Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Besar Revolusi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Besar Revolusi Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2025

Apa Yang Terjadi di Timur Tengah?




Dalam siaran di TV Australia, dan tamunya adalah seorang profesor Yahudi-Amerika.

Pembawa acara bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi di Timur Tengah?" 

Profesor Yahudi itu menjawab, "Selama 300 tahun, kami orang Barat menguasai dunia dengan uang dan senjata, dan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. 

Siapa pun yang tidak mematuhi kami akan digoda oleh uang atau diancam dengan senjata. Namun setelah kebangkitan Khomeini pada tahun 1979, seorang pemain baru yang aneh memasuki barisan kami.

Ia tidak menginginkan uang, juga tidak takut pada senjata.

Hal yang paling aneh adalah bahwa Tuhan menyertai mereka dalam segala hal.

Tuhan mengubah keseimbangan kekuatan, mengalahkan kami, dan memberi mereka kemenangan."

Sang filsuf berkata, "Saya berharap Tuhan akan terus menyertai mereka karena data menunjukkan hal ini."

[Repost, Status FB "Umat Akhir"]

Sumber:


Mossad dan CIA Memalsukan Karya Imam Khomeini





Revolusi Islam Iran telah membuat ketakutan bagi setan besar Amerika, demikian halnya Israel. Tatkala rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Jendral Israel yang memenangkan perang tujuh hari atas Arab, Moshe Dayan, menampakan kemarahan yang luar biasa.

Meski sudah pensiun Jendral bermata satu tersebut merasa terusik dengan lahirnya Republik Islam baru tersebut, Moshe Dayan kemudian mencak-mencak di IDF atas kegagalan operasi Mossad dan CIA yang gagal membunuhi tokoh-tokoh revolusi Iran, sembari membanting topi ke meja, Moshe Dayan mengatakan:

“Mulai hari ini kalian harus bekerja keras!!!
Masa depan Israel sedang menghadapi ancaman serius dari anak-anak Ali.
Hari ini Israel akan menghadapi lawan tangguh!"[1]

Beberapa operasi simultan kemudian digelar Amerika serikat dan Israel untuk menghancurkan Republik Islam Iran [2], salah satunya adalah perang intelijen yang menitik beratkan pada operasi disinformasi (penyesatan informasi). Israel memerintahkan LAP (Lahomah Pscichlogit) dengan tugas agar melakukan assassination character dan black campaign terhadap karya-karya Khomaini. Operasi ini didukung pula oleh Joint Publications and Reserch service sebuah kompartemen milik CIA yang bertanggungjawab melakukan penerjemahan. [3] Sebagaimana disebutkan oleh Hamid Alghar, CIA dan LAP kemudian melakukan pemalsuan-pemalsuan terhadap karya-karya ulama syi’ah termasuk Imam Khomaini. Semula CIA dan LAP menggunakan basis percetakanya di New York dengan memakai kedok Manor Books sebagai penerbitnya, namun belakangan mereka menggunakan percetakan yang berbasis di negara-negara sunni pro Amerika, diantaranya Arab Saudi dan Yordania.

Berikut adalah sebagian kecil buku-buku yang di palsukan oleh konspirasi AS-Israel-Sunni Wahabi dan Sunni pro AS Israel [3]:

1. Kitab Hukumat-I Islami karya Imam Khomaini

Kitab ini merupakan magnum opus imam khomaini, kitab ini berisikan catatan-catatan kuliah tentang prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang dikumpulkan oleh murid-murid beliau dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Perancis, Arab, Turki dan Urdu. Setelah Imam Khomaini berhasil menumbangkan rezim pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran, kitab Hukumat-I Islam ini kemudian dipalsukan oleh CIA, buku ini di palsukan dalam dua bahasa Inggris dan Arab. 

Kelompok Sunni Wahabbi menggunakan terbitan dari CIA dan LAP ini untuk menyerang Syi’ah dan melakukan asasinasion character terhadap Imam Khomaini dengan buku ini. Penerbit dari Indonesia bernama Pustaka Zahra telah mencetak buku aslinya dengan judul Sistem Pemerintahan Islam. Silahkan di bandingkan antara yang buku yang diterbitkan CIA dan LAP ini dengan buku aslinya.

2. Kitab Kasyful Asrar karya Imam Khomaini

Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas) dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah, diantaranya kemudian diterbitkan buku berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal, Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia).

Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah. Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru ahlu sunnah sendiri, adalah Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan kepala bagian bahasa dan sastra timur Universitas Kairo, menemukan tindakan criminal kelompok konspirasi ini. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki nama baik Ahlu Sunnah. Temuan beliau diantaranya: Kitab Kasyful Asrar dipalsukan di Yordania oleh penerbit bernama Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada.

Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilalali (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib. Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki sata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi.

Masih banyak kitab-kitab syiah yang di palsukan oleh kelompok pro konspirasi seperti Salafi Wahabi, seperti kitab yang ditulis alamah Hilli untuk menanggapi karya Ibnu Taimiyah, minhajul as sunnah pun tak luput dipalsukan, dan tempat pemalsuanya berpusat di Arab Saudi.

Fenomena Pencatutan Nama Ulama Syi’ah

Selain memalsukan kelompok Ahlu Sunnah pro konspirasi tak segan-segan melakukan pencatutan nama, modusnya dengan menulis buku seolah-olah dilakukan oleh ulama syi’ah, diantaranya adalah:

1. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah penulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah Ja’far Subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.

2. Syaikh Saleh Darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul Ta’ammulat fi Nahjul al Balghah, dan kitab ini segera diketahui oleh ulama-ulama Syiah dan kemudian diluruskan dalam kitab berjudul Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.

3. Kelompok Pro Konspirasi mencatut nama Sayyid Musa al-Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab as syi’ah wa at tashih yang sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah pro konspirasi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama Syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah.

Bahkan Kelompok konspirasi ini bukan hanya melakukan pemalsuan kitab Syi’ah mereka bahkan secara keji memalsukan kitab-kitab mereka sendiri, diantaranya:

1. Memalsukan kitab “Hasyiyah Al Allamah Al Showi Ala Tafsir Al Jalalain”
2. Memalsukan pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw:176
3. Memalsukan pernyataan Imama Ahmad bin Hanbal dalam kitab Mukhtashar ar Rawdhah. Dalam kitab yang sama memalsukan pernyataan Imam malik dan Imam Abu Hanifah.

Sampai hari ini mesin-mesin konspirasi terus bekerja, kami memaklumi jika kemudian kalangan ahlu sunnah meladzimkan pemalsuan kitab-kitab Syi’ah, sedang terhadap imamnya sendiri saja mereka gemar melakukan pemalsuan.

[1] Mossad, Penerbit Grafiti
[2] Bagi yang berminat silahkan membaca tulisan dalam blog peminat kemeliteran dan inteleijen yang dikelola oleh Muhammad Reza Sistani, Muhammad Ivana Lee, Ar Budi Prasetyo dan Muhammad Alfred Sastranagara.
[3] Makalah Muhammad Ivana Lee yang disampaikan dalam Desk diskusi Wirakartika Ekapaksi, “Seputar Dirty Intelligen Terhadap karya-Karya Khomaini”
[4] Untuk mengetahui lebih jelas silahkan melihat daftar yang dimiliki IPO (organisasi Penerangan Islam yang sempat melakukan penertiban buku-buku yang dipalsukan tersebut).


Sumber:

Jumat, 02 Agustus 2024

Ayatullah Khamenei: Rezim Zionis Buka Peluang Hukuman Berat Untuk Dirinya


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei dan Ismail Haniyeh


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, terkait teror Kepala Biro Politik Hamas mengatakan, Rezim Zionis sudah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (31/7/2024) mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin berani dan pejuang umat Islam, serta poros perlawanan, dan bangsa Palestina.

Rahbar menegaskan, "Rezim Zionis penjahat dan teroris, dengan aksi ini telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya sendiri, dan kami menganggap menuntut balas atas darah Ismail Haniyeh, yang gugur di dalam wilayah Republik Islam Iran, sebagai kewajiban kami."

Isi pesan Ayatullah Khamenei sebagai berikut:

Bismillahirahmanirahim
Innalillahi wa inna ilahi rajiun

Rakyat mulia Iran

Pemimpin berani dan pejuang unggul Palestina, Tuan Ismail Haniyeh, kembali ke sisi Allah SWT, dan poros agung perlawanan berduka. Rezim Zionis penjahat dan teroris, menewaskan tamu mulia kami di rumah kami sendiri, dan membuat kami berduka, tapi Rezim Zionis telah membuka kesempatan untuk menerima hukuman berat bagi dirinya.

Syahid Haniyeh, selama bertahun-tahun telah mempertaruhkan nyawa berharganya di jalan perjuangan mulia, dan siap untuk gugur, dan menyerahkan putra-putra serta familinya di jalan ini.

Ia tidak pernah takut untuk gugur di jalan Tuhan, dan di jalan menyelamatkan hamba-hamba-Nya, tapi kami dalam peristiwa pahit dan sulit yang terjadi di wilayah Republik Islam Iran, menganggap menuntut balas atas darah beliau, sebagai kewajiban kami.

Saya mengucapkan belasungkawa kepada umat Islam, poros perlawanan, kepada bangsa berani dan terhormat Palestina, terutama keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan atas gugurnya Syahid Haniyeh, dan salah satu pengawalnya. Saya memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kedudukan tinggi kepada mereka.

Sayid Ali Khamenei

31 Juli 2024 (25 Muharam 1446 Hijriah)

Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, sebelumnya mengumumkan, Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas, dan salah satu pengawalnya gugur dalam sebuah serangan ke kediamannya di Tehran, Rabu (31/7) pukul 2 dinihari. (HS).

Sumber: Parstoday Indonesia

Minggu, 28 Juli 2024

Sayyid Al-Khurasani Komandan Tempur dan Panglima Pasukan Imam Mahdi



Pemimpin Republik Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei dari kota Khurasan sudah disebut dalam kitab Ahlus Sunnah 1400 tahun lalu sebagai komandan tempur dan panglima pasukan Imam Mahdi.

Oleh: Mustafa Al-Habsyi


Dalam riwayat yang shahih dalam literatur Ahlus Sunnah disebutkan bahwa panglima besar pasukan Imam Mahdi ada dua, yaitu Sayyid al-Yamani dan Sayyid al-Khurasani yang ciri utama fisiknya beliau bertangan cacat.

Informasi mengenai Sayyid al-Khurasani yang memiliki cacat fisik, terutama pada tangannya, dapat ditemukan dalam berbagai sumber sejarah Islam. Salah satunya kitab Ahlus Sunnah yang menyebutkan hal ini adalah Tarikh al-Tabari (Sejarah al-Tabari) karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari, seorang sejarawan dan penulis terkenal dari abad ke-9. Kitab ini sering menjadi rujukan utama untuk informasi sejarah mengenai tokoh-tokoh Islam pada masa awal.

Selain itu, Imam kelima dari 12 Imam Syiah, cucu Rasulullah Saw, yaitu Imam Muhammad al-Bagir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib berkata tentang Sayyid al-Khurasani:

"Sayyid al-Khurasani itu memiliki tanda cacat di tangannya." (Biharul Anwar).

Beliau adalah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran dan pemimpin satu dunia Islam Syiah 12 Imam atau Islam Jakfari.

Setiap tahun agenda beliau biasanya mengunjungi keluarga dan anak-anak syuhada, dimana ketika berkunjung beliau melakukan kunjungan mendadak agar tidak membebani keluarga syuhada Iran dengan menyediakan makanan mahal kalau kunjungannya diberi tahu terlebih dahulu.

Oleh karena itu, beliau terkejut melihat ada satu meja besar penuh terisi makanan mewah sudah dihidangkan utk menyambut beliau.

Beliau langsung menegur komandan Intel acara itu dan berkata, "Apakah ada yang membocorkan kunjungan kita sekarang ini?"

Komandan Intel menjawab dengan yakin:

"Percayalah wahai Rahbar, bahwa saya telah bekerja dengan sebaik-baiknya dan kunjungan anda ini tidak ada satupun orang yang mengetahuinya".

Rahbar, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran ini berjalan menuju meja hidangan mewah dan bertanya kepada seorang remaja syuhada yang menjaga meja hidangan tersebut:

"Apakah anda tahu kalau saya mau berkunjung ke sini?"

Sang Pemuda menjawab: "Ya saya tahu!

Sayyid Ali Khamenei bertanya lagi: "Dari siapa?"

Sang Pemuda menjawab: "Dari almarhum Imam Khomeini yang datang mengabarkan kedatangan anda kepada saya dalam mimpi".

Sayyid Ali Khamenei: "Apa ada pesan khusus Imam Khomeini kepada saya?"

Pemuda menjawab dan berkata: "Ada! Imam Khomeini berpesan agar anda hentikan do'a anda yang sudah rutin anda dawamkan agar Allah berikan mati syahid".

Rahbar berkata: "Bukankah itu permintaan do'a yang baik?"

Pemuda: "Benar! Tetapi Imam Khomeini memberitahukan anda akan berumur panjang dan beliau berkata bahwa Republik Islam dan Umat Islam masih sangat membutuhkan kepemimpinan anda dan anda akan memperoleh kemenangan terus ke depan".

Sayyid Ali Khamenei mengucapakan terima kasih atas informasi ghaib itu dan tidak lama berselang beliau pun kembali pergi meninggalkan tempat itu.

Dalam tradisi keyakinan Syiah menanti Imam Mahdi adalah amalan yang sangat utama dan memiliki keagungan di sisi Allah Swt sebagaimana ayat kemunculan Imam kelak. Beliau shalat menjadi Imam shalat berjamaah Nabi Isa di masjid kota suci mikraj Nabi Saw ke langit ketujuh Sidratul Muntaha utk menerima hadiah perintah shalat.

Menanti kedatangan sang kekasih dengan berhias atau berjuang di jalan Allah dan bekerja mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Imam Mahdi dan menggelar karpet merah menyambut kedatangan Imam Mahdi.

Dalam UUD Republik Islam Iran ada pasal dimana pemimpin Iran wajib menyerahkan kepemimpinan negara dan pemerintahan saat beliau Sang Imam Agung Ini muncul kelak. Insya Allah sebagaimana ayat kemunculan imam Mahdi dibawah ini:

"Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan dabbah (sejenis makhluk bergerak melata) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." (QS. An-Naml [27]: 82).


Minggu, 07 Juli 2024

Bekerja Karena Cinta Kepada Tuhan Tidak Akan Pernah Membuat Kita Lelah




Pemimpin bangsa dan revolusi ini adalah seorang pria yang mengemban tugas-tugas tersulit di usia 80 tahun. Pada hari Imam Khomeini memasuki Iran, usianya sekitar delapan puluh tahun. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia terlalu tua atau terlalu lelah. Pada tahun 1981, ketika saya datang ke Teheran dari Ahwaz, saya mengunjunginya dan menyampaikan beberapa keluhan tentang suatu masalah. Ia ingin saya mengundang orang-orang yang telah dipilihnya untuk menghadiri sebuah pertemuan. Pertemuan itu diadakan pada hari yang sama, dengan pemberitahuan singkat; tetapi pria tua yang berhati muda, bersemangat, dan berkuasa itu memimpin pertemuan tersebut, dan tidak pernah menyebutkan rasa lelah. Ketika pekerjaan itu dilakukan karena cinta kepada Tuhan, pekerjaan itu tidak membuat seseorang lelah, dan waktu tidak menjadi masalah. Suatu kali, seorang individu yang malu yang berpura-pura bergabung dengan kaum beriman, mengucapkan sepatah kata dan Imam Khomeini menjawab: “Jika kalian tidak ingin melakukannya, menjauhlah! Saya akan melakukannya sendiri!” Mereka tidak percaya bagaimana Imam mengemban tanggung jawab seperti seorang pemuda.

Pernyataan dalam pertemuan dengan sejumlah staf dan komandan Angkatan Darat, 27 September 1995

Sumber: khamenei.ir

Imam Khomeini dan Perjuangan Palestina




Hari Asyura tahun 1383 H bertepatan dengan tanggal 3 Juni 1963. Imam Khomeini naik mimbar di Seminari Faizieh di Qom. Dalam khotbah gemilangnya yang mengkritik keras rezim Pahlavi, ia menarik perhatian semua orang pada satu pokok yang menjadi fondasi dasar gerakan revolusionernya, yakni perjuangan melawan Israel. Itulah rezim yang menurutnya telah menciptakan tragedi di dunia Islam dengan merampas Palestina. Dalam pidato yang terkenal itu, Imam Khomeini memperingatkan orang-orang tentang bahaya Israel, rezim yang berusaha menghancurkan Islam, Al-Qur'an, dan ulama. Ia juga menjelaskan hubungan yang dimiliki pemerintahan Shah dengan rezim Israel. Meskipun tanggal tersebut dianggap sebagai titik awal gerakan revolusioner Imam, akar pidato Imam tentang Palestina dan pendudukan Israel di sana bermula dari masa sebelumnya. Pada bulan Maret 1963, Imam Khomeini menulis surat tentang bahaya Israel kepada berbagai serikat dan asosiasi di Qom sebagai tanggapan atas pertanyaan mereka. Ia menulis, “Karena kewajiban agama saya, dengan ini saya memperingatkan rakyat Iran dan umat Islam di seluruh dunia bahwa Al-Qur'an dan Islam berada dalam bahaya. Kemerdekaan negara kita dan ekonominya berada dalam bahaya direbut oleh kaum Zionis. Dengan diamnya kaum Muslim, tidak akan lama lagi mereka [kaum Zionis] akan menghancurkan eksistensi bangsa Muslim dalam segala aspeknya.”

Masalah Palestina dan perilaku jahat Israel selalu menjadi topik yang dibicarakan Imam Khomeini dalam pidato-pidatonya, karena hal itu sangat penting baginya. Imam menganggap meningkatnya kekuatan Israel dan penaklukan negara-negara Muslim di tangan rezim brutal ini sebagai penghancuran Islam dan Al-Qur'an. Ketika Perang Arab-Israel ketiga meletus pada tahun 1973, Imam menyampaikan pesan kepada pemerintah-pemerintah Islam dan negara-negara Muslim yang menekankan perlunya menjaga persatuan. Ia menyerukan kepada mereka untuk mengumpulkan semua kekuatan mereka guna memerangi Israel. Dalam surat ini, Imam Khomeini merangkum mekanisme-mekanisme yang terlibat dalam perang melawan Israel dalam beberapa kategori, dan ia mengumumkannya kepada masyarakat Muslim pada umumnya. Mekanisme-mekanisme ini meliputi: Dukungan komprehensif untuk garis depan pertempuran melawan Israel.
  1. Menghindari perbedaan dan kemunafikan yang merusak diri sendiri.
  2. Tidak takut terhadap kekuatan fiktif para pembela Zionisme.
  3. Persatuan antara pemerintahan Islam dan menegur, mengancam dan memutus hubungan dengan negara mana pun yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
  4. Mengirimkan bantuan material dan spiritual oleh negara-negara Muslim seperti darah, obat-obatan, makanan, dll. ke medan perang.
Padahal, Imam Khomeini menegaskan bahwa menjaga persatuan untuk pembebasan Palestina adalah jalan utama dan terpenting untuk meraih kemenangan. Sebab, ia tidak yakin bahwa tujuan negara-negara kolonial besar mendirikan Israel hanya untuk menduduki Palestina. Imam meyakini, jika Israel dibukakan jalan, semua negara Muslim pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Palestina. Itulah sebabnya Imam Khomeini mengibaratkan Israel sebagai tumor kanker, dan ia mengatakan bahwa pemberantasannya segera adalah kewajiban bagi semua Muslim.

Karena perlunya persatuan bangsa Islam dalam memerangi Israel, Imam Khomeini tidak menyia-nyiakan segala upaya – baik dalam pidato-pidatonya dan rekomendasi-rekomendasi yang diberikannya kepada bangsa-bangsa Muslim maupun dalam tindakan-tindakan yang diambilnya dalam hal ini. Pada tanggal 7 Agustus 1979, ia menyampaikan pidatonya di hadapan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia dengan cara berikut, “Saya menyerukan kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia dan pemerintah-pemerintah Islam untuk bersatu dalam memotong tangan perampas kekuasaan ini [Israel] dan para pendukungnya. Saya mengajak seluruh umat Muslim untuk memilih hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, yang merupakan waktu terjadinya Malam-Malam Takdir dan yang dapat menentukan nasib orang-orang Palestina, sebagai 'Hari Quds.' Sebuah upacara harus diadakan pada hari ini untuk mendeklarasikan solidaritas internasional umat Muslim dalam mendukung hak-hak hukum umat Muslim.” Sebenarnya, penetapan Hari Quds bukan sekadar untuk menentukan simbol yang mewakili pengorbanan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Muslim untuk salah satu cita-cita terbesar Islam. Tujuannya juga untuk menghidupkan kembali semangat Islam dan kewaspadaan masyarakat Islam. Ini terjadi pada saat para pemimpin negara-negara Muslim berpikir untuk merangkul Israel dan beberapa di antaranya sudah bangga dengan afiliasi mereka dengan rezim Zionis!

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel pada tahun 1967 yang menyebabkan Mesir kehilangan gurun Sinai, pukulan telak menimpa badan pemerintahannya. Anwar Sadat, yang memperoleh kekuasaan di Mesir setelah Gamal Abdel Nasser, datang ke meja perundingan dengan Israel pada tahun 1978 untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Negosiasi tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat di Camp David. Sadat secara resmi mengakui Israel dan merebut kembali wilayahnya.

Sebelum peristiwa ini, Imam Khomeini telah menghabiskan 20 tahun memperingatkan semua negara Islam tentang bahaya berkompromi dengan Israel. Karena itu, ia menganggap langkah Anwar Sadat sebagai tindakan pengkhianatan terhadap umat Islam dan Palestina. Mengakui Israel berarti mengekspresikan solidaritas dengan pemerintahannya yang curang, dan itu juga berarti memisahkan jalan seseorang dari jalan perjuangan. Tentu saja, tindakan ini bertentangan dengan jalan yang selalu ditekankan Imam Khomeini. Imam percaya bahwa Camp David memecah belah negara Islam. Ia juga menganggapnya sebagai sarana untuk memperkuat front Israel – yang apinya akan menelan tidak hanya orang Palestina tetapi semua negara di Timur Tengah. Karena Imam Khomeini percaya Perjanjian Camp David adalah pakta pengkhianatan, pada 11 Mei 1979, ia mengeluarkan perintah untuk memutuskan hubungan diplomatik antara Republik Islam Iran dan pemerintah Mesir.

Setelah Imam kehilangan harapan pada pemerintahan Arab, ia beralih ke negara-negara Muslim. Ia menyerukan mereka untuk bersatu di jalan pembebasan Palestina dan memerangi rezim pendudukan di Quds. Ia juga mendesak umat Islam untuk memisahkan diri dari jalan yang ditempuh oleh pemerintah yang telah berkompromi dengan rezim Israel. Dalam sebuah pesan yang dikeluarkan selama haji tahun 1987, ia menyampaikan pesan kepada umat Islam di seluruh dunia dan para jamaah haji sebagai berikut, “Negara-negara Muslim harus berpikir untuk menyelamatkan Palestina. Mereka harus mengungkapkan rasa jijik dan benci mereka terhadap cara-cara kompromi dari para pemimpin yang memalukan dan mementingkan diri sendiri, yang atas nama Palestina, telah menghancurkan aspirasi rakyat di tanah yang diduduki dan umat Islam di wilayah ini. Negara-negara Muslim seharusnya tidak membiarkan para pengkhianat ini mencoreng prestise, reputasi, dan kehormatan bangsa Palestina yang heroik di meja perundingan.” Setelah itu, setiap kali Imam Khomeini melihat adanya tindakan kompromi dari para pemimpin negara-negara Islam, ia akan mengkritik mereka dan mengingatkan mereka tentang tingginya tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh Israel. Namun, hanya sedikit yang mau mendengarkan nasihat ini. Maka di mata Imam, kaum Muslimin di dunia yang terpisah dari pemerintah mereka berubah menjadi satu-satunya pejuang dalam pertempuran melawan Israel.

Imam Khomeini (ra) memperkenalkan Palestina sebagai poros persatuan umat Islam. Selama hidupnya yang penuh dengan perjuangan, tidak ada satu momen pun di mana ia berhenti menyebarkan kesadaran tentang pentingnya masalah Palestina dan perilaku jahat Israel. Imam Khamenei berkata, “Salah satu elemen utama [mazhab Imam Khomeini] adalah bergegas membantu mereka yang tertindas dan menentang penindas. Di era kita, di masa kita, rakyat Palestina adalah contoh dari mereka yang tertindas. Seperti yang Anda lihat, dari hari pertama hidupnya hingga hari terakhir, Imam menekankan dan mendukung masalah Palestina. Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran dan para pejabatnya untuk tidak lupa: membantu yang tertindas dan menentang penindas, meniadakan tipu daya penindas, dengan tegas membantah dan menghancurkan kebesaran dan keagungan penindas.” [4 Juni 2014]

Bahkan dalam teks terakhir namun abadi yang ditinggalkan Imam – wasiat politik-ilahinya – ia memberikan perhatian khusus pada masalah Palestina dan perlunya untuk melawan dan menentang Israel. Seperti biasa, ia mencoba menjelaskan tujuan dan alasan di balik mengapa rezim penipu ini didirikan. Dalam wasiat politik-ilahinya, Imam Khomeini menyatakan bahwa negara-negara Muslim harus bangga dengan kenyataan bahwa musuh mereka adalah musuh Tuhan Yang Maha Pengasih, Al-Qur'an Suci, dan Islam. Ada sebagian orang yang fantasi bodohnya untuk mewujudkan "Israel Raya" menyebabkan mereka membakar seluruh dunia. Untuk mencapai keinginan serakah mereka, mereka melakukan kejahatan yang terlalu memalukan untuk ditulis atau dibicarakan. Dalam hal ini, apa yang Imam Khomeini anggap sebagai solusi bagi orang-orang tertindas di dunia dalam menghadapi kebuntuan di depan, adalah untuk tidak bergantung pada Timur atau Barat. Sebaliknya, mereka harus mengikuti budaya politik, sosial, ekonomi, dan militer dari pemandu terbesar umat manusia, yaitu, para Imam Maksum.

Sumber: khamenei.ir

Minggu, 30 Juni 2024

Imam Khamenei: Gerakan Pembela Haram, Menyelamatkan Iran dan Kawasan/Membela Haram, Membela Nilai-nilai Kemanusiaan


Imam Khamenei


Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pertemuan dengan anggota penyelenggara Kongres Internasional Syuhada Muqawama dan Pembela Haram (Pembela Keamanan Asia Barat dan Haram atau Makam Suci Ahlulbait Nabi), menyebut pembela Haram sebuah fenomena menakjubkan dan penting serta salah satu manifestasi pandangan dunia Republik Islam.

Lebih lanjut Imam Khamenei menekankan, kehadiran pemuda dari berbagai etnis bangsa dalam kelompok pembela Haram menunjukkan bahwa Revolusi Islam setelah lebih dari empat dekade, masih memiliki kekuatan untuk menciptakan kembali semangat dan epik revolusi pertama.

Imam Khamenei seraya mengenang seluruh syuhada pembela Haram (Pembela Keamanan Asia Barat dan Haram atau Makam Suci Ahlulbait Nabi) dan front muqawama, khususnya Syahid Jenderal Soleimani, menilai membela Haram Suci (Ahlulbait Nabi) sebuah sisi simbolis dalam membela ideologi dan nilai-nilai pemilik Haram dan Ahlulbait as.

"Nilai-nilai tinggi mazhab Ahlulbait as seperti keadilan, kebebasan, melawan kekuatan zalim, dan "pengorbanan di jalan kebenaran", senantiasa mendapat peminat di antara mereka yang memiliki hati nurani yang murni," tambah Imam Khamenei.

Menurut laporan Pars Today, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut gerakan mahasiswa di berbagai universitas Amerika Serikat dalam membela rakyat Jalur Gaza adalah contoh dari hati nurani yang murni di dunia, dan menambahkan:

Yang penting adalah pesan membela Haram sejatinya adalah membela nilai-nilai kemanusiaan, sampai kepada hati nurani yang murni di dunia.

Beliau menganggap dimensi lain dari isu mempertahankan tempat suci (Haram) sebagai pandangan dunia revolusi Islam dan mengingatkan: Setiap gerakan dan revolusi yang mengabaikan lingkungan internasional dan regionalnya pasti akan terpukul, seperti halnya pergerakan bangsa Iran dalam Revolusi Konstitusional dan dalam permasalahan nasionalisasi industri minyak yang terpuruk dan tidak tuntas karena terlalu memikirkan permasalahan dalam negeri dan mengabaikan campur tangan asing, akhirnya gagal mencapai cita-citanya.

Rahbar menambahkan:

Imam Khomeini sejak hari-hari pertama kebangkitan Islam dan juga sejak awal kemenangan Revolusi Islam, senantiasa memperhatikan intervensi asing dan padangan dunia serta regional, dan tidak disibukkan isu-isu dalam negeri, dan dalam berbagai statemennya memberikan peringatan yang diperlukan terkait isu-isu ini.

Pertemuan anggota penyelenggara Kongres Internasional Syuhada Muqawama dan Pembela Haram

Imam Khamenei menyebut kehadiran pejuang pembela Haram (Pembela Keamanan Asia Barat dan Haram atau Makam Suci Ahlulbait Nabi) di negara-negara yang musuh merancang plot sangat berbahaya baginya, termasuk manifestasi pandangan dunia Revolusi Islam, dan mengatakan:

Dalam plotnya, musuh berencana menghancurkan pemerintah Islam dengan menduduki kawasan dan pada saat yang sama dengan menerapkan tekanan ekonomi dan politik serta tekanan “ideologis dan agama” terhadap Iran, namun sekelompok anak muda yang beriman, dengan poros Republik Islam, menggagalkan plot yang mahal kubu arogan dunia ini.

Beliau menekankan, dengan pandangan ini, harus dikatakan bahwa gerakan pembela Haram telah menyelamatkan Iran dan kawasan.

Rahbar seraya mengisyaratkan pada esensi brutal, sadis dan tak manusiawi Daesh (ISIS) dan kelompok-kelompok serupa yang dibentuk dengan dukungan persenjataan dan propaganda Amerika serta Barat, menambahkan:

Tujuan dari pembentukan kelompok-kelompok ini adalah mengobarkan instabilitas di kawasan, khususnya Iran, tapi para pembela Haram berhasil meredam bahaya besar ini.

Imam Khamenei menganggap demonstrasi kekuatan Revolusi Islam dalam menciptakan kembali semangat dan epik yang melekat di awal kemenangan sebagai dimensi lain dari gerakan para pembela Haram dan menambahkan:

Kehadiran generasi muda yang belum pernah melihat Imam (Imam Khomeini) dan era pertahanan suci (perang Iran-Irak) untuk mempertahankan tempat suci menunjukkan kekuatan aneh revolusi Islam dalam menciptakan kembali motivasi keagamaan dan revolusioner yang sama empat dekade lalu.

Seraya mengisyartkan harapan dan analisa sebagian orang yang dipengaruhi ideologi Barat terkait bahwa Revolusi Islam dan nilai-nilainya semakin melemah, Rahbar menekankan:

Kesucian, keberanian, pengorbanan, ketulusan dan “keyakinan yang mendalam terhadap landasan agama” pada generasi muda yang membela tempat suci (Haram Ahlulbait) merupakan fenomena indah dan unik yang menunjukkan kesalahan analisa orang Barat dan persoalan ini tidak mungkin terbentuk kecuali dengan rahmat dan bantuan Allah Swt dan Ahlulbait as.

Pemimpin Revolusi Islam memandang diadakannya pawai seperti 22 Bahman atau pemakaman mengejutkan seperti pemakaman Jenderal Soleimani atau para syuhada pengabdi negara (Syahid Raisi dan kawan-kawan) sebagai wujud lain dari kekuatan regenerasi Revolusi Islam dan menekankan: Para syuhada yang membela tempat suci (Haram Ahlulbait) dan keluarga mereka adalah sumber kehormatan dan kebanggaan, serta keselamatan dan kemakmuran Iran Islami, dan Revolusi Islam jelas berhutang kepada syuhada ini dan keluarga mereka. (MF)

Sumber: Parstoday Indonesia


Sabtu, 22 Juni 2024

Imam Khamenei: Tugas yang Paling Penting adalah Menegakkan Keadilan Dengan Berani dan Tanpa Basa-basi


Imam Khamenei


Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Imam Khamenei Sabtu (22/6/2024) saat bertemu dengan staf dan anggota Mahkamah Agung Iran seraya menyebut tugas utama lembaga hukum adalah "menyelesaikan masalah dan perselisihan masyarakat berdasarkan keadilan” dan “Mencegah melewati garis merah hukum", mengatakan, tugas utama lembaga peradilan adalah menegakkan keadilan dengan berani dan tanpa basa-basi.


Rahbar di awal pertemuan seraya memberikan penghormatan kepada syuhada lembaga peradilan termasuk Syahid Behehsti dan juga Syahid Raisi yang memiliki catatan gemilang di Mahkamah Agung, mengucapkan terima kasih atas kerja keras ketua, pejabat, jaksa dan staf lembaga ini.


Menurut laporan Pars Today, Imam Khamenei seraya menekankan bahwa dalam al-Quran dan berbagai sumber Islam, tidak ada penekanan lebih banyak seperti masalah keadilan, menyebut keberanian sebagai keharusan dari penegakkan keadilan, mengatakan:


Menurut Imam Sajjad as, lembaga peradilan harus bertindak sedemikian rupa sehingga musuh pun akan merasa aman dari kezaliman, dan teman dekat juga akan putus asa dari bantuan yang tidak adil; Jika hal ini terlaksana, maka masalah sangat penting "keamanan psikologis dan mental" akan terjamin.


Beliau menyebut berkurangnya waktu penanganan perkara, kekuatan dan konsistensi putusan pengadilan negeri, yang berujung pada berkurangnya pelanggaran suara dalam proses banding, dan berkurangnya laporan dan pengaduan ke lembaga pemeriksa, sebagai indikator penting yang harus ditingkatkan melalui implementasi dokumen sistem peradilan.


Imam Khamanei seraya mengungkapkan keprihatinannya atas lambatnya pemrosesan kasus-kasus yang melibatkan tahanan dan akibatnya lamanya penahanan sementara terhadap orang-orang, mengatakan:


Nasib orang-orang tersebut harus ditentukan sejak dini agar tidak ada seorang pun yang dipenjara karena lamanya proses perkara.


Rahbar seraya mengisyaratkan sulitnya menyelesaikan masalah tahanan yang memiliki hutang, mengatakan:


Sejumlah orang bahkan jika mendekam di penjara seumur hidup, tidak memiliki kemampuan membayar hutangnya, dan masalah ini harus diselesaikan.


Penekanan pada referensi hakim terhadap undang-undang dalam negeri dan bukan pada sumber-sumber hak asasi manusia Barat, kelanjutan dari kunjungan lapangan oleh kepala peradilan dan tindak lanjut dari implementasi keputusan-keputusan menjanjikan yang dibuat selama kunjungan ini adalah poin-poin lain dari pidato pemimpin besar Revolusi Islam Iran.


Menyimpulkan bagian pidatonya ini, Rahbar mengatakan:


Bekerjalah sedemikian rupa sehingga opini publik melihat Mahkamah Agung sebagai rumah keadilan dan pusat penegakkan hak serta keadilan tanpa basa-basi.


Rahbar di akhir pidatonya memberikan rekomendasi penting kepada para kandidat pemilu presiden. Imam Khamenei menyebut program pemilu televisi baik dan membuat masyarakat mengenal pandangan beragam, serta kepada para kandidat pemilu, beliau mengatakan:


Seluruh kandidat, mencintai Iran dan Republik Islam; Karena mereka menginginkan menjadi presiden bagi pemerintah dan untuk melayani rakyat. Oleh karena itu, jangan berbicara yang menyenangkan musuh.


Sumber: Parstoday Indonesia

Jumat, 07 Juni 2024

Pemikiran Perlawanan Imam Khomeini Dari Iran Hingga Dunia



 

Salah seorang pengajar di universitas Iran, menyebut benih perlawanan yang ditanam Imam Khomeini, di masanya, kini telah tumbuh menjadi sebuah pohon besar berakar kuat. Hujatulislam Mohammad Javad Faqih, pengajar Hauzah Ilmiah dan universitas Iran, terkait perlawanan dalam pemikiran Imam Khomeini mengatakan, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, sebelum Revolusi Islam, sudah terbentuk sejak masa remaja beliau, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia.

Di bawah ini sebagian paparan Imam Khomeini, dalam wawancara dengan kantor berita Mehr News:

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, bertumpu pada sejumlah prinsip dasar. Prinsip pertama adalah Tauhid yang berarti kebangkitan untuk Tuhan, dan tidak takut selain kepada Tuhan.

Prinsip kedua dalam pemikiran perlawanan Imam Khomeini, dikhususkan pada sunatullah, Al Quran, dan Islam. Al Quran lebih menekankan anti-penjajahan dari anti-kafir. Anti-penjajahan adalah kewajiban yang diberikan Al Quran kepada setiap Muslim, terutama ulama.

Imam Khomeini sedang berceramah

Prinsip ketiga perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah akal. Orang-orang berakal tidak akan pernah tunduk pada kekuatan-kekuatan sementara di dunia, dan selalu menemukan jalan untuk melawan. Orang-orang berakal akan menemukan titik kelemahan penjajah, dan memukulnya tepat di titik itu.

Prinsip keempat perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah pengalaman sejarah. Kemenangan-kemenangan yang berhasil diraih dalam sejarah adalah berkat perlawanan. Sebagaimana disampaikan Ayatullah Ali Khamenei, ini artinya bahwa:

"Ketika kita melakukan perlawanan, maka kita akan maju, sebaliknya ketika kita menyerah, maka kita akan terpukul, dan mundur."

Prinsip kelima perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah fitrah. Fitrah yang suci, memuji manusia yang anti-penindasan, dan mengagungkan orang yang membela kaum tertindas.

Logika perlawanan yang dimulai dari Iran, membangkitkan nurani seluruh bangsa merdeka dunia dengan menggunakan bahasa fitrah yang salah satu contohnya adalah dukungan mahasiswa dunia terhadap rakyat Gaza, dan kebangkitan bangsa-bangsa non-Muslim.

Syahid Abu Mahdi Al Muhandis, Sayid Hassan Nasrullah, dan Syahid Qassem Soleimani

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, kembali ke sebuah masa ketika beliau menjawab buku berjudul "Rahasia Seribu Tahun" yang ditulis untuk menyerang Islam, dengan menulis buku tandingan berjudul "Mengungkap Rahasia-Rahasia".

Pendiri Republik Islam Iran, dengan menulis buku ini mengajak umat Islam, dunia untuk melakukan perlawanan. Imam Khomeini, di masa sebelum Revolusi Islam Iran, dalam pidato-pidatonya selalu berbicara kepada para ulama dan masyarakat Muslim, untuk bangkit melawan penindasan, dan mengusir para penjajah, dan boneka-bonekanya.

Imam Khomeini, selama Revolusi Islam Iran, Perang Pertahanan Suci (agresi militer Rezim Saddam Hussein Irak, selama delapan tahun ke Iran), dan dalam pesan haji tahunannya, menyampaikan seruan ini secara terbuka dan tegas.

Beliau menaruh harapan pada rakyat dan ulama negara-negara kawasan Asia Barat. Imam Khomeini, menasihati para penguasa afiliasi Barat, untuk bangkit melawan penjajah, penjarah agama, dan kehormatan bangsa.

Imam Khomeini, juga menasihati Shah Iran, untuk keluar dari cengkeraman Amerika Serikat dan Israel, tapi Shah Pahlevi, memilih tergantung pada Inggris dan AS.

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dan Ayatullah Khamenei

Baik saat belajar Irfan dan filsafat kepada Ayatullah Mohammad Ali Shahabadi, maupun di hari-hari ketika pergi ke Dewan Nasional, dan memuji keberanian Syahid Modarres, atau di awal Abad ke-20, ketika mengajak umat Islam Iran, dan dunia untuk melawan penindasan kekuatan asing serta sekutunya di buku Kasyf Al Asrar (Mengungkap Rahasia-Rahasia), dan di awal kebangkitan tahun 1963, Imam Khomeini secara terbuka menyerang bukan hanya Shah Pahlevi, tapi juga AS dan Israel.

Imam Khomeini, mengambil sikap tegas terhadap AS dan Israel, kala itu. Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, di saat banyak orang masih sembunyi-sembunyi, dan berbicara sesuatu bercabang, Imam Khomeini, terang-terangan mengambil sikap tegas melawan Shah Pahlevi, AS dan Israel.

Pemikiran perlawanan Imam Khomeini sebelum Revolusi Islam Iran, sudah terbentuk sejak masa remaja, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia. Pemikiran perlawanan Imam Khomeini, meski ditentang keras oleh kubu imperialis global, gerakan penjajahan bersejarah, dan pemerintahan-pemerintahan boneka di kawasan Asia Barat, namun tetap membuka jalannya di kawasan dan dunia.

Imam Khomeini adalah putra seorang syahid. Ayah beliau yang merupakan ulama kota Khomein, gugur dalam perjuangan melawan penindasan Shah Iran kala itu. Imam Khomeini mengatakan, saat masih kanak-kanak, ia bersama ayahnya turut serta dalam perlawanan bersenjata terhadap penguasa zalim lokal.

Hari ini pemikiran perlawanan Imam Khomeini telah berubah menjadi sebuah organisasi kuat, dan ancaman serius bagi AS dan Israel. Melampaui perbatasan regional, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, telah tumbuh di AS dan Eropa, dan hal ini diungkap dalam surat terbaru Ayatullah Khamenei, untuk para mahasiswa AS pro-Palestina.

Bendera Iran dan Palestina, dikibarkan di depan Gedung Putih

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, Ayatullah Khamenei, menilai gerakan mahasiswa di negara-negara Eropa, dalam mendukung Palestina, sebagai bagian dari perlawanan.

Masa depan perlawanan cerah karena pemikiran ini selain sejalan dengan sunatullah yang menjanjikan bantuan Ilahi, dan kemenangan, juga memiliki logika jelas serta terang benderang. Logika yang sesuai dengan fitrah umat manusia, dan dunia menyadari logika terang ini.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perlawanan, lebih murah daripada biaya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan biaya kehinaan.

Nurani seluruh umat manusia yang sadar membenci penindasan, dan kejahatan. Dalam pemikiran perlawanan, orang-orang yang melawan penindasan akan mendapat pujian.

Perlawanan di negara-negara Barat, yang berada di bawah hegemoni raksasa media Zionis, sudah mulai muncul, dan menyebabkan bangkitnya nurani melawan penindasan Barat, dan membuat takut para penindas. Puncak pemikiran perlawanan adalah kemunculan Juru Selamat yang telah dijanjikan Tuhan, di dalam kitab-kitab sucinya yaitu Imam Mahdi. (HS)

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Selasa, 04 Juni 2024

Imam Khamenei: Mustahil Bangsa Iran Menyerah Pada AS

 

Ayatullah Khamenei bertemu pekerja Iran

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, dalam pertemuan dengan para buruh dan pekerja Iran, menyebut tujuan hakiki sanksi dan tekanan Amerika Serikat, serta Barat, adalah supaya rakyat dan pemerintah Iran, menyerah dan patuh total.

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (24/4/2024) mengatakan, bangsa besar dan berakar Iran, serta Republik Islam, tidak akan pernah menyerah, dan tunduk di hadapan arogansi serta penindasan, dan dengan mengubah sanksi menjadi kesempatan bagi kemajuan, dan kejayaan, Iran, akan menyambut masa depan yang gemilang.

 

Pemimpin Revolusi Islam mengatakan:

 

"Mereka menginginkan agar kekayaan, harga diri, dan kebijakan Iran, sebagaimana beberapa negara, berada di tangan AS, tapi negara Islami, martabat Islami, dan bangsa besar serta berakar Iran, mustahil untuk menyerah pada intimidasi mereka."


 

 

Di bagian lain paparannya, Rahbar, mengatakan, berbicara soal permasalahan ekonomi tanpa memperhatikan sanksi yang disebut AS dan Eropa, sebagai sanksi yang luar biasa, adalah tidak mungkin:

 

"Negara-negara Barat, mengutarakan kebohongan-kebohongan soal senjata nuklir, hak asasi manusia, dan dukungan atas terorisme, sebagai tujuan dari penerapan sanksi terhadap Iran."

 

Ayatullah Khamenei, kemudian menyinggung kontradiksi, dan alasan-alasan yang dibuat-buat oleh negara-negara Barat, salah satu contohnya adalah Gaza:

 

"Menurut mereka, rakyat Gaza, yang sedang dibombardir adalah teroris, tapi tidak menganggap pemerintah bengis, fiktif dan tak punya belas kasihan Zionis, yang dalam waktu enam bulan membunuh hampir 40.000 orang termasuk sekian ribu anak-anak, bukan teroris."

 

Imam Khamenei, mengingatkan pidatonya beberapa tahun lalu terkait masalah nuklir, dan meminta AS, menentukan sejauh mana Iran, harus mundur sehingga ia puas:

 

"Mereka sampai kapan pun tidak bersedia menentukan batas ini, karena pada akhirnya ingin menutup total industri nuklir Iran, seperti negara-negara Afrika utara, secara perlahan dengan langkah bertahap. Padahal di berbagai bidang seperti kesehatan, kedokteran, dan bidang lainnya, dibutuhkan hasil-hasil aktivitas nuklir."


 

Menurut Pemimpin Revolusi Islam Iran, sanksi-sanksi telah memukul perekonomian negara, dan menciptakan banyak masalah ekonomi:

 

"Sanksi-sanksi inilah yang telah menciptakan tumbuh dan mekarnya potensi-potensi, serta memunculkan kapasitas-kapasitas dalam negeri Iran."

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menilai upaya menjadikan permusuhan musuh-musuh menjadi kesempatan merupakan karakteristik sebuah bangsa yang hidup.

 

Beliau menyebut kemajuan-kemajuan di bidang persenjataan sebagai salah satu contoh dari upaya mengubah sanksi-sanksi menjadi kesempatan:

 

"Kemajuan yang menunjukkan dirinya di suatu tempat, telah membuat musuh tercengang, bagaimana mungkin Iran Islami, mampu memproduksi sejumlah senjata canggih padahal ia disanksi."

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menuturkan:

 

"Insyaallah, senjata-senjata yang lebih besar, lebih baik, dan lebih canggih akan diproduksi, tapi kemajuan tidak hanya terbatas pada senjata, di bidang-bidang lain seperti kesehatan, kedokteran, dan beberapa bidang industri, teknologi, Iran menjadi bagian dari negara unggul dunia. Selain itu, di beberapa bagian masih terbelakang, namun berkat tekad dan kerja keras, kita juga akan mengalami kemajuan."

 

 

Imam Khamenei, menganggap sanksi-sanksi semakin kehilangan dampaknya, dan menuturkan:

 

"Baru-baru ini di salah satu laporan sumber internasional disinggung tentang peningkatan Produk Domestik Bruto, PDB, Iran, ini artinya upaya semakin besar, dan semakin baik dilakukan, tidak berharap pada bantuan asing, sanksi-sanksi tidak berhasil melumpuhkan Iran, dan semangat ini harus diperkuat."

 

Pemimpin Revolusi Islam, dalam pertemuan ini juga menyinggung demonstrasi-demonstrasi mendukung rakyat Palestina, dan berkibarnya bendera Palestina, seta Hizbullah, di jalan-jalan Eropa dan AS, dan menilai tuduhan mendukung terorisme oleh Republik Islam Iran, karena mendukung rakyat tertindas Gaza, telah membuat para penuduhnya terhina:

 

"Saat ini bukan rakyat Iran, saja, tapi seluruh bangsa dunia mendukung Palestina."

 

Imam Khamenei, menyimpulkan:

 

"Bagi bangsa Iran, jelas, dan terang bahwa alasan permusuhan kubu arogan terhadap mereka bukanlah kebohongan-kebohongan yang mereka katakan, tapi fakta bahwa Iran yang merdeka tidak akan pernah mau tunduk pada intimidasi mereka, dan tidak bersedia mengekor kebijakan-kebijakan gagal, terbelakang, kalah, dan melawan nilai-nilai Ilahi, serta fitrah kemanusiaan, mereka. Kebijakan-kebijakan yang diakui sendiri sebagian analis Barat, sedang menumpas kredilitas AS, yang berusia 200 tahun."

 

Rahbar menegaskan bahwa harapan supaya rakyat Iran, yang berpengalaman dan memiliki akar sejarah, mematuhi kebijakan-kebijakan gagal mereka, adalah sia-sia:

 

"Bangsa Iran, berdiri dan kuat, dan memang kita harus menunjukkan perlawanan dalam amal, pekerjaan, penelitian, dan persatuan nasional, dalam hal ini dengan syarat menjauhi kemalasan, dari tengah kesulitan dan masalah-masalah yang dibuat musuh, kita menciptakan kesempatan dan solusi lebih besar untuk kemajuan, sehingga bangsa Iran, berkat bantuan Ilahi, akan mencapai masa depan gemilang."

 

 

Dalam pertemuan ini, Rahbar, berterimakasih secara tulus atas kerja keras, dan tekad masyarakat pekerja Iran, dan menyebut ciuman Nabi Muhammad SAW, atas tangan kasar seorang buruh merupakan penghargaan tertinggi atas kerja dan pekerja:

 

"Islam, sangat menaruh penghormatan substansial pada kerja dan amal, dan berdasarkan ajaran Al Quran, dan hadis, kerja keras seseorang untuk mendapatkan rezeki yang halal layaknya ibadah, termasuk amal saleh."

 

Ayatullah Khamenei, menganggap perhatian publik terhadap "pandangan Islam atas kerja dan pekerja" adalah sebuah urgensi penting, dan membuka peluang kemajuan negara:

 

"Dunia materi bagi pekerja bukan hanya sebatas sarana memperoleh kekayaan, tapi karena Islam, menganggap kerja memiliki nilai instrisik, maka menganggap pekerja memiliki nilai substansial, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah SWT, menyukai orang-orang yang menjalankan pekerjaannya dengan benar, konsisten dan kokoh." (HS)

 

Sumber: Parstoday Indonesia