perhatian publik terhadap "pandangan Islam atas kerja dan pekerja" adalah sebuah urgensi penting, dan membuka peluang kemajuan negara:

 

"Dunia materi bagi pekerja bukan hanya sebatas sarana memperoleh kekayaan, tapi karena Islam, menganggap kerja memiliki nilai instrisik, maka menganggap pekerja memiliki nilai substansial, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah SWT, menyukai orang-orang yang menjalankan pekerjaannya dengan benar, konsisten dan kokoh." (HS)

 

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Senin, 03 Juni 2024

Imam Khomeini: Kita Harus Memperhatikan Masyarakat Miskin


Imam Khomeini ra

 

Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat kelas bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah. Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin.

 

Bertepatan dengan peringatan wafatnya Imam Khomeini, dalam artikel singkat ini kita telah mencermati pentingnya keadilan dan perhatian terhadap kaum miskin dalam pemikiran Imam Khomeini.

 

Artikel ini merupakan abstrak dari tulisan salah satu peneliti terkenal Iran bernama Emad Afrogh (1336-1402 HS) terkait topik yang sama.

 

Ungkapan dan perkataan Imam Khomeini menunjukkan bahwa pandangannya tentang keadilan adalah pandangan Imam Ali as, pengganti Nabi Muhammad Saw dan Imam Pertama Syiah.

 

Pandangan Imam Ali as merupakan gabungan antara egalitarianisme dan meritokrasi. Imam menghargai orisinalitas bagi masyarakat, tapi di sisi lain, beliau percaya bahwa upaya seseorang tidak boleh dinisbatkan kepada orang lain.

 

Jika kita membandingkan pandangan Imam Khomeini ra dengan sistem kapitalis dan komunis, maka dapat dipastikan Imam Khomeini menolak sistem kapitalis dan menentang kebijakan sosialis karena dua alasan.

 

Pertama, hal ini telah berubah menjadi kapitalisme negara, dan kedua, hal ini bertentangan dengan hak milik pribadi. Penentangan Imam Khomeini terhadap sistem kapitalis bukan karena konsep kepemilikan pribadi, melainkan karena orisinalitas kapital yang mendominasi segalanya.

 

Pandangan Imam Khomeini ra terhadap kaum terpinggirkan bukan sekedar pandangan politik atau ekonomi saja, melainkan pandangan yang lebih mendasar. Pandangan religius. Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah.

 

Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin. Pembangunan harus diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang beruntung. Menurut Imam Khomeini ra, hal itu dimulai dari orang-orang yang kekurangan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa berbagai golongan tidak boleh menindas golongan bawah, hak-hak masyarakat miskin dan yang membutuhkan harus diberikan.

 

Dari sudut pandang Imam Khomeini, negara di Republik Islam harus mengajukan tuntutan hukum dan menentang penindasan terhadap kelompok yang dirugikan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa menghilangkan kemiskinan adalah adat kami. Dari sudut pandang Imam, jika seseorang benar-benar ingin melawan penindasan Amerika, ia harus melakukan pengentasan kemiskinan.(sl)

 

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Sabtu, 04 Mei 2024

Imam Khomeini, Imam Perubahan

 

Imam Khomeini

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam menyampaikan pidato memperingati haul Imam Khomeini menyebut pendiri Republik Islam Iran ini sebagai "Inspirator, pendorong dan pelaku perubahan". Oleh karena itu, Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai "Imam perubahan".


Perubahan yang dikibarkan Imam Khomeini tidak hanya berpengaruh di Iran saja, tapi juga berdampak di tingkat global terutama dunia Islam.

 

Ayatullah Khamenei hari Rabu (3/6/2020) mengatakan,"Untuk menjaga keberlanjutan revolusi, kita harus belajar karakteristik perangkat lunak dan operasionalismenya dari Imam Khomeini. Kita harus seriusi pendekatan perubahan dan percepatan menuju "perbaikan dan melompat ke depan" di semua bidang, terutama di lini-lini yang tidak aktif, maupun tertinggal,".

 

Imam Khomeini adalah seorang tokoh pejuang yang menyadari masalah yang menimpa Iran dan dunia Islam. Oleh karena itu, jalan yang diambil oleh Imam Khomeini dalam perang melawan imperialisme serta rezim korup dan menindas, sebagai jalan yang berkelanjutan dan permanen.

 

Ayatullah Khamenei menilai pemikiran Imam Khomeini melampaui zamannya. Beliau mengatakan bahwa Imam Khomeini jauh hari telah membuktikan bahwa kekuatan adidaya seperti AS rentan dan bisa dipatahkan.


Ayatullah Khamenei

"Ketika itu, tidak ada yang berpikir bisa melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Amerika Serikat, tetapi Imam Khomeini membuktikannya, bahkan presiden Amerika sendiri mengakui telah dipermalukan oleh beliau," ujar Rahbar.


Sebelum Uni Soviet bubar, Imam Khomeini dalam berbagai statemennya telah menyinggung keruntungan blok timur ini, sebuah pandangan yang jarang terlontar dari para analis internasional sekalipun. Dari sudut pandang ini, ide-ide politik Imam Khomeini menunjukkan perubahan besar di tingkat global. Lebih dari itu, Imam Khomeini telah menyuarakan perubahan besar tatanan global, dan peran Islam di dalamnya, seiring terbentuknya Republik Islam di Iran.


Perubahan yang diusung Imam Khomeini berpijak pada nilai-nilai universal seperti keadilan, kebebasan dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, tuntutan terhadap penegakkan keadilan dan kebebasan tidak hanya disuarakan Republik Islam saja, tapi juga di tempat lain, termasuk yang terjadi di AS saat ini.


Ayatullah Khamenei menyebut peristiwa terkini di Amerika Serikat sebagai kemunculan realitas yang selama ini disembunyikan, dan wajah asli pemerintah Amerika dipermalukan di dunia oleh perilaku mereka sendiri.


Ayatullah Khamenei dalam pidato peringatan haul Imam Khomeini hari Rabu (3/6/2020) mengatakan bahwa aksi seorang polisi Amerika Serikat menekan leher seorang pria kulit hitam dengan lututnya hingga meninggal dunia, yang disaksikan oleh para polisi AS lainnya, bukan peristiwa baru.


Aksi protes terhadap kematian warga kulit hitam AS oleh polisi negara ini

"Kejahatan ini mencerminkan sepak terjang dan sifat pemerintah AS yang telah melakukan hal yang sama terhadap banyak negara dunia, seperti: Afghanistan, Irak, Suriah, dan sebelumnya Vietnam," ujar Rahbar.


Ayatullah Khamenei menyebut slogan orang Amerika hari ini, "Kami tidak bisa bernafas," sebagai suara hati semua negara yang tertindas. Ironisnya, pemerintah AS tidak meminta maaf atas perlakuan tidak tahu malu terhadap warganya sendiri yang jelas menunjukkan kejahatan, dan kemudian mereka mengatakan hak asasi manusia, seorang-olah orang kulit hitam yang terbunuh bukan manusia dan dia tidak memiliki haknya.


Selama ini AS selalu bersembunyi di balik topeng hak asasi manusia dan demokrasi yang diklaim dilanggar negara lain, tapi lupa negaranya sendiri sebagai biang keladi berbagai pelanggaran tersebut. Pada peringatan haul Imam Khomeini ke-31, realitas yang tersembunyi itu kian hari semakin tersingkap. Tepat kiranya, jika Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai Imam perubahan yang bergerak melampaui zamannya.(PH)


Sumber: Parstoday