Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Jumat, 03 Mei 2024

Kesalahpahaman: Benarkah Ali bin Abi Thalib Sahabat Utama?


Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 281-286, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.


Buku Panduan MUI halaman 22 menyatakan, “Sebab kelompok setia Syiah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakar dan Umar bin Al-Khatthab.”

Tanggapan:

Benarkah sangkaan yang mengatakan bahwa sahabat dan tabi’in tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakar dan Umar? Jawabannya akan segera diperoleh pada beberapa hadis berikut ini:


1. Imam Bukhari (w. 256 H/870 M) meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Ali, “Engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.”[1]

 

2. Al-Suyuthi (w. 911 H/1505 M) dalam Tarikh Al-Khulafa, menyatakan:

 

Pasal pertama, “Hadis-hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib, Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada yang diriwayatkan tentang keutamaan untuk seorang sahabat Rasulullah Saw sebagaimana yang telah diriwayatkan untuk Ali ra.”

 

Pasal kedua, “Tentang keutamaan (Ali) kw. Keutamaan tersebut banyak sekali, agung dan masyhur sehingga Imam Ahmad berkata, “Tidak pernah ada riwayat tentang keutamaan seorang pun sebagaimana riwayat tentang (keutamaan) Ali.”

 

Ismail Al-Qadhi, Al-Nasa’i dan Abu Ali Al-Naisaburi berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan tentang hak seseorang dari sahabat dengan sanad-sanad yang baik, yang lebih banyak dari pada riwayat yang datang tentang Ali.”[2]

 

3.  Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w. 852 H/1448 M) dalam kitab Fath Al-Bari, menyebutkan beberapa hadis terkait pintu Ali menuju masjid Nabi. Di antaranya adalah:

 

a.    Hadis Sa’ad bin Abi Waqqash, “Rasulullah Saw memerintahkan kami menutup pintu-pintu menuju masjid dan membiarkan pintu Ali.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i dengan sanad-sanad yang kuat. Sedangkan Al-Thabarani meriwayatkan dalam (Mu’jam, pen) Al-Ausath dengan para perawi yang tsiqah, “Maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menutup pintu-pintu kami. Rasulullah bersabda, “Bukanlah aku yang menutupnya, tetapi Allah.”[3]

 

b.    Dari Zaid bin Arqam, “Di antara sahabat ada yang memiliki pintu menuju masjid, maka Rasulullah Saw bersabda, “Tutuplah pintu-pintu ini kecuali pintu Ali.” Maka mereka mengeluhkannya, Rasulullah pun bersabda, “Demi Allah, aku tidaklah menutup atau membuka sesuatu, namun aku diperintahkan atas sesuatu, maka aku mengikutinya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Nasa’i dan Al-Hakim dengan para perawi yang seluruhnya tsiqah.[4]

 

c.  Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah Saw memerintahkan (menutup, pen) pintu-pintu masjid, maka aku menutupnya kecuali pintu Ali.” Dalam riwayat lain, “Dan memerintahkan menutup pintu selain pintu Ali. Beliau pernah masuk masjid dalam keadaan junub melalui pintu tersebut.” Kedua hadis tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Nasa’i dengan para perawi tsiqah.

 

d. Dari Jabir bin Samurah, “Rasulullah Saw memerintahkan menutup setiap pintu kecuali pintu Ali. Suatu kali beliau melaluinya dalam keadaan junub.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Thabarani.

 

e. Dari Ibnu Umar, “Kami di zaman Rasulullah Saw berkata, sebaik-baik manusia adalah Rasulullah, kemudian Abu Bakar dan Umar. Namun Ali dianugerahi tiga kelebihan yang seandainya aku memperoleh salah satu dari ketiganya, maka lebih aku cintai dari segala kenikmatan. Yaitu, Rasulullah Saw menikahkannya dengan puterinya dan memiliki anak darinya. Semua pintu masjid ditutup kecuali pintunya. Dan ia diberikan panji pada perang Khaibar.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan. Sedangkan Al-Nasa’i meriwayatkannya melalui jalur Al-‘Ala’ bin Arrar, “Maka aku berkata kepada Ibnu Umar, “Ceritakan kepadaku tentang Ali dan Utsman!” Maka Ibnu Umar berkata, “Ada pun Ali tidak perlu lagi sesorang menanyakan tentang dirinya, cukup anda perhatikan kedudukannya di sisi Rasulullah Saw, karena beliau Saw telah menutup semua pintu rumah kami yang tembus ke Masjid Nabi dan membiarkan pintu Ali.” Seluruh perawinya adalah perawi perigkat shahih selain Al-‘Ala’ yang ditsiqahkan oleh Yahya bin Ma’in dan selainnya.

 

Semua hadis tersebut saling menguatkan satu sama lain dan setiap jalur periwayatan baik sebagai hujjah mengingat banyaknya hadis-hadis tersebut.[5]

 

4.    Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Al-Tirmidzi (w. 279 H/892 M) dalam Jami’ Al-Tirmidzi meriwayatkan hadis yang sama:

 

"Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya, ia berkata, “Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan Sa’ad (untuk mencaci Ali bin Abi Thalib). Apa yang mencegah anda dari mencaci Abu Turab (Ali bin Abi Thalib, pen)?” Sa’ad menjawab, “Ada tiga hal yang aku pernah dengar dari Rasulullah Saw yang membuatku tidak mungkin mencacinya. Andaikan salah satu dari tiga hal itu aku miliki, maka itu lebih aku sukai dari pada seekor unta merah;

 

Pertama, “Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ali untuk menggantikannya memimpin dalam sebagian perang. Maka Ali bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, engkau menjadikanku pemimpin para wanita dan anak-anak kecil?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada kenabian setelahku.”

 

Kedua, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda pada perang Khaibar, “Niscaya aku berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya. Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Panggilkan Ali.” Lalu Ali datang menemui beliau dalam keadaan sedang sakit mata, kemudian Nabi memberi ludah pada matanya dan menyerahkan panji kepadanya, maka Allah memberikan kemenangan di tangannya.”

 

Ketiga, “Pada saat turun ayat, “Maka, katakanlah (kepada mereka): “Mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian,”[6] kemudian Rasul Saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Lalu beliau berdo’a, “Ya Allah, merekalah keluargaku.”[7]

 

5.  Ibnu Hajar dalam kitab Fath Al-Bari berkata, “Sesungguhnya Ali mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya adalah wujud hakikat mahabbah (kecintaan). Karena jika tidak, maka setiap muslim bersekutu dengan Ali pada sifat ini. Dalam hadis ini disinyalir firman Allah Swt dalam QS. Ali Imran [3]: 31 “Katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian”. Seakan-akan beliau Saw mengisyaratkan bahwa Ali sangat sempurna dalam mengikuti Rasulullah Saw, sehingga layak mendapatkan kecintaan dari Allah Swt. Oleh karena itu, kecintaan terhadap Ali adalah tanda keimanan, dan kebencian kepadanya adalah tanda kemunafikan.”[8]

 

Suatu hal yang penting yang tidak dapat dipungkiri oleh ulama mana pun, bahkan termasuk Ibnu Taimiyah harus mengakui bahwa Ali adalah jiwa Nabi Saw. Sebagaimana tertera dalam QS. Ali Imran [3]: 61 (ayat Mubahalah).

 

6.   Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Jawabu Shahih liman Baddala Din Al-Masih menyatakan, “Telah ditetapkan dalam kitab-kitab shahih tentang hadis datangnya utusan Najran yang terdapat dalam Bukhari, Muslim dari Hudzaifah dan telah dikeluarkan oleh Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash yang berkata, “Ketika turun ayat ini, “Maka katakanlah, marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian dan diri-diri kami…” Rasulullah Saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein seraya bersabda, “Ya Allah, merekalah keluargaku.”

 

Setelah itu Ibnu Taimiyah mengutip dalam catatan kaki halaman tersebut bahwa Ibnu Jarir Al-Thabari telah meriwayatkan hadis tersebut dalam tafsirnya (Tafsir Al-Thabari yang dipuji keshahihannya oleh Ibnu Taimiyah) dari jalur periwayatan yang banyak ketika menafsirkan QS. Ali Imran [3]: 61.[9]

 

7. Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H/850 M) dalam kitab Al-Mushannaf meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, “Ketika Rasulullah Saw menaklukkan kota Mekah, beliau pergi ke Thaif… kemudian beliau Saw bersabda, “Wahai manusia, sesunguhnya aku akan meninggalkan kalian, maka aku berwasiat kepada kalian tentang Itrah-ku sebagai kebaikan, dan sesungguhnya telah dijanjikan untuk kalian Haudh, demi yang jiwaku di tangan-Nya supaya mendirikan shalat, menunaikan zakat, atau aku utus kepada mereka seorang dariku atau yang seperti diriku… maka manusia mengira bahwa orang itu adalah Abu Bakar atau Umar, kemudian beliau Saw memegang tangan Ali seraya berkata, “Ini”.[10]

 

Riwayat tentang kedudukan Ali di sisi Rasul Saw seperti, “Kedudukan Harun di sisi Musa,” juga disampaikan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Jami’ Al-Shahih, yang ditahkik oleh Syuaib Arnauth, “Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”[11]

Hadis ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa dari segi kenabian-lah yang membedakan antara kedudukan Rasulullah Saw dengan Ali bin Abi Thalib, sebab itu di penghujung khutbahnya Nabi Saw menegaskan, “hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”

Lebih jelasnya kita dapat melihat ayat Al-Qur’an bagaimana posisi Harun di sisi Musa yang nantinya kita dapat menilai bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah Saw.

“Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku.” (QS. Thaha [20]: 29-32).

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Harun merupakan wazir dan saudara Musa as. Sementara di dalam hadis disebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai wazir dan saudara Rasulullah Saw.

Oleh karena itu, jika Allah Swt meneguhkan kekuatan Musa as dengan Harun as dan menyertakan beliau dalam urusannya, maka Allah Swt juga meneguhkan kekuatan Rasulullah Saw dengan Ali bin Abi Thalib dan menyertakan beliau dalam urusannya.

Sebagai tambahan, sesungguhnya Harun as merupakan orang yang paling alim dari kaum Musa as, maka begitu pula Ali bin Abi Thalib adalah yang paling alim dari umat Rasulullah Saw.

Berdasarkan semua kesaksian di atas sangatlah sulit untuk diasumsikan bahwa para sahabat dan tabi’in tidak memahami dan meyakini akan keutamaan Ali bin Abi Thalib atas para sahabat lainnya.■



[1] Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari, tahkik Shidqi Jamil Al-‘Atthar, h. 1038, hadis 4251, Kitab Al-Maghazi, Bab Umrah Al-Qadha’, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000.

[2] Jalal Al-Din Abdul Rahman Al-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, h. 157, cet. 1, Dar Ibn Hazm, Beirut, Lebanon, 2003 M (1424 H).

[3] Lihat Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, juz 3, h. 98-9, hadis 1511, cet. 1, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 1995 M (1416 H). Al-Nasa’i, Khasais Amir Al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib ra, h. 71, hadis 41 dan sebelumnya, tahkik Muhammad Al-Kazhim, cet. 1, Majma’ Ihya’ Al-Tsaqafah Al-Islamiyyah, Qom, Iran, 1419 HQ. Al-Thabarani, Mu’jam Al-Awsath, juz 4, h. 186, hadis 3930, Dar Al-Haramain, Kairo, Mesir, 1995 M (1415 H).

[4] Lihat Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, juz 32, h. 41, hadis 19287, cet. 1, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 1995 M (1416 H).

[5] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Imam Ahmad bin Ali, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, juz 7, h. 18, tahkik Abd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyyah, Riyadh, Saudi Arabia, 2001 M (1421 H).

[6] QS. Ali Imran [3]: 61. Ayat ini disebut sebagai ayat Mubahalah. Para ulama sepakat bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa Mubahalah. Yaitu ketika para pendeta Nasrani dari Bani Najran tidak mau menerima kebenaran agama Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah setelah diberikan banyak hujjah terhadap mereka. Lalu Allah memerintahkan Rasulullah bermubahalah (minta laknat bagi yang berdusta) di antara Rasulullah dan para pendeta tersebut. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah mengajak Hasan dan Husein sebagai ‘Abna ana (anak-anak kita), Fatimah sebagai Nisa’ ana (wanita-wanita kita) dan Rasulullah sendiri bersama Ali sebagai ‘Anfusana (jiwa-jiwa kita).

[7] Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi Al-Nisaburi, Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib, juz 2, h. 1198, hadis 6113, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2003 M (1424 H). Al-Tirmidzi, Jami’ Al-Tirmidzi, h. 582, Bab Fadha’il Ali ibn Abi Thalib, hadis 3724, Bait Al-Afkar Al-Dawliyyah, Riyadh, Saudi Arabia, 1999 M. Bandingkan dengan riwayat yang terputus oleh Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, h. 907-8, hadis 3701, 3702, dan 3706, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000 M.

[8] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, juz 7, h. 88.

[9] Ibnu Taimiyah, Syaikh Al-Islam Abu Al-Abbas Taqiy Al-Din Ahmad bin Abd Al-Halim Al-Harani, Al-Jawab Al-Shahih liman Baddala Din Al-Masih, juz 1, h. 197, cet. 2, Dar Al-‘Ashimah, Riyadh, Saudi Arabia, 1999 M (1419 H).

[10] Ibnu Abi Syaibah, Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim, Al-Mushannaf, juz 11, h. 142, cet. 1, Maktabah Al-Rusyd, Riyadh, Saudi Arabia, 2004 M (1425 H).

[11] Al-Jami’ Al-Shahih Al-Bukhari, juz 3, h. 172 dan 433, cet. 1, Al-Risalah Al-A’lamiyah, Beirut, Lebanon, 2011. Hadis ini juga diriwayatkan oleh beberapa ahli hadis, diantaranya Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih-nya, juz 2, h. 1198-1199, entri hadis 6111-6115 dalam kitab Fadhail Al-Shahabah, Bab Fadhail Ali ibn Abi Thalib. Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Al-Musnad, juz 1, h. 97, 118 dan 119 dalam pembahasan Tasmiyah Al-Husain, Nasir bin Muhammad Al-Samarqandi dalam kitab Al-Majalis, Muhammad bin Abdurahman Al-Dzahabi dalam kitabnya Al-Riyadh Al-Nadhrah, Ali Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanz Al-‘Ummal. ‘Allamah Ibnu Shabbagh Al-Maliki dalam Al-Fushul Al-Muhimmah fi Ma’rifah Al-Aimmah. Muhibbudin Al-Thabari dalam kitab Dzakha’ir Al-Uqba. Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ Al-Mawaddah. Muwaffiq bin Ahmad Al-Khawarizmi dalam kitab Al-Manaqib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar