Empat puluh enam tahun telah berlalu sejak Revolusi Islam Iran mengguncang dunia. Tapi satu hal tetap sama: Iran tak pernah mau tunduk pada Amerika Serikat. Bagi sebagian orang, sikap ini tampak keras kepala. Tapi bagi bangsa yang telah menempuh jalan panjang menuju kemerdekaan sejati, penolakan terhadap hegemoni bukan sekadar pilihan politik, ia adalah bagian dari iman.
Sejak awal berdirinya Republik Islam, Iran menegaskan semboyan: “La Syarqiyyah wa La Gharbiyyah, Jomhuriy-e Eslami” — tidak Timur, tidak Barat, hanya Republik Islam. Kalimat itu bukan slogan kosong. Ia menandai kelahiran sebuah bangsa yang menolak tunduk pada dua poros kekuasaan dunia: kapitalisme Barat dan komunisme Timur. Dalam pandangan Imam Khomeini, menundukkan diri pada kekuatan selain Tuhan adalah bentuk syirik politik. Maka, menolak Amerika bukan sekadar perlawanan terhadap imperialisme, melainkan penegasan tauhid dalam ranah sosial dan politik.
Sejarah menjadi saksi bahwa kecurigaan Iran terhadap Barat bukan tanpa dasar. Pada tahun 1953, CIA bersama intelijen Inggris menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh karena ia berani menasionalisasi minyak Iran. Kudeta itu mengembalikan kekuasaan Shah yang pro-Amerika, dan sejak saat itu, rakyat Iran hidup di bawah bayang-bayang dominasi asing, hingga mereka bangkit dalam revolusi 1979. Karena itu, bagi rakyat Iran, tunduk kembali pada Amerika berarti mengkhianati darah para syahid yang menumbangkan tirani.
Amerika berulang kali berusaha menaklukkan Iran melalui sanksi ekonomi, sabotase, perang informasi, dan tekanan diplomatik. Tapi semakin ditekan, Iran semakin menemukan jati dirinya. Dari embargo lahirlah “ekonomi perlawanan”, dari isolasi muncul “politik ketahanan”, dan dari ancaman justru tumbuh solidaritas baru di seluruh kawasan. Hari ini, Iran berdiri sebagai pusat poros perlawanan yang melawan pendudukan Israel dan hegemoni Amerika di Timur Tengah.
Di balik semua itu, ada satu prinsip yang tak tergoyahkan: ‘izzah, kemuliaan. Bagi bangsa Iran, hidup miskin tapi merdeka lebih terhormat daripada hidup makmur di bawah perintah musuh. Imam Khamenei sering mengulang kalimat Imam Ali: “Kematian dalam kemuliaan lebih baik daripada hidup dalam kehinaan.” Karena itulah, meski rakyat Iran menghadapi kesulitan akibat sanksi, mereka tetap menolak kompromi yang menggadaikan kedaulatan dan kehormatan nasional.
Program nuklir Iran, yang sering dijadikan alasan tekanan oleh Barat, hanyalah simbol dari semangat itu: kemandirian ilmiah dan hak untuk maju tanpa izin siapa pun. Amerika menuntut agar Iran berhenti, tapi bagaimana mungkin bangsa yang telah memerdekakan dirinya rela dijadikan pengikut dalam sains dan teknologi?
Iran memang bisa memilih jalan mudah: berdamai dengan Washington, menormalisasi hubungan dengan Israel, dan membuka pasar untuk dolar. Tapi Iran tahu, harga dari “perdamaian” itu adalah kehilangan jiwa revolusinya. Maka, mereka memilih jalan yang sulit tapi bermartabat, jalan yang menegakkan kepala di hadapan para penindas.
Sampai hari ini, Iran tetap menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang berdiri di luar bayang-bayang Amerika. Negara yang tidak membeli keamanan dari Washington, tapi membangun ketahanan dari iman, ilmu, dan pengorbanan. Di dunia yang semakin tunduk pada kekuatan uang dan kekuasaan, Iran mengingatkan kita bahwa ada bangsa yang masih percaya pada nilai, bukan sekadar pada laba.
Menolak tunduk pada Amerika, bagi Iran, bukan tentang kebencian. Ini tentang kehormatan, tentang martabat, tentang mempertahankan hak setiap bangsa untuk berdiri tegak tanpa harus menunduk. Dan selama prinsip itu hidup, selama masih ada mustadhafin di bumi, Iran akan tetap berkata, "Kami tidak tunduk. Kami berdiri." (Azzaqqiyah Zahra)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar