Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 04 Mei 2024

Kesalahpahaman: Benarkah Syiah Lahir Pada Masa Khalifah Usman?

 



Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 274-278, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Buku Panduan MUI halaman 21 menyebutkan, “Ada yang menganggap Syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan, yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah.”

Tanggapan:

Anggapan tersebut di atas bukan hanya tidak benar, bahkan tidak sejalan dengan berbagai tinjauan sejarah maupun literatur riwayat dan hadis yang berbicara tentang Syiah Ali. Dan jika kita mencoba membuka kembali kumpulan kitab yang berada di tangan kaum muslimin, maka akan kita dapati begitu banyakya pernyataan yang menjelaskan perihal Syiah Ali (pengikut Ali) dalam hadis-hadis Rasulullah Saw di masa dakwah beliau, diantaranya:


1.  Hadis dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi Saw dan pada saat yang Ali (bin Abi Thalib) datang. Rasulullah Saw pun bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (Ali-pen) dan Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.” Kemudian turunlah ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7). Sejak saat itu, para sahabat Nabi setiap kali Ali datang berkata, “Sebaik-baik makhluk telah datang.”[1]

 

2.  Hadis Abdullah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, “Nabi Saw bersabda kepada Ali, “Engkau dan Syiahmu nanti menjumpaiku di telaga akan minum sepuasnya, wajah-wajah kalian putih bersinar, sementara musuh-musuhmu akan menjumpaiku dalam keadaan haus.”[2]


3. Abu Al-‘Ala’ Sha’id bin Abu Al-Fadhl bin Abu Utsman Al-Malini mengabarkan kepada kami, dari Abu Muhamamd Abdullah bin Abu Bakar bin Ahmad Al-Saqathi, dari Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Jarud Al-Harizh, dari Abu Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad (Ibnu Al-Mutayyam, Baghdad), dari Abu Muhamamd Al-Qasim bin Ja’far bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abi Thalib, dari Abu Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya Muhammad bin Abdullah, dari Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq, dari Muhammad bin Ali Al-Baqir, dari ayahnya Ali bin Husein, dari ayahnya Al-Husein bin Ali, dari ayahnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata:


“Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali! Jika datang Hari Kiamat, akan ada suatu kaum yang keluar dari kubur mereka berpakaian cahaya, bertakhtakan cahaya, mengenakan yakut merah, yang dihantarkan para malaikat ke Mahsyar.” Ali berkata, “Sungguh mereka penuh berkah dari Allah. Apa yang menjadikan mereka mulia di sisi Allah?”

 

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali! Mereka adalah yang menjadikanmu sebagai wali, Syiahmu, dan para pencintamu. Mereka mencintaimu karena cinta kepadaku, dan mereka mencintaiku karena mencintai Allah. Merekalah orang-orang yang beruntung di hari kiamat.”[3]

 

4.    Abu Al-Hasan Ahmad bin Al-Muzhaffar Al-‘Atthar Al-Faqih Al-Syafi’i mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al-Muzani yang dijuluki Al-Saqqa’ Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Zaidan menyampaikan kepada kami, Ali bin Yunus bin Ali bin Yunus Al-‘Atthar menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Ali Al-Kindi menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Salim menyampaikan kepadaku, Ja’far bin Muhammad (Al-Shadiq) menyampaikan kepada kami, Muhammad bin Ali (Al-Baqir) menyampaikan kepadaku, Ali bin Husein (Al-Sajjad) menyampaikan kepadaku, Al-Husein bin Ali (Al-Syahid) menyampaikan kepadaku, Ali bin Abi Thalib menyampaikan kepadaku dari Rasulullah Saw, ia bersabda, “Wahai Ali, sesungguhnya Syiah kita bangkit dari kubur mereka pada hari Kiamat terbebas dari aib dan dosa. Wajah mereka bagai bulan malam Badr. Mereka terbebas dari kesusahan, dimudahkan dari bahaya, dianugerahi keselamatan dan keamanan, diangkat dari kesedihan. Mereka tidak takut disaat manusia penuh ketakutan. Mereka tidak bersedih disaat manusia bersedih. Sandal mereka bercahaya menunggangi unta betina putih bersayap. Sungguh mereka telah terbebas dari kehinaan. Mulia tanpa beban. Tengkuk mereka bertakhta emas lebih lembut dari sutera karena kemuliaan mereka dari Allah ‘Azza wa Jalla.”[4]

 

5.  Abu Said berkata bahwa, “Nabi memandang kepada Ali seraya berkata, “Orang ini dan Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”[5]

 

6.  Dari Ali, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepadaku, “Engkau dan Syiahmu berada dalam surga.”[6]


7.    Dari Muhammad bin Ali berkata, “Aku bertanya tentang Ali kepada Ummu Salamah, istri Nabi Saw. Ummu Salamah menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Ali dan Syiahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”[7]


8. Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah Saw berkhutbah dan aku mendengar beliau bersabda, “Wahai manusia! Barang siapa membenci kami Ahlul Bait niscaya ia akan dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan Yahudi.” Aku bertanya, “Meski pun ia berpuasa dan shalat, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Meski pun dia berpuasa dan shalat dan menganggap dirinya seorang muslim… maka aku memohon ampunan untuk Ali dan Syiahnya.”[8]


9. Dari Abu Hurairah, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah! Mana yang lebih anda cintai, aku atau kah Fatimah?” Rasul bersabda, “Fatimah lebih aku cintai dari pada kamu, sementara kamu lebih mulia darinya. Sehingga seakan-akan aku bersamamu di telagaku, sementara manusia diusir dari telaga. Sesungguhnya di atas telaga itu ada cawan-cawan seperti bilangan bintang di langit. Sungguh aku, kamu, Al-Hasan, Al-Husein, Fatimah, Aqil, dan Ja’far berada di surga bersama di atas dipan-dipan yang saling berhadapan. Kamu bersamaku dan Syiahmu di surga.” Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat, “Mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 44). Tidak seorang pun memperhatikan temannya di belakang.”[9]


10. Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, ”Tidakkah engkau rela bersamaku di dalam surga, Al-Hasan dan Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para istri kita di belakang keturunan kita, dan Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita.”[10]


11. Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Sesungguhnya empat kelompok pertama yang akan masuk surga adalah aku dan engkau, Al-Hasan dan Al-Husein beserta keturunan kita di belakang kita, sementara para istri kita di belakang keturunan kita, dan Syiah kita di sisi kanan dan kiri kita.”[11]


12. Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ra, “Engkau dan Syiahmu akan mendatangiku di telaga dengan puas meminumnya, wajah-wajah kalian bercahaya, sedangkan musuh-musuhmu akan mendatangiku kehausan dan berwajah buruk.”[12]


13. Dari Ali bin Abi Thalib ra, “Kekasihku Saw bersabda, “Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu akan menghadap Allah dalam keadaan ridha dan diridhai, sedangkan musuhmu dalam keadaan marah dan jijik.”[13]


14. Dari Ali bin Abi Thalib ra, “Sufyani akan muncul di Syam… dan mereka akan membunuh Syiah keluarga Muhammad di Kufah. Kemudian penduduk Khurasan keluar menyambut Al-Mahdi.”[14]


15. Al-Thabari (w. 310 H/923 M) dalam Tafsir Al-Thabari, menuliskan tentang tafsir QS. Al-Bayyinah [98]: 7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk, Rasulullah Saw bersabda, “Engkau ya Ali dan Syiahmu.”[15]

Semua riwayat yang tertera di atas membuktikan bahwa anggapan yang mengatakan Syiah muncul pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan adalah keliru. Karena istilah “Syiah Ali” diucapkan sendiri oleh lisan suci Rasulullah Saw untuk pengikut Ali bin Abi Thalib, bukan produk sejarah seperti yang dituduhkan.

Lebih-lebih, hadis-hadis tersebut diriwayatkan oleh para ulama besar Ahlus Sunnah, seperti Al-Thabari yang kitab tafsirnya diakui oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan, Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M) ketika ditanya tentang tafsir yang paling mendekati kebenaran, Al-Qurthubi (w. 671 H/1273 M), dan Al-Baghawi (w. 510 H/1116 M), dia berkata, “Adapun kitab tafsir paling shahih di antara tafsir-tafsir yang ada di hadapan manusia adalah Tafsir Muhammad bin Jarir Al-Thabari. Karena beliau menyebutkan perkataan para salaf dengan sanad-sanad yang kuat. Tidak ada bid’ah di dalamnya…”[16]

 



[1] Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsur fi Al-Tafsir bi Al-Ma’tsur, juz 15, h. 577, Dar Al-Fikr, Mesir, cet. 1, 2003 M (1424 H).

Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh:

1.   Sayyid Mahmud Al-Alusi Al-Baghdadi, Ruh Al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim wa Al-Sab’ Al-Matsani, juz 15, h. 431-342, cet. 1, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Lebanon, 1994.

2.   Ibnu ‘Athiyyah, Al-Andalusi, Abd Al-Haqq bin Ghalib, Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz, juz 5, h. 508, cet. 1, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2001.

3.   Ubaydullah bin Ahmad Haskani, Syawahid Al-Tanzil li Qawaid Al-Tafdhil, vol. 2, h. 459-461, cet. 1, Publication of Ministry of Islamic Guidance, Tehran, Iran, 1990.

4.   Muhammad bin Ali Al-Syaukani, Fath Al-Qadir, juz 5, h. 581-2, cet. 1, Dar Al-Kalim Al-Thayyib, Beirut, Lebanon, 1993.

[2] Al-Thabarani, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu’jam Al-Kabir, juz 1, h. 319, cet. 2, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1983.

[3] Ibnu ‘Asakir, Abu Al-Qasim Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah Al-Syafi’i, Tarikh Madinah Dimasyq, juz 42, h. 332, cet. 1, Dar Al-Fikr, Mesir, 1996 M (1417 H).

[4] Ibnu Al-Maghazili, Manaqib Amir Al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib, h. 185, hadis 339, Dar Maktabah Al-Hayah, Beirut, Lebanon, 1980 M (1400 H).

[5] Ibnu ‘Asakir, Abu Al-Qasim Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin Abdullah Al-Syafi’i, Tarikh Madinah Dimasyq, juz 42, h. 333, cet. 1, Dar Al-Fikr, Mesir, 1996 M (1417 H).

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Al-Haitsami, Nur Al-Din Ali bin Abu Bakar, Majma’ Al-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid, tahkik Abdullah bin Muhammad Al-Darwisy, j. 9, h. 272-3, hadis 15009, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1994 M (1414 H). Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, juz 4, h. 211-2, hadis 4002, Dar Al-Haramain, Kairo, Mesir, 1995 M (1415 H).

[9] Al-Haitsami, Nur Al-Din Ali bin Abu Bakar, Majma’ Al-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid, tahkik Abdullah bin Muhammad Al-Darwisy, j. 9, h. 274-5, hadis 15016, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1994 M (1414 H).

[10] Sulaiman Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’ Al-Mawaddah, juz 2, h. 316, cet. 2, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H). Ibnu Mardawaih Al-Isfahani, Manaqib Ali bin Abi Thalib, j. 1, h. 187, hadis 254, Muassasah Dar Al-Hadist, Qom, Iran, 1422 H. Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).

[11] Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, juz 1, h. 319, hadis 950, cet. 2, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1404 H. Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).

[12] Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, juz 1, h. 319, hadis 948, cet. 2, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1404 H. Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 224, bab 11, fi Fadhail Ahl Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).

[13] Al-Haitsami, Al-Sawaiq Al-Muhriqah, h. 214, bab 11, fi Fadhail Ahl Al-Bait Al-Nabawi, Maktabah Al-Haqiqah, Istanbul, Turki, 2003 M (1424 H).

[14] Al-Hakim, Mustadrak ‘ala Al-Shahihain, juz 4, h. 547, hadis 8530, cet. 2, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2002 M (1422 H)

[15] Al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir, Tafsir Al-Thabari: Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Al-Qur’an, juz 24, h. 556, cet. 1, Markaz Buhuts wa Al-Dirasat Al-‘Arabiyyah wa Al-Islamiyyah, Kairo, Mesir, 2001 M (1422 H).

[16] Al-Imam Al-Allamah Taqiy Al-Din Ibnu Taimiyyah, Tafsir Al-Kabir, juz 2, h. 254-5, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, TT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar