Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Imam Khomeini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Khomeini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2025

Apa Yang Terjadi di Timur Tengah?




Dalam siaran di TV Australia, dan tamunya adalah seorang profesor Yahudi-Amerika.

Pembawa acara bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi di Timur Tengah?" 

Profesor Yahudi itu menjawab, "Selama 300 tahun, kami orang Barat menguasai dunia dengan uang dan senjata, dan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. 

Siapa pun yang tidak mematuhi kami akan digoda oleh uang atau diancam dengan senjata. Namun setelah kebangkitan Khomeini pada tahun 1979, seorang pemain baru yang aneh memasuki barisan kami.

Ia tidak menginginkan uang, juga tidak takut pada senjata.

Hal yang paling aneh adalah bahwa Tuhan menyertai mereka dalam segala hal.

Tuhan mengubah keseimbangan kekuatan, mengalahkan kami, dan memberi mereka kemenangan."

Sang filsuf berkata, "Saya berharap Tuhan akan terus menyertai mereka karena data menunjukkan hal ini."

[Repost, Status FB "Umat Akhir"]

Sumber:


Mossad dan CIA Memalsukan Karya Imam Khomeini





Revolusi Islam Iran telah membuat ketakutan bagi setan besar Amerika, demikian halnya Israel. Tatkala rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Jendral Israel yang memenangkan perang tujuh hari atas Arab, Moshe Dayan, menampakan kemarahan yang luar biasa.

Meski sudah pensiun Jendral bermata satu tersebut merasa terusik dengan lahirnya Republik Islam baru tersebut, Moshe Dayan kemudian mencak-mencak di IDF atas kegagalan operasi Mossad dan CIA yang gagal membunuhi tokoh-tokoh revolusi Iran, sembari membanting topi ke meja, Moshe Dayan mengatakan:

“Mulai hari ini kalian harus bekerja keras!!!
Masa depan Israel sedang menghadapi ancaman serius dari anak-anak Ali.
Hari ini Israel akan menghadapi lawan tangguh!"[1]

Beberapa operasi simultan kemudian digelar Amerika serikat dan Israel untuk menghancurkan Republik Islam Iran [2], salah satunya adalah perang intelijen yang menitik beratkan pada operasi disinformasi (penyesatan informasi). Israel memerintahkan LAP (Lahomah Pscichlogit) dengan tugas agar melakukan assassination character dan black campaign terhadap karya-karya Khomaini. Operasi ini didukung pula oleh Joint Publications and Reserch service sebuah kompartemen milik CIA yang bertanggungjawab melakukan penerjemahan. [3] Sebagaimana disebutkan oleh Hamid Alghar, CIA dan LAP kemudian melakukan pemalsuan-pemalsuan terhadap karya-karya ulama syi’ah termasuk Imam Khomaini. Semula CIA dan LAP menggunakan basis percetakanya di New York dengan memakai kedok Manor Books sebagai penerbitnya, namun belakangan mereka menggunakan percetakan yang berbasis di negara-negara sunni pro Amerika, diantaranya Arab Saudi dan Yordania.

Berikut adalah sebagian kecil buku-buku yang di palsukan oleh konspirasi AS-Israel-Sunni Wahabi dan Sunni pro AS Israel [3]:

1. Kitab Hukumat-I Islami karya Imam Khomaini

Kitab ini merupakan magnum opus imam khomaini, kitab ini berisikan catatan-catatan kuliah tentang prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang dikumpulkan oleh murid-murid beliau dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Perancis, Arab, Turki dan Urdu. Setelah Imam Khomaini berhasil menumbangkan rezim pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran, kitab Hukumat-I Islam ini kemudian dipalsukan oleh CIA, buku ini di palsukan dalam dua bahasa Inggris dan Arab. 

Kelompok Sunni Wahabbi menggunakan terbitan dari CIA dan LAP ini untuk menyerang Syi’ah dan melakukan asasinasion character terhadap Imam Khomaini dengan buku ini. Penerbit dari Indonesia bernama Pustaka Zahra telah mencetak buku aslinya dengan judul Sistem Pemerintahan Islam. Silahkan di bandingkan antara yang buku yang diterbitkan CIA dan LAP ini dengan buku aslinya.

2. Kitab Kasyful Asrar karya Imam Khomaini

Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas) dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah, diantaranya kemudian diterbitkan buku berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal, Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia).

Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah. Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru ahlu sunnah sendiri, adalah Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan kepala bagian bahasa dan sastra timur Universitas Kairo, menemukan tindakan criminal kelompok konspirasi ini. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki nama baik Ahlu Sunnah. Temuan beliau diantaranya: Kitab Kasyful Asrar dipalsukan di Yordania oleh penerbit bernama Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada.

Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilalali (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib. Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki sata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi.

Masih banyak kitab-kitab syiah yang di palsukan oleh kelompok pro konspirasi seperti Salafi Wahabi, seperti kitab yang ditulis alamah Hilli untuk menanggapi karya Ibnu Taimiyah, minhajul as sunnah pun tak luput dipalsukan, dan tempat pemalsuanya berpusat di Arab Saudi.

Fenomena Pencatutan Nama Ulama Syi’ah

Selain memalsukan kelompok Ahlu Sunnah pro konspirasi tak segan-segan melakukan pencatutan nama, modusnya dengan menulis buku seolah-olah dilakukan oleh ulama syi’ah, diantaranya adalah:

1. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah penulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah Ja’far Subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.

2. Syaikh Saleh Darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul Ta’ammulat fi Nahjul al Balghah, dan kitab ini segera diketahui oleh ulama-ulama Syiah dan kemudian diluruskan dalam kitab berjudul Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.

3. Kelompok Pro Konspirasi mencatut nama Sayyid Musa al-Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab as syi’ah wa at tashih yang sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah pro konspirasi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama Syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah.

Bahkan Kelompok konspirasi ini bukan hanya melakukan pemalsuan kitab Syi’ah mereka bahkan secara keji memalsukan kitab-kitab mereka sendiri, diantaranya:

1. Memalsukan kitab “Hasyiyah Al Allamah Al Showi Ala Tafsir Al Jalalain”
2. Memalsukan pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw:176
3. Memalsukan pernyataan Imama Ahmad bin Hanbal dalam kitab Mukhtashar ar Rawdhah. Dalam kitab yang sama memalsukan pernyataan Imam malik dan Imam Abu Hanifah.

Sampai hari ini mesin-mesin konspirasi terus bekerja, kami memaklumi jika kemudian kalangan ahlu sunnah meladzimkan pemalsuan kitab-kitab Syi’ah, sedang terhadap imamnya sendiri saja mereka gemar melakukan pemalsuan.

[1] Mossad, Penerbit Grafiti
[2] Bagi yang berminat silahkan membaca tulisan dalam blog peminat kemeliteran dan inteleijen yang dikelola oleh Muhammad Reza Sistani, Muhammad Ivana Lee, Ar Budi Prasetyo dan Muhammad Alfred Sastranagara.
[3] Makalah Muhammad Ivana Lee yang disampaikan dalam Desk diskusi Wirakartika Ekapaksi, “Seputar Dirty Intelligen Terhadap karya-Karya Khomaini”
[4] Untuk mengetahui lebih jelas silahkan melihat daftar yang dimiliki IPO (organisasi Penerangan Islam yang sempat melakukan penertiban buku-buku yang dipalsukan tersebut).


Sumber:

Selasa, 05 Agustus 2025

Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia




Imam Ruhullah al-Musawi al-Khomeini (1902–1989) bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran, tetapi juga sebagai arif billah, ahli hikmah dan wali yang tinggi maqam spiritualnya.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam. Namun di balik wajah politik Imam Khomeini, terdapat sisi ruhani yang jauh lebih dalam.

Beliau adalah murid dari para wali besar seperti Ayatullah Shahabadi dan Sayyid Ali Qadhi Tabataba’i, dan dikenal ahli dalam irfan teoritis maupun praktis.

Banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa Imam Khomeini memiliki karomah kewalian, sesuatu yang diakui dalam spiritualitas Syi’ah dan Sunni sebagai ciri orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam teologi Syi’ah, kewalian bukan hanya milik para Imam Ma’shum, tetapi juga dimungkinkan turun kepada para ulama yang meniti jalan suci, zuhud, dan mengenal Allah secara hakiki.

Karomah (karฤmah) adalah bentuk manifestasi kehendak Ilahi yang ditampakkan melalui hamba pilihan, bukan hasil latihan sihir atau ilmu batin biasa.

Ciri utama wali menurut Syi’ah:
* Zuhud dan wara’ dalam hidup
* Mengenal Allah secara ma’rifah
* Taat sempurna kepada syariat
* Menghindari popularitas dan kesombongan
* Tidak menampakkan karomah sebagai pertunjukan

Imam Khomeini Sebagai Arifbillah dan Wali

Sebelum dikenal sebagai pemimpin revolusi, Imam Khomeini adalah pengajar irfan (di Islam Suni mungkin disebut tasawuf) di Hawzah Qom.

Beliau memiliki banyak karya yang luar biasa, karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia diantaranya seperti:

* Adabus Salat (Etika Shalat)
* Sirruแนฃ-แนขalฤt (Rahasia Shalat)
* Sharแธฅ Du’a al-Sahar (Syarah dua Sahur). dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini membuktikan bahwa beliau memiliki kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa. Dalam Adabus Salat, beliau menulis bahwa hakikat salat adalah mi’raj ruhani, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan kelezatannya.

Kesaksian Karomah Imam Khomeini

Melihat Hal Gaib. Ayatullah Amuli menceritakan bahwa suatu malam di Najaf, Khomeini sedang bermunajat. Setelah itu, beliau menyampaikan peristiwa tentang seorang yang wafat hari itu, padahal belum ada kabar resmi. Keesokan harinya berita wafat itu terbukti benar.

Khusyuknya Salat dan Mi’raj Ruhani. Imam Khomeini biasa mengerjakan salat malam dengan tangisan dan kegelisahan ruhani. Para pengawal pribadi menyatakan bahwa mereka merasa "getaran spiritual" saat berada di dekat kamar salat malam beliau.

Doa yang Mustajab. Banyak orang, termasuk keluarga dan murid-murid, melaporkan bahwa doa Imam Khomeini sering dikabulkan. Ada yang sembuh dari penyakit, ada yang berhasil mendapatkan solusi kehidupan, setelah didoakan oleh beliau, meskipun tidak diminta secara langsung.

Keteguhan Hati yang Ajaib. Saat menghadapi ancaman Syah Iran, Imam Khomeini tetap tenang dan yakin. Keteguhan ruhani ini diakui oleh kawan dan lawan sebagai "karamah tsabat" bentuk karomah berupa keteguhan iman yang tidak tergoyahkan, bahkan oleh maut.

Kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran).

Tidak mencintai dunia, tidak meninggalkan warisan harta benda mewah.

Menolak pengultusan, beliau selalu mengarahkan perhatian umat kepada Allah, Rasul dan Ahlulbaitnya, bukan pada dirinya. Tidak pernah menampakkan karomah, beliau bahkan menyembunyikan sisi irfannya dari publik selama revolusi berlangsung.

Ayatullah Bahjat menyebut Imam Khomeini sebagai “rahmat yang diturunkan” kepada umat Islam. Ayatullah Misbah Yazdi menilai Imam Khomeini lebih tinggi maqamnya dalam irfan daripada banyak guru beliau. Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan bahwa revolusi Khomeini tidak bisa dijelaskan secara politik semata, tapi sebagai buah dari kedekatan ruhani dengan Allah.

Buya Hamka berkisah tentang Imam Khomeini terutama setelah Revolusi Islam Iran 1979. Buya Hamka saat itu menjabat ketua MUI, Menemui Imam Khomeini di Iran, setelah pulang beliau menyebutkan kekaguman beliau:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980);

“Saya hormati beliau, karena beliau memiliki keteguhan yang jarang dimiliki oleh ulama lain. Beliau melawan Syah Iran tanpa gentar. Itu menunjukkan kekuatan iman dan keyakinan.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980).

“Saya melihat kemenangan Revolusi Iran sebagai pertanda bahwa Islam belum mati. Semangat umat Islam kembali hidup karena perjuangan Imam Khomeini.”
Wawancara Buya Hamka yang dimuat dalam harian Pelita dan disitir dalam buku “Hamka: Sebuah Biografi” oleh Irfan Hamka, Republika, 2013.

“Walau beliau Syi’ah, perjuangannya adalah perjuangan Islam.”
“Meskipun beliau dari mazhab Syi’ah, saya melihat api perjuangan beliau membakar semangat umat Islam sedunia. Kemenangan itu adalah kemenangan umat Islam, bukan milik satu golongan saja.”
(Sumber: Panji Masyarakat, 1980).

“Imam Khomeini hidup sederhana, tidak silau kekuasaan.”
“Lihatlah bagaimana Imam Khomeini hidup. Beliau tidak tertarik pada kemewahan atau harta. Ia tetap sederhana, walau menjadi pemimpin negara.”
(Disampaikan Buya Hamka dalam pengajian MUI awal 1980-an (dikutip oleh murid-murid Buya Hamka dan dimuat ulang dalam buku “Ulama dan Revolusi Iran” karya DR. Muhsin Labib, 2008).

Roger Garaudy (Filsuf Prancis, mantan Marxis yang masuk Islam):
"Imam Khomeini telah mengembalikan makna politik dalam Islam yang telah lama dirusak oleh kompromi-kompromi kekuasaan. Ia seorang tokoh revolusioner spiritual."
Sumber: Roger Garaudy, L’Islam habite notre avenir (Islam Mendiami Masa Depan Kita), 1981.

Itulah kekaguman dari beberapa ulama dan para pemikir kepada sosok Imam Khumaeni qs. Meskipun tidak bisa kutip kekaguman pemikir lainnya pada sosok fenomenal ini.

Dalam Islam, kedudukan ulama sangat tinggi. Al Qur'an menyebutkan:

ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฎْุดَู‰ ูฑู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ูฑู„ْุนُู„َู…َٰุٓคُุง۟ ۗ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28).

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya).

Namun, tidak semua orang yang bergelar "ustadz" atau "kyai" dapat menyandang fungsi pewaris Nabi.

Fungsi ini menuntut keilmuan mendalam, kesalehan pribadi, keberanian sosial, dan independensi politik, keberanian bertindak dan bersikap, membela Mustadhafiin, pantang hina. (Jika tidak berlebihan kita sebut Miniatur atau kloningan para Nabi).

Iran, sebagai negara dengan sistem unik dalam mencetak keulamaan melalui seleksi ketat, tahapan panjang, proses yang matang, telah berhasil membangun ekosistem mencetak ulama dengan kualitas dan kriteria ini.

Diera modern kita bisa melihat sosok-sosok ulama seperti ini pada ulama-ulama Syi'ah Iran, seperti Ruhullah Imam Khomeini qs., Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan masih banyak lagi, mereka contoh konkrit hari ini yang tidak pernah takut kepada Asu Zionis panjajah, mereka hanya takut kepada Allah SWT. Berani melawan, tidak takut mati. Sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengingat hadits Nabi di atas bahwa ulama itu Pewaris Para Nabi, apa yang diwarisi dari Nabi? Tentu saja bukan ibadah solatnya semata atau ilmunya semata, tetapi kesolehannya, akhlaknya termasuk didalamnya: Keberanian melawan kezaliman, ketabahan, kesabaran, kezuhudan, kewaraan, membela yang tertindas dst.

Adapun Ucapan Buya Hamka:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980). Sangat Tepat sekali karena Imam Khomeini sosok yang selaras dan sesuai dengan kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Kita patut bertanya dan mendefinisikan ulang gelar ulama yang gampang disematkan oleh sekelompok orang kepada orang yang cuma memimpin majlis ilmu dengan gelar "ulama Sunnah", kira-kira pelabelan seperti ini sesuai kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi tidak?

Apakah imam solat Masjidil haram yang tidak peduli dengan keadaan Palestina, diam dengan kezaliman Zionis ASU pada Gaza karena takut dengan tekanan penguasa tanah haram itu masuk dalam kategori ulama?

Mari kita berpikir ulang tentang ulama jangan sembrono dan sembarangan menyematkan gelar ulama, apalagi hanya karena fanatik buta tanpa didasari logika. Fanatik boleh tapi ditempatkan sesuai dengan kriteria dan tempatnya.


Minggu, 07 Juli 2024

Bekerja Karena Cinta Kepada Tuhan Tidak Akan Pernah Membuat Kita Lelah




Pemimpin bangsa dan revolusi ini adalah seorang pria yang mengemban tugas-tugas tersulit di usia 80 tahun. Pada hari Imam Khomeini memasuki Iran, usianya sekitar delapan puluh tahun. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia terlalu tua atau terlalu lelah. Pada tahun 1981, ketika saya datang ke Teheran dari Ahwaz, saya mengunjunginya dan menyampaikan beberapa keluhan tentang suatu masalah. Ia ingin saya mengundang orang-orang yang telah dipilihnya untuk menghadiri sebuah pertemuan. Pertemuan itu diadakan pada hari yang sama, dengan pemberitahuan singkat; tetapi pria tua yang berhati muda, bersemangat, dan berkuasa itu memimpin pertemuan tersebut, dan tidak pernah menyebutkan rasa lelah. Ketika pekerjaan itu dilakukan karena cinta kepada Tuhan, pekerjaan itu tidak membuat seseorang lelah, dan waktu tidak menjadi masalah. Suatu kali, seorang individu yang malu yang berpura-pura bergabung dengan kaum beriman, mengucapkan sepatah kata dan Imam Khomeini menjawab: “Jika kalian tidak ingin melakukannya, menjauhlah! Saya akan melakukannya sendiri!” Mereka tidak percaya bagaimana Imam mengemban tanggung jawab seperti seorang pemuda.

Pernyataan dalam pertemuan dengan sejumlah staf dan komandan Angkatan Darat, 27 September 1995

Sumber: khamenei.ir

Imam Khomeini dan Perjuangan Palestina




Hari Asyura tahun 1383 H bertepatan dengan tanggal 3 Juni 1963. Imam Khomeini naik mimbar di Seminari Faizieh di Qom. Dalam khotbah gemilangnya yang mengkritik keras rezim Pahlavi, ia menarik perhatian semua orang pada satu pokok yang menjadi fondasi dasar gerakan revolusionernya, yakni perjuangan melawan Israel. Itulah rezim yang menurutnya telah menciptakan tragedi di dunia Islam dengan merampas Palestina. Dalam pidato yang terkenal itu, Imam Khomeini memperingatkan orang-orang tentang bahaya Israel, rezim yang berusaha menghancurkan Islam, Al-Qur'an, dan ulama. Ia juga menjelaskan hubungan yang dimiliki pemerintahan Shah dengan rezim Israel. Meskipun tanggal tersebut dianggap sebagai titik awal gerakan revolusioner Imam, akar pidato Imam tentang Palestina dan pendudukan Israel di sana bermula dari masa sebelumnya. Pada bulan Maret 1963, Imam Khomeini menulis surat tentang bahaya Israel kepada berbagai serikat dan asosiasi di Qom sebagai tanggapan atas pertanyaan mereka. Ia menulis, “Karena kewajiban agama saya, dengan ini saya memperingatkan rakyat Iran dan umat Islam di seluruh dunia bahwa Al-Qur'an dan Islam berada dalam bahaya. Kemerdekaan negara kita dan ekonominya berada dalam bahaya direbut oleh kaum Zionis. Dengan diamnya kaum Muslim, tidak akan lama lagi mereka [kaum Zionis] akan menghancurkan eksistensi bangsa Muslim dalam segala aspeknya.”

Masalah Palestina dan perilaku jahat Israel selalu menjadi topik yang dibicarakan Imam Khomeini dalam pidato-pidatonya, karena hal itu sangat penting baginya. Imam menganggap meningkatnya kekuatan Israel dan penaklukan negara-negara Muslim di tangan rezim brutal ini sebagai penghancuran Islam dan Al-Qur'an. Ketika Perang Arab-Israel ketiga meletus pada tahun 1973, Imam menyampaikan pesan kepada pemerintah-pemerintah Islam dan negara-negara Muslim yang menekankan perlunya menjaga persatuan. Ia menyerukan kepada mereka untuk mengumpulkan semua kekuatan mereka guna memerangi Israel. Dalam surat ini, Imam Khomeini merangkum mekanisme-mekanisme yang terlibat dalam perang melawan Israel dalam beberapa kategori, dan ia mengumumkannya kepada masyarakat Muslim pada umumnya. Mekanisme-mekanisme ini meliputi: Dukungan komprehensif untuk garis depan pertempuran melawan Israel.
  1. Menghindari perbedaan dan kemunafikan yang merusak diri sendiri.
  2. Tidak takut terhadap kekuatan fiktif para pembela Zionisme.
  3. Persatuan antara pemerintahan Islam dan menegur, mengancam dan memutus hubungan dengan negara mana pun yang menormalisasi hubungan dengan Israel.
  4. Mengirimkan bantuan material dan spiritual oleh negara-negara Muslim seperti darah, obat-obatan, makanan, dll. ke medan perang.
Padahal, Imam Khomeini menegaskan bahwa menjaga persatuan untuk pembebasan Palestina adalah jalan utama dan terpenting untuk meraih kemenangan. Sebab, ia tidak yakin bahwa tujuan negara-negara kolonial besar mendirikan Israel hanya untuk menduduki Palestina. Imam meyakini, jika Israel dibukakan jalan, semua negara Muslim pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Palestina. Itulah sebabnya Imam Khomeini mengibaratkan Israel sebagai tumor kanker, dan ia mengatakan bahwa pemberantasannya segera adalah kewajiban bagi semua Muslim.

Karena perlunya persatuan bangsa Islam dalam memerangi Israel, Imam Khomeini tidak menyia-nyiakan segala upaya – baik dalam pidato-pidatonya dan rekomendasi-rekomendasi yang diberikannya kepada bangsa-bangsa Muslim maupun dalam tindakan-tindakan yang diambilnya dalam hal ini. Pada tanggal 7 Agustus 1979, ia menyampaikan pidatonya di hadapan bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia dengan cara berikut, “Saya menyerukan kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia dan pemerintah-pemerintah Islam untuk bersatu dalam memotong tangan perampas kekuasaan ini [Israel] dan para pendukungnya. Saya mengajak seluruh umat Muslim untuk memilih hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, yang merupakan waktu terjadinya Malam-Malam Takdir dan yang dapat menentukan nasib orang-orang Palestina, sebagai 'Hari Quds.' Sebuah upacara harus diadakan pada hari ini untuk mendeklarasikan solidaritas internasional umat Muslim dalam mendukung hak-hak hukum umat Muslim.” Sebenarnya, penetapan Hari Quds bukan sekadar untuk menentukan simbol yang mewakili pengorbanan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Muslim untuk salah satu cita-cita terbesar Islam. Tujuannya juga untuk menghidupkan kembali semangat Islam dan kewaspadaan masyarakat Islam. Ini terjadi pada saat para pemimpin negara-negara Muslim berpikir untuk merangkul Israel dan beberapa di antaranya sudah bangga dengan afiliasi mereka dengan rezim Zionis!

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel pada tahun 1967 yang menyebabkan Mesir kehilangan gurun Sinai, pukulan telak menimpa badan pemerintahannya. Anwar Sadat, yang memperoleh kekuasaan di Mesir setelah Gamal Abdel Nasser, datang ke meja perundingan dengan Israel pada tahun 1978 untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Negosiasi tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat di Camp David. Sadat secara resmi mengakui Israel dan merebut kembali wilayahnya.

Sebelum peristiwa ini, Imam Khomeini telah menghabiskan 20 tahun memperingatkan semua negara Islam tentang bahaya berkompromi dengan Israel. Karena itu, ia menganggap langkah Anwar Sadat sebagai tindakan pengkhianatan terhadap umat Islam dan Palestina. Mengakui Israel berarti mengekspresikan solidaritas dengan pemerintahannya yang curang, dan itu juga berarti memisahkan jalan seseorang dari jalan perjuangan. Tentu saja, tindakan ini bertentangan dengan jalan yang selalu ditekankan Imam Khomeini. Imam percaya bahwa Camp David memecah belah negara Islam. Ia juga menganggapnya sebagai sarana untuk memperkuat front Israel – yang apinya akan menelan tidak hanya orang Palestina tetapi semua negara di Timur Tengah. Karena Imam Khomeini percaya Perjanjian Camp David adalah pakta pengkhianatan, pada 11 Mei 1979, ia mengeluarkan perintah untuk memutuskan hubungan diplomatik antara Republik Islam Iran dan pemerintah Mesir.

Setelah Imam kehilangan harapan pada pemerintahan Arab, ia beralih ke negara-negara Muslim. Ia menyerukan mereka untuk bersatu di jalan pembebasan Palestina dan memerangi rezim pendudukan di Quds. Ia juga mendesak umat Islam untuk memisahkan diri dari jalan yang ditempuh oleh pemerintah yang telah berkompromi dengan rezim Israel. Dalam sebuah pesan yang dikeluarkan selama haji tahun 1987, ia menyampaikan pesan kepada umat Islam di seluruh dunia dan para jamaah haji sebagai berikut, “Negara-negara Muslim harus berpikir untuk menyelamatkan Palestina. Mereka harus mengungkapkan rasa jijik dan benci mereka terhadap cara-cara kompromi dari para pemimpin yang memalukan dan mementingkan diri sendiri, yang atas nama Palestina, telah menghancurkan aspirasi rakyat di tanah yang diduduki dan umat Islam di wilayah ini. Negara-negara Muslim seharusnya tidak membiarkan para pengkhianat ini mencoreng prestise, reputasi, dan kehormatan bangsa Palestina yang heroik di meja perundingan.” Setelah itu, setiap kali Imam Khomeini melihat adanya tindakan kompromi dari para pemimpin negara-negara Islam, ia akan mengkritik mereka dan mengingatkan mereka tentang tingginya tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh Israel. Namun, hanya sedikit yang mau mendengarkan nasihat ini. Maka di mata Imam, kaum Muslimin di dunia yang terpisah dari pemerintah mereka berubah menjadi satu-satunya pejuang dalam pertempuran melawan Israel.

Imam Khomeini (ra) memperkenalkan Palestina sebagai poros persatuan umat Islam. Selama hidupnya yang penuh dengan perjuangan, tidak ada satu momen pun di mana ia berhenti menyebarkan kesadaran tentang pentingnya masalah Palestina dan perilaku jahat Israel. Imam Khamenei berkata, “Salah satu elemen utama [mazhab Imam Khomeini] adalah bergegas membantu mereka yang tertindas dan menentang penindas. Di era kita, di masa kita, rakyat Palestina adalah contoh dari mereka yang tertindas. Seperti yang Anda lihat, dari hari pertama hidupnya hingga hari terakhir, Imam menekankan dan mendukung masalah Palestina. Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran dan para pejabatnya untuk tidak lupa: membantu yang tertindas dan menentang penindas, meniadakan tipu daya penindas, dengan tegas membantah dan menghancurkan kebesaran dan keagungan penindas.” [4 Juni 2014]

Bahkan dalam teks terakhir namun abadi yang ditinggalkan Imam – wasiat politik-ilahinya – ia memberikan perhatian khusus pada masalah Palestina dan perlunya untuk melawan dan menentang Israel. Seperti biasa, ia mencoba menjelaskan tujuan dan alasan di balik mengapa rezim penipu ini didirikan. Dalam wasiat politik-ilahinya, Imam Khomeini menyatakan bahwa negara-negara Muslim harus bangga dengan kenyataan bahwa musuh mereka adalah musuh Tuhan Yang Maha Pengasih, Al-Qur'an Suci, dan Islam. Ada sebagian orang yang fantasi bodohnya untuk mewujudkan "Israel Raya" menyebabkan mereka membakar seluruh dunia. Untuk mencapai keinginan serakah mereka, mereka melakukan kejahatan yang terlalu memalukan untuk ditulis atau dibicarakan. Dalam hal ini, apa yang Imam Khomeini anggap sebagai solusi bagi orang-orang tertindas di dunia dalam menghadapi kebuntuan di depan, adalah untuk tidak bergantung pada Timur atau Barat. Sebaliknya, mereka harus mengikuti budaya politik, sosial, ekonomi, dan militer dari pemandu terbesar umat manusia, yaitu, para Imam Maksum.

Sumber: khamenei.ir

Jumat, 07 Juni 2024

Pemikiran Perlawanan Imam Khomeini Dari Iran Hingga Dunia



 

Salah seorang pengajar di universitas Iran, menyebut benih perlawanan yang ditanam Imam Khomeini, di masanya, kini telah tumbuh menjadi sebuah pohon besar berakar kuat. Hujatulislam Mohammad Javad Faqih, pengajar Hauzah Ilmiah dan universitas Iran, terkait perlawanan dalam pemikiran Imam Khomeini mengatakan, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, sebelum Revolusi Islam, sudah terbentuk sejak masa remaja beliau, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia.

Di bawah ini sebagian paparan Imam Khomeini, dalam wawancara dengan kantor berita Mehr News:

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, bertumpu pada sejumlah prinsip dasar. Prinsip pertama adalah Tauhid yang berarti kebangkitan untuk Tuhan, dan tidak takut selain kepada Tuhan.

Prinsip kedua dalam pemikiran perlawanan Imam Khomeini, dikhususkan pada sunatullah, Al Quran, dan Islam. Al Quran lebih menekankan anti-penjajahan dari anti-kafir. Anti-penjajahan adalah kewajiban yang diberikan Al Quran kepada setiap Muslim, terutama ulama.

Imam Khomeini sedang berceramah

Prinsip ketiga perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah akal. Orang-orang berakal tidak akan pernah tunduk pada kekuatan-kekuatan sementara di dunia, dan selalu menemukan jalan untuk melawan. Orang-orang berakal akan menemukan titik kelemahan penjajah, dan memukulnya tepat di titik itu.

Prinsip keempat perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah pengalaman sejarah. Kemenangan-kemenangan yang berhasil diraih dalam sejarah adalah berkat perlawanan. Sebagaimana disampaikan Ayatullah Ali Khamenei, ini artinya bahwa:

"Ketika kita melakukan perlawanan, maka kita akan maju, sebaliknya ketika kita menyerah, maka kita akan terpukul, dan mundur."

Prinsip kelima perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini adalah fitrah. Fitrah yang suci, memuji manusia yang anti-penindasan, dan mengagungkan orang yang membela kaum tertindas.

Logika perlawanan yang dimulai dari Iran, membangkitkan nurani seluruh bangsa merdeka dunia dengan menggunakan bahasa fitrah yang salah satu contohnya adalah dukungan mahasiswa dunia terhadap rakyat Gaza, dan kebangkitan bangsa-bangsa non-Muslim.

Syahid Abu Mahdi Al Muhandis, Sayid Hassan Nasrullah, dan Syahid Qassem Soleimani

Perlawanan dalam pemikiran politik Imam Khomeini, kembali ke sebuah masa ketika beliau menjawab buku berjudul "Rahasia Seribu Tahun" yang ditulis untuk menyerang Islam, dengan menulis buku tandingan berjudul "Mengungkap Rahasia-Rahasia".

Pendiri Republik Islam Iran, dengan menulis buku ini mengajak umat Islam, dunia untuk melakukan perlawanan. Imam Khomeini, di masa sebelum Revolusi Islam Iran, dalam pidato-pidatonya selalu berbicara kepada para ulama dan masyarakat Muslim, untuk bangkit melawan penindasan, dan mengusir para penjajah, dan boneka-bonekanya.

Imam Khomeini, selama Revolusi Islam Iran, Perang Pertahanan Suci (agresi militer Rezim Saddam Hussein Irak, selama delapan tahun ke Iran), dan dalam pesan haji tahunannya, menyampaikan seruan ini secara terbuka dan tegas.

Beliau menaruh harapan pada rakyat dan ulama negara-negara kawasan Asia Barat. Imam Khomeini, menasihati para penguasa afiliasi Barat, untuk bangkit melawan penjajah, penjarah agama, dan kehormatan bangsa.

Imam Khomeini, juga menasihati Shah Iran, untuk keluar dari cengkeraman Amerika Serikat dan Israel, tapi Shah Pahlevi, memilih tergantung pada Inggris dan AS.

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dan Ayatullah Khamenei

Baik saat belajar Irfan dan filsafat kepada Ayatullah Mohammad Ali Shahabadi, maupun di hari-hari ketika pergi ke Dewan Nasional, dan memuji keberanian Syahid Modarres, atau di awal Abad ke-20, ketika mengajak umat Islam Iran, dan dunia untuk melawan penindasan kekuatan asing serta sekutunya di buku Kasyf Al Asrar (Mengungkap Rahasia-Rahasia), dan di awal kebangkitan tahun 1963, Imam Khomeini secara terbuka menyerang bukan hanya Shah Pahlevi, tapi juga AS dan Israel.

Imam Khomeini, mengambil sikap tegas terhadap AS dan Israel, kala itu. Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, di saat banyak orang masih sembunyi-sembunyi, dan berbicara sesuatu bercabang, Imam Khomeini, terang-terangan mengambil sikap tegas melawan Shah Pahlevi, AS dan Israel.

Pemikiran perlawanan Imam Khomeini sebelum Revolusi Islam Iran, sudah terbentuk sejak masa remaja, dan sekarang pemikiran ini telah menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa merdeka dunia. Pemikiran perlawanan Imam Khomeini, meski ditentang keras oleh kubu imperialis global, gerakan penjajahan bersejarah, dan pemerintahan-pemerintahan boneka di kawasan Asia Barat, namun tetap membuka jalannya di kawasan dan dunia.

Imam Khomeini adalah putra seorang syahid. Ayah beliau yang merupakan ulama kota Khomein, gugur dalam perjuangan melawan penindasan Shah Iran kala itu. Imam Khomeini mengatakan, saat masih kanak-kanak, ia bersama ayahnya turut serta dalam perlawanan bersenjata terhadap penguasa zalim lokal.

Hari ini pemikiran perlawanan Imam Khomeini telah berubah menjadi sebuah organisasi kuat, dan ancaman serius bagi AS dan Israel. Melampaui perbatasan regional, pemikiran perlawanan Imam Khomeini, telah tumbuh di AS dan Eropa, dan hal ini diungkap dalam surat terbaru Ayatullah Khamenei, untuk para mahasiswa AS pro-Palestina.

Bendera Iran dan Palestina, dikibarkan di depan Gedung Putih

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, Ayatullah Khamenei, menilai gerakan mahasiswa di negara-negara Eropa, dalam mendukung Palestina, sebagai bagian dari perlawanan.

Masa depan perlawanan cerah karena pemikiran ini selain sejalan dengan sunatullah yang menjanjikan bantuan Ilahi, dan kemenangan, juga memiliki logika jelas serta terang benderang. Logika yang sesuai dengan fitrah umat manusia, dan dunia menyadari logika terang ini.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perlawanan, lebih murah daripada biaya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan biaya kehinaan.

Nurani seluruh umat manusia yang sadar membenci penindasan, dan kejahatan. Dalam pemikiran perlawanan, orang-orang yang melawan penindasan akan mendapat pujian.

Perlawanan di negara-negara Barat, yang berada di bawah hegemoni raksasa media Zionis, sudah mulai muncul, dan menyebabkan bangkitnya nurani melawan penindasan Barat, dan membuat takut para penindas. Puncak pemikiran perlawanan adalah kemunculan Juru Selamat yang telah dijanjikan Tuhan, di dalam kitab-kitab sucinya yaitu Imam Mahdi. (HS)

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Senin, 03 Juni 2024

Imam Khomeini: Kita Harus Memperhatikan Masyarakat Miskin


Imam Khomeini ra

 

Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat kelas bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah. Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin.

 

Bertepatan dengan peringatan wafatnya Imam Khomeini, dalam artikel singkat ini kita telah mencermati pentingnya keadilan dan perhatian terhadap kaum miskin dalam pemikiran Imam Khomeini.

 

Artikel ini merupakan abstrak dari tulisan salah satu peneliti terkenal Iran bernama Emad Afrogh (1336-1402 HS) terkait topik yang sama.

 

Ungkapan dan perkataan Imam Khomeini menunjukkan bahwa pandangannya tentang keadilan adalah pandangan Imam Ali as, pengganti Nabi Muhammad Saw dan Imam Pertama Syiah.

 

Pandangan Imam Ali as merupakan gabungan antara egalitarianisme dan meritokrasi. Imam menghargai orisinalitas bagi masyarakat, tapi di sisi lain, beliau percaya bahwa upaya seseorang tidak boleh dinisbatkan kepada orang lain.

 

Jika kita membandingkan pandangan Imam Khomeini ra dengan sistem kapitalis dan komunis, maka dapat dipastikan Imam Khomeini menolak sistem kapitalis dan menentang kebijakan sosialis karena dua alasan.

 

Pertama, hal ini telah berubah menjadi kapitalisme negara, dan kedua, hal ini bertentangan dengan hak milik pribadi. Penentangan Imam Khomeini terhadap sistem kapitalis bukan karena konsep kepemilikan pribadi, melainkan karena orisinalitas kapital yang mendominasi segalanya.

 

Pandangan Imam Khomeini ra terhadap kaum terpinggirkan bukan sekedar pandangan politik atau ekonomi saja, melainkan pandangan yang lebih mendasar. Pandangan religius. Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah.

 

Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin. Pembangunan harus diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang beruntung. Menurut Imam Khomeini ra, hal itu dimulai dari orang-orang yang kekurangan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa berbagai golongan tidak boleh menindas golongan bawah, hak-hak masyarakat miskin dan yang membutuhkan harus diberikan.

 

Dari sudut pandang Imam Khomeini, negara di Republik Islam harus mengajukan tuntutan hukum dan menentang penindasan terhadap kelompok yang dirugikan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa menghilangkan kemiskinan adalah adat kami. Dari sudut pandang Imam, jika seseorang benar-benar ingin melawan penindasan Amerika, ia harus melakukan pengentasan kemiskinan.(sl)

 

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Sabtu, 04 Mei 2024

Imam Khomeini, Imam Perubahan

 

Imam Khomeini

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam menyampaikan pidato memperingati haul Imam Khomeini menyebut pendiri Republik Islam Iran ini sebagai "Inspirator, pendorong dan pelaku perubahan". Oleh karena itu, Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai "Imam perubahan".


Perubahan yang dikibarkan Imam Khomeini tidak hanya berpengaruh di Iran saja, tapi juga berdampak di tingkat global terutama dunia Islam.

 

Ayatullah Khamenei hari Rabu (3/6/2020) mengatakan,"Untuk menjaga keberlanjutan revolusi, kita harus belajar karakteristik perangkat lunak dan operasionalismenya dari Imam Khomeini. Kita harus seriusi pendekatan perubahan dan percepatan menuju "perbaikan dan melompat ke depan" di semua bidang, terutama di lini-lini yang tidak aktif, maupun tertinggal,".

 

Imam Khomeini adalah seorang tokoh pejuang yang menyadari masalah yang menimpa Iran dan dunia Islam. Oleh karena itu, jalan yang diambil oleh Imam Khomeini dalam perang melawan imperialisme serta rezim korup dan menindas, sebagai jalan yang berkelanjutan dan permanen.

 

Ayatullah Khamenei menilai pemikiran Imam Khomeini melampaui zamannya. Beliau mengatakan bahwa Imam Khomeini jauh hari telah membuktikan bahwa kekuatan adidaya seperti AS rentan dan bisa dipatahkan.


Ayatullah Khamenei

"Ketika itu, tidak ada yang berpikir bisa melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Amerika Serikat, tetapi Imam Khomeini membuktikannya, bahkan presiden Amerika sendiri mengakui telah dipermalukan oleh beliau," ujar Rahbar.


Sebelum Uni Soviet bubar, Imam Khomeini dalam berbagai statemennya telah menyinggung keruntungan blok timur ini, sebuah pandangan yang jarang terlontar dari para analis internasional sekalipun. Dari sudut pandang ini, ide-ide politik Imam Khomeini menunjukkan perubahan besar di tingkat global. Lebih dari itu, Imam Khomeini telah menyuarakan perubahan besar tatanan global, dan peran Islam di dalamnya, seiring terbentuknya Republik Islam di Iran.


Perubahan yang diusung Imam Khomeini berpijak pada nilai-nilai universal seperti keadilan, kebebasan dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, tuntutan terhadap penegakkan keadilan dan kebebasan tidak hanya disuarakan Republik Islam saja, tapi juga di tempat lain, termasuk yang terjadi di AS saat ini.


Ayatullah Khamenei menyebut peristiwa terkini di Amerika Serikat sebagai kemunculan realitas yang selama ini disembunyikan, dan wajah asli pemerintah Amerika dipermalukan di dunia oleh perilaku mereka sendiri.


Ayatullah Khamenei dalam pidato peringatan haul Imam Khomeini hari Rabu (3/6/2020) mengatakan bahwa aksi seorang polisi Amerika Serikat menekan leher seorang pria kulit hitam dengan lututnya hingga meninggal dunia, yang disaksikan oleh para polisi AS lainnya, bukan peristiwa baru.


Aksi protes terhadap kematian warga kulit hitam AS oleh polisi negara ini

"Kejahatan ini mencerminkan sepak terjang dan sifat pemerintah AS yang telah melakukan hal yang sama terhadap banyak negara dunia, seperti: Afghanistan, Irak, Suriah, dan sebelumnya Vietnam," ujar Rahbar.


Ayatullah Khamenei menyebut slogan orang Amerika hari ini, "Kami tidak bisa bernafas," sebagai suara hati semua negara yang tertindas. Ironisnya, pemerintah AS tidak meminta maaf atas perlakuan tidak tahu malu terhadap warganya sendiri yang jelas menunjukkan kejahatan, dan kemudian mereka mengatakan hak asasi manusia, seorang-olah orang kulit hitam yang terbunuh bukan manusia dan dia tidak memiliki haknya.


Selama ini AS selalu bersembunyi di balik topeng hak asasi manusia dan demokrasi yang diklaim dilanggar negara lain, tapi lupa negaranya sendiri sebagai biang keladi berbagai pelanggaran tersebut. Pada peringatan haul Imam Khomeini ke-31, realitas yang tersembunyi itu kian hari semakin tersingkap. Tepat kiranya, jika Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai Imam perubahan yang bergerak melampaui zamannya.(PH)


Sumber: Parstoday