Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Syiah Menurut Sunni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah Menurut Sunni. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2024

Risalah Amman: Syiah Diakui Sebagai Mazhab Sah Dalam Islam

 


Siapa pun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlus Sunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali), Madzhab Jakfari, Madzhab Zaidiyah, Madzhab Ibadi, Madzhab Dhahiri, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy'ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafy yang shahih.

 

 

Risalah 'Amman (ุฑุณุงู„ุฉ ุนู…ّุงู†) dimulai sebagai deklarasi yang dirilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (ุฑุณุงู„ุฉ ุนู…ّุงู†) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang "Islam yang benar (ุงู„ุทุจูŠุนุฉ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠุฉ ู„ู„ุฅุณู„ุงู…)" dan "kebenaran Islam" (ูˆุทุจูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุงู„ุญู‚ูŠู‚ูŠ).

 

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam:

 

1.    Siapakah seorang Muslim?

2.    Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir)?

3.    Siapakah yang memiliki hak untuk mengeluarkan fatwa?

 

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูƒุจุงุฑ) -termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (ุดูŠุฎ ุงู„ุฃุฒู‡ุฑ), Ayatullah As-Sistani (ุขูŠุฉ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุณูŠุณุชุงู†ูŠ), Syekh Qardhawi (ุดูŠุฎ ุงู„ู‚ุฑุถุงูˆูŠ)-, maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah 'Amman/ู…ุญุงูˆุฑ ุฑุณุงู„ุฉ ุนู…ّุงู† ุงู„ุซู„ุงุซุฉ”).

Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H / 4-6 Juli 2005 M), dan dihadiri oleh ratusan Ulama' dari seluruh dunia sebagai berikut:

1. Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlus Sunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali), Madzhab Jakfari, Madzhab Zaidiyah, Madzhab Ibadi, Madzhab Dhahiri, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy'ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafy yang shahih. 

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

2. Sungguh di antara madzhab yang banyak tersebut memang terdapat perbedaan (ikhtilaf), maka ulama-ulama dari delapan madzhab tersebut bersepakat dalam mabda' yang pokok bagi Islam. Semuanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta'alaa yang Maha Esa, Al-Qur'an al-Karim adalah Kalamullah, Sayyidina Muhammad 'alayhis shalatu wassalam adalah Nabi sekaligus Rasul bagi umat manusia seluruhnya, dan mereka bersepakat atas rukun Islam yang 5: Syadatain, Shalat, Zakat, puasa Ramadhan, Haji ke Baitullah, dan juga bersepakat atas Rukun Imam yang 6; beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari kiamat, dan kepada Qadar yang baik dan buruk, dan ulama-ulama dari pengikut Madzhab tersebut berbeda pendapat dalam masalah Furu' (cabang) dan bukan masalah Ushul (pokok), dan itu adalah rahmat, dan terdahulu telah dikatakan; 

"Sesungguhnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) para ulama dalam masalah pemikiran hal yang baik."

3. Pengakuan terhadap madzhab-madzhab dalam Islam berarti berkomitmen dengan metodologi (manhaj) dalam hal fatwa; maka siapa pun tidak boleh mengeluarkan fatwa selain yang memenuhi kriteria tertentu dalam setiap madzhab, dan tidak boleh berfatwa selain yang berkaitan dengan manhaj (metodologi) madzhab, tidak boleh seorang pun mampu mengklaim ijtihad dan mengembangkan/membuat madzhab/pendapat baru atau mengelurkan fatwa yang tidak bisa diterima yang dapat mengeluarkan kaum Muslim dari kaidah syar'iyyah, prinsip, ketetapan dari madzhabnya.

Tiga Poin Risalah 'Amman ini lalu diadopsi oleh kepemimpinan politik dunia Islam pada pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Mekkah pada Desember 2005. Dan setelah melewati satu tahun periode dari Juli 2005 hingga Juli 2006, piagam ini juga diadopsi oleh enam Dewan Ulama Islam Internasional. Secara keseluruhan, lebih dari 500 ulama Islam terkemuka telah mendukung Risalah 'Amman dan tiga poin pentingnya.

Di antara penandatangan dan pengesah Risalah Amman ini adalah:

Afghanistan: Hamid Karzai (Presiden).

Amerika Serikat: Prof. Hossein Nasr, Syekh Hamza Yusuf (Institut Zaytuna), Ingrid Mattson (ISNA).

Arab Saudi: Raja Abdullah As-Saud, Dr. Abdul Aziz bin Utsman At-Touaijiri, Syekh Abdullah Sulaiman bin Mani’ (Dewan Ulama Senior).

Bahrain: Raja Hamad bin Isa Al-Khalifah, Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah (Wakil Menteri Urusan Islam).

Bosnia Herzegovina: Prof. Dr. Syekh Mustafa Ceric (Ketua Ulama dan Mufti Agung), Prof. Enes Karic (Profesor Fakultas Studi Islam).

Mesir: Muhammad Sayid Thantawi (Mantan Syekh Al-Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung), Ahmad Al-Tayyib (Syekh Al-Azhar).

India: Maulana Mahmood (Sekjen Jamiat Ulema-i-Hindi).

Indonesia: Maftuh Basyuni (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (NU).

Inggris: Dr. Hassan Shamsi Basha (Ahli Akademi Fikih Islam Internasional), Yusuf Islam, Sami Yusuf (Musisi).

Iran: Ayatullah Ali Khamenei (Wali Amr Muslimin), Ahmadinejad (Presiden), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Mazhab Dunia), Ayatullah Fadhil Lankarani.

Irak: Jalal Talabani (Presiden), Ayatullah Ali As-Sistani, Dr. Ahmad As-Samarai (Kepala Dewan Wakaf Sunni).

Kuwait: Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber As-Sabah.

Lebanon: Ayatullah Husain Fadhlullah, Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Sunni).

Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman).

Pakistan: Pervez Musharraf (Presiden), Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri (Dirjen Pusat Penelitian Islam), Muhammad Taqi Usmani.

Palestina: Syekh Dr. Ikramah Sabri (Mufti Agung dan Imam Al-Aqsha).

Qatar: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ali Ahmad As-Salus (Profesor Syariah Universitas Qatar).

Sudan: Omar Hassan Al-Bashir (Presiden).

Suriah: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung), Syekh Wahbah Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fikih), Salahuddin Ahmad Kuftaro.

Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Darul Mustafa), Habib Ali Al-Jufri.

Yordania: Raja Abdullah II, Pangeran Ghazi bin Muhammad (Dewan Pengawas Institut Aal Al-Bayt), Syekh Izzuddin Al-Khatib At-Tamimi (Hakim Agung), Syekh Salim Falahat (Ikhwanul Muslimin Yordania). 

Sumber: ABNA

 

Ketua Dewan Masjid DKI, Dr. H. Daud Poliraja: Tuduhan-Tuduhan Terhadap Iran dan Syiah adalah Dusta Besar

 

Dr. H. Daud Poliraja

 “Dalam kunjungan ini, saya lihat dengan mata kepala sendiri, apa yang selama ini dituduhkan terhadap Iran dan Syiah adalah dusta besar. Dan karena dusta besar, maka dosanya juga besar.”

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Umum Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia [MUHSIN], Dr. H. Daud Poliraja dalam penyampaiannya ketika ditemui disela-sela kunjungannya selama berada di Qom, Republik Islam Iran menyebutkan, alasan paling utama yang mendasarinya turut terlibat dalam pembentukan MUHSIN adalah memenuhi seruan Al-Qur’an yang meminta umat Islam untuk menjalin ukhuwah dan persaudaraan Islam. “Itu adalah perintah Al-Qur’an yang tegas, dan saya mewakafkan diri didalam menjalankan perintah ini,” ungkapnya.

“Dalam kunjungan ini, saya lihat dengan mata kepala sendiri, apa yang selama ini dituduhkan terhadap Iran dan Syiah adalah dusta besar. Dan karena dusta besar, maka dosanya juga besar,” tambahnya lagi.

“Sebelum ke Iran pun saya sudah meyakini, bahwa Syiah tetap bagian dari Islam, karena Tuhan, Nabi, kiblat dan kitabnya dengan umat Islam yang lain tetap sama. Karenanya, mengapa saya memilih jalan untuk mengupayakan persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah ini? Karena memang itu adalah perintan agama. Tidak sedikit yang menentang saya, terutama diawal-awal saya membentuk MUHSIN, tapi mereka tetap tidak punya hujjah kuat untuk menghalangi saya. Saya hanya mengajukan pertanyaan sederhana, niat saya kan mempersatukan ummat, apakah itu saya menentang agama?. Dan karena pada AD/ART Dewan Masjid, organisasi yang juga saya geluti itu memiliki poin tegas yang menyebutkan masjid harus menjadi tempat pemersatu ummat, maka tentu tindakan saya juga tidak bertentangan dengan aturan organisasi. Atau memang Islam ini tidak mengajarkan ukhuwah?”, jelas tokoh Islam yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Masjid DKI Jakarta tersebut.

Daud Poliraja dalam pernyataannya selanjutnya menolak dakwaan sebagian kelompok yang menyebutkan, Syiah berpura-pura menyerukan persatuan karena mereka saat ini minoritas, namun ketika menjadi mayoritas mereka akan menzalimi pengikut mazhab lain. Ia mengatakan, “Justru yang terjadi sebaliknya, Syiah sepanjang sejarah menjadi kelompok yang terzalimi. Di Iran,  Syiah yang menjadi kelompok mayoritas tidak pernah kita mendengar mereka menzalimi kelompok Sunni. Yang ada justru Iran menjadi bangsa terdepan yang membela, Palestina padahal mayoritas Palestina itu Sunni. Negara-negara di Timur Tengah yang menjadi backing AS justru Negara-negara mayoritas berpenduduk Sunni. Ini bukti yang tidak terbantahkan, tapi kita tidak pernah melihat itu. Kita lebih disibukkan dengan isu-isu perselisihan. Padahal sekiranya, umat Islam ini bersatu, maka insya Allah akan menjadi kekuatan digdaya yang luar biasa.”

Untuk menjawab tudingan Syiah bukan Islam, karenanya tidak diperlukan adanya ajakan ukhuwah untuk mereka, Daud Poliraja mengatakan, “Justru pernyataan Syiah itu sesat dan kafir itulah yang sesat. Syiah diakui kok di dunia Islam. Mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah. Warga Iran yang mayoritas Syiah menamakan Negara mereka Republik Islam Iran, dan tidak ada yang memprotes itu. Karena masih sesama muslim, maka wajib untuk menjalin ukhuwah dengan mereka.”

Ketika ditanyakan, bahwa upaya-upaya kelompok yang gencar mengkampanyekan gerakan anti Syiah justru mengklaim diri sebagai pejuang agama dan penegak syariat, Daud Poliraja menanggapinya dengan mengatakan, “Untuk melihat itu perjuangan atau bukan, lihat apa di dalamnya yang ada unsur akhlak atau unsur amarah. Jika yang mendominasi adalah unsur amarah dibanding akhlak, lebih baik mengaji dulu, jangan berjuang dulu. Pejuang itu dilihat dari kegigihannya untuk lebih mengedepankan akhlak dari amarah dalam perjuangannya. Jika yang lebih dikedepankan adalah amarah, emosional dan arogansi, maka dia tidak pantas disebut pejuang agama, harusnya dia mengurusi diri sendiri dulu untuk berjuang menang atas kendali hawa nafsunya. Berjuang untuk agama ini terlalu besar. Untuk berjuang bisa mengalahkan diri sendiri dulu belum bisa, kok mengaku-ngaku sebagai pejuang agama? Kita bisa banyak belajar dari Sayyidina Ali. Ketika beliau hendak membunuh musuhnya yang sudah tidak berdaya, namun wajahnya diludahi, ia tidak melanjutkan tindakannya. Ia tinggalkan musuh itu, karena khawatir niatnya membunuh bukan karena perjuangannya menegakkan agama, tapi karena amarah. Itu yang disebut pejuang, itu akhlak. Bukan mereka yang meledak-ledakkan kemarahannya dengan mengumpat kelompok lain sesat dan kafir hanya karena berbeda.”

“Saya selalu mengatakan kepada mereka yang selalu mengakui diri sebagai pejuang. Bahwa pejuang Islam itu tidak mengaku, tapi diakui. Rasulullah itu tidak pernah mengakui diri sebagai al-Amin, tapi orang-oranglah yang memberikan sendiri pengakuan akan kejujuran Rasulullah. Berjuang itu bukan merasa tapi dirasa. Nabi Saw tidak pernah merasa diri sebagai al-Hamid, tapi ia dirasakan oleh orang-orang bahwa betapa terpujinya akhlak beliau,” lanjutnya.

Dipenghujung pembicaraannya ketika diminta menyampaikan pesan untuk rakyat Indonesia, mengenai pentingnya ukhuwah Islamiyah, mantan Panglima Pam Swakarsa tersebut mengatakan, “Sederhana sekali, kalau masyarakat Indonesia betul syahadatnya, maka pasti lebih mengedepankan akhlak dan lebih membutuhkan ukhuwah. Jika ada yang lebih mempersoalkan perbedaan mazhab dari pada ajakan untuk lebih mengedepankan ukhuwah, maka kepada mereka saya nasehatkan, perbanyak istighfar dan perbanyaklah memperdalam ilmu agama.”

Dr. H. Daud Poliraja sedang berada di Iran [22-29/9] dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam [Majma Jahani Taqrib Mazahib Islami] beserta sejumlah ulama Indonesia lainnya. Pada hari pertama kunjungannya, ia menjadi salah satu pembicara dalam Dialog antar Mazhab di Auditorium Pazyuhesgah Taqrib Qom, Republik Islam Iran selasa [22/9] dengan membawakan makalah “Peran Masjid dalam Membangun Ukhuwah Islamiyah”. Turut hadir selaku pembicara dalam acara dialog tersebut, Ayatullah Dr. Muhsin Araki [Ketua Lembaga Pendekatan antar Mazhab], K.H. Dr. Mustamin Arsyad [Ketua Umum MUI Makassar], dan KH. Mudrik Al-Qari [Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang].

Sumber: ABNA  

 

 

Direktur Pascasarjana Insitut PTIQ Jakarta: Al-Qur'an Sunni dan Syiah Beda, Hanyalah Fitnah Belaka

 

"Memang ISIS dengan teologi horor dan aksi kekerasannya sangat berbahaya, namun yang lebih berbahaya lagi dan lebih mengkhawatirkan, adanya tuduhan bahwa Al-Qur’an Sunni dan Syiah itu berbeda, padahal ini hanyalah fitnah belaka."

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Direktur Pascasarjana Insitut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. M. Darwis Hude, MSi dalam penyampaiannya pada Dialog antar Mazhab yang diselenggarakan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam selasa  (23/9) menyebutkan, “Adanya perkembangan pesat dalam kemajuan tekhnologi  informasi, yang sesungguhnya dengan itu warga dunia dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya, namun sayangnya yang terjadi tetap ada yang buta informasi khususnya dalam hal informasi mengenai perbedaan yang terjadi dalam mazhab-mazhab Islam. “

“Bayangkan, sampai saat ini masih saja ada tudingan-tudingan negatif terhadap kelompok Islam tertentu dengan menyebut Al-Qur’an mereka berbeda. Pandangan semacam ini harus dicegah, karena berpotensi besar melahirkan bibit-bibit perpecahan dan sikap saling mengkafirkan satu sama lain,” tambahnya.

Guru besar Psikologi Pendidikan yang menyelesaikan Doktoralnya di UIN Jakarta tersebut lebih lanjut menyebutkan terjadinya perbedaan mazhab adalah sesuatu yang alamiah. Beliau mengatakan, “Perbedaan pandangan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak dalam dunia Islam. Selama perbedaan itu masih dalam tahap furuiyah dan bukan ushul agama, maka hal itu masih bisa ditoleransi.  Dan bagi saya perbedaan yang terdapat dalam Sunni dan Syiah adalah dalam masalah cabang agama. Sebab Syiah juga masih menyembah Tuhan yang satu, Nabi yang sama, dan mereka juga mengamalkan ibadah-ibadah  utama sebagaimana yang diamalkan kaum muslimin lainnya.”

“Penyebab maraknya sikap saling mengkafirkan disebabkan karena kurangnya pengetahuan. Karenanya ulama memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Memang ISIS dengan teologi horor dan aksi kekerasannya sangat berbahaya, namun yang lebih berbahaya lagi dan lebih mengkhawatirkan, adanya tuduhan bahwa Al-Qur’an Sunni dan Syiah itu berbeda, padahal ini hanyalah fitnah belaka. Kaum ulama yang harus berperan aktif untuk mencegah menyebarnya tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar tersebut, sebab perintah Al-Qur’an sangat tegas, tidak dibenarkan adanya saling mengkafirkan sesama muslim,” ungkap cendekiawan muslim kelahiran Soppeng Sulawesi Selatan tersebut.

Lebih lanjut Darwis Hude menyampaikan apresiasi positifnya akan upaya pendekatan dan persatuan yang telah sedemikian aktif dilakukan Republik Islam Iran. “Saya berterimakasih telah diundang untuk melihat masyarakat Iran dari dekat. Bertemu dengan sejumlah ulama, mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian Islam terutama pusat penelitan Al-Qur'an yang bagi saya begitu sangat mengagumkan dan belum pernah saya lihat di Negara-negara lain. Kegiatan-kegiatan seperti ini harus lebih intens lagi dilakukan.  Terutama kegiatan-kegiatan ilmiah seperti dialog, diskusi, seminar-seminar yang diikuti oleh ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai mazhab dan Negara. Adanya dialog dan pertukaran informasi satu sama lain, khususnya dalam penggunaan kitab-kitab Sunni dan Syiah diharap mampu meminimalisir tumbuhnya sikap fanatisme mazhab dan sikap saling mengkafirkan.”

Turut hadir sebagai pembicara dalam Dialog Mazhab yang terselenggara di Auditoriom Pazuhesygah Majma Taqrib Qom tersebut, Prof. DR. Aflatun Mukhtar, MA  (Rektor UIN Raden Fatah Palembang), Ayatullah Muqtadai, Ayatullah Fayyadhi, serta ulama asal Tunisia, Syaikh Dr. Sayyid Muhammad  Al Tijani al Samawi, penulis buku “Tsummahtadaitu” yang versi bahasa Indonesianya, “Akhirnya Kutemukan Kebenaran.” Hadir seratusan peserta dari kalangan ulama, pelajar Hauzah Ilmiah, peneliti, dosen, mahasiswa termasuk sejumlah mahasiswa Indonesia di Iran.

Sumber: ABNA