Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Senin, 11 Agustus 2025

Pahami Bosnia Agar Kamu Paham Soal Gaza!




"Serahkan senjata kalian, supaya kami bisa menyembelih kalian seperti menyembelih domba dan merebut tanah kalian…!!"

Oleh: Fahmi Huwaidi

Jika kamu tidak memahami Bosnia, kamu tidak akan memahami Gaza…!! Pahami dulu Bosnia, baru kamu akan mengerti Gaza dan apa yang terjadi di sana, sehingga kamu tidak akan heran…!!

Perang pemusnahan yang dilancarkan Serbia terhadap Muslim Bosnia mengakibatkan:
  • 300 ribu Muslim gugur syahid;
  • 60 ribu perempuan dan anak perempuan diperkosa;
  • 1,5 juta orang diusir dari rumah mereka.
Apakah kita mengingatnya? Ataukah kita sudah melupakannya? Atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang itu?

Seorang presenter CNN berbicara tentang peringatan pembantaian Bosnia, lalu bertanya kepada (Christiane Amanpour), wartawan terkenal:

Apakah sejarah sedang terulang?

Christiane Amanpour dari CNN berkomentar pada peringatan Bosnia:

"Itu adalah perang ala abad pertengahan — pembunuhan, pengepungan, dan kelaparan terhadap umat Islam, dan Eropa menolak campur tangan dengan alasan ‘perang saudara’, padahal itu hanyalah mitos belaka…!"

Holocaust itu berlangsung sekitar 4 tahun. Serbia menghancurkan lebih dari 800 masjid, sebagian dibangun sejak abad ke-16 M, dan membakar perpustakaan bersejarah Sarajevo.

PBB masuk dan memasang pos pemeriksaan di pintu masuk kota-kota Muslim seperti Gorazde, Srebrenica, dan Zepa, namun semua itu berada di bawah pengepungan dan tembakan, sehingga “perlindungan” itu tidak berarti apa-apa.

Serbia menahan ribuan Muslim di kamp-kamp konsentrasi, menyiksa dan membuat mereka kelaparan hingga tinggal tulang belulang.

Ketika seorang komandan Serbia ditanya, “Mengapa?” Ia menjawab: “Karena mereka tidak makan babi!”

Surat kabar The Guardian pada masa pembantaian Bosnia pernah memuat peta satu halaman penuh yang menunjukkan lokasi 17 kamp besar pemerkosaan terhadap perempuan Muslim, beberapa di antaranya berada di dalam wilayah Serbia sendiri.

Serbia memperkosa anak-anak — bahkan ada anak perempuan berusia 4 tahun. The Guardian memuat laporan berjudul: "Anak perempuan yang satu-satunya ‘kesalahan’-nya adalah ia seorang Muslim."

Jagal Ratko Mladic mengundang pemimpin Muslim di Zepa untuk rapat, memberinya sebatang rokok, tertawa bersama sebentar, lalu menerkamnya dan menyembelihnya.

Mereka melakukan kekejaman besar di Zepa dan warganya. Namun kejahatan paling terkenal adalah pengepungan Srebrenica. Tentara internasional bergaul dengan Serbia, berdansa bersama mereka, bahkan ada yang menukar kehormatan perempuan Muslim dengan sepotong makanan.

Serbia mengepung Srebrenica selama 2 tahun, tanpa henti dibombardir. Sebagian besar bantuan yang masuk dirampas oleh Serbia. Kemudian Barat memutuskan untuk menyerahkannya kepada “serigala” — batalion Belanda yang seharusnya melindungi Srebrenica malah bersekongkol dengan Serbia, memaksa Muslim menyerahkan senjata mereka dengan janji akan diberi keamanan. Setelah kelelahan dan penderitaan, Muslim pun menyerah.

Begitu Serbia merasa aman, mereka menyerbu Srebrenica, memisahkan laki-laki dari perempuan, mengumpulkan 12.000 laki-laki (remaja dan dewasa), lalu membantai semuanya dan memutilasi jenazah mereka.

Bentuk mutilasi termasuk: seorang Serbia berdiri di atas tubuh Muslim dan menggores wajahnya yang masih hidup dengan simbol salib Ortodoks (dari laporan Newsweek atau Time).

Beberapa Muslim bahkan memohon kepada Serbia agar segera dihabisi karena tidak tahan dengan siksaan.

Seorang ibu memegang tangan tentara Serbia, memohon agar anaknya tidak dibunuh. Serbia memotong tangannya, lalu memenggal leher anaknya di depan matanya.

Pembantaian itu berlangsung… Dan kita hanya melihat, mendengar, makan, bersenang-senang, dan bermain

Setelah membantai Srebrenica, jagal Radovan Karadzic masuk ke kota dengan bangga dan berkata:

"Srebrenica selalu milik Serbia, dan kini telah kembali ke pelukan Serbia."

Serbia memperkosa perempuan Muslim dan menahannya selama 9 bulan hingga melahirkan. Mengapa?

Seorang Serbia mengatakan kepada media Barat: “Kami ingin perempuan Muslim melahirkan bayi Serbia.”

Dan saat kita mengingat Bosnia, Sarajevo, Banja Luka, dan Srebrenica, kita tegaskan:

Kita tidak akan melupakan Balkan…
Kita tidak akan melupakan Granada…
Kita tidak akan melupakan Palestina…

Di sini kita harus mencatat dengan tinta aib — sikap memalukan Butros Ghali (sekjen PBB saat itu, yang beragama Ortodoks) yang secara terang-terangan memihak saudara-saudara seagamanya, Serbia.

Namun, 30 tahun kemudian, kita masih belum belajar dari sejarah…

Tambahan: Serbia memilih membunuh ulama, imam masjid, cendekiawan, dan pengusaha. Mereka mengikat, lalu menyembelih, dan membuang jasad mereka ke sungai.

Kisah sejarah tidak diceritakan kepada anak-anak supaya mereka tidur…

Tapi diceritakan kepada orang dewasa supaya mereka bangun.

Semoga Allah membalas kebaikan siapa pun yang membaca dan menyebarkannya.

Lalu sekarang datang orang-orang yang menyalahkan pihak yang “peka” itu sebagai penyebab perang dan memaksa mereka menyerahkan senjata?

Orang seperti itu lebih rendah akalnya dari binatang dan lebih rendah harga dirinya dari pada babi. (Mirza Ali Kumayl)

Sumber:


Kamis, 07 Agustus 2025

Peringatan Tegas dari Imam Ali Khamenei hf Untuk Seluruh Rakyat Iran

 



Kita semua rakyat Iran — baik Syiah maupun Sunni, dari berbagai suku seperti Kurdi, Arab, Lor, Turki, Baluchi, Turkmen, Bakhtiari, dan lain-lain, serta semua kelompok politik baik konservatif maupun reformis — harus sadar bahwa tidak ada pengganti untuk sistem Republik Islam yang sekarang ini.

Jika, na’udzubillah, sistem Republik Islam saat ini runtuh, jangan pernah berpikir bahwa kondisi akan kembali seperti zaman sebelum Revolusi (zaman Dinasti Pahlavi). 

Tidak akan seperti itu.

Amerika dan Inggris tidak akan pernah lagi mengizinkan kita punya pemerintahan seperti zaman Pahlavi. Mereka sudah punya rencana lain yang jauh lebih buruk.

Kalau Republik Islam tumbang, apa yang akan menggantikannya?

Jawabannya sudah diberikan oleh Amerika melalui "anjing gila" mereka yaitu ISIS (Daesh):

Mandi darah, pembunuhan massal, bencana kemanusiaan, bahkan genosida terhadap bangsa Iran — lebih buruk dari yang terjadi di Myanmar.

Jadi, siapa pun yang berpikir bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika sistem ini (Republik Islam) dan Wilayah Faqih (kepemimpinan ulama) hilang, mereka sangat keliru.

Orang seperti ini tidak memahami politik dan bahaya yang mengintai bangsa Iran.

Jika Republik Islam jatuh, nasib kita bisa lebih buruk dari Suriah, Libya, atau Afghanistan.

Kita akan dijarah, diserang tiba-tiba, dan entah apa yang akan terjadi.

Saat itu, mungkin kita akan menyesal dan merindukan hari-hari yang sekarang kita keluhkan.

Mungkin kamu harus menggandeng keluargamu dan melarikan diri ke pegunungan dan padang pasir.

Wahai rakyat Iran yang terhormat, mari kita hargai keamanan yang kita miliki sekarang, dan hadapi masalah yang ada dengan kesabaran dan kewaspadaan, demi masa depan yang cerah, insha Allah.

Kita harus sadar dan berhati-hati, agar tidak terjebak oleh tipu daya musuh-musuh bangsa kita.

Hewan buas seperti serigala, burung bangkai, dan hiena sudah mengepung Iran, hanya menunggu saat yang tepat ketika negara ini kacau.

Waspadai fitnah-fitnah.

Sebarkan pesan ini agar semua orang sadar bahwa musuh tidak peduli dengan nasib kita.

Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Menyebarkan dan menyadarkan orang lain sama dengan sedekah jariyah.

Jangan sampai kita baru sadar setelah diinjak sepatu musuh — saat semuanya sudah terlambat.

Ya Ali madad.

https:///PanjiHitamImamMahdi

Makna dan Hakikat Islam Rahmatan Lil Alamin


Potret kelaparan di Gaza


Hari ini ketika ada ustadz atau da'i yang mengatakan dengan mulut yang berbusa, "Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin", ingin rasanya bersumpah serapah, "Rahmatan lil alamin apaan? Untuk memberi rahmat pada warga Gaza saja tidak mampu, boro-boro alam semesta...!"

Dulu mengapa orang-orang percaya pada Muhammad dan berbondong-bondong masuk pada Islam yang diajarkannya?
  • Ya karena duhulu Muhammad bukan hanya memberantas kesyirikan, tapi juga kemiskinan.
  • Dia bukan hanya memperbaiki akidah umat, tapi juga memperbaiki tatanan sosial yang tidak adil.
  • Dia bukan hanya membasmi penyakit masyarakat, tapi juga membasmi feodalisme yang menindas rakyat.
  • Dia bukan hanya memerangi kaum kafir Qurays tapi juga memerangi pengkhianatan dan kemunafikan di barisannya.
  • Dia bukan hanya mengajarkan Sunnah tapi juga mengajarkan kepedulian sosial.
  • Dia bukan hanya membangun masjid, tapi juga membangun solidaritas.
  • Dia bukan hanya memperluas wilayah, tapi juga memperluas keadilan.
  • Dia bukan hanya menyebarkan dakwah, tapi juga menegakkan hak-hak mustadh‘afin, mereka yang dilemahkan dan ditindas.
  • Hari ini, banyak yang mengaku mengikuti Sunnah Nabi, tapi justru membiarkan ketidakadilan tumbuh subur di sekelilingnya. Mengutuk LGBT siang malam, tapi bungkam terhadap penjajahan dan genosida. Mengkampanyekan poligami sebagai syariat, tapi melupakan syariat membela yang tertindas.
Padahal, Islam yang dibawa Muhammad bukan Islam yang menjinakkan jiwa untuk pasrah pada ketertindasan, tapi Islam yang membangkitkan kesadaran dan keberanian untuk melawan kebatilan. Bukan Islam yang hanya sibuk memisahkan laki-laki dan perempuan dalam pengajian, tapi Islam yang menyatukan mereka dalam satu barisan perjuangan menegakkan keadilan.

Jadi, jika hari ini kita melihat wajah Islam yang kaku, beku, dan tanpa nyawa, jangan salahkan Islamnya. Salahkan mereka yang telah memutilasi semangat revolusioner Islam, menjadikannya sebatas ritual tanpa arah, bacaan tanpa keberpihakan, dan ceramah tanpa keberanian.

Kita butuh kembali pada Islam Muhammad, Islam yang membuat penguasa takut dan orang miskin punya harapan. Islam yang tidak sekadar mengajari kita bagaimana masuk surga, tapi juga bagaimana menghadirkan secercah surga bagi mereka yang hidup dalam neraka dunia. Islam yang sibuk menyebarkan persatuan muslim dan ukhuwah, bukan Islam yang sibuk membuktikan yang lain selain kelompoknya pasti di neraka dan bukan Islam. (Ismail Amin Pasannai)

Sumber:

Selasa, 05 Agustus 2025

Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia




Imam Ruhullah al-Musawi al-Khomeini (1902–1989) bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran, tetapi juga sebagai arif billah, ahli hikmah dan wali yang tinggi maqam spiritualnya.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam. Namun di balik wajah politik Imam Khomeini, terdapat sisi ruhani yang jauh lebih dalam.

Beliau adalah murid dari para wali besar seperti Ayatullah Shahabadi dan Sayyid Ali Qadhi Tabataba’i, dan dikenal ahli dalam irfan teoritis maupun praktis.

Banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa Imam Khomeini memiliki karomah kewalian, sesuatu yang diakui dalam spiritualitas Syi’ah dan Sunni sebagai ciri orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam teologi Syi’ah, kewalian bukan hanya milik para Imam Ma’shum, tetapi juga dimungkinkan turun kepada para ulama yang meniti jalan suci, zuhud, dan mengenal Allah secara hakiki.

Karomah (karāmah) adalah bentuk manifestasi kehendak Ilahi yang ditampakkan melalui hamba pilihan, bukan hasil latihan sihir atau ilmu batin biasa.

Ciri utama wali menurut Syi’ah:
* Zuhud dan wara’ dalam hidup
* Mengenal Allah secara ma’rifah
* Taat sempurna kepada syariat
* Menghindari popularitas dan kesombongan
* Tidak menampakkan karomah sebagai pertunjukan

Imam Khomeini Sebagai Arifbillah dan Wali

Sebelum dikenal sebagai pemimpin revolusi, Imam Khomeini adalah pengajar irfan (di Islam Suni mungkin disebut tasawuf) di Hawzah Qom.

Beliau memiliki banyak karya yang luar biasa, karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia diantaranya seperti:

* Adabus Salat (Etika Shalat)
* Sirruṣ-Ṣalāt (Rahasia Shalat)
* Sharḥ Du’a al-Sahar (Syarah dua Sahur). dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini membuktikan bahwa beliau memiliki kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa. Dalam Adabus Salat, beliau menulis bahwa hakikat salat adalah mi’raj ruhani, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan kelezatannya.

Kesaksian Karomah Imam Khomeini

Melihat Hal Gaib. Ayatullah Amuli menceritakan bahwa suatu malam di Najaf, Khomeini sedang bermunajat. Setelah itu, beliau menyampaikan peristiwa tentang seorang yang wafat hari itu, padahal belum ada kabar resmi. Keesokan harinya berita wafat itu terbukti benar.

Khusyuknya Salat dan Mi’raj Ruhani. Imam Khomeini biasa mengerjakan salat malam dengan tangisan dan kegelisahan ruhani. Para pengawal pribadi menyatakan bahwa mereka merasa "getaran spiritual" saat berada di dekat kamar salat malam beliau.

Doa yang Mustajab. Banyak orang, termasuk keluarga dan murid-murid, melaporkan bahwa doa Imam Khomeini sering dikabulkan. Ada yang sembuh dari penyakit, ada yang berhasil mendapatkan solusi kehidupan, setelah didoakan oleh beliau, meskipun tidak diminta secara langsung.

Keteguhan Hati yang Ajaib. Saat menghadapi ancaman Syah Iran, Imam Khomeini tetap tenang dan yakin. Keteguhan ruhani ini diakui oleh kawan dan lawan sebagai "karamah tsabat" bentuk karomah berupa keteguhan iman yang tidak tergoyahkan, bahkan oleh maut.

Kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran).

Tidak mencintai dunia, tidak meninggalkan warisan harta benda mewah.

Menolak pengultusan, beliau selalu mengarahkan perhatian umat kepada Allah, Rasul dan Ahlulbaitnya, bukan pada dirinya. Tidak pernah menampakkan karomah, beliau bahkan menyembunyikan sisi irfannya dari publik selama revolusi berlangsung.

Ayatullah Bahjat menyebut Imam Khomeini sebagai “rahmat yang diturunkan” kepada umat Islam. Ayatullah Misbah Yazdi menilai Imam Khomeini lebih tinggi maqamnya dalam irfan daripada banyak guru beliau. Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan bahwa revolusi Khomeini tidak bisa dijelaskan secara politik semata, tapi sebagai buah dari kedekatan ruhani dengan Allah.

Buya Hamka berkisah tentang Imam Khomeini terutama setelah Revolusi Islam Iran 1979. Buya Hamka saat itu menjabat ketua MUI, Menemui Imam Khomeini di Iran, setelah pulang beliau menyebutkan kekaguman beliau:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980);

“Saya hormati beliau, karena beliau memiliki keteguhan yang jarang dimiliki oleh ulama lain. Beliau melawan Syah Iran tanpa gentar. Itu menunjukkan kekuatan iman dan keyakinan.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980).

“Saya melihat kemenangan Revolusi Iran sebagai pertanda bahwa Islam belum mati. Semangat umat Islam kembali hidup karena perjuangan Imam Khomeini.”
Wawancara Buya Hamka yang dimuat dalam harian Pelita dan disitir dalam buku “Hamka: Sebuah Biografi” oleh Irfan Hamka, Republika, 2013.

“Walau beliau Syi’ah, perjuangannya adalah perjuangan Islam.”
“Meskipun beliau dari mazhab Syi’ah, saya melihat api perjuangan beliau membakar semangat umat Islam sedunia. Kemenangan itu adalah kemenangan umat Islam, bukan milik satu golongan saja.”
(Sumber: Panji Masyarakat, 1980).

“Imam Khomeini hidup sederhana, tidak silau kekuasaan.”
“Lihatlah bagaimana Imam Khomeini hidup. Beliau tidak tertarik pada kemewahan atau harta. Ia tetap sederhana, walau menjadi pemimpin negara.”
(Disampaikan Buya Hamka dalam pengajian MUI awal 1980-an (dikutip oleh murid-murid Buya Hamka dan dimuat ulang dalam buku “Ulama dan Revolusi Iran” karya DR. Muhsin Labib, 2008).

Roger Garaudy (Filsuf Prancis, mantan Marxis yang masuk Islam):
"Imam Khomeini telah mengembalikan makna politik dalam Islam yang telah lama dirusak oleh kompromi-kompromi kekuasaan. Ia seorang tokoh revolusioner spiritual."
Sumber: Roger Garaudy, L’Islam habite notre avenir (Islam Mendiami Masa Depan Kita), 1981.

Itulah kekaguman dari beberapa ulama dan para pemikir kepada sosok Imam Khumaeni qs. Meskipun tidak bisa kutip kekaguman pemikir lainnya pada sosok fenomenal ini.

Dalam Islam, kedudukan ulama sangat tinggi. Al Qur'an menyebutkan:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28).

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya).

Namun, tidak semua orang yang bergelar "ustadz" atau "kyai" dapat menyandang fungsi pewaris Nabi.

Fungsi ini menuntut keilmuan mendalam, kesalehan pribadi, keberanian sosial, dan independensi politik, keberanian bertindak dan bersikap, membela Mustadhafiin, pantang hina. (Jika tidak berlebihan kita sebut Miniatur atau kloningan para Nabi).

Iran, sebagai negara dengan sistem unik dalam mencetak keulamaan melalui seleksi ketat, tahapan panjang, proses yang matang, telah berhasil membangun ekosistem mencetak ulama dengan kualitas dan kriteria ini.

Diera modern kita bisa melihat sosok-sosok ulama seperti ini pada ulama-ulama Syi'ah Iran, seperti Ruhullah Imam Khomeini qs., Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan masih banyak lagi, mereka contoh konkrit hari ini yang tidak pernah takut kepada Asu Zionis panjajah, mereka hanya takut kepada Allah SWT. Berani melawan, tidak takut mati. Sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengingat hadits Nabi di atas bahwa ulama itu Pewaris Para Nabi, apa yang diwarisi dari Nabi? Tentu saja bukan ibadah solatnya semata atau ilmunya semata, tetapi kesolehannya, akhlaknya termasuk didalamnya: Keberanian melawan kezaliman, ketabahan, kesabaran, kezuhudan, kewaraan, membela yang tertindas dst.

Adapun Ucapan Buya Hamka:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980). Sangat Tepat sekali karena Imam Khomeini sosok yang selaras dan sesuai dengan kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Kita patut bertanya dan mendefinisikan ulang gelar ulama yang gampang disematkan oleh sekelompok orang kepada orang yang cuma memimpin majlis ilmu dengan gelar "ulama Sunnah", kira-kira pelabelan seperti ini sesuai kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi tidak?

Apakah imam solat Masjidil haram yang tidak peduli dengan keadaan Palestina, diam dengan kezaliman Zionis ASU pada Gaza karena takut dengan tekanan penguasa tanah haram itu masuk dalam kategori ulama?

Mari kita berpikir ulang tentang ulama jangan sembrono dan sembarangan menyematkan gelar ulama, apalagi hanya karena fanatik buta tanpa didasari logika. Fanatik boleh tapi ditempatkan sesuai dengan kriteria dan tempatnya.