Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Rabu, 24 September 2025

Defah Muqaddas (Perang Pertahanan Suci), Kisah Perjuangan Rakyat Iran Mempertahankan Kedaulatan Negara


Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. 



Rakyat Iran pernah mengalami kesulitan berat di era perang Irak-Iran. Dimasa masih dalam kondisi berbenah setelah berdarah-darah dalam perjuangan revolusi menjatuhkan kediktatoran rezim Syah Pahlevi di tahun 1979, setahun setelahnya rakyat Iran harus bergelut mempertahankan kemenangan revolusinya. Irak dibawah Saddam Husain melancarkan serangan militer yang mengerikan termasuk menggunakan senjata kimia berbahaya, dengan dalih membendung pengaruh ideologi revolusi yang diusung Imam Khomeini.

Dengan kekuatan 1,3 juta prajurit, Saddam sesumbar akan menaklukkan Iran dalam satu minggu. Dia menilai, Iran dibawah Mullah tanpa pengalaman militer akan mudah dihempaskan dalam waktu singkat. Nyatanya, perang berlangsung selama 8 tahun, tanpa Irak bisa mengklaim kemenangan.

Perang yang dikenal paling merusak dan paling berdarah setelah perang dunia II tersebut, merenggut jutaan nyawa rakyat Irak dan Iran. Perjuangan mempertahankan kedaulatan negara, tidak hanya dilakukan oleh tentara Iran, tapi semua komponen bangsa terlibat. Iran terpaksa melibatkan sukarelawan untuk menutupi kekurangan pertahanan militernya. Sukarelawan berasal dari rakyat sipil dari berbagai latar belakang, mulai dari pemulung, kuli bangunan, petani, santri, mahasiswa sampai bahkan anak-anak remaja mendaftarkan diri untuk menjadi relawan tempur untuk ikut membantu militer di garis perbatasan.

Semua yang menjadi korban kebiadaban rezim Saddam di medan tempur, dianugerahi gelar syahid oleh Imam Khomeini. Jadi di depan nama mereka, dibubuhi gelar "Syahid". Yang jenasahnya ditemukan, dimakamkan di pemakaman Syuhada, dan menjadi tradisi bagi rakyat Iran untuk menziarahi pemakaman tersebut sebagai bentuk penghormatan. Yang jenasahnya tidak diketahui identitasnya, Imam Khomeini berkata, "Tulis di pusaranya, disini dimakamkan putra Khomeini."

Baku tembak yang dimulai 22 September 1980 tersebut, diperingati Iran setiap tahunnya dengan nama "Defah Muqaddas" yang artinya Pertahanan Suci. Tahun ini adalah yang ke 41. Peringatan Defah Muqaddas diwarnai dengan ziarah ke pemakaman syuhada dan menapaktilasi jejak perjuangan para pahlawan negara di lokasi-lokasi pertempuran. Sebagai bentuk terima kasih, para veteran perang dan keluarga syuhada mendapat perlakuan istimewa oleh negara. Mulai dari anak-anaknya disekolahkan, diangkat menjadi pegawai negeri, sampai mendapat pelayanan kesehatan gratis seumur hidup.

Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. Kecintaan rakyat Iran pada kesyahidan bisa tergambarkan oleh ancaman Jenderal Qassem Soleimani kepada Amerika Serikat, "Kami adalah bangsa yang mendambakan mati syahid, kami adalah bangsa yang mengikuti Imam Husein. Bertanyalah! Kami telah melewati banyak peristiwa sulit. Ayo! kami menunggu. Kami jagonya di medan tempur. Kalian tahu bahwa perang ini berarti penghancuran semua yang kalian miliki. Jika kalian memulai perang ini, kami yang akan mengakhirinya." (Ismail Amin Pasanna)

Sumber:



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar