Referensi:
Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 99-103, penerbit DPP Ahlul
Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.
Tuduhan
bahwa mazhab Syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’
telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di
tengah masyarakat bahwa Syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah bin Saba’ yang
berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah
umat Islam.
Abdullah
bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri mazhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori
bahwa Ali adalah washi Muhammad Saw. Abdullah bin Saba’ juga dikenali
dengan nama Ibnu Al-Sawda’ atau Ibnu ‘Amat Al-Sawda’ – anak wanita kulit hitam.
Pada hakikatnya cerita Abdullah bin Saba’ adalah satu dongengan (fiktif)
semata.
Allamah
Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ yang terdapat
dalam beberapa kitab Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Thabari (w. 310 H/922 M),
Ibnu Asakir (w. 571 H/1175 M), Ibnu Abi Bakr (w. 741 H/1340 M) dan Al-Dzahabi
(w. 747 H/1346 M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah
bin Saba’ dari satu sumber yaitu Saif bin Umar Al-Tamimi dalam bukunya Al-Futuh
Al-Kabir wa Al-Riddah dan Al-Jamal wa Al-Masir ‘Aisyah wa ‘Ali.
[Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa Digar Afsanehaye Tarikhi,
Tehran, 1360 H].
Saif
adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis
kitab rijal seperti Yahya bin Ma’in (w. 233 H/847 M), Abu Dawud (w. 275 H/888
M), Al-Nasa’i (w. 303 H/915 M), Ibnu Abi Hatim (w. 327 H/938 M), Al-Duruqutni
(w. 385 H/995 M), Al-Hakim (w. 405/1014 M), Al-Firuzabadi (w. 817 H/1414 M),
Ibnu Hajar (w. 852 H/1448 M), Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), dan Al-Safi Al-Din
(w. 923 H/1517 M). Pembahasan Saif bin Umar akan dijelaskan pada bab pembahasan
tentang kata Al-Sunnah.
Abdullah
bin Saba’, konon seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan
seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke tempat lain
untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah
Utsman bi Affan. Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai
pengasas ajaran Saba’iyyah pengasas mazhab ghuluw (sesat). Menurut
Allamah Askari, pribadi Abdullah bin Saba’ ini adalah hasil rekaan Saif yang
juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat dan kota lain hasil
khayalannya. Dari cerita Saif inilah beberapa orang penulis telah mengambil
cerita Abdullah bin Saba’ tersebut. Beberapa orang yang terpengaruh dengan
kisah bohong Saif seperti: Said bin Abddulah bin Abi Khalaf Al-Asy’ari Al-Qummi
(w. 301 H/901 M) dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq, Al-Hasan bin Musa
Al-Nawbakhti (w. 310 H/922 M) dalam bukunya Firaq Al-Syiah, dan Ali bin
Ismail Al-Asy’ari (w. 324 H/935 M) dalam bukunya Maqalat Al-Islamiyyah.
Allamah
Al-Askari mengupas hakikat cerita Abdullah bin Saba’ dari riwayat Syiah dari
Rijal oleh Al-Kassyi. Al-Kassyi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d bin Abdullah
Al-Asyi’ari Al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah bin Saba’ mempercayai
kesucian Ali sehingga menganggapnya seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua
riwayat ini, Ali memerintahkan menyingkrikan pahaman tersebut, dan karena
keengganannya Abdullah bin Saba’ telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau
bagaimana pun menurut Sa’d bin Abdullah, Ali telah menghalau Abdullah bin Saba’
ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali menemui kesyahidannya. Pada
ketika itu Abdullah bin Saba’ mengatakan, “Ali tidak wafat, sebaiknya ia
akan kembali semula ke dunia.”
Al-Kasyyi
telah meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba’,
menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang pertama
yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali. Allamah Askari menyatakan
bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah suatu perkara bid’ah yang bertentangan
dengan hukum Islam, tiada beda antara mazhab Syiah atau pun Sunnah.
Kisah
tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh
sejarah yang masyhur seperti Ibnu Al-Khayyat, Al-Ya’qubi, Al-Thabari,
Al-Mas’udi, Ibnu Al- Atsir, Ibnu Katsir atau Ibnu Khaldun. Peran yang dimainkan
oleh Abdullah bin Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Ustman atau pada zaman
pemerintahan Imam Ali tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu
seperti Ibnu Sa’ad (w. 230 H/84 M), Al-Baladzuri (w. 279 H/892 M) atau
Al-Ya’qubi. Hanya Al-Baladzuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam
buku Ansab Al-Asyraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali.
Al-Baladzur berkata, “Hujr bin Adi Al-Kindi, Amr bin Al-Hamiq Al-Khuza’i,
Hibah bin Juwayn Al-Bajli Al-Arani, dan Abdullah bin Wahhab Al-Hamdani – Ibnu
Saba’ datang kepada Imam Ali dan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan
Umar…”
Ibnu Qutaibah
(w. 276 H/889 M) dalam bukunya Al-Imamah wa Al-Siyasah dan Al-Tsaqafi
(w. 284 H/897 M) dalam Al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut.
Ibnu Qutaibah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah bin Saba’. Sa’ad
bin Abdullah Al-Anshari dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq menyebutkan
namanya sebagai Abdullah bin Saba’ penggagas ajaran Saba’iyyah – sebagai
Abdullah bin Saba’ Al-Rasibi. Ibnu Malukah (w. 474 H/1082 M) dalam bukunya Al-Ikmal
dan Al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam bukunya Al-Musytabah ketika
menerangkan perkataan “Saba’iyyah” menyebut Abdullah bin Wahb Al-Saba’i sebagi
pemimpin Khawarij. Ibnu Hajar dalam Tansir Al-Mutanabbih menerangkan
bahwa Saba’iyyah sebagai suatu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah
bin Wahb Al-Saba’i. Al-Maqrizi (w. 848 H/1444 M) dalam bukunya Al-Khithat
menamakan tokoh khayalan Abdullah bin Saba’ ini sebagai Abdullah bin Wahb bin
Saba’, juga dikenali sebagai Ibnu Al-Sawda’ Al-Saba’i.
Allamah
Al-Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para
penulis tokoh Abdullah bin Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang
agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peran penting.
Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah
Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah bin
Saba’, yang dikatakan berasal dari Shana’a, Yaman, tidak dinyakan kabilahnya.
Allamah Al-Askari yakin bahwa Ibnu Saba’ dan golongan Saba’iyyah adalah satu
cerita khayalan dari Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita
khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimana pun, nama Abdullah bin Wahb bin
Rasib bin Malik bin Midan bin Malik bin Nasr Al-Azd bin Ghauts bin Nubatah bin
Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah
pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam peperangan Nahrawan ketika menentang Imam
Ali.
Nampaknya
kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Saif
bin Umar Al-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang
pertama menyebarkan Imamah Ali. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk
memimpin pemberontakan terhadap khalifah Utsman, menjadi dalang yang
mencetuskan perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali, kemudian dibakar
hidup-hidup oleh Ali atau dihalau oleh Ali dan tinggal dalam buangan, selepas
wafat Imam Ali, Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian
Ali, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai
pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali.
Menurut
Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai suatu istilah
umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab, yaitu Bani
Qahthan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak pengikut-pengikut Imam Ali bin
Abi Thalib berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik Al-Asytar, Kumayl
bin Ziyad, Hujr bin Adi, Adi bin Hatim, Qays bin Sa’ad bin Ubadah, Khuzaymah
bin Tsabit Sahl bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Amr bin Hamiq, Sulaiman bin
Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong
Ali ini. Justru Ziyad bin Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan
teman-temannya sebagai “Saba’iyyah”. Dengan bertukarnya maksud istilah, maka
istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang
juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Setelah runtuhnya
Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu Al-Abbas
Al-Shaffah, khalifah pertama Bani Abbasiyah, ditujukan kepada Muslim Syiah yang
mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah kala itu.
Walau
bagaimana pun Ziyad maupun Al-Shaffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai
golongan yang sesat. Malah Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan
teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya
yang baru oleh Saif ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijriyah yang
menggunaannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang konon dilandaskan oleh
tokoh khayalan Abdullah bin Saba’.