Oleh: Muhsin Labib
Jelang hari-hari wafatnya, karena khawatir orang-orang munafik akan memanfaatkan peristiwa ini dan memanipulasi masyarakat, Nabi SAW mengumpulkan seluruh anggota masyarakat. Dalam ceramahnya, beliau memperingatkan mereka tentang hasutan menentangnya, menganjurkan agar berpegang teguh pada Itrah (keluarga beliau) serta mematuhi dengan suara bulat tanpa membangkang atau melakukan penelikungan.
Dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, yang dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan), Nabi memberikan sinyal-sinyal perpisahan melalui khotbah dan serangkaian pernyataan yang amat memilukan. Para sejarawan tidak hanya menyebut nama tempat upacara perpisahan yang terletak antara Mekah dan Madinah, yakni Ghadir Khumm, tetapi juga merincikan jumlah peserta yang hadir saat itu, yang diperkirakan mencapai puluhan ribu umat. Di tempat itu, Nabi menyampaikan pesan penting tentang kepemimpinan dan kesetiaan kepada Ahlul Bait, menegaskan pentingnya menjaga amanah agama.
Sesampainya di Madinah, Nabi yang mulai terlihat kurang sehat masih harus memikirkan umat dan negara yang telah dibangunnya. Sepak terjang dan provokasi negeri jiran di sebelah selatan, yang dipimpin oleh Kaisar Heraclius dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), membuatnya harus mengabaikan rasa sakit dan penat. Lelaki yang bernama Ahmad di langit ini memberikan instruksi kepada setiap lelaki yang sehat jasmani agar bersiaga untuk perang di bawah komando Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang dipercaya untuk memimpin ekspedisi melawan ancaman Romawi.
Dengan langkah lemah, Nabi keluar dari rumah sembari mengenakan selimut dan berseru agar semua orang keluar dari Madinah. Kekaisaran Romawi telah mengerahkan brigade pasukan kavaleri untuk melakukan pembersihan terhadap warga yang memeluk Islam dalam wilayah kekuasaannya, termasuk gubernur Syam, Farwah bin Amr al-Jazami, yang telah memeluk Islam. Namun, seruan parau Nabi teragung itu bak gayung tak bersambut. Pasukan yang sudah bergerak meninggalkan Madinah tiba-tiba bubar. Isu tentang ‘kematian Nabi’ menjadi alasan aksi ‘mogok’ itu. Bahkan sang komandan, Usamah bin Zaid, yang masih muda, juga ikut pulang ke Madinah.
Saat terbujur di atas ranjang, beliau meminta secarik kertas dan setangkai pena untuk menuliskan konfirmasi akhir atas pesan-pesan yang telah berulang disampaikannya, terutama di Haji Wada’. Namun, bising dan desak-desakan pengunjung yang membesuk di rumah kecil itu membuat suaranya seakan tertelan dan napasnya tersengal. Di tengah kelemahannya, sebuah mimpi mengejutkannya. Ia melihat Al-Qur’an yang ada di kedua tangannya terbang membumbung tinggi ke langit. Fatimah, putri tercintanya, melihat dirinya terbang di belakangnya. Al-Qur’an itu pun menyeru: “Terbang mendekatlah padaku. Terbanglah ke langit.” Fatimah menoleh ke belakang dan melihat bumi bercahaya terang benderang, disambar petir dan kilat.
Dengan wajah tegang, Fatimah mendatangi Nabi di biliknya, berkata, “Ayah, aku telah melihat Al-Qur’an terlepas dari tanganku.” Dengan suara lemah seakan berbisik, Nabi menjawab, “Fatimah, setiap kali aku menyeru, niscaya dijawablah seruanku itu. Dan sungguh Jibril telah membacakan Al-Qur’an kepadaku dua kali dalam tahun ini.” Meledaklah tangis Fatimah.
Duka kepergian ayahnya telah meremas jiwanya dan menggoyahkan tubuhnya hingga roboh dalam pelukannya. Nabi berusaha tersenyum untuk menghibur, “Janganlah bersedih. Bahagialah. Engkaulah Ahlul Bait pertamaku yang akan segera menyusulku.” Seketika wajah Fatimah merona. Ia mengusap air matanya dan memeluk tubuh ayahnya dengan penuh cinta.
Waktu bergulir cepat seiring racun yang merasuk keras ke setiap sel tubuh Nabi. Muhammad rebah, menyimak kidung malaikat Rahmat yang menghibur di biliknya yang muram. Dengan suara parau, beliau memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. “Selamat datang untuk kalian semua, mudah-mudahan kalian dibelas kasihi oleh Allah. Aku berwasiat supaya kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat kepada-Nya, karena sungguh sudah dekat perpisahan di antara kita, telah dekat pula waktunya kembali kepada Allah Ta’ala yang menempati surga-Nya. Bila tiba ajalku, kuminta Ali yang memandikanku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih.” “Ketika memandikanku, letakkanlah aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang kuburku nanti. Setelah itu, kalian keluar sejenak meninggalkan aku. Pertama kali yang mensalati aku adalah Allah SWT, lalu malaikat Jibril, Israfil, Mikail, Izrail beserta pembantu-pembantunya, kemudian dilanjutkan oleh para malaikat semua. Sehabis itu, kalian masuklah dengan berkelompok-kelompok, dan lakukanlah salat untukku.”
Dan “Cahaya Kedua” itu pun mengangkasa, diiringi armada malaikat utama menemui Kekasihnya di altar suci. Ruh Muhammad melesat melintasi langit-langit, meninggalkan jasadnya di pangkuan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Ali berdiri di hadapan Rasulullah SAW, berucap, “Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi. Kami bersaksi bahwa apa yang diturunkan kepadamu, telah kau sampaikan, kau nasehati umatmu, dan kau berjuang di jalan Tuhan hingga Tuhan memuliakan agamanya dan menyempurnakan risalah-Nya. Tuhanku, jadikanlah kami salah satu dari mereka yang mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadanya.” Khalayak mengikuti doanya dari belakang.
Angin berdesir, meniupkan kidung kesedihan yang menyusup ke kisi-kisi jiwa Ali dan para pendukungnya, di tengah hiruk-pikuk “pesta dagang sapi” dalam sidang darurat di ujung Madinah, di pendapa Saqifah, tempat sebagian orang berkumpul untuk menentukan arah baru tanpa menghormati wasiat Nabi.
Duka Sayyidah Fatimah AS kian bertambah seiring wafatnya Rasulullah SAW. Selama tujuh hari, ia menahan luka batin yang mendalam. Pada hari kedelapan, ia memperlihatkan duka citanya. Masyarakat turut menangis, para wanita mengelilinginya saat ia mengeluh dan memekik, “Oh… Ayahku! Wa Muhammadda!” Air matanya terus mengalir saat langkah gontainya diayunkan menuju pusara ayahnya. Di sanalah ia roboh. Az-Zahra memeluk makam Rasul SAW, memekik dengan suara parau, “Oh… Ayahku! Kau tinggalkan puterimu sebatang kara. Punggungku seolah patah dan hidupku berakhir.”
Tak lama kemudian, ia bergegas pulang ke rumahnya seraya menangis. Sesampainya di rumah, ia memeluk Hasan dan Husain, membayangkan derita yang akan dihadapi kedua putranya sepeninggal ayahanda mereka. Dalam kesedihan yang mendalam, Fatimah merasakan beban berat kehilangan dan tanggung jawab menjaga warisan ayahnya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS. Ali Imran (3): 144]
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar