Sambil mikir tak habis pikir, kita bisa melihat bermacam cara ibadah yang dilakukan masyarakat Islam dalam kegiatan keberagamaan sehari-hari! Simpang siur dan campur aduk, masing-masing golongan mengklaim paling benar, semua mengaku berasal dari ajaran Nabi Saw. Kok bisa?
Bagaimana mungkin Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya ibadah yang sangat penting dengan berbagai cara yang berbeda? Pasti ada yang salah.
Jika kita telusuri dengan seksama, kita bisa melihat faktor utama munculnya perbedaan tersebut ada pada mata rantai perantara yang menyampaikan hadis-hadis dari Nabi Saw kepada kita.
Golongan Ahlus Sunnah merujuk kepada para Imam Mazhab panutan mereka, yang ternyata tidak bersambung ke Rasulullah Saw. Dari fakta sejarah kemunculan mazhab-mazhab yang empat itu, mereka muncul ratusan tahun setelah Rasulullah Saw wafat. Imam Hanafi wafat tahun 150 H, Imam Malik bin Anas wafat tahun 179 H, Imam Syafi'i wafat tahun 204 H, Imam Ahmad Hambal wafat tahun 241 H.
Di dalam kondisi membingungkan dengan merebaknya kesimpang-siuran ibadah di kalangan umat Islam, kita bisa telusuri benang merahnya, ternyata semua itu adalah warisan dari para khalifah penguasa yang bukan pewaris ilmu Nabi Saw.
Para penguasa ini merusak ajaran Islam Muhammad dengan membuat bid'ah-bid'ah baru yang akhirnya merasuki kehidupan beragama masyarakat Islam, dan gaungnya masih membekas sampai masa kini.
Kita teringat kata-kata Imam Ali bin Abu Thalib as:
"Bahkan bagaimana kamu dapat disesatkan sedangkan kerabat-kerabat Nabi Saw berada di antara kamu? Mereka itulah tonggak kebenaran, panji-panji agama, lidah-lidah yang selalu berkata benar!" (Nahjul Balaghah Khutbah 83).
Juga teringat wasiat Rasulullah Saw:
“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: "Kitab Allah dan Itrah, Ahlul Baitku".
Marilah kita perhatikan bahwa para Imam Ahlul Bait as menjaga diri dari semua perbedaan pendapat yang membingungkan dan memecah-belah umat Islam.
Artinya bahwa ajaran-ajaran para Imam Ahlul Bait (as) adalah berasal dari warisan Rasulullah Saw.
Terus, kapankah para Imam Ahlul Bait (as) mulai mengajarkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw kepada umat Islam?
Sesungguhnya, Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan Umat setelah Rasulullah Saw, bersama pengikut setia beliau secara konsisten terus mempraktekkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw, meskipun beliau as tersingkir dan dikucilkan oleh para khalifah penguasa dan kelompok pendukungnya.
Ketika Imam Ali as dibai'at sebagai khalifah ke empat, beliau tidak sempat memperbaiki kerusakan agama yang terlanjur berakar kuat mencengkeram masyarakat. Di masa kekhalifahan beliau yang singkat itu, beliau disibukkan dengan munculnya pemberontakan kelompok pembangkang.
Imam-imam Ahlul Bait (as) penerus beliau pun terus berada dalam tekanan para khalifah penguasa.
Baru pada masa akhir kekuasaan Bani Umayah, yang mulai goyah akibat pemberontakan umat Islam, tekanan dan intimidasi kepada para Imam Ahlul Bait (as) mulai longgar. Pada saat itulah mulai bersinar kembali ajaran Rasulullah Saw yang disebarkan oleh para Imam as.
Imam ke-5 Ahlul Bait yaitu Imam Muhamnad Al-Baqir as (56 -114 H) mulai mengajarkan ajaran Rasulullah Saw secara terbuka kepada umat Islam, yang kemudian diteruskan oleh Imam selanjutnya, yaitu Imam ke-6, Imam Ja'far Shadiq as (80 -148H).
Imam Muhammad al-Baqir as mengajarkan ilmu fikih kepada umat Islam di Madinah secara terbuka, setelah periode pengucilan penguasa kepada para Imam Ahlul Bait sebelumnya.
Menurut As-Suyuthi di dalam "Tadribur Rawi" mengatakan bahwa Nabi Saw sendiri telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh ilmu sebagaimana yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar.
Al-Hakam bin Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad al-Baqir as, ketika beliau as menjelaskah suatu masalah yang dipertentangkan oleh Al-Hakam.
Imam Baqir as mengeluarkan kitab tersebut dan menjelaskan kepada Al-Hakam sambil berkata, "Ini adalah tulisan tangan Ali bin Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah Saw dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah Saw".
Dengan begitu kelompok Syiah mengetahui dan meyakini betapa penyusunan ilmu hadis itu telah begitu rapinya dilakukan oleh Imam Ahlul Bait as sejak Nabi Saw masih hidup, bahkan atas perintah Nabi Saw sendiri.
Jadi, ketika kelompok Sunni, pengikut setia para khalifah (diluar Syiah Ahlul Bait as), kebingungan atas hilangnya hadis-hadis Nabi akibat ulah penguasa, ternyata para Imam Ahlul Bait as dan para pengikut setianya telah mengamankan hadis-hadis dalam kitab-kitab mereka.
"Abu Rafi'e" adalah Syiah Ali yang pertama kali mengumpulkan dan menyusun hadis berdasarkan bab per bab.
An-Najasyi di dalam "Asma' Mushannifisy Syiah" menjelaskan:
"Dan Abu Rafi'e, budak Rasulullah Saw mempunyai kitab "As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya". Lalu ia menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab, mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah.
An-Najasyi mengatakan bahwa, "Abu Rafi'e telah menjadi muslim lebih dulu di Mekah lalu hijrah ke Madinah dan ikut bersama Nabi Saw dalam banyak peperangan. Setelah Nabi Saw wafat Abu Rafi'e menjadi pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as.
Abu Rafi'e selalu ikut terjun dalam peperangan bersama Imam Ali as. Ketika Imam Ali as jadi khalifah, Abu Rafi'e dipercaya sebagai pemegang kunci Baitul Mal di Kufah.
Tetapi tidak lama, Abu Rafi'e meninggal pada tahun 35 H, di awal kekhalifahan Imam Ali as tersebut, sebagaimana kesaksian Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Jabatan sebagai pemegang kunci Baitul Mal diteruskan oleh anaknya yaitu Ali bin Abu Rafi'e, seorang tabi'in sahabat Imam Ali as.
Jadi, menurut ijma para ulama, tidak ada orang yang lebih dulu dari Abu Rafi'e dalam pengumpulan hadis dan menyusunnya secara bab per bab.
Yang paling utama dari fikih Ahlul Bait (as) adalah kesinambungannya secara langsung dengan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw adalah "thariqah" Imam-imam Ahlul Bait as yang telah Allah sucikan.
Rasulullah Saw sendiri menyatakan bahwa imam-imam Ahlul Bait as adalah bahtera keselamatan dan jalan keselamatan serta warisan kedua setelah Al-Qur'an yang harus menjadi pegangan umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis mutawatir dari Imam Muhammad Al-Baqir as.
Imam Baqir as berkata, "Kalau kami menyampaikan hadis berasal dari pikiran kami, pasti kami akan menjadi sesat seperti kaum-kaum sebelum kami. Hadis yang kami sampaikan berasal dari Tuhan kami yang disampaikan kepada Nabi-Nya, lalu oleh Nabi disampaikan kepada kami". (A'lamul Waras, hal 270).
Fikih Ahlul Bait Bersifat "Fleksibel"
Fikih Ahlul Bait as mengalir secara alami dengan kehidupan manusia, mengikuti perkembangan zaman, tidak membunuh kodrat dan fitrah manusia. Bergerak sesuai tuntutan zaman. Hukum-hukumnya tidak memberatkan dan tidak membahayakan.
Selaras dengan kepentingan semua tabiat manusia dan seimbang. Ini sangat mengagumkan para ahli hukum dan mereka mengakui bahwa fikih Ahlul Bait as memang orisinil.
Membuka Lebar-lebar Pintu Ijtihad
Salah satu ciri penting dari fikih Ahlul Bait adalah memberikan ruang kebebasan yang besar bagi ijtihad. Hal ini menunjukkan kedinamisan untuk menjadi solusi bagi problematika kehidupan masyarakat.
Fikih itu tidak statis terhadap apa yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Fikih memberi respon terhadap segala permasalahan manusia. Hal ini disadari betul oleh para ulama besar termasuk ulama lulusan Al-Azhar bahwa berapa pentingnya pintu Ijtihad yang telah digulirkan oleh ulama-ulama pengikut Ahlul Bait as bagi perkembangan fikih Islam.
Sayid Rasyid Ridha mengatakan, "Saya tidak melihat keuntungan apapun dengan meninggalkan dan menutup pintu ijtihad, yang banyak justru mudharatnya karena pengabaian terhadap peranan akal dan menutup jalan pengetahuan. Kaum muslimin yang meninggalkan ijtihad pada akhirnya akan meninggalkan ilmu seperti yang kita lihat sekarang ini". (Al-Wahdat al-Islamiyah, hal 99).
(Madrasah Ahlul Bait).
Semoga membuka wawasan dan mencerahkan hati pencari kebenaran. (Hasan Husein)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar