Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Minggu, 28 September 2025

Fikih Ahlul Bait Warisan Dari Ajaran Rasulullah Saw




Sambil mikir tak habis pikir, kita bisa melihat bermacam cara ibadah yang dilakukan masyarakat Islam dalam kegiatan keberagamaan sehari-hari! Simpang siur dan campur aduk, masing-masing golongan mengklaim paling benar, semua mengaku berasal dari ajaran Nabi Saw. Kok bisa?

Bagaimana mungkin Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya ibadah yang sangat penting dengan berbagai cara yang berbeda? Pasti ada yang salah.

Jika kita telusuri dengan seksama, kita bisa melihat faktor utama munculnya perbedaan tersebut ada pada mata rantai perantara yang menyampaikan hadis-hadis dari Nabi Saw kepada kita.

Golongan Ahlus Sunnah merujuk kepada para Imam Mazhab panutan mereka, yang ternyata tidak bersambung ke Rasulullah Saw. Dari fakta sejarah kemunculan mazhab-mazhab yang empat itu, mereka muncul ratusan tahun setelah Rasulullah Saw wafat. Imam Hanafi wafat tahun 150 H, Imam Malik bin Anas wafat tahun 179 H, Imam Syafi'i wafat tahun 204 H, Imam Ahmad Hambal wafat tahun 241 H.

Di dalam kondisi membingungkan dengan merebaknya kesimpang-siuran ibadah di kalangan umat Islam, kita bisa telusuri benang merahnya, ternyata semua itu adalah warisan dari para khalifah penguasa yang bukan pewaris ilmu Nabi Saw.

Para penguasa ini merusak ajaran Islam Muhammad dengan membuat bid'ah-bid'ah baru yang akhirnya merasuki kehidupan beragama masyarakat Islam, dan gaungnya masih membekas sampai masa kini.

Kita teringat kata-kata Imam Ali bin Abu Thalib as:

"Bahkan bagaimana kamu dapat disesatkan sedangkan kerabat-kerabat Nabi Saw berada di antara kamu? Mereka itulah tonggak kebenaran, panji-panji agama, lidah-lidah yang selalu berkata benar!" (Nahjul Balaghah Khutbah 83).

Juga teringat wasiat Rasulullah Saw:

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: "Kitab Allah dan Itrah, Ahlul Baitku".

Marilah kita perhatikan bahwa para Imam Ahlul Bait as menjaga diri dari semua perbedaan pendapat yang membingungkan dan memecah-belah umat Islam.

Artinya bahwa ajaran-ajaran para Imam Ahlul Bait (as) adalah berasal dari warisan Rasulullah Saw.

Terus, kapankah para Imam Ahlul Bait (as) mulai mengajarkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw kepada umat Islam?

Sesungguhnya, Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan Umat setelah Rasulullah Saw, bersama pengikut setia beliau secara konsisten terus mempraktekkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw, meskipun beliau as tersingkir dan dikucilkan oleh para khalifah penguasa dan kelompok pendukungnya.

Ketika Imam Ali as dibai'at sebagai khalifah ke empat, beliau tidak sempat memperbaiki kerusakan agama yang terlanjur berakar kuat mencengkeram masyarakat. Di masa kekhalifahan beliau yang singkat itu, beliau disibukkan dengan munculnya pemberontakan kelompok pembangkang.

Imam-imam Ahlul Bait (as) penerus beliau pun terus berada dalam tekanan para khalifah penguasa.

Baru pada masa akhir kekuasaan Bani Umayah, yang mulai goyah akibat pemberontakan umat Islam, tekanan dan intimidasi kepada para Imam Ahlul Bait (as) mulai longgar. Pada saat itulah mulai bersinar kembali ajaran Rasulullah Saw yang disebarkan oleh para Imam as.

Imam ke-5 Ahlul Bait yaitu Imam Muhamnad Al-Baqir as (56 -114 H) mulai mengajarkan ajaran Rasulullah Saw secara terbuka kepada umat Islam, yang kemudian diteruskan oleh Imam selanjutnya, yaitu Imam ke-6, Imam Ja'far Shadiq as (80 -148H).

Imam Muhammad al-Baqir as mengajarkan ilmu fikih kepada umat Islam di Madinah secara terbuka, setelah periode pengucilan penguasa kepada para Imam Ahlul Bait sebelumnya.

Menurut As-Suyuthi di dalam "Tadribur Rawi" mengatakan bahwa Nabi Saw sendiri telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh ilmu sebagaimana yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar.

Al-Hakam bin Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad al-Baqir as, ketika beliau as menjelaskah suatu masalah yang dipertentangkan oleh Al-Hakam.

Imam Baqir as mengeluarkan kitab tersebut dan menjelaskan kepada Al-Hakam sambil berkata, "Ini adalah tulisan tangan Ali bin Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah Saw dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah Saw".

Dengan begitu kelompok Syiah mengetahui dan meyakini betapa penyusunan ilmu hadis itu telah begitu rapinya dilakukan oleh Imam Ahlul Bait as sejak Nabi Saw masih hidup, bahkan atas perintah Nabi Saw sendiri.

Jadi, ketika kelompok Sunni, pengikut setia para khalifah (diluar Syiah Ahlul Bait as), kebingungan atas hilangnya hadis-hadis Nabi akibat ulah penguasa, ternyata para Imam Ahlul Bait as dan para pengikut setianya telah mengamankan hadis-hadis dalam kitab-kitab mereka.

"Abu Rafi'e" adalah Syiah Ali yang pertama kali mengumpulkan dan menyusun hadis berdasarkan bab per bab.

An-Najasyi di dalam "Asma' Mushannifisy Syiah" menjelaskan:

"Dan Abu Rafi'e, budak Rasulullah Saw mempunyai kitab "As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya". Lalu ia menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab, mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah.

An-Najasyi mengatakan bahwa, "Abu Rafi'e telah menjadi muslim lebih dulu di Mekah lalu hijrah ke Madinah dan ikut bersama Nabi Saw dalam banyak peperangan. Setelah Nabi Saw wafat Abu Rafi'e menjadi pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as.

Abu Rafi'e selalu ikut terjun dalam peperangan bersama Imam Ali as. Ketika Imam Ali as jadi khalifah, Abu Rafi'e dipercaya sebagai pemegang kunci Baitul Mal di Kufah.

Tetapi tidak lama, Abu Rafi'e meninggal pada tahun 35 H, di awal kekhalifahan Imam Ali as tersebut, sebagaimana kesaksian Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Jabatan sebagai pemegang kunci Baitul Mal diteruskan oleh anaknya yaitu Ali bin Abu Rafi'e, seorang tabi'in sahabat Imam Ali as.

Jadi, menurut ijma para ulama, tidak ada orang yang lebih dulu dari Abu Rafi'e dalam pengumpulan hadis dan menyusunnya secara bab per bab.

Yang paling utama dari fikih Ahlul Bait (as) adalah kesinambungannya secara langsung dengan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw adalah "thariqah" Imam-imam Ahlul Bait as yang telah Allah sucikan.

Rasulullah Saw sendiri menyatakan bahwa imam-imam Ahlul Bait as adalah bahtera keselamatan dan jalan keselamatan serta warisan kedua setelah Al-Qur'an yang harus menjadi pegangan umat Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis mutawatir dari Imam Muhammad Al-Baqir as.

Imam Baqir as berkata, "Kalau kami menyampaikan hadis berasal dari pikiran kami, pasti kami akan menjadi sesat seperti kaum-kaum sebelum kami. Hadis yang kami sampaikan berasal dari Tuhan kami yang disampaikan kepada Nabi-Nya, lalu oleh Nabi disampaikan kepada kami". (A'lamul Waras, hal 270).

Fikih Ahlul Bait Bersifat "Fleksibel"

Fikih Ahlul Bait as mengalir secara alami dengan kehidupan manusia, mengikuti perkembangan zaman, tidak membunuh kodrat dan fitrah manusia. Bergerak sesuai tuntutan zaman. Hukum-hukumnya tidak memberatkan dan tidak membahayakan.

Selaras dengan kepentingan semua tabiat manusia dan seimbang. Ini sangat mengagumkan para ahli hukum dan mereka mengakui bahwa fikih Ahlul Bait as memang orisinil.

Membuka Lebar-lebar Pintu Ijtihad

Salah satu ciri penting dari fikih Ahlul Bait adalah memberikan ruang kebebasan yang besar bagi ijtihad. Hal ini menunjukkan kedinamisan untuk menjadi solusi bagi problematika kehidupan masyarakat.

Fikih itu tidak statis terhadap apa yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Fikih memberi respon terhadap segala permasalahan manusia. Hal ini disadari betul oleh para ulama besar termasuk ulama lulusan Al-Azhar bahwa berapa pentingnya pintu Ijtihad yang telah digulirkan oleh ulama-ulama pengikut Ahlul Bait as bagi perkembangan fikih Islam.

Sayid Rasyid Ridha mengatakan, "Saya tidak melihat keuntungan apapun dengan meninggalkan dan menutup pintu ijtihad, yang banyak justru mudharatnya karena pengabaian terhadap peranan akal dan menutup jalan pengetahuan. Kaum muslimin yang meninggalkan ijtihad pada akhirnya akan meninggalkan ilmu seperti yang kita lihat sekarang ini". (Al-Wahdat al-Islamiyah, hal 99).

(Madrasah Ahlul Bait).

Semoga membuka wawasan dan mencerahkan hati pencari kebenaran. (Hasan Husein)

Jumat, 26 September 2025

Transformasi Masyarakat di Bawah Pemerintahan Imam Mahdi

 



Kepercayaan akan kedatangan Imam Mahdi merupakan bagian penting dari eskatologi Islam, khususnya di kalangan Syiah. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa seorang lelaki dari keturunan Nabi Muhammad, bergelar Al-Mahdi, akan muncul di akhir zaman. Imam Mahdi diyakini akan hadir untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di saat dunia dilanda tirani dan kezaliman. Dalam keyakinan Syiah, Imam Mahdi adalah putra Imam Hassan Al-Askari, Imam ke-12, yang telah lahir namun hidup dalam keghaiban di bawah penjagaan Allah. Kedatangannya diyakini bukan sekadar reformasi politik, melainkan penanda dimulainya era penegakan keadilan, peningkatan pengetahuan, dan perbaikan moral secara universal.

Hakikat Keadilan dalam Pemerintahan Mahdi

Prinsip yang paling mendasar dalam pemerintahan Imam Mahdi adalah keadilan. Keadilan dianggap sebagai prinsip fundamental bagi keberlangsungan masyarakat dan kesejahteraan warganya. Implementasi keadilan di bawah Imam Mahdi bersifat komprehensif sehingga akan menciptakan tatanan sosial baru, di mana peluang kejahatan nyaris tidak ada. Keadilan ini juga menjamin keamanan bagi individu yang rentan; seseorang dapat bepergian dari satu daerah ke daerah lain tanpa takut dihalangi, dirampok, atau diganggu. Norma-norma keadilan ini membentuk fondasi masyarakat yang damai dan aman.

Era Keberkahan dan Kemakmuran

Melampaui penegakan keadilan sosial, pemerintahan Imam Mahdi juga akan menandai Era Keberkahan dan Kemakmuran yang melimpah—suatu kondisi yang belum pernah disaksikan oleh peradaban manusia. Masyarakat akan merasakan hujan dengan kualitas dan manfaat istimewa. Hasil panen dalam sehari dapat begitu melimpah hingga mampu memenuhi kebutuhan bertahun-tahun. Transformasi alam ini menghasilkan tumbuhan hijau yang melimpah di tanah, pegunungan, hingga gurun. Keberkahan ekonomi yang luar biasa ini bahkan membuat orang-orang berharap mereka yang telah meninggal dapat hidup kembali, hanya untuk menyaksikan dan merasakan karunia tersebut.

Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi

Selain kemakmuran materi, pemerintahan ini juga dicirikan oleh Ledakan Pengetahuan di Era Mahdi. Menurut riwayat yang dinukilkan oleh Imam Sadiq, pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini masih sangat terbatas. Ketika Imam Mahdi muncul, beliau akan menyebarkan dan memperluas pengetahuan berkali lipat. Peningkatan ilmu pengetahuan ini tidak hanya menambah wawasan, namun juga melahirkan kemajuan teknologi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Sebuah tradisi menyebutkan bahwa manusia nantinya dapat bepergian dari timur ke barat dunia hanya dalam satu jam. Hal ini mengindikasikan kemajuan teknologi dan transportasi yang luar biasa di era tersebut.

Kemajuan Peradaban Islam dan Perubahan Sosial

Di bawah pemerintahan Imam Mahdi, peradaban Islam akan mencapai tingkat kemajuan tertinggi. Era itu akan ditandai oleh ekspansi keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan. Keyakinan dan spiritualitas masyarakat akan diperkuat dan direformasi secara total. Kesejahteraan rohani dan jasmani akan tercapai secara simultan, menjadikan masyarakat hidup dalam keharmonisan yang sejati.

Transformasi yang terjadi bukan sekadar modifikasi fisik atau teknologis, melainkan juga revolusi dalam dimensi spiritual masyarakat. Keadilan dan pengetahuan akan menjadi sarana untuk memperkuat kebajikan moral seperti kasih sayang, kejujuran, dan kerendahan hati. Komunitas tidak lagi melihat agama hanya sebagai urusan pribadi, namun menjadi fondasi kehidupan bersama. Ritual ibadah, amal, dan etika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, menumbuhkan hubungan antarmanusia yang erat dan saling menghormati. Pembaharuan spiritual ini akan membawa masyarakat menuju kondisi iman yang lebih tinggi dan lebih murni.

Kemakmuran Ekonomi dan Perdamaian Global

Sistem ekonomi yang diterapkan Imam Mahdi akan menghapus praktik eksploitasi dan menempatkan kesetaraan serta kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Tidak akan ada lagi kemiskinan, karena keberkahan Allah memastikan kebutuhan setiap individu terpenuhi dengan mudah. Masalah ekonomi seperti pengangguran, inflasi, dan ketimpangan akan lenyap berkat hasil pertanian yang melimpah dan inovasi teknologi yang luar biasa. Tatanan ekonomi ideal ini bukan hanya hasil kebijakan manusia tetapi juga manifestasi langsung dari rahmat Allah yang mengalir melalui sistem pemerintahan yang adil.

Keadilan yang ditegakkan di setiap aspek kehidupan, baik personal maupun universal, akan mengeliminasi sumber-sumber konflik. Tidak ada lagi perang untuk perebutan wilayah, sumber daya, atau supremasi ideologi, karena pemerintahan Imam Mahdi menjamin distribusi dan penghormatan yang adil bagi semua. Era ini menjadi masa perdamaian universal; pertikaian diplomasi diselesaikan dengan hukum yang adil, dan ketegangan sosial akan lenyap berkat kemakmuran dan reformasi moral yang menyeluruh. Keamanan dan ketentraman akan menjadi standar baru kehidupan manusia.

Kesimpulan

Pemerintahan Imam Mahdi digambarkan sebagai era ketika intervensi ilahi dan potensi manusia bersatu, menghadirkan masa depan yang dipenuhi keadilan, pengetahuan, dan kebajikan. Dari berkah alam yang melimpah dan ledakan pengetahuan hingga reformasi moral, seluruh aspek kehidupan masyarakat akan berubah secara mendasar. Paradigma ini menjadi puncak ajaran Islam mengenai keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan pemenuhan spiritual yang hakiki.

Di bawah kepemimpinan Imam Mahdi, masyarakat dunia akan mengalami transformasi yang fundamental dan mendalam. Masa ini akan menjadi masa di mana keadilan, pengetahuan, kebajikan moral, kemakmuran ekonomi, perdamaian, dan keamanan tersebar luas di seluruh penjuru bumi. Segenap manusia akan merasakan manfaat dari kehadiran pemimpin yang adil ini; dunia yang sebelumnya diliputi tirani dan kezaliman akan bertransformasi menjadi masyarakat yang harmonis, makmur, dan damai. (Edwin Harahap)

Sumber:

Kamis, 25 September 2025

Antara Dua Metode Dalam Menilai Suatu Berita




Pertama, Metode Rijal yaitu melihat sanad atau kualitas rijal apakah perawi itu dipercaya (tsiqah) atau tidak dipercaya (tidak tsiqah) dst. Metode ini mengabaikan isi atau muatan berita.

Kedua, Metode Al-Qur'an yang diterapkan oleh para imam suci Ahlul Bait yaitu menetapkan suatu berita/hadis benar atau tidak dengan cara melihat isi beritanya, bukan melihat pembawa beritanya. Meski pembawa berita itu kafir atau fasik atau munafik sekalipun, lihat terlebih dahulu apa isi berita yang disampaikan, lalu lakukan pengujian materi apakah berita tersebut sesuai dengan kebenaran al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, dengan kenyataan sesungguhnya atau tidak. Jika sesuai berarti dapat diterima, jika tidak sesuai maka ditolak.

إذا جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا

Jika datang padamu seorang fasik dengan suatu berita maka lakukan pengujian/tabayyun. Bukan ditolak dengan alasan pembawa berita itu fasik, tapi lakukan tabayyun karena ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan dusta.

Mengapa Kitab Bukhari, Muslim, dll. diterima sebagai Shahih? Ini karena metode sanad, metode pengujian rijal. Bukhari tidak terima suatu berita dari Imam Ja'far Shadiq as karena Ja'far as masuk dalam daftar sesat. Mereka tidak melihat isi berita. Jika datang dari kelompok mereka pasti dianggap benar karena mereka masukkan dalam daftar orang-orang tsiqah. Tapi diluar kelompok mereka tidak diterima karena masuk dalam daftar kelompok sesat.

Menurut metode Ahlul Bait as yang sesuai dengan al-Qur'an, berita dari siapa pun, dan apapun latar belakang akhlak dan agamanya tidak langsung ditolak tapi dilakukan uji materi terlebih dahulu. Jika materi berita logis, sesuai realita, senafas dengan al-Qur'an, sesuai dengan Ahlut Bait as, diterima. Jika tidak sesuai, meski datang dari Marja' Agung sekalipun, maka beritanya tertolak.

Rabu, 24 September 2025

Defah Muqaddas (Perang Pertahanan Suci), Kisah Perjuangan Rakyat Iran Mempertahankan Kedaulatan Negara


Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. 



Rakyat Iran pernah mengalami kesulitan berat di era perang Irak-Iran. Dimasa masih dalam kondisi berbenah setelah berdarah-darah dalam perjuangan revolusi menjatuhkan kediktatoran rezim Syah Pahlevi di tahun 1979, setahun setelahnya rakyat Iran harus bergelut mempertahankan kemenangan revolusinya. Irak dibawah Saddam Husain melancarkan serangan militer yang mengerikan termasuk menggunakan senjata kimia berbahaya, dengan dalih membendung pengaruh ideologi revolusi yang diusung Imam Khomeini.

Dengan kekuatan 1,3 juta prajurit, Saddam sesumbar akan menaklukkan Iran dalam satu minggu. Dia menilai, Iran dibawah Mullah tanpa pengalaman militer akan mudah dihempaskan dalam waktu singkat. Nyatanya, perang berlangsung selama 8 tahun, tanpa Irak bisa mengklaim kemenangan.

Perang yang dikenal paling merusak dan paling berdarah setelah perang dunia II tersebut, merenggut jutaan nyawa rakyat Irak dan Iran. Perjuangan mempertahankan kedaulatan negara, tidak hanya dilakukan oleh tentara Iran, tapi semua komponen bangsa terlibat. Iran terpaksa melibatkan sukarelawan untuk menutupi kekurangan pertahanan militernya. Sukarelawan berasal dari rakyat sipil dari berbagai latar belakang, mulai dari pemulung, kuli bangunan, petani, santri, mahasiswa sampai bahkan anak-anak remaja mendaftarkan diri untuk menjadi relawan tempur untuk ikut membantu militer di garis perbatasan.

Semua yang menjadi korban kebiadaban rezim Saddam di medan tempur, dianugerahi gelar syahid oleh Imam Khomeini. Jadi di depan nama mereka, dibubuhi gelar "Syahid". Yang jenasahnya ditemukan, dimakamkan di pemakaman Syuhada, dan menjadi tradisi bagi rakyat Iran untuk menziarahi pemakaman tersebut sebagai bentuk penghormatan. Yang jenasahnya tidak diketahui identitasnya, Imam Khomeini berkata, "Tulis di pusaranya, disini dimakamkan putra Khomeini."

Baku tembak yang dimulai 22 September 1980 tersebut, diperingati Iran setiap tahunnya dengan nama "Defah Muqaddas" yang artinya Pertahanan Suci. Tahun ini adalah yang ke 41. Peringatan Defah Muqaddas diwarnai dengan ziarah ke pemakaman syuhada dan menapaktilasi jejak perjuangan para pahlawan negara di lokasi-lokasi pertempuran. Sebagai bentuk terima kasih, para veteran perang dan keluarga syuhada mendapat perlakuan istimewa oleh negara. Mulai dari anak-anaknya disekolahkan, diangkat menjadi pegawai negeri, sampai mendapat pelayanan kesehatan gratis seumur hidup.

Kebanggaan tertinggi bagi rakyat Iran adalah jika diantara anggota keluarganya ada yang menjadi syuhada. Keluarga yang ditinggal, auto menjadi keluarga terpandang di tengah-tengah masyarakat. Kecintaan rakyat Iran pada kesyahidan bisa tergambarkan oleh ancaman Jenderal Qassem Soleimani kepada Amerika Serikat, "Kami adalah bangsa yang mendambakan mati syahid, kami adalah bangsa yang mengikuti Imam Husein. Bertanyalah! Kami telah melewati banyak peristiwa sulit. Ayo! kami menunggu. Kami jagonya di medan tempur. Kalian tahu bahwa perang ini berarti penghancuran semua yang kalian miliki. Jika kalian memulai perang ini, kami yang akan mengakhirinya." (Ismail Amin Pasanna)

Sumber:



















Jumat, 12 September 2025

Rasulullah Saw yang Kami Imani




Selamat atas hari kelahiranmu, wahai Sang Penerang Alam Semesta.

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan terimalah dengan sepenuhnya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Selamat atasmu, wahai utusan pembawa rahmat.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani bukan sekadar Rasulullah Muhammad SAW historis yang hidup 14 abad silam, melainkan juga Rasulullah Muhammad SAW eksistensial yang telah ada sebelum kelahirannya.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang menjadi causa (sebab) kedua terciptanya alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang merupakan tajalli (manifestasi pertama) dari Allah SWT di alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang memiliki sisi divinitas (rabbani) sekaligus sisi humanitas (insani). Beliau imanen (sangat dekat dengan kita) sekaligus transenden (melampaui batas manusia biasa).

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang menjadi konektor (wasilah) bagi kami kepada Allah SWT. Oleh karena itu, shalat tanpa menyebut nama Rasulullah Muhammad SAW dianggap tidak sah dan bukanlah shalat yang sempurna.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang suci (ma’shum) sejak lahir. Bukan Muhammad yang dianggap tidak suci sehingga harus dibelah dadanya oleh malaikat, dikeluarkan hatinya, lalu disucikan dengan air Zamzam.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang di hadapannya Malaikat Jibril duduk bersimpuh laksana seorang hamba sahaya di depan tuannya. Bukan Muhammad yang tidak mengenal Malaikat Jibril saat wahyu pertama turun, sehingga harus berkonsultasi dengan seorang pendeta Nasrani bernama Waraqah bin Naufal.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah yang ketika akan wafat, Malaikat Izrail harus terlebih dahulu meminta izin kepadanya untuk masuk ke rumahnya.

Rasulullah Muhammad SAW yang kami imani adalah Rasulullah Sang Insan Kamil (manusia sempurna), Uswatun Hasanah (sebaik-baik teladan), dan pembawa rahmat bagi seluruh alam. Bukan Muhammad yang bermuka masam dan memalingkan wajah dari seorang mukmin yang buta.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ 

Peran Iran Dalam Mengkoordinasi Front Perlawanan di Timur Tengah





Pendahuluan

Sejak awal Revolusi Islam pada tahun 1979, Republik Islam Iran telah berdiri teguh sebagai benteng perlawanan melawan kekuatan imperialisme global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Iran bukan hanya negara, tetapi juga sebuah simbol perjuangan ideologis yang berlandaskan pada ajaran Islam Syiah yang revolusioner. Iran tidak hanya memperjuangkan haknya untuk hidup dengan martabat dan kehormatan, tetapi juga membangun front perlawanan di seluruh Timur Tengah yang dipimpin oleh prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan oleh para Imam Ahlul Bait.

Melalui hubungan strategis yang terjalin dengan Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta sekutunya di Irak dan Suriah, Iran memperkuat barisan perlawanan yang tidak hanya menentang dominasi Barat, tetapi juga menegakkan kedaulatan umat Islam yang adil dan mulia. Artikel ini akan menggali lebih dalam bagaimana Iran memperkuat hubungan dengan kelompok-kelompok ini dan dampaknya terhadap geopolitik kawasan, dengan nuansa ideologis-religius yang tegas, berlandaskan pada prinsip Syiah yang militan dan perlawanan.

Iran dan Hizbullah: Ikatan Ideologis dalam Perlawanan Melawan Kezaliman

Hizbullah di Lebanon bukan hanya sekedar sekutu politik dan militer bagi Iran, tetapi lebih dari itu, Hizbullah adalah manifestasi dari perjuangan Islam Syiah dalam melawan hegemoni kekuatan besar, terutama Zionisme yang diwakili oleh Israel. Sejak berdirinya Hizbullah pada tahun 1982, Iran telah menjadi pendukung utama kelompok ini, memberikan bantuan militer, finansial, dan logistik. Hal ini bukan hanya untuk memperkuat perlawanan Hizbullah terhadap Israel, tetapi juga untuk memperjuangkan prinsip-prinsip Islam Syiah yang mengajarkan bahwa perang melawan kezaliman adalah kewajiban setiap Muslim.

Sebagai pemimpin spiritual, Ayatullah Khomeini meyakini bahwa perjuangan Hizbullah di Lebanon adalah jihad yang harus dilanjutkan oleh generasi-generasi setelahnya. Iran tidak hanya memberikan dukungan kepada Hizbullah dalam konteks militer, tetapi juga dalam hal penguatan ideologi perlawanan. Hizbullah, dengan perjuangannya melawan Israel, bukan hanya berperang untuk tanah dan kemerdekaan, tetapi juga untuk membuktikan bahwa umat Islam yang berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Ahlul Bait akan selalu menang melawan kezaliman, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam surat At-Tawbah ayat 33: “Dan Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya.”

Iran dan Houthi di Yaman: Melanjutkan Jihad Melawan Imperialisme di Semenanjung Arab

Di Yaman, Iran tidak hanya melihat konflik sebagai perebutan kekuasaan, tetapi sebagai medan jihad melawan hegemoni Amerika dan sekutunya yang ingin menguasai seluruh Timur Tengah. Iran memberikan dukungan kepada kelompok Houthi, yang merupakan kelompok Syiah Zaidi di Yaman, dalam menghadapi koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang secara jelas didukung oleh Barat. Iran tidak hanya melihat Houthi sebagai sekutu politik, tetapi sebagai bagian dari gerakan perlawanan global yang lebih besar, sebuah perlawanan terhadap kekuatan yang menindas umat Islam di seluruh dunia.

Dengan memberikan dukungan militer dan logistik, Iran membantu Houthi mempertahankan posisi mereka dalam perang saudara yang dimulai pada 2014. Namun, lebih dari sekadar dukungan praktis, Iran memberikan bimbingan ideologis kepada Houthi, mengajarkan mereka bahwa perjuangan mereka adalah bagian dari jihad besar untuk membebaskan umat Islam dari cengkeraman kekuatan imperialisme. Iran mengajarkan Houthi bahwa perlawanan ini bukan hanya sekedar melawan agresi eksternal, tetapi juga merupakan bagian dari pertarungan ideologis yang lebih besar untuk menegakkan keadilan global, sebagaimana yang tercantum dalam ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

Iran dan Irak: Memperkuat Kekuatan Militer dan Politik Syiah

Setelah kejatuhan rezim Saddam Hussein pada tahun 2003, Iran menemukan peluang untuk memperluas pengaruhnya di Irak. Negara yang berbatasan langsung dengan Iran ini menjadi pusat dari front perlawanan yang semakin besar, dan Iran melihat peranannya sebagai pelindung umat Syiah di Irak. Dukungan Iran terhadap milisi-milisi Syiah, yang tergabung dalam Hashd al-Shaabi, adalah bagian dari strategi untuk menjaga keamanan dan stabilitas di negara tersebut, sambil memastikan bahwa Irak tidak jatuh kembali ke dalam cengkeraman kekuatan imperialis.

Hashd al-Shaabi bukan hanya milisi yang bertugas untuk melawan kelompok teroris seperti ISIS, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar, di mana Iran berusaha untuk mengubah Irak menjadi bagian dari poros perlawanan yang lebih luas. Dengan pengaruh politik dan militer yang semakin kuat di Irak, Iran tidak hanya memperkuat posisi Syiah, tetapi juga memperluas pengaruhnya di seluruh wilayah Timur Tengah.

Iran dan Suriah: Jihad Melawan Penjajahan Baru di Timur Tengah

Perang di Suriah telah menjadi ajang bagi Iran untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi ancaman dari kekuatan Barat, terutama AS dan sekutunya. Sejak 2011, Iran telah menjadi pendukung utama pemerintah Bashar al-Assad, memberikan dukungan militer dan finansial untuk melawan pasukan pemberontak yang didukung oleh negara-negara Barat dan Arab. Iran tidak hanya memberikan bantuan untuk mempertahankan kekuasaan Assad, tetapi juga berusaha memastikan bahwa Suriah tetap menjadi bagian dari front perlawanan yang lebih besar.

Iran melihat Suriah sebagai garis depan dalam menghadapi dominasi AS dan Israel di kawasan ini. Kehadiran militer Iran di Suriah bukan hanya untuk melawan pemberontak, tetapi juga untuk menjaga rute logistik yang menghubungkan Iran dengan Hizbullah di Lebanon, serta memperkuat jaringan milisi-milisi Syiah yang tersebar di seluruh kawasan. Dengan mempertahankan kehadirannya di Suriah, Iran memastikan bahwa ia tetap memiliki pengaruh besar di wilayah yang strategis ini, yang berdekatan dengan Israel, Turki, dan negara-negara Teluk.

Dampak Terhadap Keamanan Regional: Perlawanan Melawan Penindasan Global

Dengan memperkuat hubungan dengan Hizbullah, Houthi, milisi Syiah di Irak, dan pemerintah Suriah, Iran telah menciptakan jaringan perlawanan yang mengelilingi Israel dan negara-negara yang beraliansi dengan Amerika Serikat. Dalam perspektif Syiah, ini bukan sekadar sebuah aliansi militer, tetapi sebuah pergerakan ideologis yang bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari cengkeraman kekuatan yang menindas.

Namun, pengaruh Iran ini tidak diterima dengan baik oleh negara-negara Barat, yang melihat Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan. Ketegangan ini menciptakan ketidakstabilan yang semakin besar di Timur Tengah, dengan potensi konflik yang semakin meningkat. Keberadaan Iran di negara-negara seperti Suriah, Lebanon, Yaman, dan Irak menambah kompleksitas dinamika geopolitik regional dan global.

Kesimpulan: Perlawanan Islam Syiah yang Teguh dan Militan

Iran, sebagai pemimpin umat Islam Syiah, tidak hanya memperjuangkan kepentingan nasionalnya, tetapi juga memimpin front perlawanan global melawan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan imperialis Barat. Dengan memperkuat hubungan dengan Hizbullah, Houthi, milisi Syiah di Irak, dan pemerintah Suriah, Iran tidak hanya menunjukkan kekuatannya, tetapi juga membuktikan bahwa perlawanan terhadap kezaliman adalah bagian dari jihad yang tak terpisahkan dari ajaran Islam Syiah.

Dalam setiap pertempuran, Iran mengingatkan dunia bahwa perlawanan ini bukan hanya soal kekuasaan politik, tetapi juga soal prinsip dan keyakinan yang diperjuangkan oleh umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Ahlul Bait. Seiring dengan berjalannya waktu, Iran terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam front perlawanan ini, memastikan bahwa umat Islam tetap teguh dalam perjuangannya melawan kezaliman global. (Edwin Harahap).

Sumber:

Rabu, 03 September 2025

Peristiwa Langit dan Keajaiban Saat Kelahiran Nabi Muhammad Saw




Imam Ja'far al-Shadiq as bercerita bahwa saat Nabi Saw lahir:
"Setan dilarang naik ke langit manapun, bahkan lapisan pertama sekalipun. Bila mencoba, ia dilempari meteor dari langit sebagai upaya untuk menghalangnya. Di bumi, para Quraisy menyaksikan bintang-bintang berpindah dari tempatnya dan langit membentang cahaya yang luar biasa."

Ibunda Nabi Saw, Sayyidah Aminah, menggambarkan, saat beliau lahir:
"Nabi meletakkan tangan di bumi dan mengangkat kepala ke langit. Dari dirinya muncul cahaya yang menerangi sekelilingnya. Dalam cahaya itu terdengar suara: "Engkau telah melahirkan manusia terbaik… Namakan ia Muhammad…"
 Al-Kafi, al-Kulaini, jilid 1, hlm. 446.
 Al-Ihtijaj, ath-Thabarsi, jilid 1, hlm. 43.

Terdapat juga riwayat yang menggambarkan keajaiban visual disaat kelahiran Nabi Saw:

Kholid bin Ma’dan meriwayatkan, Nabi Saw pernah bersabda:
“(Aku adalah hasil) doa ayahku Ibrahim dan kabar gembira Isa. Ibuku bermimpi saat mengandungku seperti keluar cahaya darinya yang menyinari istana Bushra di Syam.”
Imam Hakim menyatakan hadits ini shahih, Ibn Katsir menyebut sanadnya jayyid (bagus), dan Al-Busiri menilai hasan.
 Al-Hakim, al-Mustadrak, jilid 2, hlm. 604.
 Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 2, hlm. 265.
 Al-Busiri, Zawaid Ibn Majah, jilid 1, hlm. 84.

Irbad bin Sariyah juga menyampaikan bahwa:
"Ibu Rasulullah melihat cahaya keluar saat beliau lahir yang menerangi istana-istananya di Syam."
Imam ad-Dzahabi menilai sanadnya hasan, dan beberapa ulama modern seperti Syaikh Arnauth menilai cukup naik menjadi shahih lighairih karena disokong oleh riwayat lain sejenis.
 Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, hadis no. 17182.
 Ath-Thabrani, al-Mu‘jam al-Kabir, jilid 22, hlm. 287.
 Al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah, jilid 1, hlm. 112.

Sumber: