Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Selasa, 04 Juni 2024

Imam Khamenei: Mustahil Bangsa Iran Menyerah Pada AS

 

Ayatullah Khamenei bertemu pekerja Iran

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, atau Rahbar, dalam pertemuan dengan para buruh dan pekerja Iran, menyebut tujuan hakiki sanksi dan tekanan Amerika Serikat, serta Barat, adalah supaya rakyat dan pemerintah Iran, menyerah dan patuh total.

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (24/4/2024) mengatakan, bangsa besar dan berakar Iran, serta Republik Islam, tidak akan pernah menyerah, dan tunduk di hadapan arogansi serta penindasan, dan dengan mengubah sanksi menjadi kesempatan bagi kemajuan, dan kejayaan, Iran, akan menyambut masa depan yang gemilang.

 

Pemimpin Revolusi Islam mengatakan:

 

"Mereka menginginkan agar kekayaan, harga diri, dan kebijakan Iran, sebagaimana beberapa negara, berada di tangan AS, tapi negara Islami, martabat Islami, dan bangsa besar serta berakar Iran, mustahil untuk menyerah pada intimidasi mereka."


 

 

Di bagian lain paparannya, Rahbar, mengatakan, berbicara soal permasalahan ekonomi tanpa memperhatikan sanksi yang disebut AS dan Eropa, sebagai sanksi yang luar biasa, adalah tidak mungkin:

 

"Negara-negara Barat, mengutarakan kebohongan-kebohongan soal senjata nuklir, hak asasi manusia, dan dukungan atas terorisme, sebagai tujuan dari penerapan sanksi terhadap Iran."

 

Ayatullah Khamenei, kemudian menyinggung kontradiksi, dan alasan-alasan yang dibuat-buat oleh negara-negara Barat, salah satu contohnya adalah Gaza:

 

"Menurut mereka, rakyat Gaza, yang sedang dibombardir adalah teroris, tapi tidak menganggap pemerintah bengis, fiktif dan tak punya belas kasihan Zionis, yang dalam waktu enam bulan membunuh hampir 40.000 orang termasuk sekian ribu anak-anak, bukan teroris."

 

Imam Khamenei, mengingatkan pidatonya beberapa tahun lalu terkait masalah nuklir, dan meminta AS, menentukan sejauh mana Iran, harus mundur sehingga ia puas:

 

"Mereka sampai kapan pun tidak bersedia menentukan batas ini, karena pada akhirnya ingin menutup total industri nuklir Iran, seperti negara-negara Afrika utara, secara perlahan dengan langkah bertahap. Padahal di berbagai bidang seperti kesehatan, kedokteran, dan bidang lainnya, dibutuhkan hasil-hasil aktivitas nuklir."


 

Menurut Pemimpin Revolusi Islam Iran, sanksi-sanksi telah memukul perekonomian negara, dan menciptakan banyak masalah ekonomi:

 

"Sanksi-sanksi inilah yang telah menciptakan tumbuh dan mekarnya potensi-potensi, serta memunculkan kapasitas-kapasitas dalam negeri Iran."

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menilai upaya menjadikan permusuhan musuh-musuh menjadi kesempatan merupakan karakteristik sebuah bangsa yang hidup.

 

Beliau menyebut kemajuan-kemajuan di bidang persenjataan sebagai salah satu contoh dari upaya mengubah sanksi-sanksi menjadi kesempatan:

 

"Kemajuan yang menunjukkan dirinya di suatu tempat, telah membuat musuh tercengang, bagaimana mungkin Iran Islami, mampu memproduksi sejumlah senjata canggih padahal ia disanksi."

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menuturkan:

 

"Insyaallah, senjata-senjata yang lebih besar, lebih baik, dan lebih canggih akan diproduksi, tapi kemajuan tidak hanya terbatas pada senjata, di bidang-bidang lain seperti kesehatan, kedokteran, dan beberapa bidang industri, teknologi, Iran menjadi bagian dari negara unggul dunia. Selain itu, di beberapa bagian masih terbelakang, namun berkat tekad dan kerja keras, kita juga akan mengalami kemajuan."

 

 

Imam Khamenei, menganggap sanksi-sanksi semakin kehilangan dampaknya, dan menuturkan:

 

"Baru-baru ini di salah satu laporan sumber internasional disinggung tentang peningkatan Produk Domestik Bruto, PDB, Iran, ini artinya upaya semakin besar, dan semakin baik dilakukan, tidak berharap pada bantuan asing, sanksi-sanksi tidak berhasil melumpuhkan Iran, dan semangat ini harus diperkuat."

 

Pemimpin Revolusi Islam, dalam pertemuan ini juga menyinggung demonstrasi-demonstrasi mendukung rakyat Palestina, dan berkibarnya bendera Palestina, seta Hizbullah, di jalan-jalan Eropa dan AS, dan menilai tuduhan mendukung terorisme oleh Republik Islam Iran, karena mendukung rakyat tertindas Gaza, telah membuat para penuduhnya terhina:

 

"Saat ini bukan rakyat Iran, saja, tapi seluruh bangsa dunia mendukung Palestina."

 

Imam Khamenei, menyimpulkan:

 

"Bagi bangsa Iran, jelas, dan terang bahwa alasan permusuhan kubu arogan terhadap mereka bukanlah kebohongan-kebohongan yang mereka katakan, tapi fakta bahwa Iran yang merdeka tidak akan pernah mau tunduk pada intimidasi mereka, dan tidak bersedia mengekor kebijakan-kebijakan gagal, terbelakang, kalah, dan melawan nilai-nilai Ilahi, serta fitrah kemanusiaan, mereka. Kebijakan-kebijakan yang diakui sendiri sebagian analis Barat, sedang menumpas kredilitas AS, yang berusia 200 tahun."

 

Rahbar menegaskan bahwa harapan supaya rakyat Iran, yang berpengalaman dan memiliki akar sejarah, mematuhi kebijakan-kebijakan gagal mereka, adalah sia-sia:

 

"Bangsa Iran, berdiri dan kuat, dan memang kita harus menunjukkan perlawanan dalam amal, pekerjaan, penelitian, dan persatuan nasional, dalam hal ini dengan syarat menjauhi kemalasan, dari tengah kesulitan dan masalah-masalah yang dibuat musuh, kita menciptakan kesempatan dan solusi lebih besar untuk kemajuan, sehingga bangsa Iran, berkat bantuan Ilahi, akan mencapai masa depan gemilang."

 

 

Dalam pertemuan ini, Rahbar, berterimakasih secara tulus atas kerja keras, dan tekad masyarakat pekerja Iran, dan menyebut ciuman Nabi Muhammad SAW, atas tangan kasar seorang buruh merupakan penghargaan tertinggi atas kerja dan pekerja:

 

"Islam, sangat menaruh penghormatan substansial pada kerja dan amal, dan berdasarkan ajaran Al Quran, dan hadis, kerja keras seseorang untuk mendapatkan rezeki yang halal layaknya ibadah, termasuk amal saleh."

 

Ayatullah Khamenei, menganggap perhatian publik terhadap "pandangan Islam atas kerja dan pekerja" adalah sebuah urgensi penting, dan membuka peluang kemajuan negara:

 

"Dunia materi bagi pekerja bukan hanya sebatas sarana memperoleh kekayaan, tapi karena Islam, menganggap kerja memiliki nilai instrisik, maka menganggap pekerja memiliki nilai substansial, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah SWT, menyukai orang-orang yang menjalankan pekerjaannya dengan benar, konsisten dan kokoh." (HS)

 

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Peringatan Tegas Imam Ali as Tentang Wanita Di Akhir Zaman

 

 

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนุฌู„ ูุฑุฌู‡ู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุงู…ุงู… ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุณูŠุฏุชูŠ ูุงุทู…ุฉ ุงู„ุฒู‡ุฑุงุก ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุณู„ุงู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุงู…ุงู… ุญุณู† ุงู„ู…ุฌุชุจู‰ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูŠุง ุฅู…ุงู… ุงู„ุญุณูŠู† ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุณู„ุงู…

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุงู…ุงู… ู…ู‡ุฏู‰ ุงู„ู…ู†ุชุธุฑ ุตุงุญุจ ุงู„ุนุตุฑ ูˆุงู„ุฒู…ุงู† ุนุฌู„ ุงู„ู„ู‡ ูุฑุฌู‡ ุงู„ุดุฑ ูŠู

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนุฌู„ ูุฑุฌู‡ู…

 

Di antara wasiatnya Amirul Mukminin Ali Bin Thalib as kepada putranya adalah:

"Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh perihal hijab kaum wanita. Sebab, memelihara hijab secara baik dan benar lebih menjaga keselamatan dan kesucian kaum wanita."

Imam Ali as berkata:

“Mengenakan pakaian tebal merupakan kewajiban bagi kalian (kaum wanita) karena wanita yang mengenakan pakaian tipis dan menampakkan keindahan tubuh, maka agamanya lemah dan tipis.”

Imam Ali as juga berkata:

“Suami yang mematuhi istrinya, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam neraka dengan tubuh terbalik. Seseorang bertanya, kepatuhan seperti apa yang membuat ia disiksa seperti itu? Imam Ali as menjawab, "Yaitu seorang suami yang mengizinkan istrinya mengenakan pakaian tipis (menampakkan aurat) di tempat-tempat umum, dan dia menuruti kemauannya.”

Imam Ali as berkata:

“Rasulullah Saw melarang wanita menghias diri di hadapan suaminya. Jika wanita berbuat demikian (berhias diri di hadapan pria bukan muhrim), maka Allah Swt berhak membakarnya dalam api Neraka.”

Di antara wasiat lain Imam Ali bin Abi Thalib as, beliau berkata:

“Pada akhir masa yang merupakan masa terburuk, kaum wanita menanggalkan hijab dan menampakkan auratnya. Mereka keluar rumah dengan menggunakan perhiasan dan berhias diri. Mereka telah keluar dari batas agama, terjatuh ke dalam fitnah dan bergegas mengejar hawa nafsu. Mereka menghalalkan yang haram. Pada akhirnya, mereka kelak akan terbakar api neraka dan mengalami siksa abadi."■

 

Senin, 03 Juni 2024

Imam Khomeini: Kita Harus Memperhatikan Masyarakat Miskin


Imam Khomeini ra

 

Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat kelas bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah. Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin.

 

Bertepatan dengan peringatan wafatnya Imam Khomeini, dalam artikel singkat ini kita telah mencermati pentingnya keadilan dan perhatian terhadap kaum miskin dalam pemikiran Imam Khomeini.

 

Artikel ini merupakan abstrak dari tulisan salah satu peneliti terkenal Iran bernama Emad Afrogh (1336-1402 HS) terkait topik yang sama.

 

Ungkapan dan perkataan Imam Khomeini menunjukkan bahwa pandangannya tentang keadilan adalah pandangan Imam Ali as, pengganti Nabi Muhammad Saw dan Imam Pertama Syiah.

 

Pandangan Imam Ali as merupakan gabungan antara egalitarianisme dan meritokrasi. Imam menghargai orisinalitas bagi masyarakat, tapi di sisi lain, beliau percaya bahwa upaya seseorang tidak boleh dinisbatkan kepada orang lain.

 

Jika kita membandingkan pandangan Imam Khomeini ra dengan sistem kapitalis dan komunis, maka dapat dipastikan Imam Khomeini menolak sistem kapitalis dan menentang kebijakan sosialis karena dua alasan.

 

Pertama, hal ini telah berubah menjadi kapitalisme negara, dan kedua, hal ini bertentangan dengan hak milik pribadi. Penentangan Imam Khomeini terhadap sistem kapitalis bukan karena konsep kepemilikan pribadi, melainkan karena orisinalitas kapital yang mendominasi segalanya.

 

Pandangan Imam Khomeini ra terhadap kaum terpinggirkan bukan sekedar pandangan politik atau ekonomi saja, melainkan pandangan yang lebih mendasar. Pandangan religius. Dalam pandangan Imam Khomeini, memperhatikan hak-hak masyarakat bawah berarti memperhatikan hak-hak Allah.

 

Menurut Imam, Islam telah mengatakan bahwa kita harus memperhatikan orang miskin. Pembangunan harus diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang beruntung. Menurut Imam Khomeini ra, hal itu dimulai dari orang-orang yang kekurangan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa berbagai golongan tidak boleh menindas golongan bawah, hak-hak masyarakat miskin dan yang membutuhkan harus diberikan.

 

Dari sudut pandang Imam Khomeini, negara di Republik Islam harus mengajukan tuntutan hukum dan menentang penindasan terhadap kelompok yang dirugikan.

 

Imam Khomeini ra mengatakan bahwa menghilangkan kemiskinan adalah adat kami. Dari sudut pandang Imam, jika seseorang benar-benar ingin melawan penindasan Amerika, ia harus melakukan pengentasan kemiskinan.(sl)

 

Sumber: Parstoday Indonesia

 

Minggu, 02 Juni 2024

Periode Kehidupan Imam Mahdi (2)

 



Peran Imam Mahdi as Dimasa Keghaiban Bagi Umat Manusia

Selama lebih dari 200 tahun, para Imam Ahlul Bait as telah menyampaikan sebagian besar kebutuhan umat sepanjang masa keghaiban panjang tentang pengetahuan ilmu al-Quran dan sunnah kakek mereka Rasulullah Saw.

Begitu pula kebutuhan-kebutuhan yang dapat mewakili Islam secara keseluruhan sebagai agama yang suci, agama yang kokoh yang Allah perintahkan agar kita mengikutinya dan beramal sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya.

Islam sebagai tali pegangan yang kuat yang sekaligus sebagai aplikasi terhadap berpegangan kepada dua peninggalan Nabi Saw yang menjamin keselamatan dari kesesatan dan mati jahiliyah.

Peninggalan-peninggalan warisan para Imam as menjelaskan kaidah-kaidah serta landasan dasar interpretasi hukum Islam dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara umum yang diambil dari riwayat-riwayat untuk mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah Saw dan para Imam Ahlul Bait as.

Nabi Saw dan para Imam as memerintahkan para sahabat mereka untuk menjaga dan mencatatnya agar dapat dijadikan sumber, selain Al-Quran, untuk mengetahui seluruh hukum Islam yang dibutuhkan oleh umat, sampai masa kemunculan Imam Mahdi as.

Salah satu hasil penting yang diperoleh adalah dapat tercatatnya riwayat-riwayat mereka dari sahabat para Imam yang dikenal dengan "USHUL ARBA' MIAH". Kitab ini telah dikumpulkan pada masa sebelum Imam Mahdi as. Di dalam kitab tersebut termuat sejumlah besar riwayat dan nash-nash dari Nabi Muhammad Saw. (Man'u Tadwin al-Hadits, Asbabuhu wa Wanataiju, Sayid Ali Syahrestani hlm. 465-467 sub bab mengenai sejarah pencatatan hadis Nabawi menurut Ahlul Bait as).

Selama masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menyempurnakan segala sesuatu yang dibutuhkan umat pada masa keghaiban panjang nantinya, baik berupa pengetahuan-pengetahuan ataupun segala sesuatu yang dapat membantu pergerakan dan konsistensi umat di jalan lurus serta mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menjaga umat untuk tetap melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan.

Itulah tujuan umum dalam kehidupan beliau pada keghaiban panjang sebagaimana yang tercermin dalam risalah-risalah yang beliau keluarkan pada masa tersebut.

Penetapan Metode Perwakilan Dalam Masa Keghaiban Pendek

Pada masa keghaiban pendek, Imam Mahdi as menetapkan sejumlah orang dari sahabat yang setia dan terpercaya sebagai wakil beliau yang bergerak sesuai dengan izin dan perintah beliau. Para wakil itu menjadi penghubung Imam dengan pengikut beliau.

Kakek beliau, Imam Ali al-Hadi as telah mempersiapkan perwakilan ini untuk Imam Mahdi as. Begitu juga para Imam sebelumnya yaitu Imam Muhammad al-Jawad as dan diikuti oleh Imam Hasan Asykari as yang telah membentuk sistem perwakilan sebagai persiapan untuk keghaiban keturunan mereka.

Mereka menyatakan kepercayaan mereka pada sebagian sahabat mereka atau menyebut langsung para wakil mereka.

Imam Hasan Asykari as menyebutkan mengenai Utsman bin Said Amri, sebagai wakil beliau. Utsman ini juga sebelumnya adalah wakil dari ayahnya, Imam Ali al-Hadi as.

Kemudian Imam Hasan Asykari as juga menyatakan bahwa Utsman bin Said Amri adalah seorang wakil setelahnya bagi putra beliau, Imam Mahdi as.

Imam Hasan Asykari as berkata, "Abu Amr ini adalah orang yang dapat dipercaya, jujur, kepercayaan imam terdahulu, dan orang kepercayaanku semasa aku hidup dan setelah aku meninggal. Apa yang dia sampaikan pada kalian adalah ucapan dariku dan segala yang dia perintahkan pada kalian, sesungguhnya adalah perintah dariku". (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 215).

Syekh Shaduq menyebutkan dua belas orang para wakil Imam Mahdi as selama masa keghaiban pendek. Sayid Muhammad Sadr menambahkan enam orang lainnya berdasarkan bukti yang disebutkan dari sumber sejarah dan kitab-kitab ar-Rijal. (Tarikh Ghaybat ash-Shughra hlm.  609-628).

Imam Mahdi as bertanggung jawab langsung atas penetapan mereka dan mengeluarkan penjelasan dan tanda tangan mengenai hal ini. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 172-257).

Dalam masa keghaiban pendek ini, karena ketidakhadiran Imam Mahdi as, sistem perwakilan berbeda dengan sistem perwakilan pada masa sebelumya, dimana Imam hadir pada pertemuan dengan kaum mukmin, sehingga tidak dibutuhkan seorang wakil atau utusan tertentu yang mewakili beliau.

Pada masa keghaiban pendek, ketidakhadiran Imam menuntut adanya penentuan wakil agar dapat menjadi sentral rujukan orang-orang mukmin pada khususnya dan mereka yang sebelumnya telah terbiasa dengan wakil imam yang hanya satu orang.

Penentuan seorang wakil Imam ditentukan langsung oleh Imam dan disampaikan langsung oleh Imam, sebagaimana posisi wakil Imam pertama atau melalui wakil sebelumnya untuk menentukan wakil selanjutnya.

Para pembesar utama Syiah dan 4 sahabat utama yang menjadi wakil Imam Mahdi as, yang pertama adalah: 


1.    Utsman bin Said Amri (Umari) al-Asadi, yang sebelumnya menjadi wakil dari dua Imam sebelumnya yaitu Imam Ali al-Hadi as dan Imam Hasan al-Asykari as.

 

2.    Wakil Imam Mahdi as yang kedua adalah putra Utsman bin Said yaitu Muhammad Amr bin Utsman al-Asadi, wafat tahun 305 H.


3.  Wakil Imam yang ketiga adalah Al-Husein bin Ruh al-Naubakti, wafat tahun 320 H.


4.   Dan wakil terakhir Imam yang keempat adalah Ali bin Muhammad al-Samari, wafat 328/329 H.

Imam Mahdi as, bertanggung jawab mengawasi langsung atas para wakil ini dalam melaksanakan tugas-tugasnya melayani kaum mukmin, mewakili Imam, dalam segala hal yang berkaitan dengan keyakinan ataupun lainnya berdasakan pengetahuan yang berasal langsung dari Imam.

Syekh Thusi dalam Al-Ghaybah, menukil sebuah hadis yang meriwayatkan ketika wakil Imam yang ketiga, Husain bin Ruh menjawab pertanyaan seorang mukmin berkaitan dengan akidah, yaitu berkaitan dengan kesyahidan Imam Husain as.

Riwayat tersebut dinukil dari perawi Muhammad bin Ibrahim yang hadir dalam sebuah majelis pada saat wakil Imam ketiga Husain bin Ruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaum mukmin.

Muhammad bin Ibrahim bin Ishak berkata, "Aku kembali menjumpai Syekh Abu Qasim Husain bin Ruh keesokan harinya dan aku berkata pada diriku sendiri, "Apakah dia menyebutkan sesuatu pada kami kemarin dari dirinya sendiri?"

"Dia menegurku dan berkata, "Wahai Muhammad bin Ibrahim, jika diakhirkan dari langit dan burung-burung mematukiku atau angin yang kencang menerpaku, hal itu lebih aku sukai dibandingkan dengan aku berbicara agama berdasarkan pendapatku dan dari diriku sendiri".

"Sesungguhnya sesuatu yang aku sampaikan bersumber dari sumber yang asli dan aku mendengarnya dari al-Hujjah (al-Mahdi), semoga shalawat dan salam Allah tercurah padanya." (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 198-199).

Kondisi politik yang terjadi saat itu mengharuskan keghaiban Imam, dan tidak memungkinkan para wakil Imam untuk berbuat secara terang-terangan. Dengan demikian, syarat pertama untuk menjadi seorang utusan tertentu haruslah seseorang yang memiliki tingkatan puncak dalam kesetiaan, kejujuran, mampu menyembunyikan dan merahasiakan tempat keberadaan imam sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan terpilihnya Husain bin Ruh sebagai wakil Imam yang ketiga meskipun ada orang yang lebih pintar darinya diantara para sahabat. (Ghaybah, Syekh Thusi hlm. 240).

Imam Mahdi as menetapkan sistem perwakilan atau utusan khusus dalam masa keghaiban pendek, sebagai persiapan dan pembukaan agar orang-orang mukmin merujuk pada wakil umum Imam di masa keghaiban panjang. Hal ini telah ditetapkan dalam nash-nash syariat yang menentukan sifat-sifat umum bagi wakil umum Imam.

Imam juga memerintahkan umat untuk merujuk pada wakil umum beliau pada masa keghaiban panjang. Pengalaman empat wakil Imam yang khusus yang ditentukan oleh Imam di masa keghaiban pendek sebagai petunjuk kepada umat tentang legalitas merujuk kepada wakil beliau di masa keghaiban beliau. Dan sebagai contoh kepada umat bagaimana kualitas orang yang mengklaim sebagai wakil Imam pada masa keghaiban panjang sesuai dengan nash-nash syariat Islam sebagai persyaratan sebagai wakil Imam.

Para penguasa Bani Abbasiyah terus berupaya mencari Imam Mahdi as dalam masa keghaiban pendek ini. Dengan adanya berita-berita tentang keberadaan para wakil Imam ini, mereka pun mulai menyelidiki keberadaan mereka. Untuk itu Imam Mahdi as berperan aktif menjaga sistem perwakilan ini agar dapat berfungsi peran beliau dimasa keghaian pendek.

Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kafi, dari Husain bin Hasan Alawi yang berkata, "Seorang laki-laki dari Nadama Ruz Hasani dan orang terakhir yang bersamanya berkata kepadanya, "Dia adalah orang yang mengumpulkan harta-harta dan dia memiliki para wakil dan mereka menyebutkan seluruh nama para wakil ke seluruh penjuru".

Sampailah hal itu kepada Ubaidillah bin Sulaiman, seorang menteri. Ia berusaha menangkap mereka semua. Khalifah berkata, "Carilah di mana laki-laki itu".

"Ini adalah masalah yang berat", ujar Ubaidillah bin Sulaiman. "Kita akan menangkap para wakilnya".

Khalifah berkata, "Tidak, akan tetapi, ada diantara mereka sekelompok orang yang tidak mengenal harta sama sekali. Siapa yang diantara mereka memegang sesuatu, maka diberikan kepadanya".

"Kemudian Imam as memerintahkan seluruh wakil untuk tidak mengambil sesuatu apapun dari setiap orang, menolaknya dan berpura-pura bodoh".

Seorang laki-laki yang tidak dikenal berusaha menipu Muhammad bin Ahmad dan berkata, "Aku memiliki sejumlah harta dan aku ingin memberikannya pada Imam".

"Muhammad bin Ahmad berkata kepadanya, "Anda salah, saya tidak mengetahui apapun tentang hal ini".

Lelaki itu terus mendesak secara halus, namun Muhammad tetap pura-pura tidak tahu.

Penguasa terus mengirim mata-mata, namun para wakil Imam menolak apapun yang disodorkan kepada mereka". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Dari riwayat di atas dapat diketahui mengenai sejarah Imam Mahdi as pada masa keghaiban pendek, bahwa beliau tidak hanya berusaha mencegah gangguan penguasa Bani Abbas kepada para wakilnya, tetapi juga terhadap orang-orang mukmin.

Hal ini merupakan sebuah sunnah dari sejarah ayah-ayah mereka. Mereka berusaha melindungi orang-orang mukmin dan mencegah setiap gangguan sebatas yang mampu mereka lakukan.

Salah satu contoh perlindungan yang dilakukan oleh para Imam adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dalam al-Kafi yang disampaikan oleh Kulaini, "Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad yang berkata, "Dikeluarkan pelarangan untuk berziarah ke makam orang-orang Quraisy dan gua Hira".

Setelah beberapa bulan, Menteri Baqithai memanggil pembantu nya dan berkata, "Temui Bani Purat dan Barsiyin, katakan kepada mereka, "Jangan menziarahi makam orang-orang Quraisy, Khalifah telah memerintahkan untuk melenyapkan setiap orang yang berziarah atau memenjarakan nya". (Al-Kafi jil 1 hlm. 525).

Tujuan lainnya yang dilakukan oleh Imam untuk direalisasikan pada masa keghaiban pendek adalah menyingkap segala penyimpangan yang terjadi di kalangan umat Syiah diantaranya, tulisan paman Imam Mahdi as yaitu Ja'far bin Ali dan adanya wakil-wakil gadungan. Sejarah membuktikan keberhasilan Imam menyelesaikan masalah tersebut ditandai dengan berpaling nya para pengikut Imam Mahdi as dari hal tersebut dengan cepat sebelum berakhirnya masa keghaiban pendek.■