Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 11 Oktober 2025

Mengapa Iran Tidak Pernah Berhenti Mendukung Palestina




Jika dilihat secara geografis, Iran dan Palestina tidak berbatasan langsung. Secara kultural pun, Iran adalah bangsa Persia, sementara Palestina adalah bangsa Arab. Dari sisi mazhab, mayoritas rakyat Iran bermazhab Syiah, sedangkan mayoritas rakyat Palestina adalah Sunni. Secara logika politik konvensional, Iran seharusnya tidak punya kewajiban apapun untuk terlibat begitu jauh dalam perjuangan Palestina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Iran adalah negara yang paling konsisten dan berani membela Palestina, bahkan sejak kemenangan Revolusi Islam 1979 hingga hari ini.

Mengapa? Jawabannya bukan pada faktor etnis atau mazhab, tetapi pada keyakinan ideologis dan moral yang mendasari politik luar negeri Iran.

Sejak awal revolusinya, Imam Khomeini menegaskan bahwa perjuangan melawan kezaliman tidak mengenal batas negara, bahasa, maupun mazhab. Dalam pandangan beliau, Palestina bukan sekadar isu Arab, melainkan isu kemanusiaan dan keislaman. Karena itu, beliau menetapkan Hari Al-Quds pada Jumat terakhir bulan Ramadan, agar seluruh dunia Islam mengingat bahwa kemerdekaan Palestina adalah ukuran kehormatan umat.

Bagi Iran, membela Palestina berarti membela kebenaran melawan kezaliman, bukan membela kelompok tertentu. Iran tidak melihat apakah korban adalah Sunni atau Syiah, Arab atau non-Arab yang dilihat adalah bahwa rakyat Palestina ditindas, tanahnya dirampas, dan mereka diusir dari rumah mereka sendiri. Dalam pandangan Islam revolusioner Iran, diam di hadapan penindasan seperti itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Ilahi.

Dari situlah lahir konsep “Ummah” yaitu satu komunitas besar umat Islam yang melampaui sekat nasionalisme dan mazhab. Iran menjadikan Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan global dan arogansi kekuasaan. Dukungan Iran bukan sekadar diplomatik, tetapi juga moral, ekonomi, dan militer, karena mereka yakin kebebasan Palestina adalah bagian dari tanggung jawab agama dan kemanusiaan.

Jadi, Iran tidak mendukung Palestina karena kesamaan ras atau mazhab, tetapi karena kesamaan prinsip: melawan penindasan dan menegakkan keadilan. Seperti yang sering dikatakan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei:

“Palestina bukan isu taktis atau politik. Ia adalah masalah hati nurani, masalah iman, dan ujian bagi seluruh dunia Islam.”

Selama kezaliman masih ada, selama anak-anak Gaza masih dibom, selama Masjid al-Aqsa masih di bawah penjajahan, Iran tidak akan berhenti berdiri di sisi Palestina, bukan karena kesamaan darah, tapi karena kesamaan keyakinan bahwa kebenaran harus selalu diperjuangkan.

Long live resistance  (Ismail Amin Pasannai)

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar