- Home
- Ahlul Bait
- 14 Manusia yang Disucikan
- Rasulullah Muhammad Saw
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Fatimah az-Zahra binti Rasulullah
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- 12 Imam Suci Ahlul Bait
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- Imamah dan Ahlul Bait
- Perayaan Ahlul Bait
- Sahabat Ahlul Bait
- Sejarah Syiah
- Syiah Menurut Syiah
- Tokoh-Tokoh Syiah
- Wilayatuh Faqih
- 14 Manusia yang Disucikan
- Imam Mahdi
- Asbabun Nuzul
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Al-Ahzab: 23 Menunggu Janji Allah
- Al-Waqi’ah: 10-11 Terdahulu Beriman
- Al-Hadid: 19 Shiddiqqin
- Al-Baqarah: 207 Korban Yang Pertama
- Al-Baqarah: 274 Berinfak Sembunyi2
- Az-Zumar: 33 Yang Membenarkan
- Al-Anfal: 75 Hubungan Kerabat
- Al-Ahzab: 25 Penyelamat Peperangan
- Maryam: 96 Beriman dan Amal Shalih
- Hud: 17 Saksi Dari Allah Swt
- At-Tahrim: 4 Mukmin Yang Shalih
- At-Taubah: 1 Putus Hubungan Musyrikin
- Al-Mujadalah: 12 Berbicara Khusus
- Al-Haqqah: 11-12 Telinga Yg Mendengar
- At-Taubah: 19 Keimanan
- Ali dan Syiahnya
- Ali, Fatimah, Hasan, Husain
- Ali dan Lainnya
- Tentang Ahlul Bait
- Al-Ahzab: 33 Pensucian Ahlul Bait
- Asy-Syura: 23 Mencintai Ahlul Bait
- Ali Imran: 103 Pegang Teguh Ahlul Bait
- An-Nahl: 43 Merujuk Kpd Ahlul Bait
- At-Takatsur: 8 Kepemimpinan Ahlul Bait
- An-Nisa: 54 Manusia yang Dihasudi
- An-Nur: 36-37 Rumah yang Dimuliakan
- An-Nur: 35 Cahaya Allah
- Ash-Shaffat: 130 Keluarga Yasin
- Fathir: 32 Pewaris Al-Kitab
- Asy-Syura: 23 Orang Yang Berbuat Kebaikan
- Peristiwa Ghadirkum
- Jalan Lurus dan Kebenaran
- Ulil Amri, Imamah dan Wilayah
- An-Nisa: 59 Menaati Ulil Amri
- Az-Zukhruf: 45 Kepemimpinan Rasul-Ali
- Al-Baqarah: 124 Ayat Imamah
- Asy-Syu’ara': 214 Ayat Indzar
- Al-Ma`idah: 55-56 Ayat Wilayah
- Al-Ahzab: 6 Ayat Wilayah
- Ash-Shaffat: 24 Ditanyai Tntng Wilayah
- Al-Ma`arij: 1-3 Meragukan Wilayah Ali
- Thaha: 25 Memohon Seorang Wazir
- Al-Ahzab: 72 Penyerahan Amanat
- Al-A`raf: 172 Kesaksian Anak Cucu Adam
- Thaha: 82 Ayat Pengampunan
- Shalawat Untuk Nabi dan Keluarganya
- Keturunan Rasulullah Saw
- Thuba (Tempat Kembali yang Baik)
- Kaum Munafikin Benci Ali
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Islam
- Nasional
- Iran
- Internasional
- Ragam
- Kontak
Kamis, 25 September 2025
Antara Dua Metode Dalam Menilai Suatu Berita
Jumat, 19 Juli 2024
Mencintai Ali Sama Dengan Mencintai Rasulullah, Membenci Ali Sama Dengan Membenci Rasulullah
Imam Ath-Thabrani mengutip sebuah penuturan dari salah seorang isteri Nabi Saw, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah, yang berkata:
Minggu, 26 Mei 2024
Sejarah Munculnya "Hadist Sepuluh Sahabat Masuk Surga"
Hadist ini menyangkut sepuluh orang yang telah dinyatakan akan masuk surga (sepuluh yang mendapat kabar gembira masuk surga), yang dilaporkan oleh Sa’îd bin Zaid, ipar Umar bin Khaththâb, di zaman Mu’âwiyah. Baiklah kita ikuti riwayat munculnya hadist ini di zaman “pengucilan” Alî bin Abî Thâlib ini.
Sa’îd meninggal dunia tahun 51 H, 671 M. Di tahun itu juga Mu’âwiyah membunuh Hujur bin Adî bersama dua belas kawan-kawannya. Ibnu Atsîr meriwayatkan bahwa pemulanya ialah Mughîrah bin Syu’bah, gubernur yang diangkat Mu’âwiyah di Kûfah, melaknat Alî dan Hujur membantahnya.
Pada tahun 40 H, 660 M, Mughîrah bin Syu’bah digantikan oleh Ziyâd bin Abih yang mengejar dan menganiaya siapa saja yang tidak mau mencerca Alî bin Abî Thâlib.
Hadist ini timbul pada masa itu, dengan lafal: “Pada suatu ketika, di masjid (Kûfah), seseorang telah menyebut (melaknat, pen.) Alî bin Abî Thâlib. Maka berdirilah Sa’îd bin Zaid seraya berkata: “Aku bersaksi dengan nama Rasûl Allâh Saw. Bahwa sesungguhnya aku mendengar beliau bersabda, “Sepuluh orang masuk surga: Nabî, Abû Bakar, Umar, Utsmân, Alî, Thalhah, Zubair, Sa’d bin Abî Waqqâsh dan Abdurrahmân bin Auf.
Kemudian orang bertanya, “Siapa yang kesepuluh?” Setelah ditanyakan berkali-kali, Sa’îd bin Zaid menjawab, “Aku”.
Dalam lafal yang lain, nama Abû Ubaidah bin al-Jarrâh disebut, sedang Nabî tidak dimasukkan.[1]
Dalam kemelut seperti itu, “Sa’îd bin Zaid” telah bertindak sangat berani. Orang-orang yang disebut oleh Sa’îd bin Zaid sudah tepat. Abû Bakar, Umar dan Abû Ubaidah pernah bergesekan dengan Alî, mengepung dan hendak membakar rumah “penghulu wanita mu’minîn” Fâthimah, meskipun Fâthimah ada di dalam, sebagaimana nanti akan terbaca dalam peristiwa Saqîfah. Utsmân adalah dari marga Umayyah, marganya Mu’âwiyah. Thalhah dan Zubair memerangi Alî dalam perang Jamal. Alî menyebut mereka sebagai kelompok Nâkitsin, yaitu kelompok yang membatalkan baiat, karena mereka berdua merupakan orang-orang pertama yang membaiat Alî, tetapi kemudian berbalik memeranginya. Sa’d bin Abî Waqqâsh tidak mau membaiat Alî setelah Utsmân meninggal dunia. Abdurrahmân bin Auf, meskipun kemudian menyesal, pernah mengancam akan membunuh Alî dengan pedang bila Alî tidak membaiat Utsmân dalam Syurâ yang dibentuk oleh Umar.
Dengan cerdiknya, Sa’îd memasukkan nama Alî untuk mencegah para penguasa mengutuk Alî di mimbar-mimbar di seluruh desa dan kota dan secara tidak lansung berusaha menyelamatkan kaum Syî’ah agar tidak dibantai seperti Hujur.
Dan untuk menyelamatkan dirinya, “ia” memasukkan namanya pula. Hadis ini, ditinjau dari segi sejarah, tidak dapat ditafsirkan lain dari itu. Hadis yang merupakan “pemberontakan” terhadap penguasa yang zalim seperti ini, tidak dapat dikatakan salah, tetapi tidak juga dapat dikatakan benar. Riwayat di atas kemungkinan besar dibuat orang dengan mengatas namakan Sa’id bin Zaid.
Imâm Mâlik, misalnya, meriwayatkan: Rasûl Allâh Saw. bersabda kepada para Syuhada Perang Uhud: “Aku menjadi saksi mereka (bahwa mereka telah mengorbankan nyawa mereka) di jalan Allâh”. Dan berkatalah Abû Bakar ash-Shiddîq: “Wahai Rasûl Allâh, bukankah kami saudara-saudara mereka? Kami memeluk Islam seperti mereka, dan kami berjihad seperti mereka berjihad!”. Dan Rasûl Allâh menjawab: “Ya, tetapi aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan sesudahku.” Dan menangislah Abû Bakar sambil berkata: “Apakah kami akan masih hidup sesudahmu?”[2]
Perawi “sepuluh orang masuk surga” tidak menceritakan kepada kita dalam hubungan apa Rasûl Allâh Saw Menyampaikan hadis ini, dan siapa saja yang ikut mendengarkan. Dan mengapa Sa’îd, misalnya, tidak berdiri di depan massa yang sedang mengepung rumah Utsmân yang berakhir dengan pembunuhan khalîfah ketiga itu dan mengatakan kepada mereka hadis yang penting ini?
Mengapa Sa’îd bin Zaid, misalnya, tidak menasihati Abdullâh bin Umar agar membaiat Alî tatkala terjadi pembaiatan terhadap Alî sesudah Utsmân terbunuh, karena bagaimanapun juga Alî termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasûl Allâh? Malah membaiat Mu’âwiyah, Yazîd dan Abdul Mâlik serta Hajjâj bin Yûsuf?
Mengapa tidak menasihati ummu’l-mu’minîn Âisyah dan menyampaikan hadis itu agar ia tidak memerangi Alî dan agar menetap di rumahnya sebagaimana diperintahkan Al-Qur’ân?
Mengapa pula Thalhah dan Zubair dimasukkan ke dalam sepuluh masuk surga dan bukan, misalnya, Abû Dzarr al-Ghifârî dan Hamzah paman Rasûl? Mengapa pula Sa’d bin Abî Waqqâsh dimasukkan ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan misalnya Miqdâd atau Abû Ayyûb al-Anshârî?
Begitu pula Abû Ubaidah bin al-Jarrâh, seorang penggali kubur di Madînah dimasukkan pula ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan, misalnya Salmân al-Fârisî?
Meskipun menyesal di kemudian hari Sa’d bin Abî Waqqâsh tidak mau membaiat Imâm Alî sedang Rasûl mengatakan bahwa, “Barang siapa tidak mengenal imam pada zamannya ia mati dalam keadaan jahiliah.” Dan hadis ini diakui sebagai hadis shahîh di semua mazhab?
Apakah surga ini hanya diperuntukkan bagi para khalîfah dan mereka yang ikut dalam pergolakan kekuasaan dan bukan orang-orang seperti Ammâr bin Yâsir, Miqdâd, Abû Dzarr al-Ghifârî, Salmân al-Fârisî?
Lagi pula dalam Al-Qur’ân, Allâh SWT telah berfirman: “Dan barang siapa melakukan amal kebajikan, laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, mereka itu masuk surga.”[3]
Rasûl Allâh juga telah bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata: “Sampaikanlah kabar gembira kepada umatmu, bahwa barang siapa meninggal dunia tanpa menyerikatkan sesuatu kepada Allâh SWT, maka ia akan masuk surga”. Aku bertanya: “Hai, Jibril, meskipun ia pernah mencuri dan berzina?” Jibril menjawab, “Betul”. (sampai tiga kali). Akhirnya Jibril menjawab, “Betul, meskipun ia peminum minuman keras.”[4]
Nabî juga bersabda: “Sampaikanlah kabar gembira, bahwa barang siapa mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allâh secara tulus, maka ia akan masuk surga.”[5]
Nabî juga bersabda: “Sesungguhnya Allâh SWT telah menjanjikan kepadaku, bahwa Ia akan memasukkan ke dalam surga 70.000 (ada yang mengatakan 700.000) orang dari umat-Ku tanpa hisab.”[6]
Rasûl Allâh juga berkata: “Ali dan Syî’ahnya masuk surga.”[7]
Hadis seperti ini
banyak diriwayatkan.[8]
Juga hadis shahîh lainnya, seperti Shuhaib, Shahabat Rasûl yang orang Roma,
masuk surga, Bilal Sahabat dari Habasyah, masuk surga, Salmân yang dari Persia
masuk surga, Hasan dan Husain masuk surga, Amr bin Tsâbit masuk surga, Tsâbit
bin Qais dan berpuluh-puluh lainnya yang tidak mungkin disebut disini. Yang
masuk surga tidak dapat dibatasi pada mereka yang berhasil menduduki
kekhalifahan atau yang ikut dalam pergolakan politik dan tidak dapat dibatasi
pada sepuluh orang. Alangkah banyaknya umat Muhammad yang akan masuk surga.
Lalu, dapatkah orang-orang yang akan masuk surga ini, termasuk para Sahabat, berbuat salah? Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan sebaliknya. Tiada sebuah hadis pun yang mengatakan bahwa para Sahabat atau Ibu-ibu Kaum Mu’minîn (ummahât al-mu’minîn) tidak dapat berbuat salah. Kemudian, apakah penghormatan kita kepada para Sahabat atau para Ibu Kaum Mu’minîn akan berkurang dengan menulis sejarah sebagaimana adanya? Tidak, kita akan tetap menghormati para Sahabat dan para Ibu Kaum Mu’minîn sebagaimana mestinya. Ibu kita adalah tetap ibu yang kita hormati, andai kata pun dia berbuat salah kepada anaknya sendiri. Alî bin Abî Thâlib mengatakan demikian terhadap ummu’l-mu’minîn Âisyah. Hisab dan pengampunan ada pada Allâh.
[1] Tirmidzî, dalam Jâmi’-nya, hlm. 13, 183,
186, dan lain-lain. Hadis ini melalui Abdurrahmân al-Akhnas, yang didengarnya sendiri
di masjid Kûfah. Jalur lain melalui Abdurrahmân bin Hâmid yang didengarnya dari
ayahnya; ayahnya mendengar dari Abdurrahmân bin Auf. Hadis yang disebut ini
dianggap batil, karena ayah Abdurrahmân bin Hâmid, yang bernama az-Zuhrî,
adalah seorang tabi’în (generasi kedua), bukan Sahabat. Ia lahir 32 H.,653 M.
dan meninggal 105 H.,723 M. dalam usia 73 tahun, sedang Abdurrahmân bin Auf
meninggal 31 ,652 M.atau 32 H.,653 M. Dengan kata lain, Zuri lahir pada saat
Abdurrahmân bin Auf meninggal atau setahun sesudahnya. Dengan demikian maka
satu-satunya jalur adalah yang melalui Sa’îd bin Zaid.
[2] Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah,
jilid 15, hlm. 37, al-Wâqidî, Maghâzî, jilid 1, hlm. 310; berasal dari Thalhah
bin Ubaidillâh, Ibnu Abbâs dan Jâbir bin Abdullâh.
[3] Al-Qur’ân, s. an-Nisâ’ (IV), 124; lihat juga, s. al-Baqarah (II), 25; at-Taubah (IX), 21; Hûd (XI), 23; al-Hajj (XXII), 14; as-Sajdah (îII), 19; alFath (XLVIII), 5; ath-Thalâq (LXV), 11; at-Taubah (IX), 72.
[4] Hadis ini sangat terkenal, diriwayatkan
oleh Imâm Ahmad bin Hanbal, Tirmidzî, Nasâ’î Ibnu Hibban, yang berasal dari Abû
Dzarr al-Ghifârî.
[5] Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad dan Thabrânî,
melalui jalur Abû Mûsâ al-Asy’arî.
[6] Diriwayatkan oleh Bukhârî dan Muslim
dalam Shahîh mereka.
[7] Rasûl bersabda: “Aku adalah gudang
ilmu, dan Alî adalah pintunya.” Orang menganggap Alî sebagai tempat bertanya
sesudah Rasûl. Teman-teman Alî ini disebut Syî’ah Alî. Dalam menafsirkan ayat,
“Sungguh orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk
yang sebaik-baiknya.” (Al-Qur’ân, 97:7) Suûythî meriwayatkan dari Ibnu
Mardawaih dari Alî bin Abî Thâlib yang berkata: “Rasûl Allâh saw. bersabda
kepadaku: "Apakah engkau tidak mengetahui firman Allâh SWT: “Sungguh
orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk yang
sebaik-baiknya? (Mereka itu adalah) engkau dan Syî’ahmu. Aku dan kamu telah
dijanjikan tempat di Haudh”. Juga Suûythî dari Ibnu Asâkir yang berasal dari
Jâbir dari Ibnu Abbâs: “Kami berada bersama An-Nabî dan muncullah “Alî dan
Nabî bersabda: “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya. (Yang datang) ini,
beserta Syî’ahnya, merekalah yang menang pada hari kiamat.” Dan turunlah ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebajikan, merekalah
makhluk yang sebaik-baiknya. Demikianlah para Sahabat Nabî bila (melihat) Alî
muncul, mereka berkata: Telah datang khairul Bariyyah.”
[8] Lihat Khwarizmî dalam Manâqib, hlm. 66;
Suûythî dalam ad-Durru’l Mantsûr, jilid 6, hlm. 379; 392; Syablanji dalam Nûrul
Abshar, hlm. 78 dan 112; Ibnu Hajar dalam Shawâiq dan lain-lain.
Minggu, 05 Mei 2024
Hadist-Hadist Kembar Keutamaan Sahabat Nabi
Referensi: Buku “500 Ayat Untuk Ali bin Abi Thalib”, penerbit Cahaya, Jakarta, cetakan pertama September 2006, hlm. 88-92, Saqifah karya O. Hashem, dan dari berbagai sumber.
Berikut ini sebagian diantara sekian banyak penyelewengan yang disebut dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah tentang
keutamaan sahabat yang merupakan hasil
penjiplakan/plintiran/pemalsuan dari hadist-hadist keutamaan Imam Ali bin Abi
Thalib as, Fatimah, Ahlul Bait, yang dinisbahkan kepada Abu Bakar, Umar,
Usman, Aisyah, dan sahabat-sahabat
yang lain:
1. Sekretaris Rasul dalam perjanjian Hudaibiyah
Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Manaqib,
Ibnu Rahwaih dalam al-Musnad, dan
Abdu al-Razaq dalam Mushannaf meriwayatkan
dari Muammar, “Aku bertanya kepada Zuhri tentang
orang yang menjadi sekretaris Rasul Saw dalam Perjanjian
Hudaibiyah. Dia tertawa dan menjawab, “Dia adalah Ali. Tetapi, bila engkau
bertanya kepada Bani Umayyah, mereka akan
mengatakan bahwa Usmanlah orangnya.”[1]
2.
Hadist al-Manzilah
Hadist al-Manzilah
yang diriwayatkan secara mutawatir untuk Ali as dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah (apalagi dalam kitab-kitab Syiah). Namun
hadist ini mereka nisbahkan kepada Abu Bakar dan Umar.[2]
3.
Peristiwa mubahalah
Tentang peristiwa mubahalah, mereka mengatakan bahwa Nabi Saw
mengumpulkan Abu Bakar, Umar dan Ahlul Baitnya.[3]
4.
