Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Jumat, 12 September 2025

Peran Iran Dalam Mengkoordinasi Front Perlawanan di Timur Tengah





Pendahuluan

Sejak awal Revolusi Islam pada tahun 1979, Republik Islam Iran telah berdiri teguh sebagai benteng perlawanan melawan kekuatan imperialisme global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Iran bukan hanya negara, tetapi juga sebuah simbol perjuangan ideologis yang berlandaskan pada ajaran Islam Syiah yang revolusioner. Iran tidak hanya memperjuangkan haknya untuk hidup dengan martabat dan kehormatan, tetapi juga membangun front perlawanan di seluruh Timur Tengah yang dipimpin oleh prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan oleh para Imam Ahlul Bait.

Melalui hubungan strategis yang terjalin dengan Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta sekutunya di Irak dan Suriah, Iran memperkuat barisan perlawanan yang tidak hanya menentang dominasi Barat, tetapi juga menegakkan kedaulatan umat Islam yang adil dan mulia. Artikel ini akan menggali lebih dalam bagaimana Iran memperkuat hubungan dengan kelompok-kelompok ini dan dampaknya terhadap geopolitik kawasan, dengan nuansa ideologis-religius yang tegas, berlandaskan pada prinsip Syiah yang militan dan perlawanan.

Iran dan Hizbullah: Ikatan Ideologis dalam Perlawanan Melawan Kezaliman

Hizbullah di Lebanon bukan hanya sekedar sekutu politik dan militer bagi Iran, tetapi lebih dari itu, Hizbullah adalah manifestasi dari perjuangan Islam Syiah dalam melawan hegemoni kekuatan besar, terutama Zionisme yang diwakili oleh Israel. Sejak berdirinya Hizbullah pada tahun 1982, Iran telah menjadi pendukung utama kelompok ini, memberikan bantuan militer, finansial, dan logistik. Hal ini bukan hanya untuk memperkuat perlawanan Hizbullah terhadap Israel, tetapi juga untuk memperjuangkan prinsip-prinsip Islam Syiah yang mengajarkan bahwa perang melawan kezaliman adalah kewajiban setiap Muslim.

Sebagai pemimpin spiritual, Ayatullah Khomeini meyakini bahwa perjuangan Hizbullah di Lebanon adalah jihad yang harus dilanjutkan oleh generasi-generasi setelahnya. Iran tidak hanya memberikan dukungan kepada Hizbullah dalam konteks militer, tetapi juga dalam hal penguatan ideologi perlawanan. Hizbullah, dengan perjuangannya melawan Israel, bukan hanya berperang untuk tanah dan kemerdekaan, tetapi juga untuk membuktikan bahwa umat Islam yang berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Ahlul Bait akan selalu menang melawan kezaliman, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam surat At-Tawbah ayat 33: “Dan Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya.”

Iran dan Houthi di Yaman: Melanjutkan Jihad Melawan Imperialisme di Semenanjung Arab

Di Yaman, Iran tidak hanya melihat konflik sebagai perebutan kekuasaan, tetapi sebagai medan jihad melawan hegemoni Amerika dan sekutunya yang ingin menguasai seluruh Timur Tengah. Iran memberikan dukungan kepada kelompok Houthi, yang merupakan kelompok Syiah Zaidi di Yaman, dalam menghadapi koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang secara jelas didukung oleh Barat. Iran tidak hanya melihat Houthi sebagai sekutu politik, tetapi sebagai bagian dari gerakan perlawanan global yang lebih besar, sebuah perlawanan terhadap kekuatan yang menindas umat Islam di seluruh dunia.

Dengan memberikan dukungan militer dan logistik, Iran membantu Houthi mempertahankan posisi mereka dalam perang saudara yang dimulai pada 2014. Namun, lebih dari sekadar dukungan praktis, Iran memberikan bimbingan ideologis kepada Houthi, mengajarkan mereka bahwa perjuangan mereka adalah bagian dari jihad besar untuk membebaskan umat Islam dari cengkeraman kekuatan imperialisme. Iran mengajarkan Houthi bahwa perlawanan ini bukan hanya sekedar melawan agresi eksternal, tetapi juga merupakan bagian dari pertarungan ideologis yang lebih besar untuk menegakkan keadilan global, sebagaimana yang tercantum dalam ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

Iran dan Irak: Memperkuat Kekuatan Militer dan Politik Syiah

Setelah kejatuhan rezim Saddam Hussein pada tahun 2003, Iran menemukan peluang untuk memperluas pengaruhnya di Irak. Negara yang berbatasan langsung dengan Iran ini menjadi pusat dari front perlawanan yang semakin besar, dan Iran melihat peranannya sebagai pelindung umat Syiah di Irak. Dukungan Iran terhadap milisi-milisi Syiah, yang tergabung dalam Hashd al-Shaabi, adalah bagian dari strategi untuk menjaga keamanan dan stabilitas di negara tersebut, sambil memastikan bahwa Irak tidak jatuh kembali ke dalam cengkeraman kekuatan imperialis.

Hashd al-Shaabi bukan hanya milisi yang bertugas untuk melawan kelompok teroris seperti ISIS, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar, di mana Iran berusaha untuk mengubah Irak menjadi bagian dari poros perlawanan yang lebih luas. Dengan pengaruh politik dan militer yang semakin kuat di Irak, Iran tidak hanya memperkuat posisi Syiah, tetapi juga memperluas pengaruhnya di seluruh wilayah Timur Tengah.

Iran dan Suriah: Jihad Melawan Penjajahan Baru di Timur Tengah

Perang di Suriah telah menjadi ajang bagi Iran untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi ancaman dari kekuatan Barat, terutama AS dan sekutunya. Sejak 2011, Iran telah menjadi pendukung utama pemerintah Bashar al-Assad, memberikan dukungan militer dan finansial untuk melawan pasukan pemberontak yang didukung oleh negara-negara Barat dan Arab. Iran tidak hanya memberikan bantuan untuk mempertahankan kekuasaan Assad, tetapi juga berusaha memastikan bahwa Suriah tetap menjadi bagian dari front perlawanan yang lebih besar.

Iran melihat Suriah sebagai garis depan dalam menghadapi dominasi AS dan Israel di kawasan ini. Kehadiran militer Iran di Suriah bukan hanya untuk melawan pemberontak, tetapi juga untuk menjaga rute logistik yang menghubungkan Iran dengan Hizbullah di Lebanon, serta memperkuat jaringan milisi-milisi Syiah yang tersebar di seluruh kawasan. Dengan mempertahankan kehadirannya di Suriah, Iran memastikan bahwa ia tetap memiliki pengaruh besar di wilayah yang strategis ini, yang berdekatan dengan Israel, Turki, dan negara-negara Teluk.

Dampak Terhadap Keamanan Regional: Perlawanan Melawan Penindasan Global

Dengan memperkuat hubungan dengan Hizbullah, Houthi, milisi Syiah di Irak, dan pemerintah Suriah, Iran telah menciptakan jaringan perlawanan yang mengelilingi Israel dan negara-negara yang beraliansi dengan Amerika Serikat. Dalam perspektif Syiah, ini bukan sekadar sebuah aliansi militer, tetapi sebuah pergerakan ideologis yang bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari cengkeraman kekuatan yang menindas.

Namun, pengaruh Iran ini tidak diterima dengan baik oleh negara-negara Barat, yang melihat Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan. Ketegangan ini menciptakan ketidakstabilan yang semakin besar di Timur Tengah, dengan potensi konflik yang semakin meningkat. Keberadaan Iran di negara-negara seperti Suriah, Lebanon, Yaman, dan Irak menambah kompleksitas dinamika geopolitik regional dan global.

Kesimpulan: Perlawanan Islam Syiah yang Teguh dan Militan

Iran, sebagai pemimpin umat Islam Syiah, tidak hanya memperjuangkan kepentingan nasionalnya, tetapi juga memimpin front perlawanan global melawan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan imperialis Barat. Dengan memperkuat hubungan dengan Hizbullah, Houthi, milisi Syiah di Irak, dan pemerintah Suriah, Iran tidak hanya menunjukkan kekuatannya, tetapi juga membuktikan bahwa perlawanan terhadap kezaliman adalah bagian dari jihad yang tak terpisahkan dari ajaran Islam Syiah.

Dalam setiap pertempuran, Iran mengingatkan dunia bahwa perlawanan ini bukan hanya soal kekuasaan politik, tetapi juga soal prinsip dan keyakinan yang diperjuangkan oleh umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Ahlul Bait. Seiring dengan berjalannya waktu, Iran terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam front perlawanan ini, memastikan bahwa umat Islam tetap teguh dalam perjuangannya melawan kezaliman global. (Edwin Harahap).

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar