Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Imam Ali bin Abi Thalib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Ali bin Abi Thalib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2024

Mencintai Ali Sama Dengan Mencintai Rasulullah, Membenci Ali Sama Dengan Membenci Rasulullah



 

Imam Ath-Thabrani mengutip sebuah penuturan dari salah seorang isteri Nabi Saw, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah, yang berkata:

"Aku bersaksi telah mendengar Rasulullah Shallallâhu'alaihi wa âlihi wa salam bersabda:

من أحب عليا فقد أحبني ومن أحبني فقد أحب الله. ومن أبغض عليا فقد أبعضني ومن أبغضني فقد أبغض الله

"Barang siapa yang mencintai Ali, maka sungguh dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku sungguh dia telah mencintai Allah. Dan barang siapa membenci Ali, maka sungguh dia telah membenciku, dan barang siapa membenciku sungguh dia telah membenci Allah". (Mu'jam al-Kabir, jilid 10, hlm. 110-111)

Jika kewajiban Shalat sebagai tiang agama itu berkiblat di Ka'bah, Bukankah pantas manusia yang terlahir di dalam Ka'bah sebagai kiblat dalam agama? Dialah Ali bin Abi Thalib as, Pewaris pedang Zulfikar sebagai tanda pemimpin, dan penjaga sulbi Nabi Saw (Fatimah az-Zahra) sebagai tanda pelindung. Tidakkah kalian mengambil pelajaran?

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad. Wa ajjil Faradjahum.

Kamis, 09 Mei 2024

Allah Ada Dimana? Jawaban Imam Ali bin Abi Thalib Islamkan Yahudi

 

 

Dimana Allah? Dia sedang berada dimana sekarang? Kerap kita bertanya atau ditanya seperti ini. Biasanya kita membayangkan Allah ada di langit sana, di atas sana, seolah dia berada di suatu tempat. Pertanyaan ini sudah lama digelontorkan berulang kali. Bukan hanya sekarang, pertanyaan seperti ini sudah dibahas sejak jaman Nabi Saw dan para sahabat mulia. Salah satunya dilaporkan dalam sejumlah riwayat yang memuat pertanyaan ini dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.

Pertanyaan tentang di mana Allah berada muncul dalam dialog lintas-iman. Disebutkan bahwa sekelompok pendeta Yahudi datang menemui Khalifah Abu Bakar dan bertanya, “Apakah kamu khalifah nabi umat ini?”

Khalifah Abu Bakar menjawab, “Ya.”

“Beritahukan kepada kami tentang Tuhanmu, di langit atau di bumi?” tanya mereka.

“Dia berada di langit, di atas ‘Arsy,” jawab Khalifah Abu Bakar.

“Kalau begitu, bumi kosong dari-Nya dan berarti Tuhan berada di sebuah tempat dan tidak di tempat yang lain?” debat pemuka Yahudi.

Khalifah Abu Bakar menukas, “Ini adalah ucapan orang-orang zindiq (kafir), pergilah kalian!”

Mereka pergi sambil mencemooh Islam. Maka, Imam Ali bin Abi Thalib menemui mereka dan berkata, “Aku sudah tahu apa yang kalian tanyakan dan kalian bantah. Sekarang aku akan jelaskan:

“Ketauhilah bahwa kita tidak bisa mengatakan Allah ada di mana. Allah pencipta tempat; Dia Maha Agung dan Suci dari tempat dan apa pun. Dia ada dan pengawas atas semua tempat; Dia meliput segala sesuatu; tidak ada sesuatu apa yang meliput-Nya dan menyentuh-Nya. Hanya ilmu Allah yang meliput diri-Nya.

“Kini, aku mengabarkan apa yang telah aku lihat dalam kitabmu. Jika yang aku kabarkan itu sesuai dengannya, apakah kamu akan beriman?”

Pemuka Yahudi itu berkata, “Tentu, aku akan beriman.”

Imam Ali as melanjutkan, “Dalam kitabmu disebutkan bahwa Musa bin Imran, pada suatu hari, sedang duduk, tiba-tiba malaikat datang. Musa bertanya, “Dari mana engkau datang?” Malaikat menjawab, “Dari sisi Tuhanku.”

Lalu malaikat lain datang. Musa bertanya, “Engkau datang dari mana?” Malaikat itu menjawab, “Aku datang dari sisi Tuhanku dari arah barat.”

Lalu malaikat lain datang. Musa bertanya, “Engkau datang dari mana?” Malaikat itu menjawab, “Aku datang dari langit ketujuh dari sisi Tuhanku.”

Lalu malaikat lain lagi datang dan Musa bertanya, “Dan engkau datang dari mana?” Ia menjawab, “Aku datang dari tingkat ketujuh bumi dari sisi Tuhanku.”

“Ketika itulah Musa berkata, “Maha Suci Allah yang tidak ada tempat yang kosong dari keberadaan-Nya, namun Dia tidak di tempat mana pun, dan dia lebih dekat dari setiap tempat.”

Segera pemuka Yahudi itu bersyahadat, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa engkau adalah washi dan khalifah utusan Allah.”

Sumber: Ibn Duraid, Kitab Al-Mujtana, hlm. 253

 


Selasa, 07 Mei 2024

Ali bin Abi Thalib Pembeda Kebenaran dan Kebatilan

 

 

Disarikan dari buku: MAZHAB PECINTA KELUARGA NABI, Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi, hlm. 369-371, Terjemahan Tim Muthahari Press, cetakan I dan II, Juni 2009.

 

1.  Al-Hafiz Sulaiman al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah bab 56 meriwayatkan dari kitab al-Sab’in fi Fadhail Amir al-Mukminin hadis no. 12 dari Abu Dzar al-Ghifari ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sepeninggalku aka nada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali bin Abi Thalib, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan.”

 

Hadis ini diriwayatkan oleh pengarang al-Firdaus.

 

2.   Allamah Mir Sayyid Ali al-Hamdani dalam Mawaddah al-Qurba pasal 6 dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku aka nada fitnah. Jika itu terjadi maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan.”

 

3.   Allamah al-Kanzi al-Syafi’i meriwayatkan dalam Kifayat al-Thalib bab 44 dari Abu Laila al-Ghifari, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sepeninggalku aka nada fitnah. JIka itu terjadi maka berpeganglah kepada Ali bin Abi Thalib, dialah yang pertama melihatku, yang pertama menyalamiku pada hari kiamat, dia bersamaku di langit yang tinggi, dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan.”

 

Menurut al-Kanzi hadis ini hasan ali, diriwayatkan oleh al-Hafiz dalam Amali-nya. Dia juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Akan terjadi fitnah, siapa yang mengalaminya berpeganglah kepada Kitabullah dan Ali bin Abi Thalib, karena saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Inilah orang yang pertama beriman kepadaku, yang pertama menyalamiku, dia al-Faruq umat ini, yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, pemimpin kaum mukminin, dan harta adalah pangkal kezaliman, dia sangat jujur, dia adalah pintu masuknya ilmu, dan dia adalah pengganti sepeninggalku.”

 

  Al-Kanzi juga berkata, “Demikian para ahli hadis Syiria meriwayatkan keutamaan Imam Ali as dalam kitabnya juz 349 dengan jalur yang berbeda-beda.”

 

4.    Syekh Islam al-Humawaini dan Mir Sayyid Ali al-Hamdani pada akhir pasal 5 Mawaddah al-Qurba meriwayatkan dari Alqamah bin Qais dan Aswad bin Buraidah dengan sedikit perbedaan pada awalnya, “Kami mendatangi Abu Ayyub al-Anshari dan berkata, “Wahai Abu Ayyub, sesungguhnya Allah telah memuliakan anda dengan Nabimu ketika dia membiarkan untanya berhenti di rumahmu dan Rasulullah memberikan keutamaan kepadamu. Ceritakanlah kepadaku ketika anda pergi bersama Ali memerangi kelompok Lailaha illallah.” Abu Ayyub berkata, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah. Nabi Saw bersamaku di rumah yang anda kunjungi sekarang. Waktu Rasulullah Saw bersama Ali yang duduk di sebelah kanannya dan Anas berdiri di depannya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, dan Rasulullah berkata, “Lihat, siapa yang ada di pintu!” “Saya Ammar, wahai Rasulullah”. Nabi berkata, “Bukalah untuk Ammar yang suci dan disucikan!” Anas membukakan pintu dan Ammar masuk menemui Rasulullah Saw dan Nabi Saw berkata, “Wahai Ammar, nanti akan terjadi bencana pada umatku sampai saling membunuh satu sama lain. Jika anda melihat itu, maka berpeganglah kepada orang yang berada di sampingku, yakni Ali bin Abi Thalib. Jika semua orang menuju kepada lembah dan Ali menuju lembah lain, maka ikutilah lembah Ali dan jangan ikut yang lain. Wahai Ammar, Ali tidak akan menyesatkanmu dari kebenaran dan tidak akan membawamu kepada kecelakaan. Wahai Ammar, mentaatinya adalah mentaatiku, dan mentaatiku adalah mentaati Allah.”■