Hadist kota dan
pintu ilmu
Hadist
kota dan pintu ilmu yang disepakati berhubungan dengan Ali as, tapi mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ali al-Mutsanna
Astar Abadi dengan redaksi, “Aku adalah kota
ilmu, Abu Bakar adalah pondasinya, Umar adalah temboknya, Usman adalah atapnya,
dan Ali adalah pintunya.” Ketika ditanya tentang sanadnya, Ismail berjanji
akan menye-butkannya. Tentang pribadi
Ismail, dalam al-Ansab, as-Sam’ani
berkomentar, “Dialah seorang pembohong anak pembohong.” An-Nakhbatsi
berkata, “Dia gemar berdongeng dan
berdusta.”[4]
Dalam al-Fatawa, Ibnu Hajar berkata, “Hadist: Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah
pintunya diriwayatkan oleh sekelompok ahli hadist dan dianggap shahih oleh al-Hakim
dan hasan oleh al-Ala’i dan Ibnu Hajar.”[5]
Tentang hadist, “Aku adalah kota ilmu dan
Abu Bakar adalah pondasinya…”, Ibnu Hajar berkata, “Hadist ini diriwayatkan oleh penulis Musnad al-Firdaus dan diikuti
oleh anaknya secara marfu dari Ibnu Mas’ud. Ini adalah hadist yang lemah
seperti hadist, “Aku adalah kota ilmu, Ali adalah pintunya, dan Muawiyah adalah
lingkarannya.”[6]
5.
Kisah penciptaan Rasulullah
Saw dan Ali
Hadist tentang penciptaan Muhammad dan Ali dari satu tanah.
Dalam kitab al-Futuh, Ibnu A’tsam, jilid I, hlm. 269, bab “Peristiwa Perang Shiffin” yang diriwayatkan dari Muawiyah.
Ath-Thabrani meriwayatkannya dengan redaksi berikut, “Ali adalah bagian dari diriku dan aku
adalah bagian dari dirinya. Dia diciptakan dari tanahku.”[7] Namun mereka meriwayatkan hadist ini berkenaan
dengan Abu Bakar dan Umar.[8]
Kelemahan dan kepalsuan hadist itu dinukil dari al-Hafadh.[9]
Juga dikatakan bahwa Ibnu Jauzi mengkategorikan hadist ini sebagai palsu.
6.
Orang shaleh dari
kalangan mukminin
Penyelewengan
ayat: Orang shaleh dari kalangan mukminin (ath-Tahrim: 4).[10]
Bahkan mereka meriwayatkan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah Abu Bakar
dan Umar sekaligus, dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa dia adalah Umar.[11]
7.
Ali dalam pandangan
Allah Swt
Hadist
riwayat dari Muaz, “Sesungguhnya Allah di
langit tidak suka melihat Ali disalahkan di bumi.”[12] Diselewengkan dalam al-Firdaus
bi Ma’tsur al-Khitab cetakan Dar al-Kitab al-Arabi, jilid I, hlm. 201,
hadist ke 591 serta dinisbahkan kepada Abu Bakar. Ibnu Jauzi mengomentarinya
sebagai hadist palsu.[13]
8. Ali dan Fatimah
manusia yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw
Hadist: “Manusia yang paling dicintai Rasul adalah
Ali dan Fatimah”, yang diriwayatkan dari beberapa jalur, diselewengkan oleh
mereka dengan meriwayatkan dari Amr bin Ash bahwa dia bertanya kepada
Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah
orang yang paling anda cintai?” “Aisyah”. “Lalu, siapa dari kalangan lelaki?”
“Abu Bakar.”[14]
9.
Orang yang pertama
keluar dari perut bumi
Hadist: “Orang yang pertama kali keluar dari perut
bumi…” berkenaan dengan Ali. Rasul Saw bersabda, “Allah memberiku keutamaan bahwa aku dan engkau (wahai Ali) adalah
manusia pertama yang keluar dari perut bumi di hari kiamat.”[15]
Juga diriwayatkan sabda beliau, “Aku
adalah orang pertama yang keluar dari perut bumi dan engkau (Ali) akan bersamaku.”[16] Al-Baghdadi meriwayatkannya dengan redaksi
berikut, “Engkau (Ali) adalah orang
pertama yang keluar dari perut bumi dihari kiamat.”[17] Abu Nu’aim menukilnya dengan redaksi berikut, “Ali adalah orang pertama yang membersihkan debu dari kepalanya dihari kiamat.”[18]
Rasul Saw juga bersabda, “Wahai Ali,
kuberitahu kepadamu bahwa engkau akan diberi
pakaian ketika aku diberi pakaian, engkau akan dipanggil ketika aku dipanggil,
dan akan dihidupkan ketika aku dihidupkan.”[19] Umar meriwayatkan, “Wahai Ali, tanganmu ada di tanganku, dan kita akan memasuki surga
bersama-sama dihari kiamat.”[20] Al-Baghdadi meriwayatkan, “Ini (Ali) adalah orang pertama yang
berjabat tangan denganku dihari kiamat.”[21]
Namun, mereka meriwayatkannya berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar.[22]
10.
Ali dalam perang
Khandaq
Hadist
neraca timbangan dalam perang Khandaq yang masyhur berkaitan dengan Ali, namun diriwayatkan
oleh mereka berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar.[23]
11.
Kebenaran bersama
Ali dan Ali bersama kebenaran
Hadist: “Kebenaran bersama
Ali dan ia bersama kebenaran” diriwayatkan bagi Umar dengan redaksi berikut, “Kebenaran setelahku bersama Umar dimana pun dia berada.”[24]
12.
Sembilan per sepuluh
ilmu dimiliki Ali
Hadist: “Ilmu ada sepuluh bagian dan sembilannya
dimiliki Ali”, namun oleh mereka dinisbahkan kepada Umar. Ibnu Mas’ud
berkata, “Menurutku, ketika Umar
meninggal, sembilan per sepuluh ilmu ikut diangkat bersamanya.”[25]
13. Ali dan Fatimah
berada satu derajat dengan Rasul dihari kiamat
Hadist
bahwa Ali dan Fatimah berada satu derajat dengan Rasul Saw dihari kiamat,[26]
diselewengkan oleh mereka dengan menisbahkannya kepada Abu Bakar.[27]
14. Ali Manusia terbaik
setelah Rasulullah
Hadist yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Dawud al-Wasithi dari Abdurrahman bin Jabir dari Abu Bakar bahwa Umar berkata kepadanya, “Wahai manusia terbaik setelah Rasulullah.”
Abu Bakar berkata, “Bila kau mengatakan
itu, aku juga telah mendengar Rasulullah bersabda bahwa di muka bumi ini tidak
ada orang yang lebih baik dari Umar.”[28]
Padahal riwayat mutawatir menyatakan bahwa Ali as adalah manusia terbaik
setelah Rasul Saw dan orang yang mengingkari
kenyataan ini berarti telah kafir. Selain itu, Abdullah dianggap lemah
oleh ulama rijal dan mereka juga
meragukan Abdurrahman. Mengomentasi hadist di atas, adz-Dzahabi berkata, “Hadist ini mirip dengan hadist buatan.”[29]
15.
Ali orang pertama
yang masuk surga
Hadist yang diriwayatkan oleh Umar bahwa Ali adalah orang
pertama yang masuk surga, “Wahai Ali, engkau bergandengan
tangan denganku dan kita bersama-sama masuk surga.”[30] Namun, hadist ini dinisbahkan kepada Abu Bakar.[31]
16. Wasiat Rasulullah
menjelang wafatnya (tragedi hari Kamis)
Hadist
tinta dan pena yang berhubungan dengan masa menjelang wafatnya Rasulullah Saw, dikaitkan
dengan Abu Bakar. Hadist menurut versi mereka adalah bahwa Rasul Saw bersabda, “Bawakan tinta dan pena kepadaku untuk aku
menulis wasiat bagi Abu Bakar, sehingga
umatku tidak akan bertikai sehubungan dengannya.”[32] Bila hadist ini benar adanya, mengapa Umar
memprotes dan mengatakan bahwa Nabi Saw telah mengigau? Kecuali, bila kita
katakan bahwa Umar menginginkan wasiat itu untuknya.
17. Ali berwudhu dengan
wadah dari emas yang dibawa malaikat Jibril as
Hadist
tentang Ali yang berwudhu dengan wadah terbuat dari emas yang dibawa Jibril,[33]
dinisbahkan kepada Abu Bakar.[34]
Dikatakan bahwa al-Hifadh menganggap hadist ini buatan.
18.
Ali lebih dikenal di
langit ketimbang di bumi
Hadist
bahwa Ali lebih dikenal di langit ketimbang di bumi,[35]
dinisbahkan kepada Abu Bakar.[36]
Al-Hifadh menganggapnya sebagai hadist buatan.[37]
Juga dikatakan bahwa al-Hifadh tidak menerima hadist ini.
19.
Nama Ali bersanding
dengan nama Muhammad
Hadist tentang keberadaan nama Ali bersama nama Muhammad di
langit, juga dihubungkan kepada Abu Bakar dan Umar, bahkan Usman.[38]
Al-Hifadh menganggapnya sebagai hadist palsu.[39]
Sebagian perawinya dianggap lemah.[40]
Juga dikatakan bahwa al-Hifadh tidak menerima hadist ini.
20.
Iman yang dimiliki Ali
melebihi iman seluruh dunia
Hadist bahwa iman Ali melebihi iman seluruh manusia, mereka kaitkan
dengan Abu Bakar.[41]
Dikatakan bahwa hadist ini
tidak shahih.
21.
Buah apel tempat
bidadari keluar adalah milik Ali
Hadist
bahwa apel yang bidadari surga keluar darinya adalah milik Ali,[42]
dinisbahkan kepada Usman,[43]
yang juga disebut sebagai hadist buatan,[44]
dan dinukil dari Ibnu Jauzi bahwa dia
menganggapnya sebagai hadist dha’if. Ibnu Hajar dalam al-Mizan berkomentar, “Ini
hadist palsu.” Sementara Ibnu Hibban berkata, “Tidak diketahui asal-usulnya.”
22. Ali adalah wali (yang
mewakili) Rasul Saw di dunia dan akhirat
Hadist: “Engkau adalah waliku di dunia dan akhirat”
dikaitkan dengan Usman,[45]
dan disebut sebagai hadist buatan.[46]
Di catatan kakinya ditulis bahwa Ibnu Jauzi menukilnya dalam al-Maudhuat dan berkomentar bahwa hadist
ini tidak jelas asalnya.[47]
Dikatakan juga bahwa Ibnu Jauzi menganggapnya hadist palsu, dan Ibnu Hibban
menyebutnya “dha’if”.
23. Allah Swt tidak
mencela Ali dalam hal apa pun
Hadist
bahwa Allah tidak mencela Ali dalam hal apa pun, namun mencela sahabat lain,[48]
dinisbahkan kepada Abu Bakar.[49]
24. Ali yang membunuh
Marhabah
Hadist
bahwa Ali-lah yang membunuh Marhabah yang diriwayatkan oleh Muslim dan al-Hakim, dan mengatakan bahwa hadist mutawatir
menyebutkan bahwa Ali adalah pembunuh Marhabah,[50]
dinisbahkan kepada Muhammad bin Musallamah.[51]
25. Ali adalah orang yang
membenarkan risalah Muhammad
Ayat: “Dan orang yang membawa kebenaran dan
membenarkannya”, turun berkenaan dengan Ali,[52]
tetapi dikaitkan kepada Abu Bakar[53]
yang diriwayatkan oleh Musa bin Umair, padahal dia perawi yang lemah, seperti
dikatakan adz-Dzahabi.[54]
26. Taman atau istana di
surga adalah milik Ali
Hadist bahwa taman atau istana yang dilihat Nabi Saw di surga
adalah milik Ali,[55]
tapi mereka kaitkan dengan Umar.[56]
27.
Ahlul Bait berada di
kubah dari rubi di bawah Arsy’
Hadist bahwa Ahlul Bait as berada di kubah dari rubi di bawah
Arsy,[57]
dinisbahkan kepada Abu
Bakar dari jalur Dzira’, si pendusta, seperti dikatakan oleh ad-Duruquthni.
Ibnu Jauzi dan al-Khatib mengatakan hadist ini dha’if dan tidak diketahui
asalnya.[58]
28. Ali mengenal suara
Nabi Khidir as saat Rasul Saw wafat
Hadist
bahwa Ali mengenal suara Khidir as ketika datang untuk berbela sungkawa saat
Nabi Saw wafat, yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Dalail, al-Ghazali dalam Ihya
dari Ibnu Umar, Ibnu Abi Dunya dari Anas dan juga oleh al-Hakim,[59]
dinisbahkan kepada Abu Bakar.
29.
Hadist Mawaddah
Hadist
Mawaddah yang masyhur berkenaan dengan Ali, Fatimah dan kedua putera mereka,
dikaitkan kepada Abu Bakar dalam penafsiran ayat mawaddah.
30.
Hadist Ahlul Bait
pelindung umat
Hadist: “Ahlul Baitku adalah pelindung umatku”,
al-Hakim meriwayatkan dari al-Munkadir dari ayahnya dari Nabi Saw, “… Kemudian Nabi Saw mengangkat kepalanya ke
langit dan bersabda, “Bintang-bintang adalah pelindung penghuni langit. Bila bintang-bintang
redup, maka langit akan hancur. Aku adalah pelindung para sahabatku. Bila aku
mati, maka sahabatku akan ditimpa bencana. Ahlul Baitku adalah pelindung bagi
umatku. Bila mereka tidak ada, maka bencana akan menimpa umatku.”[60]
Hadist ini diselewengkan dengan redaksi: “…para
sahabatku adalah pelindung umatku.”[61]
31.
Bait-bait syair
Fatimah
Bait-bait syair duka Fatimah yang masyhur itu, “Apa yang terjadi dengan orang yang mencium wangi tanah (kubur) Muhammad”, yang dinisbahkan kepada Aisyah[62]
32.
Kezuhudan Ali dan
ziarahnya
Diantaranya
adalah kezuhudan Ali dan ziarahnya ke kuburan. Mufasir masyhur, Tsa’labi dan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Ali as memasuki
pemakaman dan berkata, “Salam atas kalian, wahai penghuni kubur,
harta-harta kalian telah dibagikan…” lalu ada suara berbisik, “Waalaikum
salam.”[63]
Riwayat ini dinisbahkan kepada Umar.[64]
33.
Detik-detik terakhir
Nabi
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah dikatakan bahwa Rasul Saw
menghembuskan nafas terakhirnya dengan bersandar di dada Ali. Namun mereka
menyelewengkannya berdasarkan riwayat Aisyah bahwa Rasul wafat dalam pangkuan
Aisyah.
34. Hasan dan Husain
pemimpin pemuda surga
Hadist: Hasan dan Husain dua pemimpin pemuda surga,
diselewengkan oleh mereka dengan menisbahkan kepada Abu Bakar sebagai pemimpin pria
dewasa di surga.
Demikian hadist-hadist kembar keutamaan sahabat yang penulis kutip dari buku “500 Ayat Untuk Ali bin Abi Thalib”, penerbit Cahaya, Jakarta, cetakan pertama September 2006, hlm. 88-92, Saqifah karya O. Hashem, dan dari berbagai sumber.
Ada banyak lagi hadist-hadist kembar yang tidak bisa kami sebutkan karena
terbatasnya waktu. Hadist-hadist
buatan/jiplakan/palsu tersebut tentu sangat besar pengaruhnya dalam
membentuk pola pikir serta akidah umat. Ini merupakan salah satu rahasia
mengapa Syaikhain (Abu Bakar dan
Umar) pada masa pemerintahannya mengambil kebijakan pelarangan periwayatan hadist, dan menghukum orang yang meriwayatkan
hadist Rasul, bahkan mereka memusnahkan catatan-catatan hadist baik yang
ada di tangan mereka, maupun di tangan para sahabat yang lain, kecuali
catatan-catatan hadist yang berada di tangan Ali bin Abi Thalib, keluarga, dan
Syiah setianya yang bisa terselamatkan.
H. Fuad Hashem[65] memberi gambaran menarik “...Khalîfah Abû Bakar, menurut sejarawan adz-Dzahabî, dilaporkan membakar kumpulan lima ratus hadist, hanya sehari setelah ia menyerahkannya kepada putrinya Âisyah. “Saya menulis menurut tanggapan saya,” kata Abû Bakar, “namun bisa jadi ada hal yang tidak persis dengan yang diutamakan Nabî.”[66]
Dengan adanya pelarangan dan pemusnahan catatan-catatan hadist tersebut, maka proyek pembuatan hadist-hadist palsu keutamaan sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar, sekaligus pemakzulan Ali bin Abi Thalib dapat berjalan dengan lancar. O. Hashem dalam buku Saqifah[67] menulis:
“Di masa pemerintahan Bani Umayyah selama 92 tahun[68], telah dibuat banyak sekali hadist palsu yang direncanakan untuk mengucilkan Alî dan membesarkan ketiga Khulafa’ ar-Rasyidin yang lain, atas kperintah Muâwiyah, raja pertama dalam sejarah Islam. Para gubernur diwajibkan untuk menghotbahkan hadist-hadist tersebut di seluruh masjid-masjid dari “ufuk Timur ke ufuk Barat.”
Dengan demikian, biar pun hadis ini jelas shahîh, karena rangkaian isnâdnya lengkap dan nama-nama penyalur dapat dipercaya, “penyakit” masih ada, yaitu yang bersumber dari kalangan sahabat sendiri atau tâbi’în sendiri. Khotbah-khotbah itu, begitu besar pengaruhnya sehingga pernah terjadi seorang bapak mengadu kepada penguasa karena istrinya telah menghinanya dengan menamakannya Alî.[69]
Hadist-hadist ini dapat disebut “hadist penguasa” karena diorganisir oleh pelaksana pemerintahan demi mempertahankan kedudukannya dan bersumber dari para sahabat dan tâbi’în.
Untuk memahami timbulnya hadis-hadis palsu jenis ini, perlu kita memahami sifat-sifat jahiliah yang masih tersisa di zaman sahabat. Sifat-sifat jahiliah ini tidak hanya mengakibatkan pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan terhadap jenazah dengan mengarak kepala-kepala jenazah di jalan-jalan, perampokan, perbudakan terhadap wanita-wanita, pendongkelan mata yang dilakukan terhadap Syî’ah Alî serta pelanggaran hak-hak azasi yang begitu dilindungi oleh Islam, tetapi juga pembuatan hadis palsu yang terencana.
Abû Ja’far Al-Iskâfî menceritakan: “Muâwiyah memerintahkan para sahabat dan tâbi’în untuk membuat riwayat yang memburuk-burukkan Alî bin Abî Thâlib, menyerangnya dan memakzulkannya, di antaranya Abû Hurairah, Amr bin Âsh, Mughîrah bin Syu’bah dan di antara tabi’in Urwah bin Zubair.”[70]
Tulisan ini tidak bermaksud mempengaruhi keyakinan anda, karena hidup ini adalah pilihan dan kita bebas memilih sesuai dengan daya nalar masing-masing. Tapi yang jelas, di Yaumil Akhir nanti kita semua akan dihisab untuk mempertanggung jawabkan semua pilihan dan perbuatan di dunia■
[1] Fadhail
as-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid II, hlm. 591, 1002, bab “Manaqib Ali”; al-Mathalib al-Aliyah, jilid IV, hlm. 234, 4346, bab “Hudaibiyah”; Mushannaf, Abdu al-Razaq, jilid V, hlm. 343 hadist ke 9722.
[2] Lisan
al-Mizan, jilid IV, hlm. 252, “Biografi Ali
bin Hasan” dengan redaksi “Kedudukan
Abu Bakar bagiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa.” Ibnu Hajar
menyebutnya sebagai hadist buatan.
[3] Kanz
al-Ummal, jilid II, hlm. 379, hadist ke 4306 “Tafsir Surah al-Baqarah”.
[4] Fath al-Malik al-Ali, hlm. 155-156 dari Lisan al-Mizan, jilid I, hlm. 422, “Biografi Ismail bin Ali Abu Said.“
[5] Al-Fatawa
al-Haditsah, hlm. 123, cetakan pertama Mesir, tahun 1353 H.
[6] Al-Fatawa
al-Haditsah, hlm. 192, cetakan pertama Mesir tahun 1353 H.
[7] Al-Mu’jam
al-Ausath, jilid VII, hlm. 50, hadist ke 6082.
[8] Kanz
al-Ummal, jilid XI, hlm. 567 hadist ke 3283, bab “Keutamaan Sahabat”, tentang Abu Bakar; al-Fawaid al-Majmu’ah, hlm. 339, bab “Keutamaan Empat Khalifah”, hadist ke 28.
[9] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 309, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”.
[10] Kanz
al-Ummal, jilid II, hlm. 539, hadist ke 4675; Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hlm. 441; al-Tarif wa al-A’lam, as-Suhaili, hlm. 133; Syawahid ath-Tanzil, jilid II, hlm. 341, hadist ke 981; Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 194
cetakan Mesir tahun 1352 H; Buhyah
al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 311, hadist ke 115143
bab “Manaqib”.
[11] Al-Mahasin
wa al-Masawi, al-Baihaqi, jilid 38, bab “Keutamaan
Umar”; Majma’ al-Zawaid, jilid
IX, hlm. 52 cetakan Mesir tahun 1352 H; Bughyah
al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 38, hadist ke 14339, bab
“Manaqib”. Sebagian perawinya
dianggap lemah.
[12] Dinukil oleh Ad-Dailami dalam al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, jilid
I, hlm. 159, hadist ke 587 cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
[13] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 300, bab “Keutamaan
Empat Khalifah.”
[14] Al-Mu’jam al-Kabir, jilid XXIII, hlm. 43, hadist ke 3190, “Biografi Aisyah”, bab “Aisyah Melihat Jibril”.
[15] Al-Tadwin
fi Akhbar Qazwin, jilid II, hlm. 126, “Biografi
Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Juhainah”.
[16] Jilid III, hlm. 419, “Biografi Ali bin Muhammad al-Bayari”.
[17] Tarikh
Baghdad, jilid V, hlm. 100.
[18] Tarikh
Isbahan, jilid I, hlm. 362.
[19] Fadhail
as-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid II, hlm. 664, hadist ke 1131 “Keutamaan Ali”.
[20] Talkish
al-Mutasyabih fi al-Rasm, al-Khatib, jilid I, hlm. 37 no. 27 pasal pertama.
[21] Tarikh
Baghdad, jilid IX, hlm. 460.
[22] Al-Mu’jam
al-Kabir, jilid XII, hlm. 235 “Biografi
Ibnu Umar”.
[23] Al-Mu’jam
al-Kabir, jilid X, hlm. 86 “Biografi
Muaz bin Jabal”, bab “Riwayat Abu
Idris Khulani dari Muaz”; Ilya Ulum
ad-Din, jilid I, hlm. 52, bab kelima tentang “Adab Pelajar”; al-Mahasin wa
al-Masawi, bab “Keutamaan Abu Bakar.”
[24] Al-Mu’jam
al-Kabir, jilid VIII, hlm. 281 “Biografi
Fadhl bin Abbas”, bab “Riwayat Atha’
dari Ibnu Abbas darinya.”
[25] Al-Mu’jam
al-Kabir, jilid VIII, hlm. 9163, hadist ke 8810, “Biografi Ibnu Mas’ud”; al-Thabaqat
al-Kubra, jilid II, hlm. 256, bab “Sahabat
Rasul Saw Berfatwa di Madinah”.
[26] Kanz
al-Ummal, jilid XIII, hlm. 639, hadist ke 37612, bab “Keutamaan Ahlul Bait”; Majma’
al-Zawaid, jilid IX, hlm. 169 cetakan Mesir tahun 1352 H; Bughyah al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid,
jilid IX, hlm. 268-269, 271, 276 hadist ke 14991, 15003, 15002, bab “Manaqib”.
[27] Hilyah
al-Auliya, jilid II, hlm. 33, “Biografi
Abu Bakar”; Tharikh al-Khamis,
jilid I, hlm. 327.
[28] Al-Mustadrak,
al-Hakim, jilid III, hlm. 90, bab “Keutamaan
Umar”; Majma’ al-Zawaid, jilid
IX, hlm. 44 cetakan Mesir tahun 1352 H; Buhgyah
al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 24, 40, hadist ke 14314,
14357, bab “Manaqib”. Sebagian perawinya dianggap
lemah dan sebagian lainnya disebut pembohong.
[29] Talkish
al-Mustadrak, jilid III, hlm. 90, bab “Keutamaan
Umar”.
[30] Talkish
al-Mutasyabih fi al-Rasm, al-Khatib, jilid I, hlm. 37 no. 27 pasal pertama.
[31] Lawami’
al-Anwar al-Bahiyah, jilid II, hlm. 316, bab “Keutamaan Abu Bakar”.
[32] Al-Tabyin
fi Ansab al-Quraisyin, hlm. 273 – Abu Bakar.
[33] Manaqib
Ibnu al-Maghazili, hlm. 79 cetakan
[34] Al-Fawaid
al-Majmu’ah, hlm. 331, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”, hadist ke 2 dan disebut sebagai hadist palsu; al-Laali al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 289
“Keutamaan Empat Khalifah.”
[35] Kanz
al-Fawaid, hlm. 260.
[36] Al-Fawaid
al-Majmu’ah, hlm. 332, bab “Keutamaan
Empat Khalifah.”
[37] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 294, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”.
[38] Al-Fawaid al-Majmu’ah, hlm. 333, 339, 342, bab “Keutamaan Empat Khalifah”, hadist ke 12, 27, 38.
[39] Majma’
al-Zawaid; jilid IX; hlm. 41 cetakan Mesir tahun 1352 H; Buhgyah al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid,
jilid IX, hlm. 19, 48, hadist ke 14296, 14383, bab “Manaqib”.
[40] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 296-297, 309, bab “Keutamaan Empat Khalifah.”
[41] Al-Fawaid
al-Majmu’ah, hlm. 335, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”, hadist ke 18.
[42] Musnad
Syam al-Akhbar, jilid I, hlm. 88, bab kelima dengan jalur dari Abdul Wahab.
[43] Al-Fawaid
al-Majmu’ah, hlm. 340, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”, hadist ke 31.
[44] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 312-314, bab “Keutamaan Empat Khalifah.”
[45] Al-Fawaid
al-Majmu’ah, hlm. 341, bab “Keutamaan
Empat Khalifah”, hadist ke 35.
[46] Al-Bayan
wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadits, jilid III, hlm. 5, hadist ke 1171.
[47] Al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 317, bab “Keutamaan
Empat Khalifah.”
[48] Majma’
al-Zawaid, jilid IX, hlm. 112 cetakan Mesir tahun 1352 H; Bughyah al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid,
jilid IX, hlm. 144, hadist ke 14660, bab “Manaqib
dengan jalur dari Thabrani”; Fadhail
as-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid II, hlm. 654, hadist ke 1114, bab “Keutamaan Ali.”
[49] Syarh al-Syamail al-Muhammadiyah, jilid II, hlm. 227, bab “Peristiwa-peristiwa Ketika Nabi Saw wafat”.
[50] Shahih
Muslim, bab “Jihad dan Ekspedisi”,
pasal “Perang Dzi Qirdah”, hadist ke
1807; al-Mustadrak, jilid III, hlm.
436, bab “Keutamaan Muhammad bin
Musallamah”.
[51] Al-Mustadrak,
jilid III, hlm. 436, bab “Keutamaan
Muhammad bin Musallamah”; Musnad Abu
Ya’la, jilid III, hlm. 385, hadist ke 1816.
[52] As-Syifa,
jilid I, hlm. 33.
[53] Lawami’
al-Anwar al-Bahiyah, jilid II, hlm. 313, bab “Keutamaan Abu Bakar”.
[54] Talkish
al-Mustadrak, jilid III, hlm. 70, bab “Mengenal
Sahabat” – Abu Bakar.
[55] Al-Mushannaf,
Ibnu Abi Syaibah, jilid VI, hlm. 374, hadist ke 32102, bab “Keutamaan Ali”; Musnad
al-Bazar, jilid II, hlm. 293, hadist ke 716, pada catatan kakinya
disebutkan bahwa al-Hakim dan adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadist shahih; Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 118
cetakan Mesir tahun 1352 H; Bughyah
al-Raid fi Tahqiq Majma’ al-Zawaid, jilid IX, hlm. 155, hadist ke 14690,
bab “Manaqib”; Fadhail as-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid I, hlm. 651, hadist ke
1109, bab “Keutamaan Ali”; Musnad Abu Ya’la, jilid I, hlm. 427,
hadist ke 565, bab “Musnad Ali”,
dalam catatan kakinya disebutkan bahwa semua perawi hadist ini terpercaya,
kecuali Fadhal Qaisi, meski Ibnu Hibban menganggapnya perawi terpercaya.
Al-Hakim dan adz-Dzahabi menganggapnya hadist shahih, hlm. 139, bab “Makrifat Keutamaan Ali”; al-Maqshad al-Ali, jilid III, hlm. 180,
hadist ke 3121; al-Mathalib al-Aliyah,
jilid IV, hlm. 60; Tarikh Baghdad,
jilid XII, hlm. 394.
[56] Tarikh
Baghdad, jilid IX, hlm. 50, “Biografi
Ibnu Maghazili”, no. 855.
[57] Al-Firdaus,
jilid IV, hlm. 162, hadist ke 4284; al-Laali
al-Mashnu’ah, jilid I, hlm. 392.
[58] Afat
Ashab al-Hadits, Abu Faraj bin Jauzi, hlm. 125, bab keenam; al-Laali al-Mashnu’ah, jilid I, hlm.
292, bab “Keutamaan Empat Khalifah”.
[59] Lihat: Masyariq al-Anwar, Hamzawi, hlm. 77 pasal pertama, bab
Pertama-Penutup; al-Dzakhair
al-Muhammadiyah, hlm. 394 dari al-Baihaqi, Risalah al-Zahr al-Nadhir, hlm. 216; Ansab al-Asyraf, jilid I, hlm. 564, hadist ke 1145 cetakan Mesir,
hlm. 2/239; al-Mahmudi, al-Ishbah,
jilid I, hlm. 442; al-Mawahib
al-Laduniyah, jilid III, hlm. 387; al-Mathalib
al-Aliyah, jilid IV, hlm. 259; Qishash
al-Anbiya, hlm. 43.
[60] Mustadrak
as-Shahihain, jilid III, hlm. 457, bab “Keutamaan
Munkadir”; Nawadir al-Ushul,
jilid III, hlm. 66 pokok ke 222.
[61] Musnad
Ahmad, jilid IV, hlm. 399 cetakan Mesir, hlm. 5/543, hadist ke 19072
cetakan
[62] Lihat:
Syarh al-Syamail al-Muhammadiyah,
jilid II, hlm. 231, bab “Peristiwa
Diwaktu Nabi Wafat”.
[63] Tafsir Tsa’labi, jilid I, hlm. 258, ayat ke 109 surah al-Baqarah; al-Tsuqat, Ibnu Hibban, jilid IX, hlm. 235.
[64] Kanz
al-Ummal, jilid XV, hlm. 751, hadist ke 42977.
[65] H. Fuad Hashem, Sîrah Muhammad Rasûlullâh, Penerbit
Mizan, 1989,
[66] Saqifah
Awal Perselisihan Umat, O. Hashem, penerbit YAPI, hlm. 5-6.
[67] Saqifah
Awal Perselisihan Umat, O. Hashem, penerbit YAPI, hlm. 79-81.
[68] Kecuali di zaman
pemerintahan Umar bin Abdul Azîz yang 2 ½ tahun.
[69] Dengan demikian
dapatlah dibayangkan bahwa hukum fiqih yang berkembang di lembaga-lembaga
pemerintahan dan masyarakat didominasi oleh keputusan-keputusan hukum Umar, Abû
Bakar dan Utsmân. Dan sama sekali tidak memberi tempat kepada pikiran-pikiran
Alî. Buah pikiran Alî hanya berkembang dan diikuti oleh keluarga dan
pengikut-pengikutnya. Sebagai ilustrasi dapat diikuti dialog antara gubernur
Hajjâj bin Yusuf dan kadinya. Hajjâj bertanya kepada as-Sya’bî tentang warisan
seorang (yang tidak punya anak) kepada ibu, saudara perempuan dan kakeknya.
Hajjâj: “Bagaimana pendapat
Amîru’l-mu’minîn Utsmân?” as-Sya’bî: “Tiap
orang 1/3 bagian!.” Hajjâj: “Bagaimana
pendapat Alî?” as-Sya’bî: “Saudara
perempuan 3/6, 2/6 untuk ibu dan 1/6 bagian untuk kakek!” Hajjâj memegang-megang
hidungnya. “Yang pasti, kita tidak boleh
mengikuti putusan Alî.” Ia lalu menyuruh hakim memutuskan sesuai dengan
pendapat Utsmân. Untuk mengetahui perbedaan-perbedaan ini, bacalah al-Imâm
Abdul Husain Syarafuddîn al-Mûsâwî, “Nash
wa’l-Ijtihâd.”
[70] Ibnu Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm.
63.



