Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Sabtu, 04 Mei 2024

Kutipan Manupulatif Dalam Buku Panduan MUI: Benarkah Syiah Menganggap Seluruh Sahabat Murtad?

 

Referensi: Tim Ahlul Bait Indonesia, Syiah Menurut Syiah, hlm. 315-317, penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, cetakan III, Oktober 2014/Dzulhijjah 1435 H.

 

Pada halaman 53-54 Buku Panduan MUI menyatakan:

“Ulama Syiah lainnya, al-Kulaini mengatakan, bahwa seluruh sahabat itu murtad setelah Nabi Saw wafat, kecuali tiga orang, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.” (Catatan kaki 59 dalam Buku Panduan MUI: Al-Kulaini, al-Raudhah min al-Kafi, vol. 8/245).

Tanggapan:

Pertama, Buku Panduan MUI telah melakukan tuduhan keliru atas Al-Kulaini. Sebab yang benar adalah beliau hanyalah meriwayatkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hannan dari ayahnya, dari Imam Abu Ja’far (Muhamamd Al-Baqir) bahwa… Sedangkan meriwayatkan berbeda dengan mengatakan.

Kedua, perawi hadis tersebut adalah bernama Hannan. Kalau kita menelaah kitab rijal al-hadits (biografi para perawi hadis), maka paling tidak kita akan menemukan dua orang yang memiliki nama tersebut: 1) Hannan Al-Sarraj, dia diyakini oleh para ulama rijal sebagai seorang penganut Syiah Kisaniyah. 2) Hannan bin Sudiyr, dia diyakini sebagai seorang waqifiy (yang meyakini bahwa kepemimpinan berhenti pada Imam Musa Al-Kadzim) dan hidup sezaman dengan Imam Ja’far Al-Shadiq, namun tidak berjumpa dengan Abu Ja’far (Imam Muhammad Al-Baqir).[1] Walhasil, riwayat kedua orang tersebut tertolak periwayatannya.

Ketiga, riwayat yang dinukil di atas tidaklah berdiri sendiri. Beberapa hadis yang menginggung kata “murtad” dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini sendiri disebutkan, “Mereka murtad (berpaling) dari keimanan.”[2] Jadi, bukan murtad dari agama Islam, seperti yang dipahami dari riwayat-riwayat serupa lainnya. Lebih jauh lagi, hadis-hadis tersebut juga berkategori dha’if (lemah).

Tema murtad dalam Al-Qur’an disebutkan dengan kata ingilab (berbalik ke belakang) berkaitan dengan wafatnya Rasulullah Saw:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 144)

Selain itu, Al-Qur’an juga menggunakan kata irtadda (kata kerja murtad) secara langsung, seperti:

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad [47]: 25)

Penggunaan kata “murtad” dapat juga ditemukan dalam kitab Shahih Al-Bukhari berikut ini:

Abu Hurairah berkata, “Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sekelompok orang sahabatku akan datang kepadaku pada hari kiamat, mereka diusir dari telaga. Maka aku berkata, “Wahai Tuhanku, (mereka adalah) sahabat-sahabatku.” Lalu Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui hal-hal baru yang mereka ciptakan sepeninggalmu, sesungguhnya mereka itu kembali murtad.”[3]

Namun demikian, Syiah tidak serta merta menuduh Sunni mengimani murtadnya sahabat sepeninggal Rasulullah Saw hanya berdasarkan riwayat Imam Bukhari tersebut.



[1] Hasan bin Zain Al-Din Al-Syahid Al-Tsani, Al-Tahrir Al-Thawusi, h.87, cet. 1, penerbit Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 1988 M (1408 H). Lihat juga Abu ‘Amar Muhammad bin Umar bin Abdul Aziz Al-Kasyi, Rijal Al-Kasyi, h. 393, cet. 1, penerbit Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H).

[2] Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, juz 1, h. 488, cet. 2, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H).

[3] Imam Bukhari, Shahih Bukhari, op.cit., h. 1656, hadis 6585, kitab Al-Riqaq, bab Fi Al-Haudh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar