Referensi: Tim Ahlul Bait
Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 307-308, penerbit DPP Ahlul Bait
Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.
Di dalam buku Panduan MUI halaman 54 menyatakan: “Sebagai bentuk taqarub, tidak sedikit kitab Syiah yang mengemas pelaknatan Sahabat dalam bentuk do’a. Salah satunya adalah “Do’a Dua Berhala Quraisy” dalam kitab Al-Mishbah yang ditulis oleh Syekh al-Kaf’ami. Do’a yang ditujukan melaknat Abu Bakar dan Umar ini diyakini memiliki derajat yang tinggi dan merupakan zikir yang mulia. Bahkan disebutkan pahalanya, jika dibaca saat sujud syukur, seperti para pemanah yang menyertai Nabi Saw pada perang Badar, Uhud dan Hunain, dengan satu juta anak panah.” (Catatan kaki 62 pada Buku Panduan MUI: “Lihat Syekh al-Kaf’ami, al-Mishbah fi al-Ad’iyat wa al-Shalawat wa al-Ziyarat, hal. 658-662”).
Tanggapan:
Pertama, riwayat yang dikutip dalam kitab Al-Mishbah, lagi-lagi adalah sebuah riwayat yang tidak memiliki arti apa pun mengingat riwayat tersebut adalah mursal, yaitu tidak memiliki rangkaian sanad yang bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menilai kebenarannya. Selain itu, do’a ini tidak popular di kalangan Syiah sendiri, sehingga sama sekali tidak digunakan dalam tradisi Syiah pada umumnya.
Kedua, yang dimaksud oleh sebagian ulama irfan/tasawuf bahwa kedua berhala Quraisy bukanlah orang/person, namun al-fahsya’ (kekejian) dan al-munkar (kemungkaran) juga al-jibti dan al-thagut sebagai simbol yang melahirkan kerusakan-kerusakan.[1] Di Kalangan irfan/sufi, penggunaan metafora adalah suatu hal biasa yang dikenal istillah sirr atau asrar dalam suatu do’a atau kalimat, seperti yang lazim digunakan di Indonesia sebelum membaca Al-Fatihah diawali dengan ucapan bi sirr Al-Fatihah.■
[1] Syaikh Al-Kaf’ami, Al-Mishbah fi
Al-Ad’iyah wa Al-Shalawat wa Al-Ziyarat wa Al-Ahraz wa Al-‘Awdzat, h. 731,
cet. 1, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 1994 M (1414 H).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar