Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Fiktif Abdullah bin Saba'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Fiktif Abdullah bin Saba'. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2024

Siapakah Abdullah bin Saba’?

 


Saat kita membahas mazhab Syiah, maka ada satu ihwal yang tak bisa kita pisahkan darinya. Iya, ihwal itu tentang sosok Abdullah bin Saba’. Bagi kelompok yang memiliki silang pendapat dengan Syiah, mereka meyakini sosok ini sebagai pencetus Syiah.

 

Bagi sebagian orang yang asing dengan sosok ini, mungkin muncul  sebuah tanda tanya di dalam benaknya, siapakah sejatinya Abdullah bin Saba’ dan apakah benar Syiah dicetus olehnya? 

Sebelum membahas lebih lanjut, apakah ia benar-benar pendiri mazhab Syiah atau bukan, maka ada baiknya jika kita mengenal kepribadian Abdullah bin Saba’ terlebih dahulu.

 

Orang yang kali pertama menyinggung namanya adalah seorang ahli sejarah bermazhab Ahlus Sunnah sekaligus penulis kitab Tarikh at-Tabari, ialah Muhammad Jurair at-Tabari. Konon, Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang hidup di awal-awal Islam di San’a, Yaman.

 

Tabari menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ memeluk Islam di masa Khalifah Ustman. Di masa itu, ia dikenal sebagai pribadi yang menyulut api fitnah dan provokator untuk membunuh Khalifah Utsman, lantaran ia meyakini kalau Khalifah sebelumnya tidak memiliki hak untuk menjadi Khalifah setelah Rasul Saw secara langsung.

 

Lebih dari itu, Abdullah bin Saba’ adalah sosok yang menuhankan Sayyidina Ali, sementara ia mengkalaim dirinya sebagai Rasulnya. Karenanya, tak sedikit ulama Sunni yang berpandangan jika  ia adalah penyebab terbunuhnya Khalifah Utsman. Dari situ pula, ia diyakini sebagai pendiri mazhab Syiah.

 

Tak dimungkiri, atas keyakinannya menuhankan Sayyidina Ali menyebabkan terjadinya pelaknatan terhadap para Imam Syiah. Ulama Syiah, seperti Allamah Thaba’thaba’i, Allamah Askari, dan dan Doktor Toha Husain berkeyakinan jika wujud asli Abdullah bin Saba’ tidak ada di dunia. Artinya, ia hanyalah tokoh fiktif yang dibuat-buat.

 

Selain itu, mereka juga menekankan, bahwa tak ada hubungannya antara tokoh fiktif dengan mazhab Syiah. Lagi pula, jika kita renungkan, seandainya ia adalah pendiri mazhab Syiah, maka ia akan selalu disanjung oleh orang Syiah itu sendiri dan memiliki peran yang banyak juga menjadi tokoh yang selalu dibicarakan dan dikenang sepanjang masa. Namun, kenyataanya, namanya tenggelam. Namanya akan naik ke permukaan hanya di saat dimanfaatkan untuk menyudutkan Syiah oleh kelompok tertentu.

 

Seperti yang sudah penulis singgung, bahwa orang yang pertama kali mencatut nama Abdullah bin Saba’ adalah Syekh Thabari di dalam buku sejarahnya, Tarikh Thabari. Lalu, Tabari menukil semua tentang Abdullah bin Saba’ dari seorang ahli sejarah, bernama Saef Umar at-Tamimi.

 

Saef bin Umar at-Tamimi adalah seorang perawi dan pencatat semua sejarah dan kejadian yang terjadi di zaman itu. Maka, tak heran bila karya tulisnya dijadikan rujukan oleh Thabari. Namun di sisi lain, di tengah ahli hadist, ia dikenal sebagai pribadi yang membuat (baca: mengarang) hadist.

 

Terkait hal ini, penulis hadirkan beberapa saksi dari para ahli hadist tentang kepribadian Saef bin Umar At-Tamimi, yang penulis kutip dari kitab Mizanul I’tidal karangan Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Utsman Ad-Dzahabi, seperti yang ada di bawah ini.

 

ู‚ุงู„ ุนุจุงุณ, ุนู† ูŠุญูŠ, ุถุนูŠู. ูˆุฑูˆูŠ ู…ุทูŠู†, ุนู† ูŠุญูŠ : ูู„ูŠุณ ุฎูŠุฑ ู…ู†ู‡. ู‚ุงู„ ุงุจูˆ ุฏุงูˆูˆุฏ: ู„ูŠุณ ุจุดูŠุฆ. ูˆ ู‚ุงู„ ุงุจูˆ ุญุงุชู…: ู…ุชุฑูˆูƒ. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุจุงู† : ุงุชّู‡ู… ุจุงู„ุฒู†ู‚ุฉ.        

 

Telah berkata Abbas, dari Yahya, “Saef bin Umar At-Tamimi lemah.” Diriwayatkan oleh Muttin, dari Yahya, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya.” Abu Dawud berkata, “Tidak ada sesuatu di dalam dirinya.” Lalu Abu Khatim berkata, “Ia tertinggal.” Abu Hubban berkata, “Ia adalah orang zindik.” ….    [1]



Dari sini, kita sedikit tahu tentang siapa itu Abdullah bin Saba’ dan juga tahu beberapa alasan kenapa ia disebut sebagai pendiri mazhab Syiah oleh ulama yang kontra terhadap Syiah, serta posisinya sebagai tokoh fiktif yang dibuat oleh Saef bin Umar at-Tamimi. Untuk lebih lengkap terkait dengan Abdullah bin Saba’, insya Allah akan diulas pada pembahasan berikutnya.


[1] Mizanul I’tidal, Ad-Dzahabi, hal. 255. Juz 2, penerbit Darul Fikr.

 

Sumber: https://muslimmenjawab.com


Sabtu, 04 Mei 2024

Tuduhan: Konsep Imamah Buatan Abdullah bin Saba’?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 103-105, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Di dalam Buku Panduan MUI halaman 24 dan 25 disebutkan: “Kendati pun persoalan imamah menjadi pokok keimanan Syiah, tetapi ternyata telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syiah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al-Hasan bin Musa an-Naubakhti, ulama Syiah yang hidup pada pertengahan abad ke 3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq al-Syiah (hal. 19-109) telah menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Di antaranya, setelah Ali bin Abi Thalib, menurut  an-Naubakhti, Syiah terpecah menjadi 3 golongan:

Pertama, kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga dia berhasil menegakkan keadilan di dunia. Inilah kelompok ekstem (ghuluw) pertama. Kelompok ini disebut Syiah as-Sabaiyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’. Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara’ah) dari Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal itu.

Menurut an-Naubakhthi, Abdullah bin Saba’ asalnya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri (bara’ah) dari musuh-musuhnya.

Tanggapan:

Pertama, jauh sebelum isu figur Abdullah bin Saba’ yang konon hidup semasa Khalifah Utsman, konsep imamah telah dikemukakan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Sebagai konsep Ilahiyah, Imamah ada dalam ayat Al-Qur’an yang terjaga kesuciannya. Pengangkatan pemimpin (imam) tersebut merupakan hak dan kewenangan Allah Swt. Hal itu nyata dijelaskan Al-Qur’an tentang kepemimpinan Ibrahim as dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 124).

Oleh karena itu, anggapan bahwa konsep Imamah tak lain adalah ciptaan Abdullah bin Saba’ telah bertentangan dengan Al-Qur’an.

Dalam ayat dikatakan, Allah berjanji akan memberi gelar imam kepada keturunan Ibrahim as “dzurriyah” (keturunanku). Hal ini menunjukkan bahwa Imamah berkesinambungan sampai hari kiamat. Kata “Jaa-iluka” menunjukkan “Ism fa’il” (subyek/pelaku) yang fungsinya “istimrariyyah” atau “berkesinambungan”. Maka, dari ayat ini kita meyakini bahwa bumi Allah tidak akan pernah kosong dari seorang Imam dari keturunan Ibrahim as.

Kedua, dalam beberapa hadis juga dapat kita temui untuk menguatkan konsep ilahiyah tersebut seperti, hadis pengangkatan Ali bin Abi Thalib di lembah Ghadir Khum yang akan dibahas pada bab berikutnya (dalam buku Syiah Menurut Syiah, pen) secara terperinci.

Ketiga, adapaun pengelompokan dan pembagian Syiah yang dilakukan oleh Al-Naubakhti –terlepas benar tidaknya- sama sekali tidak dapat menegasikan keberadaan nas pengangkatan para Imam setelah Rasulullah Saw. Sebagaimana keimanan atas para Nabi dan keberadaan Allah Swt dengan dalil yang sangat jelas (aksiomatik), maka dalil-dalil itu tidak mencegah orang-orang untuk tetap meragukan bahkan menolaknya.

Keempat, dengan mengemukakan isu imamah, justru menunjukkan fakta adanya konsep Imamah sejak masa awal Islam.

 

Tuduhan: Benarkah Syiah Buatan Yahudi?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 99-103, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Tuduhan bahwa mazhab Syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa Syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri mazhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori bahwa Ali adalah washi Muhammad Saw. Abdullah bin Saba’ juga dikenali dengan nama Ibnu Al-Sawda’ atau Ibnu ‘Amat Al-Sawda’ – anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah bin Saba’ adalah satu dongengan (fiktif) semata.

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Thabari (w. 310 H/922 M), Ibnu Asakir (w. 571 H/1175 M), Ibnu Abi Bakr (w. 741 H/1340 M) dan Al-Dzahabi (w. 747 H/1346 M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ dari satu sumber yaitu Saif bin Umar Al-Tamimi dalam bukunya Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah dan Al-Jamal wa Al-Masir ‘Aisyah wa ‘Ali. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa Digar Afsanehaye Tarikhi, Tehran, 1360 H].

Saif adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya bin Ma’in (w. 233 H/847 M), Abu Dawud (w. 275 H/888 M), Al-Nasa’i (w. 303 H/915 M), Ibnu Abi Hatim (w. 327 H/938 M), Al-Duruqutni (w. 385 H/995 M), Al-Hakim (w. 405/1014 M), Al-Firuzabadi (w. 817 H/1414 M), Ibnu Hajar (w. 852 H/1448 M), Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), dan Al-Safi Al-Din (w. 923 H/1517 M). Pembahasan Saif bin Umar akan dijelaskan pada bab pembahasan tentang kata Al-Sunnah.

Abdullah bin Saba’, konon seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Utsman bi Affan. Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Saba’iyyah pengasas mazhab ghuluw (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah bin Saba’ ini adalah hasil rekaan Saif yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Saif inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ tersebut. Beberapa orang yang terpengaruh dengan kisah bohong Saif seperti: Said bin Abddulah bin Abi Khalaf Al-Asy’ari Al-Qummi (w. 301 H/901 M) dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq, Al-Hasan bin Musa Al-Nawbakhti (w. 310 H/922 M) dalam bukunya Firaq Al-Syiah, dan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (w. 324 H/935 M) dalam bukunya Maqalat Al-Islamiyyah.

Allamah Al-Askari mengupas hakikat cerita Abdullah bin Saba’ dari riwayat Syiah dari Rijal oleh Al-Kassyi. Al-Kassyi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d bin Abdullah Al-Asyi’ari Al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah bin Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua riwayat ini, Ali memerintahkan menyingkrikan pahaman tersebut, dan karena keengganannya Abdullah bin Saba’ telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau bagaimana pun menurut Sa’d bin Abdullah, Ali telah menghalau Abdullah bin Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali menemui kesyahidannya. Pada ketika itu Abdullah bin Saba’ mengatakan, “Ali tidak wafat, sebaiknya ia akan kembali semula ke dunia.”

Al-Kasyyi telah meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba’, menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang pertama yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah suatu perkara bid’ah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda antara mazhab Syiah atau pun Sunnah.

Kisah tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibnu Al-Khayyat, Al-Ya’qubi, Al-Thabari, Al-Mas’udi, Ibnu Al- Atsir, Ibnu Katsir atau Ibnu Khaldun. Peran yang dimainkan oleh Abdullah bin Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Ustman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibnu Sa’ad (w. 230 H/84 M), Al-Baladzuri (w. 279 H/892 M) atau Al-Ya’qubi. Hanya Al-Baladzuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab Al-Asyraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali. Al-Baladzur berkata, “Hujr bin Adi Al-Kindi, Amr bin Al-Hamiq Al-Khuza’i, Hibah bin Juwayn Al-Bajli Al-Arani, dan Abdullah bin Wahhab Al-Hamdani – Ibnu Saba’ datang kepada Imam Ali dan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan Umar…”

Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M) dalam bukunya Al-Imamah wa Al-Siyasah dan Al-Tsaqafi (w. 284 H/897 M) dalam Al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibnu Qutaibah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah bin Saba’. Sa’ad bin Abdullah Al-Anshari dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah bin Saba’ penggagas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah bin Saba’ Al-Rasibi. Ibnu Malukah (w. 474 H/1082 M) dalam bukunya Al-Ikmal dan Al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam bukunya Al-Musytabah ketika menerangkan perkataan “Saba’iyyah” menyebut Abdullah bin Wahb Al-Saba’i sebagi pemimpin Khawarij. Ibnu Hajar dalam Tansir Al-Mutanabbih menerangkan bahwa Saba’iyyah sebagai suatu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah bin Wahb Al-Saba’i. Al-Maqrizi (w. 848 H/1444 M) dalam bukunya Al-Khithat menamakan tokoh khayalan Abdullah bin Saba’ ini sebagai Abdullah bin Wahb bin Saba’, juga dikenali sebagai Ibnu Al-Sawda’ Al-Saba’i.

Allamah Al-Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah bin Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peran penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah bin Saba’, yang dikatakan berasal dari Shana’a, Yaman, tidak dinyakan kabilahnya. Allamah Al-Askari yakin bahwa Ibnu Saba’ dan golongan Saba’iyyah adalah satu cerita khayalan dari Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimana pun, nama Abdullah bin Wahb bin Rasib bin Malik bin Midan bin Malik bin Nasr Al-Azd bin Ghauts bin Nubatah bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Saif bin Umar Al-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Utsman, menjadi dalang yang mencetuskan perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali atau dihalau oleh Ali dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali, Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai suatu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab, yaitu Bani Qahthan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik Al-Asytar, Kumayl bin Ziyad, Hujr bin Adi, Adi bin Hatim, Qays bin Sa’ad bin Ubadah, Khuzaymah bin Tsabit Sahl bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Amr bin Hamiq, Sulaiman bin Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali ini. Justru Ziyad bin Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai “Saba’iyyah”. Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Setelah runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu Al-Abbas Al-Shaffah, khalifah pertama Bani Abbasiyah, ditujukan kepada Muslim Syiah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah kala itu.

Walau bagaimana pun Ziyad maupun Al-Shaffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malah Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Saif ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijriyah yang menggunaannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang konon dilandaskan oleh tokoh khayalan Abdullah bin Saba’.