Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label 12 Imam Suci Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 12 Imam Suci Ahlul Bait. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

Transformasi Masyarakat di Bawah Pemerintahan Imam Mahdi

 



Kepercayaan akan kedatangan Imam Mahdi merupakan bagian penting dari eskatologi Islam, khususnya di kalangan Syiah. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa seorang lelaki dari keturunan Nabi Muhammad, bergelar Al-Mahdi, akan muncul di akhir zaman. Imam Mahdi diyakini akan hadir untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di saat dunia dilanda tirani dan kezaliman. Dalam keyakinan Syiah, Imam Mahdi adalah putra Imam Hassan Al-Askari, Imam ke-12, yang telah lahir namun hidup dalam keghaiban di bawah penjagaan Allah. Kedatangannya diyakini bukan sekadar reformasi politik, melainkan penanda dimulainya era penegakan keadilan, peningkatan pengetahuan, dan perbaikan moral secara universal.

Hakikat Keadilan dalam Pemerintahan Mahdi

Prinsip yang paling mendasar dalam pemerintahan Imam Mahdi adalah keadilan. Keadilan dianggap sebagai prinsip fundamental bagi keberlangsungan masyarakat dan kesejahteraan warganya. Implementasi keadilan di bawah Imam Mahdi bersifat komprehensif sehingga akan menciptakan tatanan sosial baru, di mana peluang kejahatan nyaris tidak ada. Keadilan ini juga menjamin keamanan bagi individu yang rentan; seseorang dapat bepergian dari satu daerah ke daerah lain tanpa takut dihalangi, dirampok, atau diganggu. Norma-norma keadilan ini membentuk fondasi masyarakat yang damai dan aman.

Era Keberkahan dan Kemakmuran

Melampaui penegakan keadilan sosial, pemerintahan Imam Mahdi juga akan menandai Era Keberkahan dan Kemakmuran yang melimpah—suatu kondisi yang belum pernah disaksikan oleh peradaban manusia. Masyarakat akan merasakan hujan dengan kualitas dan manfaat istimewa. Hasil panen dalam sehari dapat begitu melimpah hingga mampu memenuhi kebutuhan bertahun-tahun. Transformasi alam ini menghasilkan tumbuhan hijau yang melimpah di tanah, pegunungan, hingga gurun. Keberkahan ekonomi yang luar biasa ini bahkan membuat orang-orang berharap mereka yang telah meninggal dapat hidup kembali, hanya untuk menyaksikan dan merasakan karunia tersebut.

Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi

Selain kemakmuran materi, pemerintahan ini juga dicirikan oleh Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi. Menurut riwayat yang dinukilkan oleh Imam Sadiq, pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini masih sangat terbatas. Ketika Imam Mahdi muncul, beliau akan menyebarkan dan memperluas pengetahuan berkali lipat. Peningkatan ilmu pengetahuan ini tidak hanya menambah wawasan, namun juga melahirkan kemajuan teknologi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Sebuah tradisi menyebutkan bahwa manusia nantinya dapat bepergian dari timur ke barat dunia hanya dalam satu jam. Hal ini mengindikasikan kemajuan teknologi dan transportasi yang luar biasa di era tersebut.

Kemajuan Peradaban Islam dan Perubahan Sosial

Di bawah pemerintahan Imam Mahdi, peradaban Islam akan mencapai tingkat kemajuan tertinggi. Era itu akan ditandai oleh ekspansi keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan. Keyakinan dan spiritualitas masyarakat akan diperkuat dan direformasi secara total. Kesejahteraan rohani dan jasmani akan tercapai secara simultan, menjadikan masyarakat hidup dalam keharmonisan yang sejati.

Transformasi yang terjadi bukan sekadar modifikasi fisik atau teknologis, melainkan juga revolusi dalam dimensi spiritual masyarakat. Keadilan dan pengetahuan akan menjadi sarana untuk memperkuat kebajikan moral seperti kasih sayang, kejujuran, dan kerendahan hati. Komunitas tidak lagi melihat agama hanya sebagai urusan pribadi, namun menjadi fondasi kehidupan bersama. Ritual ibadah, amal, dan etika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, menumbuhkan hubungan antarmanusia yang erat dan saling menghormati. Pembaharuan spiritual ini akan membawa masyarakat menuju kondisi iman yang lebih tinggi dan lebih murni.

Kemakmuran Ekonomi dan Perdamaian Global

Sistem ekonomi yang diterapkan Imam Mahdi akan menghapus praktik eksploitasi dan menempatkan kesetaraan serta kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Tidak akan ada lagi kemiskinan, karena keberkahan Allah memastikan kebutuhan setiap individu terpenuhi dengan mudah. Masalah ekonomi seperti pengangguran, inflasi, dan ketimpangan akan lenyap berkat hasil pertanian yang melimpah dan inovasi teknologi yang luar biasa. Tatanan ekonomi ideal ini bukan hanya hasil kebijakan manusia tetapi juga manifestasi langsung dari rahmat Allah yang mengalir melalui sistem pemerintahan yang adil.

Keadilan yang ditegakkan di setiap aspek kehidupan, baik personal maupun universal, akan mengeliminasi sumber-sumber konflik. Tidak ada lagi perang untuk perebutan wilayah, sumber daya, atau supremasi ideologi, karena pemerintahan Imam Mahdi menjamin distribusi dan penghormatan yang adil bagi semua. Era ini menjadi masa perdamaian universal; pertikaian diplomasi diselesaikan dengan hukum yang adil, dan ketegangan sosial akan lenyap berkat kemakmuran dan reformasi moral yang menyeluruh. Keamanan dan ketentraman akan menjadi standar baru kehidupan manusia.

Kesimpulan

Pemerintahan Imam Mahdi digambarkan sebagai era ketika intervensi ilahi dan potensi manusia bersatu, menghadirkan masa depan yang dipenuhi keadilan, pengetahuan, dan kebajikan. Dari berkah alam yang melimpah dan ledakan pengetahuan hingga reformasi moral, seluruh aspek kehidupan masyarakat akan berubah secara mendasar. Paradigma ini menjadi puncak ajaran Islam mengenai keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan pemenuhan spiritual yang hakiki.

Di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, masyarakat dunia akan mengalami transformasi yang fundamental dan mendalam. Masa ini akan menjadi masa di mana keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan tersebar luas di seluruh penjuru bumi. Segenap manusia akan merasakan manfaat dari kehadiran pemimpin yang adil ini; dunia yang sebelumnya diliputi tirani dan kezaliman akan bertransformasi menjadi masyarakat yang harmonis, makmur, dan damai. (Edwin Harahap)

Sumber:

Kamis, 14 Agustus 2025

Miliki Segera Aplikasi Petunjuk Arah Terbaik, Imamah: Pelaksana Tugas Kenabian





𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐢 f𝐢𝐭𝐫𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐢𝐚𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐭𝐮j𝐮𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐚𝐧. 𝐌𝐮𝐬𝐭𝐚𝐡𝐢𝐥 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐢𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐮𝐬𝐭𝐚𝐡𝐢𝐥 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚-𝐍𝐲𝐚 (𝐝𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭) 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐮.

𝐃𝐚𝐧 𝐦𝐮𝐬𝐭𝐚𝐡𝐢𝐥 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐢𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠.

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐧𝐚𝐛𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 “𝐠𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 𝐦𝐚𝐩” 𝐲𝐠 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐦𝐛𝐢𝐦𝐠 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚 z𝐚𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚𝐚𝐧 𝐬𝐛𝐠 𝐭𝐮j𝐮𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐚𝐧.

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐧𝐚𝐛𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 “𝐠𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 𝐦𝐚𝐩” 𝐲𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐮 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚-𝐍𝐲𝐚 𝐝engan 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭.

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐧𝐚𝐛𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 “𝐠𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 𝐦𝐚𝐩” 𝐝𝐠 𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐜𝐞𝐥𝐚, 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐧𝐨𝐝𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐞𝐫𝐫𝐨𝐫.

𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐛𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫?

𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧𝐤𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐢𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠?

𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧𝐤𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐰𝐚f𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐧𝐚𝐛𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐝𝐮?

𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧𝐤𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐢𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠-𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢?

𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧𝐤𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 “𝐠𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 𝐦𝐚𝐩” 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠-𝐦𝐚𝐬𝐢𝐧𝐠 𝐲𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐭𝐞𝐫j𝐚𝐦𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐫𝐚𝐬𝐢𝐧𝐲𝐚?

𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊. 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐝z𝐨𝐥𝐢𝐦 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐮𝐦𝐚𝐭-𝐍𝐲𝐚. 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐢𝐭𝐮, 𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧j𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐭𝐮𝐧j𝐮𝐤 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐫j𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐞𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐚𝐧.

𝐃𝐢𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐛𝐢 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚𝐚𝐧 𝐬𝐩𝐭 𝐧𝐚𝐛𝐢. 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚 𝐭𝐬𝐛 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 “𝐢𝐦𝐚𝐦”, 𝐲𝐚𝐤𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐭𝐚𝐮𝐡𝐢𝐝, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐧𝐮𝐡𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚.

𝐃𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐦𝐚𝐭𝐚𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐢𝐧𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐭𝐮𝐧j𝐮𝐤 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 j𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 j𝐚𝐥𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.

𝐃𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐞f𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐧𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚. 𝐃𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐞𝐫𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧j𝐚𝐠𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡𝐚𝐧, 𝐝𝐨𝐬𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧.

𝐒𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐬𝐭𝐚𝐡𝐢𝐥 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐰𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐮j𝐮𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐢𝐩𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐩𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐦𝐚𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐚𝐥, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧j𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐥 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐩𝐚𝐧𝐜𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧j𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐭𝐮𝐧j𝐮𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐮j𝐮𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐝𝐞𝐚𝐥 𝐢𝐭𝐮.

Kehadiran sosok imam sangat rasional, logis dan tdk terbantahkan. Hanya kaum cuti akal yang menolaknya.

𝐁𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐫𝐞f𝐞𝐫𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐝𝐥𝐦 𝐀𝐥-𝐐𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐢𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐦𝐚𝐦 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚. (C𝐞𝐩 M𝐮𝐬𝐥𝐢𝐡)


Jumat, 19 Juli 2024

Mencintai Ali Sama Dengan Mencintai Rasulullah, Membenci Ali Sama Dengan Membenci Rasulullah



 

Imam Ath-Thabrani mengutip sebuah penuturan dari salah seorang isteri Nabi Saw, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah, yang berkata:

"Aku bersaksi telah mendengar Rasulullah Shallallâhu'alaihi wa âlihi wa salam bersabda:

من أحب عليا فقد أحبني ومن أحبني فقد أحب الله. ومن أبغض عليا فقد أبعضني ومن أبغضني فقد أبغض الله

"Barang siapa yang mencintai Ali, maka sungguh dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku sungguh dia telah mencintai Allah. Dan barang siapa membenci Ali, maka sungguh dia telah membenciku, dan barang siapa membenciku sungguh dia telah membenci Allah". (Mu'jam al-Kabir, jilid 10, hlm. 110-111)

Jika kewajiban Shalat sebagai tiang agama itu berkiblat di Ka'bah, Bukankah pantas manusia yang terlahir di dalam Ka'bah sebagai kiblat dalam agama? Dialah Ali bin Abi Thalib as, Pewaris pedang Zulfikar sebagai tanda pemimpin, dan penjaga sulbi Nabi Saw (Fatimah az-Zahra) sebagai tanda pelindung. Tidakkah kalian mengambil pelajaran?

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad. Wa ajjil Faradjahum.

Rabu, 17 Juli 2024

Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah



Menjadi "insan ilahiyah" tidak butuh pengakuan, tidak butuh deklarasi dan gembar-gembor di hadapan khalayak ramai. Karakter manusia ilahiyah, pengikut kebenaran sudah terpateri dalam dada dan sanubari seseorang tanpa harus teriak-teriak mencari pengakuan.

Begitupun sebaliknya, untuk menjadi manusia durjana, musuh kebenaran, pengikut Iblis, sangat gampang bagaikan membalikkan telapak tangan.

Lihatlah kenyataan yang terang benderang dalam peristiwa "Tragedi Asyura" yang menimpa Imam Husein as dan keluarga suci Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau as.

Lihatlah, manusia-manusia iblis pembantai keluarga suci Nabi Saw itu, pada mulanya banyak yang penganut muslim shaleh, mereka ikut berperang bersama pasukan Imam Ali bin Abi Thalib as, ayah Imam Husein as dalam membela kebenaran, dan sangat mengenal sekali siapa itu Imam Husein as.

Lihatlah, para manusia iblis musuh Allah, musuh kebenaran pembantai keluarga ilahiyah, keluarga suci kenabian itu, pada awalnya adalah banyak dari "Syiah" Imam Husein as, yang mengundang beliau as untuk datang ke Kufah. Akan tetapi karena godaan duniawi atau pun ancaman pedang penguasa dzalim, mereka berbalik menghunuskan pedang- pedang mereka kepada Imam Husein as.

Pada 10 Muharam itu, Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya, membolak-balikkan hati manusia bagaikan membalik telapak tangan, dari manusia penganut muslim shaleh menjadi manusia durjana musuh Allah yang terpuruk ke dasar jurang kehinaan.

"Malam Deklarasi Manusia Husainiyah, sebagai Manusia Pengikut Kebenaran, pengikut Kenabian"

Sementara itu, di pihak Imam Husein as, para sahabat dan pengikut Imam Husein as justru menggambarkan representasi kelompok karakter "manusia ilahiah" yang memegang komitmen kuat terhadap nilai kemanusiaan, ketaatan, kesetiaan, persahabatan, pengabdian dan kecintaan kepada pemimpin, keyakinan kepada kebenaran, semua itu ditunjukkan secara gamblang oleh para sahabat dan pengikut Imam Husein as.

Kita lihat, di malam Asyura, malam ke 10 Muharam, dalam kegelapan malam yang mencekam, setelah sebelumnya terdengar alunan kalam ilahi, Imam Husein as untuk terakhir kali mengumpulkan seluruh sahabat dan pengikutnya.

Dalam kegelapan malam itu, Imam Husein as berkata kepada para pengikutnya:

"Wahai para pengikut setiaku, besok adalah hari terakhir kita bisa berkumpul, besok kematian akan menjemput kita semua". Yang mereka cari adalah diriku, kematianku, mereka tidak memburu kalian".

"Aku ridha jika kalian meninggalkan aku malam ini, telah kulepaskan bai'at kalian agar bisa pergi dariku dalam kegelapan malam ini. Bawalah sanak saudara kalian dan kembalilah ke keluarga kalian, aku ridha".

Apa jawaban mereka, para pengikut Imam Husein as? Mereka semua menolak untuk meninggalkan Imam mereka.

"Bagamana aku akan menjumpai datukmu Rasulullah kelak jika aku meninggalkanmu, ya Imam? Mau ditaruh dimana mukaku di hadapan Rasulullah ya Imam? Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, ya Imam".

"Seandainya besok aku mati dicincang pedang dan dihidupkan kembali sampai 70 kali, aku tetap akan bersamamu, ya Imam".

Mereka tetap teguh memilih berjalan bersama Imam Husein as menjemput syahada, mereka memilih menjadi manusia pembela kebenaran, pembela kenabian, mereka memilih menjadi kelompok kanan seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an. Sedangkan musuh-musuh mereka adalah golongan kiri.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa umat manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kanan dan kiri.

"Golongan kanan" berisi manusia-manusia mulia, pengikut kebenaran. Sedangkan "golongan kiri" berisi manusia-manusia pengikut kebatilan, golongan manusia pengingkar ayat-ayat Allah Swt.
Allah SWT berfirman:

فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۙ مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ

"Fa ash-haabul-maimanati maaa ash-haabul-maimanah"

"yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu." (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat

وَاَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ ۙ مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ

"wa ash-haabul-masy`amati maaa ash-haabul-masy`amah"

"dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu," (QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 9).

اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ

"ulaaa`ika ash-haabul-maimanah"

"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (QS. Al-Balad 90: Ayat 18).

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ

"wallaziina kafaruu bi`aayaatinaa hum ash-haabul-masy`amah"

"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri."

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ

'alaihim naarum mu`shodah"

"Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat." (QS. Al-Balad 90: Ayat 19-20).

Semoga mencerahkan.

Paris Van Java 160724.

Minggu, 02 Juni 2024

Periode Kehidupan Imam Mahdi (2)

 



Peran Imam Mahdi as Dimasa Keghaiban Bagi Umat Manusia

Selama lebih dari 200 tahun, para Imam Ahlul Bait as telah menyampaikan sebagian besar kebutuhan umat sepanjang masa keghaiban panjang tentang pengetahuan ilmu al-Quran dan sunnah kakek mereka Rasulullah Saw.

Begitu pula kebutuhan-kebutuhan yang dapat mewakili Islam secara keseluruhan sebagai agama yang suci, agama yang kokoh yang Allah perintahkan agar kita mengikutinya dan beramal sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya.

Islam sebagai tali pegangan yang kuat yang sekaligus sebagai aplikasi terhadap berpegangan kepada dua peninggalan Nabi Saw yang menjamin keselamatan dari kesesatan dan mati jahiliyah.

Peninggalan-peninggalan warisan para Imam as menjelaskan kaidah-kaidah serta landasan dasar interpretasi hukum Islam dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara umum yang diambil dari riwayat-riwayat untuk mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah Saw dan para Imam Ahlul Bait as.

Nabi Saw dan para Imam as memerintahkan para sahabat mereka untuk menjaga dan mencatatnya agar dapat dijadikan sumber, selain Al-Quran, untuk mengetahui seluruh hukum Islam yang dibutuhkan oleh umat, sampai masa kemunculan Imam Mahdi as.

Salah satu hasil penting yang diperoleh adalah dapat tercatatnya riwayat-riwayat mereka dari sahabat para Imam yang dikenal dengan "USHUL ARBA' MIAH". Kitab ini telah dikumpulkan pada masa sebelum Imam Mahdi as. Di dalam kitab tersebut termuat sejumlah besar riwayat dan nash-nash dari Nabi Muhammad Saw. (Man'u Tadwin al-Hadits, Asbabuhu wa Wanataiju, Sayid Ali Syahrestani hlm. 465-467 sub bab mengenai sejarah pencatatan hadis Nabawi menurut Ahlul Bait as).

Selama masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menyempurnakan segala sesuatu yang dibutuhkan umat pada masa keghaiban panjang nantinya, baik berupa pengetahuan-pengetahuan ataupun segala sesuatu yang dapat membantu pergerakan dan konsistensi umat di jalan lurus serta mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menjaga umat untuk tetap melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan.

Itulah tujuan umum dalam kehidupan beliau pada keghaiban panjang sebagaimana yang tercermin dalam risalah-risalah yang beliau keluarkan pada masa tersebut.

Penetapan Metode Perwakilan Dalam Masa Keghaiban Pendek

Pada masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menetapkan sejumlah orang dari sahabat yang setia dan terpercaya sebagai wakil beliau yang bergerak sesuai dengan izin dan perintah beliau. Para wakil itu menjadi penghubung Imam dengan pengikut beliau.

Kakek beliau, Imam Ali al-Hadi as telah mempersiapkan perwakilan ini untuk Imam Mahdi as. Begitu juga para Imam sebelumnya yaitu Imam Muhammad al-Jawad as dan diikuti oleh Imam Hasan Asykari as yang telah membentuk sistem perwakilan sebagai persiapan untuk keghaiban keturunan mereka.

Mereka menyatakan kepercayaan mereka pada sebagian sahabat mereka atau menyebut langsung para wakil mereka.

Imam Hasan Asykari as menyebutkan mengenai Utsman bin Said Amri, sebagai wakil beliau. Utsman ini juga sebelumnya adalah wakil dari ayahnya, Imam Ali al-Hadi as.

Kemudian Imam Hasan Asykari as juga menyatakan bahwa Utsman bin Said Amri adalah seorang wakil setelahnya bagi putra beliau, Imam Mahdi as.

Imam Hasan Asykari as berkata, "Abu Amr ini adalah orang yang dapat dipercaya, jujur, kepercayaan imam terdahulu, dan orang kepercayaanku semasa aku hidup dan setelah aku meninggal. Apa yang dia sampaikan pada kalian adalah ucapan dariku dan segala yang dia perintahkan pada kalian, sesungguhnya adalah perintah dariku". (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 215).

Syekh Shaduq menyebutkan dua belas orang para wakil Imam Mahdi as selama masa keghaiban pendek. Sayid Muhammad Sadr menambahkan enam orang lainnya berdasarkan bukti yang disebutkan dari sumber sejarah dan kitab-kitab ar-Rijal. (Tarikh Ghaybat ash-Shughra hlm.  609-628).

Imam Mahdi as bertanggung jawab langsung atas penetapan mereka dan mengeluarkan penjelasan dan tanda tangan mengenai hal ini. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 172-257).

Dalam masa keghaiban pendek ini, karena ketidakhadiran Imam Mahdi as, sistem perwakilan berbeda dengan sistem perwakilan pada masa sebelumya, dimana Imam hadir pada pertemuan dengan kaum mukmin, sehingga tidak dibutuhkan seorang wakil atau utusan tertentu yang mewakili beliau.

Pada masa keghaiban pendek, ketidakhadiran Imam menuntut adanya penentuan wakil agar dapat menjadi sentral rujukan orang-orang mukmin pada khususnya dan mereka yang sebelumnya telah terbiasa dengan wakil imam yang hanya satu orang.

Penentuan seorang wakil Imam ditentukan langsung oleh Imam dan disampaikan langsung oleh Imam, sebagaimana posisi wakil Imam pertama atau melalui wakil sebelumnya untuk menentukan wakil selanjutnya.

Para pembesar utama Syiah dan 4 sahabat utama yang menjadi wakil Imam Mahdi as, yang pertama adalah: 


1.    Utsman bin Said Amri (Umari) al-Asadi, yang sebelumnya menjadi wakil dari dua Imam sebelumnya yaitu Imam Ali al-Hadi as dan Imam Hasan al-Asykari as.

 

2.    Wakil Imam Mahdi as yang kedua adalah putra Utsman bin Said yaitu Muhammad Amr bin Utsman al-Asadi, wafat tahun 305 H.


3.  Wakil Imam yang ketiga adalah Al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.


4.   Dan wakil terakhir Imam yang keempat adalah Ali bin Muhammad al-Samari, wafat 328/329 H.

Imam Mahdi as, bertanggung jawab mengawasi langsung atas para wakil ini dalam melaksanakan tugas-tugasnya melayani kaum mukmin, mewakili Imam, dalam segala hal yang berkaitan dengan keyakinan ataupun lainnya berdasakan pengetahuan yang berasal langsung dari Imam.

Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah, menukil sebuah hadis yang meriwayatkan ketika wakil Imam yang ketiga, Husain bin Ruh menjawab pertanyaan seorang mukmin berkaitan dengan akidah, yaitu berkaitan dengan kesyahidan Imam Husain as.

Riwayat tersebut dinukil dari perawi Muhammad bin Ibrahim yang hadir dalam sebuah majelis pada saat wakil Imam ketiga Husain bin Ruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaum mukmin.

Muhammad bin Ibrahim bin Ishak berkata, "Aku kembali menjumpai Syekh Abu Qasim Husain bin Ruh keesokan harinya dan aku berkata pada diriku sendiri, "Apakah dia menyebutkan sesuatu pada kami kemarin dari dirinya sendiri?"

"Dia menegurku dan berkata, "Wahai Muhammad bin Ibrahim, jika diakhirkan dari langit dan burung-burung mematukiku atau angin yang kencang menerpaku, hal itu lebih aku sukai dibandingkan dengan aku berbicara agama berdasarkan pendapatku dan dari diriku sendiri".

"Sesungguhnya sesuatu yang aku sampaikan bersumber dari sumber yang asli dan aku mendengarnya dari al-Hujjah (al-Mahdi), semoga shalawat dan salam Allah tercurah padanya." (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 198-199).

Kondisi politik yang terjadi saat itu mengharuskan keghaiban Imam, dan tidak memungkinkan para wakil Imam untuk berbuat secara terang-terangan. Dengan demikian, syarat pertama untuk menjadi seorang utusan tertentu haruslah seseorang yang memiliki tingkatan puncak dalam kesetiaan, kejujuran, mampu menyembunyikan dan merahasiakan tempat keberadaan imam sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan terpilihnya Husain bin Ruh sebagai wakil Imam yang ketiga meskipun ada orang yang lebih pintar darinya diantara para sahabat. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 240).

Imam Mahdi as menetapkan sistem perwakilan atau utusan khusus dalam masa keghaiban pendek, sebagai persiapan dan pembukaan agar orang-orang mukmin merujuk pada wakil umum Imam di masa keghaiban panjang. Hal ini telah ditetapkan dalam nash-nash syariat yang menentukan sifat-sifat umum bagi wakil umum Imam.

Imam juga memerintahkan umat untuk merujuk pada wakil umum beliau pada masa keghaiban panjang. Pengalaman empat wakil Imam yang khusus yang ditentukan oleh Imam di masa keghaiban pendek sebagai petunjuk kepada umat tentang legalitas merujuk kepada wakil beliau di masa keghaiban beliau. Dan sebagai contoh kepada umat bagaimana kualitas orang yang mengklaim sebagai wakil Imam pada masa keghaiban panjang sesuai dengan nash-nash syariat Islam sebagai persyaratan sebagai wakil Imam.

Para penguasa Bani Abbasiyah terus berupaya mencari Imam Mahdi as dalam masa keghaiban pendek ini. Dengan adanya berita-berita tentang keberadaan para wakil Imam ini, mereka pun mulai menyelidiki keberadaan mereka. Untuk itu Imam Mahdi as berperan aktif menjaga sistem perwakilan ini agar dapat berfungsi peran beliau dimasa keghaian pendek.

Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kafi, dari Husain bin Hasan Alawi yang berkata, "Seorang laki-laki dari Nadama Ruz Hasani dan orang terakhir yang bersamanya berkata kepadanya, "Dia adalah orang yang mengumpulkan harta-harta dan dia memiliki para wakil dan mereka menyebutkan seluruh nama para wakil ke seluruh penjuru".

Sampailah hal itu kepada Ubaidillah bin Sulaiman, seorang menteri. Ia berusaha menangkap mereka semua. Khalifah berkata, "Carilah di mana laki-laki itu".

"Ini adalah masalah yang berat", ujar Ubaidillah bin Sulaiman. "Kita akan menangkap para wakilnya".

Khalifah berkata, "Tidak, akan tetapi, ada diantara mereka sekelompok orang yang tidak mengenal harta sama sekali. Siapa yang diantara mereka memegang sesuatu, maka diberikan kepadanya".

"Kemudian Imam as memerintahkan seluruh wakil untuk tidak mengambil sesuatu apapun dari setiap orang, menolaknya dan berpura-pura bodoh".

Seorang laki-laki yang tidak dikenal berusaha menipu Muhammad bin Ahmad dan berkata, "Aku memiliki sejumlah harta dan aku ingin memberikannya pada Imam".

"Muhammad bin Ahmad berkata kepadanya, "Anda salah, saya tidak mengetahui apapun tentang hal ini".

Lelaki itu terus mendesak secara halus, namun Muhammad tetap pura-pura tidak tahu.

Penguasa terus mengirim mata-mata, namun para wakil Imam menolak apapun yang disodorkan kepada mereka". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Dari riwayat di atas dapat diketahui mengenai sejarah Imam Mahdi as pada masa keghaiban pendek, bahwa beliau tidak hanya berusaha mencegah gangguan penguasa Bani Abbas kepada para wakilnya, tetapi juga terhadap orang-orang mukmin.

Hal ini merupakan sebuah sunnah dari sejarah ayah-ayah mereka. Mereka berusaha melindungi orang-orang mukmin dan mencegah setiap gangguan sebatas yang mampu mereka lakukan.

Salah satu contoh perlindungan yang dilakukan oleh para Imam adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dalam al-Kafi yang disampaikan oleh Kulaini, "Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad yang berkata, "Dikeluarkan pelarangan untuk berziarah ke makam orang-orang Quraisy dan gua Hira".

Setelah beberapa bulan, Menteri Baqithai memanggil pembantu nya dan berkata, "Temui Bani Purat dan Barsiyin, katakan kepada mereka, "Jangan menziarahi makam orang-orang Quraisy, Khalifah telah memerintahkan untuk melenyapkan setiap orang yang berziarah atau memenjarakan nya". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Tujuan lainnya yang dilakukan oleh Imam untuk direalisasikan pada masa keghaiban pendek adalah menyingkap segala penyimpangan yang terjadi di kalangan umat Syiah diantaranya, tulisan paman Imam Mahdi as yaitu Ja'far bin Ali dan adanya wakil-wakil gadungan. Sejarah membuktikan keberhasilan Imam menyelesaikan masalah tersebut ditandai dengan berpaling nya para pengikut Imam Mahdi as dari hal tersebut dengan cepat sebelum berakhirnya masa keghaiban pendek.■


Senin, 27 Mei 2024

Periode Kehidupan Imam Mahdi (1)

 


Periode pertama, kehidupan Imam Mahdi as sejak kelahiran beliau tahun 255 H sampai dengan 260 H, berada dalam naungan ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Asykari as sampai wafatnya.

 

Periode kedua, sejak kewafatan ayahanda beliau Imam Hasan Asykari as tahun 260 H, hingga berakhirnya masa keghaiban pendek tahun 329 H, yang berlangsung selama 70 tahun.

 

Periode ketiga, adalah masa keghaiban panjang, yang dimulai sejak berakhirnya keghaiban pendek, setelah meninggalnya wakil beliau yang keempat. Periode ini berlangsung sampai kemunculan beliau yang akan membangun kondisi politik dan sosial yang baru.

 

Periode keempat, adalah periode kehidupan beliau mulai kemunculan beliau setelah berakhirnya keghaiban panjang dan ini adalah janji pemerintahan mahdawiyah yang mendunia, sebagaimana dikhabarkan dalam nash-nash al-Quran dan sunnah.

 

PERIODE PERTAMA

 

Imam Mahdi Dalam Naungan Ayahandanya

 

Sebelum kelahiran Imam Mahdi afs, ayahanda beliau, Imam Ahlul Bait ke-11, Imam Hasan Asykari as sengaja menyembunyikan kelahiran puteranya dari masyarakat umum, karena kondisi sulit yang dihadapi akibat upaya penguasa Bani Abbasiyah yang berusaha untuk membunuh Imam Mahdi afs.

 

Berulangkali Imam as mengingatkan orang-orang terdekat dari kalangan keluarga dan pengikut setianya untuk merahasiakan hal itu. Seperti contoh saat Imam as memberitahukan Ahmad bin Ishaq, beliau berkata:

 

"Seorang bayi telah lahir dari keluarga kami, hal ini hendaknya menjadi rahasia bagi dirimu dan tersembunyi bagi seluruh manusia". (Kamal 'addin hlm. 431).

 

Akan tetapi, dalam tekanan dan kondisi mencekam dari incaran mata-mata Bani Abbasiyah, Imam as harus juga memeritahukan dan mengabarkan kelahiran putranya, Al-Mahdi agar tidak terjadi keraguan akan kelahiran dan keberadaannya serta imamah Al-Mahdi kelak di masa mendatang.

 

Dengan demikian dibutuhkan saksi-saksi untuk hal ini, sehingga mereka mengetahui dan dapat menukil kesaksian mereka di masa mendatang, tercatat dalam sejarah untuk generasi berikutnya.

 

Mulailah Imam Hasan Asykari as memberitahukan sejumlah orang dari sahabat-sahabat setianya mengenai masalah tersebut. (Kamal 'uddin hal 431, Kitab Ma'adin al-Hikmah fi Makatib al-Aimmah karya Muhammad bin Faidh Kasyani jilid 2 hlm. 375).

 

Imam Hasan Asykari as memberitahukan kelahiran itu setelah tiga hari. (Kamal'uddin hlm. 431). Beliau as menyampaikan kepada 40 orang sahabat khususnya dan membiarkan mereka mengabarkannya setelah berlalu beberapa tahun dan Imam Mahdi as saat itu masih kecil.

 

Imam Hasan as memberitahukan mereka bahwa anak kecil itu adalah "Imam" setelah beliau as. (Al-Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 21, Itsbat al-Hadat, Hurr Amili hlm. 415, Yanabi 'al- Mawaddah, Hafizh Sulaiman al-Hanafi hlm. 460).

 

Begitu juga ketika menyampaikannya secara pribadi pada sebagian sahabatnya dan sewaktu-waktu beliau memperlihatkan kepada mereka ‘karamah’ Imam Mahdi as sehingga membuat mereka yakin akan keberadaan beliau as. (Kitab Al-Ghaybah tentang Hadist-Hadist yang menyebutkan orang-orang yang menyaksikan Imam Mahdi as di masa ayahandanya).

 

Imam Hasan Asykari as, dalam melaksanakan tugasnya sebagai imam, juga tetap menjaga agar bayi ini tetap selamat dari incaran penguasa.

 

Tugas lain Imam as juga adalah mempersiapkan keghaiban putranya al-Mahdi as dan membiasakan orang-orang Mukmin berinteraksi secara tidak langsung dengan Imam yang ghaib.

 

Untuk itu, Imam as memberitahukan mereka mengenai keghaiban Al-Mahdi as dan memerintahkan mereka untuk merujuk kepada wakil-wakil Imam Mahdi as untuk umum, yaitu Usman bin Said.

 

Pernyataan Imam Hasan as kepada sekelompok sahabatnya tentang Imam Mahdi as yang masih kecil:

 

"Inilah imam kalian setelahku dan dia adalah khalifahku atas kalian. Taatilah dia dan janganlah kalian bercerai-berai sepeninggalku, maka kalian celaka dalam agama kalian".

 

"Ketahuilah bahwa kalian kelak tidak akan melihatnya setelah hari ini hingga sempurna umurnya. Terimalah dari Usman, apa yang disampaikannya, turuti perintahnya, terimalah ucapannya, karena dia adalah "wakil imam" kalian, dan seluruh urusan kembali kepadanya". (Al-Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 217).

 

Untuk membiasakan orang-orang mukmin dalam menghadapi masa keghaiban Imam Mahdi as, Imam Hasan as mulai menggunakan metode di balik tirai dalam berinteraksi dengan pengikutnya, baik yang khusus ataupun umum.

 

Hal demikian juga sudah dilakukan oleh ayah-ayah beliau sebelumnya sebagai mukadimah menghadapi keghaiban Imam Zaman Al-Mahdi as, sehingga para pengikut mereka sudah menjadi terbiasa dalam menghadapi kondisi tersebut dan mereka tidak mengingkari keghaiban. (Itsbat al-Wasyi'ah karya Mas'udi hlm. 262).

 

Dari tindakan-tindakan tersebut, lalu terbentuk satu sistem perwakilan dari Imam dan penguatan terhadap kitab-kitab hadist yang dikumpulkan sahabat Imam dari periwayatan- periwayatan mereka dari para Imam dan dari Rasulullah Saw, dan agar orang-orang mukmin merujuk pada kitab-kitab hadist tersebut dan periwayatan-periwayatan itu di masa keghaiban. (Rujuk Rijal al-Kasyi hlm. 481 dan 451, Rijal Abu Dawud hlm. 272-273, Wasail asy-Syiah jilid 17 hlm. 72, Falah as-Sail karya Sayid Ibnu Tawus hlm. 183).

 

Sistem perwakilan yang diterapkan oleh Imam as ini menjadi dasar munculnya sistem "marja'iyah" pada masa keghaiban Imam Mahdi afs sebagaimana yang berlaku di masa kini.

 

Kehadiran Imam Mahdi as Saat Ayahnya Wafat

 

Hadist dari Syekh Shaduq dalam Ikmaluddin dan Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah bahwa Imam Mahdi afs hadir pada saat ayahnya wafat.

 

Syekh Shaduq meriwayatkan dari Muhammad bin Husain bin Ibad, dia berkata:

 

"Abu Muhammad Hasan bin Ali (Imam Hasan Asykari as) meninggal pada hari Jum’at saat shalat subuh. Pada malam harinya, ia banyak menulis surat yang ditujukan ke Madinah".

 

"Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awwal pada tanggal 8 tahun 260 H. Ketika itu ia tidak dihadiri kecuali oleh Shaqail Jariah dan Uqaid Khadim serta seorang yang mengenal Allah Swt selain kedua orang tersebut …" (Ikmaluddin hlm. 474).

 

Syekh Thusi menukil riwayat yang lebih rinci, beliau berkata:

 

"Ismail bin Ali berkata, "Aku menjumpai Abu Muhammad Hasan bin Ali as saat sakit yang menyebabkan kematiannya. Aku berada di sisinya saat ia berkata pada pembantunya Uqaid (dia pembantu berkulit hitam yang telah membantu ayahnya, Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as) dan ia adalah orang yang merawat Imam Hasan as".

 

Imam Hasan as berkata, "Wahai Uqaid, tuangkan untukku air". Maka diambilkan baginya air. Kemudian Saqail Jariah berada di belakangnya dengan membawa tempat air di tangannya.

 

Tempat air itu diminumkan kepada Imam as sementara tangannya gemetar sampai-sampai tempat air itu menyentuh gigi beliau. Kemudian dia letakkan, Imam berkata kepada Uqaid, "Masuklah ke dalam rumah, kau akan melihat seorang anak kecil yang sedang bersujud dan bawalah dia kepadaku".

 

Abu Sahl berkata, "Uqaid berujar, "Aku masuk mencari dan aku lihat anak kecil yang sedang bersujud mengangkat jemarinya ke langit, dan aku mengucapkan salam kepadanya". Ketika selesai shalat, aku berkata, "Sesungguhnya tuanku menyuruhmu untuk keluar menjumpainya".

 

Kemudian ibu Saqail datang dan membawanya kepada ayahnya, Imam Hasan as.

 

Abu Sahl berkata, "Ketika anak kecil tersebut berada di hadapannya, mengucapkan salam. Kulit anak tersebut berwarna cerah, rambutnya agak keriting dan giginya agak renggang".

 

"Ketika Imam Hasan as melihatnya, ia menangis dan berkata:

 

"Wahai pemimpin Ahlul Baitnya, tuangkan kepadaku air, sesungguhnya aku hendak pergi menuju Tuhanku".

 

"Kemudian anak itu mengambil tempat air yang tertutup dengan kedua tangannya. Lalu menggerakkan bibirnya dan menuangkannya".

 

"Ketika Imam Hasan as meminumnya, lalu berkata, "Persiapkanlah aku untuk shalat". Kemudian anak kecil itu mengambil sebuah handuk di dalam kamarnya lalu mewudhukannya satu demi satu, mengusap kepalanya, dan kedua kakinya".

 

Abu Muhammad Hasan Asykari as berkata kepadanya, "Berilah khabar gembira wahai anakku, engkau adalah "Shahib az-Zaman", engkau adalah Al-Mahdi, engkau adalah "hujjah Allah" di atas muka bumi ini, engkau adalah anakku dan washiku, engkau terlahir dariku dan kau adalah Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib".

 

"Rasulullah menjadikanmu sebagai putranya dan kau adalah Imam terakhir dari para Imam yang suci, Rasulullah Saw telah membawa berita gembira mengenaimu, beliau yang memberi namamu dan menjulukimu seperti itu".

 

"Ayahku telah berjanji kepadaku dari ayah-ayahnya yang suci, salawat dan salam Allah tertuju pada Ahlul Bait, sesungguhnya Tuhanku Maha Terpuji dan Maha Mulia". Kemudian Imam Hasan Asykari as pun meninggal, salam sejahtera bagi mereka seluruhnya". (Al-Ghaybah, Syekh Thusi, hlm. 165).



Sejarah Kelahiran Imam Mahdi: Mengapa Imam Mahdi Dighaibkan oleh Allah Swt?

 

 

Nama-nama 12 Imam penerus dan penjaga risalah Allah Swt yang ditetapkan Allah melalui wasiat Rasulullah Saw secara berurutan adalah:


1.      Ali bin Abi Thalib as (syahid 40 H)

2.      Hasan bin Ali as (syahid 49 H)

3.      Husein bin Ali as (syahid 61H)

4.      Ali bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad as (syahid 95 H)

5.      Muhammad bin Ali al-Baqir as (syahid 114 H)

6.      Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq as (syahid 148 H)

7.      Musa bin Ja'far al-Khazim as (syahid 183 H)

8.      Ali bin Musa ar-Ridha as (syahid 203 H)

9.      Muhammad bin Ali al-Jawad as (syahid 230 H)

10.  Ali bin Muhammad al-Hadi as (syahid 254 H)

11.  Hasan bin Ali al-Asykari as (syahid 260 H)

12. Muhammad bin Hasan al-Mahdi afs (dighaibkan oleh Allah Swt 260 H sampai waktu yang ditentukan Allah)

 

Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi afs adalah Imam terakhir dari 12 Imam Ahlul Bait Nabi Saw. Beliau adalah Imam Akhir Zaman yang ditunggu-tunggu kemunculannya oleh pengikut Syiah Ahlul Bait Nabi Saw dari keghaibannya yang panjang.


Untuk mengetahui mengapa Allah Swt mengghaibkan hujjah-Nya dari manusia, kita harus menelusuri mulai dari kehidupan ayahandanya yaitu Imam Hasan al-Asykari, Imam Ahlul Bait ke-11.


Imam Hasan bin Ali al-Asykari as wafat hari Jum’at 8 Rabiul Awal 260 H, dalam usia 28 tahun. Beliau dimakamkan di rumahnya yang juga menjadi lokasi pemakaman ayahanda beliau Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as (Imam Ahlul Bait ke 10) di Samara, Irak.


Al-Mahdi as dilahirkan pada malam Jum’at 15 Sya'ban tahun 255 H, di dalam kamar bawah tanah rumah mereka di Samara. Menurut riwayat yang masyhur ibunda beliau adalah Nargis.


Imam Hasan Asykari as merahasiakan kelahiran dan perkara putranya ini karena tuntutan situasi dan kondisi sulit zaman itu, karena hebatnya upaya pihak penguasa Bani Abbasiyah mencari putranya untuk dibunuh, karena merasa terancam dengan kelahiran sang Juru Selamat Akhir Zaman.

 

Pihak penguasa Bani Abasiyyah melakukan upaya serius mencari putranya, dikarenakan informasi yang beredar di kalangan pengikut Syiah Imamiyah tentang putra Imam Hasan al-Asykari as yang ditunggu-tunggu mereka sebagai Imam Zaman.

 

Imam Hasan Asykari as tidak ingin putranya dikenal oleh masyarakat pada masa hayatnya, karena akan membahayakan jiwanya. Setelah kewafatan Imam Hasan al-Asykari as, orang banyakpun masih saja belum tahu tentang keberadaan putranya.

 

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa kelahiran Al-Mahdi putra Imam Hasan Asykari akan terjadi dengan tersembunyi dan penuh kerahasiaan. Sebagaimana kelahiran Nabi Musa as yang luput dari pengawasan Fir'aun. Kerahasiaan kelahiran Imam Mahdi as adalah untuk menjaga beliau agar mampu menjalankan misinya di masa datang.

 

Riwayat yang disampaikan oleh Syekh Shaduq dalam kitab Kamaluddin (hlm. 315) dan dalam kitab Kifayat al-Atsar karya Khazaz (hlm. 317), yang disandarkan pada hadis Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as yang berkata:

 

"Tidakkah kalian mengetahui bahwa tidak seorangpun dari kami hidup kecuali leher kami diancam untuk berbaiat kepada penguasa zamannya, kecuali Al-Qaim (Al-Mahdi), yang Isa putra Maryam nanti akan shalat di belakangnya?"


