- Home
- Ahlul Bait
- 14 Manusia yang Disucikan
- Rasulullah Muhammad Saw
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Fatimah az-Zahra binti Rasulullah
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- 12 Imam Suci Ahlul Bait
- Imam Ali bin Abi Thalib
- Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba
- Imam Husain bin Ali as-Syahid
- Imam Ali bin Husain as-Sajjad
- Imam Muhammad bin Ali al-Baqir
- Imam Jafar bin Muhammad asShadiq
- Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim
- Imam Ali bin Musa ar-Ridha
- Imam Muhammad bin Ali al-Jawad
- Imam Ali bin Muhammad an-Naqi
- Imam Hasan bin Ali al-Askary
- Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi
- Imamah dan Ahlul Bait
- Perayaan Ahlul Bait
- Sahabat Ahlul Bait
- Sejarah Syiah
- Syiah Menurut Syiah
- Tokoh-Tokoh Syiah
- Wilayatuh Faqih
- 14 Manusia yang Disucikan
- Imam Mahdi
- Asbabun Nuzul
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Al-Ahzab: 23 Menunggu Janji Allah
- Al-Waqi’ah: 10-11 Terdahulu Beriman
- Al-Hadid: 19 Shiddiqqin
- Al-Baqarah: 207 Korban Yang Pertama
- Al-Baqarah: 274 Berinfak Sembunyi2
- Az-Zumar: 33 Yang Membenarkan
- Al-Anfal: 75 Hubungan Kerabat
- Al-Ahzab: 25 Penyelamat Peperangan
- Maryam: 96 Beriman dan Amal Shalih
- Hud: 17 Saksi Dari Allah Swt
- At-Tahrim: 4 Mukmin Yang Shalih
- At-Taubah: 1 Putus Hubungan Musyrikin
- Al-Mujadalah: 12 Berbicara Khusus
- Al-Haqqah: 11-12 Telinga Yg Mendengar
- At-Taubah: 19 Keimanan
- Ali dan Syiahnya
- Ali, Fatimah, Hasan, Husain
- Ali dan Lainnya
- Tentang Ahlul Bait
- Al-Ahzab: 33 Pensucian Ahlul Bait
- Asy-Syura: 23 Mencintai Ahlul Bait
- Ali Imran: 103 Pegang Teguh Ahlul Bait
- An-Nahl: 43 Merujuk Kpd Ahlul Bait
- At-Takatsur: 8 Kepemimpinan Ahlul Bait
- An-Nisa: 54 Manusia yang Dihasudi
- An-Nur: 36-37 Rumah yang Dimuliakan
- An-Nur: 35 Cahaya Allah
- Ash-Shaffat: 130 Keluarga Yasin
- Fathir: 32 Pewaris Al-Kitab
- Asy-Syura: 23 Orang Yang Berbuat Kebaikan
- Peristiwa Ghadirkum
- Jalan Lurus dan Kebenaran
- Ulil Amri, Imamah dan Wilayah
- An-Nisa: 59 Menaati Ulil Amri
- Az-Zukhruf: 45 Kepemimpinan Rasul-Ali
- Al-Baqarah: 124 Ayat Imamah
- Asy-Syu’ara': 214 Ayat Indzar
- Al-Ma`idah: 55-56 Ayat Wilayah
- Al-Ahzab: 6 Ayat Wilayah
- Ash-Shaffat: 24 Ditanyai Tntng Wilayah
- Al-Ma`arij: 1-3 Meragukan Wilayah Ali
- Thaha: 25 Memohon Seorang Wazir
- Al-Ahzab: 72 Penyerahan Amanat
- Al-A`raf: 172 Kesaksian Anak Cucu Adam
- Thaha: 82 Ayat Pengampunan
- Shalawat Untuk Nabi dan Keluarganya
- Keturunan Rasulullah Saw
- Thuba (Tempat Kembali yang Baik)
- Kaum Munafikin Benci Ali
- Ayat Khusus Untuk Ali
- Islam
- Nasional
- Iran
- Internasional
- Ragam
- Kontak
Jumat, 26 September 2025
Transformasi Masyarakat di Bawah Pemerintahan Imam Mahdi
Kamis, 14 Agustus 2025
Miliki Segera Aplikasi Petunjuk Arah Terbaik, Imamah: Pelaksana Tugas Kenabian
Jumat, 19 Juli 2024
Mencintai Ali Sama Dengan Mencintai Rasulullah, Membenci Ali Sama Dengan Membenci Rasulullah
Imam Ath-Thabrani mengutip sebuah penuturan dari salah seorang isteri Nabi Saw, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah, yang berkata:
Rabu, 17 Juli 2024
Malam Kesepuluh Muharram: Deklarasi Manusia-Manusia Ilahiyah

Minggu, 02 Juni 2024
Periode Kehidupan Imam Mahdi (2)
Peran Imam Mahdi as Dimasa
Keghaiban Bagi Umat Manusia
Selama lebih dari 200 tahun, para Imam Ahlul Bait as telah menyampaikan sebagian besar kebutuhan umat sepanjang masa keghaiban panjang tentang pengetahuan ilmu al-Quran dan sunnah kakek mereka Rasulullah Saw.
Begitu pula kebutuhan-kebutuhan yang dapat mewakili Islam secara keseluruhan sebagai agama yang suci, agama yang kokoh yang Allah perintahkan agar kita mengikutinya dan beramal sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya.
Islam sebagai tali pegangan yang kuat yang sekaligus sebagai aplikasi terhadap berpegangan kepada dua peninggalan Nabi Saw yang menjamin keselamatan dari kesesatan dan mati jahiliyah.
Peninggalan-peninggalan warisan para Imam as menjelaskan kaidah-kaidah serta landasan dasar interpretasi hukum Islam dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara umum yang diambil dari riwayat-riwayat untuk mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah Saw dan para Imam Ahlul Bait as.
Nabi Saw dan para Imam as memerintahkan para sahabat mereka untuk menjaga dan mencatatnya agar dapat dijadikan sumber, selain Al-Quran, untuk mengetahui seluruh hukum Islam yang dibutuhkan oleh umat, sampai masa kemunculan Imam Mahdi as.
Salah satu hasil penting yang diperoleh adalah dapat tercatatnya riwayat-riwayat mereka dari sahabat para Imam yang dikenal dengan "USHUL ARBA' MIAH". Kitab ini telah dikumpulkan pada masa sebelum Imam Mahdi as. Di dalam kitab tersebut termuat sejumlah besar riwayat dan nash-nash dari Nabi Muhammad Saw. (Man'u Tadwin al-Hadits, Asbabuhu wa Wanataiju, Sayid Ali Syahrestani hlm. 465-467 sub bab mengenai sejarah pencatatan hadis Nabawi menurut Ahlul Bait as).
Selama masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menyempurnakan segala sesuatu yang dibutuhkan umat pada masa keghaiban panjang nantinya, baik berupa pengetahuan-pengetahuan ataupun segala sesuatu yang dapat membantu pergerakan dan konsistensi umat di jalan lurus serta mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menjaga umat untuk tetap melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan.
Itulah tujuan umum dalam kehidupan beliau pada keghaiban panjang sebagaimana yang tercermin dalam risalah-risalah yang beliau keluarkan pada masa tersebut.
Penetapan Metode Perwakilan Dalam Masa Keghaiban Pendek
Pada masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menetapkan sejumlah orang dari sahabat yang setia dan terpercaya sebagai wakil beliau yang bergerak sesuai dengan izin dan perintah beliau. Para wakil itu menjadi penghubung Imam dengan pengikut beliau.
Kakek beliau, Imam Ali al-Hadi as telah mempersiapkan perwakilan ini untuk Imam Mahdi as. Begitu juga para Imam sebelumnya yaitu Imam Muhammad al-Jawad as dan diikuti oleh Imam Hasan Asykari as yang telah membentuk sistem perwakilan sebagai persiapan untuk keghaiban keturunan mereka.
Mereka menyatakan kepercayaan mereka pada sebagian sahabat mereka atau menyebut langsung para wakil mereka.
Imam Hasan Asykari as menyebutkan mengenai Utsman bin Said Amri, sebagai wakil beliau. Utsman ini juga sebelumnya adalah wakil dari ayahnya, Imam Ali al-Hadi as.
Kemudian Imam Hasan Asykari as juga menyatakan bahwa Utsman bin Said Amri adalah seorang wakil setelahnya bagi putra beliau, Imam Mahdi as.
Imam Hasan Asykari as berkata, "Abu Amr ini adalah orang yang dapat dipercaya, jujur, kepercayaan imam terdahulu, dan orang kepercayaanku semasa aku hidup dan setelah aku meninggal. Apa yang dia sampaikan pada kalian adalah ucapan dariku dan segala yang dia perintahkan pada kalian, sesungguhnya adalah perintah dariku". (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 215).
Syekh Shaduq menyebutkan dua belas orang para wakil Imam Mahdi as selama masa keghaiban pendek. Sayid Muhammad Sadr menambahkan enam orang lainnya berdasarkan bukti yang disebutkan dari sumber sejarah dan kitab-kitab ar-Rijal. (Tarikh Ghaybat ash-Shughra hlm. 609-628).
Imam Mahdi as bertanggung jawab langsung atas penetapan mereka dan mengeluarkan penjelasan dan tanda tangan mengenai hal ini. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 172-257).
Dalam masa keghaiban pendek ini, karena ketidakhadiran Imam Mahdi as, sistem perwakilan berbeda dengan sistem perwakilan pada masa sebelumya, dimana Imam hadir pada pertemuan dengan kaum mukmin, sehingga tidak dibutuhkan seorang wakil atau utusan tertentu yang mewakili beliau.
Pada masa keghaiban pendek, ketidakhadiran Imam menuntut adanya penentuan wakil agar dapat menjadi sentral rujukan orang-orang mukmin pada khususnya dan mereka yang sebelumnya telah terbiasa dengan wakil imam yang hanya satu orang.
Penentuan seorang wakil Imam ditentukan langsung oleh Imam dan disampaikan langsung oleh Imam, sebagaimana posisi wakil Imam pertama atau melalui wakil sebelumnya untuk menentukan wakil selanjutnya.
Para pembesar utama Syiah dan 4 sahabat utama yang menjadi wakil Imam Mahdi as, yang pertama adalah:
1. Utsman bin Said Amri
(Umari) al-Asadi, yang sebelumnya menjadi wakil dari dua Imam sebelumnya yaitu
Imam Ali al-Hadi as dan Imam Hasan al-Asykari as.
2. Wakil Imam Mahdi as yang kedua adalah putra Utsman bin Said yaitu Muhammad Amr bin Utsman al-Asadi, wafat tahun 305 H.
3. Wakil Imam yang ketiga adalah Al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.
4. Dan wakil terakhir
Imam yang keempat adalah Ali bin Muhammad al-Samari, wafat 328/329 H.
Imam Mahdi as, bertanggung jawab mengawasi langsung atas para wakil ini dalam melaksanakan tugas-tugasnya melayani kaum mukmin, mewakili Imam, dalam segala hal yang berkaitan dengan keyakinan ataupun lainnya berdasakan pengetahuan yang berasal langsung dari Imam.
Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah, menukil sebuah hadis yang meriwayatkan ketika wakil Imam yang ketiga, Husain bin Ruh menjawab pertanyaan seorang mukmin berkaitan dengan akidah, yaitu berkaitan dengan kesyahidan Imam Husain as.
Riwayat tersebut dinukil dari perawi Muhammad bin Ibrahim yang hadir dalam sebuah majelis pada saat wakil Imam ketiga Husain bin Ruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaum mukmin.
Muhammad bin Ibrahim bin Ishak berkata, "Aku kembali menjumpai Syekh Abu Qasim Husain bin Ruh keesokan harinya dan aku berkata pada diriku sendiri, "Apakah dia menyebutkan sesuatu pada kami kemarin dari dirinya sendiri?"
"Dia menegurku dan berkata, "Wahai Muhammad bin Ibrahim, jika diakhirkan dari langit dan burung-burung mematukiku atau angin yang kencang menerpaku, hal itu lebih aku sukai dibandingkan dengan aku berbicara agama berdasarkan pendapatku dan dari diriku sendiri".
"Sesungguhnya sesuatu yang aku sampaikan bersumber dari sumber yang asli dan aku mendengarnya dari al-Hujjah (al-Mahdi), semoga shalawat dan salam Allah tercurah padanya." (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 198-199).
Kondisi politik yang terjadi saat itu mengharuskan keghaiban Imam, dan tidak memungkinkan para wakil Imam untuk berbuat secara terang-terangan. Dengan demikian, syarat pertama untuk menjadi seorang utusan tertentu haruslah seseorang yang memiliki tingkatan puncak dalam kesetiaan, kejujuran, mampu menyembunyikan dan merahasiakan tempat keberadaan imam sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan terpilihnya Husain bin Ruh sebagai wakil Imam yang ketiga meskipun ada orang yang lebih pintar darinya diantara para sahabat. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 240).
Imam Mahdi as menetapkan sistem perwakilan atau utusan khusus dalam masa keghaiban pendek, sebagai persiapan dan pembukaan agar orang-orang mukmin merujuk pada wakil umum Imam di masa keghaiban panjang. Hal ini telah ditetapkan dalam nash-nash syariat yang menentukan sifat-sifat umum bagi wakil umum Imam.
Imam juga memerintahkan umat untuk merujuk pada wakil umum beliau pada masa keghaiban panjang. Pengalaman empat wakil Imam yang khusus yang ditentukan oleh Imam di masa keghaiban pendek sebagai petunjuk kepada umat tentang legalitas merujuk kepada wakil beliau di masa keghaiban beliau. Dan sebagai contoh kepada umat bagaimana kualitas orang yang mengklaim sebagai wakil Imam pada masa keghaiban panjang sesuai dengan nash-nash syariat Islam sebagai persyaratan sebagai wakil Imam.
Para penguasa Bani Abbasiyah terus berupaya mencari Imam Mahdi as dalam masa keghaiban pendek ini. Dengan adanya berita-berita tentang keberadaan para wakil Imam ini, mereka pun mulai menyelidiki keberadaan mereka. Untuk itu Imam Mahdi as berperan aktif menjaga sistem perwakilan ini agar dapat berfungsi peran beliau dimasa keghaian pendek.
Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kafi, dari Husain bin Hasan Alawi yang berkata, "Seorang laki-laki dari Nadama Ruz Hasani dan orang terakhir yang bersamanya berkata kepadanya, "Dia adalah orang yang mengumpulkan harta-harta dan dia memiliki para wakil dan mereka menyebutkan seluruh nama para wakil ke seluruh penjuru".
Sampailah hal itu kepada Ubaidillah bin Sulaiman, seorang menteri. Ia berusaha menangkap mereka semua. Khalifah berkata, "Carilah di mana laki-laki itu".
"Ini adalah masalah yang berat", ujar Ubaidillah bin Sulaiman. "Kita akan menangkap para wakilnya".
Khalifah berkata, "Tidak, akan tetapi, ada diantara mereka sekelompok orang yang tidak mengenal harta sama sekali. Siapa yang diantara mereka memegang sesuatu, maka diberikan kepadanya".
"Kemudian Imam as memerintahkan seluruh wakil untuk tidak mengambil sesuatu apapun dari setiap orang, menolaknya dan berpura-pura bodoh".
Seorang laki-laki yang tidak dikenal berusaha menipu Muhammad bin Ahmad dan berkata, "Aku memiliki sejumlah harta dan aku ingin memberikannya pada Imam".
"Muhammad bin
Ahmad berkata kepadanya, "Anda salah, saya tidak mengetahui apapun tentang
hal ini".
Lelaki itu terus mendesak secara halus, namun Muhammad tetap pura-pura tidak tahu.
Penguasa terus mengirim mata-mata, namun para wakil Imam menolak apapun yang disodorkan kepada mereka". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).
Dari riwayat di atas dapat diketahui mengenai sejarah Imam Mahdi as pada masa keghaiban pendek, bahwa beliau tidak hanya berusaha mencegah gangguan penguasa Bani Abbas kepada para wakilnya, tetapi juga terhadap orang-orang mukmin.
Hal ini merupakan sebuah sunnah dari sejarah ayah-ayah mereka. Mereka berusaha melindungi orang-orang mukmin dan mencegah setiap gangguan sebatas yang mampu mereka lakukan.
Salah satu contoh perlindungan yang dilakukan oleh para Imam adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dalam al-Kafi yang disampaikan oleh Kulaini, "Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad yang berkata, "Dikeluarkan pelarangan untuk berziarah ke makam orang-orang Quraisy dan gua Hira".
Setelah beberapa bulan, Menteri Baqithai memanggil pembantu nya dan berkata, "Temui Bani Purat dan Barsiyin, katakan kepada mereka, "Jangan menziarahi makam orang-orang Quraisy, Khalifah telah memerintahkan untuk melenyapkan setiap orang yang berziarah atau memenjarakan nya". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).
Tujuan lainnya yang dilakukan oleh Imam untuk direalisasikan pada masa keghaiban pendek adalah menyingkap segala penyimpangan yang terjadi di kalangan umat Syiah diantaranya, tulisan paman Imam Mahdi as yaitu Ja'far bin Ali dan adanya wakil-wakil gadungan. Sejarah membuktikan keberhasilan Imam menyelesaikan masalah tersebut ditandai dengan berpaling nya para pengikut Imam Mahdi as dari hal tersebut dengan cepat sebelum berakhirnya masa keghaiban pendek.■
Senin, 27 Mei 2024
Periode Kehidupan Imam Mahdi (1)
Periode
pertama, kehidupan Imam Mahdi as sejak kelahiran beliau tahun 255 H sampai
dengan 260 H, berada dalam naungan ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Asykari as
sampai wafatnya.
Periode
kedua, sejak kewafatan ayahanda beliau Imam Hasan Asykari as tahun 260 H, hingga
berakhirnya masa keghaiban pendek tahun 329 H, yang berlangsung selama 70
tahun.
Periode
ketiga, adalah masa keghaiban panjang, yang dimulai sejak berakhirnya keghaiban
pendek, setelah meninggalnya wakil beliau yang keempat. Periode ini berlangsung
sampai kemunculan beliau yang akan membangun kondisi politik dan sosial yang
baru.
Periode
keempat, adalah periode kehidupan beliau mulai kemunculan beliau setelah
berakhirnya keghaiban panjang dan ini adalah janji pemerintahan mahdawiyah yang
mendunia, sebagaimana dikhabarkan dalam nash-nash al-Quran dan sunnah.
PERIODE
PERTAMA
Imam
Mahdi Dalam Naungan Ayahandanya
Sebelum
kelahiran Imam Mahdi afs, ayahanda beliau, Imam Ahlul Bait ke-11, Imam Hasan Asykari
as sengaja menyembunyikan kelahiran puteranya dari masyarakat umum, karena
kondisi sulit yang dihadapi akibat upaya penguasa Bani Abbasiyah yang berusaha
untuk membunuh Imam Mahdi afs.
Berulangkali
Imam as mengingatkan orang-orang terdekat dari kalangan keluarga dan pengikut
setianya untuk merahasiakan hal itu. Seperti contoh saat Imam as memberitahukan
Ahmad bin Ishaq, beliau berkata:
"Seorang
bayi telah lahir dari keluarga kami, hal ini hendaknya menjadi rahasia bagi
dirimu dan tersembunyi bagi seluruh manusia". (Kamal 'addin hlm. 431).
Akan
tetapi, dalam tekanan dan kondisi mencekam dari incaran mata-mata Bani
Abbasiyah, Imam as harus juga memeritahukan dan mengabarkan kelahiran putranya,
Al-Mahdi agar tidak terjadi keraguan akan kelahiran dan keberadaannya serta
imamah Al-Mahdi kelak di masa mendatang.
Dengan
demikian dibutuhkan saksi-saksi untuk hal ini, sehingga mereka mengetahui dan
dapat menukil kesaksian mereka di masa mendatang, tercatat dalam sejarah untuk
generasi berikutnya.
Mulailah
Imam Hasan Asykari as memberitahukan sejumlah orang dari sahabat-sahabat
setianya mengenai masalah tersebut. (Kamal 'uddin hal 431, Kitab Ma'adin
al-Hikmah fi Makatib al-Aimmah karya Muhammad bin Faidh Kasyani jilid 2 hlm.
375).
Imam
Hasan Asykari as memberitahukan kelahiran itu setelah tiga hari. (Kamal'uddin hlm.
431). Beliau as menyampaikan kepada 40 orang sahabat khususnya dan membiarkan
mereka mengabarkannya setelah berlalu beberapa tahun dan Imam Mahdi as saat itu
masih kecil.
Imam
Hasan as memberitahukan mereka bahwa anak kecil itu adalah "Imam"
setelah beliau as. (Al-Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 21, Itsbat al-Hadat, Hurr
Amili hlm. 415, Yanabi 'al- Mawaddah, Hafizh Sulaiman al-Hanafi hlm. 460).
Begitu
juga ketika menyampaikannya secara pribadi pada sebagian sahabatnya dan
sewaktu-waktu beliau memperlihatkan kepada mereka ‘karamah’ Imam Mahdi as
sehingga membuat mereka yakin akan keberadaan beliau as. (Kitab Al-Ghaybah
tentang Hadist-Hadist yang menyebutkan orang-orang yang menyaksikan Imam Mahdi
as di masa ayahandanya).
Imam
Hasan Asykari as, dalam melaksanakan tugasnya sebagai imam, juga tetap menjaga
agar bayi ini tetap selamat dari incaran penguasa.
Tugas
lain Imam as juga adalah mempersiapkan keghaiban putranya al-Mahdi as dan
membiasakan orang-orang Mukmin berinteraksi secara tidak langsung dengan Imam
yang ghaib.
Untuk
itu, Imam as memberitahukan mereka mengenai keghaiban Al-Mahdi as dan
memerintahkan mereka untuk merujuk kepada wakil-wakil Imam Mahdi as untuk umum,
yaitu Usman bin Said.
Pernyataan
Imam Hasan as kepada sekelompok sahabatnya tentang Imam Mahdi as yang masih
kecil:
"Inilah
imam kalian setelahku dan dia adalah khalifahku atas kalian. Taatilah dia dan
janganlah kalian bercerai-berai sepeninggalku, maka kalian celaka dalam agama
kalian".
"Ketahuilah
bahwa kalian kelak tidak akan melihatnya setelah hari ini hingga sempurna
umurnya. Terimalah dari Usman, apa yang disampaikannya, turuti perintahnya,
terimalah ucapannya, karena dia adalah "wakil imam" kalian, dan
seluruh urusan kembali kepadanya". (Al-Ghaybah,
Syekh Thusi hlm. 217).
Untuk
membiasakan orang-orang mukmin dalam menghadapi masa keghaiban Imam Mahdi as,
Imam Hasan as mulai menggunakan metode di balik tirai dalam berinteraksi dengan
pengikutnya, baik yang khusus ataupun umum.
Hal
demikian juga sudah dilakukan oleh ayah-ayah beliau sebelumnya sebagai
mukadimah menghadapi keghaiban Imam Zaman Al-Mahdi as, sehingga para pengikut
mereka sudah menjadi terbiasa dalam menghadapi kondisi tersebut dan mereka
tidak mengingkari keghaiban. (Itsbat al-Wasyi'ah karya Mas'udi hlm. 262).
Dari
tindakan-tindakan tersebut, lalu terbentuk satu sistem perwakilan dari Imam dan
penguatan terhadap kitab-kitab hadist yang dikumpulkan sahabat Imam dari
periwayatan- periwayatan mereka dari para Imam dan dari Rasulullah Saw, dan
agar orang-orang mukmin merujuk pada kitab-kitab hadist tersebut dan
periwayatan-periwayatan itu di masa keghaiban. (Rujuk Rijal al-Kasyi hlm. 481
dan 451, Rijal Abu Dawud hlm. 272-273, Wasail asy-Syiah jilid 17 hlm. 72, Falah
as-Sail karya Sayid Ibnu Tawus hlm. 183).
Sistem
perwakilan yang diterapkan oleh Imam as ini menjadi dasar munculnya sistem
"marja'iyah" pada masa keghaiban Imam Mahdi afs sebagaimana yang
berlaku di masa kini.
Kehadiran
Imam Mahdi as Saat Ayahnya Wafat
Hadist
dari Syekh Shaduq dalam Ikmaluddin dan Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah bahwa Imam
Mahdi afs hadir pada saat ayahnya wafat.
Syekh
Shaduq meriwayatkan dari Muhammad bin Husain bin Ibad, dia berkata:
"Abu
Muhammad Hasan bin Ali (Imam Hasan Asykari as) meninggal pada hari Jum’at saat
shalat subuh. Pada malam harinya, ia banyak menulis surat yang ditujukan ke
Madinah".
"Peristiwa
ini terjadi pada bulan Rabiul Awwal pada tanggal 8 tahun 260 H. Ketika itu ia
tidak dihadiri kecuali oleh Shaqail Jariah dan Uqaid Khadim serta seorang yang
mengenal Allah Swt selain kedua orang tersebut …" (Ikmaluddin hlm. 474).
Syekh
Thusi menukil riwayat yang lebih rinci, beliau berkata:
"Ismail
bin Ali berkata, "Aku menjumpai Abu Muhammad Hasan bin Ali as saat sakit
yang menyebabkan kematiannya. Aku berada di sisinya saat ia berkata pada
pembantunya Uqaid (dia pembantu berkulit hitam yang telah membantu ayahnya,
Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as) dan ia adalah orang yang merawat Imam Hasan
as".
Imam
Hasan as berkata, "Wahai Uqaid, tuangkan untukku air". Maka diambilkan
baginya air. Kemudian Saqail Jariah berada di belakangnya dengan membawa tempat
air di tangannya.
Tempat
air itu diminumkan kepada Imam as sementara tangannya gemetar sampai-sampai
tempat air itu menyentuh gigi beliau. Kemudian dia letakkan, Imam berkata
kepada Uqaid, "Masuklah ke dalam rumah, kau akan melihat seorang anak
kecil yang sedang bersujud dan bawalah dia kepadaku".
Abu
Sahl berkata, "Uqaid berujar, "Aku masuk mencari dan aku lihat anak
kecil yang sedang bersujud mengangkat jemarinya ke langit, dan aku mengucapkan
salam kepadanya". Ketika selesai shalat, aku berkata, "Sesungguhnya
tuanku menyuruhmu untuk keluar menjumpainya".
Kemudian
ibu Saqail datang dan membawanya kepada ayahnya, Imam Hasan as.
Abu
Sahl berkata, "Ketika anak kecil tersebut berada di hadapannya,
mengucapkan salam. Kulit anak tersebut berwarna cerah, rambutnya agak keriting
dan giginya agak renggang".
"Ketika
Imam Hasan as melihatnya, ia menangis dan berkata:
"Wahai
pemimpin Ahlul Baitnya, tuangkan kepadaku air, sesungguhnya aku hendak pergi
menuju Tuhanku".
"Kemudian
anak itu mengambil tempat air yang tertutup dengan kedua tangannya. Lalu
menggerakkan bibirnya dan menuangkannya".
"Ketika
Imam Hasan as meminumnya, lalu berkata, "Persiapkanlah aku untuk
shalat". Kemudian anak kecil itu mengambil sebuah handuk di dalam kamarnya
lalu mewudhukannya satu demi satu, mengusap kepalanya, dan kedua kakinya".
Abu
Muhammad Hasan Asykari as berkata kepadanya, "Berilah khabar gembira wahai
anakku, engkau adalah "Shahib az-Zaman", engkau adalah Al-Mahdi,
engkau adalah "hujjah Allah" di atas muka bumi ini, engkau adalah
anakku dan washiku, engkau terlahir dariku dan kau adalah Muhammad bin Hasan
bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin
Husain bin Ali bin Abi Thalib".
"Rasulullah
menjadikanmu sebagai putranya dan kau adalah Imam terakhir dari para Imam yang
suci, Rasulullah Saw telah membawa berita gembira mengenaimu, beliau yang
memberi namamu dan menjulukimu seperti itu".
"Ayahku
telah berjanji kepadaku dari ayah-ayahnya yang suci, salawat dan salam Allah
tertuju pada Ahlul Bait, sesungguhnya Tuhanku Maha Terpuji dan Maha
Mulia". Kemudian Imam Hasan Asykari as pun meninggal, salam sejahtera bagi
mereka seluruhnya". (Al-Ghaybah,
Syekh Thusi, hlm. 165).
Sejarah Kelahiran Imam Mahdi: Mengapa Imam Mahdi Dighaibkan oleh Allah Swt?
Nama-nama 12 Imam penerus dan penjaga risalah Allah Swt yang ditetapkan Allah melalui wasiat Rasulullah Saw secara berurutan adalah:
1.
Ali bin Abi Thalib as
(syahid 40 H)
2.
Hasan bin Ali as
(syahid 49 H)
3.
Husein bin Ali as
(syahid 61H)
4.
Ali bin Husein Zainal
Abidin as-Sajjad as (syahid 95 H)
5.
Muhammad bin Ali
al-Baqir as (syahid 114 H)
6.
Ja'far bin Muhammad
ash-Shadiq as (syahid 148 H)
7.
Musa bin Ja'far
al-Khazim as (syahid 183 H)
8.
Ali bin Musa ar-Ridha
as (syahid 203 H)
9.
Muhammad bin Ali
al-Jawad as (syahid 230 H)
10.
Ali bin Muhammad
al-Hadi as (syahid 254 H)
11.
Hasan bin Ali
al-Asykari as (syahid 260 H)
12. Muhammad bin Hasan al-Mahdi
afs (dighaibkan oleh Allah Swt 260 H sampai waktu yang ditentukan Allah)
Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi afs adalah Imam terakhir dari 12 Imam Ahlul Bait Nabi Saw. Beliau adalah Imam Akhir Zaman yang ditunggu-tunggu kemunculannya oleh pengikut Syiah Ahlul Bait Nabi Saw dari keghaibannya yang panjang.
Untuk mengetahui mengapa Allah Swt mengghaibkan hujjah-Nya dari manusia, kita harus menelusuri mulai dari kehidupan ayahandanya yaitu Imam Hasan al-Asykari, Imam Ahlul Bait ke-11.
Imam Hasan bin Ali al-Asykari as wafat hari Jum’at 8 Rabiul Awal 260 H, dalam usia 28 tahun. Beliau dimakamkan di rumahnya yang juga menjadi lokasi pemakaman ayahanda beliau Imam Ali bin Muhammad al-Hadi as (Imam Ahlul Bait ke 10) di Samara, Irak.
Al-Mahdi as dilahirkan pada malam Jum’at 15 Sya'ban tahun 255 H, di dalam kamar bawah tanah rumah mereka di Samara. Menurut riwayat yang masyhur ibunda beliau adalah Nargis.
Imam Hasan Asykari as merahasiakan kelahiran dan perkara putranya ini karena tuntutan situasi dan kondisi sulit zaman itu, karena hebatnya upaya pihak penguasa Bani Abbasiyah mencari putranya untuk dibunuh, karena merasa terancam dengan kelahiran sang Juru Selamat Akhir Zaman.
Pihak penguasa Bani Abasiyyah melakukan upaya serius mencari
putranya, dikarenakan informasi yang beredar di kalangan pengikut Syiah
Imamiyah tentang putra Imam Hasan al-Asykari as yang ditunggu-tunggu mereka
sebagai Imam Zaman.
Imam Hasan Asykari as tidak ingin putranya dikenal oleh
masyarakat pada masa hayatnya, karena akan membahayakan jiwanya. Setelah
kewafatan Imam Hasan al-Asykari as, orang banyakpun masih saja belum tahu
tentang keberadaan putranya.
Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa kelahiran Al-Mahdi putra
Imam Hasan Asykari akan terjadi dengan tersembunyi dan penuh kerahasiaan.
Sebagaimana kelahiran Nabi Musa as yang luput dari pengawasan Fir'aun.
Kerahasiaan kelahiran Imam Mahdi as adalah untuk menjaga beliau agar mampu
menjalankan misinya di masa datang.
Riwayat yang disampaikan oleh Syekh Shaduq dalam kitab
Kamaluddin (hlm. 315) dan dalam kitab Kifayat al-Atsar karya Khazaz (hlm. 317),
yang disandarkan pada hadis Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as yang berkata:
"Tidakkah kalian mengetahui bahwa tidak seorangpun dari kami hidup kecuali leher kami diancam untuk berbaiat kepada penguasa zamannya, kecuali Al-Qaim (Al-Mahdi), yang Isa putra Maryam nanti akan shalat di belakangnya?"
"Sesungguhnya Allah Swt menyembunyikan kelahirannya dan mengghaibkan dirinya agar tidak ada ancaman berbai'at pada lehernya saat muncul".
"Dia adalah keturunan yang ke-9 dari
saudaraku Husain, putra pemimpin para wanita. Allah memanjangkan umurnya pada masa
keghaibannya. Kemudian Allah memunculkannya dengan kekuasaan-Nya".
Syekh Saduq juga meriwayatkan hadis dari jalur Imam Ali bin Abi
Thalib as yang berkata:
"Sesungguhnya Al-Qaim dari keluarga kami,
jika dia muncul tidak ada ancaman pada lehernya untuk berbai'at pada
seorangpun. Oleh karena itu, kelahirannya dirahasiakan dan dirinya dighaibkan". (Kitab Kamaluddin hlm. 303).
Hadis dari jalur Imam Husain as yang berkata:
"Terjadi pada putra (generasi) kesembilan
dari keturunanku, peristiwa Nabi Yusuf, peristiwa Nabi Musa bin Imran, ia
adalah Al-Qaim dari Ahlul Bait. Allah mengatur urusannya dalam satu malam
saja". (Kitab Kamaluddin hlm.
321-322).
Dalam Kitab Al-Kafi, Kulaini meriwayatkan hadis dengan sanad dari
Imam Baqir as yang berkata:
"Perhatikanlah, seseorang yang
kelahirannya disembunyikan dari pandangan mata manusia. Dialah pemimpin kalian.
Sesungguhnya tidak seorangpun dari kami yang ditunjuk dengan jari dan disebut
dengan lidah kecuali meninggal dengan kondisi diracun atau dibunuh". (Kitab Kamaluddin hal 316).
Mengapa kelahiran Imam Mahdi as dirahasiakan, merupakan salah satu
tanda yang amat jelas untuk membedakan sosok Imam Mahdi yang dijanjikan yang
merupakan putra Fatimah yang diberitakan dalam hadis-hadis nabawiyah. Hal ini
merupakan salah satu tujuan penting untuk mengenalkan kepada umat Islam, salah
satu tanda untuk menyingkap ketidakbenaran para pengklaim kemahdian sebagaimana
banyak kita saksikan dalam sejarah Islam.
Tidak ada satupun dari hadis-hadis nabawiyah tersebut yang dapat
diterapkan kepada para pengklaim karena tidak adanya tanda-tanda ini pada
mereka.
“Tidak ada seorang pun dari mereka para pengklaim
kemahdian yang kelahirannya dirahasiakan sebagaimana yang ditetapkan dalam
sejarah.” (Dr. Muhammad Mahdi
Khan, dalam kitabnya Bab al-Abwab).
Dari pembahasan di atas, kita bisa lihat adanya upaya-upaya keji
yang terus dilakukan oleh para penguasa baik Bani Umayah ataupun penerusnya
Bani Abbasiyah yang berupaya membunuh para Imam Ahlul Bait as untuk memutus
mata rantai "Imamah" demi mencegah munculnya Imam Mahdi yang
dijanjikan.
Upaya-upaya itu dilakukan sampai ke dalam lingkaran dalam
keluarga Imam Hasan Asykari as dengan mengutus agen wanita mengawasi kelahiran
Imam Mahdi as untuk membunuhnya.
Karena itu Imam Hasan Asykari tidak menikah secara resmi
sebagaimana budaya yang berlaku pada masa itu.
Imam Hasan Asykari as berkata bahwa penguasa Bani Abbasiyah
memenjarakan beliau dan berusaha menghabisinya beberapa kali sebagaimana yang
mereka lakukan pada ayah-ayah beliau. (Kitab Hayat al-Imam Asykari karya Syekh
Thabarsi, hlm. 421-424).
Imam Hasan Asykari as menyebutkan sebab-sebab permusuhan yang
ditujukan kepada para Imam as sebagaimana diriwayatkan dari beliau oleh seorang
ulama yang hidup sezaman dengan beliau as yaitu Syekh Fadhl bin Syadzan, yang
berkata:
"Abdullah bin Husain bin Sa'ad al-Khatib meriwayatkan
kepada kami, dia berkata, "Abu Muhammad al-Imam Hasan Askari berkata: "Bani
Umayah dan Bani Abbas meletakkan pedang-pedang mereka pada kami karena dua
sebab:
Pertama, "Mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki hak
atas khilafah, maka mereka takut oleh pengakuan kami atas khilafah, dan takut
kalau kekhalifahan tetap berada pada pusatnya".
Kedua, "Mereka mengetahui dari sumber-sumber mutawatir
mengenai kehancuran kedzaliman dan kesewenang-wenangan melalui tangan Al-Qaim
(Al-Mahdi) dari keluarga kami. Mereka tidak ragu bahwa sesungguhnya mereka
termasuk orang-orang dzalim, berbuat sewenang-wenang".
"Mereka berupaya membunuh Ahlul Bait Rasulullah Saw dan
memutus garis keturunannya agar mereka dapat mencegah kelahiran Al-Qaim as atau
membunuhnya. Maka, Allah Swt enggan untuk menyingkap urusan pada salah seorang
di antara mereka, kecuali Allah Swt menyempurnakannya meskipun orang-orang
kafir tidak menyukainya". (Itsbat al-Hudat karya Hurr al-Amini jil 3 hlm. 570,
Muntakhab al-Atsar, Syekh Luthfullah Shafi bab 359 hadis ke 34 dari Kasyf
al-Haqq karya Khatun Abadi, dll).
Karena kelahiran Imam Mahdi afs (Imam ke-12) yang sangat
dirahasiakan oleh orang tua beliau afs, membuat musuh-musuh Ahlul Bait as tidak
bisa menemukannya, sehingga mereka menuduh bahwa Imam Hasan Asykari as
"mandul", tidak mempunyai anak. Inilah fitnah-fitnah yang dilontarkan
oleh para musuh dan pembenci Ahlul Bait Nabi Saw sampai sekarang.
Kami kutipkan hadis-hadis dari Imam Hasan Asykari as (Imam ke-11)
dan Imam Ali al-Hadi as (Imam ke-10), dan para Imam lain tentang Imam Mahdi afs
untuk menepis fitnah bahwa Imam Hasan Asykari as "mandul" tidak
mempunyai anak:
Hadist ke-1:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari al-Husain bin Muhammad dari
Mu'alla bin Muhammad dari Ahmad bin Muhammad bin Abdullah yang berkata:
"Datang maklumat dari Abu Muhammad
(al-Hasan al-Askari as) ketika az-Zubairi (Al-Muhtadi), laknat Allah atasnya, terbunuh:
"Inilah balasan bagi orang yang kurang ajar kepada Allah Swt dengan
berlaku buruk terhadap para wali-Nya. Dia berikrar mau membunuhku dan
menyatakan bahwa aku tidak berketurunan. Bagaimana sekarang dia melihat kuasa
Allah berkenaan dengan putra itu?"
(Ahmad) bin Muhammad bin Abdullah menambahkan:
"Dan dia pun mendapatkan seorang
keturunan laki-laki". (Al-Kafi
I, 429 riwayat no. 5).
Hadist ke-2:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari mereka yang meriwayatkannya
dari Muhammad bin Ahmad al-Alawi dari Daud bin al-Qasim al-Ja'fari (Abu Hasyim)
yang mengatakan:
"Aku (Daud bin al-Qasim al-Ja'fari)
mendengar Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Hadi as berkata:
"Imam sepeninggalku adalah Al-Hasan.
Tetapi apa yang terjadi pada engkau berkenaan dengan Imam setelah Imam
sepeninggalku?" (Maksud Imam Ali Hadi as adalah Imam setelah Imam Hasan
Askari as yaitu Imam Mahdi afs).
Daud bin al-Qasim bertanya, "Semoga saja
Allah menjadikan aku bisa berkorban demi Anda, kenapa?"
"Engkau tidak akan bertemu atau melihat
dirinya". Ucap Imam Ali Hadi as, "Juga engkau tidak akan dibolehkan
menyebut namanya".
"Lalu bagaimana kami menyebutnya?"
Tanya Daud.
Imam menjawab, "Sebut saja "hujjah
dari keluarga Muhammad". (Al-Kafi I, 328 riwayat no 13).
Hadist ke-3:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub dari Ali bin Muhammad dari Ja'far bin Muhammad al-Kufi
dari Ja'far bin Muhammad al-Makfuf dari Amr al-Ahwazi yang menyebutkan:
"Abu Muhammad al-Hasan al-Askari as
memperlihatkan kepadaku putranya dan berkata, "Inilah Imam (pemimpin)
engkau sepeninggalku". (Al-Kafi
I, 328 riwayat no. 3).
Hadist ke-4:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub dari Abu Ali al-Asy'ari dari al-Hasan bin Ubaidillah
dari al-Hasan bin Musa al-Khasysyab dari Ali bin Suma'a dari Ali bin al-Hasan
bin Ribath dari Ibn Udzainah dari Zurarah, yang berkata:
"Aku (Zurarah) mendengar Abu Ja'far
(al-Baqir as) berkata, "Dua belas Imam dari keluarga Muhammad, semuanya
mendapat pesan dari malaikat. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib dan 11
keturunannya". (Al-Kafi I, 533
riwayat no 14).
Hadist ke-5:
Abu Qasim meriwayatkan dari Muhammad bin
Ya'qub dari Ali bin Ibrahim dari ayahnya (Ibrahim bin Hasyim) dari Ibnu Abi
Umair dari Said bin Ghazwan dari Abu Bashir dari Abu Ja'far (al-Baqir as) yang
berkata:
"Setelah al-Husain ada sembilan Imam, dan
Imam ke sembilan merupakan Imam yang mengemban posisi sebagai Imam Zaman". (Al-Kafi I, 533, riwayat no. 15).
Hadist ke-6:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub dari Al-Husain bin Muhammad dari Mu'alla bin Muhammad
dari Wasysya' dari Aban dari Zurarah yang mengatakan:
"Aku (Zurarah) mendengar Abu Ja'far
(Al-Baqir as) berkata:
"Ada 12 Imam. Diantaranya adalah Al-Hasan
dan Al-Husain. Kemudian dari keturunan Al-Husain lahir Imam-imam". (Al-Kafi I, 533 riwayat no. 16).
Hadist ke-7:
Abul Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan
dari Muhammad bin Ya'qub al-Kulaini dari Ali bin Ibrahim dari Muhammad bin Isa
dari Muhammad bin Al-Fadhl dari Abu Hamzah ats-Tsumali dari Abu Ja'far
(al-Baqir as).
“Dia (Al-Baqir as) berkata, "Allah Swt
mengutus Muhammad Saw untuk bangsa jin dan umat manusia. Sepeninggal Muhammad Saw,
Dia mengutus 12 wakil pemegang otoritas (washi)".
"Sebagian sudah menjalankan tugas, dan
sebagian lagi belum. Untuk setiap washi ada persiapannya. Para washi yang
mengemban tugas sepeninggal Muhammad Saw sama dengan sistem yang dibangun Nabi
Isa as".
"Para wakil Isa as ada 12 orang. Amirul
Mukminin (Ali bin Abi Thalib as) adalah washi pertama sepeninggal Muhammad
dalam versi sistem yang dibangun oleh Nabi Isa as". (Al-Kafi I, 532 riwayat no. 10).
Hadist
ke-8:
Abul
Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Muhammad
bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin Isa, Muhammad bin Abdullah, Muhammad bin
Husain yang kesemuanya bersumber dari Sahl bin Ziyad dari Al-Hasan bin Al-Abbas
dari Abu Ja'far kedua (Muhammad al-Jawad as) dari ayahnya dari Amirul Mukminin
as yang berkata:
"Rasulullah
Saw berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Imanilah malam keputusan (Lailat
al-Qadr). Pada malam itu turun perintah tentang sistem religius (sunnah), dan
karena perintah itu maka sepeninggalku ada sahabat-sahabat Allah (wulat), Ali
bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya".
Dengan
sanad yang sama, Amirul Mukminin as berkata kepada Ibnu Abbas:
"Malam
keputusan berkenaan dengan setiap sistem religius (sunnah). Pada malam itu
perintah tentang sistem religius (sunnah) turun, dan karena perintah itu, maka
sepeninggal Rasulullah Saw ada sahabat-sahabat Allah (wulat)".
"Siapa
mereka itu?" tanya Ibnu Abbas.
"Aku
dan sebelas keturunanku, Imam-imam yang mendapat pesan dari malaikat,"
jawab Amirul Mukminin as.
Hadist
ke-9:
Abu
Qasim Ja'far bin Muhammad meriwayatkan dari Muhammad bin Ya'qub dari Muhammad
bin Yahya dari Muhammad bin al-Hasan dari Ibnu Mahbub dari Abul Jarud dari Abu
Ja'far Muhammad bin Ali as (Al-Baqir as) dari Jabir bin Abdullah al-Anshari
yang berkata:
"Aku
(Jabir bin Abdullah) berkunjung kepada Fatimah binti Rasulullah Saw. Saat itu
Fatimah tengah memegang sebuah lembaran (lawh) yang termaktub di dalamnya
tentang sejumlah washi, para Imam dari keturunan Fatimah".
"Aku
hitung jumlahnya ada 12 nama dan nama yang terakhir adalah dia yang akan
mengemban posisi sebagai Imam Zaman. Diantara keturunan Fatimah ada tiga yang
bernama Muhammad, dan ada tiga yang bernama Ali". (Al-Kafi I, 532 riwayat no. 9).
Riwayat
dari Ibn Al-Atsir: Imam Hasan Al- Askari as Memiliki Anak
Sejarawan
klasik terkenal, Ibn Al-Atsir, dalam kitab Al-Kamil fi Al-Tarikh, jilid. 7,
hlm. 274, ketika membahas kejadian tahun 260 H, ia memberikan keterangan
berikut:
وفيها
توفي الحسن بن علي بن محمد بن علي بن موسى بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن
علي بن أبي طالب عليه السلام.
...أبو
محمد العلوي العسكري، وهو أحد الأئمة الثني عشر على مذهب الامامية، وهو والد محمد
الذي يعتقدونه المنتظر...
“Pada
tahun 260 H, wafatlah Al-Hasan bin 'Ali bin Muhammad bin 'Ali bin Musa bin
Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib
'alaihissalam.
“... Abu
Muhammad Al-'Alawi Al-'Askari. Dia salah satu dari dua belas Imam pada madzhab
Al-Imamiyah. Dia adalah ayah dari Muhammad yang diyakini oleh Al-Imamiyah
sebagai Al-Muntazhar...”
Kutipan
di atas menyebutkan kuniyah Imam Hasan Al-Askari as yaitu Abu Muhammad (ayahnya
Muhammad). Secara jelas juga disebutkan: هو والد محمد (dia adalah ayah
Muhammad). Muhammad inilah yang diyakini oleh Al-Imamiyah sebagai Al-Muntazhar.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam catatan sejarah Imam Hasan Al-'Askari as
memiliki anak.
Referensi:
Ibn
Al-Atsir, Al-Kamil Fi Al-Tarikh, jld. 7 (Beirut: Dar Shadir dan Dar Bayrut,
1385 H/ 1965 M), bab سنة ستين ومائتين, sub bab ذكر عدة حوادث, hlm. 274.






