Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 04 Mei 2024

Tuduhan: Benarkah Syiah Buatan Yahudi?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 99-103, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Tuduhan bahwa mazhab Syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa Syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri mazhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori bahwa Ali adalah washi Muhammad Saw. Abdullah bin Saba’ juga dikenali dengan nama Ibnu Al-Sawda’ atau Ibnu ‘Amat Al-Sawda’ – anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah bin Saba’ adalah satu dongengan (fiktif) semata.

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Thabari (w. 310 H/922 M), Ibnu Asakir (w. 571 H/1175 M), Ibnu Abi Bakr (w. 741 H/1340 M) dan Al-Dzahabi (w. 747 H/1346 M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ dari satu sumber yaitu Saif bin Umar Al-Tamimi dalam bukunya Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah dan Al-Jamal wa Al-Masir ‘Aisyah wa ‘Ali. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa Digar Afsanehaye Tarikhi, Tehran, 1360 H].

Saif adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya bin Ma’in (w. 233 H/847 M), Abu Dawud (w. 275 H/888 M), Al-Nasa’i (w. 303 H/915 M), Ibnu Abi Hatim (w. 327 H/938 M), Al-Duruqutni (w. 385 H/995 M), Al-Hakim (w. 405/1014 M), Al-Firuzabadi (w. 817 H/1414 M), Ibnu Hajar (w. 852 H/1448 M), Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), dan Al-Safi Al-Din (w. 923 H/1517 M). Pembahasan Saif bin Umar akan dijelaskan pada bab pembahasan tentang kata Al-Sunnah.

Abdullah bin Saba’, konon seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Utsman bi Affan. Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Saba’iyyah pengasas mazhab ghuluw (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah bin Saba’ ini adalah hasil rekaan Saif yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Saif inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah bin Saba’ tersebut. Beberapa orang yang terpengaruh dengan kisah bohong Saif seperti: Said bin Abddulah bin Abi Khalaf Al-Asy’ari Al-Qummi (w. 301 H/901 M) dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq, Al-Hasan bin Musa Al-Nawbakhti (w. 310 H/922 M) dalam bukunya Firaq Al-Syiah, dan Ali bin Ismail Al-Asy’ari (w. 324 H/935 M) dalam bukunya Maqalat Al-Islamiyyah.

Allamah Al-Askari mengupas hakikat cerita Abdullah bin Saba’ dari riwayat Syiah dari Rijal oleh Al-Kassyi. Al-Kassyi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d bin Abdullah Al-Asyi’ari Al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah bin Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua riwayat ini, Ali memerintahkan menyingkrikan pahaman tersebut, dan karena keengganannya Abdullah bin Saba’ telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau bagaimana pun menurut Sa’d bin Abdullah, Ali telah menghalau Abdullah bin Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali menemui kesyahidannya. Pada ketika itu Abdullah bin Saba’ mengatakan, “Ali tidak wafat, sebaiknya ia akan kembali semula ke dunia.”

Al-Kasyyi telah meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba’, menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang pertama yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah suatu perkara bid’ah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda antara mazhab Syiah atau pun Sunnah.

Kisah tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibnu Al-Khayyat, Al-Ya’qubi, Al-Thabari, Al-Mas’udi, Ibnu Al- Atsir, Ibnu Katsir atau Ibnu Khaldun. Peran yang dimainkan oleh Abdullah bin Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Ustman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibnu Sa’ad (w. 230 H/84 M), Al-Baladzuri (w. 279 H/892 M) atau Al-Ya’qubi. Hanya Al-Baladzuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab Al-Asyraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali. Al-Baladzur berkata, “Hujr bin Adi Al-Kindi, Amr bin Al-Hamiq Al-Khuza’i, Hibah bin Juwayn Al-Bajli Al-Arani, dan Abdullah bin Wahhab Al-Hamdani – Ibnu Saba’ datang kepada Imam Ali dan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan Umar…”

Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M) dalam bukunya Al-Imamah wa Al-Siyasah dan Al-Tsaqafi (w. 284 H/897 M) dalam Al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibnu Qutaibah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah bin Saba’. Sa’ad bin Abdullah Al-Anshari dalam bukunya Al-Maqalat wa Al-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah bin Saba’ penggagas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah bin Saba’ Al-Rasibi. Ibnu Malukah (w. 474 H/1082 M) dalam bukunya Al-Ikmal dan Al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam bukunya Al-Musytabah ketika menerangkan perkataan “Saba’iyyah” menyebut Abdullah bin Wahb Al-Saba’i sebagi pemimpin Khawarij. Ibnu Hajar dalam Tansir Al-Mutanabbih menerangkan bahwa Saba’iyyah sebagai suatu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah bin Wahb Al-Saba’i. Al-Maqrizi (w. 848 H/1444 M) dalam bukunya Al-Khithat menamakan tokoh khayalan Abdullah bin Saba’ ini sebagai Abdullah bin Wahb bin Saba’, juga dikenali sebagai Ibnu Al-Sawda’ Al-Saba’i.

Allamah Al-Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah bin Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peran penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah bin Saba’, yang dikatakan berasal dari Shana’a, Yaman, tidak dinyakan kabilahnya. Allamah Al-Askari yakin bahwa Ibnu Saba’ dan golongan Saba’iyyah adalah satu cerita khayalan dari Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimana pun, nama Abdullah bin Wahb bin Rasib bin Malik bin Midan bin Malik bin Nasr Al-Azd bin Ghauts bin Nubatah bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Saif bin Umar Al-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Utsman, menjadi dalang yang mencetuskan perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali atau dihalau oleh Ali dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali, Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai suatu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab, yaitu Bani Qahthan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik Al-Asytar, Kumayl bin Ziyad, Hujr bin Adi, Adi bin Hatim, Qays bin Sa’ad bin Ubadah, Khuzaymah bin Tsabit Sahl bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Amr bin Hamiq, Sulaiman bin Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali ini. Justru Ziyad bin Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai “Saba’iyyah”. Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Setelah runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu Al-Abbas Al-Shaffah, khalifah pertama Bani Abbasiyah, ditujukan kepada Muslim Syiah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah kala itu.

Walau bagaimana pun Ziyad maupun Al-Shaffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malah Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Saif ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijriyah yang menggunaannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang konon dilandaskan oleh tokoh khayalan Abdullah bin Saba’.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar