Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Selasa, 05 Agustus 2025

Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia




Imam Ruhullah al-Musawi al-Khomeini (1902–1989) bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran, tetapi juga sebagai arif billah, ahli hikmah dan wali yang tinggi maqam spiritualnya.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam. Namun di balik wajah politik Imam Khomeini, terdapat sisi ruhani yang jauh lebih dalam.

Beliau adalah murid dari para wali besar seperti Ayatullah Shahabadi dan Sayyid Ali Qadhi Tabataba’i, dan dikenal ahli dalam irfan teoritis maupun praktis.

Banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa Imam Khomeini memiliki karomah kewalian, sesuatu yang diakui dalam spiritualitas Syi’ah dan Sunni sebagai ciri orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam teologi Syi’ah, kewalian bukan hanya milik para Imam Ma’shum, tetapi juga dimungkinkan turun kepada para ulama yang meniti jalan suci, zuhud, dan mengenal Allah secara hakiki.

Karomah (karāmah) adalah bentuk manifestasi kehendak Ilahi yang ditampakkan melalui hamba pilihan, bukan hasil latihan sihir atau ilmu batin biasa.

Ciri utama wali menurut Syi’ah:
* Zuhud dan wara’ dalam hidup
* Mengenal Allah secara ma’rifah
* Taat sempurna kepada syariat
* Menghindari popularitas dan kesombongan
* Tidak menampakkan karomah sebagai pertunjukan

Imam Khomeini Sebagai Arifbillah dan Wali

Sebelum dikenal sebagai pemimpin revolusi, Imam Khomeini adalah pengajar irfan (di Islam Suni mungkin disebut tasawuf) di Hawzah Qom.

Beliau memiliki banyak karya yang luar biasa, karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia diantaranya seperti:

* Adabus Salat (Etika Shalat)
* Sirruṣ-Ṣalāt (Rahasia Shalat)
* Sharḥ Du’a al-Sahar (Syarah dua Sahur). dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini membuktikan bahwa beliau memiliki kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa. Dalam Adabus Salat, beliau menulis bahwa hakikat salat adalah mi’raj ruhani, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan kelezatannya.

Kesaksian Karomah Imam Khomeini

Melihat Hal Gaib. Ayatullah Amuli menceritakan bahwa suatu malam di Najaf, Khomeini sedang bermunajat. Setelah itu, beliau menyampaikan peristiwa tentang seorang yang wafat hari itu, padahal belum ada kabar resmi. Keesokan harinya berita wafat itu terbukti benar.

Khusyuknya Salat dan Mi’raj Ruhani. Imam Khomeini biasa mengerjakan salat malam dengan tangisan dan kegelisahan ruhani. Para pengawal pribadi menyatakan bahwa mereka merasa "getaran spiritual" saat berada di dekat kamar salat malam beliau.

Doa yang Mustajab. Banyak orang, termasuk keluarga dan murid-murid, melaporkan bahwa doa Imam Khomeini sering dikabulkan. Ada yang sembuh dari penyakit, ada yang berhasil mendapatkan solusi kehidupan, setelah didoakan oleh beliau, meskipun tidak diminta secara langsung.

Keteguhan Hati yang Ajaib. Saat menghadapi ancaman Syah Iran, Imam Khomeini tetap tenang dan yakin. Keteguhan ruhani ini diakui oleh kawan dan lawan sebagai "karamah tsabat" bentuk karomah berupa keteguhan iman yang tidak tergoyahkan, bahkan oleh maut.

Kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran).

Tidak mencintai dunia, tidak meninggalkan warisan harta benda mewah.

Menolak pengultusan, beliau selalu mengarahkan perhatian umat kepada Allah, Rasul dan Ahlulbaitnya, bukan pada dirinya. Tidak pernah menampakkan karomah, beliau bahkan menyembunyikan sisi irfannya dari publik selama revolusi berlangsung.

Ayatullah Bahjat menyebut Imam Khomeini sebagai “rahmat yang diturunkan” kepada umat Islam. Ayatullah Misbah Yazdi menilai Imam Khomeini lebih tinggi maqamnya dalam irfan daripada banyak guru beliau. Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan bahwa revolusi Khomeini tidak bisa dijelaskan secara politik semata, tapi sebagai buah dari kedekatan ruhani dengan Allah.

Buya Hamka berkisah tentang Imam Khomeini terutama setelah Revolusi Islam Iran 1979. Buya Hamka saat itu menjabat ketua MUI, Menemui Imam Khomeini di Iran, setelah pulang beliau menyebutkan kekaguman beliau:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980);

“Saya hormati beliau, karena beliau memiliki keteguhan yang jarang dimiliki oleh ulama lain. Beliau melawan Syah Iran tanpa gentar. Itu menunjukkan kekuatan iman dan keyakinan.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980).

“Saya melihat kemenangan Revolusi Iran sebagai pertanda bahwa Islam belum mati. Semangat umat Islam kembali hidup karena perjuangan Imam Khomeini.”
Wawancara Buya Hamka yang dimuat dalam harian Pelita dan disitir dalam buku “Hamka: Sebuah Biografi” oleh Irfan Hamka, Republika, 2013.

“Walau beliau Syi’ah, perjuangannya adalah perjuangan Islam.”
“Meskipun beliau dari mazhab Syi’ah, saya melihat api perjuangan beliau membakar semangat umat Islam sedunia. Kemenangan itu adalah kemenangan umat Islam, bukan milik satu golongan saja.”
(Sumber: Panji Masyarakat, 1980).

“Imam Khomeini hidup sederhana, tidak silau kekuasaan.”
“Lihatlah bagaimana Imam Khomeini hidup. Beliau tidak tertarik pada kemewahan atau harta. Ia tetap sederhana, walau menjadi pemimpin negara.”
(Disampaikan Buya Hamka dalam pengajian MUI awal 1980-an (dikutip oleh murid-murid Buya Hamka dan dimuat ulang dalam buku “Ulama dan Revolusi Iran” karya DR. Muhsin Labib, 2008).

Roger Garaudy (Filsuf Prancis, mantan Marxis yang masuk Islam):
"Imam Khomeini telah mengembalikan makna politik dalam Islam yang telah lama dirusak oleh kompromi-kompromi kekuasaan. Ia seorang tokoh revolusioner spiritual."
Sumber: Roger Garaudy, L’Islam habite notre avenir (Islam Mendiami Masa Depan Kita), 1981.

Itulah kekaguman dari beberapa ulama dan para pemikir kepada sosok Imam Khumaeni qs. Meskipun tidak bisa kutip kekaguman pemikir lainnya pada sosok fenomenal ini.

Dalam Islam, kedudukan ulama sangat tinggi. Al Qur'an menyebutkan:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28).

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya).

Namun, tidak semua orang yang bergelar "ustadz" atau "kyai" dapat menyandang fungsi pewaris Nabi.

Fungsi ini menuntut keilmuan mendalam, kesalehan pribadi, keberanian sosial, dan independensi politik, keberanian bertindak dan bersikap, membela Mustadhafiin, pantang hina. (Jika tidak berlebihan kita sebut Miniatur atau kloningan para Nabi).

Iran, sebagai negara dengan sistem unik dalam mencetak keulamaan melalui seleksi ketat, tahapan panjang, proses yang matang, telah berhasil membangun ekosistem mencetak ulama dengan kualitas dan kriteria ini.

Diera modern kita bisa melihat sosok-sosok ulama seperti ini pada ulama-ulama Syi'ah Iran, seperti Ruhullah Imam Khomeini qs., Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan masih banyak lagi, mereka contoh konkrit hari ini yang tidak pernah takut kepada Asu Zionis panjajah, mereka hanya takut kepada Allah SWT. Berani melawan, tidak takut mati. Sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengingat hadits Nabi di atas bahwa ulama itu Pewaris Para Nabi, apa yang diwarisi dari Nabi? Tentu saja bukan ibadah solatnya semata atau ilmunya semata, tetapi kesolehannya, akhlaknya termasuk didalamnya: Keberanian melawan kezaliman, ketabahan, kesabaran, kezuhudan, kewaraan, membela yang tertindas dst.

Adapun Ucapan Buya Hamka:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980). Sangat Tepat sekali karena Imam Khomeini sosok yang selaras dan sesuai dengan kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Kita patut bertanya dan mendefinisikan ulang gelar ulama yang gampang disematkan oleh sekelompok orang kepada orang yang cuma memimpin majlis ilmu dengan gelar "ulama Sunnah", kira-kira pelabelan seperti ini sesuai kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi tidak?

Apakah imam solat Masjidil haram yang tidak peduli dengan keadaan Palestina, diam dengan kezaliman Zionis ASU pada Gaza karena takut dengan tekanan penguasa tanah haram itu masuk dalam kategori ulama?

Mari kita berpikir ulang tentang ulama jangan sembrono dan sembarangan menyematkan gelar ulama, apalagi hanya karena fanatik buta tanpa didasari logika. Fanatik boleh tapi ditempatkan sesuai dengan kriteria dan tempatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar