Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Minggu, 28 September 2025

Fikih Ahlul Bait Warisan Dari Ajaran Rasulullah Saw




Sambil mikir tak habis pikir, kita bisa melihat bermacam cara ibadah yang dilakukan masyarakat Islam dalam kegiatan keberagamaan sehari-hari! Simpang siur dan campur aduk, masing-masing golongan mengklaim paling benar, semua mengaku berasal dari ajaran Nabi Saw. Kok bisa?

Bagaimana mungkin Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya ibadah yang sangat penting dengan berbagai cara yang berbeda? Pasti ada yang salah.

Jika kita telusuri dengan seksama, kita bisa melihat faktor utama munculnya perbedaan tersebut ada pada mata rantai perantara yang menyampaikan hadis-hadis dari Nabi Saw kepada kita.

Golongan Ahlus Sunnah merujuk kepada para Imam Mazhab panutan mereka, yang ternyata tidak bersambung ke Rasulullah Saw. Dari fakta sejarah kemunculan mazhab-mazhab yang empat itu, mereka muncul ratusan tahun setelah Rasulullah Saw wafat. Imam Hanafi wafat tahun 150 H, Imam Malik bin Anas wafat tahun 179 H, Imam Syafi'i wafat tahun 204 H, Imam Ahmad Hambal wafat tahun 241 H.

Di dalam kondisi membingungkan dengan merebaknya kesimpang-siuran ibadah di kalangan umat Islam, kita bisa telusuri benang merahnya, ternyata semua itu adalah warisan dari para khalifah penguasa yang bukan pewaris ilmu Nabi Saw.

Para penguasa ini merusak ajaran Islam Muhammad dengan membuat bid'ah-bid'ah baru yang akhirnya merasuki kehidupan beragama masyarakat Islam, dan gaungnya masih membekas sampai masa kini.

Kita teringat kata-kata Imam Ali bin Abu Thalib as:

"Bahkan bagaimana kamu dapat disesatkan sedangkan kerabat-kerabat Nabi Saw berada di antara kamu? Mereka itulah tonggak kebenaran, panji-panji agama, lidah-lidah yang selalu berkata benar!" (Nahjul Balaghah Khutbah 83).

Juga teringat wasiat Rasulullah Saw:

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: "Kitab Allah dan Itrah, Ahlul Baitku".

Marilah kita perhatikan bahwa para Imam Ahlul Bait as menjaga diri dari semua perbedaan pendapat yang membingungkan dan memecah-belah umat Islam.

Artinya bahwa ajaran-ajaran para Imam Ahlul Bait (as) adalah berasal dari warisan Rasulullah Saw.

Terus, kapankah para Imam Ahlul Bait (as) mulai mengajarkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw kepada umat Islam?

Sesungguhnya, Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan Umat setelah Rasulullah Saw, bersama pengikut setia beliau secara konsisten terus mempraktekkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw, meskipun beliau as tersingkir dan dikucilkan oleh para khalifah penguasa dan kelompok pendukungnya.

Ketika Imam Ali as dibai'at sebagai khalifah ke empat, beliau tidak sempat memperbaiki kerusakan agama yang terlanjur berakar kuat mencengkeram masyarakat. Di masa kekhalifahan beliau yang singkat itu, beliau disibukkan dengan munculnya pemberontakan kelompok pembangkang.

Imam-imam Ahlul Bait (as) penerus beliau pun terus berada dalam tekanan para khalifah penguasa.

Baru pada masa akhir kekuasaan Bani Umayah, yang mulai goyah akibat pemberontakan umat Islam, tekanan dan intimidasi kepada para Imam Ahlul Bait (as) mulai longgar. Pada saat itulah mulai bersinar kembali ajaran Rasulullah Saw yang disebarkan oleh para Imam as.

Imam ke-5 Ahlul Bait yaitu Imam Muhamnad Al-Baqir as (56 -114 H) mulai mengajarkan ajaran Rasulullah Saw secara terbuka kepada umat Islam, yang kemudian diteruskan oleh Imam selanjutnya, yaitu Imam ke-6, Imam Ja'far Shadiq as (80 -148H).

Imam Muhammad al-Baqir as mengajarkan ilmu fikih kepada umat Islam di Madinah secara terbuka, setelah periode pengucilan penguasa kepada para Imam Ahlul Bait sebelumnya.

Menurut As-Suyuthi di dalam "Tadribur Rawi" mengatakan bahwa Nabi Saw sendiri telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh ilmu sebagaimana yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar.

Al-Hakam bin Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad al-Baqir as, ketika beliau as menjelaskah suatu masalah yang dipertentangkan oleh Al-Hakam.

Imam Baqir as mengeluarkan kitab tersebut dan menjelaskan kepada Al-Hakam sambil berkata, "Ini adalah tulisan tangan Ali bin Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah Saw dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah Saw".

Dengan begitu kelompok Syiah mengetahui dan meyakini betapa penyusunan ilmu hadis itu telah begitu rapinya dilakukan oleh Imam Ahlul Bait as sejak Nabi Saw masih hidup, bahkan atas perintah Nabi Saw sendiri.

Jadi, ketika kelompok Sunni, pengikut setia para khalifah (diluar Syiah Ahlul Bait as), kebingungan atas hilangnya hadis-hadis Nabi akibat ulah penguasa, ternyata para Imam Ahlul Bait as dan para pengikut setianya telah mengamankan hadis-hadis dalam kitab-kitab mereka.

"Abu Rafi'e" adalah Syiah Ali yang pertama kali mengumpulkan dan menyusun hadis berdasarkan bab per bab.

An-Najasyi di dalam "Asma' Mushannifisy Syiah" menjelaskan:

"Dan Abu Rafi'e, budak Rasulullah Saw mempunyai kitab "As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya". Lalu ia menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab, mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah.

An-Najasyi mengatakan bahwa, "Abu Rafi'e telah menjadi muslim lebih dulu di Mekah lalu hijrah ke Madinah dan ikut bersama Nabi Saw dalam banyak peperangan. Setelah Nabi Saw wafat Abu Rafi'e menjadi pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as.

Abu Rafi'e selalu ikut terjun dalam peperangan bersama Imam Ali as. Ketika Imam Ali as jadi khalifah, Abu Rafi'e dipercaya sebagai pemegang kunci Baitul Mal di Kufah.

Tetapi tidak lama, Abu Rafi'e meninggal pada tahun 35 H, di awal kekhalifahan Imam Ali as tersebut, sebagaimana kesaksian Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Jabatan sebagai pemegang kunci Baitul Mal diteruskan oleh anaknya yaitu Ali bin Abu Rafi'e, seorang tabi'in sahabat Imam Ali as.

Jadi, menurut ijma para ulama, tidak ada orang yang lebih dulu dari Abu Rafi'e dalam pengumpulan hadis dan menyusunnya secara bab per bab.

Yang paling utama dari fikih Ahlul Bait (as) adalah kesinambungannya secara langsung dengan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw adalah "thariqah" Imam-imam Ahlul Bait as yang telah Allah sucikan.

Rasulullah Saw sendiri menyatakan bahwa imam-imam Ahlul Bait as adalah bahtera keselamatan dan jalan keselamatan serta warisan kedua setelah Al-Qur'an yang harus menjadi pegangan umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis mutawatir dari Imam Muhammad Al-Baqir as.

Imam Baqir as berkata, "Kalau kami menyampaikan hadis berasal dari pikiran kami, pasti kami akan menjadi sesat seperti kaum-kaum sebelum kami. Hadis yang kami sampaikan berasal dari Tuhan kami yang disampaikan kepada Nabi-Nya, lalu oleh Nabi disampaikan kepada kami". (A'lamul Waras, hal 270).

Fikih Ahlul Bait Bersifat "Fleksibel"

Fikih Ahlul Bait as mengalir secara alami dengan kehidupan manusia, mengikuti perkembangan zaman, tidak membunuh kodrat dan fitrah manusia. Bergerak sesuai tuntutan zaman. Hukum-hukumnya tidak memberatkan dan tidak membahayakan.

Selaras dengan kepentingan semua tabiat manusia dan seimbang. Ini sangat mengagumkan para ahli hukum dan mereka mengakui bahwa fikih Ahlul Bait as memang orisinil.

Membuka Lebar-lebar Pintu Ijtihad

Salah satu ciri penting dari fikih Ahlul Bait adalah memberikan ruang kebebasan yang besar bagi ijtihad. Hal ini menunjukkan kedinamisan untuk menjadi solusi bagi problematika kehidupan masyarakat.

Fikih itu tidak statis terhadap apa yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Fikih memberi respon terhadap segala permasalahan manusia. Hal ini disadari betul oleh para ulama besar termasuk ulama lulusan Al-Azhar bahwa berapa pentingnya pintu Ijtihad yang telah digulirkan oleh ulama-ulama pengikut Ahlul Bait as bagi perkembangan fikih Islam.

Sayid Rasyid Ridha mengatakan, "Saya tidak melihat keuntungan apapun dengan meninggalkan dan menutup pintu ijtihad, yang banyak justru mudharatnya karena pengabaian terhadap peranan akal dan menutup jalan pengetahuan. Kaum muslimin yang meninggalkan ijtihad pada akhirnya akan meninggalkan ilmu seperti yang kita lihat sekarang ini". (Al-Wahdat al-Islamiyah, hal 99).

(Madrasah Ahlul Bait).

Semoga membuka wawasan dan mencerahkan hati pencari kebenaran. (Hasan Husein)

Jumat, 26 September 2025

Transformasi Masyarakat di Bawah Pemerintahan Imam Mahdi

 



Kepercayaan akan kedatangan Imam Mahdi merupakan bagian penting dari eskatologi Islam, khususnya di kalangan Syiah. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa seorang lelaki dari keturunan Nabi Muhammad, bergelar Al-Mahdi, akan muncul di akhir zaman. Imam Mahdi diyakini akan hadir untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di saat dunia dilanda tirani dan kezaliman. Dalam keyakinan Syiah, Imam Mahdi adalah putra Imam Hassan Al-Askari, Imam ke-12, yang telah lahir namun hidup dalam keghaiban di bawah penjagaan Allah. Kedatangannya diyakini bukan sekadar reformasi politik, melainkan penanda dimulainya era penegakan keadilan, peningkatan pengetahuan, dan perbaikan moral secara universal.

Hakikat Keadilan dalam Pemerintahan Mahdi

Prinsip yang paling mendasar dalam pemerintahan Imam Mahdi adalah keadilan. Keadilan dianggap sebagai prinsip fundamental bagi keberlangsungan masyarakat dan kesejahteraan warganya. Implementasi keadilan di bawah Imam Mahdi bersifat komprehensif sehingga akan menciptakan tatanan sosial baru, di mana peluang kejahatan nyaris tidak ada. Keadilan ini juga menjamin keamanan bagi individu yang rentan; seseorang dapat bepergian dari satu daerah ke daerah lain tanpa takut dihalangi, dirampok, atau diganggu. Norma-norma keadilan ini membentuk fondasi masyarakat yang damai dan aman.

Era Keberkahan dan Kemakmuran

Melampaui penegakan keadilan sosial, pemerintahan Imam Mahdi juga akan menandai Era Keberkahan dan Kemakmuran yang melimpah—suatu kondisi yang belum pernah disaksikan oleh peradaban manusia. Masyarakat akan merasakan hujan dengan kualitas dan manfaat istimewa. Hasil panen dalam sehari dapat begitu melimpah hingga mampu memenuhi kebutuhan bertahun-tahun. Transformasi alam ini menghasilkan tumbuhan hijau yang melimpah di tanah, pegunungan, hingga gurun. Keberkahan ekonomi yang luar biasa ini bahkan membuat orang-orang berharap mereka yang telah meninggal dapat hidup kembali, hanya untuk menyaksikan dan merasakan karunia tersebut.

Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi

Selain kemakmuran materi, pemerintahan ini juga dicirikan oleh Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi. Menurut riwayat yang dinukilkan oleh Imam Sadiq, pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini masih sangat terbatas. Ketika Imam Mahdi muncul, beliau akan menyebarkan dan memperluas pengetahuan berkali lipat. Peningkatan ilmu pengetahuan ini tidak hanya menambah wawasan, namun juga melahirkan kemajuan teknologi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Sebuah tradisi menyebutkan bahwa manusia nantinya dapat bepergian dari timur ke barat dunia hanya dalam satu jam. Hal ini mengindikasikan kemajuan teknologi dan transportasi yang luar biasa di era tersebut.

Kemajuan Peradaban Islam dan Perubahan Sosial

Di bawah pemerintahan Imam Mahdi, peradaban Islam akan mencapai tingkat kemajuan tertinggi. Era itu akan ditandai oleh ekspansi keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan. Keyakinan dan spiritualitas masyarakat akan diperkuat dan direformasi secara total. Kesejahteraan rohani dan jasmani akan tercapai secara simultan, menjadikan masyarakat hidup dalam keharmonisan yang sejati.

Transformasi yang terjadi bukan sekadar modifikasi fisik atau teknologis, melainkan juga revolusi dalam dimensi spiritual masyarakat. Keadilan dan pengetahuan akan menjadi sarana untuk memperkuat kebajikan moral seperti kasih sayang, kejujuran, dan kerendahan hati. Komunitas tidak lagi melihat agama hanya sebagai urusan pribadi, namun menjadi fondasi kehidupan bersama. Ritual ibadah, amal, dan etika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, menumbuhkan hubungan antarmanusia yang erat dan saling menghormati. Pembaharuan spiritual ini akan membawa masyarakat menuju kondisi iman yang lebih tinggi dan lebih murni.

Kemakmuran Ekonomi dan Perdamaian Global

Sistem ekonomi yang diterapkan Imam Mahdi akan menghapus praktik eksploitasi dan menempatkan kesetaraan serta kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Tidak akan ada lagi kemiskinan, karena keberkahan Allah memastikan kebutuhan setiap individu terpenuhi dengan mudah. Masalah ekonomi seperti pengangguran, inflasi, dan ketimpangan akan lenyap berkat hasil pertanian yang melimpah dan inovasi teknologi yang luar biasa. Tatanan ekonomi ideal ini bukan hanya hasil kebijakan manusia tetapi juga manifestasi langsung dari rahmat Allah yang mengalir melalui sistem pemerintahan yang adil.

Keadilan yang ditegakkan di setiap aspek kehidupan, baik personal maupun universal, akan mengeliminasi sumber-sumber konflik. Tidak ada lagi perang untuk perebutan wilayah, sumber daya, atau supremasi ideologi, karena pemerintahan Imam Mahdi menjamin distribusi dan penghormatan yang adil bagi semua. Era ini menjadi masa perdamaian universal; pertikaian diplomasi diselesaikan dengan hukum yang adil, dan ketegangan sosial akan lenyap berkat kemakmuran dan reformasi moral yang menyeluruh. Keamanan dan ketentraman akan menjadi standar baru kehidupan manusia.

Kesimpulan

Pemerintahan Imam Mahdi digambarkan sebagai era ketika intervensi ilahi dan potensi manusia bersatu, menghadirkan masa depan yang dipenuhi keadilan, pengetahuan, dan kebajikan. Dari berkah alam yang melimpah dan ledakan pengetahuan hingga reformasi moral, seluruh aspek kehidupan masyarakat akan berubah secara mendasar. Paradigma ini menjadi puncak ajaran Islam mengenai keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan pemenuhan spiritual yang hakiki.

Di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, masyarakat dunia akan mengalami transformasi yang fundamental dan mendalam. Masa ini akan menjadi masa di mana keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan tersebar luas di seluruh penjuru bumi. Segenap manusia akan merasakan manfaat dari kehadiran pemimpin yang adil ini; dunia yang sebelumnya diliputi tirani dan kezaliman akan bertransformasi menjadi masyarakat yang harmonis, makmur, dan damai. (Edwin Harahap)

Sumber:

Kamis, 25 September 2025

Antara Dua Metode Dalam Menilai Suatu Berita




Pertama, Metode Rijal yaitu melihat sanad atau kualitas rijal apakah perawi itu dipercaya (tsiqah) atau tidak dipercaya (tidak tsiqah) dst. Metode ini mengabaikan isi atau muatan berita.

Kedua, Metode Al-Qur'an yang diterapkan oleh para imam suci Ahlul Bait yaitu menetapkan suatu berita/hadis benar atau tidak dengan cara melihat isi beritanya, bukan melihat pembawa beritanya. Meski pembawa berita itu kafir atau fasik atau munafik sekalipun, lihat terlebih dahulu apa isi berita yang disampaikan, lalu lakukan pengujian materi apakah berita tersebut sesuai dengan kebenaran al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, dengan kenyataan sesungguhnya atau tidak. Jika sesuai berarti dapat diterima, jika tidak sesuai maka ditolak.

إذا جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا

Jika datang padamu seorang fasik dengan suatu berita maka lakukan pengujian/tabayyun. Bukan ditolak dengan alasan pembawa berita itu fasik, tapi lakukan tabayyun karena ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan dusta.

Mengapa Kitab Bukhari, Muslim, dll. diterima sebagai Shahih? Ini karena metode sanad, metode pengujian rijal. Bukhari tidak terima suatu berita dari Imam Ja'far Shadiq as karena Ja'far as masuk dalam daftar sesat. Mereka tidak melihat isi berita. Jika datang dari kelompok mereka pasti dianggap benar karena mereka masukkan dalam daftar orang-orang tsiqah. Tapi diluar kelompok mereka tidak diterima karena masuk dalam daftar kelompok sesat.

Menurut metode Ahlul Bait as yang sesuai dengan al-Qur'an, berita dari siapa pun, dan apapun latar belakang akhlak dan agamanya tidak langsung ditolak tapi dilakukan uji materi terlebih dahulu. Jika materi berita logis, sesuai realita, senafas dengan al-Qur'an, sesuai dengan Ahlut Bait as, diterima. Jika tidak sesuai, meski datang dari Marja' Agung sekalipun, maka beritanya tertolak.

Rabu, 24 September 2025

Defah Muqaddas (Perang Pertahanan Suci), Kisah Perjuangan Rakyat Iran Mempertahankan Kedaulatan Negara


Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. 



Rakyat Iran pernah mengalami kesulitan berat di era perang Irak-Iran. Dimasa masih dalam kondisi berbenah setelah berdarah-darah dalam perjuangan revolusi menjatuhkan kediktatoran rezim Syah Pahlevi di tahun 1979, setahun setelahnya rakyat Iran harus bergelut mempertahankan kemenangan revolusinya. Irak dibawah Saddam Husain melancarkan serangan militer yang mengerikan termasuk menggunakan senjata kimia berbahaya, dengan dalih membendung pengaruh ideologi revolusi yang diusung Imam Khomeini.

Dengan kekuatan 1,3 juta prajurit, Saddam sesumbar akan menaklukkan Iran dalam satu minggu. Dia menilai, Iran dibawah Mullah tanpa pengalaman militer akan mudah dihempaskan dalam waktu singkat. Nyatanya, perang berlangsung selama 8 tahun, tanpa Irak bisa mengklaim kemenangan.

Perang yang dikenal paling merusak dan paling berdarah setelah perang dunia II tersebut, merenggut jutaan nyawa rakyat Irak dan Iran. Perjuangan mempertahankan kedaulatan negara, tidak hanya dilakukan oleh tentara Iran, tapi semua komponen bangsa terlibat. Iran terpaksa melibatkan sukarelawan untuk menutupi kekurangan pertahanan militernya. Sukarelawan berasal dari rakyat sipil dari berbagai latar belakang, mulai dari pemulung, kuli bangunan, petani, santri, mahasiswa sampai bahkan anak-anak remaja mendaftarkan diri untuk menjadi relawan tempur untuk ikut membantu militer di garis perbatasan.

Semua yang menjadi korban kebiadaban rezim Saddam di medan tempur, dianugerahi gelar syahid oleh Imam Khomeini. Jadi di depan nama mereka, dibubuhi gelar "Syahid". Yang jenasahnya ditemukan, dimakamkan di pemakaman Syuhada, dan menjadi tradisi bagi rakyat Iran untuk menziarahi pemakaman tersebut sebagai bentuk penghormatan. Yang jenasahnya tidak diketahui identitasnya, Imam Khomeini berkata, "Tulis di pusaranya, disini dimakamkan putra Khomeini."

Baku tembak yang dimulai 22 September 1980 tersebut, diperingati Iran setiap tahunnya dengan nama "Defah Muqaddas" yang artinya Pertahanan Suci. Tahun ini adalah yang ke 41. Peringatan Defah Muqaddas diwarnai dengan ziarah ke pemakaman syuhada dan menapaktilasi jejak perjuangan para pahlawan negara di lokasi-lokasi pertempuran. Sebagai bentuk terima kasih, para veteran perang dan keluarga syuhada mendapat perlakuan istimewa oleh negara. Mulai dari anak-anaknya disekolahkan, diangkat menjadi pegawai negeri, sampai mendapat pelayanan kesehatan gratis seumur hidup.

Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. Kecintaan rakyat Iran pada kesyahidan bisa tergambarkan oleh ancaman Jenderal Qassem Soleimani kepada Amerika Serikat, "Kami adalah bangsa yang mendambakan mati syahid, kami adalah bangsa yang mengikuti Imam Husein. Bertanyalah! Kami telah melewati banyak peristiwa sulit. Ayo! kami menunggu. Kami jagonya di medan tempur. Kalian tahu bahwa perang ini berarti penghancuran semua yang kalian miliki. Jika kalian memulai perang ini, kami yang akan mengakhirinya." (Ismail Amin Pasanna)

Sumber: