Kabut pagi masih menyelimuti gurun Najaf ketika aku, Elena berdiri termangu di tepian lautan manusia. Aku tak mengenal syahadat, tak hapal ayat suci, tapi getar di udara ini menusuk tulang rusukku. Aku hanya seorang pengajar filsafat dari Italia yang penasaran pada ziarah terbesar umat manusia. Kini, di sini, kaki-kaki berdebu dari segala penjuru bumi, Islam, Kristen, Yazidi, Hindu, Budha bahkan yang tak beragama seperti aku—berarak pelan menuju Karbala. Mengapa? Untuk mengenang seorang lelaki bernama Husein, cucu Nabi Islam, yang gugur 14 abad silam.
Kakiku melepuh di hari kelima. Kulitku terbakar matahari Irak. Tapi yang membuatku terus melangkah bukan panggilan azan, melainkan desah kemanusiaan yang bergemuruh di setiap posko, di setiap senyum, di setiap tetes air yang ditawarkan tangan asing. Di sebuah mawkib, seorang kakek menyuapkan kepadaku kurma dan yogurt. "Makanlah, sayang," bisiknya dalam bahasa Arab patah-patah.
"Demi Husein yang haus, dan demi semua yang haus keadilan."
Di jalan ini, agama bukan syarat untuk menerima kasih. Di sini, yang berbicara adalah bahasa universal: lapar, lelah, dan hasrat untuk berbagi.
"Elena, kau bukan Muslim. Mengapa kau menempuh jalan sejauh ini?" tanya Fatimah, mahasiswa dari Beirut yang kutemui di perjalanan.
Aku menatap cakrawala yang berdebu, mencari kata-kata. "Aku membaca kisah Husein," ujarku, suara serak oleh debu dan emosi. "Bagaimana dia, dengan segelintir pengikut, berdiri melawan pasukan raksasa. Bukan untuk tahta, tapi karena menolak tunduk pada penguasa zalim. Karena memilih mati bermartabat daripada hidup dalam kepatuhan buta." Mataku basah.
"Dia biarkan anak-anaknya kehausan, biarkan keluarganya dibantai, demi tegaknya prinsip sederhana: bahwa manusia tak boleh diperbudak, bahwa kebenaran harus lebih tinggi dari pedang."
Kukecup kening Fatimah. "Itu bukan cerita agama, Fatimah. Itu epik manusia tentang keberanian melawan tirani kisah yang bisa membuat siapapun, dari keyakinan apapun, menunduk dalam hormat."
Spiritualitas di sini terasa dalam wujud yang nyata, bukan dogma. Setiap langkah beratku adalah zikir diam-diam untuk keluarga kecil yang berjalan di gurun ini dulu, dikejar-kejar, dihina. Setiap segelas air dingin yang kuterima dari tangan penduduk desa adalah gema dari Abbas, paman Husein yang gugur merebuskan air untuk keponakannya yang kehausan. Di sini, pelayanan adalah doa. Keramahan adalah ibadah. Dan solidaritas antar peziarah—tanpa peduli bendera atau kitab suci adalah liturgi hidup yang paling sakral.
Suatu senja, aku bertemu Tuan Chen, pejalan asal Tiongkok yang membawa bendera kecil bergambar naga. "Aku Buddhis," katanya sambil memijat kakiku yang bengkak. "Tapi Husein itu seperti Bodhisatva rela menderita demi kebebasan orang lain dari penindasan." Matanya teduh. "Lihatlah keragaman di jalan ini. Karbala bukan milik satu agama. Ini milik setiap manusia yang percaya bahwa darah para martir adalah benih kebebasan."
Kemanusiaan universal itu hidup di sini. Seorang ibu berkalung salib dari Mosul membasuh lukaku dengan air mawar. Anak-anak berebutan mengipasiku dengan kardus. Seorang pemuda yang mengaku ateis dari Prancis menggendong nenek tua yang kakinya kram. Kami berbeda Tuhan, berbeda kitab, berbeda harapan akhirat. Tapi di hadapan altar pengorbanan Husein, kami bersaudara dalam satu keyakinan: bahwa keadilan harus ditegakkan, yang lemah harus dilindungi, dan kezaliman harus dilawan dengan jiwa raga sekalipun.
Saat kubah emas makam Husein akhirnya mencuat di ujung jalan, disiram cahaya jingga senja, dadaku sesak. Air mata mengalir deras, tak kumengerti mengapa. Rasa sakit hilang. Yang tersisa adalah kehampaan yang penuh, kesedihan yang membebaskan. Aku bukan melihat bangunan suci agama lain. Aku melihat monumen abadi bagi jiwa manusia yang menolak tunduk. Cahaya yang menyatakan: "Di sini, seorang manusia memilih mati untuk membela hak manusia lain agar tetap manusia."
Di pelataran luas itu, di tengah lautan manusia yang bersujud, menangis, dan melantunkan nama "Husein" dalam seribu dialek, aku merasakan getar yang melampaui kata. Ribuan perbedaan kami larut dalam satu samudera duka dan hormat. Aku tak ikut shalat. Tapi ketika ribuan tangan mengangkat telapak mereka berdoa, tanganku pun terangkat sendiri bukan pada Allah yang mereka sembah, tapi pada Semesta yang mendengar jerit kemanusiaan yang sama.
Aku duduk di debu Karbala, menyentuh tanah tempat darahnya tumpah. Dalam hening, hatiku berbisik:
"Husein, Aku tak mengenalmu dalam cara mereka mengenalmu. Tapi hari ini, di debu kudusmu, kau mengajariku: bahwa keberanian untuk membela yang benar adalah ibadah tertinggi. Bahwa melayani sesama tanpa syarat adalah jalan menuju pencerahan sejati. Bahwa darah yang tumpah demi keadilan akan selalu bergema melintasi zaman, melintasi peradaban, melintasi keyakinan, menyatukan manusia dalam satu keluarga besar yang menolak untuk diam melihat kezaliman."
Perjalanan ini bukan ziarah agama. Ini adalah ziarah jiwa menuju inti terdalam kemanusiaan kami. Arbain mengajarku bahwa darah Husein bukan milik Islam semata, ia adalah warisan setiap insan yang percaya bahwa hidup hanya bermakna ketika diabdikan pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri: kebenaran, keadilan, dan belas kasih. Di tanah Karbala, di tengah keragaman yang menakjubkan, aku menyaksikan mukjizat sejati: bahwa ketika manusia berjalan bersama menuju cahaya kebaikan yang sama, perbedaan menjadi permadani indah, bukan tembok. Dan di hati setiap pejalan muslim atau bukan, terbakar api spiritual yang sama: api yang dinyalakan Husein dengan pengorbanannya, menyala abadi sebagai mercusuar harapan bagi siapa pun yang percaya bahwa kemanusiaan layak diperjuangkan sampai tetes terakhir. (Kahar Palinrungi)
Sumber:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar