Dari Abu Laila al-Ghifari dari Nabi Saw yang bersabda, “Sepeninggalku akan ada fitnah. Jika itu terjadi, maka berpeganglah kepada Ali, karena dialah al-Faruq antara kebenaran dan kebatilan"

Kamis, 21 Agustus 2025

Pesan Sayyid Ali Khemenei: Sejarah Itu Penting!





Pesan Sayyid Ali Khemenei:

Saya ingin berpesan kepada para pemuda, ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ฎ, karena memutarbalikkan sejarah adalah salah satu bentuk penipuan dan godaan yang kerap kali dilakukan dewasa ini.

Sejarah itu penting. Jangan menganggapnya sebagai mata pelajaran yang tidak penting. Sejarah adalah pelajaran yang kita petik dan khazanah informasi dari masa lalu umat manusia. Sejarah adalah kisah masa lalu kita. Mungkinkah kita mengabaikan sejarah?

Semua ilmu pengetahuan, setiap usaha manusia, dan segala sesuatu yang ada di dunia saat ini terbatas pada masa kini. Jutaan kali lebih banyak semua upaya ini telah terjadi di masa lalu.

Pesan ini sangat cocok. Narasi sejarah seringkali didominasi oleh sudut pandang pihak yang berkuasa, yang dapat menyebabkan distorsi dan bias dalam penggambaran peristiwa masa lalu. Banyak ilmuwan yg mengingatkan kita soal ini.
Dalam buku Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry”, Juri Lina menyebutkan bahwa tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri: ๐Š๐š๐›๐ฎ๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฃ๐š๐ซ๐š๐ก๐ง๐ฒ๐š; H๐š๐ง๐œ๐ฎ๐ซ๐ค๐š๐ง ๐›๐ฎ๐ค๐ญ๐ข-bukti ๐ฌ๐ž๐ฃ๐š๐ซ๐š๐ก๐ง๐ฒ๐š ๐š๐ ๐š๐ซ ๐ญ๐š๐ค ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐๐ข๐›๐ฎ๐ค๐ญ๐ข๐ค๐š๐ง k๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š; ๐๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฌ๐ค๐š๐ง ๐ก๐ฎ๐›๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฅ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ก๐ฎ๐ซ๐ง๐ฒ๐š, ๐ค๐š๐ญ๐š๐ค๐š๐ง ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ฅ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ก๐ฎ๐ซ๐ง๐ฒ๐š ๐ข๐ญ๐ฎ ๐›๐จ๐๐จ๐ก ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ซ๐ข๐ฆ๐ข๐ญ๐ข๐Ÿ.

Sejarah bukan hanya timeline peristiwa. Sejarah adalah salah satu metode untuk mengenali kebenaran, pelaku-pelaku kebenaran, dan juga mengenali perilaku manusia sepanjang masa yang terus berulang.

Sumber:

Wafatnya Cahaya Semesta




Jelang hari-hari wafatnya, karena khawatir orang-orang munafik akan memanfaatkan peristiwa ini dan memanipulasi masyarakat, Nabi SAW mengumpulkan seluruh anggota masyarakat. Dalam ceramahnya, beliau memperingatkan mereka tentang hasutan menentangnya, menganjurkan agar berpegang teguh pada Itrah (keluarga beliau) serta mematuhi dengan suara bulat tanpa membangkang atau melakukan penelikungan.

Dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, yang dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan), Nabi memberikan sinyal-sinyal perpisahan melalui khotbah dan serangkaian pernyataan yang amat memilukan. Para sejarawan tidak hanya menyebut nama tempat upacara perpisahan yang terletak antara Mekah dan Madinah, yakni Ghadir Khumm, tetapi juga merincikan jumlah peserta yang hadir saat itu, yang diperkirakan mencapai puluhan ribu umat. Di tempat itu, Nabi menyampaikan pesan penting tentang kepemimpinan dan kesetiaan kepada Ahlul Bait, menegaskan pentingnya menjaga amanah agama.

Sesampainya di Madinah, Nabi yang mulai terlihat kurang sehat masih harus memikirkan umat dan negara yang telah dibangunnya. Sepak terjang dan provokasi negeri jiran di sebelah selatan, yang dipimpin oleh Kaisar Heraclius dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), membuatnya harus mengabaikan rasa sakit dan penat. Lelaki yang bernama Ahmad di langit ini memberikan instruksi kepada setiap lelaki yang sehat jasmani agar bersiaga untuk perang di bawah komando Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang dipercaya untuk memimpin ekspedisi melawan ancaman Romawi.

Dengan langkah lemah, Nabi keluar dari rumah sembari mengenakan selimut dan berseru agar semua orang keluar dari Madinah. Kekaisaran Romawi telah mengerahkan brigade pasukan kavaleri untuk melakukan pembersihan terhadap warga yang memeluk Islam dalam wilayah kekuasaannya, termasuk gubernur Syam, Farwah bin Amr al-Jazami, yang telah memeluk Islam. Namun, seruan parau Nabi teragung itu bak gayung tak bersambut. Pasukan yang sudah bergerak meninggalkan Madinah tiba-tiba bubar. Isu tentang ‘kematian Nabi’ menjadi alasan aksi ‘mogok’ itu. Bahkan sang komandan, Usamah bin Zaid, yang masih muda, juga ikut pulang ke Madinah.

Saat terbujur di atas ranjang, beliau meminta secarik kertas dan setangkai pena untuk menuliskan konfirmasi akhir atas pesan-pesan yang telah berulang disampaikannya, terutama di Haji Wada’. Namun, bising dan desak-desakan pengunjung yang membesuk di rumah kecil itu membuat suaranya seakan tertelan dan napasnya tersengal. Di tengah kelemahannya, sebuah mimpi mengejutkannya. Ia melihat Al-Qur’an yang ada di kedua tangannya terbang membumbung tinggi ke langit. Fatimah, putri tercintanya, melihat dirinya terbang di belakangnya. Al-Qur’an itu pun menyeru: “Terbang mendekatlah padaku. Terbanglah ke langit.” Fatimah menoleh ke belakang dan melihat bumi bercahaya terang benderang, disambar petir dan kilat.

Dengan wajah tegang, Fatimah mendatangi Nabi di biliknya, berkata, “Ayah, aku telah melihat Al-Qur’an terlepas dari tanganku.” Dengan suara lemah seakan berbisik, Nabi menjawab, “Fatimah, setiap kali aku menyeru, niscaya dijawablah seruanku itu. Dan sungguh Jibril telah membacakan Al-Qur’an kepadaku dua kali dalam tahun ini.” Meledaklah tangis Fatimah.

Duka kepergian ayahnya telah meremas jiwanya dan menggoyahkan tubuhnya hingga roboh dalam pelukannya. Nabi berusaha tersenyum untuk menghibur, “Janganlah bersedih. Bahagialah. Engkaulah Ahlul Bait pertamaku yang akan segera menyusulku.” Seketika wajah Fatimah merona. Ia mengusap air matanya dan memeluk tubuh ayahnya dengan penuh cinta.

Waktu bergulir cepat seiring racun yang merasuk keras ke setiap sel tubuh Nabi. Muhammad rebah, menyimak kidung malaikat Rahmat yang menghibur di biliknya yang muram. Dengan suara parau, beliau memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. “Selamat datang untuk kalian semua, mudah-mudahan kalian dibelas kasihi oleh Allah. Aku berwasiat supaya kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taat kepada-Nya, karena sungguh sudah dekat perpisahan di antara kita, telah dekat pula waktunya kembali kepada Allah Ta’ala yang menempati surga-Nya. Bila tiba ajalku, kuminta Ali yang memandikanku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih.” “Ketika memandikanku, letakkanlah aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang kuburku nanti. Setelah itu, kalian keluar sejenak meninggalkan aku. Pertama kali yang mensalati aku adalah Allah SWT, lalu malaikat Jibril, Israfil, Mikail, Izrail beserta pembantu-pembantunya, kemudian dilanjutkan oleh para malaikat semua. Sehabis itu, kalian masuklah dengan berkelompok-kelompok, dan lakukanlah salat untukku.”

Dan “Cahaya Kedua” itu pun mengangkasa, diiringi armada malaikat utama menemui Kekasihnya di altar suci. Ruh Muhammad melesat melintasi langit-langit, meninggalkan jasadnya di pangkuan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Ali berdiri di hadapan Rasulullah SAW, berucap, “Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi. Kami bersaksi bahwa apa yang diturunkan kepadamu, telah kau sampaikan, kau nasehati umatmu, dan kau berjuang di jalan Tuhan hingga Tuhan memuliakan agamanya dan menyempurnakan risalah-Nya. Tuhanku, jadikanlah kami salah satu dari mereka yang mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadanya.” Khalayak mengikuti doanya dari belakang.

Angin berdesir, meniupkan kidung kesedihan yang menyusup ke kisi-kisi jiwa Ali dan para pendukungnya, di tengah hiruk-pikuk “pesta dagang sapi” dalam sidang darurat di ujung Madinah, di pendapa Saqifah, tempat sebagian orang berkumpul untuk menentukan arah baru tanpa menghormati wasiat Nabi.

Duka Sayyidah Fatimah AS kian bertambah seiring wafatnya Rasulullah SAW. Selama tujuh hari, ia menahan luka batin yang mendalam. Pada hari kedelapan, ia memperlihatkan duka citanya. Masyarakat turut menangis, para wanita mengelilinginya saat ia mengeluh dan memekik, “Oh… Ayahku! Wa Muhammadda!” Air matanya terus mengalir saat langkah gontainya diayunkan menuju pusara ayahnya. Di sanalah ia roboh. Az-Zahra memeluk makam Rasul SAW, memekik dengan suara parau, “Oh… Ayahku! Kau tinggalkan puterimu sebatang kara. Punggungku seolah patah dan hidupku berakhir.”

Tak lama kemudian, ia bergegas pulang ke rumahnya seraya menangis. Sesampainya di rumah, ia memeluk Hasan dan Husain, membayangkan derita yang akan dihadapi kedua putranya sepeninggal ayahanda mereka. Dalam kesedihan yang mendalam, Fatimah merasakan beban berat kehilangan dan tanggung jawab menjaga warisan ayahnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS. Ali Imran (3): 144]

Sumber:

Apa Yang Terjadi di Timur Tengah?




Dalam siaran di TV Australia, dan tamunya adalah seorang profesor Yahudi-Amerika.

Pembawa acara bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi di Timur Tengah?" 

Profesor Yahudi itu menjawab, "Selama 300 tahun, kami orang Barat menguasai dunia dengan uang dan senjata, dan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. 

Siapa pun yang tidak mematuhi kami akan digoda oleh uang atau diancam dengan senjata. Namun setelah kebangkitan Khomeini pada tahun 1979, seorang pemain baru yang aneh memasuki barisan kami.

Ia tidak menginginkan uang, juga tidak takut pada senjata.

Hal yang paling aneh adalah bahwa Tuhan menyertai mereka dalam segala hal.

Tuhan mengubah keseimbangan kekuatan, mengalahkan kami, dan memberi mereka kemenangan."

Sang filsuf berkata, "Saya berharap Tuhan akan terus menyertai mereka karena data menunjukkan hal ini."

[Repost, Status FB "Umat Akhir"]

Sumber:


Mossad dan CIA Memalsukan Karya Imam Khomeini





Revolusi Islam Iran telah membuat ketakutan bagi setan besar Amerika, demikian halnya Israel. Tatkala rakyat Iran menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Jendral Israel yang memenangkan perang tujuh hari atas Arab, Moshe Dayan, menampakan kemarahan yang luar biasa.

Meski sudah pensiun Jendral bermata satu tersebut merasa terusik dengan lahirnya Republik Islam baru tersebut, Moshe Dayan kemudian mencak-mencak di IDF atas kegagalan operasi Mossad dan CIA yang gagal membunuhi tokoh-tokoh revolusi Iran, sembari membanting topi ke meja, Moshe Dayan mengatakan:

“Mulai hari ini kalian harus bekerja keras!!!
Masa depan Israel sedang menghadapi ancaman serius dari anak-anak Ali.
Hari ini Israel akan menghadapi lawan tangguh!"[1]

Beberapa operasi simultan kemudian digelar Amerika serikat dan Israel untuk menghancurkan Republik Islam Iran [2], salah satunya adalah perang intelijen yang menitik beratkan pada operasi disinformasi (penyesatan informasi). Israel memerintahkan LAP (Lahomah Pscichlogit) dengan tugas agar melakukan assassination character dan black campaign terhadap karya-karya Khomaini. Operasi ini didukung pula oleh Joint Publications and Reserch service sebuah kompartemen milik CIA yang bertanggungjawab melakukan penerjemahan. [3] Sebagaimana disebutkan oleh Hamid Alghar, CIA dan LAP kemudian melakukan pemalsuan-pemalsuan terhadap karya-karya ulama syi’ah termasuk Imam Khomaini. Semula CIA dan LAP menggunakan basis percetakanya di New York dengan memakai kedok Manor Books sebagai penerbitnya, namun belakangan mereka menggunakan percetakan yang berbasis di negara-negara sunni pro Amerika, diantaranya Arab Saudi dan Yordania.

Berikut adalah sebagian kecil buku-buku yang di palsukan oleh konspirasi AS-Israel-Sunni Wahabi dan Sunni pro AS Israel [3]:

1. Kitab Hukumat-I Islami karya Imam Khomaini

Kitab ini merupakan magnum opus imam khomaini, kitab ini berisikan catatan-catatan kuliah tentang prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang dikumpulkan oleh murid-murid beliau dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Perancis, Arab, Turki dan Urdu. Setelah Imam Khomaini berhasil menumbangkan rezim pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran, kitab Hukumat-I Islam ini kemudian dipalsukan oleh CIA, buku ini di palsukan dalam dua bahasa Inggris dan Arab. 

Kelompok Sunni Wahabbi menggunakan terbitan dari CIA dan LAP ini untuk menyerang Syi’ah dan melakukan asasinasion character terhadap Imam Khomaini dengan buku ini. Penerbit dari Indonesia bernama Pustaka Zahra telah mencetak buku aslinya dengan judul Sistem Pemerintahan Islam. Silahkan di bandingkan antara yang buku yang diterbitkan CIA dan LAP ini dengan buku aslinya.

2. Kitab Kasyful Asrar karya Imam Khomaini

Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas) dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah, diantaranya kemudian diterbitkan buku berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal, Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia).

Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah. Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru ahlu sunnah sendiri, adalah Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan kepala bagian bahasa dan sastra timur Universitas Kairo, menemukan tindakan criminal kelompok konspirasi ini. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki nama baik Ahlu Sunnah. Temuan beliau diantaranya: Kitab Kasyful Asrar dipalsukan di Yordania oleh penerbit bernama Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada.

Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilalali (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ammad al Khatib. Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki sata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah pro konspirasi.

Masih banyak kitab-kitab syiah yang di palsukan oleh kelompok pro konspirasi seperti Salafi Wahabi, seperti kitab yang ditulis alamah Hilli untuk menanggapi karya Ibnu Taimiyah, minhajul as sunnah pun tak luput dipalsukan, dan tempat pemalsuanya berpusat di Arab Saudi.

Fenomena Pencatutan Nama Ulama Syi’ah

Selain memalsukan kelompok Ahlu Sunnah pro konspirasi tak segan-segan melakukan pencatutan nama, modusnya dengan menulis buku seolah-olah dilakukan oleh ulama syi’ah, diantaranya adalah:

1. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah-olah penulis buku Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebetulnya karya orang sunni bernama Abdurrahman bin Abdullah al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan ini Ayatullah Ja’far Subhani melayangkan protes ke Pemerintah Saudi.

2. Syaikh Saleh Darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul Ta’ammulat fi Nahjul al Balghah, dan kitab ini segera diketahui oleh ulama-ulama Syiah dan kemudian diluruskan dalam kitab berjudul Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.

3. Kelompok Pro Konspirasi mencatut nama Sayyid Musa al-Musawi cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan seolah-olah menulis kitab as syi’ah wa at tashih yang sebetulnya ditulis oleh kelompok ahlu sunnah pro konspirasi. Bahkan mereka juga mengabarkan betapa para ulama-ulama Syiah melakukan pertobatan dan masuk ahlu sunnah.

Bahkan Kelompok konspirasi ini bukan hanya melakukan pemalsuan kitab Syi’ah mereka bahkan secara keji memalsukan kitab-kitab mereka sendiri, diantaranya:

1. Memalsukan kitab “Hasyiyah Al Allamah Al Showi Ala Tafsir Al Jalalain”
2. Memalsukan pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab Mukhtashar al ‘Uluw:176
3. Memalsukan pernyataan Imama Ahmad bin Hanbal dalam kitab Mukhtashar ar Rawdhah. Dalam kitab yang sama memalsukan pernyataan Imam malik dan Imam Abu Hanifah.

Sampai hari ini mesin-mesin konspirasi terus bekerja, kami memaklumi jika kemudian kalangan ahlu sunnah meladzimkan pemalsuan kitab-kitab Syi’ah, sedang terhadap imamnya sendiri saja mereka gemar melakukan pemalsuan.

[1] Mossad, Penerbit Grafiti
[2] Bagi yang berminat silahkan membaca tulisan dalam blog peminat kemeliteran dan inteleijen yang dikelola oleh Muhammad Reza Sistani, Muhammad Ivana Lee, Ar Budi Prasetyo dan Muhammad Alfred Sastranagara.
[3] Makalah Muhammad Ivana Lee yang disampaikan dalam Desk diskusi Wirakartika Ekapaksi, “Seputar Dirty Intelligen Terhadap karya-Karya Khomaini”
[4] Untuk mengetahui lebih jelas silahkan melihat daftar yang dimiliki IPO (organisasi Penerangan Islam yang sempat melakukan penertiban buku-buku yang dipalsukan tersebut).


Sumber:

Kamis, 14 Agustus 2025

Keluarga Nabi Pulang ke Madinah




Di hamparan gurun yang tak bertepi, ranting zaitun bergemerisik dalam hembusan angin senja. Suaranya bagai rentetan dawai biola yang retak, melantunkan simfoni duka yang membelah keheningan sahara. Setiap helai daun yang bergetar membisikkan berita yang mengguncang langit dan bumi—sebuah tragedi yang akan mengubah warna sejarah untuk selamanya.

Angin kering bertiup kencang, membawa serta desahan sendu yang menembus gerbang-gerbang Madinah al-Munawwarah. Hembusan itu menyapu jalanan, merayapi sudut-sudut pasar, hingga akhirnya berhenti di ambang altar suci—pusara Sang Kekasih Allah. Di sana, ketenangan yang selama ini menyelimuti kota suci mulai terguncang oleh firasat yang tak tertahankan.

Warga Madinah mulai bergumam gelisah. Satu per satu mereka meninggalkan timbangan dagang, mencangkul terakhir di ladang, dan berhamburan menuju gerbang kota dengan hati yang berdebar. Kabar itu telah sampai: kafilah putri-putri Muhammad sedang dalam perjalanan pulang. Namun ini bukanlah kepulangan yang penuh suka cita—ini adalah kepulangan yang diliputi kelabu mendung.

Ketika kafilah itu akhirnya memasuki gerbang kota, seluruh penduduk Madinah seakan membeku dalam keheningan yang menghanyutkan. Kepala-kepala yang biasanya tegak dengan penuh kebanggaan, kini serempak merunduk dalam gelisah yang mendalam. Mereka menghormat kilau wibawa yang masih terpancar dari para putri Rasulullah, meski kini wibawa itu terbungkus dalam selubung duka yang tebal.

Derap kaki kuda menggema di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi. Setiap langkah adalah pukulan pada hati yang sudah terluka. Khalayak semakin ramai berjejal, membentuk lorong manusia yang memanjang hingga ke beranda masjid suci. Tangis haru bersinambung dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, menciptakan paduan suara duka yang mengguncang fondasi kota.

Kafilah bergerak maju dengan perlahan, membelah kerumunan seperti perahu yang mengarungi lautan air mata. Para dewi Karbala—putri-putri mulia yang telah menyaksikan kehancuran di tanah yang gersang itu—turun dari punggung kuda dengan langkah-langkah yang lamat dan penuh makna. Setiap jejak kaki mereka di tanah Madinah adalah saksi bisu dari tragedi yang telah menimpa keluarga Nabi.

Warga bergerak dalam khidmat yang luar biasa, membentuk pawai hitam pekat yang memenuhi setiap sudut kota. Langit seakan ikut berkabung, menghitam lebih pekat dari biasanya. Sejarah mencatat dengan tinta merah darah yang telah tertumpah di Karbala. Gelombang tangis berdebur seperti ombak yang tak pernah reda, menghantam setiap hati yang masih memiliki nurani.

Iringan berhenti di ambang kawasan pusara suci. Di sana, waktu seakan berhenti berdetak. Ada upacara khusus yang tak pernah terbayangkan sebelumnya—upacara pertemuan antara yang hidup dan yang telah kembali kepada Sang Khaliq. Ada pelepasan rindu yang telah terbendung selama perjalanan panjang dari Karbala ke Madinah.

Di sana, batu-batu nisan retak dalam genggaman tangan kurus yang gemetar—tangan-tangan yang telah kehilangan segalanya namun masih berusaha meraih kedamaian terakhir. Ada yang roboh tak berdaya, meraung-raung mengeluhkan lara yang tak terperi. Suara tangisan mereka memecah keheningan malam, menciptakan lagu duka yang akan dikenang sepanjang masa.

Ada yang merangkak lunglai menggapai pusara, seakan berharap dapat merasakan kehangatan pelukan terakhir dari sang kakek tercinta. Ada yang bergulung-gulung di samping makam, mencari penghiburan dalam dinginnya batu nisan. Ada bidadari dunia yang pingsan karena tak mampu lagi menahan beban duka yang menumpuk di dada.

Ada yang kehabisan kata dan air mata, terdiam dalam kebisuan yang lebih bersuara daripada jeritan paling keras. Ada merpati luka yang tergeletak di sana—simbol kedamaian yang telah tercabik oleh kejamnya realita. Ada danau air hangat yang berderai di depan nisan, terbentuk dari jutaan tetes air mata yang jatuh tanpa henti.

Ada tembang aneh yang mengalun lirih di bilik-bilik hati—melodi duka yang tak pernah ada sebelumnya, namun langsung dipahami oleh setiap jiwa yang mendengarnya.

Ummu Kultsum, putri Ali dan Fatimah, roboh tak berdaya di depan makam kakeknya. Suaranya bergetar dalam bisikan yang memilukan hati:

“Assalamu alaika, ya Jaddi! Salam sejahtera untukmu, wahai kakek tercinta! Oh, betapa kami tersiksa oleh rindu yang mendalam kepadamu! Aku adalah seorang wanita yang kini tanpa pelindung, tanpa saudara, tanpa harapan di dunia yang kejam ini! Jika engkau mengizinkan, bawalah aku bersamamu ke alam yang penuh kedamaian!”

Sukainah, si kecil yang telah menyaksikan kekejaman yang tak pantas dilihat oleh mata seorang anak, memeluk pusara dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Suaranya yang lirih namun penuh kemarahan mengadu:

“Assalamu alaika, ya Rasulullah! Salam sejahtera atasmu, wahai utusan Allah yang mulia! Kami sungguh kesepian dan sengsara di dunia ini! Umatmu—mereka yang mengaku mencintaimu—telah membunuh putramu dan menganiaya putri-putrimu dengan kejam yang tak terperi!”

Zainab al-Kubra, wanita yang telah menjadi simbol keteguhan dan kesabaran, kini lunglai memeluk makam kakeknya. Suaranya memekik pilu, memecah keheningan malam dengan ratapan yang akan dikenang sepanjang zaman:

“Assalamu alaika, ya Jaddi al-Habib! Salam rindu yang mendalam untukmu! Inilah kami, wanita-wanita dari keluargamu, datang dalam keadaan yang hina dan terluka! Kami datang untuk mengadukan derita yang tak terperi!

Al-Husain—cahaya hati dan matamu, kebanggaan Fatimah az-Zahra, penerus risalahmu—telah diinjak-injak oleh ratusan kaki kuda di tanah Karbala yang berdarah! Al-Husain, cucu kesayanganmu, telah dipenggal dengan keji. Lehernya digorok perlahan-lahan oleh tangan-tangan yang tak mengenal belas kasihan. Sorbannya yang suci telah dikoyak-koyak seperti kain murahan. Jubahnya yang penuh berkah telah dilucuti oleh orang-orang yang dengan lancang mengaku sebagai umatmu. Mereka yang seharusnya melindungi keluargamu, justru menjadi pembunuh dan perampok yang tak berperikemanusiaan!

Ya Rasulullah, kami datang untuk mengadu dan menyampaikan bela sungkawa kepadamu, kepada az-Zahra yang suci, kepada Amirul Mukminin Ali! Lihatlah apa yang telah mereka lakukan terhadap darah dagingmu!”

Meledaklah Tangis Khalayak di Altar Masjid Nabawi

Suara isakan bercampur dengan lantunan takbir yang memilukan. Fitrah manusia seakan berkabung, menangisi kezaliman yang telah menimpa keluarga Nabi. Takbir “Allahu Akbar” membahana di angkasa, bersusul dengan pekik “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang bergema di setiap sudut kota.

Malam itu, Madinah menangis. Bintang-bintang seakan redup, ikut berduka atas tragedi yang telah mengoyak hati umat. Angin malam membawa doa-doa yang terputus-putus, harapan-harapan yang hancur, dan tekad baru yang mulai tumbuh dari dalam derita.

Dari Karbala, mereka membawa lebih dari sekadar cerita tentang kematian. Mereka membawa pesan tentang keberanian untuk tetap tegak dalam menghadapi kezaliman, tentang cinta yang tak pernah padam meski diuji dengan cara yang paling kejam, dan tentang harapan yang tetap menyala meski diselimuti kegelapan yang pekat.

Karbala bukan hanya sebuah nama tempat. Karbala adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, adalah saksi bisu tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kebenaran, dan adalah pengingat abadi bahwa cinta sejati tidak pernah mati, meski tubuh yang dicintai telah kembali kepada Sang Pencipta.

Malam itu, dalam tangis dan doa, dalam duka dan harapan, sejarah menulis babak baru. Babak tentang bagaimana cinta dapat bertahan menghadapi ujian terberat, tentang bagaimana kebenaran akan tetap bersinar meski diselimuti kegelapan, dan tentang bagaimana pengorbanan yang tulus akan menjadi cahaya yang menerangi jalan generasi-generasi yang akan datang.

Dari Karbala, mereka pulang. Bukan sebagai yang kalah, tetapi sebagai yang telah memberikan segalanya untuk cinta dan kebenaran. Dan dalam setiap air mata yang jatuh di pusara Nabi, dalam setiap doa yang terlafal di malam itu, tumbuh benih-benih harapan baru yang suatu hari akan mekar menjadi bunga keadilan yang harum mewangi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sumber:

Miliki Segera Aplikasi Petunjuk Arah Terbaik, Imamah: Pelaksana Tugas Kenabian





๐Œ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ฎ๐š๐ข f๐ข๐ญ๐ซ๐š๐ก๐ง๐ฒ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐ž๐ง๐š๐ง๐ญ๐ข๐š๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐ญ๐ฎj๐ฎ๐š๐ง ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐ฉ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ฉ๐ญ๐š๐š๐ง. ๐Œ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐š๐ก๐ข๐ฅ ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ค๐š๐ญ๐ข ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š๐š๐ง ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐›๐ข๐ง๐  ๐Œ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐š๐ก๐ข๐ฅ ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐š๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š-๐๐ฒ๐š (๐๐  ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ญ) ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ฉ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐๐ฎ.

๐ƒ๐š๐ง ๐ฆ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐š๐ก๐ข๐ฅ ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ซ๐š ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐š๐ซ๐š๐ก ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐›๐ข๐ง๐ .

๐๐š๐ซ๐š ๐ง๐š๐›๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก “๐ ๐จ๐จ๐ ๐ฅ๐ž ๐ฆ๐š๐ฉ” ๐ฒ๐  ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐ฌ๐ข๐š๐ฉ๐ค๐š๐ง ๐ฒ๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐  ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฉ๐š๐๐š z๐š๐ฆ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š ๐š๐ ๐š๐ซ ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ค๐š๐ญ๐ข ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š๐š๐ง ๐ฌ๐›๐  ๐ญ๐ฎj๐ฎ๐š๐ง ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐ฉ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ฉ๐ญ๐š๐š๐ง.

๐๐š๐ซ๐š ๐ง๐š๐›๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก “๐ ๐จ๐จ๐ ๐ฅ๐ž ๐ฆ๐š๐ฉ” ๐ฒ๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐๐ฎ ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐š๐ ๐š๐ซ ๐ค๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š-๐๐ฒ๐š ๐engan ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ญ.

๐๐š๐ซ๐š ๐ง๐š๐›๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก “๐ ๐จ๐จ๐ ๐ฅ๐ž ๐ฆ๐š๐ฉ” ๐๐  ๐ฉ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง ๐š๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ฌ๐ข ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐œ๐ž๐ฅ๐š, ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ง๐จ๐๐š ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ž๐ซ๐ซ๐จ๐ซ.

๐‹๐š๐ฅ๐ฎ ๐›๐š๐ ๐š๐ข๐ฆ๐š๐ง๐š ๐ง๐š๐ฌ๐ข๐› ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฌ๐ž๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ž๐ซ๐š ๐ค๐ž๐ง๐š๐›๐ข๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ?

๐Œ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐ค๐š๐ก ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ฉ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐›๐ข๐ง๐ ?

๐Œ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐ค๐š๐ก ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฌ๐ž๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ฐ๐šf๐š๐ญ๐ง๐ฒ๐š ๐ง๐š๐›๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐ญ๐š๐ง๐ฉ๐š ๐ฉ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐๐ฎ?

๐Œ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐ค๐š๐ก ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข ๐๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ก ๐ฉ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ฆ๐›๐ข๐ง๐ -๐ง๐ฒ๐š ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข?

๐Œ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐ค๐š๐ก ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ซ๐š๐ก๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ฉ๐ญ๐š๐ค๐š๐ง “๐ ๐จ๐จ๐ ๐ฅ๐ž ๐ฆ๐š๐ฉ” ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ง๐ -๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ง๐  ๐ฒ๐  ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐ญ๐ž๐ซj๐š๐ฆ๐ข๐ง ๐š๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ฌ๐ข๐ง๐ฒ๐š?

๐“๐ˆ๐ƒ๐€๐Š. ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง ๐š๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐z๐จ๐ฅ๐ข๐ฆ ๐ฉ๐š๐๐š ๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ-๐๐ฒ๐š. ๐Ž๐ฅ๐ž๐ก ๐ค๐š๐ซ๐ž๐ง๐š ๐ข๐ญ๐ฎ, ๐š๐๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐งj๐š๐๐ข ๐ฉ๐ž๐ญ๐ฎ๐งj๐ฎ๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฉ๐ž๐ซj๐š๐ฅ๐š๐ง๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ฎ๐š๐ญ๐ฎ ๐ค๐ž๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ง.

๐ƒ๐ข๐š ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ง๐š๐›๐ข ๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ข ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š๐š๐ง ๐ฌ๐ฉ๐ญ ๐ง๐š๐›๐ข. ๐Œ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š ๐ญ๐ฌ๐› ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก “๐ข๐ฆ๐š๐ฆ”, ๐ฒ๐š๐ค๐ง๐ข ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ค๐ฌ๐ฎ๐ฆ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐ž๐ ๐š๐ค๐ค๐š๐ง ๐›๐ž๐ง๐๐ž๐ซ๐š ๐ญ๐š๐ฎ๐ก๐ข๐, ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ž๐ง๐ฎ๐ก๐ข ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ค๐š๐ซ๐š๐ค๐ญ๐ž๐ซ ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐ง๐š.

๐ƒ๐ข๐š ๐ฅ๐š๐ค๐ฌ๐š๐ง๐š ๐ฆ๐š๐ญ๐š๐ก๐š๐ซ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ข๐ง๐š๐ซ๐ข ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ๐ข ๐ฉ๐ž๐ญ๐ฎ๐งj๐ฎ๐ค ๐›๐š๐ ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐ -๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐ž๐›๐ข๐ง๐ ๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข j๐š๐ฅ๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ก๐ข๐ง๐ ๐ ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ž๐ฆ๐ฎ๐ค๐š๐ง j๐š๐ฅ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š.

๐ƒ๐ข๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ซ๐žf๐ฅ๐ž๐ค๐ฌ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ข๐ง๐š๐ซ ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ข๐ญ ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐š๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ ๐š๐ข๐› ๐๐š๐ง ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ง๐ฒ๐š๐ญ๐š. ๐ƒ๐ข๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ฉ๐š๐ญ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐ข๐ง๐๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ข๐ญ ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐งj๐š๐ ๐š๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ž๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง, ๐๐จ๐ฌ๐š, ๐๐š๐ง ๐ค๐ž๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ง๐ ๐š๐ง.

๐’๐š๐ง๐ ๐š๐ญ๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐š๐ก๐ข๐ฅ ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก ๐’๐ฐ๐ญ ๐ฆ๐ž๐ง๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ฎj๐ฎ๐š๐ง ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐ฉ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ฉ๐ญ๐š๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฉ๐š ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ฆ๐š๐š๐ง ๐ข๐๐ž๐š๐ฅ, ๐ญ๐ž๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐ค๐ž๐ฆ๐ฎ๐๐ข๐š๐ง ๐ƒ๐ข๐š ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐ฆ๐ž๐งj๐š๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐ก๐š๐ฅ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ญ๐ž๐ซ๐ฉ๐š๐ง๐œ๐š๐ซ ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐งj๐š๐๐ข ๐ฉ๐ž๐ญ๐ฎ๐งj๐ฎ๐ค ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ž๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐œ๐š๐ฉ๐š๐ข๐ง๐ฒ๐š ๐ญ๐ฎj๐ฎ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ข๐๐ž๐š๐ฅ ๐ข๐ญ๐ฎ.

Kehadiran sosok imam sangat rasional, logis dan tdk terbantahkan. Hanya kaum cuti akal yang menolaknya.

๐๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค ๐ซ๐žf๐ž๐ซ๐ž๐ง๐ฌ๐ข ๐๐ฅ๐ฆ ๐€๐ฅ-๐๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐ก๐š๐๐ข๐ฌ ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ญ๐š๐ค๐š๐ง ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ฌ๐ž๐ญ๐ข๐š๐ฉ ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐š๐ค๐š๐ง ๐๐ข๐ฉ๐š๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ ๐ฉ๐š๐๐š ๐ก๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ข๐š๐ฆ๐š๐ญ ๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š ๐ข๐ฆ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š. (C๐ž๐ฉ M๐ฎ๐ฌ๐ฅ๐ข๐ก)


Rabu, 13 Agustus 2025

Langkah-Langkah Menuju Kemanusiaan: Ziarah Arbain dari Mata yang Berbeda



Kabut pagi masih menyelimuti gurun Najaf ketika aku, Elena berdiri termangu di tepian lautan manusia. Aku tak mengenal syahadat, tak hapal ayat suci, tapi getar di udara ini menusuk tulang rusukku. Aku hanya seorang pengajar filsafat dari Italia yang penasaran pada ziarah terbesar umat manusia. Kini, di sini, kaki-kaki berdebu dari segala penjuru bumi, Islam, Kristen, Yazidi, Hindu, Budha bahkan yang tak beragama seperti aku—berarak pelan menuju Karbala. Mengapa? Untuk mengenang seorang lelaki bernama Husein, cucu Nabi Islam, yang gugur 14 abad silam.

Kakiku melepuh di hari kelima. Kulitku terbakar matahari Irak. Tapi yang membuatku terus melangkah bukan panggilan azan, melainkan desah kemanusiaan yang bergemuruh di setiap posko, di setiap senyum, di setiap tetes air yang ditawarkan tangan asing. Di sebuah mawkib, seorang kakek menyuapkan kepadaku kurma dan yogurt. "Makanlah, sayang," bisiknya dalam bahasa Arab patah-patah. 

"Demi Husein yang haus, dan demi semua yang haus keadilan." 

Di jalan ini, agama bukan syarat untuk menerima kasih. Di sini, yang berbicara adalah bahasa universal: lapar, lelah, dan hasrat untuk berbagi.

"Elena, kau bukan Muslim. Mengapa kau menempuh jalan sejauh ini?" tanya Fatimah, mahasiswa dari Beirut yang kutemui di perjalanan.

Aku menatap cakrawala yang berdebu, mencari kata-kata. "Aku membaca kisah Husein," ujarku, suara serak oleh debu dan emosi. "Bagaimana dia, dengan segelintir pengikut, berdiri melawan pasukan raksasa. Bukan untuk tahta, tapi karena menolak tunduk pada penguasa zalim. Karena memilih mati bermartabat daripada hidup dalam kepatuhan buta." Mataku basah. 

"Dia biarkan anak-anaknya kehausan, biarkan keluarganya dibantai, demi tegaknya prinsip sederhana: bahwa manusia tak boleh diperbudak, bahwa kebenaran harus lebih tinggi dari pedang."

Kukecup kening Fatimah. "Itu bukan cerita agama, Fatimah. Itu epik manusia tentang keberanian melawan tirani kisah yang bisa membuat siapapun, dari keyakinan apapun, menunduk dalam hormat."


Spiritualitas di sini terasa dalam wujud yang nyata, bukan dogma. Setiap langkah beratku adalah zikir diam-diam untuk keluarga kecil yang berjalan di gurun ini dulu, dikejar-kejar, dihina. Setiap segelas air dingin yang kuterima dari tangan penduduk desa adalah gema dari Abbas, paman Husein yang gugur merebuskan air untuk keponakannya yang kehausan. Di sini, pelayanan adalah doa. Keramahan adalah ibadah. Dan solidaritas antar peziarah—tanpa peduli bendera atau kitab suci adalah liturgi hidup yang paling sakral.

Suatu senja, aku bertemu Tuan Chen, pejalan asal Tiongkok yang membawa bendera kecil bergambar naga. "Aku Buddhis," katanya sambil memijat kakiku yang bengkak. "Tapi Husein itu seperti Bodhisatva rela menderita demi kebebasan orang lain dari penindasan." Matanya teduh. "Lihatlah keragaman di jalan ini. Karbala bukan milik satu agama. Ini milik setiap manusia yang percaya bahwa darah para martir adalah benih kebebasan."

Kemanusiaan universal itu hidup di sini. Seorang ibu berkalung salib dari Mosul membasuh lukaku dengan air mawar. Anak-anak berebutan mengipasiku dengan kardus. Seorang pemuda yang mengaku ateis dari Prancis menggendong nenek tua yang kakinya kram. Kami berbeda Tuhan, berbeda kitab, berbeda harapan akhirat. Tapi di hadapan altar pengorbanan Husein, kami bersaudara dalam satu keyakinan: bahwa keadilan harus ditegakkan, yang lemah harus dilindungi, dan kezaliman harus dilawan dengan jiwa raga sekalipun.


Saat kubah emas makam Husein akhirnya mencuat di ujung jalan, disiram cahaya jingga senja, dadaku sesak. Air mata mengalir deras, tak kumengerti mengapa. Rasa sakit hilang. Yang tersisa adalah kehampaan yang penuh, kesedihan yang membebaskan. Aku bukan melihat bangunan suci agama lain. Aku melihat monumen abadi bagi jiwa manusia yang menolak tunduk. Cahaya yang menyatakan: "Di sini, seorang manusia memilih mati untuk membela hak manusia lain agar tetap manusia."

Di pelataran luas itu, di tengah lautan manusia yang bersujud, menangis, dan melantunkan nama "Husein" dalam seribu dialek, aku merasakan getar yang melampaui kata. Ribuan perbedaan kami larut dalam satu samudera duka dan hormat. Aku tak ikut shalat. Tapi ketika ribuan tangan mengangkat telapak mereka berdoa, tanganku pun terangkat sendiri bukan pada Allah yang mereka sembah, tapi pada Semesta yang mendengar jerit kemanusiaan yang sama.

Aku duduk di debu Karbala, menyentuh tanah tempat darahnya tumpah. Dalam hening, hatiku berbisik:

"Husein, Aku tak mengenalmu dalam cara mereka mengenalmu. Tapi hari ini, di debu kudusmu, kau mengajariku: bahwa keberanian untuk membela yang benar adalah ibadah tertinggi. Bahwa melayani sesama tanpa syarat adalah jalan menuju pencerahan sejati. Bahwa darah yang tumpah demi keadilan akan selalu bergema melintasi zaman, melintasi peradaban, melintasi keyakinan, menyatukan manusia dalam satu keluarga besar yang menolak untuk diam melihat kezaliman."

Perjalanan ini bukan ziarah agama. Ini adalah ziarah jiwa menuju inti terdalam kemanusiaan kami. Arbain mengajarku bahwa darah Husein bukan milik Islam semata, ia adalah warisan setiap insan yang percaya bahwa hidup hanya bermakna ketika diabdikan pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri: kebenaran, keadilan, dan belas kasih. Di tanah Karbala, di tengah keragaman yang menakjubkan, aku menyaksikan mukjizat sejati: bahwa ketika manusia berjalan bersama menuju cahaya kebaikan yang sama, perbedaan menjadi permadani indah, bukan tembok. Dan di hati setiap pejalan muslim atau bukan, terbakar api spiritual yang sama: api yang dinyalakan Husein dengan pengorbanannya, menyala abadi sebagai mercusuar harapan bagi siapa pun yang percaya bahwa kemanusiaan layak diperjuangkan sampai tetes terakhir. (Kahar Palinrungi)

Sumber:

Selasa, 12 Agustus 2025

Ironi Agung: Menyesatkan Syiah di Bumi Perlak



Di jantung tanah yang diakui sejarawan—lokal maupun global—sebagai saksi bisu tumbuhnya ajaran Syiah, di mana debu jalanan mungkin masih menyimpan gema zikir para wali, tersaji ironi yang melukai nurani. Sebuah keputusan yang mencerminkan ketakberdayaan intelektual dan kekalahan moral di hadapan kompleksitas sejarah.

Sebuah kabupaten, yang identitasnya terpateri dalam naskah kuno dan pengakuan akademis, bahkan mengabadikan nama “Syiah” pada universitas terkemukanya, justru meruntuhkan pilar warisannya sendiri. Dari rahim bumi yang menghidupi tradisi intelektual-spiritual itu, terbitlah surat pernyataan segelintir ulama: memvonis Syiah “sesat” dan melarang seluruh aktivitas komunitasnya.

Ini bukan sekadar kontradiksi. Ini adalah epistemicide—pembunuhan sistematis terhadap pengetahuan dan ingatan kolektif—di tanah yang seharusnya menjadi penjaganya.

Akar Sejarah yang Terkubur

Universitas bernama “Syiah” itu bukan kebetulan sejarah. Ia adalah monumen hidup, pengakuan bahwa akar daerah ini terjalin erat dengan pemikiran dan spiritualitas Syiah. Namanya adalah penghormatan bagi para sarjana, sufi, dan pemuka masyarakat yang pernah menghidupkan tradisi ini dengan kearifan dan dedikasi.

Fakta sejarah membuktikan kedalaman akar Syiah di bumi ini. Kerajaan Perlak, yang didirikan pada tahun 840 Masehi dan diakui sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, telah dikonfirmasi oleh para sejarawan sebagai kerajaan yang bermazhab Syiah. Sultan Alauddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, pendiri dinasti Perlak, beserta para penerusnya menganut dan mengembangkan ajaran Syiah di wilayah itu.

Kerajaan Perlak bukan sekadar entitas politik, tetapi pusat peradaban Islam-Syiah yang menjadi gerbang masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari istana-istana Perlak, ajaran Syiah menyebar dan berakar, membentuk tradisi intelektual dan spiritual yang kemudian menjadi bagian integral dari identitas kawasan ini. Para ulama dan cendekiawan Syiah dari Perlak menjalin hubungan dengan pusat-pusat pembelajaran di Persia dan Iraq, menciptakan jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas.

Paradoks di Tanah Para Sultan

Namun kini, di bumi yang pernah menjadi takhta Sultan-sultan Syiah Perlak, di bawah bayang-bayang universitas yang memanggul nama “Syiah”, lahir dekret yang mengingkari warisan yang diabadikan dalam namanya. Sebuah paradoks yang menyakitkan: di tanah tempat kerajaan Islam pertama Nusantara berdiri dengan fondasi mazhab Syiah, kini ajaran yang sama divonis sesat.

Ironi ini semakin mendalam ketika kita menyadari bahwa pelarangan ini terjadi di wilayah yang secara geografis dan historis mewarisi langsung tradisi Kerajaan Perlak. Para Sultan Perlak yang membangun peradaban Islam awal di Nusantara kini seolah dianggap “sesat” oleh fatwa yang lahir dari tanah mereka sendiri. Institutsi pendidikan yang seharusnya menjaga memori kolektif justru menjadi saksi pembunuhan terhadap memori itu sendiri.

Amnesia yang Dipaksakan

Pelarangan aktivitas Syiah di tanah leluhur mereka adalah bentuk amnesia paksa—upaya sistematis memutus mata rantai sejarah dan mengubur identitas kultural-spiritual yang telah membentuk karakter daerah selama berabad-abad. Tindakan ini tidak hanya merampas hak beribadah dan berkumpul saudara-saudari Muslim Syiah masa kini, tetapi juga menghina para leluhur—termasuk Sultan-sultan Perlak—yang membangun fondasi peradaban Islam di wilayah tersebut.

Bayangkan luka nurani ketika vonis “sesat” bergema di atas tanah tempat Sultan Alauddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah pernah memimpin dengan ajaran Syiah, di atas bumi tempat jasad para ulama Syiah terbaring—tanah yang pernah menyaksikan majelis ilmu mereka bersemarak, di mana diskusi teologis dan filosofis mengalir bagai sungai kehidupan intelektual. Ini adalah kekerasan simbolik: pengingkaran terhadap warisan Kerajaan Perlak dan nyawa serta karya yang telah menjadi prasasti sejarah dan bagian integral dari jati diri daerah.

Kontradiksi Kuasa dan Ketakberdayaan

Menjadikan Syiah sebagai sasaran tuduhan kesesatan sambil memutilasi sejarah yang justru menjadi kebanggaan daerah mengindikasikan upaya yang tidak hanya kontradiktif, tetapi juga mencerminkan krisis identitas mendalam. Ini adalah manifestasi dari ketakberdayaan intelektual dalam menghadapi kompleksitas sejarah dan keragaman teologis.

Lebih ironis lagi, di saat yang bersamaan, umat Islam di berbagai belahan dunia kini menyaksikan dan mengapresiasi peran solidaritas yang ditunjukkan oleh Iran, Hizbullah, dan Ansarullah—yang notabene beraliran Syiah—dalam memberikan dukungan nyata kepada umat Islam Gaza yang dikepung, dibantai, dan dilaparkan. Sementara banyak rezim di dunia Islam Sunni memilih berdiam diri, mereka yang divonis “sesat” justru menunjukkan keteguhan dalam membela sesama Muslim tanpa memandang aliran.

Perlawanan Nurani

Membiarkan pelarangan ini tanpa perlawanan nurani berarti merestui pemutusan hubungan dengan masa lalu kita sendiri. Ini berarti menerima bahwa memori kolektif dapat dimanipulasi dan dihancurkan demi kepentingan politik sesaat. Ini berarti mengizinkan epistemicide terjadi di depan mata kita tanpa perlawanan.

Sejarah akan mencatat ironi ini: di tanah tempat Kerajaan Perlak—kerajaan Islam pertama Nusantara yang bermazhab Syiah—pernah berdiri, di bawah naungan universitas yang memanggul nama mereka, tradisi intelektual-spiritual yang telah berabad-abad menjadi bagian dari identitas lokal justru dihukum mati oleh tangan-tangan yang seharusnya merawatnya. Para Sultan Perlak yang membangun gerbang peradaban Islam di Asia Tenggara kini seolah dicap “sesat” di tanah yang mereka wariskan.

Inilah tragedi dari sebuah amnesia yang dipaksakan—ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri dalam cermin sejarah, bahkan hingga mengingkari para pendiri peradabannya sendiri. (Muhsin Labib)

Sumber:

Pidato Rahbar, Sayyid Ali Khamenei

 


Rahbar, Sayyid Ali Khamenei hf:

Musuh kita adalah mesin besar arogansi global (istikbar), yang pengambil keputusan utamanya adalah para kapitalis Zionis, pemilik perusahaan-perusahaan raksasa, para pemilik trust dan kartel-kartel besar dunia.

Merekalah yang berdiri menghadapi sistem Islam, dan tentu saja menggunakan segala macam cara.

Karena mereka telah terpukul oleh sistem Islam, maka kita lihat bahwa mereka menggunakan segala fasilitas dan sarana yang mereka miliki.

Mulai dari:
- Menyebarkan keraguan terhadap akidah Islam,
- Menyeret para pemuda kepada narkoba, kerusakan moral,
- Memanfaatkan kelalaian sebagian instansi,
- Membuat para pemuda menjadi rentan,
- Menyulut perpecahan mazhab,
- Mengadu domba Syiah dan Sunni,
- Menggerakkan kelompok-kelompok separatis,
- Bahkan jika memungkinkan untuk mereka menyusup ke dalam jajaran pejabat tinggi dan menengah Republik Islam, maka mereka pasti akan lakukan itu juga!

(Pidato Pemimpin Tertinggi Iran pada 23/2/1388 (13 Mei 2009).

Senin, 11 Agustus 2025

Pahami Bosnia Agar Kamu Paham Soal Gaza!




"Serahkan senjata kalian, supaya kami bisa menyembelih kalian seperti menyembelih domba dan merebut tanah kalian…!!"

Oleh: Fahmi Huwaidi

Jika kamu tidak memahami Bosnia, kamu tidak akan memahami Gaza…!! Pahami dulu Bosnia, baru kamu akan mengerti Gaza dan apa yang terjadi di sana, sehingga kamu tidak akan heran…!!

Perang pemusnahan yang dilancarkan Serbia terhadap Muslim Bosnia mengakibatkan:
  • 300 ribu Muslim gugur syahid;
  • 60 ribu perempuan dan anak perempuan diperkosa;
  • 1,5 juta orang diusir dari rumah mereka.
Apakah kita mengingatnya? Ataukah kita sudah melupakannya? Atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang itu?

Seorang presenter CNN berbicara tentang peringatan pembantaian Bosnia, lalu bertanya kepada (Christiane Amanpour), wartawan terkenal:

Apakah sejarah sedang terulang?

Christiane Amanpour dari CNN berkomentar pada peringatan Bosnia:

"Itu adalah perang ala abad pertengahan — pembunuhan, pengepungan, dan kelaparan terhadap umat Islam, dan Eropa menolak campur tangan dengan alasan ‘perang saudara’, padahal itu hanyalah mitos belaka…!"

Holocaust itu berlangsung sekitar 4 tahun. Serbia menghancurkan lebih dari 800 masjid, sebagian dibangun sejak abad ke-16 M, dan membakar perpustakaan bersejarah Sarajevo.

PBB masuk dan memasang pos pemeriksaan di pintu masuk kota-kota Muslim seperti Gorazde, Srebrenica, dan Zepa, namun semua itu berada di bawah pengepungan dan tembakan, sehingga “perlindungan” itu tidak berarti apa-apa.

Serbia menahan ribuan Muslim di kamp-kamp konsentrasi, menyiksa dan membuat mereka kelaparan hingga tinggal tulang belulang.

Ketika seorang komandan Serbia ditanya, “Mengapa?” Ia menjawab: “Karena mereka tidak makan babi!”

Surat kabar The Guardian pada masa pembantaian Bosnia pernah memuat peta satu halaman penuh yang menunjukkan lokasi 17 kamp besar pemerkosaan terhadap perempuan Muslim, beberapa di antaranya berada di dalam wilayah Serbia sendiri.

Serbia memperkosa anak-anak — bahkan ada anak perempuan berusia 4 tahun. The Guardian memuat laporan berjudul: "Anak perempuan yang satu-satunya ‘kesalahan’-nya adalah ia seorang Muslim."

Jagal Ratko Mladic mengundang pemimpin Muslim di Zepa untuk rapat, memberinya sebatang rokok, tertawa bersama sebentar, lalu menerkamnya dan menyembelihnya.

Mereka melakukan kekejaman besar di Zepa dan warganya. Namun kejahatan paling terkenal adalah pengepungan Srebrenica. Tentara internasional bergaul dengan Serbia, berdansa bersama mereka, bahkan ada yang menukar kehormatan perempuan Muslim dengan sepotong makanan.

Serbia mengepung Srebrenica selama 2 tahun, tanpa henti dibombardir. Sebagian besar bantuan yang masuk dirampas oleh Serbia. Kemudian Barat memutuskan untuk menyerahkannya kepada “serigala” — batalion Belanda yang seharusnya melindungi Srebrenica malah bersekongkol dengan Serbia, memaksa Muslim menyerahkan senjata mereka dengan janji akan diberi keamanan. Setelah kelelahan dan penderitaan, Muslim pun menyerah.

Begitu Serbia merasa aman, mereka menyerbu Srebrenica, memisahkan laki-laki dari perempuan, mengumpulkan 12.000 laki-laki (remaja dan dewasa), lalu membantai semuanya dan memutilasi jenazah mereka.

Bentuk mutilasi termasuk: seorang Serbia berdiri di atas tubuh Muslim dan menggores wajahnya yang masih hidup dengan simbol salib Ortodoks (dari laporan Newsweek atau Time).

Beberapa Muslim bahkan memohon kepada Serbia agar segera dihabisi karena tidak tahan dengan siksaan.

Seorang ibu memegang tangan tentara Serbia, memohon agar anaknya tidak dibunuh. Serbia memotong tangannya, lalu memenggal leher anaknya di depan matanya.

Pembantaian itu berlangsung… Dan kita hanya melihat, mendengar, makan, bersenang-senang, dan bermain

Setelah membantai Srebrenica, jagal Radovan Karadzic masuk ke kota dengan bangga dan berkata:

"Srebrenica selalu milik Serbia, dan kini telah kembali ke pelukan Serbia."

Serbia memperkosa perempuan Muslim dan menahannya selama 9 bulan hingga melahirkan. Mengapa?

Seorang Serbia mengatakan kepada media Barat: “Kami ingin perempuan Muslim melahirkan bayi Serbia.”

Dan saat kita mengingat Bosnia, Sarajevo, Banja Luka, dan Srebrenica, kita tegaskan:

Kita tidak akan melupakan Balkan…
Kita tidak akan melupakan Granada…
Kita tidak akan melupakan Palestina…

Di sini kita harus mencatat dengan tinta aib — sikap memalukan Butros Ghali (sekjen PBB saat itu, yang beragama Ortodoks) yang secara terang-terangan memihak saudara-saudara seagamanya, Serbia.

Namun, 30 tahun kemudian, kita masih belum belajar dari sejarah…

Tambahan: Serbia memilih membunuh ulama, imam masjid, cendekiawan, dan pengusaha. Mereka mengikat, lalu menyembelih, dan membuang jasad mereka ke sungai.

Kisah sejarah tidak diceritakan kepada anak-anak supaya mereka tidur…

Tapi diceritakan kepada orang dewasa supaya mereka bangun.

Semoga Allah membalas kebaikan siapa pun yang membaca dan menyebarkannya.

Lalu sekarang datang orang-orang yang menyalahkan pihak yang “peka” itu sebagai penyebab perang dan memaksa mereka menyerahkan senjata?

Orang seperti itu lebih rendah akalnya dari binatang dan lebih rendah harga dirinya dari pada babi. (Mirza Ali Kumayl)

Sumber:


Kamis, 07 Agustus 2025

Peringatan Tegas dari Imam Ali Khamenei hf Untuk Seluruh Rakyat Iran

 



Kita semua rakyat Iran — baik Syiah maupun Sunni, dari berbagai suku seperti Kurdi, Arab, Lor, Turki, Baluchi, Turkmen, Bakhtiari, dan lain-lain, serta semua kelompok politik baik konservatif maupun reformis — harus sadar bahwa tidak ada pengganti untuk sistem Republik Islam yang sekarang ini.

Jika, na’udzubillah, sistem Republik Islam saat ini runtuh, jangan pernah berpikir bahwa kondisi akan kembali seperti zaman sebelum Revolusi (zaman Dinasti Pahlavi). 

Tidak akan seperti itu.

Amerika dan Inggris tidak akan pernah lagi mengizinkan kita punya pemerintahan seperti zaman Pahlavi. Mereka sudah punya rencana lain yang jauh lebih buruk.

Kalau Republik Islam tumbang, apa yang akan menggantikannya?

Jawabannya sudah diberikan oleh Amerika melalui "anjing gila" mereka yaitu ISIS (Daesh):

Mandi darah, pembunuhan massal, bencana kemanusiaan, bahkan genosida terhadap bangsa Iran — lebih buruk dari yang terjadi di Myanmar.

Jadi, siapa pun yang berpikir bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik jika sistem ini (Republik Islam) dan Wilayah Faqih (kepemimpinan ulama) hilang, mereka sangat keliru.

Orang seperti ini tidak memahami politik dan bahaya yang mengintai bangsa Iran.

Jika Republik Islam jatuh, nasib kita bisa lebih buruk dari Suriah, Libya, atau Afghanistan.

Kita akan dijarah, diserang tiba-tiba, dan entah apa yang akan terjadi.

Saat itu, mungkin kita akan menyesal dan merindukan hari-hari yang sekarang kita keluhkan.

Mungkin kamu harus menggandeng keluargamu dan melarikan diri ke pegunungan dan padang pasir.

Wahai rakyat Iran yang terhormat, mari kita hargai keamanan yang kita miliki sekarang, dan hadapi masalah yang ada dengan kesabaran dan kewaspadaan, demi masa depan yang cerah, insha Allah.

Kita harus sadar dan berhati-hati, agar tidak terjebak oleh tipu daya musuh-musuh bangsa kita.

Hewan buas seperti serigala, burung bangkai, dan hiena sudah mengepung Iran, hanya menunggu saat yang tepat ketika negara ini kacau.

Waspadai fitnah-fitnah.

Sebarkan pesan ini agar semua orang sadar bahwa musuh tidak peduli dengan nasib kita.

Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Menyebarkan dan menyadarkan orang lain sama dengan sedekah jariyah.

Jangan sampai kita baru sadar setelah diinjak sepatu musuh — saat semuanya sudah terlambat.

Ya Ali madad.

https:///PanjiHitamImamMahdi

Makna dan Hakikat Islam Rahmatan Lil Alamin


Potret kelaparan di Gaza


Hari ini ketika ada ustadz atau da'i yang mengatakan dengan mulut yang berbusa, "Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin", ingin rasanya bersumpah serapah, "Rahmatan lil alamin apaan? Untuk memberi rahmat pada warga Gaza saja tidak mampu, boro-boro alam semesta...!"

Dulu mengapa orang-orang percaya pada Muhammad dan berbondong-bondong masuk pada Islam yang diajarkannya?
  • Ya karena duhulu Muhammad bukan hanya memberantas kesyirikan, tapi juga kemiskinan.
  • Dia bukan hanya memperbaiki akidah umat, tapi juga memperbaiki tatanan sosial yang tidak adil.
  • Dia bukan hanya membasmi penyakit masyarakat, tapi juga membasmi feodalisme yang menindas rakyat.
  • Dia bukan hanya memerangi kaum kafir Qurays tapi juga memerangi pengkhianatan dan kemunafikan di barisannya.
  • Dia bukan hanya mengajarkan Sunnah tapi juga mengajarkan kepedulian sosial.
  • Dia bukan hanya membangun masjid, tapi juga membangun solidaritas.
  • Dia bukan hanya memperluas wilayah, tapi juga memperluas keadilan.
  • Dia bukan hanya menyebarkan dakwah, tapi juga menegakkan hak-hak mustadh‘afin, mereka yang dilemahkan dan ditindas.
  • Hari ini, banyak yang mengaku mengikuti Sunnah Nabi, tapi justru membiarkan ketidakadilan tumbuh subur di sekelilingnya. Mengutuk LGBT siang malam, tapi bungkam terhadap penjajahan dan genosida. Mengkampanyekan poligami sebagai syariat, tapi melupakan syariat membela yang tertindas.
Padahal, Islam yang dibawa Muhammad bukan Islam yang menjinakkan jiwa untuk pasrah pada ketertindasan, tapi Islam yang membangkitkan kesadaran dan keberanian untuk melawan kebatilan. Bukan Islam yang hanya sibuk memisahkan laki-laki dan perempuan dalam pengajian, tapi Islam yang menyatukan mereka dalam satu barisan perjuangan menegakkan keadilan.

Jadi, jika hari ini kita melihat wajah Islam yang kaku, beku, dan tanpa nyawa, jangan salahkan Islamnya. Salahkan mereka yang telah memutilasi semangat revolusioner Islam, menjadikannya sebatas ritual tanpa arah, bacaan tanpa keberpihakan, dan ceramah tanpa keberanian.

Kita butuh kembali pada Islam Muhammad, Islam yang membuat penguasa takut dan orang miskin punya harapan. Islam yang tidak sekadar mengajari kita bagaimana masuk surga, tapi juga bagaimana menghadirkan secercah surga bagi mereka yang hidup dalam neraka dunia. Islam yang sibuk menyebarkan persatuan muslim dan ukhuwah, bukan Islam yang sibuk membuktikan yang lain selain kelompoknya pasti di neraka dan bukan Islam. (Ismail Amin Pasannai)

Sumber:

Selasa, 05 Agustus 2025

Imam Khomeini Ulama Pewaris Nabi yang Mengguncang Dunia




Imam Ruhullah al-Musawi al-Khomeini (1902–1989) bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran, tetapi juga sebagai arif billah, ahli hikmah dan wali yang tinggi maqam spiritualnya.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam. Namun di balik wajah politik Imam Khomeini, terdapat sisi ruhani yang jauh lebih dalam.

Beliau adalah murid dari para wali besar seperti Ayatullah Shahabadi dan Sayyid Ali Qadhi Tabataba’i, dan dikenal ahli dalam irfan teoritis maupun praktis.

Banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa Imam Khomeini memiliki karomah kewalian, sesuatu yang diakui dalam spiritualitas Syi’ah dan Sunni sebagai ciri orang yang dekat dengan Allah SWT.

Dalam teologi Syi’ah, kewalian bukan hanya milik para Imam Ma’shum, tetapi juga dimungkinkan turun kepada para ulama yang meniti jalan suci, zuhud, dan mengenal Allah secara hakiki.

Karomah (karฤmah) adalah bentuk manifestasi kehendak Ilahi yang ditampakkan melalui hamba pilihan, bukan hasil latihan sihir atau ilmu batin biasa.

Ciri utama wali menurut Syi’ah:
* Zuhud dan wara’ dalam hidup
* Mengenal Allah secara ma’rifah
* Taat sempurna kepada syariat
* Menghindari popularitas dan kesombongan
* Tidak menampakkan karomah sebagai pertunjukan

Imam Khomeini Sebagai Arifbillah dan Wali

Sebelum dikenal sebagai pemimpin revolusi, Imam Khomeini adalah pengajar irfan (di Islam Suni mungkin disebut tasawuf) di Hawzah Qom.

Beliau memiliki banyak karya yang luar biasa, karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia diantaranya seperti:

* Adabus Salat (Etika Shalat)
* Sirruแนฃ-แนขalฤt (Rahasia Shalat)
* Sharแธฅ Du’a al-Sahar (Syarah dua Sahur). dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini membuktikan bahwa beliau memiliki kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa. Dalam Adabus Salat, beliau menulis bahwa hakikat salat adalah mi’raj ruhani, dan hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan kelezatannya.

Kesaksian Karomah Imam Khomeini

Melihat Hal Gaib. Ayatullah Amuli menceritakan bahwa suatu malam di Najaf, Khomeini sedang bermunajat. Setelah itu, beliau menyampaikan peristiwa tentang seorang yang wafat hari itu, padahal belum ada kabar resmi. Keesokan harinya berita wafat itu terbukti benar.

Khusyuknya Salat dan Mi’raj Ruhani. Imam Khomeini biasa mengerjakan salat malam dengan tangisan dan kegelisahan ruhani. Para pengawal pribadi menyatakan bahwa mereka merasa "getaran spiritual" saat berada di dekat kamar salat malam beliau.

Doa yang Mustajab. Banyak orang, termasuk keluarga dan murid-murid, melaporkan bahwa doa Imam Khomeini sering dikabulkan. Ada yang sembuh dari penyakit, ada yang berhasil mendapatkan solusi kehidupan, setelah didoakan oleh beliau, meskipun tidak diminta secara langsung.

Keteguhan Hati yang Ajaib. Saat menghadapi ancaman Syah Iran, Imam Khomeini tetap tenang dan yakin. Keteguhan ruhani ini diakui oleh kawan dan lawan sebagai "karamah tsabat" bentuk karomah berupa keteguhan iman yang tidak tergoyahkan, bahkan oleh maut.

Kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi Iran).

Tidak mencintai dunia, tidak meninggalkan warisan harta benda mewah.

Menolak pengultusan, beliau selalu mengarahkan perhatian umat kepada Allah, Rasul dan Ahlulbaitnya, bukan pada dirinya. Tidak pernah menampakkan karomah, beliau bahkan menyembunyikan sisi irfannya dari publik selama revolusi berlangsung.

Ayatullah Bahjat menyebut Imam Khomeini sebagai “rahmat yang diturunkan” kepada umat Islam. Ayatullah Misbah Yazdi menilai Imam Khomeini lebih tinggi maqamnya dalam irfan daripada banyak guru beliau. Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan bahwa revolusi Khomeini tidak bisa dijelaskan secara politik semata, tapi sebagai buah dari kedekatan ruhani dengan Allah.

Buya Hamka berkisah tentang Imam Khomeini terutama setelah Revolusi Islam Iran 1979. Buya Hamka saat itu menjabat ketua MUI, Menemui Imam Khomeini di Iran, setelah pulang beliau menyebutkan kekaguman beliau:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980);

“Saya hormati beliau, karena beliau memiliki keteguhan yang jarang dimiliki oleh ulama lain. Beliau melawan Syah Iran tanpa gentar. Itu menunjukkan kekuatan iman dan keyakinan.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980).

“Saya melihat kemenangan Revolusi Iran sebagai pertanda bahwa Islam belum mati. Semangat umat Islam kembali hidup karena perjuangan Imam Khomeini.”
Wawancara Buya Hamka yang dimuat dalam harian Pelita dan disitir dalam buku “Hamka: Sebuah Biografi” oleh Irfan Hamka, Republika, 2013.

“Walau beliau Syi’ah, perjuangannya adalah perjuangan Islam.”
“Meskipun beliau dari mazhab Syi’ah, saya melihat api perjuangan beliau membakar semangat umat Islam sedunia. Kemenangan itu adalah kemenangan umat Islam, bukan milik satu golongan saja.”
(Sumber: Panji Masyarakat, 1980).

“Imam Khomeini hidup sederhana, tidak silau kekuasaan.”
“Lihatlah bagaimana Imam Khomeini hidup. Beliau tidak tertarik pada kemewahan atau harta. Ia tetap sederhana, walau menjadi pemimpin negara.”
(Disampaikan Buya Hamka dalam pengajian MUI awal 1980-an (dikutip oleh murid-murid Buya Hamka dan dimuat ulang dalam buku “Ulama dan Revolusi Iran” karya DR. Muhsin Labib, 2008).

Roger Garaudy (Filsuf Prancis, mantan Marxis yang masuk Islam):
"Imam Khomeini telah mengembalikan makna politik dalam Islam yang telah lama dirusak oleh kompromi-kompromi kekuasaan. Ia seorang tokoh revolusioner spiritual."
Sumber: Roger Garaudy, L’Islam habite notre avenir (Islam Mendiami Masa Depan Kita), 1981.

Itulah kekaguman dari beberapa ulama dan para pemikir kepada sosok Imam Khumaeni qs. Meskipun tidak bisa kutip kekaguman pemikir lainnya pada sosok fenomenal ini.

Dalam Islam, kedudukan ulama sangat tinggi. Al Qur'an menyebutkan:

ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฎْุดَู‰ ูฑู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ูฑู„ْุนُู„َู…َٰุٓคُุง۟ ۗ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28).

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya).

Namun, tidak semua orang yang bergelar "ustadz" atau "kyai" dapat menyandang fungsi pewaris Nabi.

Fungsi ini menuntut keilmuan mendalam, kesalehan pribadi, keberanian sosial, dan independensi politik, keberanian bertindak dan bersikap, membela Mustadhafiin, pantang hina. (Jika tidak berlebihan kita sebut Miniatur atau kloningan para Nabi).

Iran, sebagai negara dengan sistem unik dalam mencetak keulamaan melalui seleksi ketat, tahapan panjang, proses yang matang, telah berhasil membangun ekosistem mencetak ulama dengan kualitas dan kriteria ini.

Diera modern kita bisa melihat sosok-sosok ulama seperti ini pada ulama-ulama Syi'ah Iran, seperti Ruhullah Imam Khomeini qs., Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dan masih banyak lagi, mereka contoh konkrit hari ini yang tidak pernah takut kepada Asu Zionis panjajah, mereka hanya takut kepada Allah SWT. Berani melawan, tidak takut mati. Sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Mengingat hadits Nabi di atas bahwa ulama itu Pewaris Para Nabi, apa yang diwarisi dari Nabi? Tentu saja bukan ibadah solatnya semata atau ilmunya semata, tetapi kesolehannya, akhlaknya termasuk didalamnya: Keberanian melawan kezaliman, ketabahan, kesabaran, kezuhudan, kewaraan, membela yang tertindas dst.

Adapun Ucapan Buya Hamka:
“Imam Khomeini adalah ulama besar yang memiliki keberanian luar biasa.” (Panji Masyarakat, edisi tahun 1980). Sangat Tepat sekali karena Imam Khomeini sosok yang selaras dan sesuai dengan kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Kita patut bertanya dan mendefinisikan ulang gelar ulama yang gampang disematkan oleh sekelompok orang kepada orang yang cuma memimpin majlis ilmu dengan gelar "ulama Sunnah", kira-kira pelabelan seperti ini sesuai kriteria Al-Qur'an dan hadits Nabi tidak?

Apakah imam solat Masjidil haram yang tidak peduli dengan keadaan Palestina, diam dengan kezaliman Zionis ASU pada Gaza karena takut dengan tekanan penguasa tanah haram itu masuk dalam kategori ulama?

Mari kita berpikir ulang tentang ulama jangan sembrono dan sembarangan menyematkan gelar ulama, apalagi hanya karena fanatik buta tanpa didasari logika. Fanatik boleh tapi ditempatkan sesuai dengan kriteria dan tempatnya.