Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Imam Husain bin Ali as-Syahid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Husain bin Ali as-Syahid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2025

Keluarga Nabi Pulang ke Madinah




Di hamparan gurun yang tak bertepi, ranting zaitun bergemerisik dalam hembusan angin senja. Suaranya bagai rentetan dawai biola yang retak, melantunkan simfoni duka yang membelah keheningan sahara. Setiap helai daun yang bergetar membisikkan berita yang mengguncang langit dan bumi—sebuah tragedi yang akan mengubah warna sejarah untuk selamanya.

Angin kering bertiup kencang, membawa serta desahan sendu yang menembus gerbang-gerbang Madinah al-Munawwarah. Hembusan itu menyapu jalanan, merayapi sudut-sudut pasar, hingga akhirnya berhenti di ambang altar suci—pusara Sang Kekasih Allah. Di sana, ketenangan yang selama ini menyelimuti kota suci mulai terguncang oleh firasat yang tak tertahankan.

Warga Madinah mulai bergumam gelisah. Satu per satu mereka meninggalkan timbangan dagang, mencangkul terakhir di ladang, dan berhamburan menuju gerbang kota dengan hati yang berdebar. Kabar itu telah sampai: kafilah putri-putri Muhammad sedang dalam perjalanan pulang. Namun ini bukanlah kepulangan yang penuh suka cita—ini adalah kepulangan yang diliputi kelabu mendung.

Ketika kafilah itu akhirnya memasuki gerbang kota, seluruh penduduk Madinah seakan membeku dalam keheningan yang menghanyutkan. Kepala-kepala yang biasanya tegak dengan penuh kebanggaan, kini serempak merunduk dalam gelisah yang mendalam. Mereka menghormat kilau wibawa yang masih terpancar dari para putri Rasulullah, meski kini wibawa itu terbungkus dalam selubung duka yang tebal.

Derap kaki kuda menggema di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi. Setiap langkah adalah pukulan pada hati yang sudah terluka. Khalayak semakin ramai berjejal, membentuk lorong manusia yang memanjang hingga ke beranda masjid suci. Tangis haru bersinambung dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, menciptakan paduan suara duka yang mengguncang fondasi kota.

Kafilah bergerak maju dengan perlahan, membelah kerumunan seperti perahu yang mengarungi lautan air mata. Para dewi Karbala—putri-putri mulia yang telah menyaksikan kehancuran di tanah yang gersang itu—turun dari punggung kuda dengan langkah-langkah yang lamat dan penuh makna. Setiap jejak kaki mereka di tanah Madinah adalah saksi bisu dari tragedi yang telah menimpa keluarga Nabi.

Warga bergerak dalam khidmat yang luar biasa, membentuk pawai hitam pekat yang memenuhi setiap sudut kota. Langit seakan ikut berkabung, menghitam lebih pekat dari biasanya. Sejarah mencatat dengan tinta merah darah yang telah tertumpah di Karbala. Gelombang tangis berdebur seperti ombak yang tak pernah reda, menghantam setiap hati yang masih memiliki nurani.

Iringan berhenti di ambang kawasan pusara suci. Di sana, waktu seakan berhenti berdetak. Ada upacara khusus yang tak pernah terbayangkan sebelumnya—upacara pertemuan antara yang hidup dan yang telah kembali kepada Sang Khaliq. Ada pelepasan rindu yang telah terbendung selama perjalanan panjang dari Karbala ke Madinah.

Di sana, batu-batu nisan retak dalam genggaman tangan kurus yang gemetar—tangan-tangan yang telah kehilangan segalanya namun masih berusaha meraih kedamaian terakhir. Ada yang roboh tak berdaya, meraung-raung mengeluhkan lara yang tak terperi. Suara tangisan mereka memecah keheningan malam, menciptakan lagu duka yang akan dikenang sepanjang masa.

Ada yang merangkak lunglai menggapai pusara, seakan berharap dapat merasakan kehangatan pelukan terakhir dari sang kakek tercinta. Ada yang bergulung-gulung di samping makam, mencari penghiburan dalam dinginnya batu nisan. Ada bidadari dunia yang pingsan karena tak mampu lagi menahan beban duka yang menumpuk di dada.

Ada yang kehabisan kata dan air mata, terdiam dalam kebisuan yang lebih bersuara daripada jeritan paling keras. Ada merpati luka yang tergeletak di sana—simbol kedamaian yang telah tercabik oleh kejamnya realita. Ada danau air hangat yang berderai di depan nisan, terbentuk dari jutaan tetes air mata yang jatuh tanpa henti.

Ada tembang aneh yang mengalun lirih di bilik-bilik hati—melodi duka yang tak pernah ada sebelumnya, namun langsung dipahami oleh setiap jiwa yang mendengarnya.

Ummu Kultsum, putri Ali dan Fatimah, roboh tak berdaya di depan makam kakeknya. Suaranya bergetar dalam bisikan yang memilukan hati:

“Assalamu alaika, ya Jaddi! Salam sejahtera untukmu, wahai kakek tercinta! Oh, betapa kami tersiksa oleh rindu yang mendalam kepadamu! Aku adalah seorang wanita yang kini tanpa pelindung, tanpa saudara, tanpa harapan di dunia yang kejam ini! Jika engkau mengizinkan, bawalah aku bersamamu ke alam yang penuh kedamaian!”

Sukainah, si kecil yang telah menyaksikan kekejaman yang tak pantas dilihat oleh mata seorang anak, memeluk pusara dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Suaranya yang lirih namun penuh kemarahan mengadu:

“Assalamu alaika, ya Rasulullah! Salam sejahtera atasmu, wahai utusan Allah yang mulia! Kami sungguh kesepian dan sengsara di dunia ini! Umatmu—mereka yang mengaku mencintaimu—telah membunuh putramu dan menganiaya putri-putrimu dengan kejam yang tak terperi!”

Zainab al-Kubra, wanita yang telah menjadi simbol keteguhan dan kesabaran, kini lunglai memeluk makam kakeknya. Suaranya memekik pilu, memecah keheningan malam dengan ratapan yang akan dikenang sepanjang zaman:

“Assalamu alaika, ya Jaddi al-Habib! Salam rindu yang mendalam untukmu! Inilah kami, wanita-wanita dari keluargamu, datang dalam keadaan yang hina dan terluka! Kami datang untuk mengadukan derita yang tak terperi!

Al-Husain—cahaya hati dan matamu, kebanggaan Fatimah az-Zahra, penerus risalahmu—telah diinjak-injak oleh ratusan kaki kuda di tanah Karbala yang berdarah! Al-Husain, cucu kesayanganmu, telah dipenggal dengan keji. Lehernya digorok perlahan-lahan oleh tangan-tangan yang tak mengenal belas kasihan. Sorbannya yang suci telah dikoyak-koyak seperti kain murahan. Jubahnya yang penuh berkah telah dilucuti oleh orang-orang yang dengan lancang mengaku sebagai umatmu. Mereka yang seharusnya melindungi keluargamu, justru menjadi pembunuh dan perampok yang tak berperikemanusiaan!

Ya Rasulullah, kami datang untuk mengadu dan menyampaikan bela sungkawa kepadamu, kepada az-Zahra yang suci, kepada Amirul Mukminin Ali! Lihatlah apa yang telah mereka lakukan terhadap darah dagingmu!”

Meledaklah Tangis Khalayak di Altar Masjid Nabawi

Suara isakan bercampur dengan lantunan takbir yang memilukan. Fitrah manusia seakan berkabung, menangisi kezaliman yang telah menimpa keluarga Nabi. Takbir “Allahu Akbar” membahana di angkasa, bersusul dengan pekik “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang bergema di setiap sudut kota.

Malam itu, Madinah menangis. Bintang-bintang seakan redup, ikut berduka atas tragedi yang telah mengoyak hati umat. Angin malam membawa doa-doa yang terputus-putus, harapan-harapan yang hancur, dan tekad baru yang mulai tumbuh dari dalam derita.

Dari Karbala, mereka membawa lebih dari sekadar cerita tentang kematian. Mereka membawa pesan tentang keberanian untuk tetap tegak dalam menghadapi kezaliman, tentang cinta yang tak pernah padam meski diuji dengan cara yang paling kejam, dan tentang harapan yang tetap menyala meski diselimuti kegelapan yang pekat.

Karbala bukan hanya sebuah nama tempat. Karbala adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, adalah saksi bisu tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kebenaran, dan adalah pengingat abadi bahwa cinta sejati tidak pernah mati, meski tubuh yang dicintai telah kembali kepada Sang Pencipta.

Malam itu, dalam tangis dan doa, dalam duka dan harapan, sejarah menulis babak baru. Babak tentang bagaimana cinta dapat bertahan menghadapi ujian terberat, tentang bagaimana kebenaran akan tetap bersinar meski diselimuti kegelapan, dan tentang bagaimana pengorbanan yang tulus akan menjadi cahaya yang menerangi jalan generasi-generasi yang akan datang.

Dari Karbala, mereka pulang. Bukan sebagai yang kalah, tetapi sebagai yang telah memberikan segalanya untuk cinta dan kebenaran. Dan dalam setiap air mata yang jatuh di pusara Nabi, dalam setiap doa yang terlafal di malam itu, tumbuh benih-benih harapan baru yang suatu hari akan mekar menjadi bunga keadilan yang harum mewangi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sumber:

Rabu, 13 Agustus 2025

Langkah-Langkah Menuju Kemanusiaan: Ziarah Arbain dari Mata yang Berbeda



Kabut pagi masih menyelimuti gurun Najaf ketika aku, Elena berdiri termangu di tepian lautan manusia. Aku tak mengenal syahadat, tak hapal ayat suci, tapi getar di udara ini menusuk tulang rusukku. Aku hanya seorang pengajar filsafat dari Italia yang penasaran pada ziarah terbesar umat manusia. Kini, di sini, kaki-kaki berdebu dari segala penjuru bumi, Islam, Kristen, Yazidi, Hindu, Budha bahkan yang tak beragama seperti aku—berarak pelan menuju Karbala. Mengapa? Untuk mengenang seorang lelaki bernama Husein, cucu Nabi Islam, yang gugur 14 abad silam.

Kakiku melepuh di hari kelima. Kulitku terbakar matahari Irak. Tapi yang membuatku terus melangkah bukan panggilan azan, melainkan desah kemanusiaan yang bergemuruh di setiap posko, di setiap senyum, di setiap tetes air yang ditawarkan tangan asing. Di sebuah mawkib, seorang kakek menyuapkan kepadaku kurma dan yogurt. "Makanlah, sayang," bisiknya dalam bahasa Arab patah-patah. 

"Demi Husein yang haus, dan demi semua yang haus keadilan." 

Di jalan ini, agama bukan syarat untuk menerima kasih. Di sini, yang berbicara adalah bahasa universal: lapar, lelah, dan hasrat untuk berbagi.

"Elena, kau bukan Muslim. Mengapa kau menempuh jalan sejauh ini?" tanya Fatimah, mahasiswa dari Beirut yang kutemui di perjalanan.

Aku menatap cakrawala yang berdebu, mencari kata-kata. "Aku membaca kisah Husein," ujarku, suara serak oleh debu dan emosi. "Bagaimana dia, dengan segelintir pengikut, berdiri melawan pasukan raksasa. Bukan untuk tahta, tapi karena menolak tunduk pada penguasa zalim. Karena memilih mati bermartabat daripada hidup dalam kepatuhan buta." Mataku basah. 

"Dia biarkan anak-anaknya kehausan, biarkan keluarganya dibantai, demi tegaknya prinsip sederhana: bahwa manusia tak boleh diperbudak, bahwa kebenaran harus lebih tinggi dari pedang."

Kukecup kening Fatimah. "Itu bukan cerita agama, Fatimah. Itu epik manusia tentang keberanian melawan tirani kisah yang bisa membuat siapapun, dari keyakinan apapun, menunduk dalam hormat."


Spiritualitas di sini terasa dalam wujud yang nyata, bukan dogma. Setiap langkah beratku adalah zikir diam-diam untuk keluarga kecil yang berjalan di gurun ini dulu, dikejar-kejar, dihina. Setiap segelas air dingin yang kuterima dari tangan penduduk desa adalah gema dari Abbas, paman Husein yang gugur merebuskan air untuk keponakannya yang kehausan. Di sini, pelayanan adalah doa. Keramahan adalah ibadah. Dan solidaritas antar peziarah—tanpa peduli bendera atau kitab suci adalah liturgi hidup yang paling sakral.

Suatu senja, aku bertemu Tuan Chen, pejalan asal Tiongkok yang membawa bendera kecil bergambar naga. "Aku Buddhis," katanya sambil memijat kakiku yang bengkak. "Tapi Husein itu seperti Bodhisatva rela menderita demi kebebasan orang lain dari penindasan." Matanya teduh. "Lihatlah keragaman di jalan ini. Karbala bukan milik satu agama. Ini milik setiap manusia yang percaya bahwa darah para martir adalah benih kebebasan."

Kemanusiaan universal itu hidup di sini. Seorang ibu berkalung salib dari Mosul membasuh lukaku dengan air mawar. Anak-anak berebutan mengipasiku dengan kardus. Seorang pemuda yang mengaku ateis dari Prancis menggendong nenek tua yang kakinya kram. Kami berbeda Tuhan, berbeda kitab, berbeda harapan akhirat. Tapi di hadapan altar pengorbanan Husein, kami bersaudara dalam satu keyakinan: bahwa keadilan harus ditegakkan, yang lemah harus dilindungi, dan kezaliman harus dilawan dengan jiwa raga sekalipun.


Saat kubah emas makam Husein akhirnya mencuat di ujung jalan, disiram cahaya jingga senja, dadaku sesak. Air mata mengalir deras, tak kumengerti mengapa. Rasa sakit hilang. Yang tersisa adalah kehampaan yang penuh, kesedihan yang membebaskan. Aku bukan melihat bangunan suci agama lain. Aku melihat monumen abadi bagi jiwa manusia yang menolak tunduk. Cahaya yang menyatakan: "Di sini, seorang manusia memilih mati untuk membela hak manusia lain agar tetap manusia."

Di pelataran luas itu, di tengah lautan manusia yang bersujud, menangis, dan melantunkan nama "Husein" dalam seribu dialek, aku merasakan getar yang melampaui kata. Ribuan perbedaan kami larut dalam satu samudera duka dan hormat. Aku tak ikut shalat. Tapi ketika ribuan tangan mengangkat telapak mereka berdoa, tanganku pun terangkat sendiri bukan pada Allah yang mereka sembah, tapi pada Semesta yang mendengar jerit kemanusiaan yang sama.

Aku duduk di debu Karbala, menyentuh tanah tempat darahnya tumpah. Dalam hening, hatiku berbisik:

"Husein, Aku tak mengenalmu dalam cara mereka mengenalmu. Tapi hari ini, di debu kudusmu, kau mengajariku: bahwa keberanian untuk membela yang benar adalah ibadah tertinggi. Bahwa melayani sesama tanpa syarat adalah jalan menuju pencerahan sejati. Bahwa darah yang tumpah demi keadilan akan selalu bergema melintasi zaman, melintasi peradaban, melintasi keyakinan, menyatukan manusia dalam satu keluarga besar yang menolak untuk diam melihat kezaliman."

Perjalanan ini bukan ziarah agama. Ini adalah ziarah jiwa menuju inti terdalam kemanusiaan kami. Arbain mengajarku bahwa darah Husein bukan milik Islam semata, ia adalah warisan setiap insan yang percaya bahwa hidup hanya bermakna ketika diabdikan pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri: kebenaran, keadilan, dan belas kasih. Di tanah Karbala, di tengah keragaman yang menakjubkan, aku menyaksikan mukjizat sejati: bahwa ketika manusia berjalan bersama menuju cahaya kebaikan yang sama, perbedaan menjadi permadani indah, bukan tembok. Dan di hati setiap pejalan muslim atau bukan, terbakar api spiritual yang sama: api yang dinyalakan Husein dengan pengorbanannya, menyala abadi sebagai mercusuar harapan bagi siapa pun yang percaya bahwa kemanusiaan layak diperjuangkan sampai tetes terakhir. (Kahar Palinrungi)

Sumber:

Rabu, 17 Juli 2024

Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah



Menjadi "insan ilahiyah" tidak butuh pengakuan, tidak butuh deklarasi dan gembar-gembor di hadapan khalayak ramai. Karakter manusia ilahiyah, pengikut kebenaran sudah terpateri dalam dada dan sanubari seseorang tanpa harus teriak-teriak mencari pengakuan.

Begitupun sebaliknya, untuk menjadi manusia durjana, musuh kebenaran, pengikut Iblis, sangat gampang bagaikan membalikkan telapak tangan.

Lihatlah kenyataan yang terang benderang dalam peristiwa "Tragedi Asyura" yang menimpa Imam Husein as dan keluarga suci Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau as.

Lihatlah, manusia-manusia iblis pembantai keluarga suci Nabi Saw itu, pada mulanya banyak yang penganut muslim shaleh, mereka ikut berperang bersama pasukan Imam Ali bin Abi Thalib as, ayah Imam Husein as dalam membela kebenaran, dan sangat mengenal sekali siapa itu Imam Husein as.

Lihatlah, para manusia iblis musuh Allah, musuh kebenaran pembantai keluarga ilahiyah, keluarga suci kenabian itu, pada awalnya adalah banyak dari "Syiah" Imam Husein as, yang mengundang beliau as untuk datang ke Kufah. Akan tetapi karena godaan duniawi atau pun ancaman pedang penguasa dzalim, mereka berbalik menghunuskan pedang- pedang mereka kepada Imam Husein as.

Pada 10 Muharam itu, Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, membolak-balikkan hati manusia bagaikan membalik telapak tangan, dari manusia penganut muslim shaleh menjadi manusia durjana musuh Allah yang terpuruk ke dasar jurang kehinaan.

"Malam Deklarasi Manusia Husainiyah, sebagai Manusia Pengikut Kebenaran, pengikut Kenabian"

Sementara itu, di pihak Imam Husein as, para sahabat dan pengikut Imam Husein as justru menggambarkan representasi kelompok karakter "manusia ilahiah" yang memegang komitmen kuat terhadap nilai kemanusiaan, ketaatan, kesetiaan, persahabatan, pengabdian dan kecintaan kepada pemimpin, keyakinan kepada kebenaran, semua itu ditunjukkan secara gamblang oleh para sahabat dan pengikut Imam Husein as.

Kita lihat, di malam Asyura, malam ke 10 Muharam, dalam kegelapan malam yang mencekam, setelah sebelumnya terdengar alunan kalam ilahi, Imam Husein as untuk terakhir kali mengumpulkan seluruh sahabat dan pengikutnya.

Dalam kegelapan malam itu, Imam Husein as berkata kepada para pengikutnya:

"Wahai para pengikut setiaku, besok adalah hari terakhir kita bisa berkumpul, besok kematian akan menjemput kita semua". Yang mereka cari adalah diriku, kematianku, mereka tidak memburu kalian".

"Aku ridha jika kalian meninggalkan aku malam ini, telah kulepaskan bai'at kalian agar bisa pergi dariku dalam kegelapan malam ini. Bawalah sanak saudara kalian dan kembalilah ke keluarga kalian, aku ridha".

Apa jawaban mereka, para pengikut Imam Husein as? Mereka semua menolak untuk meninggalkan Imam mereka.

"Bagamana aku akan menjumpai datukmu Rasulullah kelak jika aku meninggalkanmu, ya Imam? Mau ditaruh dimana mukaku di hadapan Rasulullah ya Imam? Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, ya Imam".

"Seandainya besok aku mati dicincang pedang dan dihidupkan kembali sampai 70 kali, aku tetap akan bersamamu, ya Imam".

Mereka tetap teguh memilih berjalan bersama Imam Husein as menjemput syahada, mereka memilih menjadi manusia pembela kebenaran, pembela kenabian, mereka memilih menjadi kelompok kanan seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an. Sedangkan musuh-musuh mereka adalah golongan kiri.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa umat manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kanan dan kiri.

"Golongan kanan" berisi manusia-manusia mulia, pengikut kebenaran. Sedangkan "golongan kiri" berisi manusia-manusia pengikut kebatilan, golongan manusia pengingkar ayat-ayat Allah Swt.
Allah SWT berfirman:

فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۙ مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ

"Fa ash-haabul-maimanati maaa ash-haabul-maimanah"

"yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu." (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat

وَاَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ ۙ مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ

"wa ash-haabul-masy`amati maaa ash-haabul-masy`amah"

"dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu," (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 9).

اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ

"ulaaa`ika ash-haabul-maimanah"

"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (QS. Al-Balad 90: Ayat 18).

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ

"wallaziina kafaruu bi`aayaatinaa hum ash-haabul-masy`amah"

"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri."

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ

'alaihim naarum mu`shodah"

"Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat." (QS. Al-Balad 90: Ayat 19-20).

Semoga mencerahkan.

Paris Van Java 160724.

Husein, Imam Pembebasan Dunia, Bangkit Demi Memperbaiki Umat Nabi Muhammad Saw





Husein bin Ali, seorang anggota keluarga dan cucu Nabi Muhammad Saw, sebelum melakukan perlawanan berkata, "Saya tidak bangkit dari aorgansi, korupsi, dan ketidakadilan, saya hanya berdiri untuk memperbaiki urusan umat kakekku".

Tidak ada orang seperti Imam Husein yang bersemayam di hati orang-orang yang bebas dan mencintai kebebasan di dunia. beliau adalah teladan spiritualitas dan ketulusan, keberanian dan pengusung keadilan dan anti-tirani, dan pada saat yang sama, penuh pengabdian.

Dalam artikel Parstoday ini, kita melihat kehidupan dan pemikiran Imam Husein.

Hussain, Ahlul Bait dan cucu Nabi Muhammad saw, dan putra Sayidah Fatimah putri Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syi'ah , lahir pada tahun keempat Hijriah di kota Madinah.

Imam Husein adalah salah satu Ahlul-Bait Nabi, yang disinggung dalam ayat Tathir dalam al-Quran mengenai orang-orang yang suci dari dosa. Beliau mengerahkan segala dayanya untuk memulihkan moralitas, kemanusiaan, dan kebebasan.

Menurut laporan sejarah Syiah dan Sunni, Nabi Muhammad Saw mengumumkan kesyahidannya ketika ia dilahirkan, dan memilih nama Husein untuknya. Selain posisinya sebagai Imam ketiga dan pemimpin syuhada di kalangan Syiah, juga di kalangan Sunni, Imam Husein dikenal karena keutamaan yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw dan juga dihormati karena pendiriannya melawan penguasa yang kejam di zamannya, Yazid bin Muawiyah.

Peringatan Asyura di Makam Shahcheragh, Shiraz, Iran

Imam Husein sangat keberatan dengan kinerja Muawiyah, raja Dinasti Bani Umayyah saat itu. Beliau menolak berjanji setia kepada Yazid (putra Muawiyah) dalam urusan jabatan khalifah. Imam Husein menyebut Yazid sebagai orang yang kejam, menindas, dan tidak kompeten dengan perilaku anti kemanusiaan dan anti sosial.

Imam Husein memandang kekhalifahan sebagai kedudukan ilahi dan meyakini bahwa penjaga masyarakat harus menauladani Nabi Muhammad saw. Setelah kematian Muawiyah, Yazid menekan Imam Husain untuk berbaiat, bahkan akan membunuhnya, jika menolak untuk berjanji setia.

Akhirnya Imam Husain berangkat ke Mekkah dari kota Madinah karena tekanan dari antek-antek Yazid dan tentara bayarannya. Selama empat bulan tinggal di Mekkah, beliau juga menerima banyak permintaan dan surat dari masyarakat Kufah untuk menerima jabatan Khalifah. Dengan mengikuti permintaan tersebut, Imam Husein mengirimkan utusannya Muslim bin Aqil ke Kufah. Muslim membenarkan dukungan orang-orang Kufi dan Imam berangkat ke kota ini. Tapi di sisi lain, Yazid juga mengirimkan pasukan untuk menghadapi Imam Husein.

Upacara berkabung Asyura di Afghanistan

Akhirnya kedua belah pihak saling bertemu pada hari kedua Muharram tahun 61 H di gurun Karbala. Sementara itu, masyarakat Kufah tidak berpegang teguh pada kesepakatan mereka dengan Imam Husein dan membiarkannya sendirian dalam pertempuran yang tidak adil. Menurut riwayat sejarah, pasukan Yazid berjumlah sekitar 30 ribu orang, sedangkan jumlah prajurit Imam Hussein hanya 72 orang. Namun, Imam tidak menyerah pada kesetiaan palsu musuh.

Pada hari Asyura, 10 Muharram, terjadi pertempuran sengit dan para sahabat Imam Husain membuat epos yang langgeng dalam sejarah. Tentara Yazid bahkan memblokir jalur air menuju perkemahan Imam Husein, sehingga beliau serta para sahabatnya syahid dengan bibir kehausan. Kepala suci Imam Husein dan para sahabatnya dipisahkan dari tubuh mereka dan dikirim ke istana Yazid.

Imam Husein pernah dalam suratnya sebelum syahid mengungkapkan,"Dan saya tidak bangkit karena pemberontakan, korupsi dan penindasan, saya hanya ingin mereformasi bangsa nenek moyang saya." Aku ingin memerintahkan apa yang baik dan melarang apa yang buruk dan berperilaku seperti kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib.

Nabi Islam telah bersabda berkali-kali tentang beliau, "Hussein bagian dariku, dan aku bagian dari Hussain." Bagian pertama dari pernyataan ini jelas, tetapi bagian kedua, yaitu agama, aliran, dan keyakinan Nabi Muhammad saw, akan bertahan dengan perjuangan Husein, untuk membawa umat manusia menuju tujuan yang disampaikan Nabi.

Makam Imam Husein di Karbala saat ini menjadi tempat ziarah bagi orang-orang yang merdeka di dunia, dan kesyahidannya adalah ibu kota gerakan kaum tertindas dan pencari kebebasan di dunia.


Dalam kelanjutan artikel dari Parstodi ini, kita menelisik petuah terkenal Imam Husein.

Permata berharga

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «نَحْنُ حِزْبُ اللّه ِ الْغالِبُونَ، وَعِتْرَةُ رَسُولِ اللّه ِ صلي الله عليه و آلهالاْقْرَبُونَ، وَاَهْلُ بَيْتِهِ الطَّيِّبُونَ، وَأَحَدُالثَّقَلَيْنِ الَّذينَ جَعَلَنا رَسُولُ اللّه ِ ثانِىَ كِتابِ اللّه ِ...» [احتجاج طبرسى، 229]

Imam Husain (a.s.) berkata, "Kami para pejuang di jalan Allah akan menang, dan kami lebih dekat dengan Rasulullah (saw) dan Ahlul Bait yang suci, dan kami adalah salah satu dari dua neraca berat yang diberikan Rasulullah saw, Kitabullah (dan penafsirnya)".

Kemunculan Mahdi bin Husein

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «لَوْلَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيا إلاّيَوْمٌ واحِدٌ لَطَوَّلَ اللّه ُ عَزَّوَجَلَّ ذلِكَ الْيَوْمَ حَتّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ وُلْدى، فَيَمْلاَءُها عَدْلاً وَ قِسْطاً كَما مُلِئَتْ جَوْراً وَظُلْماً، كَذلِكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه ِ صلي الله عليه و آلهيَقُول» [كمال الدين، ص317 - بحارالانوار، ج51، ص133]

Imam Husain AS berkata, "Seandainya hanya tersisa satu hari dalam kehidupan dunia, niscaya Allah akan menjadikan hari itu panjang sehingga muncullah seorang laki-laki dari keluargaku dan memenuhi dunia yang penuh dengan penindasan dengan keadilan dan kebaikan. Saya mendengarnya dari Rasulullah Saw,".

Kematian lebih baik daripada kejahatan

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «مَوْتٌ في عِزٍّ خَيْرٌ مِنْ حَياةٍ في ذُلٍّ اَلْمَوْتُ اَوْلى مِنْ رُكُوبِ الْعارِ وَالْعارُ اَوْلى مِنْ دُخُولِ النّارِ» [موسوعة كلمات الامام الحسين 499، ح 289]

Imam Husein pada hari Asyura berkata, "Kematian yang bermartabat lebih baik daripada kehidupan yang hina. Kematian lebih baik dari pada dikaitkan dengan kehinaan dan kehinaan, dan kehinaan lebih baik dari pada masuk api (neraka),".

Kebebasan

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «وَيْحَكُمْ يا شِيعَةَ آلِ اَبى سُفْيانَ، اِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ دِيْنٌ وَكُنْتُمْ لاتَخافُونَ الْمَعادَ فَكُونُوا اَحْـراراً فِى دُنْيـاكُمْ» [بحارالانوار، ج 45، ص 51 - مقتل خوارزمى، ج 2، ص 33]

Imam Husein berkata, "Celakalah kalian, pengikut Abu Sufyan, jika kamu tidak beragama dan tidak takut hari kiamat, maka setidaknya jadilah orang yang merdeka di duniamu sendiri."

Peringatan Asyura di Türki

Kematian dan kehidupan

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «لَيْسَ شَأْنى شَأنُ مَنْ يَخافُ الْمَوْتَ، ما أَهْوَنَ الْمَوْتِ عَلى سَبيلِ نَيْلِ الْعِزِّ وَاِحْياءِ الْحَقِّ، لَيْسَ الْمَوْتُ في سَبيلِ الْعِزِّ اِلاّ حَياةً خالِدَةً وَلَيْسَتِ الْحَياةُ مَعَ الذُّلِّ اِلاَّالْمَوْتَ الَّذى لاحَياةَ مَعَهُ، اَفَبِالْمَوْتِ تُخَوِّفُنى... وَهَلْ تَقْدِرُونَ عَلى أَكْثَرِ مِنْ قَتْلى؟! مَرْحَباً بِالْقَتْلِ فيسَبيلِ اللّه ِ، وَلكِنَّكُمْ لاتَقْدِروُنَ عَلى هَدْمِ مَجْدى وَمَحْوِ عِزّى وَشَرَفى» [كلمات الامام الحسين، 360، ح 348]

Imam Hussein berbicara kepada musuh-musuhnya, dengan berkata, "Aku bukanlah orang yang takut mati. Kematian di jalan kehormatan dan kebangkitan kebenaran sangatlah mudah bagiku. Kematian di jalan kehormatan tidak lain hanyalah hidup kekal dan hidup dengan kehinaan tidak lain hanyalah kematian dan ketiadaan. Apakah kamu membuatku takut menghadapi kematian? Bisakah kamu melakukan lebih dari sekedar membunuhku? Mulialah mati di jalan Allah, tetapi kamu tidak dapat menghancurkan kemuliaanku dan menghancurkan martabat dan kehormatanku,".

Jadilah orang yang berguna

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «خَمْسٌ مَنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ، لَمْ يَكُنْ فِيهِ كَثيرُ مُسْتَمْتَعٍ: اَلْعَقْلُ، وَالدّينُ وَالْأَدَبُ، وَالْحَياءُ، وَحُسْنُ الْخُلْقِ» [حياة الامام الحسين، ج 1، ص 181]

Imam Husein berkata, "Jika tidak ada lima hal dalam diri seseorang, maka kita tidak akan melihat banyak manfaat pada dirinya: Akal,agama, adab, rasa malu, dan akhlak yang baik,".

Jenis ibadah

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «اِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللّه َ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبادَةُ التُّجّارِ، وَاِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللّه َ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبادَةُ الْعَبيدِ، وَاِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللّه َ شُكْراً فَتِلْكَ عِبادَةُ الاَْحْرارِ، وَ هِىَ اَفْضَلُ العِبادَةِ» [بحارالانوار، 78، 117. موسوعه كلمات الامام الحسين 748، ح 906. بلاغة الامام على بن الحسين، ص 171 باب سوم كلمات قصار]

Imam Husein berkata, "Sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhan untuk mendapat pahala, itulah ibadah para pedagang. Kelompok menyembah Tuhan karena takut, inilah ibadah para budak. Namun suatu kelompok beribadah kepada Tuhan karena rasa syukur, maka ibadah ini milik orang-orang merdeka dan merupakan jenis ibadah yang terbaik,".

Hikmah puasa

سُئِلَ الْحُسَيْنُ (ع): «لِمَ افْتَرَضَ اللّه ُ عَزَّوَجّلَ عَلى عَبيدِهِ الصَّوْمَ؟ قالَ: لِيَجِدَ الْغَنىُّ مَسَّ الْجُوعِ فَيَعُودَ بِالْفَضْلِ عَلَى المَساكينَ» [موسوعة كلمات الامام الحسين، ص 692، ح 759]

Imam Husain ditanya mengapa Allah mewajibkan puasa bagi hamba-Nya? Beliau menjawab, "Agar orang kaya merasakan kerasnya kelaparan dan akibatnya menggunakan hartanya untuk membantu orang miskin."

.
Makam imam Husein di Karbala

Semuanya, kecuali Tuhan akan binasa

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): ا«ِنَّ سُكّانَ السَّمواتِ يَفْنُونَ وَاَهْلَ الاْرْضِ يَمُوتُونَ وَجَمِيعُ الْبَرِيَّةِ لا يَبْقُونَ وَكُلَّ شَىْ ءٍ هالِكٌ اِلاّ وَجْهَهُ» [فتوح ابن اعثم، ج 5، ص 94 - مقاتل الطالبيين، ص 112]

Imam Husein berkata, "Makhluk langit binasa dan makhluk bumi mati, semuanya tidak stabil dan segala sesuatu dapat binasa, kecuali Tuhan,".

Jangan menindas orang lain

قالَ الْحُسَيْنُ (ع): «يا بُنَىَّ اِيّاكَ وَظُلْمَ مَنْ لايَجِدُ عَلَيْكَ ناصِراً اِلاَّ اللّه َ» [بحارالانوار، ج 75، ص 308 - اعيان الشيعة، ج 1، ص 620]

Imam Husein berkata, "Anakku! Hindarilah menindas orang yang tidak ada penolong di hadapanmu selain Allah,".(PH)

Sumber: Parstoday indonesia