Referensi:
Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 45-49, penerbit DPP Ahlul
Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.
Salah satu tuduhan konyol yang dilemparkan para pensesat dan pengkafir Syiah adalah tuduhan bahwa Syiah menganggap Imam Ali sebagai Nabi, namun karena Jibril kurang cermat, maka Muhammad yang diberi tugas kenabian.
Sebenarnya buku ini (Syiah Menurut Syiah, pen) terlalu mulia untuk membantah tuduhan bodoh ini. Namun karena itu bukan sekedar isu yang berkembang di kalangan awam, namun merasuki pikiran sebagian orang yang mendeklarasikan diri sebagai ulama, maka dipandang perlu klarifikasi yang tegas, logis dan konstruktif.
Konsep ketuhanan dalam Syiah lebih radikal dari kosep teologi apa pun dengan ciri khas sebagai berikut:
1.
Tuhan
berbeda dengan apa pun. Oleh karena itu, semua ciri khas kemakhlukan termasuk
Nabi, Ali dan siapa pun tidak ada pada Tuhan. Jadi, sekedar mengutip isu Syiah
menuhankan Ali adalah tindakan bodoh. Kalau pun ada orang yang mengaku Syiah
dan menuhankan Ali, maka dia lebih najis dari babi dan anjing. Para ulama Syiah terdahulu dan kontemporer
sepakat dengan kenajisan mereka. Lihat semua kumpulan fatwa para ulama Syiah,
diantaranya karya Imam Khomeini, Tahrir Al-Wasilah, juz 1, h. 107.
2. Tuhan tidak dapat diprediksi dengan apa pun. Dengan demikian, penyebutan frase menuhankan Ali niscaya invalid menurut logika bahasa.
3. Orang Syiah rela dianggap berbeda bahkan dikucilkan karena mengikuti Nabi yang memerintahkan untuk mentaati Ali. Adalah mustahil menuhankan orang yang diperintahkan untuk ditaati, sedangkan ketaatan kepadanya adalah konsekuensi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lebih jauh lagi, Tuhan merupakan Wujud Mutlak yang Maha Tak Terbatas, oleh karenanya kekuatan akal dengan (konsep-konsepnya) tidak akan mampu menyifatkan Tuhan dengan sempurna dan yang seharusnya. Karena setiap konsep dari satu sifat berbeda dengan konsep dari sifat lain, maka ia sangat terbatas untuk menyifatkan Zat yang Tak Terbatas. Artinya, kalau kita memberikan sifat kepada-Nya berarti kita telah membandingkan satu sifat dengan yang lain atau antara zat dengan sifat. Ketika kita telah membandingkan Tuhan berarti kita menduakan-Nya, ketika kita menduakan-Nya berarti kita membagi-bagikan-Nya, ketika kita membagi-bagikan-Nya berarti kita tidak mengenal-Nya, dan seterusnya sebagaimana diuraikan dalam khutbah Imam Ali.[1]
Tuduhan bahwa Syiah menabikan Ali tidak dapat dibenarkan meski ada klaim yang menuding Imam Ali sendiri pernah mengaku Nabi.
Seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah Anda seorang nabi?” Jawabnya, “Celakalah engkau! Aku hanyalah salah satu hamba Muhammad Saw.”[2]
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Ali berkata, “Pastilah Anda tahu akan kekerabatan saya yang dekat dan hubungan saya yang khusus dengan Rasulullah Saw. Ketika saya masih kanak-kanak, beliau mengasuh saya. Beliau bisa menekankan saya ke dada beliau dan membaringkan saya di sisi beliau, di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuh beliau kepada saya dan membuat saya mencium bau beliau. Beliau bisa mengunyah sesuatu kemudian menyuapi saya dengannya. Beliau tidak mendapatkan kebohongan dalam pembicaraan saya, tidak ada pula kelemahan dalam suatu tindakan saya. Sejak waktu penyapihannya, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawa beliau sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam, sementara saya biasa mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjukkan kepada saya beberapa dari akhlaknya yang mulia dan memerintahkan saya untuk mengikutinya seperti panji. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira’, yang saya melihat beliau tetapi tak seorang pun lainnya melihat beliau. Di hari-hari itu Islam hanya ada di rumah Rasulullah Saw dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga dari keduanya. Saya biasa melihat dan memperhatikan sinar cahaya dari wahyu dan risalah Ilahi, dan menghirup nafas kenabian. Ketika wahyu turun kepada Nabi Allah Saw, saya mendengar bunyi keluhan Iblis. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, keluhan apakah itu?” dan beliau menjawab, “Ini Iblis yang telah kehilangan segala harapan untuk disembah. Ya Ali, engkau melihat apa yang saya lihat dan engkau mendengar apa yang saya dengar, kecuali bahwa engkau bukan nabi; tetapi engkau adalah seorang wazir dan sesungguhnya engkau pada (jalan) kebajikan dan amir (pemimpin) bagi kaum mukminin.”[3]
Dari keterangan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak pernah mengaku sebagai seorang Nabi, bahkan Imam Ali hanya menganggap dirinya sebagai salah satu hamba Nabi Muhammad. Selain itu, Nabi sendiri menegaskan bahwa Imam Ali hanyalah seorang wazir dan amir bagi kaum beriman. Bagaimana dengan Syiah Ali? Tentu saja orang-orang yang mengikuti jalan Ahlul Bait menjauhkan dirinya dari menuhankan Ali dan menabikan Ali. Na’udzu billah min dzalik. Jika Imam Ali mengaku sebagai hamba Muhammad, maka para Imam menyifatkan para Syiah Ali dengan beberapa karakteristik sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis berikut:
Imam Ali berkata kepada Nauf Bakali, “Tahukah engkau wahai Nauf siapakah Syiahku?” Nauf menjawab, “Tidak, demi Allah.” Lalu Imam Ali menjelaskan, “Syiahku adalah orang-orang yang bibirnya kering dan perutnya kosong. Mereka adalah orang-orang yang dikenali dengan kezuhudan di wajahnya. Mereka adalah orang-orang yang banyak beribadah di malam hari dan seperti singa di siang hari.”[4]
Imam Muhammad Al-Baqir berkata kepada Jabir bin Abdullah, “Wahai Jabir, tidaklah cukup seseorang mengaku Syiah dengan hanya mencintai kami Ahlul Bait. Demi Allah Syiah kami hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan mematuhi-Nya. Mereka dikenal dengan kerendahhatian, kekhusyukan, menjaga amanat, banyak berzikir kepada Allah, berpuasa, menunaikan shalat, berbakti kepada orang tua, memperhatikan tetangga yang fakir dan miskin, berhutang, dan anak-anak yatim. Mereka adalah orang-orang jujur, senang membaca Al-Qur’an, dan berkata baik kepada manusia...”[5]
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Jauhlah merendahkan orang lain, Syiah Ali hanyalah orang yang menjaga perut dan kemaluannya, kuat jihadnya, beramal untuk pencipta-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut kepada siksa-Nya. Maka, jika engkau melihat mereka itu, mereka itulah Syiah Ja’far.”[6]
Imam Ali Al-Ridha berkata, “Syiah kami hanyalah orang-orang yang sesuai antara perkataan dan perbuatannya.”[7]
Imam Ja’far Al-Shadiq pernah bertanya kepada seorang laki-laki tentang orang-orang yang dia tinggalkan di kotanya (yang dianggap sebagai pengikut Syiah), lalu laki-laki itu menjawab dengan sanjungan yang baik, penyucian dan pujian. Lalu Imam Ja’far bertanya, “Bagaimana kunjungan orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?” dijawab oleh laki-laki itu, “Jarang sekali.” Lalu Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagaimana kehadiran orang-orang kaya mereka di tegah-tengah orang miskinnya?” dijawab, “Jarang sekali.” Selanjutnya Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagimana pemberian orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?” Laki-laki itu kemudian menjawab, “Anda telah menyebutkan perilaku yang jarang kami lakukan.” Maka, Imam Ja’far berkata, “Kalau begitu, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa mereka adalah Syiah kami?”[8]
Imam Ja’far Al-Sadiq berkata, “Wahai seluruh pengikut Syiah, jadilah kalian sebagai penghias bagi kami. Janganlah kalian memberikan aib kepada kami. Berbicaralah kepada orang lain dengan perkataan yang baik. Jagalah lidah kalian, hindarkanlah dari mencampuri urusan orang lain dan cegahlah dari perkataan yang buruk.”[9]
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Syiah kami adalah orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah dikala sendiri.”[10]
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Tidak termasuk Syiah kami yang tidak mendirikan shalat malam.”[11]
Imam Ja’far Al-Sadiq berkata, “Syiah ada tiga macam; yang mencintai dan bersahabat dengan kami, mereka adalah golongan kami; yang menampakkan kebaikan kami, dan tentu saja kami berlaku baik kepada mereka yang menampakkan kebaikan kami; dan yang mencari makan kepada orang lain dengan mengatasnamakan kami, dan sesiapa yang mencari makan dengan mengatasnamakan kami, dia akan menjadi miskin.”[12]
Dalam
penjelasan di atas sungguh sulit menganggap bahwa Syiah Ali adalah orang-orang
yang menuhankan Ali dan menganggapnya sebagai seorang Nabi. Apalagi dengan kriteria
dan karakteristik yang sulit untuk menjadi seorang Syiah Ali.
[1]
Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahj Al-Balaghah, juz 1, Khutbah 1, h. 35 dan
45, cet. 1, Dar Al-Amira, Beirut, Lebanon, 2007 M (1428 H). Khutbah-khutbahnya,
diantaranya Khutbah 49, 54, 82, 89, 94, 108 dan sebagainya.
[2]
Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, Kitab Al-Tauhid, Bab Al-Kaun wa Al-Makan, juz
1, h. 145, hadis 5, cet. 2, Dar Al-Ta’arut, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H).
[3]
Nahj Al-Balaghah, Khutbah 192 (Khutbah Qashi’ah).
[4]
Bihar Al-Anwar, juz 78, hadis 95.
[5]
Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, juz 2, h. 79-80, bab Taat dan Takwa, hadis 3.
[6]
Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, juz 2, h. 234, bab Iman, alamat dan
sifat-sifatnya, hadis 9.
[7]
Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, juz 8, h. 228, hadis Jakjuj Makjuj, hadis
290.
[8]
Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, juz 2, h. 179, kitab Al-Iman dan Al-Kufr, bab
Haq Mukmin atas Saudaranya, hadis 10.
[9]
Syaikh Shaduq, Amali Al-Shaduq, h. 292, Majelis 62, hadis 17, Muassasah
Al-A’lami, Beirut, Lebanon, cet. 1, 2009 M (1430 H).
[10]
Syaikh Al-Hurr Al-Amili, Wasail Al-Syi’ah, juz 3, h. 81, hadis 8998,
cet. 1, Al-Amira, Beirut, Lebanon, 2010 M (1431 H).
[11]
Ibid, hadis 10312.
[12]
Al-Fattal Al-Naisaburi, Rawdhah Al-Wai’zhin, h. 293, Syarif Al-Radhi,
Qum, Iran, TT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar