Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Syiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2025

Ironi Agung: Menyesatkan Syiah di Bumi Perlak



Di jantung tanah yang diakui sejarawan—lokal maupun global—sebagai saksi bisu tumbuhnya ajaran Syiah, di mana debu jalanan mungkin masih menyimpan gema zikir para wali, tersaji ironi yang melukai nurani. Sebuah keputusan yang mencerminkan ketakberdayaan intelektual dan kekalahan moral di hadapan kompleksitas sejarah.

Sebuah kabupaten, yang identitasnya terpateri dalam naskah kuno dan pengakuan akademis, bahkan mengabadikan nama “Syiah” pada universitas terkemukanya, justru meruntuhkan pilar warisannya sendiri. Dari rahim bumi yang menghidupi tradisi intelektual-spiritual itu, terbitlah surat pernyataan segelintir ulama: memvonis Syiah “sesat” dan melarang seluruh aktivitas komunitasnya.

Ini bukan sekadar kontradiksi. Ini adalah epistemicide—pembunuhan sistematis terhadap pengetahuan dan ingatan kolektif—di tanah yang seharusnya menjadi penjaganya.

Akar Sejarah yang Terkubur

Universitas bernama “Syiah” itu bukan kebetulan sejarah. Ia adalah monumen hidup, pengakuan bahwa akar daerah ini terjalin erat dengan pemikiran dan spiritualitas Syiah. Namanya adalah penghormatan bagi para sarjana, sufi, dan pemuka masyarakat yang pernah menghidupkan tradisi ini dengan kearifan dan dedikasi.

Fakta sejarah membuktikan kedalaman akar Syiah di bumi ini. Kerajaan Perlak, yang didirikan pada tahun 840 Masehi dan diakui sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, telah dikonfirmasi oleh para sejarawan sebagai kerajaan yang bermazhab Syiah. Sultan Alauddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, pendiri dinasti Perlak, beserta para penerusnya menganut dan mengembangkan ajaran Syiah di wilayah itu.

Kerajaan Perlak bukan sekadar entitas politik, tetapi pusat peradaban Islam-Syiah yang menjadi gerbang masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari istana-istana Perlak, ajaran Syiah menyebar dan berakar, membentuk tradisi intelektual dan spiritual yang kemudian menjadi bagian integral dari identitas kawasan ini. Para ulama dan cendekiawan Syiah dari Perlak menjalin hubungan dengan pusat-pusat pembelajaran di Persia dan Iraq, menciptakan jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas.

Paradoks di Tanah Para Sultan

Namun kini, di bumi yang pernah menjadi takhta Sultan-sultan Syiah Perlak, di bawah bayang-bayang universitas yang memanggul nama “Syiah”, lahir dekret yang mengingkari warisan yang diabadikan dalam namanya. Sebuah paradoks yang menyakitkan: di tanah tempat kerajaan Islam pertama Nusantara berdiri dengan fondasi mazhab Syiah, kini ajaran yang sama divonis sesat.

Ironi ini semakin mendalam ketika kita menyadari bahwa pelarangan ini terjadi di wilayah yang secara geografis dan historis mewarisi langsung tradisi Kerajaan Perlak. Para Sultan Perlak yang membangun peradaban Islam awal di Nusantara kini seolah dianggap “sesat” oleh fatwa yang lahir dari tanah mereka sendiri. Institutsi pendidikan yang seharusnya menjaga memori kolektif justru menjadi saksi pembunuhan terhadap memori itu sendiri.

Amnesia yang Dipaksakan

Pelarangan aktivitas Syiah di tanah leluhur mereka adalah bentuk amnesia paksa—upaya sistematis memutus mata rantai sejarah dan mengubur identitas kultural-spiritual yang telah membentuk karakter daerah selama berabad-abad. Tindakan ini tidak hanya merampas hak beribadah dan berkumpul saudara-saudari Muslim Syiah masa kini, tetapi juga menghina para leluhur—termasuk Sultan-sultan Perlak—yang membangun fondasi peradaban Islam di wilayah tersebut.

Bayangkan luka nurani ketika vonis “sesat” bergema di atas tanah tempat Sultan Alauddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah pernah memimpin dengan ajaran Syiah, di atas bumi tempat jasad para ulama Syiah terbaring—tanah yang pernah menyaksikan majelis ilmu mereka bersemarak, di mana diskusi teologis dan filosofis mengalir bagai sungai kehidupan intelektual. Ini adalah kekerasan simbolik: pengingkaran terhadap warisan Kerajaan Perlak dan nyawa serta karya yang telah menjadi prasasti sejarah dan bagian integral dari jati diri daerah.

Kontradiksi Kuasa dan Ketakberdayaan

Menjadikan Syiah sebagai sasaran tuduhan kesesatan sambil memutilasi sejarah yang justru menjadi kebanggaan daerah mengindikasikan upaya yang tidak hanya kontradiktif, tetapi juga mencerminkan krisis identitas mendalam. Ini adalah manifestasi dari ketakberdayaan intelektual dalam menghadapi kompleksitas sejarah dan keragaman teologis.

Lebih ironis lagi, di saat yang bersamaan, umat Islam di berbagai belahan dunia kini menyaksikan dan mengapresiasi peran solidaritas yang ditunjukkan oleh Iran, Hizbullah, dan Ansarullah—yang notabene beraliran Syiah—dalam memberikan dukungan nyata kepada umat Islam Gaza yang dikepung, dibantai, dan dilaparkan. Sementara banyak rezim di dunia Islam Sunni memilih berdiam diri, mereka yang divonis “sesat” justru menunjukkan keteguhan dalam membela sesama Muslim tanpa memandang aliran.

Perlawanan Nurani

Membiarkan pelarangan ini tanpa perlawanan nurani berarti merestui pemutusan hubungan dengan masa lalu kita sendiri. Ini berarti menerima bahwa memori kolektif dapat dimanipulasi dan dihancurkan demi kepentingan politik sesaat. Ini berarti mengizinkan epistemicide terjadi di depan mata kita tanpa perlawanan.

Sejarah akan mencatat ironi ini: di tanah tempat Kerajaan Perlak—kerajaan Islam pertama Nusantara yang bermazhab Syiah—pernah berdiri, di bawah naungan universitas yang memanggul nama mereka, tradisi intelektual-spiritual yang telah berabad-abad menjadi bagian dari identitas lokal justru dihukum mati oleh tangan-tangan yang seharusnya merawatnya. Para Sultan Perlak yang membangun gerbang peradaban Islam di Asia Tenggara kini seolah dicap “sesat” di tanah yang mereka wariskan.

Inilah tragedi dari sebuah amnesia yang dipaksakan—ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri dalam cermin sejarah, bahkan hingga mengingkari para pendiri peradabannya sendiri. (Muhsin Labib)

Sumber:

Sabtu, 04 Mei 2024

Tuduhan: Benarkah Syiah Buatan Yahudi?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 99-103, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Tuduhan bahwa mazhab Syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa Syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri mazhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori bahwa Ali adalah washi Muhammad Saw. Abdullah bin Saba’ juga dikenali dengan nama Ibnu Al-Sawda’ atau Ibnu ‘Amat Al-Sawda’ – anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah bin Saba’ adalah satu dongengan (fiktif) semata.

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Thabari (w. 310 H/922 M), Ibnu Asakir (w. 571 H/1175 M), Ibnu Abi Bakr (w. 741 H/1340 M) dan Al-Dzahabi (w. 747 H/1346 M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ dari satu sumber yaitu Saif bin Umar Al-Tamimi dalam bukunya Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah dan Al-Jamal wa Al-Masir ‘Aisyah wa ‘Ali. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa Digar Afsanehaye Tarikhi, Tehran, 1360 H].

Saif adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya bin Ma’in (w. 233 H/847 M), Abu Dawud (w. 275 H/888 M), Al-Nasa’i (w. 303 H/915 M), Ibnu Abi Hatim (w. 327 H/938 M), Al-Duruqutni (w. 385 H/995 M), Al-Hakim (w. 405/1014 M), Al-Firuzabadi (w. 817 H/1414 M), Ibnu Hajar (w. 852 H/1448 M), Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), dan Al-Safi Al-Din (w. 923 H/1517 M). Pembahasan Saif bin Umar akan dijelaskan pada bab pembahasan tentang kata Al-Sunnah.

Abdullah bin Saba’, konon seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Utsman bi Affan. Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Saba’iyyah pengasas mazhab ghuluw (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah bin Saba’ ini adalah hasil rekaan Saif yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Saif inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ tersebut. Beberapa orang yang terpengaruh dengan kisah bohong Saif seperti: Said bin Abddulah bin Abi Khalaf Al-Asy’ari Al-Qummi (w. 301 H/901 M) dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq, Al-Hasan bin Musa Al-Nawbakhti (w. 310 H/922 M) dalam bukunya Firaq Al-Syiah, dan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (w. 324 H/935 M) dalam bukunya Maqalat Al-Islamiyyah.

Allamah Al-Askari mengupas hakikat cerita Abdullah bin Saba’ dari riwayat Syiah dari Rijal oleh Al-Kassyi. Al-Kassyi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d bin Abdullah Al-Asyi’ari Al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah bin Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua riwayat ini, Ali memerintahkan menyingkrikan pahaman tersebut, dan karena keengganannya Abdullah bin Saba’ telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau bagaimana pun menurut Sa’d bin Abdullah, Ali telah menghalau Abdullah bin Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali menemui kesyahidannya. Pada ketika itu Abdullah bin Saba’ mengatakan, “Ali tidak wafat, sebaiknya ia akan kembali semula ke dunia.”

Al-Kasyyi telah meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba’, menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang pertama yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah suatu perkara bid’ah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda antara mazhab Syiah atau pun Sunnah.

Kisah tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibnu Al-Khayyat, Al-Ya’qubi, Al-Thabari, Al-Mas’udi, Ibnu Al- Atsir, Ibnu Katsir atau Ibnu Khaldun. Peran yang dimainkan oleh Abdullah bin Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Ustman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibnu Sa’ad (w. 230 H/84 M), Al-Baladzuri (w. 279 H/892 M) atau Al-Ya’qubi. Hanya Al-Baladzuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab Al-Asyraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali. Al-Baladzur berkata, “Hujr bin Adi Al-Kindi, Amr bin Al-Hamiq Al-Khuza’i, Hibah bin Juwayn Al-Bajli Al-Arani, dan Abdullah bin Wahhab Al-Hamdani – Ibnu Saba’ datang kepada Imam Ali dan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan Umar…”

Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M) dalam bukunya Al-Imamah wa Al-Siyasah dan Al-Tsaqafi (w. 284 H/897 M) dalam Al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibnu Qutaibah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah bin Saba’. Sa’ad bin Abdullah Al-Anshari dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah bin Saba’ penggagas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah bin Saba’ Al-Rasibi. Ibnu Malukah (w. 474 H/1082 M) dalam bukunya Al-Ikmal dan Al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam bukunya Al-Musytabah ketika menerangkan perkataan “Saba’iyyah” menyebut Abdullah bin Wahb Al-Saba’i sebagi pemimpin Khawarij. Ibnu Hajar dalam Tansir Al-Mutanabbih menerangkan bahwa Saba’iyyah sebagai suatu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah bin Wahb Al-Saba’i. Al-Maqrizi (w. 848 H/1444 M) dalam bukunya Al-Khithat menamakan tokoh khayalan Abdullah bin Saba’ ini sebagai Abdullah bin Wahb bin Saba’, juga dikenali sebagai Ibnu Al-Sawda’ Al-Saba’i.

Allamah Al-Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah bin Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peran penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah bin Saba’, yang dikatakan berasal dari Shana’a, Yaman, tidak dinyakan kabilahnya. Allamah Al-Askari yakin bahwa Ibnu Saba’ dan golongan Saba’iyyah adalah satu cerita khayalan dari Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimana pun, nama Abdullah bin Wahb bin Rasib bin Malik bin Midan bin Malik bin Nasr Al-Azd bin Ghauts bin Nubatah bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Saif bin Umar Al-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Utsman, menjadi dalang yang mencetuskan perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali atau dihalau oleh Ali dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali, Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai suatu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab, yaitu Bani Qahthan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik Al-Asytar, Kumayl bin Ziyad, Hujr bin Adi, Adi bin Hatim, Qays bin Sa’ad bin Ubadah, Khuzaymah bin Tsabit Sahl bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Amr bin Hamiq, Sulaiman bin Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali ini. Justru Ziyad bin Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai “Saba’iyyah”. Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Setelah runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu Al-Abbas Al-Shaffah, khalifah pertama Bani Abbasiyah, ditujukan kepada Muslim Syiah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah kala itu.

Walau bagaimana pun Ziyad maupun Al-Shaffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malah Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Saif ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijriyah yang menggunaannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang konon dilandaskan oleh tokoh khayalan Abdullah bin Saba’.