"Sesungguhnya Allah Swt menyembunyikan kelahirannya dan mengghaibkan dirinya agar tidak ada ancaman berbai'at pada lehernya saat muncul".

 

"Dia adalah keturunan yang ke-9 dari saudaraku Husain, putra pemimpin para wanita. Allah memanjangkan umurnya pada masa keghaibannya. Kemudian Allah memunculkannya dengan kekuasaan-Nya".

 

Syekh Saduq juga meriwayatkan hadis dari jalur Imam Ali bin Abi Thalib as yang berkata:

 

"Sesungguhnya Al-Qaim dari keluarga kami, jika dia muncul tidak ada ancaman pada lehernya untuk berbai'at pada seorangpun. Oleh karena itu, kelahirannya dirahasiakan dan dirinya dighaibkan". (Kitab Kamaluddin hlm. 303).

 

Hadis dari jalur Imam Husain as yang berkata:

 

"Terjadi pada putra (generasi) kesembilan dari keturunanku, peristiwa Nabi Yusuf, peristiwa Nabi Musa bin Imran, ia adalah Al-Qaim dari Ahlul Bait. Allah mengatur urusannya dalam satu malam saja". (Kitab Kamaluddin hlm. 321-322).

 

Dalam Kitab Al-Kafi, Kulaini meriwayatkan hadis dengan sanad dari Imam Baqir as yang berkata:

 

"Perhatikanlah, seseorang yang kelahirannya disembunyikan dari pandangan mata manusia. Dialah pemimpin kalian. Sesungguhnya tidak seorangpun dari kami yang ditunjuk dengan jari dan disebut dengan lidah kecuali meninggal dengan kondisi diracun atau dibunuh". (Kitab Kamaluddin hal 316).

 

Mengapa kelahiran Imam Mahdi as dirahasiakan, merupakan salah satu tanda yang amat jelas untuk membedakan sosok Imam Mahdi yang dijanjikan yang merupakan putra Fatimah yang diberitakan dalam hadis-hadis nabawiyah. Hal ini merupakan salah satu tujuan penting untuk mengenalkan kepada umat Islam, salah satu tanda untuk menyingkap ketidakbenaran para pengklaim kemahdian sebagaimana banyak kita saksikan dalam sejarah Islam.

 

Tidak ada satupun dari hadis-hadis nabawiyah tersebut yang dapat diterapkan kepada para pengklaim karena tidak adanya tanda-tanda ini pada mereka.

 

“Tidak ada seorang pun dari mereka para pengklaim kemahdian yang kelahirannya dirahasiakan sebagaimana yang ditetapkan dalam sejarah.” (Dr. Muhammad Mahdi Khan, dalam kitabnya Bab al-Abwab).

 

Dari pembahasan di atas, kita bisa lihat adanya upaya-upaya keji yang terus dilakukan oleh para penguasa baik Bani Umayah ataupun penerusnya Bani Abbasiyah yang berupaya membunuh para Imam Ahlul Bait as untuk memutus mata rantai "Imamah" demi mencegah munculnya Imam Mahdi yang dijanjikan.

 

Upaya-upaya itu dilakukan sampai ke dalam lingkaran dalam keluarga Imam Hasan Asykari as dengan mengutus agen wanita mengawasi kelahiran Imam Mahdi as untuk membunuhnya.

 

Karena itu Imam Hasan Asykari tidak menikah secara resmi sebagaimana budaya yang berlaku pada masa itu.

 

Imam Hasan Asykari as berkata bahwa penguasa Bani Abbasiyah memenjarakan beliau dan berusaha menghabisinya beberapa kali sebagaimana yang mereka lakukan pada ayah-ayah beliau. (Kitab Hayat al-Imam Asykari karya Syekh Thabarsi, hlm. 421-424).

 

Imam Hasan Asykari as menyebutkan sebab-sebab permusuhan yang ditujukan kepada para Imam as sebagaimana diriwayatkan dari beliau oleh seorang ulama yang hidup sezaman dengan beliau as yaitu Syekh Fadhl bin Syadzan, yang berkata:

 

"Abdullah bin Husain bin Sa'ad al-Khatib meriwayatkan kepada kami, dia berkata, "Abu Muhammad al-Imam Hasan Askari berkata: "Bani Umayah dan Bani Abbas meletakkan pedang-pedang mereka pada kami karena dua sebab:

 

Pertama, "Mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki hak atas khilafah, maka mereka takut oleh pengakuan kami atas khilafah, dan takut kalau kekhalifahan tetap berada pada pusatnya".

 

Kedua, "Mereka mengetahui dari sumber-sumber mutawatir mengenai kehancuran kedzaliman dan kesewenang-wenangan melalui tangan Al-Qaim (Al-Mahdi) dari keluarga kami. Mereka tidak ragu bahwa sesungguhnya mereka termasuk orang-orang dzalim, berbuat sewenang-wenang".

 

"Mereka berupaya membunuh Ahlul Bait Rasulullah Saw dan memutus garis keturunannya agar mereka dapat mencegah kelahiran Al-Qaim as atau membunuhnya. Maka, Allah Swt enggan untuk menyingkap urusan pada salah seorang di antara mereka, kecuali Allah Swt menyempurnakannya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya". (Itsbat al-Hudat karya Hurr al-Amini jil 3 hlm. 570, Muntakhab al-Atsar, Syekh Luthfullah Shafi bab 359 hadis ke 34 dari Kasyf al-Haqq karya Khatun Abadi, dll).

 

Karena kelahiran Imam Mahdi afs (Imam ke-12) yang sangat dirahasiakan oleh orang tua beliau afs, membuat musuh-musuh Ahlul Bait as tidak bisa menemukannya, sehingga mereka menuduh bahwa Imam Hasan Asykari as "mandul", tidak mempunyai anak. Inilah fitnah-fitnah yang dilontarkan oleh para musuh dan pembenci Ahlul Bait Nabi Saw sampai sekarang.

 

Kami kutipkan hadis-hadis dari Imam Hasan Asykari as (Imam ke-11) dan Imam Ali al-Hadi as (Imam ke-10), dan para Imam lain tentang Imam Mahdi afs untuk menepis fitnah bahwa Imam Hasan Asykari as "mandul" tidak mempunyai anak:

 

Hadist ke-1:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari al-Husain bin Muhammad dari Mu'alla bin Muhammad dari Ahmad bin Muhammad bin Abdullah yang berkata:

 

"Datang maklumat dari Abu Muhammad (al-Hasan al-Askari as) ketika az-Zubairi (Al-Muhtadi), laknat Allah atasnya, terbunuh: "Inilah balasan bagi orang yang kurang ajar kepada Allah Swt dengan berlaku buruk terhadap para wali-Nya. Dia berikrar mau membunuhku dan menyatakan bahwa aku tidak berketurunan. Bagaimana sekarang dia melihat kuasa Allah berkenaan dengan putra itu?"

 

(Ahmad) bin Muhammad bin Abdullah menambahkan:

 

"Dan dia pun mendapatkan seorang keturunan laki-laki". (Al-Kafi I, 429 riwayat no. 5).

 

Hadist ke-2:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari mereka yang meriwayatkannya dari Muhammad bin Ahmad al-Alawi dari Daud bin al-Qasim al-Ja'fari (Abu Hasyim) yang mengatakan:

 

"Aku (Daud bin al-Qasim al-Ja'fari) mendengar Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Hadi as berkata:

 

"Imam sepeninggalku adalah Al-Hasan. Tetapi apa yang terjadi pada engkau berkenaan dengan Imam setelah Imam sepeninggalku?" (Maksud Imam Ali Hadi as adalah Imam setelah Imam Hasan Askari as yaitu Imam Mahdi afs).

Daud bin al-Qasim bertanya, "Semoga saja Allah menjadikan aku bisa berkorban demi Anda, kenapa?"

 

"Engkau tidak akan bertemu atau melihat dirinya". Ucap Imam Ali Hadi as, "Juga engkau tidak akan dibolehkan menyebut namanya".

 

"Lalu bagaimana kami menyebutnya?" Tanya Daud.

 

Imam menjawab, "Sebut saja "hujjah dari keluarga Muhammad". (Al-Kafi I, 328 riwayat no 13).

 

Hadist ke-3:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari Ja'far bin Muhammad al-Kufi dari Ja'far bin Muhammad al-Makfuf dari Amr al-Ahwazi yang menyebutkan:

 

"Abu Muhammad al-Hasan al-Askari as memperlihatkan kepadaku putranya dan berkata, "Inilah Imam (pemimpin) engkau sepeninggalku". (Al-Kafi I, 328 riwayat no. 3).

 

Hadist ke-4:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Abu Ali al-Asy'ari dari al-Hasan bin Ubaidillah dari al-Hasan bin Musa al-Khasysyab dari Ali bin Suma'a dari Ali bin al-Hasan bin Ribath dari Ibn Udzainah dari Zurarah, yang berkata:

 

"Aku (Zurarah) mendengar Abu Ja'far (al-Baqir as) berkata, "Dua belas Imam dari keluarga Muhammad, semuanya mendapat pesan dari malaikat. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan 11 keturunannya". (Al-Kafi I, 533 riwayat no 14).

 

Hadist ke-5:

 

Abu Qasim meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Ibrahim dari ayahnya (Ibrahim bin Hasyim) dari Ibnu Abi Umair dari Said bin Ghazwan dari Abu Bashir dari Abu Ja'far (al-Baqir as) yang berkata:

 

"Setelah al-Husain ada sembilan Imam, dan Imam ke sembilan merupakan Imam yang mengemban posisi sebagai Imam Zaman". (Al-Kafi I, 533, riwayat no. 15).

 

Hadist ke-6:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Al-Husain bin Muhammad dari Mu'alla bin Muhammad dari Wasysya' dari Aban dari Zurarah yang mengatakan:

 

"Aku (Zurarah) mendengar Abu Ja'far (Al-Baqir as) berkata:

 

"Ada 12 Imam. Diantaranya adalah Al-Hasan dan Al-Husain. Kemudian dari keturunan Al-Husain lahir Imam-imam". (Al-Kafi I, 533 riwayat no. 16).

 

Hadist ke-7:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini dari Ali bin Ibrahim dari Muhammad bin Isa dari Muhammad bin Al-Fadhl dari Abu Hamzah ats-Tsumali dari Abu Ja'far (al-Baqir as).

 

“Dia (Al-Baqir as) berkata, "Allah Swt mengutus Muhammad Saw untuk bangsa jin dan umat manusia. Sepeninggal Muhammad Saw, Dia mengutus 12 wakil pemegang otoritas (washi)".

 

"Sebagian sudah menjalankan tugas, dan sebagian lagi belum. Untuk setiap washi ada persiapannya. Para washi yang mengemban tugas sepeninggal Muhammad Saw sama dengan sistem yang dibangun Nabi Isa as".

 

"Para wakil Isa as ada 12 orang. Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib as) adalah washi pertama sepeninggal Muhammad dalam versi sistem yang dibangun oleh Nabi Isa as". (Al-Kafi I, 532 riwayat no. 10).

 

Hadist ke-8:

 

Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin Isa, Muhammad bin Abdullah, Muhammad bin Husain yang kesemuanya bersumber dari Sahl bin Ziyad dari Al-Hasan bin Al-Abbas dari Abu Ja'far kedua (Muhammad al-Jawad as) dari ayahnya dari Amirul Mukminin as yang berkata:

 

"Rasulullah Saw berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Imanilah malam keputusan (Lailat al-Qadr). Pada malam itu turun perintah tentang sistem religius (sunnah), dan karena perintah itu maka sepeninggalku ada sahabat-sahabat Allah (wulat), Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya".

 

Dengan sanad yang sama, Amirul Mukminin as berkata kepada Ibnu Abbas:

 

"Malam keputusan berkenaan dengan setiap sistem religius (sunnah). Pada malam itu perintah tentang sistem religius (sunnah) turun, dan karena perintah itu, maka sepeninggal Rasulullah Saw ada sahabat-sahabat Allah (wulat)".

 

"Siapa mereka itu?" tanya Ibnu Abbas.

 

"Aku dan sebelas keturunanku, Imam-imam yang mendapat pesan dari malaikat," jawab Amirul Mukminin as.

 

Hadist ke-9:

 

Abu Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Muhammad bin Yahya dari Muhammad bin al-Hasan dari Ibnu Mahbub dari Abul Jarud dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali as (Al-Baqir as) dari Jabir bin Abdullah al-Anshari yang berkata:

 

"Aku (Jabir bin Abdullah) berkunjung kepada Fatimah binti Rasulullah Saw. Saat itu Fatimah tengah memegang sebuah lembaran (lawh) yang termaktub di dalamnya tentang sejumlah washi, para Imam dari keturunan Fatimah".

 

"Aku hitung jumlahnya ada 12 nama dan nama yang terakhir adalah dia yang akan mengemban posisi sebagai Imam Zaman. Diantara keturunan Fatimah ada tiga yang bernama Muhammad, dan ada tiga yang bernama Ali". (Al-Kafi I, 532 riwayat no. 9).

 

Riwayat dari Ibn Al-Atsir: Imam Hasan Al- Askari as Memiliki Anak

 

Sejarawan klasik terkenal, Ibn Al-Atsir, dalam kitab Al-Kamil fi Al-Tarikh, jilid. 7, hlm. 274, ketika membahas kejadian tahun 260 H, ia memberikan keterangan berikut:

 

وفيها توفي الحسن بن علي بن محمد بن علي بن موسى بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب عليه السلام.

...أبو محمد العلوي العسكري، وهو أحد الأئمة الثني عشر على مذهب الامامية، وهو والد محمد الذي يعتقدونه المنتظر...

 

“Pada tahun 260 H, wafatlah Al-Hasan bin 'Ali bin Muhammad bin 'Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam.

 

“... Abu Muhammad Al-'Alawi Al-'Askari. Dia salah satu dari dua belas Imam pada madzhab Al-Imamiyah. Dia adalah ayah dari Muhammad yang diyakini oleh Al-Imamiyah sebagai Al-Muntazhar...”

 

Kutipan di atas menyebutkan kuniyah Imam Hasan Al-Askari as yaitu Abu Muhammad (ayahnya Muhammad). Secara jelas juga disebutkan: هو والد محمد (dia adalah ayah Muhammad). Muhammad inilah yang diyakini oleh Al-Imamiyah sebagai Al-Muntazhar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam catatan sejarah Imam Hasan Al-'Askari as memiliki anak.

 

Referensi:

 

Ibn Al-Atsir, Al-Kamil Fi Al-Tarikh, jld. 7 (Beirut: Dar Shadir dan Dar Bayrut, 1385 H/ 1965 M), bab سنة ستين ومائتين, sub bab ذكر عدة حوادث, hlm. 274.