Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Pembebasan Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembebasan Palestina. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2025

Mengapa Iran Tidak Pernah Berhenti Mendukung Palestina




Jika dilihat secara geografis, Iran dan Palestina tidak berbatasan langsung. Secara kultural pun, Iran adalah bangsa Persia, sementara Palestina adalah bangsa Arab. Dari sisi mazhab, mayoritas rakyat Iran bermazhab Syiah, sedangkan mayoritas rakyat Palestina adalah Sunni. Secara logika politik konvensional, Iran seharusnya tidak punya kewajiban apapun untuk terlibat begitu jauh dalam perjuangan Palestina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Iran adalah negara yang paling konsisten dan berani membela Palestina, bahkan sejak kemenangan Revolusi Islam 1979 hingga hari ini.

Mengapa? Jawabannya bukan pada faktor etnis atau mazhab, tetapi pada keyakinan ideologis dan moral yang mendasari politik luar negeri Iran.

Sejak awal revolusinya, Imam Khomeini menegaskan bahwa perjuangan melawan kezaliman tidak mengenal batas negara, bahasa, maupun mazhab. Dalam pandangan beliau, Palestina bukan sekadar isu Arab, melainkan isu kemanusiaan dan keislaman. Karena itu, beliau menetapkan Hari Al-Quds pada Jumat terakhir bulan Ramadan, agar seluruh dunia Islam mengingat bahwa kemerdekaan Palestina adalah ukuran kehormatan umat.

Bagi Iran, membela Palestina berarti membela kebenaran melawan kezaliman, bukan membela kelompok tertentu. Iran tidak melihat apakah korban adalah Sunni atau Syiah, Arab atau non-Arab yang dilihat adalah bahwa rakyat Palestina ditindas, tanahnya dirampas, dan mereka diusir dari rumah mereka sendiri. Dalam pandangan Islam revolusioner Iran, diam di hadapan penindasan seperti itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Ilahi.

Dari situlah lahir konsep “Ummah” yaitu satu komunitas besar umat Islam yang melampaui sekat nasionalisme dan mazhab. Iran menjadikan Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan global dan arogansi kekuasaan. Dukungan Iran bukan sekadar diplomatik, tetapi juga moral, ekonomi, dan militer, karena mereka yakin kebebasan Palestina adalah bagian dari tanggung jawab agama dan kemanusiaan.

Jadi, Iran tidak mendukung Palestina karena kesamaan ras atau mazhab, tetapi karena kesamaan prinsip: melawan penindasan dan menegakkan keadilan. Seperti yang sering dikatakan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei:

“Palestina bukan isu taktis atau politik. Ia adalah masalah hati nurani, masalah iman, dan ujian bagi seluruh dunia Islam.”

Selama kezaliman masih ada, selama anak-anak Gaza masih dibom, selama Masjid al-Aqsa masih di bawah penjajahan, Iran tidak akan berhenti berdiri di sisi Palestina, bukan karena kesamaan darah, tapi karena kesamaan keyakinan bahwa kebenaran harus selalu diperjuangkan.

Long live resistance  (Ismail Amin Pasannai)

Sumber:

Senin, 11 Agustus 2025

Pahami Bosnia Agar Kamu Paham Soal Gaza!




"Serahkan senjata kalian, supaya kami bisa menyembelih kalian seperti menyembelih domba dan merebut tanah kalian…!!"

Oleh: Fahmi Huwaidi

Jika kamu tidak memahami Bosnia, kamu tidak akan memahami Gaza…!! Pahami dulu Bosnia, baru kamu akan mengerti Gaza dan apa yang terjadi di sana, sehingga kamu tidak akan heran…!!

Perang pemusnahan yang dilancarkan Serbia terhadap Muslim Bosnia mengakibatkan:
  • 300 ribu Muslim gugur syahid;
  • 60 ribu perempuan dan anak perempuan diperkosa;
  • 1,5 juta orang diusir dari rumah mereka.
Apakah kita mengingatnya? Ataukah kita sudah melupakannya? Atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang itu?

Seorang presenter CNN berbicara tentang peringatan pembantaian Bosnia, lalu bertanya kepada (Christiane Amanpour), wartawan terkenal:

Apakah sejarah sedang terulang?

Christiane Amanpour dari CNN berkomentar pada peringatan Bosnia:

"Itu adalah perang ala abad pertengahan — pembunuhan, pengepungan, dan kelaparan terhadap umat Islam, dan Eropa menolak campur tangan dengan alasan ‘perang saudara’, padahal itu hanyalah mitos belaka…!"

Holocaust itu berlangsung sekitar 4 tahun. Serbia menghancurkan lebih dari 800 masjid, sebagian dibangun sejak abad ke-16 M, dan membakar perpustakaan bersejarah Sarajevo.

PBB masuk dan memasang pos pemeriksaan di pintu masuk kota-kota Muslim seperti Gorazde, Srebrenica, dan Zepa, namun semua itu berada di bawah pengepungan dan tembakan, sehingga “perlindungan” itu tidak berarti apa-apa.

Serbia menahan ribuan Muslim di kamp-kamp konsentrasi, menyiksa dan membuat mereka kelaparan hingga tinggal tulang belulang.

Ketika seorang komandan Serbia ditanya, “Mengapa?” Ia menjawab: “Karena mereka tidak makan babi!”

Surat kabar The Guardian pada masa pembantaian Bosnia pernah memuat peta satu halaman penuh yang menunjukkan lokasi 17 kamp besar pemerkosaan terhadap perempuan Muslim, beberapa di antaranya berada di dalam wilayah Serbia sendiri.

Serbia memperkosa anak-anak — bahkan ada anak perempuan berusia 4 tahun. The Guardian memuat laporan berjudul: "Anak perempuan yang satu-satunya ‘kesalahan’-nya adalah ia seorang Muslim."

Jagal Ratko Mladic mengundang pemimpin Muslim di Zepa untuk rapat, memberinya sebatang rokok, tertawa bersama sebentar, lalu menerkamnya dan menyembelihnya.

Mereka melakukan kekejaman besar di Zepa dan warganya. Namun kejahatan paling terkenal adalah pengepungan Srebrenica. Tentara internasional bergaul dengan Serbia, berdansa bersama mereka, bahkan ada yang menukar kehormatan perempuan Muslim dengan sepotong makanan.

Serbia mengepung Srebrenica selama 2 tahun, tanpa henti dibombardir. Sebagian besar bantuan yang masuk dirampas oleh Serbia. Kemudian Barat memutuskan untuk menyerahkannya kepada “serigala” — batalion Belanda yang seharusnya melindungi Srebrenica malah bersekongkol dengan Serbia, memaksa Muslim menyerahkan senjata mereka dengan janji akan diberi keamanan. Setelah kelelahan dan penderitaan, Muslim pun menyerah.

Begitu Serbia merasa aman, mereka menyerbu Srebrenica, memisahkan laki-laki dari perempuan, mengumpulkan 12.000 laki-laki (remaja dan dewasa), lalu membantai semuanya dan memutilasi jenazah mereka.

Bentuk mutilasi termasuk: seorang Serbia berdiri di atas tubuh Muslim dan menggores wajahnya yang masih hidup dengan simbol salib Ortodoks (dari laporan Newsweek atau Time).

Beberapa Muslim bahkan memohon kepada Serbia agar segera dihabisi karena tidak tahan dengan siksaan.

Seorang ibu memegang tangan tentara Serbia, memohon agar anaknya tidak dibunuh. Serbia memotong tangannya, lalu memenggal leher anaknya di depan matanya.

Pembantaian itu berlangsung… Dan kita hanya melihat, mendengar, makan, bersenang-senang, dan bermain

Setelah membantai Srebrenica, jagal Radovan Karadzic masuk ke kota dengan bangga dan berkata:

"Srebrenica selalu milik Serbia, dan kini telah kembali ke pelukan Serbia."

Serbia memperkosa perempuan Muslim dan menahannya selama 9 bulan hingga melahirkan. Mengapa?

Seorang Serbia mengatakan kepada media Barat: “Kami ingin perempuan Muslim melahirkan bayi Serbia.”

Dan saat kita mengingat Bosnia, Sarajevo, Banja Luka, dan Srebrenica, kita tegaskan:

Kita tidak akan melupakan Balkan…
Kita tidak akan melupakan Granada…
Kita tidak akan melupakan Palestina…

Di sini kita harus mencatat dengan tinta aib — sikap memalukan Butros Ghali (sekjen PBB saat itu, yang beragama Ortodoks) yang secara terang-terangan memihak saudara-saudara seagamanya, Serbia.

Namun, 30 tahun kemudian, kita masih belum belajar dari sejarah…

Tambahan: Serbia memilih membunuh ulama, imam masjid, cendekiawan, dan pengusaha. Mereka mengikat, lalu menyembelih, dan membuang jasad mereka ke sungai.

Kisah sejarah tidak diceritakan kepada anak-anak supaya mereka tidur…

Tapi diceritakan kepada orang dewasa supaya mereka bangun.

Semoga Allah membalas kebaikan siapa pun yang membaca dan menyebarkannya.

Lalu sekarang datang orang-orang yang menyalahkan pihak yang “peka” itu sebagai penyebab perang dan memaksa mereka menyerahkan senjata?

Orang seperti itu lebih rendah akalnya dari binatang dan lebih rendah harga dirinya dari pada babi. (Mirza Ali Kumayl)

Sumber:


Kamis, 07 Agustus 2025

Makna dan Hakikat Islam Rahmatan Lil Alamin


Potret kelaparan di Gaza


Hari ini ketika ada ustadz atau da'i yang mengatakan dengan mulut yang berbusa, "Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin", ingin rasanya bersumpah serapah, "Rahmatan lil alamin apaan? Untuk memberi rahmat pada warga Gaza saja tidak mampu, boro-boro alam semesta...!"

Dulu mengapa orang-orang percaya pada Muhammad dan berbondong-bondong masuk pada Islam yang diajarkannya?
  • Ya karena duhulu Muhammad bukan hanya memberantas kesyirikan, tapi juga kemiskinan.
  • Dia bukan hanya memperbaiki akidah umat, tapi juga memperbaiki tatanan sosial yang tidak adil.
  • Dia bukan hanya membasmi penyakit masyarakat, tapi juga membasmi feodalisme yang menindas rakyat.
  • Dia bukan hanya memerangi kaum kafir Qurays tapi juga memerangi pengkhianatan dan kemunafikan di barisannya.
  • Dia bukan hanya mengajarkan Sunnah tapi juga mengajarkan kepedulian sosial.
  • Dia bukan hanya membangun masjid, tapi juga membangun solidaritas.
  • Dia bukan hanya memperluas wilayah, tapi juga memperluas keadilan.
  • Dia bukan hanya menyebarkan dakwah, tapi juga menegakkan hak-hak mustadh‘afin, mereka yang dilemahkan dan ditindas.
  • Hari ini, banyak yang mengaku mengikuti Sunnah Nabi, tapi justru membiarkan ketidakadilan tumbuh subur di sekelilingnya. Mengutuk LGBT siang malam, tapi bungkam terhadap penjajahan dan genosida. Mengkampanyekan poligami sebagai syariat, tapi melupakan syariat membela yang tertindas.
Padahal, Islam yang dibawa Muhammad bukan Islam yang menjinakkan jiwa untuk pasrah pada ketertindasan, tapi Islam yang membangkitkan kesadaran dan keberanian untuk melawan kebatilan. Bukan Islam yang hanya sibuk memisahkan laki-laki dan perempuan dalam pengajian, tapi Islam yang menyatukan mereka dalam satu barisan perjuangan menegakkan keadilan.

Jadi, jika hari ini kita melihat wajah Islam yang kaku, beku, dan tanpa nyawa, jangan salahkan Islamnya. Salahkan mereka yang telah memutilasi semangat revolusioner Islam, menjadikannya sebatas ritual tanpa arah, bacaan tanpa keberpihakan, dan ceramah tanpa keberanian.

Kita butuh kembali pada Islam Muhammad, Islam yang membuat penguasa takut dan orang miskin punya harapan. Islam yang tidak sekadar mengajari kita bagaimana masuk surga, tapi juga bagaimana menghadirkan secercah surga bagi mereka yang hidup dalam neraka dunia. Islam yang sibuk menyebarkan persatuan muslim dan ukhuwah, bukan Islam yang sibuk membuktikan yang lain selain kelompoknya pasti di neraka dan bukan Islam. (Ismail Amin Pasannai)

Sumber:

Jumat, 02 Agustus 2024

Ayatullah Khamenei: Rezim Zionis Buka Peluang Hukuman Berat Untuk Dirinya


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei dan Ismail Haniyeh


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, terkait teror Kepala Biro Politik Hamas mengatakan, Rezim Zionis sudah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (31/7/2024) mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin berani dan pejuang umat Islam, serta poros perlawanan, dan bangsa Palestina.

Rahbar menegaskan, "Rezim Zionis penjahat dan teroris, dengan aksi ini telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri, dan kami menganggap menuntut balas atas darah Ismail Haniyeh, yang gugur di dalam wilayah Republik Islam Iran, sebagai kewajiban kami."

Isi pesan Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

Bismillahirahmanirahim
Innalillahi wa inna ilahi rajiun

Rakyat mulia Iran

Pemimpin berani dan pejuang unggul Palestina, Tuan Ismail Haniyeh, kembali ke sisi Allah SWT, dan poros agung perlawanan berduka. Rezim Zionis penjahat dan teroris, menewaskan tamu mulia kami di rumah kami sendiri, dan membuat kami berduka, tapi Rezim Zionis telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya.

Syahid Haniyeh, selama bertahun-tahun telah mempertaruhkan nyawa berharganya di jalan perjuangan mulia, dan siap untuk gugur, dan menyerahkan putra-putra serta familinya di jalan ini.

Ia tidak pernah takut untuk gugur di jalan Tuhan, dan di jalan menyelamatkan hamba-hamba-Nya, tapi kami dalam peristiwa pahit dan sulit yang terjadi di wilayah Republik Islam Iran, menganggap menuntut balas atas darah beliau, sebagai kewajiban kami.

Saya mengucapkan belasungkawa kepada umat Islam, poros perlawanan, kepada bangsa berani dan terhormat Palestina, terutama keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan atas gugurnya Syahid Haniyeh, dan salah satu pengawalnya. Saya memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kedudukan tinggi kepada mereka.

Sayid Ali Khamenei

31 Juli 2024 (25 Muharam 1446 Hijriah)

Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, sebelumnya mengumumkan, Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas, dan salah satu pengawalnya gugur dalam sebuah serangan ke kediamannya di Tehran, Rabu (31/7) pukul 2 dinihari. (HS).

Sumber: Parstoday Indonesia

Minggu, 07 Juli 2024

Imam Khomeini dan Perjuangan Palestina




Hari Asyura tahun 1383 H bertepatan dengan tanggal 3 Juni 1963. Imam Khomeini naik mimbar di Seminari Faizieh di Qom. Dalam khotbah gemilangnya yang mengkritik keras rezim Pahlavi, ia menarik perhatian semua orang pada satu pokok yang menjadi fondasi dasar gerakan revolusionernya, yakni perjuangan melawan Israel. Itulah rezim yang menurutnya telah menciptakan tragedi di dunia Islam dengan merampas Palestina. Dalam pidato yang terkenal itu, Imam Khomeini memperingatkan orang-orang tentang bahaya Israel, rezim yang berusaha menghancurkan Islam, Al-Qur'an, dan ulama. Ia juga menjelaskan hubungan yang dimiliki pemerintahan Shah dengan rezim Israel. Meskipun tanggal tersebut dianggap sebagai titik awal gerakan revolusioner Imam, akar pidato Imam tentang Palestina dan pendudukan Israel di sana bermula dari masa sebelumnya. Pada bulan Maret 1963, Imam Khomeini menulis surat tentang bahaya Israel kepada berbagai serikat dan asosiasi di Qom sebagai tanggapan atas pertanyaan mereka. Ia menulis, “Karena kewajiban agama saya, dengan ini saya memperingatkan rakyat Iran dan umat Islam di seluruh dunia bahwa Al-Qur'an dan Islam berada dalam bahaya. Kemerdekaan negara kita dan ekonominya berada dalam bahaya direbut oleh kaum Zionis. Dengan diamnya kaum Muslim, tidak akan lama lagi mereka [kaum Zionis] akan menghancurkan eksistensi bangsa Muslim dalam segala aspeknya.”

Masalah Palestina dan perilaku jahat Israel selalu menjadi topik yang dibicarakan Imam Khomeini dalam pidato-pidatonya, karena hal itu sangat penting baginya. Imam menganggap meningkatnya kekuatan Israel dan penaklukan negara-negara Muslim di tangan rezim brutal ini sebagai penghancuran Islam dan Al-Qur'an. Ketika Perang Arab-Israel ketiga meletus pada tahun 1973, Imam menyampaikan pesan kepada pemerintah-pemerintah Islam dan negara-negara Muslim yang menekankan perlunya menjaga persatuan. Ia menyerukan kepada mereka untuk mengumpulkan semua kekuatan mereka guna memerangi Israel. Dalam surat ini, Imam Khomeini merangkum mekanisme-mekanisme yang terlibat dalam perang melawan Israel dalam beberapa kategori, dan ia mengumumkannya kepada masyarakat Muslim pada umumnya. Mekanisme-mekanisme ini meliputi: Dukungan komprehensif untuk garis depan pertempuran melawan Israel.
  1. Menghindari perbedaan dan kemunafikan yang merusak diri sendiri.
  2. Tidak takut terhadap kekuatan fiktif para pembela Zionisme.
  3. Persatuan antara pemerintahan Islam dan menegur, mengancam dan memutus hubungan dengan negara mana pun yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
  4. Mengirimkan bantuan material dan spiritual oleh negara-negara Muslim seperti darah, obat-obatan, makanan, dll. ke medan perang.
Padahal, Imam Khomeini menegaskan bahwa menjaga persatuan untuk pembebasan Palestina adalah jalan utama dan terpenting untuk meraih kemenangan. Sebab, ia tidak yakin bahwa tujuan negara-negara kolonial besar mendirikan Israel hanya untuk menduduki Palestina. Imam meyakini, jika Israel dibukakan jalan, semua negara Muslim pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Palestina. Itulah sebabnya Imam Khomeini mengibaratkan Israel sebagai tumor kanker, dan ia mengatakan bahwa pemberantasannya segera adalah kewajiban bagi semua Muslim.

Karena perlunya persatuan bangsa Islam dalam memerangi Israel, Imam Khomeini tidak menyia-nyiakan segala upaya – baik dalam pidato-pidatonya dan rekomendasi-rekomendasi yang diberikannya kepada bangsa-bangsa Muslim maupun dalam tindakan-tindakan yang diambilnya dalam hal ini. Pada tanggal 7 Agustus 1979, ia menyampaikan pidatonya di hadapan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia dengan cara berikut, “Saya menyerukan kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia dan pemerintah-pemerintah Islam untuk bersatu dalam memotong tangan perampas kekuasaan ini [Israel] dan para pendukungnya. Saya mengajak seluruh umat Muslim untuk memilih hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, yang merupakan waktu terjadinya Malam-Malam Takdir dan yang dapat menentukan nasib orang-orang Palestina, sebagai 'Hari Quds.' Sebuah upacara harus diadakan pada hari ini untuk mendeklarasikan solidaritas internasional umat Muslim dalam mendukung hak-hak hukum umat Muslim.” Sebenarnya, penetapan Hari Quds bukan sekadar untuk menentukan simbol yang mewakili pengorbanan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Muslim untuk salah satu cita-cita terbesar Islam. Tujuannya juga untuk menghidupkan kembali semangat Islam dan kewaspadaan masyarakat Islam. Ini terjadi pada saat para pemimpin negara-negara Muslim berpikir untuk merangkul Israel dan beberapa di antaranya sudah bangga dengan afiliasi mereka dengan rezim Zionis!

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel pada tahun 1967 yang menyebabkan Mesir kehilangan gurun Sinai, pukulan telak menimpa badan pemerintahannya. Anwar Sadat, yang memperoleh kekuasaan di Mesir setelah Gamal Abdel Nasser, datang ke meja perundingan dengan Israel pada tahun 1978 untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Negosiasi tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat di Camp David. Sadat secara resmi mengakui Israel dan merebut kembali wilayahnya.

Sebelum peristiwa ini, Imam Khomeini telah menghabiskan 20 tahun memperingatkan semua negara Islam tentang bahaya berkompromi dengan Israel. Karena itu, ia menganggap langkah Anwar Sadat sebagai tindakan pengkhianatan terhadap umat Islam dan Palestina. Mengakui Israel berarti mengekspresikan solidaritas dengan pemerintahannya yang curang, dan itu juga berarti memisahkan jalan seseorang dari jalan perjuangan. Tentu saja, tindakan ini bertentangan dengan jalan yang selalu ditekankan Imam Khomeini. Imam percaya bahwa Camp David memecah belah negara Islam. Ia juga menganggapnya sebagai sarana untuk memperkuat front Israel – yang apinya akan menelan tidak hanya orang Palestina tetapi semua negara di Timur Tengah. Karena Imam Khomeini percaya Perjanjian Camp David adalah pakta pengkhianatan, pada 11 Mei 1979, ia mengeluarkan perintah untuk memutuskan hubungan diplomatik antara Republik Islam Iran dan pemerintah Mesir.

Setelah Imam kehilangan harapan pada pemerintahan Arab, ia beralih ke negara-negara Muslim. Ia menyerukan mereka untuk bersatu di jalan pembebasan Palestina dan memerangi rezim pendudukan di Quds. Ia juga mendesak umat Islam untuk memisahkan diri dari jalan yang ditempuh oleh pemerintah yang telah berkompromi dengan rezim Israel. Dalam sebuah pesan yang dikeluarkan selama haji tahun 1987, ia menyampaikan pesan kepada umat Islam di seluruh dunia dan para jamaah haji sebagai berikut, “Negara-negara Muslim harus berpikir untuk menyelamatkan Palestina. Mereka harus mengungkapkan rasa jijik dan benci mereka terhadap cara-cara kompromi dari para pemimpin yang memalukan dan mementingkan diri sendiri, yang atas nama Palestina, telah menghancurkan aspirasi rakyat di tanah yang diduduki dan umat Islam di wilayah ini. Negara-negara Muslim seharusnya tidak membiarkan para pengkhianat ini mencoreng prestise, reputasi, dan kehormatan bangsa Palestina yang heroik di meja perundingan.” Setelah itu, setiap kali Imam Khomeini melihat adanya tindakan kompromi dari para pemimpin negara-negara Islam, ia akan mengkritik mereka dan mengingatkan mereka tentang tingginya tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh Israel. Namun, hanya sedikit yang mau mendengarkan nasihat ini. Maka di mata Imam, kaum Muslimin di dunia yang terpisah dari pemerintah mereka berubah menjadi satu-satunya pejuang dalam pertempuran melawan Israel.

Imam Khomeini (ra) memperkenalkan Palestina sebagai poros persatuan umat Islam. Selama hidupnya yang penuh dengan perjuangan, tidak ada satu momen pun di mana ia berhenti menyebarkan kesadaran tentang pentingnya masalah Palestina dan perilaku jahat Israel. Imam Khamenei berkata, “Salah satu elemen utama [mazhab Imam Khomeini] adalah bergegas membantu mereka yang tertindas dan menentang penindas. Di era kita, di masa kita, rakyat Palestina adalah contoh dari mereka yang tertindas. Seperti yang Anda lihat, dari hari pertama hidupnya hingga hari terakhir, Imam menekankan dan mendukung masalah Palestina. Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran dan para pejabatnya untuk tidak lupa: membantu yang tertindas dan menentang penindas, meniadakan tipu daya penindas, dengan tegas membantah dan menghancurkan kebesaran dan keagungan penindas.” [4 Juni 2014]

Bahkan dalam teks terakhir namun abadi yang ditinggalkan Imam – wasiat politik-ilahinya – ia memberikan perhatian khusus pada masalah Palestina dan perlunya untuk melawan dan menentang Israel. Seperti biasa, ia mencoba menjelaskan tujuan dan alasan di balik mengapa rezim penipu ini didirikan. Dalam wasiat politik-ilahinya, Imam Khomeini menyatakan bahwa negara-negara Muslim harus bangga dengan kenyataan bahwa musuh mereka adalah musuh Tuhan Yang Maha Pengasih, Al-Qur'an Suci, dan Islam. Ada sebagian orang yang fantasi bodohnya untuk mewujudkan "Israel Raya" menyebabkan mereka membakar seluruh dunia. Untuk mencapai keinginan serakah mereka, mereka melakukan kejahatan yang terlalu memalukan untuk ditulis atau dibicarakan. Dalam hal ini, apa yang Imam Khomeini anggap sebagai solusi bagi orang-orang tertindas di dunia dalam menghadapi kebuntuan di depan, adalah untuk tidak bergantung pada Timur atau Barat. Sebaliknya, mereka harus mengikuti budaya politik, sosial, ekonomi, dan militer dari pemandu terbesar umat manusia, yaitu, para Imam Maksum.

Sumber: khamenei.ir