Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Perayaan Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perayaan Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2025

Keluarga Nabi Pulang ke Madinah




Di hamparan gurun yang tak bertepi, ranting zaitun bergemerisik dalam hembusan angin senja. Suaranya bagai rentetan dawai biola yang retak, melantunkan simfoni duka yang membelah keheningan sahara. Setiap helai daun yang bergetar membisikkan berita yang mengguncang langit dan bumi—sebuah tragedi yang akan mengubah warna sejarah untuk selamanya.

Angin kering bertiup kencang, membawa serta desahan sendu yang menembus gerbang-gerbang Madinah al-Munawwarah. Hembusan itu menyapu jalanan, merayapi sudut-sudut pasar, hingga akhirnya berhenti di ambang altar suci—pusara Sang Kekasih Allah. Di sana, ketenangan yang selama ini menyelimuti kota suci mulai terguncang oleh firasat yang tak tertahankan.

Warga Madinah mulai bergumam gelisah. Satu per satu mereka meninggalkan timbangan dagang, mencangkul terakhir di ladang, dan berhamburan menuju gerbang kota dengan hati yang berdebar. Kabar itu telah sampai: kafilah putri-putri Muhammad sedang dalam perjalanan pulang. Namun ini bukanlah kepulangan yang penuh suka cita—ini adalah kepulangan yang diliputi kelabu mendung.

Ketika kafilah itu akhirnya memasuki gerbang kota, seluruh penduduk Madinah seakan membeku dalam keheningan yang menghanyutkan. Kepala-kepala yang biasanya tegak dengan penuh kebanggaan, kini serempak merunduk dalam gelisah yang mendalam. Mereka menghormat kilau wibawa yang masih terpancar dari para putri Rasulullah, meski kini wibawa itu terbungkus dalam selubung duka yang tebal.

Derap kaki kuda menggema di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi. Setiap langkah adalah pukulan pada hati yang sudah terluka. Khalayak semakin ramai berjejal, membentuk lorong manusia yang memanjang hingga ke beranda masjid suci. Tangis haru bersinambung dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, menciptakan paduan suara duka yang mengguncang fondasi kota.

Kafilah bergerak maju dengan perlahan, membelah kerumunan seperti perahu yang mengarungi lautan air mata. Para dewi Karbala—putri-putri mulia yang telah menyaksikan kehancuran di tanah yang gersang itu—turun dari punggung kuda dengan langkah-langkah yang lamat dan penuh makna. Setiap jejak kaki mereka di tanah Madinah adalah saksi bisu dari tragedi yang telah menimpa keluarga Nabi.

Warga bergerak dalam khidmat yang luar biasa, membentuk pawai hitam pekat yang memenuhi setiap sudut kota. Langit seakan ikut berkabung, menghitam lebih pekat dari biasanya. Sejarah mencatat dengan tinta merah darah yang telah tertumpah di Karbala. Gelombang tangis berdebur seperti ombak yang tak pernah reda, menghantam setiap hati yang masih memiliki nurani.

Iringan berhenti di ambang kawasan pusara suci. Di sana, waktu seakan berhenti berdetak. Ada upacara khusus yang tak pernah terbayangkan sebelumnya—upacara pertemuan antara yang hidup dan yang telah kembali kepada Sang Khaliq. Ada pelepasan rindu yang telah terbendung selama perjalanan panjang dari Karbala ke Madinah.

Di sana, batu-batu nisan retak dalam genggaman tangan kurus yang gemetar—tangan-tangan yang telah kehilangan segalanya namun masih berusaha meraih kedamaian terakhir. Ada yang roboh tak berdaya, meraung-raung mengeluhkan lara yang tak terperi. Suara tangisan mereka memecah keheningan malam, menciptakan lagu duka yang akan dikenang sepanjang masa.

Ada yang merangkak lunglai menggapai pusara, seakan berharap dapat merasakan kehangatan pelukan terakhir dari sang kakek tercinta. Ada yang bergulung-gulung di samping makam, mencari penghiburan dalam dinginnya batu nisan. Ada bidadari dunia yang pingsan karena tak mampu lagi menahan beban duka yang menumpuk di dada.

Ada yang kehabisan kata dan air mata, terdiam dalam kebisuan yang lebih bersuara daripada jeritan paling keras. Ada merpati luka yang tergeletak di sana—simbol kedamaian yang telah tercabik oleh kejamnya realita. Ada danau air hangat yang berderai di depan nisan, terbentuk dari jutaan tetes air mata yang jatuh tanpa henti.

Ada tembang aneh yang mengalun lirih di bilik-bilik hati—melodi duka yang tak pernah ada sebelumnya, namun langsung dipahami oleh setiap jiwa yang mendengarnya.

Ummu Kultsum, putri Ali dan Fatimah, roboh tak berdaya di depan makam kakeknya. Suaranya bergetar dalam bisikan yang memilukan hati:

“Assalamu alaika, ya Jaddi! Salam sejahtera untukmu, wahai kakek tercinta! Oh, betapa kami tersiksa oleh rindu yang mendalam kepadamu! Aku adalah seorang wanita yang kini tanpa pelindung, tanpa saudara, tanpa harapan di dunia yang kejam ini! Jika engkau mengizinkan, bawalah aku bersamamu ke alam yang penuh kedamaian!”

Sukainah, si kecil yang telah menyaksikan kekejaman yang tak pantas dilihat oleh mata seorang anak, memeluk pusara dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Suaranya yang lirih namun penuh kemarahan mengadu:

“Assalamu alaika, ya Rasulullah! Salam sejahtera atasmu, wahai utusan Allah yang mulia! Kami sungguh kesepian dan sengsara di dunia ini! Umatmu—mereka yang mengaku mencintaimu—telah membunuh putramu dan menganiaya putri-putrimu dengan kejam yang tak terperi!”

Zainab al-Kubra, wanita yang telah menjadi simbol keteguhan dan kesabaran, kini lunglai memeluk makam kakeknya. Suaranya memekik pilu, memecah keheningan malam dengan ratapan yang akan dikenang sepanjang zaman:

“Assalamu alaika, ya Jaddi al-Habib! Salam rindu yang mendalam untukmu! Inilah kami, wanita-wanita dari keluargamu, datang dalam keadaan yang hina dan terluka! Kami datang untuk mengadukan derita yang tak terperi!

Al-Husain—cahaya hati dan matamu, kebanggaan Fatimah az-Zahra, penerus risalahmu—telah diinjak-injak oleh ratusan kaki kuda di tanah Karbala yang berdarah! Al-Husain, cucu kesayanganmu, telah dipenggal dengan keji. Lehernya digorok perlahan-lahan oleh tangan-tangan yang tak mengenal belas kasihan. Sorbannya yang suci telah dikoyak-koyak seperti kain murahan. Jubahnya yang penuh berkah telah dilucuti oleh orang-orang yang dengan lancang mengaku sebagai umatmu. Mereka yang seharusnya melindungi keluargamu, justru menjadi pembunuh dan perampok yang tak berperikemanusiaan!

Ya Rasulullah, kami datang untuk mengadu dan menyampaikan bela sungkawa kepadamu, kepada az-Zahra yang suci, kepada Amirul Mukminin Ali! Lihatlah apa yang telah mereka lakukan terhadap darah dagingmu!”

Meledaklah Tangis Khalayak di Altar Masjid Nabawi

Suara isakan bercampur dengan lantunan takbir yang memilukan. Fitrah manusia seakan berkabung, menangisi kezaliman yang telah menimpa keluarga Nabi. Takbir “Allahu Akbar” membahana di angkasa, bersusul dengan pekik “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang bergema di setiap sudut kota.

Malam itu, Madinah menangis. Bintang-bintang seakan redup, ikut berduka atas tragedi yang telah mengoyak hati umat. Angin malam membawa doa-doa yang terputus-putus, harapan-harapan yang hancur, dan tekad baru yang mulai tumbuh dari dalam derita.

Dari Karbala, mereka membawa lebih dari sekadar cerita tentang kematian. Mereka membawa pesan tentang keberanian untuk tetap tegak dalam menghadapi kezaliman, tentang cinta yang tak pernah padam meski diuji dengan cara yang paling kejam, dan tentang harapan yang tetap menyala meski diselimuti kegelapan yang pekat.

Karbala bukan hanya sebuah nama tempat. Karbala adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, adalah saksi bisu tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kebenaran, dan adalah pengingat abadi bahwa cinta sejati tidak pernah mati, meski tubuh yang dicintai telah kembali kepada Sang Pencipta.

Malam itu, dalam tangis dan doa, dalam duka dan harapan, sejarah menulis babak baru. Babak tentang bagaimana cinta dapat bertahan menghadapi ujian terberat, tentang bagaimana kebenaran akan tetap bersinar meski diselimuti kegelapan, dan tentang bagaimana pengorbanan yang tulus akan menjadi cahaya yang menerangi jalan generasi-generasi yang akan datang.

Dari Karbala, mereka pulang. Bukan sebagai yang kalah, tetapi sebagai yang telah memberikan segalanya untuk cinta dan kebenaran. Dan dalam setiap air mata yang jatuh di pusara Nabi, dalam setiap doa yang terlafal di malam itu, tumbuh benih-benih harapan baru yang suatu hari akan mekar menjadi bunga keadilan yang harum mewangi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sumber:

Rabu, 17 Juli 2024

Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah



Menjadi "insan ilahiyah" tidak butuh pengakuan, tidak butuh deklarasi dan gembar-gembor di hadapan khalayak ramai. Karakter manusia ilahiyah, pengikut kebenaran sudah terpateri dalam dada dan sanubari seseorang tanpa harus teriak-teriak mencari pengakuan.

Begitupun sebaliknya, untuk menjadi manusia durjana, musuh kebenaran, pengikut Iblis, sangat gampang bagaikan membalikkan telapak tangan.

Lihatlah kenyataan yang terang benderang dalam peristiwa "Tragedi Asyura" yang menimpa Imam Husein as dan keluarga suci Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau as.

Lihatlah, manusia-manusia iblis pembantai keluarga suci Nabi Saw itu, pada mulanya banyak yang penganut muslim shaleh, mereka ikut berperang bersama pasukan Imam Ali bin Abi Thalib as, ayah Imam Husein as dalam membela kebenaran, dan sangat mengenal sekali siapa itu Imam Husein as.

Lihatlah, para manusia iblis musuh Allah, musuh kebenaran pembantai keluarga ilahiyah, keluarga suci kenabian itu, pada awalnya adalah banyak dari "Syiah" Imam Husein as, yang mengundang beliau as untuk datang ke Kufah. Akan tetapi karena godaan duniawi atau pun ancaman pedang penguasa dzalim, mereka berbalik menghunuskan pedang- pedang mereka kepada Imam Husein as.

Pada 10 Muharam itu, Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, membolak-balikkan hati manusia bagaikan membalik telapak tangan, dari manusia penganut muslim shaleh menjadi manusia durjana musuh Allah yang terpuruk ke dasar jurang kehinaan.

"Malam Deklarasi Manusia Husainiyah, sebagai Manusia Pengikut Kebenaran, pengikut Kenabian"

Sementara itu, di pihak Imam Husein as, para sahabat dan pengikut Imam Husein as justru menggambarkan representasi kelompok karakter "manusia ilahiah" yang memegang komitmen kuat terhadap nilai kemanusiaan, ketaatan, kesetiaan, persahabatan, pengabdian dan kecintaan kepada pemimpin, keyakinan kepada kebenaran, semua itu ditunjukkan secara gamblang oleh para sahabat dan pengikut Imam Husein as.

Kita lihat, di malam Asyura, malam ke 10 Muharam, dalam kegelapan malam yang mencekam, setelah sebelumnya terdengar alunan kalam ilahi, Imam Husein as untuk terakhir kali mengumpulkan seluruh sahabat dan pengikutnya.

Dalam kegelapan malam itu, Imam Husein as berkata kepada para pengikutnya:

"Wahai para pengikut setiaku, besok adalah hari terakhir kita bisa berkumpul, besok kematian akan menjemput kita semua". Yang mereka cari adalah diriku, kematianku, mereka tidak memburu kalian".

"Aku ridha jika kalian meninggalkan aku malam ini, telah kulepaskan bai'at kalian agar bisa pergi dariku dalam kegelapan malam ini. Bawalah sanak saudara kalian dan kembalilah ke keluarga kalian, aku ridha".

Apa jawaban mereka, para pengikut Imam Husein as? Mereka semua menolak untuk meninggalkan Imam mereka.

"Bagamana aku akan menjumpai datukmu Rasulullah kelak jika aku meninggalkanmu, ya Imam? Mau ditaruh dimana mukaku di hadapan Rasulullah ya Imam? Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, ya Imam".

"Seandainya besok aku mati dicincang pedang dan dihidupkan kembali sampai 70 kali, aku tetap akan bersamamu, ya Imam".

Mereka tetap teguh memilih berjalan bersama Imam Husein as menjemput syahada, mereka memilih menjadi manusia pembela kebenaran, pembela kenabian, mereka memilih menjadi kelompok kanan seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an. Sedangkan musuh-musuh mereka adalah golongan kiri.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa umat manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kanan dan kiri.

"Golongan kanan" berisi manusia-manusia mulia, pengikut kebenaran. Sedangkan "golongan kiri" berisi manusia-manusia pengikut kebatilan, golongan manusia pengingkar ayat-ayat Allah Swt.
Allah SWT berfirman:

ูَุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ ۙ ู…َุงۤ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ

"Fa ash-haabul-maimanati maaa ash-haabul-maimanah"

"yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu." (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat

ูˆَุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ ۙ ู…َุงۤ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ

"wa ash-haabul-masy`amati maaa ash-haabul-masy`amah"

"dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu," (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 9).

ุงُูˆู„ٰุٓฆِูƒَ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َูŠْู…َู†َุฉِ

"ulaaa`ika ash-haabul-maimanah"

"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (QS. Al-Balad 90: Ayat 18).

ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูƒَูَุฑُูˆْุง ุจِุงٰูŠٰุชِู†َุง ู‡ُู…ْ ุงَุตْุญٰุจُ ุงู„ْู…َุดْุฆَู€ู…َุฉِ

"wallaziina kafaruu bi`aayaatinaa hum ash-haabul-masy`amah"

"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri."

ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู†َุงุฑٌ ู…ُّุคْุตَุฏَุฉٌ

'alaihim naarum mu`shodah"

"Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat." (QS. Al-Balad 90: Ayat 19-20).

Semoga mencerahkan.

Paris Van Java 160724.

Husein, Imam Pembebasan Dunia, Bangkit Demi Memperbaiki Umat Nabi Muhammad Saw





Husein bin Ali, seorang anggota keluarga dan cucu Nabi Muhammad Saw, sebelum melakukan perlawanan berkata, "Saya tidak bangkit dari aorgansi, korupsi, dan ketidakadilan, saya hanya berdiri untuk memperbaiki urusan umat kakekku".

Tidak ada orang seperti Imam Husein yang bersemayam di hati orang-orang yang bebas dan mencintai kebebasan di dunia. beliau adalah teladan spiritualitas dan ketulusan, keberanian dan pengusung keadilan dan anti-tirani, dan pada saat yang sama, penuh pengabdian.

Dalam artikel Parstoday ini, kita melihat kehidupan dan pemikiran Imam Husein.

Hussain, Ahlul Bait dan cucu Nabi Muhammad saw, dan putra Sayidah Fatimah putri Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syi'ah , lahir pada tahun keempat Hijriah di kota Madinah.

Imam Husein adalah salah satu Ahlul-Bait Nabi, yang disinggung dalam ayat Tathir dalam al-Quran mengenai orang-orang yang suci dari dosa. Beliau mengerahkan segala dayanya untuk memulihkan moralitas, kemanusiaan, dan kebebasan.

Menurut laporan sejarah Syiah dan Sunni, Nabi Muhammad Saw mengumumkan kesyahidannya ketika ia dilahirkan, dan memilih nama Husein untuknya. Selain posisinya sebagai Imam ketiga dan pemimpin syuhada di kalangan Syiah, juga di kalangan Sunni, Imam Husein dikenal karena keutamaan yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw dan juga dihormati karena pendiriannya melawan penguasa yang kejam di zamannya, Yazid bin Muawiyah.

Peringatan Asyura di Makam Shahcheragh, Shiraz, Iran

Imam Husein sangat keberatan dengan kinerja Muawiyah, raja Dinasti Bani Umayyah saat itu. Beliau menolak berjanji setia kepada Yazid (putra Muawiyah) dalam urusan jabatan khalifah. Imam Husein menyebut Yazid sebagai orang yang kejam, menindas, dan tidak kompeten dengan perilaku anti kemanusiaan dan anti sosial.

Imam Husein memandang kekhalifahan sebagai kedudukan ilahi dan meyakini bahwa penjaga masyarakat harus menauladani Nabi Muhammad saw. Setelah kematian Muawiyah, Yazid menekan Imam Husain untuk berbaiat, bahkan akan membunuhnya, jika menolak untuk berjanji setia.

Akhirnya Imam Husain berangkat ke Mekkah dari kota Madinah karena tekanan dari antek-antek Yazid dan tentara bayarannya. Selama empat bulan tinggal di Mekkah, beliau juga menerima banyak permintaan dan surat dari masyarakat Kufah untuk menerima jabatan Khalifah. Dengan mengikuti permintaan tersebut, Imam Husein mengirimkan utusannya Muslim bin Aqil ke Kufah. Muslim membenarkan dukungan orang-orang Kufi dan Imam berangkat ke kota ini. Tapi di sisi lain, Yazid juga mengirimkan pasukan untuk menghadapi Imam Husein.

Upacara berkabung Asyura di Afghanistan

Akhirnya kedua belah pihak saling bertemu pada hari kedua Muharram tahun 61 H di gurun Karbala. Sementara itu, masyarakat Kufah tidak berpegang teguh pada kesepakatan mereka dengan Imam Husein dan membiarkannya sendirian dalam pertempuran yang tidak adil. Menurut riwayat sejarah, pasukan Yazid berjumlah sekitar 30 ribu orang, sedangkan jumlah prajurit Imam Hussein hanya 72 orang. Namun, Imam tidak menyerah pada kesetiaan palsu musuh.

Pada hari Asyura, 10 Muharram, terjadi pertempuran sengit dan para sahabat Imam Husain membuat epos yang langgeng dalam sejarah. Tentara Yazid bahkan memblokir jalur air menuju perkemahan Imam Husein, sehingga beliau serta para sahabatnya syahid dengan bibir kehausan. Kepala suci Imam Husein dan para sahabatnya dipisahkan dari tubuh mereka dan dikirim ke istana Yazid.

Imam Husein pernah dalam suratnya sebelum syahid mengungkapkan,"Dan saya tidak bangkit karena pemberontakan, korupsi dan penindasan, saya hanya ingin mereformasi bangsa nenek moyang saya." Aku ingin memerintahkan apa yang baik dan melarang apa yang buruk dan berperilaku seperti kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib.

Nabi Islam telah bersabda berkali-kali tentang beliau, "Hussein bagian dariku, dan aku bagian dari Hussain." Bagian pertama dari pernyataan ini jelas, tetapi bagian kedua, yaitu agama, aliran, dan keyakinan Nabi Muhammad saw, akan bertahan dengan perjuangan Husein, untuk membawa umat manusia menuju tujuan yang disampaikan Nabi.

Makam Imam Husein di Karbala saat ini menjadi tempat ziarah bagi orang-orang yang merdeka di dunia, dan kesyahidannya adalah ibu kota gerakan kaum tertindas dan pencari kebebasan di dunia.


Dalam kelanjutan artikel dari Parstodi ini, kita menelisik petuah terkenal Imam Husein.

Permata berharga

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ู†َุญْู†ُ ุญِุฒْุจُ ุงู„ู„ّู‡ ِ ุงู„ْุบุงู„ِุจُูˆู†َ، ูˆَุนِุชْุฑَุฉُ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ّู‡ ِ ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุขู„ู‡ุงู„ุงْู‚ْุฑَุจُูˆู†َ، ูˆَุงَู‡ْู„ُ ุจَูŠْุชِู‡ِ ุงู„ุทَّูŠِّุจُูˆู†َ، ูˆَุฃَุญَุฏُุงู„ุซَّู‚َู„َูŠْู†ِ ุงู„َّุฐูŠู†َ ุฌَุนَู„َู†ุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ّู‡ ِ ุซุงู†ِู‰َ ูƒِุชุงุจِ ุงู„ู„ّู‡ ِ...» [ุงุญุชุฌุงุฌ ุทุจุฑุณู‰، 229]

Imam Husain (a.s.) berkata, "Kami para pejuang di jalan Allah akan menang, dan kami lebih dekat dengan Rasulullah (saw) dan Ahlul Bait yang suci, dan kami adalah salah satu dari dua neraca berat yang diberikan Rasulullah saw, Kitabullah (dan penafsirnya)".

Kemunculan Mahdi bin Husein

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ู„َูˆْู„َู…ْ ูŠَุจْู‚َ ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠุง ุฅู„ุงّูŠَูˆْู…ٌ ูˆุงุญِุฏٌ ู„َุทَูˆَّู„َ ุงู„ู„ّู‡ ُ ุนَุฒَّูˆَุฌَู„َّ ุฐู„ِูƒَ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุญَุชّู‰ ูŠَุฎْุฑُุฌَ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ِู†ْ ูˆُู„ْุฏู‰، ูَูŠَู…ْู„ุงَุกُู‡ุง ุนَุฏْู„ุงً ูˆَ ู‚ِุณْุทุงً ูƒَู…ุง ู…ُู„ِุฆَุชْ ุฌَูˆْุฑุงً ูˆَุธُู„ْู…ุงً، ูƒَุฐู„ِูƒَ ุณَู…ِุนْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ّู‡ ِ ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุขู„ู‡ูŠَู‚ُูˆู„» [ูƒู…ุงู„ ุงู„ุฏูŠู†، ุต317 - ุจุญุงุฑุงู„ุงู†ูˆุงุฑ، ุฌ51، ุต133]

Imam Husain AS berkata, "Seandainya hanya tersisa satu hari dalam kehidupan dunia, niscaya Allah akan menjadikan hari itu panjang sehingga muncullah seorang laki-laki dari keluargaku dan memenuhi dunia yang penuh dengan penindasan dengan keadilan dan kebaikan. Saya mendengarnya dari Rasulullah Saw,".

Kematian lebih baik daripada kejahatan

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ู…َูˆْุชٌ ููŠ ุนِุฒٍّ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِู†ْ ุญَูŠุงุฉٍ ููŠ ุฐُู„ٍّ ุงَู„ْู…َูˆْุชُ ุงَูˆْู„ู‰ ู…ِู†ْ ุฑُูƒُูˆุจِ ุงู„ْุนุงุฑِ ูˆَุงู„ْุนุงุฑُ ุงَูˆْู„ู‰ ู…ِู†ْ ุฏُุฎُูˆู„ِ ุงู„ู†ّุงุฑِ» [ู…ูˆุณูˆุนุฉ ูƒู„ู…ุงุช ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู† 499، ุญ 289]

Imam Husein pada hari Asyura berkata, "Kematian yang bermartabat lebih baik daripada kehidupan yang hina. Kematian lebih baik dari pada dikaitkan dengan kehinaan dan kehinaan, dan kehinaan lebih baik dari pada masuk api (neraka),".

Kebebasan

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ูˆَูŠْุญَูƒُู…ْ ูŠุง ุดِูŠุนَุฉَ ุขู„ِ ุงَุจู‰ ุณُูْูŠุงู†َ، ุงِู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ู„َูƒُู…ْ ุฏِูŠْู†ٌ ูˆَูƒُู†ْุชُู…ْ ู„ุงุชَุฎุงูُูˆู†َ ุงู„ْู…َุนุงุฏَ ูَูƒُูˆู†ُูˆุง ุงَุญْู€ุฑุงุฑุงً ูِู‰ ุฏُู†ْูŠู€ุงูƒُู…ْ» [ุจุญุงุฑุงู„ุงู†ูˆุงุฑ، ุฌ 45، ุต 51 - ู…ู‚ุชู„ ุฎูˆุงุฑุฒู…ู‰، ุฌ 2، ุต 33]

Imam Husein berkata, "Celakalah kalian, pengikut Abu Sufyan, jika kamu tidak beragama dan tidak takut hari kiamat, maka setidaknya jadilah orang yang merdeka di duniamu sendiri."

Peringatan Asyura di Tรผrki

Kematian dan kehidupan

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ู„َูŠْุณَ ุดَุฃْู†ู‰ ุดَุฃู†ُ ู…َู†ْ ูŠَุฎุงูُ ุงู„ْู…َูˆْุชَ، ู…ุง ุฃَู‡ْูˆَู†َ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุนَู„ู‰ ุณَุจูŠู„ِ ู†َูŠْู„ِ ุงู„ْุนِุฒِّ ูˆَุงِุญْูŠุงุกِ ุงู„ْุญَู‚ِّ، ู„َูŠْุณَ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ููŠ ุณَุจูŠู„ِ ุงู„ْุนِุฒِّ ุงِู„ุงّ ุญَูŠุงุฉً ุฎุงู„ِุฏَุฉً ูˆَู„َูŠْุณَุชِ ุงู„ْุญَูŠุงุฉُ ู…َุนَ ุงู„ุฐُّู„ِّ ุงِู„ุงَّุงู„ْู…َูˆْุชَ ุงู„َّุฐู‰ ู„ุงุญَูŠุงุฉَ ู…َุนَู‡ُ، ุงَูَุจِุงู„ْู…َูˆْุชِ ุชُุฎَูˆِّูُู†ู‰... ูˆَู‡َู„ْ ุชَู‚ْุฏِุฑُูˆู†َ ุนَู„ู‰ ุฃَูƒْุซَุฑِ ู…ِู†ْ ู‚َุชْู„ู‰؟! ู…َุฑْุญَุจุงً ุจِุงู„ْู‚َุชْู„ِ ููŠุณَุจูŠู„ِ ุงู„ู„ّู‡ ِ، ูˆَู„ูƒِู†َّูƒُู…ْ ู„ุงุชَู‚ْุฏِุฑูˆُู†َ ุนَู„ู‰ ู‡َุฏْู…ِ ู…َุฌْุฏู‰ ูˆَู…َุญْูˆِ ุนِุฒّู‰ ูˆَุดَุฑَูู‰» [ูƒู„ู…ุงุช ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู†، 360، ุญ 348]

Imam Hussein berbicara kepada musuh-musuhnya, dengan berkata, "Aku bukanlah orang yang takut mati. Kematian di jalan kehormatan dan kebangkitan kebenaran sangatlah mudah bagiku. Kematian di jalan kehormatan tidak lain hanyalah hidup kekal dan hidup dengan kehinaan tidak lain hanyalah kematian dan ketiadaan. Apakah kamu membuatku takut menghadapi kematian? Bisakah kamu melakukan lebih dari sekedar membunuhku? Mulialah mati di jalan Allah, tetapi kamu tidak dapat menghancurkan kemuliaanku dan menghancurkan martabat dan kehormatanku,".

Jadilah orang yang berguna

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ุฎَู…ْุณٌ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ุชَูƒُู†ْ ูِูŠู‡ِ، ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูِูŠู‡ِ ูƒَุซูŠุฑُ ู…ُุณْุชَู…ْุชَุนٍ: ุงَู„ْุนَู‚ْู„ُ، ูˆَุงู„ุฏّูŠู†ُ ูˆَุงู„ْุฃَุฏَุจُ، ูˆَุงู„ْุญَูŠุงุกُ، ูˆَุญُุณْู†ُ ุงู„ْุฎُู„ْู‚ِ» [ุญูŠุงุฉ ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู†، ุฌ 1، ุต 181]

Imam Husein berkata, "Jika tidak ada lima hal dalam diri seseorang, maka kita tidak akan melihat banyak manfaat pada dirinya: Akal,agama, adab, rasa malu, dan akhlak yang baik,".

Jenis ibadah

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ุงِู†َّ ู‚َูˆْู…ุงً ุนَุจَุฏُูˆุง ุงู„ู„ّู‡ َ ุฑَุบْุจَุฉً ูَุชِู„ْูƒَ ุนِุจุงุฏَุฉُ ุงู„ุชُّุฌّุงุฑِ، ูˆَุงِู†َّ ู‚َูˆْู…ุงً ุนَุจَุฏُูˆุง ุงู„ู„ّู‡ َ ุฑَู‡ْุจَุฉً ูَุชِู„ْูƒَ ุนِุจุงุฏَุฉُ ุงู„ْุนَุจูŠุฏِ، ูˆَุงِู†َّ ู‚َูˆْู…ุงً ุนَุจَุฏُูˆุง ุงู„ู„ّู‡ َ ุดُูƒْุฑุงً ูَุชِู„ْูƒَ ุนِุจุงุฏَุฉُ ุงู„ุงَْุญْุฑุงุฑِ، ูˆَ ู‡ِู‰َ ุงَูْุถَู„ُ ุงู„ุนِุจุงุฏَุฉِ» [ุจุญุงุฑุงู„ุงู†ูˆุงุฑ، 78، 117. ู…ูˆุณูˆุนู‡ ูƒู„ู…ุงุช ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู† 748، ุญ 906. ุจู„ุงุบุฉ ุงู„ุงู…ุงู… ุนู„ู‰ ุจู† ุงู„ุญุณูŠู†، ุต 171 ุจุงุจ ุณูˆู… ูƒู„ู…ุงุช ู‚ุตุงุฑ]

Imam Husein berkata, "Sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhan untuk mendapat pahala, itulah ibadah para pedagang. Kelompok menyembah Tuhan karena takut, inilah ibadah para budak. Namun suatu kelompok beribadah kepada Tuhan karena rasa syukur, maka ibadah ini milik orang-orang merdeka dan merupakan jenis ibadah yang terbaik,".

Hikmah puasa

ุณُุฆِู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ู„ِู…َ ุงูْุชَุฑَุถَ ุงู„ู„ّู‡ ُ ุนَุฒَّูˆَุฌّู„َ ุนَู„ู‰ ุนَุจูŠุฏِู‡ِ ุงู„ุตَّูˆْู…َ؟ ู‚ุงู„َ: ู„ِูŠَุฌِุฏَ ุงู„ْุบَู†ู‰ُّ ู…َุณَّ ุงู„ْุฌُูˆุนِ ูَูŠَุนُูˆุฏَ ุจِุงู„ْูَุถْู„ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ู…َุณุงูƒูŠู†َ» [ู…ูˆุณูˆุนุฉ ูƒู„ู…ุงุช ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู†، ุต 692، ุญ 759]

Imam Husain ditanya mengapa Allah mewajibkan puasa bagi hamba-Nya? Beliau menjawab, "Agar orang kaya merasakan kerasnya kelaparan dan akibatnya menggunakan hartanya untuk membantu orang miskin."

.
Makam imam Husein di Karbala

Semuanya, kecuali Tuhan akan binasa

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): ุง«ِู†َّ ุณُูƒّุงู†َ ุงู„ุณَّู…ูˆุงุชِ ูŠَูْู†ُูˆู†َ ูˆَุงَู‡ْู„َ ุงู„ุงْุฑْุถِ ูŠَู…ُูˆุชُูˆู†َ ูˆَุฌَู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจَุฑِูŠَّุฉِ ู„ุง ูŠَุจْู‚ُูˆู†َ ูˆَูƒُู„َّ ุดَู‰ْ ุกٍ ู‡ุงู„ِูƒٌ ุงِู„ุงّ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ» [ูุชูˆุญ ุงุจู† ุงุนุซู…، ุฌ 5، ุต 94 - ู…ู‚ุงุชู„ ุงู„ุทุงู„ุจูŠูŠู†، ุต 112]

Imam Husein berkata, "Makhluk langit binasa dan makhluk bumi mati, semuanya tidak stabil dan segala sesuatu dapat binasa, kecuali Tuhan,".

Jangan menindas orang lain

ู‚ุงู„َ ุงู„ْุญُุณَูŠْู†ُ (ุน): «ูŠุง ุจُู†َู‰َّ ุงِูŠّุงูƒَ ูˆَุธُู„ْู…َ ู…َู†ْ ู„ุงูŠَุฌِุฏُ ุนَู„َูŠْูƒَ ู†ุงุตِุฑุงً ุงِู„ุงَّ ุงู„ู„ّู‡ َ» [ุจุญุงุฑุงู„ุงู†ูˆุงุฑ، ุฌ 75، ุต 308 - ุงุนูŠุงู† ุงู„ุดูŠุนุฉ، ุฌ 1، ุต 620]

Imam Husein berkata, "Anakku! Hindarilah menindas orang yang tidak ada penolong di hadapanmu selain Allah,".(PH)

Sumber: Parstoday indonesia

Rabu, 03 Juli 2024

Peristiwa Mubahalah Antara Nabi Muhammad Saw Dengan Kaum Nasrani dari Najran




Tanggal 24 Zulhijjah menandai peringatan hari Mubahalah (yang berarti kutukan, atau kutukan Allah atas pembohong). Ini adalah hari kemenangan umat Islam atas umat Kristen. Peristiwa Mubahalah terjadi pada tahun ke 10 Hijriyah.

Setelah penaklukan Makkah, maka semakin banyak orang mulai menerima Islam sebagai agama mereka. Banyak kelompok orang yang menganut agama lain datang menemui Nabi Saw di Madinah. Dari suatu tempat bernama Najran, sekelompok enam puluh orang Kristen datang menemui Nabi Muhammad Saw.

Sesampainya di sana, mereka berusaha tampil mengesankan dengan datang berpakaian megah dan cincin emas. Ketika mereka diabaikan, mereka tahu bahwa mereka harus berganti pakaian dan mendekati Nabi Saw dengan pakaian sederhana dan sopan santun.

Nabi menjelaskan kepada mereka bahwa Yesus diciptakan oleh Allah sama seperti Adam (Al-Quran, 3:59). Mereka tidak menerima alasan tersebut dan ingin menyelesaikan perselisihan tersebut dengan mengadakan Mubahalah, yaitu berdo'a kepada Yang Maha Kuasa untuk memusnahkan pembohong.

Allah menurunkan ayat Qur'an 3:61, "Jika ada yang berselisih denganmu setelah ilmu itu datang kepadamu, katakanlah hendaklah kita masing-masing membawa anak-anak kita, wanita-wanita kita, kaum kita dan diri kita sendiri dan berdoa kepada Allah agar melaknat para pembohong".

Semua orang menunggu untuk melihat siapa yang akan dibawa Nabi Saw bersamanya.

Pada tanggal 24 Zulhijjah 10 H, seluruh penduduk Madinah melihat Nabi Muhammad Saw pergi ke rumah putrinya Fatimah. Beliau keluar sambil menggendong Imam Husain dan memegang tangan Imam Hasan yang berjalan di sampingnya. Mereka adalah putra-putranya.

Putrinya Fatimah sebagai wanita paling sempurna, mengikuti mereka dan Imam Ali  sebagai nafas Nabi Saw datang di belakangnya. Kelimanya adalah Ma'shumin. Ketika orang-orang Nasrani melihat mereka, mereka menyadari bahwa Ma'shumin itu memang suci dan memutuskan mundur dari Mubahalah.

Pemimpin mereka berkata:

"Saya melihat wajah-wajah yang jika mereka berdo'a agar gunung dipindahkan, maka hal itu akan terjadi."

Mereka pun menerima persyaratan yang ditetapkan oleh Nabi Saw. Umat ​​Islam merayakan acara tersebut sebagai hari kemenangan bagi kebenaran Islam.

Dalam Al-Qur'an ayat Al-Mubahalah dari Surat Ali Imran (Surat ketiga dan ayat 61) adalah tentang peristiwa Mubahalah.


Selasa, 14 Mei 2024

Sayyidina Abu Thalib Mukmin Quraisy dan ‘Singa’ Karbala

 



Ada sebuah fakta tak terbantahkan di dalam Tragedi Karbala yang sangat jarang terungkap oleh sejarah. Fakta ini jarang diketahui banyak orang, padahal sebenarnya memiliki nilai dan makna yang sangat penting.

Fakta itu terkait dengan jumlah pejuang yang gugur di Padang Nainawa, Karbala dan latar belakang keturunan mereka.

Fakta sejarah membuktikan, bahwa dari kalangan Bani Hasyim terdapat 28 orang yang syahid di padang Karbala. Yang sangat mengejutkan dari fakta ini adalah bahwa dari 28 syahid itu semuanya hanya berasal dari satu keturunan, yaitu keturunan Sayyidina Abu Thalib (Imran bin Shebah bin Hasyim).

Jadi, keturunan Sayyidina Abu Thalib menjadi satu-satunya keturunan dari Bani Hasyim yang berangkat ke medan Perang Karbala dan semuanya gugur syahid. Mereka adalah satu-satunya keturunan Bani Hasyim yang menjadi pejuang di Karbala.

Mari kita Uraikan Fakta Sejarah Ini

Sayyidina Abu Thalib mempunyai sepuluh orang bersaudara dari ayahnya yang bernama Abdul Muthallib (Shebah bin Hasyim). Mereka adalah Abu Thalib, Abdullah, Harits, Hamzah, Abbas, Zubair, Hajal, Muqrim, Dhirar dan Abu Lahab.

Kita tahu, bahwa sembilan dari mereka statusnya adalah paman Nabi Muhammad Saw.

Satu fakta yang tak terbantahan adalah, tidak ada satu pun dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib yang turut bergabung ke medan perang Karbala.

Demikian pula keturunan dari saudari perempuan Abbas yang bernama Sofiyah binti Abdul Muthalib (yang tak lain merupakan bibi Nabi Muhammad Saw dan Al-Imam Ali bin Abi Thalib as), juga tidak turut ke medan Karbala.

Sofiyah adalah istri dari Awwam bin Khuwailid, saudara Khadijah binti Khuwailid as. Sofiah juga tak lain adalah ibu dari Zubair bin Awwam.

Jadi, disini ada fakta sejarah yang kontras. Di satu sisi, 28 orang yang syahid di medan Karbala semuanya berasal dari keturunan Abu Thalib as. Sementara di sisi lain, tidak ada satupun dari keturunan Abbas yang turut serta ke medan Karbala.

Apakah ini sebuah kebetulan? Ataukah ini sebuah skenario dan hikmah Ilahiyyah yang mengkhususkan keluarga Abu Thalib as dengan keutamaan dan keagungan tersebut?

Dengan fakta ini, terungkap rahasia bahwa Abu Thalib adalah figur yang populer dengan julukan Mu'min Quraisy. Ini bagaikan seorang ghaib yang hadir di padang Karbala.

Dengan kata lain, Karbala adalah perwujudan sosok Syeikh al-Batha'a Abu Thalib.

Demikian juga sebaliknya, Abu Thalib itu sendiri merupakan Karbala secara keseluruhannya. Sebab Abu Thalib mempersembahkan semua keturunannya untuk berjuang bersama Al-Imam Husain as di Padang Karbala. Dan kekhususan serta keistimewaan ini tidak dimiliki Bani Hasyim yang lainnya.

Bukanlah hal yang rahasia lagi, bahwa semasa hidupnya, Abu Thalib adalah panji hidup penolong dan pelindung Rasulullah Saw. Bagi orang yang memiliki akal dan hati yang bersih, akan sadar betul bahwasanya Abu Thalib adalah figur yang berdiri kokoh untuk menjaga Nabi Muhammad Saw dari berbagai gangguan musuh ketika itu. Beliau satu-satunya yang berada di barisan terdepan dalam melindungi Nabi Saw dari semua sisi, termasuk dengan memberikan nyawanya.

Dan fakta sejarah kembali berulang, peran ini dilanjutkan oleh para keturunannya di padang Karbala.

Keturunannya yang berjumlah 28 orang menjadi tameng hidup yang paling depan dalam melindungi Al-Imam Husain as dan mempersembahkan nyawanya untuk Al-Imam Husain as.

Mereka tak mundur sedikitpun, seperti tidak mundurnya Abu Thalib ketika ditekan para petinggi Quraisy kala itu.

Figur yang baik, pemberani dan konsisten selalu melahirkan keturunan yang serupa itu.

Jadi, jika kita berkaca pada sejarah, Sayyidina Abu Thalib dan keturunannya telah dianugerahi keistimewaan. Dan karena keistimewaan inilah, Al-Imam Husain as berkata:

"Aku tidak mengenal seorang sahabat yang paling setia melebihi sahabatku, dan tidak mengenal Ahlul Bait yang lebih bakti daripada Ahlul Baitku."

Kita tahu, ucapan Al-Imam Husain as ini dimaksudkan kepada siapa dan keturunan siapa. Ucapan Al-Imam Husain as itu diperkuat dengan sabda Nabi Saw:

“Andai Abu Thalib melahirkan manusia seluruhnya, maka akan melahirkan manusia pemberani dan ksatria."

Fakta ini juga diperkuat melalui sabda Nabi Saw yang lain, yang ditujukan kepada 'Aqil bin Abi Thalib:

"Aku mencintai Aqil dua kecintaan. Cintaku kepada Aqil itu sendiri, dan cintanya Abu Thalib kepadanya. Bahwa putranya nanti akan terbunuh dalam membela Al-Husain as."

Perkataan Nabi Muhammad Saw ini terbukti nyata, bagaimana kepiawaian mereka serta keberaniannya di peperangan Karbala.

Padahal, jumlah mereka hampir separuh dari keseluruhan yang bersama Al-Husain as.

“Rumah Abu Thalib,” berhasil mempersembahkan putra dan cucu-cucunya untuk membela Risalah Nabi Saw (Muhammadi). Pendirian mereka sangat-sangat teguh, sampai-sampai ada ungkapan:

“Jikalau salah satu dari mereka bersumpah, maka gunung dan lautan akan berpindah dari tempatnya.”

Demikian keteguhan prinsip dan tekad mereka, para keturunan Sayyidina Abu Thalib.

Sayyidina Abu Thalib mempunyai empat orang anak laki laki dari istrinya yang bernama Sayyidah Fatimah binti Asad, yaitu: Thalib, Aqil, Ja'far, dan Ali.

Adapun Thalib, wafat ketika ayahnya masih hidup. Sementara ketiga putranya yang lain, merekalah yang melahirkan keturunan pelanjutnya.

Dan 28 syuhada Karbala merupakan keturunan dari ketiga putra Abu Thalib itu.

Berikut nama-nama mereka:

16 syuhada dari putra Al-Imam Ali bin Abi Thalib as:

- Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib

- Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

- Abdullah (bayi) bin Husain bin Ali

- Al-'Abbas bin Ali

- Amr bin Ali

- Ibrahim bin Ali

- Ja'far bin Ali

- Utsman bin Ali

- Abdullah bin Ali

- Muhammad Asghar bin Ali

- Abubakar bin Ali

- Qasim bin Hasan bin Ali

- Abdullah bin Hasan bin Ali

- Bisyr bin Hasan bin Ali

- Ahmad bin Hasan bin Ali

- Amr bin Hasan bin Ali

9 Syuhada dari putra Aqil bin Abi Thalib:

- Muslim bin Aqil

- 'Aun bin Aqil

- Abdurrahman bin Aqil

- Ja'far bin Aqil

- Abdullah Al-Akbar bin Aqil

- Muhammad bin Sa'id bin Abi Ahwal bin Aqil

- Ja'far bin Muhammad bin Aqil

- Muhammad bin Muslim bin Aqil

- Abdullah bin Muslim bin Aqil 

3 Syuhada dari putra Ja'far bin Abi Thalib:

- 'Aun bin Abdullah bin Ja'far (putra Sayyidah Zainab binti Ali)

- Muhammad bin Abdullah bin Ja'far (sda)

- Qasim bin Muhammad bin Ja'far

Namun, dimana rasa terima kasih ummat ini kepada Sayyidina Abu Thalib?

Ummat yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad Saw justru dengan teganya mengatakan bahwa paman Nabi Saw, Sayyidina Abu Thalib (yang telah mengasuh, menikahkan, menjaga dan membela Sang Nabi) adalah termasuk orang kafir dan akan masuk neraka kelak.

Bahlul Murakkab. Naudzubillah!



Sabtu, 04 Mei 2024

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura



Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang.

 

Peringatan Asyura dalam memperingati kesyahidan Imam Husain as dengan melakukan arak-arakan dan berkumpul di tanah lapang sembari menyanyikan sajak-sajak duka telah menjadi upacara atau tradisi yang telah dilekatkan pada umat muslim Syiah. Dalam tradisi tersebut tidak sedikit disertai dengan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama, misalnya melakukan perbuatan melukai diri dengan senjata-senjata tajam dengan dalih agar turut menghayati perihnya luka yang dialami Imam Husain as.

Ulama-ulama Marja Syiah sejak dulu telah memfatwakan akan keharaman perbuatan tersebut. Namun tetap saja perbuatan tersebut dilestarikan oleh sejumlah orang, meskipun setiap tahunnya sudah semakin tidak populer.

Berikut fatwa-fatwa ulama besar Syiah akan keharaman perbuatan menyiksa dan melukai diri pada peringatan Asyura:

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahwa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan bid’ah menurut agama dan mazhab.

Ayatullah Misykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

Fatwa Ulama yang Masih Hidup

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggalan dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani saja yang dibenarkan…. Mengapa? Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.■