- Home
- Ahlul Bait
- 14 Manusia yang Disucikan
- Rasulullah Muhammad Saw
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Fatimah az-Zahra binti Rasulullah
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- 12 Imam Suci Ahlul Bait
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- Imamah dan Ahlul Bait
- Perayaan Ahlul Bait
- Sahabat Ahlul Bait
- Sejarah Syiah
- Syiah Menurut Syiah
- Tokoh-Tokoh Syiah
- Wilayatuh Faqih
- 14 Manusia yang Disucikan
- Imam Mahdi
- Asbabun Nuzul
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Al-Ahzab: 23 Menunggu Janji Allah
- Al-Waqi’ah: 10-11 Terdahulu Beriman
- Al-Hadid: 19 Shiddiqqin
- Al-Baqarah: 207 Korban Yang Pertama
- Al-Baqarah: 274 Berinfak Sembunyi2
- Az-Zumar: 33 Yang Membenarkan
- Al-Anfal: 75 Hubungan Kerabat
- Al-Ahzab: 25 Penyelamat Peperangan
- Maryam: 96 Beriman dan Amal Shalih
- Hud: 17 Saksi Dari Allah Swt
- At-Tahrim: 4 Mukmin Yang Shalih
- At-Taubah: 1 Putus Hubungan Musyrikin
- Al-Mujadalah: 12 Berbicara Khusus
- Al-Haqqah: 11-12 Telinga Yg Mendengar
- At-Taubah: 19 Keimanan
- Ali dan Syiahnya
- Ali, Fatimah, Hasan, Husain
- Ali dan Lainnya
- Tentang Ahlul Bait
- Al-Ahzab: 33 Pensucian Ahlul Bait
- Asy-Syura: 23 Mencintai Ahlul Bait
- Ali Imran: 103 Pegang Teguh Ahlul Bait
- An-Nahl: 43 Merujuk Kpd Ahlul Bait
- At-Takatsur: 8 Kepemimpinan Ahlul Bait
- An-Nisa: 54 Manusia yang Dihasudi
- An-Nur: 36-37 Rumah yang Dimuliakan
- An-Nur: 35 Cahaya Allah
- Ash-Shaffat: 130 Keluarga Yasin
- Fathir: 32 Pewaris Al-Kitab
- Asy-Syura: 23 Orang Yang Berbuat Kebaikan
- Peristiwa Ghadirkum
- Jalan Lurus dan Kebenaran
- Ulil Amri, Imamah dan Wilayah
- An-Nisa: 59 Menaati Ulil Amri
- Az-Zukhruf: 45 Kepemimpinan Rasul-Ali
- Al-Baqarah: 124 Ayat Imamah
- Asy-Syu’ara': 214 Ayat Indzar
- Al-Ma`idah: 55-56 Ayat Wilayah
- Al-Ahzab: 6 Ayat Wilayah
- Ash-Shaffat: 24 Ditanyai Tntng Wilayah
- Al-Ma`arij: 1-3 Meragukan Wilayah Ali
- Thaha: 25 Memohon Seorang Wazir
- Al-Ahzab: 72 Penyerahan Amanat
- Al-A`raf: 172 Kesaksian Anak Cucu Adam
- Thaha: 82 Ayat Pengampunan
- Shalawat Untuk Nabi dan Keluarganya
- Keturunan Rasulullah Saw
- Thuba (Tempat Kembali yang Baik)
- Kaum Munafikin Benci Ali
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Islam
- Nasional
- Iran
- Internasional
- Ragam
- Kontak
Kamis, 14 Agustus 2025
Keluarga Nabi Pulang ke Madinah
Rabu, 13 Agustus 2025
Langkah-Langkah Menuju Kemanusiaan: Ziarah Arbain dari Mata yang Berbeda
Rabu, 17 Juli 2024
Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah

Husein, Imam Pembebasan Dunia, Bangkit Demi Memperbaiki Umat Nabi Muhammad Saw





Selasa, 14 Mei 2024
Sayyidina Abu Thalib Mukmin Quraisy dan ‘Singa’ Karbala
Ada sebuah fakta tak terbantahkan di dalam Tragedi Karbala yang sangat jarang terungkap oleh sejarah. Fakta ini jarang diketahui banyak orang, padahal sebenarnya memiliki nilai dan makna yang sangat penting.
Fakta itu terkait dengan jumlah pejuang yang gugur di Padang Nainawa, Karbala dan latar belakang keturunan mereka.
Fakta sejarah membuktikan, bahwa dari kalangan Bani Hasyim terdapat 28 orang yang syahid di padang Karbala. Yang sangat mengejutkan dari fakta ini adalah bahwa dari 28 syahid itu semuanya hanya berasal dari satu keturunan, yaitu keturunan Sayyidina Abu Thalib (Imran bin Shebah bin Hasyim).
Jadi, keturunan Sayyidina Abu Thalib menjadi satu-satunya keturunan dari Bani Hasyim yang berangkat ke medan Perang Karbala dan semuanya gugur syahid. Mereka adalah satu-satunya keturunan Bani Hasyim yang menjadi pejuang di Karbala.
Mari kita Uraikan Fakta Sejarah Ini
Sayyidina Abu Thalib mempunyai sepuluh orang bersaudara dari ayahnya yang bernama Abdul Muthallib (Shebah bin Hasyim). Mereka adalah Abu Thalib, Abdullah, Harits, Hamzah, Abbas, Zubair, Hajal, Muqrim, Dhirar dan Abu Lahab.
Kita tahu, bahwa sembilan dari mereka statusnya adalah paman Nabi Muhammad Saw.
Satu fakta yang tak terbantahan adalah, tidak ada satu pun dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib yang turut bergabung ke medan perang Karbala.
Demikian pula keturunan dari saudari perempuan Abbas yang bernama Sofiyah binti Abdul Muthalib (yang tak lain merupakan bibi Nabi Muhammad Saw dan Al-Imam Ali bin Abi Thalib as), juga tidak turut ke medan Karbala.
Sofiyah adalah istri dari Awwam bin Khuwailid, saudara Khadijah binti Khuwailid as. Sofiah juga tak lain adalah ibu dari Zubair bin Awwam.
Jadi, disini ada fakta sejarah yang kontras. Di satu sisi, 28 orang yang syahid di medan Karbala semuanya berasal dari keturunan Abu Thalib as. Sementara di sisi lain, tidak ada satupun dari keturunan Abbas yang turut serta ke medan Karbala.
Apakah ini sebuah kebetulan? Ataukah ini sebuah skenario dan hikmah Ilahiyyah yang mengkhususkan keluarga Abu Thalib as dengan keutamaan dan keagungan tersebut?
Dengan fakta ini, terungkap rahasia bahwa Abu Thalib adalah figur yang populer dengan julukan Mu'min Quraisy. Ini bagaikan seorang ghaib yang hadir di padang Karbala.
Dengan kata lain,
Karbala adalah perwujudan sosok Syeikh al-Batha'a Abu Thalib.
Demikian juga sebaliknya, Abu Thalib itu sendiri merupakan Karbala secara keseluruhannya. Sebab Abu Thalib mempersembahkan semua keturunannya untuk berjuang bersama Al-Imam Husain as di Padang Karbala. Dan kekhususan serta keistimewaan ini tidak dimiliki Bani Hasyim yang lainnya.
Bukanlah hal yang rahasia lagi, bahwa semasa hidupnya, Abu Thalib adalah panji hidup penolong dan pelindung Rasulullah Saw. Bagi orang yang memiliki akal dan hati yang bersih, akan sadar betul bahwasanya Abu Thalib adalah figur yang berdiri kokoh untuk menjaga Nabi Muhammad Saw dari berbagai gangguan musuh ketika itu. Beliau satu-satunya yang berada di barisan terdepan dalam melindungi Nabi Saw dari semua sisi, termasuk dengan memberikan nyawanya.
Dan fakta sejarah kembali berulang, peran ini dilanjutkan oleh para keturunannya di padang Karbala.
Keturunannya yang berjumlah 28 orang menjadi tameng hidup yang paling depan dalam melindungi Al-Imam Husain as dan mempersembahkan nyawanya untuk Al-Imam Husain as.
Mereka tak mundur sedikitpun, seperti tidak mundurnya Abu Thalib ketika ditekan para petinggi Quraisy kala itu.
Figur yang baik, pemberani dan konsisten selalu melahirkan keturunan yang serupa itu.
Jadi, jika kita berkaca pada sejarah, Sayyidina Abu Thalib dan keturunannya telah dianugerahi keistimewaan. Dan karena keistimewaan inilah, Al-Imam Husain as berkata:
"Aku tidak mengenal seorang sahabat yang paling setia melebihi sahabatku, dan tidak mengenal Ahlul Bait yang lebih bakti daripada Ahlul Baitku."
Kita tahu, ucapan Al-Imam Husain as ini dimaksudkan kepada siapa dan keturunan siapa. Ucapan Al-Imam Husain as itu diperkuat dengan sabda Nabi Saw:
“Andai Abu Thalib melahirkan manusia seluruhnya, maka akan melahirkan manusia pemberani dan ksatria."
Fakta ini juga diperkuat melalui sabda Nabi Saw yang lain, yang ditujukan kepada 'Aqil bin Abi Thalib:
"Aku mencintai Aqil dua kecintaan. Cintaku kepada Aqil itu sendiri, dan cintanya Abu Thalib kepadanya. Bahwa putranya nanti akan terbunuh dalam membela Al-Husain as."
Perkataan Nabi Muhammad Saw ini terbukti nyata, bagaimana kepiawaian mereka serta keberaniannya di peperangan Karbala.
Padahal, jumlah mereka hampir separuh dari keseluruhan yang bersama Al-Husain as.
“Rumah Abu Thalib,” berhasil mempersembahkan putra dan cucu-cucunya untuk membela Risalah Nabi Saw (Muhammadi). Pendirian mereka sangat-sangat teguh, sampai-sampai ada ungkapan:
“Jikalau salah satu dari mereka bersumpah, maka gunung dan lautan akan berpindah dari tempatnya.”
Demikian keteguhan prinsip dan tekad mereka, para keturunan Sayyidina Abu Thalib.
Sayyidina Abu Thalib mempunyai empat orang anak laki laki dari istrinya yang bernama Sayyidah Fatimah binti Asad, yaitu: Thalib, Aqil, Ja'far, dan Ali.
Adapun Thalib, wafat ketika ayahnya masih hidup. Sementara ketiga putranya yang lain, merekalah yang melahirkan keturunan pelanjutnya.
Dan 28 syuhada Karbala merupakan keturunan dari ketiga putra Abu Thalib itu.
Berikut nama-nama mereka:
16 syuhada dari putra Al-Imam Ali bin Abi Thalib as:
- Imam Husain bin Ali
bin Abi Thalib
- Ali bin Husain bin
Ali bin Abi Thalib
- Abdullah (bayi) bin
Husain bin Ali
- Al-'Abbas bin Ali
- Amr bin Ali
- Ibrahim bin Ali
- Ja'far bin Ali
- Utsman bin Ali
- Abdullah bin Ali
- Muhammad Asghar bin
Ali
- Abubakar bin Ali
- Qasim bin Hasan bin
Ali
- Abdullah bin Hasan
bin Ali
- Bisyr bin Hasan bin
Ali
- Ahmad bin Hasan bin
Ali
- Amr bin Hasan bin Ali
9 Syuhada dari putra Aqil bin Abi Thalib:
- Muslim bin Aqil
- 'Aun bin Aqil
- Abdurrahman bin Aqil
- Ja'far bin Aqil
- Abdullah Al-Akbar
bin Aqil
- Muhammad bin Sa'id
bin Abi Ahwal bin Aqil
- Ja'far bin Muhammad
bin Aqil
- Muhammad bin Muslim
bin Aqil
- Abdullah bin Muslim bin Aqil
3 Syuhada dari putra Ja'far
bin Abi Thalib:
- 'Aun bin Abdullah bin Ja'far (putra Sayyidah Zainab binti Ali)
- Muhammad bin Abdullah bin Ja'far (sda)
- Qasim bin Muhammad
bin Ja'far
Namun, dimana rasa terima kasih ummat ini kepada Sayyidina Abu Thalib?
Ummat yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad Saw justru dengan teganya mengatakan bahwa paman Nabi Saw, Sayyidina Abu Thalib (yang telah mengasuh, menikahkan, menjaga dan membela Sang Nabi) adalah termasuk orang kafir dan akan masuk neraka kelak.
Bahlul Murakkab. Naudzubillah!
Sabtu, 04 Mei 2024
Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura
Peringatan Asyura dalam memperingati kesyahidan Imam Husain as dengan melakukan arak-arakan dan berkumpul di tanah lapang sembari menyanyikan sajak-sajak duka telah menjadi upacara atau tradisi yang telah dilekatkan pada umat muslim Syiah. Dalam tradisi tersebut tidak sedikit disertai dengan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama, misalnya melakukan perbuatan melukai diri dengan senjata-senjata tajam dengan dalih agar turut menghayati perihnya luka yang dialami Imam Husain as.
Ulama-ulama Marja Syiah sejak dulu telah memfatwakan akan keharaman perbuatan tersebut. Namun tetap saja perbuatan tersebut dilestarikan oleh sejumlah orang, meskipun setiap tahunnya sudah semakin tidak populer.
Berikut fatwa-fatwa ulama besar Syiah akan keharaman perbuatan menyiksa dan melukai diri pada peringatan Asyura:
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahwa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.
Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.
Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.
Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).
Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.
Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan bid’ah menurut agama dan mazhab.
Ayatullah Misykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).
Fatwa Ulama yang Masih Hidup
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.
Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggalan dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani saja yang dibenarkan…. Mengapa? Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.
Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.
Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.
Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.
Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.
Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.
Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.■







