Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Jumat, 01 Agustus 2025

Benarkah Iran Melakukan Pembunuhan Orang Irak, Lebanon, Suriah, Yaman dan Menyebabkan Sebagian Penduduk Mengungsi?

 


Tanggapan Pertama, Soal Sumber Data

Flayer di atas sama sekali tidak mencantumkan sumber datanya dari mana, sehingga klaim tersebut justru menampilkan data tidak akurat, mengandung kesalahan atribusi yang disematkan kepada Iran, inflasi angka, dan menyederhanakan kompleksitas dengan menuduh Iranlah yang bertanggungjawab.

Data di atas hanyalah propaganda yang bertujuan untuk melemahkan dukungan Internasional (terutama kalangan Muslim) kepada Iran yang memerangi Israel, yang dilakukan oleh kubu Kubah Besi Arab yang diikat dalam Abraham Accord.

Untuk memahami bagaimana perang opini menyudutkan Iran ini dapat dibaca di Laporan Investigasi FireEye atau Atlantic Council yang menginvestigasi jaringan akun palsu yang mengatasnamakan Iran dalam benturan sektarian. Jurnal Gama Societa, juga melaporkan peran Saudi dalam perang disinformasi dengan isu sektarian pada konflik Suriah dan Yaman.

Tanggapan Kedua, Bagaimana Dengan Angka dan Data di atas?

Seperti sudah disinggung di atas, data tersebut sangat manipulatif, untuk mengetahui data yang dapat dipertanggungjawabkan, dapat dilihat di situs-situs resmi, misalnya:

1. Data Irak

- Iraq Body Count (https://www.iraqbodycount.org/)

- [PLOS Medicine Study on Iraq Mortality]

(https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.0050252)

2. Data Suriah

- Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) (https://www.syriahr.com/)

- PBB Commission of Inquiry on Syria (https://www.ohchr.org/en/hr-bodies/hrc/iici-syria/index)

3. Data Yaman

- ACLED (https://acleddata.com/)

- UN OCHA Yemen Reports (https://www.unocha.org/yemen)

4. Data Palestina

- UN OCHA OPT (https://www.ochaopt.org/)

- B'Tselem (https://www.btselem.org/)

Berdasarkan data di atas, terdapat kesalahan fatal yang menyajikan data ngawur dan yang dianggap bertanggungjawab (silahkan pemosting mencek ke sumber-sumber primer).

Irak

1. Di Irak disebutkan bahwa, “Iran menyebabkan 70.000 orang Irak tewas, dengan 3 juta orang Irak mengungsi”, berdasarkan sumber Iraq Body Count, bahwa dalam perang Irak-Iran yang tewas 500.000 (total dari kedua belah pihak) dan aktor penyebab kematian itu adalah kedua belah pihak yang sedang berperang.

2. Pada saat perang Teluk 1 dan 2, kematian berjumlah 200.000 s.d. 800.000, dengan aktor utama pembunuh adalah Koalisi Multinasional dibawah pimpinam Amerika Serikat.

3. Pada saat ISIS melakukan aksinya, jumlah korbam tewas sebanyak 500.000 s.d. 2.000.000 orang Irak, dan menyebabkan 4.000.000 orang Irak mengungsi, dengan aktor utama pembunuh dan penyebab rakyat Irak mengungsi adalah ISIS.

Suriah

Pemosting menyebut penjajahan Iran menyebabkan 500.000 rakyat Suriah tewas, dengan 13 juta orang Suriah mengungsi. Namun berdasarkan sumber data korban resmi di atas menyebutkan:

- 250.000 s.d. 610.000 orang Suriah terbunuh.

- 12.700.000 orang Suriah mengungsi.

- Aktor utama pembunuh adalah kelompok Jihadis ISIS, dan akibat perang pihak Suriah yang diserang Jihadis multinasiononal.

Lebanon

Pemosting menulis, bahwa penjajahan Iran menyebabkan 30.000 rakyat Lebanon tewas, dengan 500.000 rakyat Lebanon mengungsi.

Berdasarkan sumber (portal web dapat diakses) di atas:

- Konflik di Lebanon menyebabkan kematian 120.000 orang Lebanon.

- 1 juta orang Lebanon mengungsi.

- Aktor utama penyebab kematian adalah Israel, milisi lokal yang saling berperang dalam perang saudara.

Yaman

Pemosting menyebutkan bahwa, akibat penjajahan Iran ke Yaman menyebabkan 136.000 orang Yaman tewas, dan 2,5 juta rakyat Yaman mengungsi. Tapi berdasarkan sumber di atas disebutkan:

- Total tewas 377.000 orang Yaman, dengan rincian 150.000 tewas akibat perang, 227.000 tewas akibat kelaparan dan kolera.

- Aktor utama penyebab kematian dan pengungsian adalah Koalisi Saudi dan UEA, dan akibat blokade koalisi tersebut menyebabkan kematian karena kelaparan dan kolera serta pengungsian.

Pemosting menyebut, bahwa Iran “Menjajah Irak, Suriah, Lebanon, Yaman”, benarkah?

Dalam kajian strategik, kita gunakan saja teori-teori klasik, misalnya oleh Raffles dalam bukunya “History of Java” yang ia menteorikan tentang penjajahan dengan sebutan “Residensi” dan juga dijelaskan oleh Muhammad Reza Utama tentang “Penjajahan Dalam Tinjauan Hukum Internasional” disebutkan bahwa penjajahan memiliki ciri sbb:

1. Kontrol Administratif Langsung: Negara penjajah menguasai pemerintahan, hukum, dan administrasi wilayah jajahan.

2. Pemukiman Penduduk: Migrasi besar-besaran warga negara penjajah ke wilayah jajahan.

3. Eksploitasi Sumber Daya: Pengambilan kekayaan alam secara sistematis untuk kepentingan negara penjajah.

4. Penghapusan Kedaulatan: Pemerintahan lokal kehilangan otoritas penuh atas wilayahnya.

Dari tinjauan di atas, jelas Republik Islam Iran tidak dan bukan sebagai penjajah, melainkan hanya framing belaka. Tanpa Iran niscaya seluruh Timur Tengah telah dikuasai oleh Amerika dan Israel. Iran justru sebagai ganjalan bagi kaum Zionis  dan setan besar Amerika.


Senin, 07 Juli 2025

Sejarah Peperangan Antara Arab vs Israel, Arab Selalu Kalah!


Perang tahun 1948 Arab kalah! Perang tahun 1956 Arab kalah! Perang tahun 1967 Arab kalah total! Perang tahun 1973 (berlangsung 20 hari) Arab juga kalah.

Pertanyaan kita: Pernahkah negara-negara Arab menang lawan Israel? Tidak pernah!

Menariknya, justru Israel harus mengakhiri ambisi hegomoni-nya dan mundur tanpa capaian strategis apapun saat melawan milisi Hisbullah di Lebanon yang didukung Iran (1982, 2000, 2006)!

Kita ke Gaza: Hampir 2 tahun Israel memborbardir Gaza, puluhan ribu rakyat tak berdosa jadi korban, infrastruktur luluh lantak, rakyat dilaparkan, diblokade total: Tak ada satupun tujuan strategis dajjal terkutuk itu yang tercapai:
1. Musnahkan Hamas, gagal.
2. Bebaskan sandera, gagal.
3. Kuasai Gaza, juga gagal.

Dan Hamas, dkk itu hanya MILISI yang dilatih, dibiayai dan dibesarkan IRAN!

Definisi kemenangan dalam perang: tujuan strategis, politik, hukum dan ekonomi dicapai - tak masalah berapapun korban manusia harus mati (Uni Sovyet kehilangan 28 juta perajurit dan rakyatnya dalam perang dunia kedua melawan Nazi Jerman dibanding hanya 4 juta dari pihak Jerman) tapi akhir perang itu dimenangkan Uni Sovyet!

Israel dan AS menyerang Iran selama 12 hari dengan tujuan strategis mereka:
1. Hancurkan situs nuklir Iran.
2. Musnahkan instalasi-instalasi militer strategis Iran (rudal, sistem pertahanan udara).
3. Menjatuhkan sistem Islami Wilayatul Faqih di Iran dan mendukung kelompok kelompok anti Wilayatul Faqih (Rahbar) untuk ambil alih kekuasaan.

Semua tujuan-tujuan dajjalisme Zionis itu gagal total! Sebaliknya setelah 12 hari perang secara sepihak mereka merengek-rengek minta gencatan senjata -
"Jika saja perang itu berlanjut dua minggu lagi, maka dipastikan Israel akan lumpuh sebagai negara" (Larry Johnson, analis milliter dan intelejen AS).

Jadi, pernahkah negara-negara Arab menang melawan Israel? Pernah! Tapi hanya dalam mimpi!

Masihkah ada orang-orang yang berharap, misalnya pada Al-Jolani (HTS) Suriah akan memerangi Israel dan membebaskan Al-Aqsa?

Israel Ekspor Konflik: Dari Gurun Suriah ke Warung Kopi Indonesia?



Israel itu seperti pedagang gelap yang jualan "bom waktu sektarian". Pasar utamanya? Timur Tengah. Tapi matanya kini juga melirik gerai baru, yakni Indonesia. "Devide et Impera" bukan cuma taktik kolonial Belanda tempo dulu—itu menu utama politik Israel. Mereka paham betul: negara multikultural Indonesia yang bersatu adalah mimpi buruk bagi agenda mereka. Sebaliknya, masyarakat yang sibuk bertikai soal SARA adalah ladang subur buat intervensi.

Senjata mereka canggih tapi licik. Di Suriah dan Lebanon, Israel pakai "jasa titip" konflik: dukung kelompok tertentu, dukung para Takfiri yang hobi kofar-kafirkan orang, bikin isu lokal jadi perang agama, lalu duduk manis sambil jual senjata ke semua pihak. Media jadi amplifier-nya, algoritma sosial media jadi distributornya.

Resep ini mau diekspor kemana? Tengoklah bagaimana isu Palestina tiba-tiba dibelokkan jadi debat Sunni-Syiah di grup WA kelas tarkam, atau bagaimana ujaran intoleran tiba-tiba viral persis saat tekanan global ke Israel memuncak. Di sini, di Indonesia, kok ya bisa-bisanya ada ormas sektarian Aliansi Anti Syiah yang entah bagaimana prosesnya bisa dapat izin dari pemerintah. Kemana perginya “Bhineka Tunggal Ika”?

Dulu, kita sering berkata, "Ah, Indonesia kan beda! Kita punya Pancasila!" Benar. Tapi Israel bukan main halus. Mereka tak perlu invasi militer. Cukup kirim 'konten sampah' sektarian lewat buzzer bayaran, biarin influencer gadungan sebar hoax, atau dukung kelompok yang gemar impor konflik Timur Tengah. Tujuannya satu: bikin kita sibuk berselisih internal, alih-alih fokus pada penjajahan Zionis di tanah Palestina. Seperti tukang sulap, mereka ingin kita terkagum-kagum pada ilusi "musuh sesama muslim", sembari mengabaikan penjajahan nyata.

Indonesia ini pasar empuk: populasi besar, gencar digital, tapi rentan hoax. Israel bisa pakai proxy. Bayangkan: dana dari NGO "pendamai" Timur Tengah tiba-tiba mengalir ke ormas Islam radikal lokal. Atau grup media "moderat" di Jakarta tiba-tiba gencar bangun narasi permusuhan atas nama solidaritas Palestina—padahal ujungnya memecah-belah Umat. Mirip jualan obat palsu, bungkusnya agama, isinya racun perpecahan, dan jangan salah, organisasi sektarian ini pada akhirnya akan menyasar semua kelompok, termasuk komunitas non Muslim.

Bahayanya? Konflik impor ini bakal jadi "cap cai" beracun. Isu Syiah-Sunni dari Suriah dicampur sentimen lokal, ditambah politik identitas, dikasih kuah hoax. Hasilnya? Kerukunan jadi korbannya. Mereka bisa terprovokasi jadi "tentara bayaran" perang proxy Timur Tengah—berkelahi sesama anak bangsa, sementara penjajah di Gaza tertawa lebar. Persatuan Indonesia diadu domba seperti kambing kurban.

Solusinya? Waspadai "dangdut politik" Israel. Setiap ada isu sektarian mendadak panas, tanya: Siapa yang nyetel lagunya? Setiap ada kelompok yang gemar impor konflik luar, kritisi: Dapat kiriman minyak goreng dari mana? Jangan sampai NKRI jadi panggung baru drama mereka. Solidaritas Palestina harus tetap murni: satu suara menentang penjajahan, bukan malah pecah belah karena provokasi siluman.

Kita punya senjata ampuh: Pancasila itu perisai, Bhinneka Tunggal Ika itu pedang. Jangan mau dijajah ulang oleh perpecahan gaya baru. Sebab Zionis paling takut pada satu hal: Umat Islam dan bangsa Indonesia yang bersatu padu. Mereka bisa adu domba Suriah, mereka bisa pecah-belah Lebanon—tapi di sini? Gunakan kebhinekaan kita sebagai benteng. Biar Israel gigit jari.

Minggu, 29 Juni 2025

Pemakaman Para Jenderal dan Ilmuan Nuklir Korban Agresi Israel di Teheran


Jurnalis CNN foto selfie dengan background warga Iran yang dari pukul 8-12 siang berarak pelan mengantar peti jenasah.

Kemarin pemakaman para jenderal dan ilmuan nuklir korban agresi Israel digelar di Teheran. Lebih dari sejuta warga Teheran yang hadir membanjiri semua jalan poros untuk memberi penghormatan terakhir, turut diarak juga peti jenasah jurnalis, ibu-ibu dan anak-anak yang turut menjadi korban. Nama dan foto mereka dipampang jelas, tidak ada korban yang disepelekan dan tidak diaggap. Lebih dari 600 korban jiwa telah dimakamkan dan kemarin adalah puncaknya.

30 perwira tinggi Iran dari semua kesatuan dilaporkan terbunuh, tidak ada yag disembunyikan dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Iran tidak menganggap kematian para jenderalnya sebagai kelemahan apalagi kekalahan, melainkan kebanggaan. Sebab Iran dengan ideologi Syiahnya, kematian di tangan musuh adalah kesyahidan, adalah kematian terbaik. Terus apanya yang mau ditutupi dan membuat malu?

Sebaliknya, di Tel Aviv adakah pemandangan serupa? Adakah warga mereka dianggap jika data korban dimanipulasi agar tidak membuat malu? Bagaimana perasaan keluarga korban yang anggota keluarga mereka tewas namun tidak disebutkan namanya dalam laporan investigasi dan data korban demi untuk citra korban yang minim? Adakah penghormatan yang sama yang didapat mereka yang tewas di Israel sebagaimana yang didapat oleh mereka yang menjadi korban jiwa di Iran?

Mungkin memang Iran menderita korban jiwa lebih banyak dari Israel, terlebih lagi banyak di antaranya adalah orang-orang penting yang memegang posisi strategis dalam militer maupun keamanan nasional. Namun sejarah dan dunia mencatat, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah korban yang lebih sedikit, tetapi oleh siapa yang tetap berdiri tegak meski kehilangan begitu banyak.

Dalam banyak babak sejarah perjuangan, mereka yang terluka lebih dalam justru menjadi pemenang moral dan simbol perlawanan. Karena kemenangan sejati bukan hanya soal kalkulasi kerugian, tetapi tentang narasi yang bertahan, semangat yang tak padam, dan tekad yang tak bisa dibunuh.

Israel mungkin berhasil menargetkan sejumlah tokoh, tetapi Iran membuktikan bahwa setiap syahid justru melahirkan ratusan pengganti.

Dalam logika muqawamah, kehilangan bukan akhir—melainkan awal dari babak perlawanan baru yang lebih keras, lebih matang, dan lebih menyakitkan bagi musuhnya.

Dan pada akhirnya, dunia menyaksikan: siapa yang mengorbankan diri demi membela kehormatan, dan siapa yang membunuhi demi ambisi kolonial. Sejarah akan selalu berpihak pada mereka yang berdiri di sisi keadilan, walau darah mereka membasahi bumi.