Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Zionis Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zionis Israel. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2025

Mengapa Iran Tidak Menyerang Israel Untuk Hentikan Genosida di Gaza?




"Mengapa Iran tidak menyerang saja Israel untuk hentikan genosida di Gaza? Bukannya Iran punya rudal balistik? Juga sudah menunjukkan kemampuan menyerang Israel? Katanya bela Gaza, tapi zonk." atau "Bela Gaza hanya jualan saja, untuk dapat simpatik," atau "Serang Israel dengan ratusan rudal juga tidak pengaruhi kemampuan serangan Israel. Buktinya Israel masih terus bisa menggempur Gaza, bahkan termasuk menyerang Suriah, Qatar, Yaman, Lebanon dan Kapal Flotilla."

Jawabannya:

Pertama, menyerang Israel, bukan hanya tanggungjawab Iran, negara-negara yang berbatasan langsung dengan Israel lebih wajib, termasuk yang lebih dekat ke Israel dibanding Iran, termasuk Turki, Mesir dan Arab Saudi. Aneh, Iran dituntut menyerang Israel, sementara yang lain boleh-boleh saja tetap berhubungan bilateral dengan Israel.

Kedua, Gaza dibombardir Israel, tidak lantas menjadi alasan Iran bisa menyerang Israel. Jika Iran menyerang dengan alasan itu, maka itu adalah serangan ilegal dan Iran kena vonis melanggar kesepakatan internasional. Palestina belum utuh menjadi sebuah negara. Lagi pula presiden Palestina juga tidak meminta Iran untuk membantu secara militer. Oleh karena itu, operasi militer Iran ke Israel beberapa waktu lalu alasannya karena Israel telah melanggar kedaulatan Iran, diantaranya membunuh jenderal Iran di Suriah dan Lebanon, menyerang kedutaan Iran di Damaskus, termasuk dalam bentrokan terakhir, menyerang wilayah Iran secara langsung. Jika Iran menyerang Israel yang oleh hukum internasional dianggap dilakukan secara ilegal, maka Dewan Keamanan PBB termasuk NATO punya hak menyerang Iran. Dan disaat Iran diserang, apa ada yang membantu? Negara-negara Teluk sekutu AS tentu berada di pihak penyerang. Kehancuran Iran adalah ambisi semua negara yang pro Zionis, karena itu Iran punya hak memilih mekanisme yang tepat untuk menjaga negaranya, tidak sembrono hanya demi slogan "membela Gaza", sementara yang lain punya slogan "Israel harus diterima demi perdamaian".

Ketiga, meski diserang Iran, mengapa kekukatan militer Israel tetap tampak tangguh? Ya, itu karena suplai senjata tanpa batas terus mengalir ke Israel. Yaman menghalangi di laut Merah, tapi negara-negara teluk membantu Israel agar suplai senjata itu bisa masuk melalui jalur darat. Jadi, bukan serangan Iran yang tidak berdampak, tapi adanya bantuan senjata yang terus masuk ke Israel. Terus mau dibilang serangan Iran sia-sia, dan Iran yang disalahkan dan dianggap gimmick saja? Jika Israel mendapat suplai senjata tanpa batas dari sekutu-sekutunya di Eropa dan AS, disaat yang sama Iran mendapat sanksi dan pemboikotan. Aset-asetnya di luar negeri disita, dan diantara yang ikut menandatangani sanksi Eropa atas Iran adalah Turki. Dengan posisi ini, terus dinyinyir, "Wah serangan Iran tidak ada apa-apanya, tidak memberi kerugian apapun pada Israel." Trump dalam jumpa persnya sampai bilang, "Kita (AS) tidak akan bisa sejauh ini bisa mempertahankan Israel, jika Arab Saudi tidak dipihak kita."

Keempat, dalam perang 12 hari Iran vs Israel, Iran nyaris sendirian, sementara Israel secara terbuka dibantu AS, bahkan AS turut menyerang Iran. Israel juga secara tidak langsung dibantu negara-negara Arab yang menjadi sekutu AS. Baik membantu menghalau serangan Iran maupun membantu dalam hal penyediaan pangkalan militer dalam menyerang Iran. Dengan kondisi seperti ini, Iran dituntut untuk terus berperang?

Kelima, perang adalah salah satu opsi untuk menghentikan genosida di Gaza, opsi lainnya adalah desakan internasional. Memboikot Israel bisa sangat ampuh jika itu dilakukan bersama dan serentak. Rezim Apartheid runtuh di Afrika Selatan melalui pemboikotan global. Menuntut-nuntut Iran seolah hanya Iran yang perlu bertanggungjawab atas genosida yang terus terjadi di Gaza adalah ketidakadilan. Kalau negara-negara Teluk bisa normalisasi dengan Israel, bahkan tetap melakukan kerjasama dagang meski di tengah genosida yang terus berlangsung, kok jadi Iran yang dituntut, terus bilang, "Terserah negara lain mau melakukan apa, Iran harus hentikan Israel gak usah cari-cari alasan, kecuali memang Iran itu pengecut." 





Sumber:


Pernyataan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem Tentang Rencana Trump dan Israel Raya




– "Kita semua harus menghadapi bahaya ini; jangan ada yang mengatakan negara kita jauh dari masalah ini — semua orang menjadi sasaran. Langkahnya sekarang ada di Gaza, dan langkah-langkah lain mungkin akan terjadi suatu hari nanti menurut perspektif Israel."

– "Kita harus menghadapi Israel, masing-masing dari posisi kita sesuai kapasitas dan rencana kita, dan setidaknya yakin untuk menyingkirkan bahaya dari diri kita sendiri, karena proyek ini akan mencapai kita sesuai target yang dinyatakan Israel."

– "Trump mengajukan rencana untuk Jalur Gaza, dan rencana itu penuh bahaya."

– "Rencana Trump awalnya diajukan dalam bentuk draf kepada beberapa negara Arab, dan pertemuan-pertemuan diadakan dengan Netanyahu. Dalam pertemuan tersebut, amandemen diajukan agar rencana tersebut sepenuhnya sesuai dengan Israel, dengan perubahan pada sejumlah poin yang mendukung proyek 'Israel Raya' Israel — sebuah proyek yang ingin dicapai secara politis setelah gagal dicapai melalui agresi dan pembantaian."

– "Kita menghadapi rencana yang penuh tanda tanya, yang diakui sendiri oleh beberapa pejabat Arab, yang terkejut dengan isinya dan menuntut klarifikasi."

– "Menurut rencana Trump, ketika pemerintahan diserahkan kepada pihak internasional dan tanggung jawab untuk menjalankan urusan mereka diambil dari rakyat, dan ketika tawanan ditawan di masa-masa awal, lalu apa yang telah kita capai setelah semua pertempuran ini?"

– "Rencana Trump sejalan dengan lima prinsip yang ditetapkan Israel untuk mengakhiri perang — ini adalah rencana 'Israel' yang berkedok Amerika."

– "Ada empat alasan di balik pengajuan rencana Trump: pertama, untuk membebaskan Israel dari gelombang global yang mengutuknya, terutama di Perserikatan Bangsa-Bangsa; kedua, karena meningkatnya gerakan rakyat di negara-negara Amerika dan Eropa — rencana tersebut hadir sebagai cara untuk melembutkan citra."

– "Kami menyaksikan armada Global Sumud yang berlayar dari berbagai negara, yang menunjukkan dekadensi moral yang telah dicapai Israel; kami memberikan penghormatan khusus kepada Spanyol karena mengemban tugas ini lebih menonjol daripada negara-negara lain."

– "Kami akan menunggu keputusan akhir dari Palestina, karena apa yang disampaikan hanyalah sebuah rencana, bukan kesepakatan, dan tidak ada yang dapat terjadi kecuali melalui kesepakatan."

– "Melalui intervensi langsung Amerika, mereka berusaha membangun asumsi bahwa Hizbullah lemah dan sibuk dengan situasi dan kehancurannya — oleh karena itu, kita bisa disingkirkan. Namun, mereka terkejut bahwa kita berpartisipasi aktif dalam negara tersebut."

– "Mereka mengira kami akan merespons dengan reaksi berlebihan dan membalas hinaan dengan cara yang memungkinkan mereka meningkatkan eskalasi, sehingga mereka bisa mengatakan bahwa kami adalah alasan ekspansi, tetapi kami mencegah langkah itu."

– "Lebanon berada di pusat badai akibat agresi dan tindakan Israel yang melampaui batas, pembunuhan anak-anak dan insinyur, serta penargetan segala bentuk kehidupan, karena mereka ingin menekan perlawanan dan rakyatnya serta membuat Lebanon tak berdaya — dan ini didukung oleh Amerika Serikat dengan segala kemampuannya."

– "Mereka mencampuri struktur negara untuk mencapai tujuan politik yang gagal mereka capai melalui perang, tetapi menjadi jelas bahwa hal ini mustahil karena kita memiliki perwakilan rakyat yang luas — hal itu mengejutkan mereka."

– "Mereka ingin berselisih dengan Tentara Lebanon, tetapi Tentara bertindak bijaksana dan menunjukkan bahwa ada pemikiran yang rasional dalam membangun Lebanon. Oleh karena itu, posisi Tentara dan perlawanan sudah jelas: pengkhianatan adalah kutukan dan tidak boleh terjadi di antara kita." (Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, 5 Oktober 2025). 

Sumber:

Kamis, 21 Agustus 2025

Mossad dan CIA Memalsukan Karya Imam Khomeini





Revolusi Islam Iran telah membuat ketakutan bagi setan besar Amerika, demikian halnya Israel. Tatkala rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Jendral Israel yang memenangkan perang tujuh hari atas Arab, Moshe Dayan, menampakan kemarahan yang luar biasa.

Meski sudah pensiun Jendral bermata satu tersebut merasa terusik dengan lahirnya Republik Islam baru tersebut, Moshe Dayan kemudian mencak-mencak di IDF atas kegagalan operasi Mossad dan CIA yang gagal membunuhi tokoh-tokoh revolusi Iran, sembari membanting topi ke meja, Moshe Dayan mengatakan:

“Mulai hari ini kalian harus bekerja keras!!!
Masa depan Israel sedang menghadapi ancaman serius dari anak-anak Ali.
Hari ini Israel akan menghadapi lawan tangguh!"[1]

Beberapa operasi simultan kemudian digelar Amerika serikat dan Israel untuk menghancurkan Republik Islam Iran [2], salah satunya adalah perang intelijen yang menitik beratkan pada operasi disinformasi (penyesatan informasi). Israel memerintahkan LAP (Lahomah Pscichlogit) dengan tugas agar melakukan assassination character dan black campaign terhadap karya-karya Khomaini. Operasi ini didukung pula oleh Joint Publications and Reserch service sebuah kompartemen milik CIA yang bertanggungjawab melakukan penerjemahan. [3] Sebagaimana disebutkan oleh Hamid Alghar, CIA dan LAP kemudian melakukan pemalsuan-pemalsuan terhadap karya-karya ulama syi’ah termasuk Imam Khomaini. Semula CIA dan LAP menggunakan basis percetakanya di New York dengan memakai kedok Manor Books sebagai penerbitnya, namun belakangan mereka menggunakan percetakan yang berbasis di negara-negara sunni pro Amerika, diantaranya Arab Saudi dan Yordania.

Berikut adalah sebagian kecil buku-buku yang di palsukan oleh konspirasi AS-Israel-Sunni Wahabi dan Sunni pro AS Israel [3]:

1. Kitab Hukumat-I Islami karya Imam Khomaini

Kitab ini merupakan magnum opus imam khomaini, kitab ini berisikan catatan-catatan kuliah tentang prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang dikumpulkan oleh murid-murid beliau dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Perancis, Arab, Turki dan Urdu. Setelah Imam Khomaini berhasil menumbangkan rezim pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran, kitab Hukumat-I Islam ini kemudian dipalsukan oleh CIA, buku ini di palsukan dalam dua bahasa Inggris dan Arab. 

Kelompok Sunni Wahabbi menggunakan terbitan dari CIA dan LAP ini untuk menyerang Syi’ah dan melakukan asasinasion character terhadap Imam Khomaini dengan buku ini. Penerbit dari Indonesia bernama Pustaka Zahra telah mencetak buku aslinya dengan judul Sistem Pemerintahan Islam. Silahkan di bandingkan antara yang buku yang diterbitkan CIA dan LAP ini dengan buku aslinya.

2. Kitab Kasyful Asrar karya Imam Khomaini

Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas) dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah, diantaranya kemudian diterbitkan buku berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal, Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia).

Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah. Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru ahlu sunnah sendiri, adalah Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan kepala bagian bahasa dan sastra timur Universitas Kairo, menemukan tindakan criminal kelompok konspirasi ini. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki nama baik Ahlu Sunnah. Temuan beliau diantaranya: Kitab Kasyful Asrar dipalsukan di Yordania oleh penerbit bernama Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada.

Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilalali (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib. Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki sata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi.

Masih banyak kitab-kitab syiah yang di palsukan oleh kelompok pro konspirasi seperti Salafi Wahabi, seperti kitab yang ditulis alamah Hilli untuk menanggapi karya Ibnu Taimiyah, minhajul as sunnah pun tak luput dipalsukan, dan tempat pemalsuanya berpusat di Arab Saudi.

Fenomena Pencatutan Nama Ulama Syi’ah

Selain memalsukan kelompok Ahlu Sunnah pro konspirasi tak segan-segan melakukan pencatutan nama, modusnya dengan menulis buku seolah-olah dilakukan oleh ulama syi’ah, diantaranya adalah:

1. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah penulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah Ja’far Subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.

2. Syaikh Saleh Darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul Ta’ammulat fi Nahjul al Balghah, dan kitab ini segera diketahui oleh ulama-ulama Syiah dan kemudian diluruskan dalam kitab berjudul Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.

3. Kelompok Pro Konspirasi mencatut nama Sayyid Musa al-Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab as syi’ah wa at tashih yang sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah pro konspirasi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama Syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah.

Bahkan Kelompok konspirasi ini bukan hanya melakukan pemalsuan kitab Syi’ah mereka bahkan secara keji memalsukan kitab-kitab mereka sendiri, diantaranya:

1. Memalsukan kitab “Hasyiyah Al Allamah Al Showi Ala Tafsir Al Jalalain”
2. Memalsukan pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw:176
3. Memalsukan pernyataan Imama Ahmad bin Hanbal dalam kitab Mukhtashar ar Rawdhah. Dalam kitab yang sama memalsukan pernyataan Imam malik dan Imam Abu Hanifah.

Sampai hari ini mesin-mesin konspirasi terus bekerja, kami memaklumi jika kemudian kalangan ahlu sunnah meladzimkan pemalsuan kitab-kitab Syi’ah, sedang terhadap imamnya sendiri saja mereka gemar melakukan pemalsuan.

[1] Mossad, Penerbit Grafiti
[2] Bagi yang berminat silahkan membaca tulisan dalam blog peminat kemeliteran dan inteleijen yang dikelola oleh Muhammad Reza Sistani, Muhammad Ivana Lee, Ar Budi Prasetyo dan Muhammad Alfred Sastranagara.
[3] Makalah Muhammad Ivana Lee yang disampaikan dalam Desk diskusi Wirakartika Ekapaksi, “Seputar Dirty Intelligen Terhadap karya-Karya Khomaini”
[4] Untuk mengetahui lebih jelas silahkan melihat daftar yang dimiliki IPO (organisasi Penerangan Islam yang sempat melakukan penertiban buku-buku yang dipalsukan tersebut).


Sumber:

Senin, 11 Agustus 2025

Pahami Bosnia Agar Kamu Paham Soal Gaza!




"Serahkan senjata kalian, supaya kami bisa menyembelih kalian seperti menyembelih domba dan merebut tanah kalian…!!"

Oleh: Fahmi Huwaidi

Jika kamu tidak memahami Bosnia, kamu tidak akan memahami Gaza…!! Pahami dulu Bosnia, baru kamu akan mengerti Gaza dan apa yang terjadi di sana, sehingga kamu tidak akan heran…!!

Perang pemusnahan yang dilancarkan Serbia terhadap Muslim Bosnia mengakibatkan:
  • 300 ribu Muslim gugur syahid;
  • 60 ribu perempuan dan anak perempuan diperkosa;
  • 1,5 juta orang diusir dari rumah mereka.
Apakah kita mengingatnya? Ataukah kita sudah melupakannya? Atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang itu?

Seorang presenter CNN berbicara tentang peringatan pembantaian Bosnia, lalu bertanya kepada (Christiane Amanpour), wartawan terkenal:

Apakah sejarah sedang terulang?

Christiane Amanpour dari CNN berkomentar pada peringatan Bosnia:

"Itu adalah perang ala abad pertengahan — pembunuhan, pengepungan, dan kelaparan terhadap umat Islam, dan Eropa menolak campur tangan dengan alasan ‘perang saudara’, padahal itu hanyalah mitos belaka…!"

Holocaust itu berlangsung sekitar 4 tahun. Serbia menghancurkan lebih dari 800 masjid, sebagian dibangun sejak abad ke-16 M, dan membakar perpustakaan bersejarah Sarajevo.

PBB masuk dan memasang pos pemeriksaan di pintu masuk kota-kota Muslim seperti Gorazde, Srebrenica, dan Zepa, namun semua itu berada di bawah pengepungan dan tembakan, sehingga “perlindungan” itu tidak berarti apa-apa.

Serbia menahan ribuan Muslim di kamp-kamp konsentrasi, menyiksa dan membuat mereka kelaparan hingga tinggal tulang belulang.

Ketika seorang komandan Serbia ditanya, “Mengapa?” Ia menjawab: “Karena mereka tidak makan babi!”

Surat kabar The Guardian pada masa pembantaian Bosnia pernah memuat peta satu halaman penuh yang menunjukkan lokasi 17 kamp besar pemerkosaan terhadap perempuan Muslim, beberapa di antaranya berada di dalam wilayah Serbia sendiri.

Serbia memperkosa anak-anak — bahkan ada anak perempuan berusia 4 tahun. The Guardian memuat laporan berjudul: "Anak perempuan yang satu-satunya ‘kesalahan’-nya adalah ia seorang Muslim."

Jagal Ratko Mladic mengundang pemimpin Muslim di Zepa untuk rapat, memberinya sebatang rokok, tertawa bersama sebentar, lalu menerkamnya dan menyembelihnya.

Mereka melakukan kekejaman besar di Zepa dan warganya. Namun kejahatan paling terkenal adalah pengepungan Srebrenica. Tentara internasional bergaul dengan Serbia, berdansa bersama mereka, bahkan ada yang menukar kehormatan perempuan Muslim dengan sepotong makanan.

Serbia mengepung Srebrenica selama 2 tahun, tanpa henti dibombardir. Sebagian besar bantuan yang masuk dirampas oleh Serbia. Kemudian Barat memutuskan untuk menyerahkannya kepada “serigala” — batalion Belanda yang seharusnya melindungi Srebrenica malah bersekongkol dengan Serbia, memaksa Muslim menyerahkan senjata mereka dengan janji akan diberi keamanan. Setelah kelelahan dan penderitaan, Muslim pun menyerah.

Begitu Serbia merasa aman, mereka menyerbu Srebrenica, memisahkan laki-laki dari perempuan, mengumpulkan 12.000 laki-laki (remaja dan dewasa), lalu membantai semuanya dan memutilasi jenazah mereka.

Bentuk mutilasi termasuk: seorang Serbia berdiri di atas tubuh Muslim dan menggores wajahnya yang masih hidup dengan simbol salib Ortodoks (dari laporan Newsweek atau Time).

Beberapa Muslim bahkan memohon kepada Serbia agar segera dihabisi karena tidak tahan dengan siksaan.

Seorang ibu memegang tangan tentara Serbia, memohon agar anaknya tidak dibunuh. Serbia memotong tangannya, lalu memenggal leher anaknya di depan matanya.

Pembantaian itu berlangsung… Dan kita hanya melihat, mendengar, makan, bersenang-senang, dan bermain

Setelah membantai Srebrenica, jagal Radovan Karadzic masuk ke kota dengan bangga dan berkata:

"Srebrenica selalu milik Serbia, dan kini telah kembali ke pelukan Serbia."

Serbia memperkosa perempuan Muslim dan menahannya selama 9 bulan hingga melahirkan. Mengapa?

Seorang Serbia mengatakan kepada media Barat: “Kami ingin perempuan Muslim melahirkan bayi Serbia.”

Dan saat kita mengingat Bosnia, Sarajevo, Banja Luka, dan Srebrenica, kita tegaskan:

Kita tidak akan melupakan Balkan…
Kita tidak akan melupakan Granada…
Kita tidak akan melupakan Palestina…

Di sini kita harus mencatat dengan tinta aib — sikap memalukan Butros Ghali (sekjen PBB saat itu, yang beragama Ortodoks) yang secara terang-terangan memihak saudara-saudara seagamanya, Serbia.

Namun, 30 tahun kemudian, kita masih belum belajar dari sejarah…

Tambahan: Serbia memilih membunuh ulama, imam masjid, cendekiawan, dan pengusaha. Mereka mengikat, lalu menyembelih, dan membuang jasad mereka ke sungai.

Kisah sejarah tidak diceritakan kepada anak-anak supaya mereka tidur…

Tapi diceritakan kepada orang dewasa supaya mereka bangun.

Semoga Allah membalas kebaikan siapa pun yang membaca dan menyebarkannya.

Lalu sekarang datang orang-orang yang menyalahkan pihak yang “peka” itu sebagai penyebab perang dan memaksa mereka menyerahkan senjata?

Orang seperti itu lebih rendah akalnya dari binatang dan lebih rendah harga dirinya dari pada babi. (Mirza Ali Kumayl)

Sumber:


Senin, 07 Juli 2025

Sejarah Peperangan Antara Arab vs Israel, Arab Selalu Kalah!


Perang tahun 1948 Arab kalah! Perang tahun 1956 Arab kalah! Perang tahun 1967 Arab kalah total! Perang tahun 1973 (berlangsung 20 hari) Arab juga kalah.

Pertanyaan kita: Pernahkah negara-negara Arab menang lawan Israel? Tidak pernah!

Menariknya, justru Israel harus mengakhiri ambisi hegomoni-nya dan mundur tanpa capaian strategis apapun saat melawan milisi Hisbullah di Lebanon yang didukung Iran (1982, 2000, 2006)!

Kita ke Gaza: Hampir 2 tahun Israel memborbardir Gaza, puluhan ribu rakyat tak berdosa jadi korban, infrastruktur luluh lantak, rakyat dilaparkan, diblokade total: Tak ada satupun tujuan strategis dajjal terkutuk itu yang tercapai:
1. Musnahkan Hamas, gagal.
2. Bebaskan sandera, gagal.
3. Kuasai Gaza, juga gagal.

Dan Hamas, dkk itu hanya MILISI yang dilatih, dibiayai dan dibesarkan IRAN!

Definisi kemenangan dalam perang: tujuan strategis, politik, hukum dan ekonomi dicapai - tak masalah berapapun korban manusia harus mati (Uni Sovyet kehilangan 28 juta perajurit dan rakyatnya dalam perang dunia kedua melawan Nazi Jerman dibanding hanya 4 juta dari pihak Jerman) tapi akhir perang itu dimenangkan Uni Sovyet!

Israel dan AS menyerang Iran selama 12 hari dengan tujuan strategis mereka:
1. Hancurkan situs nuklir Iran.
2. Musnahkan instalasi-instalasi militer strategis Iran (rudal, sistem pertahanan udara).
3. Menjatuhkan sistem Islami Wilayatul Faqih di Iran dan mendukung kelompok kelompok anti Wilayatul Faqih (Rahbar) untuk ambil alih kekuasaan.

Semua tujuan-tujuan dajjalisme Zionis itu gagal total! Sebaliknya setelah 12 hari perang secara sepihak mereka merengek-rengek minta gencatan senjata -
"Jika saja perang itu berlanjut dua minggu lagi, maka dipastikan Israel akan lumpuh sebagai negara" (Larry Johnson, analis milliter dan intelejen AS).

Jadi, pernahkah negara-negara Arab menang melawan Israel? Pernah! Tapi hanya dalam mimpi!

Masihkah ada orang-orang yang berharap, misalnya pada Al-Jolani (HTS) Suriah akan memerangi Israel dan membebaskan Al-Aqsa?

Israel Ekspor Konflik: Dari Gurun Suriah ke Warung Kopi Indonesia?



Israel itu seperti pedagang gelap yang jualan "bom waktu sektarian". Pasar utamanya? Timur Tengah. Tapi matanya kini juga melirik gerai baru, yakni Indonesia. "Devide et Impera" bukan cuma taktik kolonial Belanda tempo dulu—itu menu utama politik Israel. Mereka paham betul: negara multikultural Indonesia yang bersatu adalah mimpi buruk bagi agenda mereka. Sebaliknya, masyarakat yang sibuk bertikai soal SARA adalah ladang subur buat intervensi.

Senjata mereka canggih tapi licik. Di Suriah dan Lebanon, Israel pakai "jasa titip" konflik: dukung kelompok tertentu, dukung para Takfiri yang hobi kofar-kafirkan orang, bikin isu lokal jadi perang agama, lalu duduk manis sambil jual senjata ke semua pihak. Media jadi amplifier-nya, algoritma sosial media jadi distributornya.

Resep ini mau diekspor kemana? Tengoklah bagaimana isu Palestina tiba-tiba dibelokkan jadi debat Sunni-Syiah di grup WA kelas tarkam, atau bagaimana ujaran intoleran tiba-tiba viral persis saat tekanan global ke Israel memuncak. Di sini, di Indonesia, kok ya bisa-bisanya ada ormas sektarian Aliansi Anti Syiah yang entah bagaimana prosesnya bisa dapat izin dari pemerintah. Kemana perginya “Bhineka Tunggal Ika”?

Dulu, kita sering berkata, "Ah, Indonesia kan beda! Kita punya Pancasila!" Benar. Tapi Israel bukan main halus. Mereka tak perlu invasi militer. Cukup kirim 'konten sampah' sektarian lewat buzzer bayaran, biarin influencer gadungan sebar hoax, atau dukung kelompok yang gemar impor konflik Timur Tengah. Tujuannya satu: bikin kita sibuk berselisih internal, alih-alih fokus pada penjajahan Zionis di tanah Palestina. Seperti tukang sulap, mereka ingin kita terkagum-kagum pada ilusi "musuh sesama muslim", sembari mengabaikan penjajahan nyata.

Indonesia ini pasar empuk: populasi besar, gencar digital, tapi rentan hoax. Israel bisa pakai proxy. Bayangkan: dana dari NGO "pendamai" Timur Tengah tiba-tiba mengalir ke ormas Islam radikal lokal. Atau grup media "moderat" di Jakarta tiba-tiba gencar bangun narasi permusuhan atas nama solidaritas Palestina—padahal ujungnya memecah-belah Umat. Mirip jualan obat palsu, bungkusnya agama, isinya racun perpecahan, dan jangan salah, organisasi sektarian ini pada akhirnya akan menyasar semua kelompok, termasuk komunitas non Muslim.

Bahayanya? Konflik impor ini bakal jadi "cap cai" beracun. Isu Syiah-Sunni dari Suriah dicampur sentimen lokal, ditambah politik identitas, dikasih kuah hoax. Hasilnya? Kerukunan jadi korbannya. Mereka bisa terprovokasi jadi "tentara bayaran" perang proxy Timur Tengah—berkelahi sesama anak bangsa, sementara penjajah di Gaza tertawa lebar. Persatuan Indonesia diadu domba seperti kambing kurban.

Solusinya? Waspadai "dangdut politik" Israel. Setiap ada isu sektarian mendadak panas, tanya: Siapa yang nyetel lagunya? Setiap ada kelompok yang gemar impor konflik luar, kritisi: Dapat kiriman minyak goreng dari mana? Jangan sampai NKRI jadi panggung baru drama mereka. Solidaritas Palestina harus tetap murni: satu suara menentang penjajahan, bukan malah pecah belah karena provokasi siluman.

Kita punya senjata ampuh: Pancasila itu perisai, Bhinneka Tunggal Ika itu pedang. Jangan mau dijajah ulang oleh perpecahan gaya baru. Sebab Zionis paling takut pada satu hal: Umat Islam dan bangsa Indonesia yang bersatu padu. Mereka bisa adu domba Suriah, mereka bisa pecah-belah Lebanon—tapi di sini? Gunakan kebhinekaan kita sebagai benteng. Biar Israel gigit jari.

Jumat, 20 Juni 2025

Kehancuran Israel oleh Persia (Iran) Dalam Nubuwat Kitab-kitab Yahudi

 


Ternyata sudah dinubuwatkan: Kehancuran Israel oleh Persia (Iran) dalam nubuwat kitab-kitab Yahudi sendiri.

"Tuhan akan mengirimkan kepadamu suatu kaum dari jauh. Mereka mendatangimu seperti elang." (Taurat - Ulangan 28:49).
Cat.: Kaum dari jauh itu adalah Persia (Iran) yang akan mendatangi (menghancurkan) Zionis.

Kitab Elias dalam nubuwatnya 2800 tahun yang lalu: Sebelum kemunculan Masih, Orang-orang Yahudi membentuk pemerintahan di Palestina, setelah beberapa saat Iran bangkit (Revolusi Islam Iran), umur pemerintahan Yahudi akan seumur hidup manusia (saat ini berusia 76 tahun), dan mereka akan dihancurkan oleh Persia (Iran).

Jika dalam nubuwah kitab Yahudi, israel akan dihancurkan oleh Persia seperti Elang yang mendatangi Zionis, maka dalam nubuwah Islam digambarkan seperti rajawali yang mendatangi Zionis.

Ayat Al-Qur'an dibawah ini yg menjelaskan tentang kehancuran bangsa Israel di tangan hamba-hamba Allah yg mempunyai kekuatan yg besar.

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا. فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولا.

"Sesungguhnya kamu (Bani Israil) akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman kejahatan yg pertama dari kejahatan itu, Kami mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampung ke seluruh negeri. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. (QS. Al-Isra' 4-5).

Siapakah yang dimaksudkan oleh Allah mendatangkan hamba-hamba Kami yg mempunyai kekuatan besar yg akan menghancurkan Israel?

Imam Ali as berkata, "Demi Allah yang memecah biji-bijian dan Pencipta mahluk, bendera kebenaran akan terpampang dimana-mana di Khurasan (Iran).

Pria-pria Khurasan adalah pria tangguh. Hati mereka laksana besi dan bahkan lebih kuat lagi. Jika mereka mengadakan perjalanan ke suatu bukit atau gunung dan mereka adalah senjata, maka mereka akan melenyapkannya. Demikian besarnya kekuatan dan persenjataan mereka, dan ketika persenjataan mereka telah lengkap dan mereka memasuki wilayah Yahudi (Israel), maka mereka akan meluluhlantakkannya. Seakan-akan ada burung Rajawali besar sedang terbang pada transportasi yang digunakan Khurasan.

Warga Khurasan merupakan manusia yang sangat mencintai Al-Mahdi as. Keimanan mereka sedemikian kuatnya sehingga tidak ada satupun yang dapat menghalangi mereka demi berkumpul bersama Al-Mahdi as. Mereka berkeyakinan bahwa Allah akan membantu Al-Mahdi as untuk menegakkan keadilan secara merata di muka bumi ini.

Khurasan dan penduduknya telah menyediakan perlengkapan pesenjataan secara lengkap guna membantu Al-Mahdi as menegakkan keadilan. Perhatian mereka sungguh besar terhadap beliau as sehingga pemikiran dan agama mereka telah tercerahkan sebelum kemunculan Al-Mahdi as. Sehingga pada suatu saat yang tepat nantilah mereka dapat hidup bersama dalam naungan keadilan pemerintahan Al-Mahdi as." (Al-Mufaja'ah 601).


Sabtu, 28 September 2024

Innalillah, Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah Wafat


Sayyed Hassan Nasrallah


Lebanon, Innalillah Sekjen Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah wafat. Berita kematian Hassan Nasrallah telah dirilis secara resmi oleh Hizbullah.

Perlawanan Islam mengawali pernyataannya dengan ayat:

“Hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, kemudian ia terbunuh atau berhasil menaklukkannya, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar." (QS. An-Nisa’, ayat 74).

“Yang Mulia Sayyed, pemimpin Perlawanan, hamba Allah yang saleh, telah mewariskan kepada Allah seorang pemimpin besar dan martir, yang pemberani, bergabung dengan para martir Karbala di jalan para nabi, demikian bunyi pernyataan itu.

“Sayyed Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah, bergabung dengan para sahabat agungnya yang abadi, yang perjalanannya telah ia pimpin selama lebih dari 30 tahun melalui kemenangan demi kemenangan” setelah menggantikan Sayyed Abbas Mousawi pada tahun 1992, memimpin mereka dalam “pembebasan Lebanon pada tahun 2000 dan Kemenangan Ilahi tahun 2006,” dan hingga pertempuran mendukung Palestina dan rakyat Palestina yang tertindas.

Hizbullah menyampaikan rasa belasungkawa kepada bangsa Islam dan rakyat Lebanon yang teguh pendirian, dan kepada seluruh rakyat dunia yang merdeka maupun tertindas, serta mengucapkan selamat kepada Sayyed Hassan atas pencapaian anugerah ilahi yang terbesar, yang dengannya ia dikabulkan keinginannya yang terbesar, yaitu menjadi seorang syuhada di jalan Palestina dan al-Quds.

Perlawanan Islam juga mengucapkan selamat kepada rekan-rekan martirnya yang bergabung dengannya dalam kesyahidan setelah agresi Israel di pinggiran selatan Beirut.

Dalam pernyataan tersebut, pimpinan Hizbullah berjanji kepada Sayyed Nasrallah, “pemimpin kami yang paling agung, paling suci, dan paling dicintai di jalan kami yang dipenuhi dengan para syuhada dan pengorbanan, untuk melanjutkan perjuangan melawan musuh, dalam mendukung Gaza dan Palestina, dan dalam membela Lebanon dan rakyatnya yang terhormat dan tangguh.”

Perlawanan Islam mengakhiri pernyataannya dengan menyapa para pejuang kemerdekaan Perlawanan, “kalian yang merupakan perisai terpercaya…pemimpin kami Sayyed masih hidup di antara kita melalui pemikiran, jiwa, dan jalan sucinya”. (ARN)

Sumber: Arrahmahnews.com

Jumat, 02 Agustus 2024

Ayatullah Khamenei: Rezim Zionis Buka Peluang Hukuman Berat Untuk Dirinya


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei dan Ismail Haniyeh


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, terkait teror Kepala Biro Politik Hamas mengatakan, Rezim Zionis sudah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (31/7/2024) mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin berani dan pejuang umat Islam, serta poros perlawanan, dan bangsa Palestina.

Rahbar menegaskan, "Rezim Zionis penjahat dan teroris, dengan aksi ini telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri, dan kami menganggap menuntut balas atas darah Ismail Haniyeh, yang gugur di dalam wilayah Republik Islam Iran, sebagai kewajiban kami."

Isi pesan Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

Bismillahirahmanirahim
Innalillahi wa inna ilahi rajiun

Rakyat mulia Iran

Pemimpin berani dan pejuang unggul Palestina, Tuan Ismail Haniyeh, kembali ke sisi Allah SWT, dan poros agung perlawanan berduka. Rezim Zionis penjahat dan teroris, menewaskan tamu mulia kami di rumah kami sendiri, dan membuat kami berduka, tapi Rezim Zionis telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya.

Syahid Haniyeh, selama bertahun-tahun telah mempertaruhkan nyawa berharganya di jalan perjuangan mulia, dan siap untuk gugur, dan menyerahkan putra-putra serta familinya di jalan ini.

Ia tidak pernah takut untuk gugur di jalan Tuhan, dan di jalan menyelamatkan hamba-hamba-Nya, tapi kami dalam peristiwa pahit dan sulit yang terjadi di wilayah Republik Islam Iran, menganggap menuntut balas atas darah beliau, sebagai kewajiban kami.

Saya mengucapkan belasungkawa kepada umat Islam, poros perlawanan, kepada bangsa berani dan terhormat Palestina, terutama keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan atas gugurnya Syahid Haniyeh, dan salah satu pengawalnya. Saya memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kedudukan tinggi kepada mereka.

Sayid Ali Khamenei

31 Juli 2024 (25 Muharam 1446 Hijriah)

Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, sebelumnya mengumumkan, Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas, dan salah satu pengawalnya gugur dalam sebuah serangan ke kediamannya di Tehran, Rabu (31/7) pukul 2 dinihari. (HS).

Sumber: Parstoday Indonesia

Minggu, 07 Juli 2024

Imam Khomeini dan Perjuangan Palestina




Hari Asyura tahun 1383 H bertepatan dengan tanggal 3 Juni 1963. Imam Khomeini naik mimbar di Seminari Faizieh di Qom. Dalam khotbah gemilangnya yang mengkritik keras rezim Pahlavi, ia menarik perhatian semua orang pada satu pokok yang menjadi fondasi dasar gerakan revolusionernya, yakni perjuangan melawan Israel. Itulah rezim yang menurutnya telah menciptakan tragedi di dunia Islam dengan merampas Palestina. Dalam pidato yang terkenal itu, Imam Khomeini memperingatkan orang-orang tentang bahaya Israel, rezim yang berusaha menghancurkan Islam, Al-Qur'an, dan ulama. Ia juga menjelaskan hubungan yang dimiliki pemerintahan Shah dengan rezim Israel. Meskipun tanggal tersebut dianggap sebagai titik awal gerakan revolusioner Imam, akar pidato Imam tentang Palestina dan pendudukan Israel di sana bermula dari masa sebelumnya. Pada bulan Maret 1963, Imam Khomeini menulis surat tentang bahaya Israel kepada berbagai serikat dan asosiasi di Qom sebagai tanggapan atas pertanyaan mereka. Ia menulis, “Karena kewajiban agama saya, dengan ini saya memperingatkan rakyat Iran dan umat Islam di seluruh dunia bahwa Al-Qur'an dan Islam berada dalam bahaya. Kemerdekaan negara kita dan ekonominya berada dalam bahaya direbut oleh kaum Zionis. Dengan diamnya kaum Muslim, tidak akan lama lagi mereka [kaum Zionis] akan menghancurkan eksistensi bangsa Muslim dalam segala aspeknya.”

Masalah Palestina dan perilaku jahat Israel selalu menjadi topik yang dibicarakan Imam Khomeini dalam pidato-pidatonya, karena hal itu sangat penting baginya. Imam menganggap meningkatnya kekuatan Israel dan penaklukan negara-negara Muslim di tangan rezim brutal ini sebagai penghancuran Islam dan Al-Qur'an. Ketika Perang Arab-Israel ketiga meletus pada tahun 1973, Imam menyampaikan pesan kepada pemerintah-pemerintah Islam dan negara-negara Muslim yang menekankan perlunya menjaga persatuan. Ia menyerukan kepada mereka untuk mengumpulkan semua kekuatan mereka guna memerangi Israel. Dalam surat ini, Imam Khomeini merangkum mekanisme-mekanisme yang terlibat dalam perang melawan Israel dalam beberapa kategori, dan ia mengumumkannya kepada masyarakat Muslim pada umumnya. Mekanisme-mekanisme ini meliputi: Dukungan komprehensif untuk garis depan pertempuran melawan Israel.
  1. Menghindari perbedaan dan kemunafikan yang merusak diri sendiri.
  2. Tidak takut terhadap kekuatan fiktif para pembela Zionisme.
  3. Persatuan antara pemerintahan Islam dan menegur, mengancam dan memutus hubungan dengan negara mana pun yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
  4. Mengirimkan bantuan material dan spiritual oleh negara-negara Muslim seperti darah, obat-obatan, makanan, dll. ke medan perang.
Padahal, Imam Khomeini menegaskan bahwa menjaga persatuan untuk pembebasan Palestina adalah jalan utama dan terpenting untuk meraih kemenangan. Sebab, ia tidak yakin bahwa tujuan negara-negara kolonial besar mendirikan Israel hanya untuk menduduki Palestina. Imam meyakini, jika Israel dibukakan jalan, semua negara Muslim pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Palestina. Itulah sebabnya Imam Khomeini mengibaratkan Israel sebagai tumor kanker, dan ia mengatakan bahwa pemberantasannya segera adalah kewajiban bagi semua Muslim.

Karena perlunya persatuan bangsa Islam dalam memerangi Israel, Imam Khomeini tidak menyia-nyiakan segala upaya – baik dalam pidato-pidatonya dan rekomendasi-rekomendasi yang diberikannya kepada bangsa-bangsa Muslim maupun dalam tindakan-tindakan yang diambilnya dalam hal ini. Pada tanggal 7 Agustus 1979, ia menyampaikan pidatonya di hadapan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia dengan cara berikut, “Saya menyerukan kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia dan pemerintah-pemerintah Islam untuk bersatu dalam memotong tangan perampas kekuasaan ini [Israel] dan para pendukungnya. Saya mengajak seluruh umat Muslim untuk memilih hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, yang merupakan waktu terjadinya Malam-Malam Takdir dan yang dapat menentukan nasib orang-orang Palestina, sebagai 'Hari Quds.' Sebuah upacara harus diadakan pada hari ini untuk mendeklarasikan solidaritas internasional umat Muslim dalam mendukung hak-hak hukum umat Muslim.” Sebenarnya, penetapan Hari Quds bukan sekadar untuk menentukan simbol yang mewakili pengorbanan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Muslim untuk salah satu cita-cita terbesar Islam. Tujuannya juga untuk menghidupkan kembali semangat Islam dan kewaspadaan masyarakat Islam. Ini terjadi pada saat para pemimpin negara-negara Muslim berpikir untuk merangkul Israel dan beberapa di antaranya sudah bangga dengan afiliasi mereka dengan rezim Zionis!

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel pada tahun 1967 yang menyebabkan Mesir kehilangan gurun Sinai, pukulan telak menimpa badan pemerintahannya. Anwar Sadat, yang memperoleh kekuasaan di Mesir setelah Gamal Abdel Nasser, datang ke meja perundingan dengan Israel pada tahun 1978 untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Negosiasi tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat di Camp David. Sadat secara resmi mengakui Israel dan merebut kembali wilayahnya.

Sebelum peristiwa ini, Imam Khomeini telah menghabiskan 20 tahun memperingatkan semua negara Islam tentang bahaya berkompromi dengan Israel. Karena itu, ia menganggap langkah Anwar Sadat sebagai tindakan pengkhianatan terhadap umat Islam dan Palestina. Mengakui Israel berarti mengekspresikan solidaritas dengan pemerintahannya yang curang, dan itu juga berarti memisahkan jalan seseorang dari jalan perjuangan. Tentu saja, tindakan ini bertentangan dengan jalan yang selalu ditekankan Imam Khomeini. Imam percaya bahwa Camp David memecah belah negara Islam. Ia juga menganggapnya sebagai sarana untuk memperkuat front Israel – yang apinya akan menelan tidak hanya orang Palestina tetapi semua negara di Timur Tengah. Karena Imam Khomeini percaya Perjanjian Camp David adalah pakta pengkhianatan, pada 11 Mei 1979, ia mengeluarkan perintah untuk memutuskan hubungan diplomatik antara Republik Islam Iran dan pemerintah Mesir.

Setelah Imam kehilangan harapan pada pemerintahan Arab, ia beralih ke negara-negara Muslim. Ia menyerukan mereka untuk bersatu di jalan pembebasan Palestina dan memerangi rezim pendudukan di Quds. Ia juga mendesak umat Islam untuk memisahkan diri dari jalan yang ditempuh oleh pemerintah yang telah berkompromi dengan rezim Israel. Dalam sebuah pesan yang dikeluarkan selama haji tahun 1987, ia menyampaikan pesan kepada umat Islam di seluruh dunia dan para jamaah haji sebagai berikut, “Negara-negara Muslim harus berpikir untuk menyelamatkan Palestina. Mereka harus mengungkapkan rasa jijik dan benci mereka terhadap cara-cara kompromi dari para pemimpin yang memalukan dan mementingkan diri sendiri, yang atas nama Palestina, telah menghancurkan aspirasi rakyat di tanah yang diduduki dan umat Islam di wilayah ini. Negara-negara Muslim seharusnya tidak membiarkan para pengkhianat ini mencoreng prestise, reputasi, dan kehormatan bangsa Palestina yang heroik di meja perundingan.” Setelah itu, setiap kali Imam Khomeini melihat adanya tindakan kompromi dari para pemimpin negara-negara Islam, ia akan mengkritik mereka dan mengingatkan mereka tentang tingginya tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh Israel. Namun, hanya sedikit yang mau mendengarkan nasihat ini. Maka di mata Imam, kaum Muslimin di dunia yang terpisah dari pemerintah mereka berubah menjadi satu-satunya pejuang dalam pertempuran melawan Israel.

Imam Khomeini (ra) memperkenalkan Palestina sebagai poros persatuan umat Islam. Selama hidupnya yang penuh dengan perjuangan, tidak ada satu momen pun di mana ia berhenti menyebarkan kesadaran tentang pentingnya masalah Palestina dan perilaku jahat Israel. Imam Khamenei berkata, “Salah satu elemen utama [mazhab Imam Khomeini] adalah bergegas membantu mereka yang tertindas dan menentang penindas. Di era kita, di masa kita, rakyat Palestina adalah contoh dari mereka yang tertindas. Seperti yang Anda lihat, dari hari pertama hidupnya hingga hari terakhir, Imam menekankan dan mendukung masalah Palestina. Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran dan para pejabatnya untuk tidak lupa: membantu yang tertindas dan menentang penindas, meniadakan tipu daya penindas, dengan tegas membantah dan menghancurkan kebesaran dan keagungan penindas.” [4 Juni 2014]

Bahkan dalam teks terakhir namun abadi yang ditinggalkan Imam – wasiat politik-ilahinya – ia memberikan perhatian khusus pada masalah Palestina dan perlunya untuk melawan dan menentang Israel. Seperti biasa, ia mencoba menjelaskan tujuan dan alasan di balik mengapa rezim penipu ini didirikan. Dalam wasiat politik-ilahinya, Imam Khomeini menyatakan bahwa negara-negara Muslim harus bangga dengan kenyataan bahwa musuh mereka adalah musuh Tuhan Yang Maha Pengasih, Al-Qur'an Suci, dan Islam. Ada sebagian orang yang fantasi bodohnya untuk mewujudkan "Israel Raya" menyebabkan mereka membakar seluruh dunia. Untuk mencapai keinginan serakah mereka, mereka melakukan kejahatan yang terlalu memalukan untuk ditulis atau dibicarakan. Dalam hal ini, apa yang Imam Khomeini anggap sebagai solusi bagi orang-orang tertindas di dunia dalam menghadapi kebuntuan di depan, adalah untuk tidak bergantung pada Timur atau Barat. Sebaliknya, mereka harus mengikuti budaya politik, sosial, ekonomi, dan militer dari pemandu terbesar umat manusia, yaitu, para Imam Maksum.

Sumber: khamenei.ir

Jumat, 21 Juni 2024

Francis Fukuyama: “Musuh Kita Hanyalah Syiah yang “Berwilayah”

 

Francis Fukuyama


Jika kita menilai mengapa Amerika, Zionis dan negara-negara Arab seperti Arab Saudi begitu gencar menjatuhkan Syiah khususnya Syiah Iran, itu karena Islam Muhammadi original termanifestasi dalam Syiah Wilayah Khomeiniyah. Tentunya negara-negara mayoritas Syiah yang berkiblat kepada Amerika dan Zionis tidak akan pernah diusik dan diganggu seperti Azarbeijan misalnya.

Rahasia ini terungkap ketika terjadi sebuah rapat khusus yang dilakukan di Ursyalim dekat bukit Muria, mencoba mendiagnosa kegagalan-kegagalan politik mereka dikancah International oleh Yoshihiro Francis Fukuyama.

Beliau adalah ilmuwan politik, ekonom politik, dan penulis Amerika Serikat.  Ia juga adalah anggota dewan International Forum for Democratic Studies yang didirikan oleh National Endowment for Democracy dan anggota departemen ilmu politik RAND Corporation.

Dalam rapatnya bersama petinggi-petinggi Amerika dan Zionis ia berkesimpulan:

“Peperangan software yang kita jalankan untuk menguasai perpolitikan dunia pada akhirnya akan dimenangkan oleh orang-orang Syiah.”

Akhirnya Zionis dan Amerika membuat sebuah Konferensi di Ursyalim yang terkenal dengan Konferensi Ursyalim.

Dengan data-data yang Ia punya, Fukuyama mulai memaparkan tema berjudul “Mengenal dan Mengetahui Esensi Syiah”. Dalam pembukaan rapatnya Fukuyama berkata, “Syiah adalah sebuah burung yang mana kepakan sayapnya begitu tinggi hingga senjata kita secanggih apapun tidak bisa menggapainya. Burung itu memiliki dua sayap. Sayap pertama berwarna Merah dan yang satunya berwarna Hijau.”

Kemudian Ia menjelaskan maksud sayap-sayap tersebut. Adapun Sayap Hijau adalah Mahdawiyah (Mahdiisme) dan harapan bumi ini akan dipenuhi keadilan diakhir zaman. Mahdiisme, Law and Justice yang dibawa sayap ini menjadikan orang-orang Syiah tidak akan pernah putus asa dalam bergerak, karena pada akhirnya kemenangan akan jatuh kepada mereka melewati Mahdi yang mereka tunggu.

Mengalahkan mereka tidak lain kita harus mengikis dan memotong keyakinan mereka terhadap Mahdiisme dengan kita buat Mahdi tandingan dalam tubuh mereka atau melencengkan keyakinan itu dengan keyakinan tandingan yang seolah itu dikatakan oleh Imam dan ulama mereka.

Sayap kedua yang berwarna merah adalah kerinduan mereka terhadap kesyahidan, yang mana akar pemikiran ini bersumber dari Karbalaisme dan Husainisme. Kebangkitan melawan kedzaliman, pantang hina, hidup mulia atau mati syahid, rela berkorban dan sifat-sifat heroik lainnya.

Husainisme dan Karbalaisme tidak bisa dikalahkan oleh politik, kebudayaan, ekonomi, sosial dan pernak-pernik gemerlap keduniaan. Selama kecintaan kepada Husain ibn Ali as dan kerinduan akan kesyahidan terpatri di dalam sanubari mereka, maka selama itu kita akan gagal dan tidak akan pernah berhasil.

Inilah makna “Muhammadiyatul Hudust wa Huseiniyatul Baqa” Islam Muhammadi akan selalu tegak dan abadi ketika Husainisme selalu diperingati dan hadir ditengah-tengah mereka. Ini ditegaskan oleh perkataan Nabi mereka yang mengatakan, “Ana min Husain” yaitu Risalah Muhammadi dan pengeksekusiannya dari Husainisme, Karbalaisme dan Mahdiisme sebagai keturunan Husain ibn Ali as.

Terakhir adalah burung ini selain memiliki dua sayap, Ia memiliki jubah atau Dzirah (baju besi) yang melindunginya,  mereka sebut dengan Wilayah Faqih. Seseorang yang memimpin dan mengomandoi mereka sebagai perpanjangan tangan Al-Mahdi sang Messiah terakhir kaum Syiah.

Kita sudah coba perang dengan mereka secara terbuka ketika kita menunggangi Irak selama 8 tahun, namun karena Wali Faqih, kita terpukul mundur dan tidak bisa menghancurkan revolusi seumur biji jagung tersebut. Padahal dari sisi militer, ekonomi dan politik seharusnya bisa dengan mudah dihancurkan. Begitu juga Hizbullah selain memiliki dua sayap itu, mereka tunduk patuh kepada Wali Faqih, penyebab kekalahan-kekalahan kita di negeri kawasan.

Hal pertama yang kita harus lakukan adalah menggeser dan menjauhkan Mahdiisme dari  pemikiran generasi mereka.

Hal kedua menjauhkan revolusi Husainisme dan Karbalaisme dari benak mereka dengan merubah image dan pesan Husaini sehingga mereka sedikit demi sedikit hanya mempringati kesyahidannya saja dan melupakan pesan intinya (menegakan keadilan dan memerangi segala bentuk kedzaliman).

Kita buat Image masyarakat benci terhadap Karbala dan Husainisme dengan memanfaatkan sekelompok fanatis dari mereka, lalu kita ekspos atau kita buat sekelompok yang brutal dan berdarah-darah memukuli kepala mereka, anak-anak dan istri-istri mereka dengan benda tajam. Sehingga masyarakat jijik dan menjauh dari pesan asli Husainisme dan Karbalaisme.

Hal ketiga masalah Wali Faqih, kita buat sekelompok dari kalangan mereka atau kita hasut mereka untuk membenci Wali Faqih. Kita biayai mereka agar jauh dari ketaatan kepada Wali Faqih. Masalah ini membutuhkan waktu dan diskusi yang panjang, karena kita harus menyusup ke hauzah-hauzah mereka, bertitle Ijtihad atau marja sehingga ketika diadukan dengan Wali Faqih memiliki bobot.

Sistem hauzah harus digeser sedikit demi sedikit, sehingga mereka kelak hanya fokus kepada ritual-ritual kesyahidan dan kelahiran Imam mereka. Sibukan mereka dengan kajian ilmiah yang berhubungan dengan perbedaan antara Sunni-Syiah. Kita tajamkan dimasalah ini, kalau perlu kita buat dari kalangan Syiah yang menajamkan perseteruan Sunni-Syiah dengan mencaci-maki dan menghina akidah dan orang-orang yang dikultuskan Ahlu Sunnah.

Untuk masalah agenda 50 tahun kedepan dan 100 tahun kedepan,  kita akan atur ulang dengan seksama sehingga tidak terjadi blunder dimasa yang akan datang.

Oleh: Yoshihiro Francis Fukuyama

Sumber: http://relawankebaikan.blogspot.com

 



Selasa, 04 Juni 2024

Mantan Direktur Mossad Israel Mengakui Bahwa Israel Mempersenjatai Teroris

 


Mantan Direktur Mossad Israel mengakui bahwa Israel mempersenjatai Al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya di Timur Tengah.

Ini bukan propaganda, tapi pengakuan jujur.


Kamis, 23 Mei 2024

Foto Para Pemimpin Perlawanan di Tehran Mengejutkan Zionis Israel

Foto para pemimpin perlawanan di Tehran mengejutkan Zionis Israel. Perlawanan Irak, Perlawanan Yaman, Perlawanan Suriah, Perlawanan Hizbullah, dan Perlawanan Palestina.

Rabu, 22 Mei 2024

Enam Skenario Media Israel, Terkait Gugurnya Presiden Iran

 

PM Rezim Zionis Benjamin Netanyahu


Kabar gugurnya Presiden Iran, sejak awal telah memperkuat persatuan nasional di Iran, tapi seperti biasanya, dalam peristiwa semacam ini, lembaga-lembaga propaganda, dan perang psikologis Israel, segera melakukan upaya perpecahan.

Sebagian skenario lembaga-lembaga propaganda Israel, adalah sebagai berikut:

1. Unjuk Kekuatan Palsu

Sejak hari gugurnya Presiden Iran, dan rombongan yang menyertainya, Israel, tidak berani mengeluarkan statemen resmi bahkan satu kalimat pun terkait kejadian tersebut. Akan tetapi beberapa akun media sosial tanpa nama asli yang kemungkinan dikelola oleh kebijakan, dan uang lembaga-lembaga perang psikologis Zionis, berusaha menganggap Israel, terlibat dalam kecelakaan pesawat yang menimpa Presiden Iran.

2. Menciptakan Perpecahan

Skenario-skenario media yang dilakukan oleh sebagian akun yang mengaku orang Iran, justru tidak memperkuat persatuan nasional, tapi malah menciptakan konflik kelompok, serta mengadu domba berbagai aliran pemikiran politik berbeda. Sebagian besar akun-akun ini adalah akun-akun media sosial tanpa nama, dan identitas.

3. Bisikan Setan untuk Memusuhi Negara Tetangga

Peningkatan hubungan Iran, dengan negara-negara tetangga merupakan kebijakan asli mendiang Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi, dan telah menghasilkan sejumlah capaian penting.

Peningkatan hubungan Iran, dan Republik Azerbaijan, serta dimulainya pemanfaatan Bendungan Qiz Qalasi, yang diresmikan pada hari Minggu oleh Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi, dan Presiden Republik Azerbaijan, Elham Aliyev, merupakan salah satu capaian dari kebijakan ini.

Meskipun demikian, kebijakan media Israel, sejak gugurnya Syahid Ebrahim Raisi, berusaha menghapus hubungan baik Iran dan Republik Azerbaijan, dengan menyebarluaskan berita-berita tanpa riset, tanpa bukti, dengan klaim-klaim tanpa bukti.

4. Teror Ketenangan Batin dengan Kebohongan Berulang

Hari Senin pagi, sebuah akun media sosial X, yang mengaku Badan Intelijen Israel, Mossad, dalam sebuah berita yang sama sekali tidak benar menulis, Brigjen Ahmadreza Radan, Kepala Kepolisian Nasional Iran, diteror. Ini adalah sebuah taktik berulang di tengah situasi seperti sekarang ini untuk menyerang ketenangan psikologis masyarakat Iran, dengan rumor serta kebohongan-kebohongan yang dikeluarkan silih berganti.

5. Menggambarkan Iran, Kacau padahal Sangat Solid

Republik Islam Iran, selama 45 tahun, beberapa kali mengalami peristiwa semacam ini, bahkan lebih berat dari itu. Tahun-tahun awal kemenangan Revolusi Islam, Ayatullah Syahid Beheshti, Ketua Mahkamah Agung Iran, kala itu, dan tidak lama kemudian Syahid Rajaei, dan Bahonar, Presiden, dan Perdana Menteri Iran, gugur.

Saat itu Iran, mampu melewati masa-masa sulit tersebut tanpa masalah, dan ketakutan, tapi garis perang psikologis Israel, sejak awal peristiwa terus memproduksi muatan-muatan yang mengatakan bahwa Iran, menghadapai masalah besar, dan krisis yang tidak bisa diselesaikan.

6. Kerusuhan daripada Pemilihan

Salah satu karakteristik Undang-Undang Dasar Iran, adalah sudah memprediksikan beragam kondisi yang mungkin terjadi di kemudian hari, dan mempersiapkan semua yang diperlukan untuk menghadapi kondisi-kondisi tersebut.

Di masa seperti sekarang ini, konstitusi Iran, telah menetapkan tahapan demokrasi apa yang mesti ditempuh untuk memilih presiden baru, tapi skenario-skenario Israel, sangat menginginkan instabilitas, dan kerusuhan daipada solidaritas, dan proses demokratis. Israel berusaha menyebarluaskan statemen-statemen keras dari beberapa kelompok oposisi Iran. (HS) 

Sumber: Parstoday Indonesia

Kamis, 16 Mei 2024

Surat dari Komunitas Kristen: Dukung Israel, Umat ​​​​Kristen Harus Bertobat!

 



Surat ini menyatakan, “Kami sangat menyarankan umat Kristen Barat untuk bergabung dengan kami di jalan ini. Kami juga mengingatkan diri kita sendiri dan sesama umat Kristiani bahwa Tuhan adalah Tuhan orang-orang yang tertindas dan tertindas, dan bahwa Yesus menegur mereka yang berkuasa dan meninggikan mereka yang tertindas.”

 

Tak lama setelah Israel mulai membom Gaza dan membunuh anak-anak tak berdosa, sebuah surat terbuka dari umat Kristen Palestina kepada para pemimpin gereja dan teolog Kristen Barat diterbitkan, yang, bersama dengan analisis rinci mengenai sikap salah di kalangan pemimpin Kristen Barat, mengungkapkan jalan menuju kebenaran bagi umat Kristiani.

 

Di sini kita meninjau bagian utama dari surat penting ini:

 

“Belajarlah melakukan yang benar; mencari keadilan; Belalah mereka yang tertindas” (Yesaya 17:1).

 

Kami, organisasi dan gerakan umat Kristen Palestina, yang menandatangani surat ini, memandang dengan sedih dan menyesal atas siklus baru kekerasan di tanah kami. Saat surat ini ditulis, sebagian dari kita kehilangan teman dan anggota keluarga dalam pemboman brutal Israel pada 19 Oktober 2023. Pemboman tersebut juga melibatkan warga Kristen yang mengungsi di Gereja Ortodoks Yunani bersejarah St. Porphyrios di Gaza. Kata-kata tidak dapat mengungkapkan keterkejutan dan kengerian kami atas perang yang sedang berlangsung di negeri kami.

 

Kami juga sangat prihatin bahwa nama Tuhan digunakan untuk mendukung kekerasan dan ideologi agama nasional.

 

Kami merasa ngeri menyaksikan dukungan yang tidak diragukan lagi dari banyak orang Kristen Barat terhadap perang Israel terhadap rakyat Palestina.

 

Kami menulis surat ini untuk menantang para teolog dan pemimpin gereja Barat yang secara tidak kritis mendukung Israel dan mengajak mereka untuk bertobat dan berubah.

 

Sayangnya, tindakan dan standar ganda dari beberapa pemimpin Kristen telah sangat merugikan agama Kristen.

 

Kami sedih dengan diamnya banyak pemimpin gereja dan teolog dalam menghadapi pembunuhan warga sipil Palestina. Kami juga terkejut bahwa beberapa orang Kristen di Barat menolak mengutuk pendudukan Israel yang sedang berlangsung di Palestina dan dalam beberapa kasus membenarkan dan mendukung pendudukan ini. Kami juga terkejut dengan legitimasi sebagian umat Kristiani atas serangan sembarangan Israel di Gaza.

 

Tentara Israel telah menggunakan taktik yang menyasar warga sipil, seperti menggunakan fosfor putih, memutus aliran air, bahan bakar dan listrik, serta membom sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah, termasuk pembantaian mengerikan di Rumah Sakit Anglikan-Baptis Al Ahli dan pemboman terhadap Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrios yang telah menghancurkan keluarga Kristen Palestina.

 

Selain itu, kami dengan tegas menolak tanggapan Kristen yang picik dan menyimpang yang mengabaikan konteks dan akar dari perang ini; penindasan sistematis Israel terhadap warga Palestina sejak pendiriannya, pembersihan etnis yang terus berlanjut di Palestina, dan pendudukan militer yang brutal dan rasis yang merupakan kejahatan apartheid Israel.

 

Ini adalah konteks penindasan yang mengerikan yang secara konsisten diabaikan oleh banyak teolog dan pemimpin Kristen Barat dan terkadang dilegitimasi dengan menggunakan berbagai teologi dan interpretasi Zionis.

 

Blokade brutal Israel terhadap Gaza selama 17 tahun terakhir telah mengubah jalur seluas 365 kilometer persegi itu menjadi penjara terbuka bagi lebih dari dua juta warga Palestina.

 

Kondisi kehidupan yang brutal dan menyedihkan di Gaza di bawah tekanan kuat dari Israel telah mendorong beberapa kelompok Palestina beralih ke perjuangan sebagai respons terhadap penindasan dan frustrasi.

 

Sayangnya, perlawanan tanpa kekerasan di Palestina yang menjadi komitmen kami mendapat penolakan, bahkan beberapa pemimpin Kristen di Barat melarang diskusi mengenai apartheid Israel, seperti yang dilaporkan dan dikonfirmasi oleh Human Rights Watch, Amnesty International.

 

Kita berulang kali diingatkan bahwa sikap Barat terhadap Palestina dan Israel dipengaruhi oleh standar ganda yang terang-terangan memanusiakan warga Yahudi Israel, tapi bersikeras melakukan dehumanisasi terhadap warga Palestina dan mencuci penderitaan mereka.

Standar ganda ini tampaknya mencerminkan wacana kolonial yang menggunakan Alkitab untuk membenarkan pembersihan etnis penduduk asli di Amerika, Oseania, dan tempat lain, perbudakan orang Afrika dan perdagangan budak di Atlantik, dan apartheid yang berlangsung selama beberapa dekade di Afrika Selatan.

 

Lebih jauh lagi, kita sadar akan warisan teori perang yang adil dari Kristen Barat, yang digunakan untuk membenarkan penjatuhan bom atom terhadap warga sipil tak berdosa di Jepang selama Perang Dunia II, kehancuran Irak dan populasi Kristen di negara tersebut dalam perang terakhir AS di Irak, begitu juga dukungan mutlak terhadap Israel digunakan untuk melawan Palestina atas nama superioritas moral dan “pertahanan diri”.

 

Beberapa orang Kristen telah menerima tradisi Zionis dan beberapa juga terlibat dalam peningkatan kebencian terhadap orang-orang Palestina yang kita lihat di banyak negara dan media Barat saat ini.

 

Kami sangat menyarankan umat Kristen Barat untuk bergabung dengan kami di jalan ini. Kami juga mengingatkan diri kita sendiri dan sesama umat Kristiani bahwa Tuhan adalah Tuhan orang-orang yang tertindas dan tertindas, dan bahwa Yesus menegur mereka yang berkuasa dan meninggikan mereka yang tertindas.

 

Oleh karena itu, kami sangat prihatin dengan kurangnya perhatian beberapa pemimpin dan pendeta Kristen Barat terhadap tradisi keadilan dan belas kasihan dalam Alkitab, yang pertama kali diajarkan oleh Musa (Ulangan 10:18; 16:18-20; 4:32) dan para nabi. (Yesaya 1 17:8; Mikha 2:1-3; Amos 5:10-24) dan diwujudkan dalam Kristus. (Mat 25:34–46; Lukas 1:51–53; 4:16–21).

 

Sumber:

 

- A Call for Repentance: An Open Letter from Palestinian Christians to Western Church Leaders and Theologians. ۲۰۲۳. Global Ministries.(sl)

 

-    Parstoday Indonesia