Referensi: Tim Ahlul Bait
Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 274-278, penerbit DPP Ahlul Bait
Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.
Buku Panduan MUI halaman 21 menyebutkan, “Ada yang menganggap Syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan, yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah.”
Tanggapan:
Anggapan tersebut di atas bukan hanya tidak benar, bahkan tidak sejalan dengan berbagai tinjauan sejarah maupun literatur riwayat dan hadis yang berbicara tentang Syiah Ali. Dan jika kita mencoba membuka kembali kumpulan kitab yang berada di tangan kaum muslimin, maka akan kita dapati begitu banyakya pernyataan yang menjelaskan perihal Syiah Ali (pengikut Ali) dalam hadis-hadis Rasulullah Saw di masa dakwah beliau, diantaranya:
1. Hadis
dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi Saw dan pada
saat yang Ali (bin Abi Thalib) datang. Rasulullah Saw pun bersabda, “Demi Allah
yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (Ali-pen) dan
Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.” Kemudian turunlah
ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka
itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7). Sejak saat itu,
para sahabat Nabi setiap kali Ali datang berkata, “Sebaik-baik makhluk telah
datang.”[1]
2. Hadis
Abdullah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, “Nabi Saw bersabda kepada Ali, “Engkau
dan Syiahmu nanti menjumpaiku di telaga akan minum sepuasnya, wajah-wajah
kalian putih bersinar, sementara musuh-musuhmu akan menjumpaiku dalam keadaan
haus.”[2]
3. Abu Al-‘Ala’ Sha’id bin Abu Al-Fadhl bin Abu Utsman
Al-Malini mengabarkan kepada kami, dari Abu Muhamamd Abdullah bin Abu Bakar bin
Ahmad Al-Saqathi, dari Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin
Al-Jarud Al-Harizh, dari Abu Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad (Ibnu Al-Mutayyam, Baghdad), dari Abu Muhamamd Al-Qasim bin Ja’far bin
Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abi Thalib, dari Abu
Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya Muhammad bin Abdullah, dari Abu Abdillah
Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq, dari Muhammad bin Ali Al-Baqir, dari ayahnya Ali
bin Husein, dari ayahnya Al-Husein bin Ali, dari ayahnya Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib berkata:
“Rasulullah Saw
bersabda, “Wahai Ali! Jika datang Hari Kiamat, akan ada suatu kaum yang keluar
dari kubur mereka berpakaian cahaya, bertakhtakan cahaya, mengenakan yakut
merah, yang dihantarkan para malaikat ke Mahsyar.” Ali berkata, “Sungguh mereka
penuh berkah dari Allah. Apa yang menjadikan mereka mulia di sisi Allah?”
Rasulullah Saw
bersabda, “Wahai Ali! Mereka adalah yang menjadikanmu sebagai wali, Syiahmu,
dan para pencintamu. Mereka mencintaimu karena cinta kepadaku, dan mereka
mencintaiku karena mencintai Allah. Merekalah orang-orang yang beruntung di
hari kiamat.”[3]
4.
Abu Al-Hasan Ahmad bin Al-Muzhaffar Al-‘Atthar Al-Faqih
Al-Syafi’i mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al-Muzani
yang dijuluki Al-Saqqa’ Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Zaidan
menyampaikan kepada kami, Ali bin Yunus bin Ali bin Yunus Al-‘Atthar
menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Ali Al-Kindi menyampaikan kepada kami,
Muhammad bin Salim menyampaikan kepadaku, Ja’far bin Muhammad (Al-Shadiq)
menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Ali (Al-Baqir) menyampaikan kepadaku,
Ali bin Husein (Al-Sajjad) menyampaikan kepadaku, Al-Husein bin Ali (Al-Syahid)
menyampaikan kepadaku, Ali bin Abi Thalib menyampaikan kepadaku dari Rasulullah
Saw, ia bersabda, “Wahai Ali, sesungguhnya Syiah kita bangkit dari kubur mereka
pada hari Kiamat terbebas dari aib dan dosa. Wajah mereka bagai bulan malam
Badr. Mereka terbebas dari kesusahan, dimudahkan dari bahaya, dianugerahi
keselamatan dan keamanan, diangkat dari kesedihan. Mereka tidak takut disaat
manusia penuh ketakutan. Mereka tidak bersedih disaat manusia bersedih. Sandal
mereka bercahaya menunggangi unta betina putih bersayap. Sungguh mereka telah
terbebas dari kehinaan. Mulia tanpa beban. Tengkuk mereka bertakhta emas lebih lembut
dari sutera karena kemuliaan mereka dari Allah ‘Azza wa Jalla.”[4]
5. Abu
Said berkata bahwa, “Nabi memandang kepada Ali seraya berkata, “Orang ini
dan Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”[5]
6. Dari
Ali, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepadaku, “Engkau dan Syiahmu
berada dalam surga.”[6]
7.
Dari
Muhammad bin Ali berkata, “Aku bertanya tentang Ali kepada Ummu Salamah,
istri Nabi Saw. Ummu Salamah menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah Saw
bersabda, “Sesungguhnya Ali dan Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada
hari kiamat.”[7]
8. Dari
Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah Saw berkhutbah dan
aku mendengar beliau bersabda, “Wahai manusia! Barang siapa membenci kami Ahlul
Bait niscaya ia akan dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan Yahudi.” Aku
bertanya, “Meski pun ia berpuasa dan shalat, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,
“Meski pun dia berpuasa dan shalat dan menganggap dirinya seorang muslim… maka
aku memohon ampunan untuk Ali dan Syiahnya.”[8]
9. Dari
Abu Hurairah, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah! Mana yang
lebih anda cintai, aku atau kah Fatimah?” Rasul bersabda, “Fatimah lebih aku
cintai dari pada kamu, sementara kamu lebih mulia darinya. Sehingga seakan-akan
aku bersamamu di telagaku, sementara manusia diusir dari telaga. Sesungguhnya
di atas telaga itu ada cawan-cawan seperti bilangan bintang di langit. Sungguh
aku, kamu, Al-Hasan, Al-Husein, Fatimah, Aqil, dan Ja’far berada di surga
bersama di atas dipan-dipan yang saling berhadapan. Kamu bersamaku dan Syiahmu
di surga.” Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, “Mereka merasa bersaudara
duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 44). Tidak
seorang pun memperhatikan temannya di belakang.”[9]
10. Rasulullah Saw bersabda
kepada Ali ra, ”Tidakkah engkau rela bersamaku di dalam surga, Al-Hasan dan
Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para istri kita di
belakang keturunan kita, dan Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita.”[10]
11. Rasulullah Saw bersabda
kepada Ali ra, “Sesungguhnya empat kelompok pertama yang akan masuk surga
adalah aku dan engkau, Al-Hasan dan Al-Husein beserta keturunan kita di
belakang kita, sementara para istri kita di belakang keturunan kita, dan Syiah
kita di sisi kanan dan kiri kita.”[11]
12. Rasulullah Saw bersabda
kepada Ali ra, “Engkau dan Syiahmu akan mendatangiku di telaga dengan puas
meminumnya, wajah-wajah kalian bercahaya, sedangkan musuh-musuhmu akan
mendatangiku kehausan dan berwajah buruk.”[12]
13. Dari Ali bin Abi Thalib
ra, “Kekasihku Saw bersabda, “Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu akan menghadap
Allah dalam keadaan ridha dan diridhai, sedangkan musuhmu dalam keadaan marah
dan jijik.”[13]
14. Dari Ali bin Abi Thalib
ra, “Sufyani akan muncul di Syam… dan mereka akan membunuh Syiah keluarga
Muhammad di Kufah. Kemudian penduduk Khurasan keluar menyambut Al-Mahdi.”[14]
15. Al-Thabari (w. 310 H/923 M) dalam Tafsir Al-Thabari, menuliskan tentang tafsir QS. Al-Bayyinah [98]: 7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk, Rasulullah Saw bersabda, “Engkau ya Ali dan Syiahmu.”[15]
Semua
riwayat yang tertera di atas membuktikan bahwa anggapan
yang mengatakan Syiah muncul pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan adalah keliru.
Karena istilah “Syiah Ali” diucapkan sendiri oleh lisan suci Rasulullah
Saw untuk pengikut Ali bin Abi Thalib, bukan produk sejarah seperti yang
dituduhkan.
Lebih-lebih, hadis-hadis tersebut diriwayatkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah, seperti Al-Thabari yang kitab tafsirnya diakui oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan, Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M) ketika ditanya tentang tafsir yang paling mendekati kebenaran, Al-Qurthubi (w. 671 H/1273 M), dan Al-Baghawi (w. 510 H/1116 M), dia berkata, “Adapun kitab tafsir paling shahih di antara tafsir-tafsir yang ada di hadapan manusia adalah Tafsir Muhammad bin Jarir Al-Thabari. Karena beliau menyebutkan perkataan para salaf dengan sanad-sanad yang kuat. Tidak ada bid’ah di dalamnya…”[16]■
[1] Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Al-Durr
Al-Mantsur fi Al-Tafsir bi Al-Ma’tsur, juz 15, h. 577, Dar Al-Fikr, Mesir,
cet. 1, 2003 M (1424 H).
Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh:
1.
Sayyid
Mahmud Al-Alusi Al-Baghdadi, Ruh Al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim wa
Al-Sab’ Al-Matsani, juz 15, h. 431-342, cet. 1, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah,
Beirut, Lebanon, 1994.
2.
Ibnu
‘Athiyyah, Al-Andalusi, Abd Al-Haqq bin Ghalib, Al-Muharrar Al-Wajiz fi
Tafsir Al-Kitab Al-Aziz, juz 5, h. 508, cet. 1, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah,
Beirut, Lebanon, 2001.
3.
Ubaydullah
bin Ahmad Haskani, Syawahid Al-Tanzil li Qawaid Al-Tafdhil, vol. 2, h.
459-461, cet. 1, Publication of Ministry of Islamic Guidance, Tehran, Iran,
1990.
4.
Muhammad
bin Ali Al-Syaukani, Fath Al-Qadir, juz 5, h. 581-2, cet. 1, Dar
Al-Kalim Al-Thayyib, Beirut, Lebanon, 1993.
[2] Al-Thabarani, Abu Al-Qasim Sulaiman bin
Ahmad, Al-Mu’jam Al-Kabir, juz 1, h. 319, cet. 2, Maktabah Ibnu
Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1983.
[3] Ibnu ‘Asakir, Abu Al-Qasim Ali bin
Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah Al-Syafi’i, Tarikh Madinah Dimasyq,
juz 42, h. 332, cet. 1, Dar Al-Fikr, Mesir, 1996 M (1417 H).
[4] Ibnu Al-Maghazili, Manaqib Amir
Al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib, h. 185, hadis 339, Dar Maktabah Al-Hayah,
Beirut, Lebanon, 1980 M (1400 H).
[5] Ibnu ‘Asakir, Abu Al-Qasim Ali bin
Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah Al-Syafi’i, Tarikh Madinah Dimasyq,
juz 42, h. 333, cet. 1, Dar Al-Fikr, Mesir, 1996 M (1417 H).
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Al-Haitsami, Nur Al-Din Ali bin Abu
Bakar, Majma’ Al-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid, tahkik Abdullah bin
Muhammad Al-Darwisy, j. 9, h. 272-3, hadis 15009, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut,
Lebanon, 1994 M (1414 H). Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, juz 4, h.
211-2, hadis 4002, Dar Al-Haramain, Kairo, Mesir, 1995 M (1415 H).
[9] Al-Haitsami, Nur Al-Din Ali bin Abu
Bakar, Majma’ Al-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid, tahkik Abdullah bin
Muhammad Al-Darwisy, j. 9, h. 274-5, hadis 15016, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut,
Lebanon, 1994 M (1414 H).
[10] Sulaiman Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’
Al-Mawaddah, juz 2, h. 316, cet. 2, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon,
2009 M (1430 H). Ibnu Mardawaih Al-Isfahani, Manaqib Ali bin Abi Thalib,
j. 1, h. 187, hadis 254, Muassasah Dar Al-Hadist, Qom, Iran, 1422 H.
Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl
Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).
[11] Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir,
juz 1, h. 319, hadis 950, cet. 2, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1404
H. Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl
Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).
[12] Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir,
juz 1, h. 319, hadis 948, cet. 2, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1404
H. Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl
Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).
[13] Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah,
h. 214, bab 11, fi Fadhail Ahl Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah,
Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).
[14] Al-Hakim, Mustadrak ‘ala
Al-Shahihain, juz 4, h. 547, hadis 8530, cet. 2, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah,
Beirut, Lebanon, 2002 M (1422 H)
[15] Al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin
Jarir, Tafsir Al-Thabari: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Al-Qur’an, juz 24,
h. 556, cet. 1, Markaz Buhuts wa Al-Dirasat Al-‘Arabiyyah wa Al-Islamiyyah,
Kairo, Mesir, 2001 M (1422 H).
[16] Al-Imam Al-Allamah Taqiy Al-Din Ibnu
Taimiyyah, Tafsir Al-Kabir, juz 2, h. 254-5, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah,
Beirut, Lebanon, TT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar