Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Senin, 20 Oktober 2025

Laki-Laki dan Perempuan Dalam Kerangka Islam




Dalam pandangan Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukanlah semata urusan sosial atau biologis, melainkan bagian dari tatanan Ilahi yang mencerminkan kehendak dan kebijaksanaan Allah. Keduanya memiliki tanggung jawab, kedudukan, dan peran yang berbeda, namun saling melengkapi dalam kerangka tauhid, ibadah, dan kehidupan masyarakat yang beradab.

Kesamaan Asasi dan Martabat Manusia

Islam menegaskan bahwa nilai kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama. Keduanya memiliki hak hidup, kehormatan, hak atas harta, pendidikan, dan kesempatan beramal. Dalam salah satu kajian disebutkan bahwa “baik laki-laki maupun perempuan akan mendapat pahala atas setiap amal kebaikan, dan keduanya akan masuk surga yang sama”¹.

Artinya, dalam pandangan Islam, perempuan tidak dianggap sebagai makhluk kelas dua, tetapi sebagai hamba Allah yang memiliki tanggung jawab dan kedudukan spiritual yang setara di hadapan-Nya. Contoh paling tinggi dari kemuliaan perempuan dalam Islam tampak dalam sosok Sayyidah Fathimah az-Zahra (‘alaihas salam), yang menjadi teladan abadi bagi kaum beriman.

Perbedaan Fitrah dan Tugas Khusus

Meskipun kesamaan martabat dan pahala dijamin oleh Allah, Islam juga menetapkan perbedaan peran dan tanggung jawab yang sesuai dengan fitrah masing-masing jenis kelamin. Dalam Nahj al-Balaghah disebutkan bahwa perempuan memiliki “iman dan akal yang berbeda dalam kadar dan fungsi dibandingkan laki-laki,” yang menunjukkan bahwa setiap jenis memiliki kecenderungan fitrah dan kesiapan sosial yang berbeda².

Hukum-hukum syariat pun disusun berdasarkan realitas ini. Misalnya, dalam hal warisan, laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dibanding perempuan³. Hal ini bukan bentuk ketidakadilan, melainkan keseimbangan: karena laki-laki memikul kewajiban menafkahi keluarga, maka ia menanggung beban sosial yang lebih besar. Aturan warisan mencerminkan tanggung jawab tersebut, bukan keistimewaan semata.

Etika Pergaulan dan Batas Sosial

Islam juga menata interaksi antara laki-laki dan perempuan dengan aturan yang jelas, bukan untuk mengekang, melainkan untuk menjaga kehormatan dan kebersihan jiwa. Disebutkan dalam panduan etika Islam: “Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak diperkenankan berinteraksi dengan niat yang mengandung syahwat, serta tidak boleh menampakkan bagian tubuh yang dapat mengundang pandangan.”⁴

Bagi laki-laki, diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga adab ketika berhadapan dengan perempuan yang bukan mahram. Sedangkan bagi perempuan, diwajibkan menutup seluruh tubuh kecuali bagian yang dikecualikan (seperti wajah dan telapak tangan) dalam batas yang ditentukan oleh hukum Islam⁵.
Masih dalam sumber yang sama dijelaskan: “Ucapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh diucapkan dengan nada menggoda, atau dalam bentuk yang bisa menimbulkan fitnah.”⁶

Ketegasan aturan ini adalah bentuk militansi moral yang diajarkan Islam: menjaga kesucian diri dan masyarakat bukan hanya tugas pribadi, tetapi jihad sosial untuk mempertahankan kemuliaan umat.

Hikmah Pembagian Peran

Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam Islam tidak lahir dari nilai patriarki, tetapi dari kebijaksanaan Ilahi yang memperhitungkan keadilan fitrah. Hukum Allah menetapkan setiap peran dengan tujuan saling menopang, bukan saling menguasai. Dalam salah satu rujukan dijelaskan: “Seluruh aturan syariat ditetapkan demi kemaslahatan laki-laki dan perempuan.”⁷

Perempuan memiliki hak kepemilikan, hak bekerja, hak memilih dan dipilih, serta hak untuk dihormati di dalam rumah tangga. Sementara laki-laki berkewajiban menafkahi, memimpin keluarga, dan bertanggung jawab atas kesejahteraan istri dan anak-anak. Keadilan di sini berarti menempatkan setiap orang sesuai kedudukannya, bukan menyamakan hal yang secara fitrah memang berbeda.

Keteguhan Dalam Menjaga Nilai

Di zaman modern, ketika nilai-nilai Barat mencoba menghapus perbedaan antara laki-laki dan perempuan atas nama kesetaraan mutlak, Islam menyeru umatnya untuk tetap teguh di atas prinsip yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebagaimana ditegaskan: “Hukum-hukum Islam harus dipahami dalam konteks nilai Ilahi dan tidak boleh disesuaikan hanya untuk menyenangkan arus dunia.”⁸

Artinya, kesetaraan bukan berarti keseragaman, dan kebebasan bukan berarti meniadakan batas. Islam tidak menentang kemajuan, tetapi menolak pemahaman yang mengaburkan batas antara kehormatan dan kelonggaran moral. Nilai-nilai seperti hijab, adab berbicara, dan kepemimpinan dalam keluarga bukanlah simbol keterbelakangan, tetapi benteng kemuliaan yang menjaga umat dari kerusakan moral.

Kesimpulan

Laki-laki dan perempuan adalah dua pilar yang dibangun Allah untuk saling melengkapi. Islam menegaskan kesetaraan dalam nilai dan pahala, namun membedakan fungsi dan tanggung jawab berdasarkan fitrah. Laki-laki diciptakan dengan kekuatan untuk memimpin dan melindungi, sementara perempuan dianugerahi kelembutan dan kemuliaan yang menumbuhkan kehidupan.

Dalam kerangka ini, Islam menolak gagasan kesetaraan buta yang meniadakan perbedaan alamiah, tetapi menegakkan keadilan yang seimbang dan penuh hikmah. Masyarakat ideal bukanlah yang memaksa laki-laki dan perempuan menjadi sama, tetapi yang memuliakan perbedaan mereka dalam ketaatan kepada Allah.

Menjaga batas-batas syariat bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bentuk keteguhan iman. Barang siapa menegakkan hukum Allah dengan konsisten, ia sedang menegakkan kemuliaan dirinya sendiri dan menjaga marwah umat. Dalam dunia yang semakin kabur batasnya, militansi moral ini adalah benteng terakhir kehormatan manusia.

---
Catatan Kaki
1. “Both man and woman will get reward for any good act and both will go to the same Paradise”, [al-islam.org: What does Islam say about gender inequality and discrimination?](https://al-islam.org/.../what-does-islam-say-about-gender...)
2. Nahj al-Balaghah, al-islam.org: Men and Women – A Serious Study
3. al-islam.org: The Position of Women in Islam
4. al-islam.org: The Quality of Hijab and Social Relation between Men and Women
5. al-islam.org: Code of Ethics for Muslim Men and Women – Rules Related to Covering
6. al-islam.org: Code of Ethics for Muslim Men and Women – Rules Related to Socializing
7. al-islam.org: The Status and Rights of Women in the Islamic System
8. al-islam.org: A New Perspective on Women in Islam – Chapter 6, Testifying and Judging

Tidak ada komentar:

Posting Komentar