Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 04 Mei 2024

Kutipan Manipulatif Dalam Buku Panduan MUI: Benarkah Selain Syiah Anak Pelacur?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 311-313, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Di dalam Buku Panduan MUI halaman 66 menyatakan: “Seorang ulama Syiah al-Kulaini mengatakan dalam kitabnya, bahwa semua umat Islam selain Syiah adalah anak pelacur.” Catatan kaki 73: “Lihat al-Raudhah min al-Kafi, vol. 8, hal. 227).

Tanggapan:

Penulis buku yang menisbatkan kepada MUI ini lagi-lagi kehilangan kendali kehati-hatian dalam menukilkan sebuah hadis atau pun riwayat yang berasal dari mazhab Syiah. Kutipan hadis yang dialamatkan sebagai berasal dari Al-Kulaini tersebut sama sekali tidak berbunyi demikian. Berikut ini hadis riwayat dalam Raudhah Al-Kafi:

“Dari Abu Abdillah, ia berkata. “Demi Allah, tidak ada yang mencintai kami dari bangsa Arab mau pun bangsa ‘Ajam, kecuali mereka adalah anak halal juga mulia, dan tidak ada yang membenci kami dari bangsa-bangsa tersebut kecuali mereka adalah anak yang kelahirannya tidak baik.”

Penahkik kitab berkata, “Pengertian mulshaq sesuai dengan riwayat yang mutawatir adalah kelahiran yang tidak baik dan bukan sebagai anak hasil zina.” [1]

Mari perhatikan poin-poin berikut:

Pertama, kutipan dalam buku Panduan MUI di atas secara jelas menganggap orang yang tidak mencintai Ahlul Bait sebagai bukan Syiah. Padahal Syiah menganggap setiap muslim pasti mencintai Ahlul Bait dan tidak harus Syiah.

Kedua, kutipan dalam buku Panduan MUI di atas secara tidak langsung menganggap Ahlus Sunnah sebagai golongan yang tidak mencintai Ahlul Bait. Jelas ini ditentang oleh Syiah sendiri. Tentu saja Ahlus Sunnah keberatan atas penafsiran serampangan ini. Hal ini menunjukkan penulis buku ini tidak merepresentasikan Ahlus Sunnah.

Ketiga, membenci Ahlul Bait berarti membenci sahabat Nabi Saw, karena Ahlul Bait adalah sahabat plus. Sementara kutipan dalam Buku Panduan MUI di atas mengubah makna frase yuhibbuna (mencintai Ahlul Bait) dan wala yubghidhuna (dan tidak membenci Ahlul Bait) sebagai selain Syiah. Hal ini merupakan kesalahan fatal dalam mengutip, karena merupakan bentuk manipulasi makna yang disengaja.

Namun demikian, jika kita mencoba membuka kembali beberapa riwayat yang dituliskan di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka kita pun akan menemukan banyak hadis yang mengingatkan akan ancaman yang berasal dari Rasulullah Saw bagi mereka yang membenci Ahlul Bait Nabi Saw, sebagaimana yang telah diriwayatkan Al-Imam Al-Tsa’labi (w. 428 H) dalam Tafsir Al-Kasyf wa  Al-Bayan atau yang dikenal dengan Tafsir Al-Tsa’labi:

“… ketahuilah, barang siapa mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, dia akan datang pada hari kiamat tertulis di antara kedua matanya putus harapan dari rahmat Allah. Ketahuilah, barang siapa mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, dia mati dalam keadaan kafir. Ketahuilah, barang siapa mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, dia tidak akan mencium wangi surga…”[2]



[1] Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, Raudhah Al-Kafi, j. 8, h. 248-9, cet. 2, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, Lebanon, 1997 M (1417 H).

[2] Imam Abu Ishaq Ahmad Al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa Al-Bayan, j. 8, h. 314, cet. 1, Dar Ilya Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut, Lebanon, 2002 M (1422 H). Lihat Mahmud bin Umar Al-Zamakhsyari, Al-Kasyf: ‘an Haqa’iq Ghawamidh Al-Tanzil wa ‘Uyun Al-Aqawil fi Wujuh Al-Ta’wil, juz 5, h. 405-6, tafsir QS. Al-Syura [42]: 23, cet. 1, Maktabah Al-‘Ubaikan, Riyadh, Saudi Arabia, 1998 M (1418 H). Lihat Muhammad Fakhr Al-Din Al-Razi, Tafsir Fakhr Al-Razi, j. 27, h. 166-7, tafsir QS. Al-Syura [42]: 23, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1981 M (1401 H).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar