Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 04 Mei 2024

Kesalahpahaman: Benarkah Syiah Bersifat Politis?

 


Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 286-289, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Di dalam buku Panduan MUI halaman 22 menyatakan: “Istilah Syiah pada era kekhalifahan Ali hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syiah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Muawiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang.”

Tanggapan:

Benarkah sangkaan dan anggapan tersebut di atas? Bahwa pembelaan dan dukungan kepada Ali bin Abi Thalib oleh para sahabat hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik semata dan tanpa memiliki sandaran akidah di dalamnya? Jawaban terhadap asumsi di atas akan didapati jawabannya pada keterangan beberapa hadis di bawah ini:


1. Imam Muslim dalam Shahih-nya, Al-Nasa’i dalam Al-Sunan Al-Kubra, dan Al-Tirmidzi dalam Jami’ Al-Tirmidzi mencatat sebuah hadis dari Zir, bahwa Ali berkata, “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan menciptakan manusia, sesungguhnya jaminan dari Nabi Saw kepada aku adalah tidak ada yang mencintaiku kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali seorang munafik.”[1]

 

Jika kita perhatikan pada pernyataan di atas bahwa istilah “Syiah” tidak ada kaitannya dengan akidah, lantas apa yang dapat kita pahami dari kata “mukmin” yang disabdakan oleh Rasulullah Saw bagi pecinta Ali bin Abi Thalib?

 

2. Ibnu Hibban mencatat dalam Shahih-nya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya, Ibnu Al-Maghazili (w. 483 H/1090 M) dalam Munaqib-nya, Al-Suyuti dalam Jam’ Al-Jawami-nya, dan Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Al-Shahihah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak membenci kami Ahlul Bait kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”[2]

 

3.  Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak-nya, hadis dari Abu Tsabit maula Abu Dzar, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga menyusulku di telaga.”[3]

 

Al-Dzahabi mengomentari hadis ini, “Shahih. Abu Sa’id ‘Uqaisha’ (salah satu perawi) seorang yang tsiqah dan diikuti.”

 

Jika Ali dipadankan dengan Al-Qur’an, maka bagaimana mungkin bisa Syiah yang pada masa itu hanya mengikuti Ali sebagai kepentingan politik semata?

 

4.   Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitsami Al-Syafi’i (w. 974 H/1567 M) mengutip hadis Nabi Muhammad Saw yang mengatakan, “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, seorang hamba tidak dikatakan beriman kepadaku hingga ia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga dia mencintai keluargaku. Aku memerangi orang yang memerangi mereka (keluargaku), dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan mereka, dan memusuhi orang yang memusuhi mereka. Hati-hatilah kalian, barang siapa menyakiti kerabatku (keluarga) sungguh dia telah menyakitiku, dan barang siapa telah menyakitiku berarti telah menyakiti Allah Ta’ala.”[4]

 

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah benarkah anggapan sebagian mereka yang berkata bahwa mencintai keluarga Nabi tidak memiliki kaitan dan hubungan simetris dengan persoalan akidah? Sementara dalam riwayat ini Rasulullah secara tegas mengatakan, “Seorang hamba tidak dikatakan beriman hingga dia mencintaiku, dan tidak mencintaiku hingga ia mencintai keluargaku…”

Keshahihan hadis tersebut dan yang senada dengannya tidaklah bisa dibuktikan dalam literatur Syiah semata, namun juga bisa ditelaah dalam beberapa referensi Ahlus Sunnah, seperti:

 

1.    Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan, “Ali berkata, “Demi Allah, diantara sumpah Rasulullah Saw kepadaku ialah, “Sesungguhnya yang membenciku hanyalah seorang munafik dan yang mencintaiku hanyalah seorang mukmin.”[5]

 

Pentahkik kitab berkata, “Sanadnya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim selain Adi bin Tsabit.”

 

2.    Ahmad bin Hanbal dalam dalam kitab Fadhail  Al-Shahabah, tahkik Washiyullah bin Muhammad Abbasi menyampaikan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Sesungguhnya kami mengetahui orang-orang munafik kaum Anshar melalui kebencian mereka kepada Ali.”[6]

 

Pentakhik berkata, “Sanadnya shahih”.

 

3.    Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tarikh Madinah Dimasyg, secara panjang lebar meriwayatkan ratusan hadis dalam satu jilid khusus tentang Imam Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya.

 

4.  Ali bin Muhammad Al-Himyari (w. 323 H/935 M) menyatakan dalam kitab Juz-u bahwa Harun bin Ishaq dari Sufyan bin ‘Uyainah dari Zuhri dari Yazid bin Khushaifah dari Busr bin Said dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Tidaklah kami mengetahui orang-orang munafik pada masa Rasulullah Saw melainkan dengan kebenciannya kepada Ali.”[7]


Pandangan Ulama Rijal Terhadap Para Perawi Hadis di Atas

 

1.    Harun bin Ishaq

 

Al-Dzahabi dalam Al-Kashif menyebutkan, “Harun bin Ishaq Al-Himdani Al-Kufi seorang yang hafiz. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibnu ‘Uyainah dan Mu’tamar. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Al-Muhamili meriwayatkan hadis dari beliau.Dia seorang yang tsiqah dan ahli ibadah yang wafat pada 258 H.”[8]

 

2.    Sufyan bin ‘Uyainah

 

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Taqrib Al-Tahdzib menyebutkan, “Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi Imran Maimun Al-Hilali, yaitu Abu Muhammad Al-Kufi kemudian Al-Makki. “Seorang yang tsiqah, hafiz, faqih dan imam hujjah, hanya saja hafalannya berubah. Boleh jadi dia mengelabui riwayat namun dari orang yang tsiqah…”[9]

 

3.    Muhammad bin Muslim Al-Zuhri

 

Al-Dzahabi dalam kitab Al-Kasyif menyatakan, “Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Al-Zuhri Abu Bakar. Dia Salah satu yang paling berpengetahuan.”[10]

 

Sementara Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutlkan dalam kitabnya Taqrib Al-Tahdzib, “Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab Al-Qurasyi, Al-Zuhri dan kunyahnya Abu Bakar. Beliau adalah seorang yang faqih, hafiz, disepakati kemuliaan dan ketaqwaannya. Beliau salah seorang tokoh utama dalam rangkaian hadis (thabaqat) keempat.”[11]

 

4.    Yazid bin Khusaifah

 

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Taqrib Al-Tahdzib menyatakan, “Yazid bin Abdullah bin Khusaifah adalah anak Abdullah yang dinasabkan kepada kakeknya. Dia seorang yang tsiqah.”[12]

 

5.    Busr bin Said

 

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Taqrib Al-Tahdzib menyatakan, “Busr bin Said Al-Madani seorang ahli ibadah. Sahaya Ibnu Al-Hadrami. Dia seorang tsiqah yang terhormat.”[13]

 

Sementara Al-Dzahabi dalam Al-Kasyif menyatakan, “Busr bin Sa’id Al-Madani adalah seorang yang zuhud. Beliau meriwayatkan hadis dari Zaid, Abu Hurairah, Sa’ad. Muhaddis yang meriwayatkan dari beliau adalah dua orang anak Al-‘Asyajj, Zaid bin Muslim, dan banyak lagi. Wafat pada tahun 100 tanpa meninggalkan warisan sedikit pun.”[14]

 



[1] Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, op. cit., h.62, hadis 144; Al-Nasa’i, kitab Al-Sunan Al-Kubra, juz 7, h. 312, hadis 8097, cet. 1, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 2001 M (1421 H); Al-Tirmidzi, Jami’ Al-Tirmidzi, h. 583, hadis 3736, cet. 1, Bait Al-Afkar, Riyadh, Saudi Arabia, 1999 M.

[2] Al-Albani, Al-Ta’liqat Al-Hisan ‘ala Shahih Ibnu Hibban, juz 10, h. 100, hadis 6939, cet. 1, Dar Bawazir, Jeddah, Saudi Arabia, 2003 M (1424 H); Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahihain, juz 3, h. 162, hadis 4717, kitab Ma’rifah Al-Shahabah, bab Manaqib Ahl Rasulullah Saw, cet. 2, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2002 M (1422 H); Ibnu Al-Maghazili, Manaqib Amir Al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib, h. 102, hadis 181, Dar Maktabah Al-Hayah, Beirut, Lebanon, 1980 M (1400 H); Al-Suyuthi, Jam’ Al-Jawami, j. 10, h. 604, hadis 24124, Dar Al-Sa’adah, Al-Azhar Al-Syarif, Kairo, Mesir, 2005 M (1426 H); Al-Albani, Silsilah Al-Hadits Al-Shahihah, j. 5, h. 643, bab Haram Membenci Ahlul Bait, hadis 2488, cet. 1, Maktabah Al-Ma’Arif, Riyadh, Saudi Arabia, 2002 M (1422 H).

[3] Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahihain, juz 3, h. 134, hadis 4628, kitab Ma’rifah Al-Shahabah, bab fi Dzikr Islam Amir Al-Mukminin Ali ibn Abi Thalib ra, cet. 2, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2002 M (1422 H).

[4] Al-Haitsami, Syihab Al-Din Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Syai’i, Al-Minah Al-Makkiyyah fi Syarh Al-Hamziyyah, h. 531-532, cet. 2, Dar Al-Minhaj, 2005 M (1426 H). Bandingkan Al-Albani, Al-Ta’liqat Al-Hisan ‘ala Shahih Ibn Hibban, juz 10, h.100, hadis 6939, cet. Dar Bawazir, Jeddah, Saudi Arabia, 2003 M (1424 H).

[5] Ahmad bin Hanbal, Musnad, juz 2, h. 71, hadis 642.

[6] Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Fadhail Al-Shahabah, juz 2, h. 579, entri 979, cet. 1, Dar Al-‘Ilm, Jami’ah Umm Al-Qura, Mekkah, Saudi Arabia, 1983 M (1403 H).

[7] Al-Himyari, Abi bin Muhammad, Juz-u Ali bin Muhammad Al-Himyari, h. 34-35, hadis 38, cet. 1, Dar Al-Thahawi, Riyadh, Saudi Arabia, 1413 H.

[8] Al-Dzahabi, Syams Al-Din Muhammad bin Ahmad bin Utsman, Al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lahu Riwayah fi Al-Kutub Al-Sittah, juz 2, h.329, entri 5902, Dar Al-Hadits, Kairo, Mesir, 2008 M.

[9] Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani, Taqrib Al-Tahdzib, h. 395, entri 2464, cet. 1, Dar Al-‘Ashimah, Riyadh, Saudi Arabia, TT.

[10] Al-Dzahabi, Al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lahu Riwayah fi Al-Kutub Al-Sittah, j. 2, h. 219, entri 5152.

[11] Al-‘Asqalani, Taqrib Al-Tahdzib, h. 896, entri 6336.

[12] Ibid, h. 1077, entri 7789.

[13] Ibid, h. 166, entri 782.

[14] Al-Dzahabi, Al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lahu Riwayah fi Al-Kutub Al-Sittah, j. 1, h. 266, entri 561.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar